Episode 42 - Pangeran Adipati Bogaseta


Seorang pria paruh baya mengenakan topi petani dan berpakaian seperti seorang pengembara terus memacu kudanya dengan cepat menuju ke arah Kutaraja Rajamandala. Setelah sampai di dekat gerbang kota sebelah barat, orang itu melambatkan jalan kudanya. Ia pun menjalankan kudanya dengan pelan memasuki kotaraja Rajamandala sebelah barat, matanya tak henti-hentinya celingukan menatap penuh kewaspadaan kian kemari di balik topi petaninya. Ia melihat suasana kotaraja termata sepi, perdagangan di pasar nampak sangat sepi, yang nampak hanya beberapa orang membeli kebutuhan pokok di pasar itu, “Hmm... Nampaknya keadaan semakin parah semejak kepergianku,” gumamnya. Ia lalu memacu kudanya keluar kota ke sebelah selatan.

Saat sedang memacu kudanya ke arah selatan, seorang prajurit penunggang kuda yang datang dari arah selatan berpapasan dengan dirinya. Orang itu lalu memperhatikan prajurit tersebut lalu menghentikan kudanya, “Ki Dulur tunggu!” panggilnya.

Si prajurit yang sudah berusia cukup lanjut menghentikan kudanya, ia lalu memperhatikan orang yang memanggilnya, orang itu lalu membuka topi petaninya, “Ki Radun?” panggilnya pada prajurit itu.

Terkejutlah Ki Radun setelah memperhatikan wajah orang asing itu “Gusti Pangeran Adipati Bogaseta?” orang yang ternyata Pangeran Adipati Bogaseta tersebut mengangguk sambil tersenyum, tapi tiba-tiba ekspresi wajah Ki Radun langsung berubah ketakutan, ia celingukan melihat kesana kemari, dan tanpa pamit ia langsung memacu kudanya dengan kencang meninggalkan Pangeran Adipati Bogaseta.

Pangeran Adipati Bogaseta keheranan pada sikap Ki Radun tersebut, padahal dulu sewaktu ia belum meninggalkan Mega Mendung ke Banten, Ki Radun adalah seorang lurah tantama yang mendukung dirinya. Pangeran Adipati Bogaseta lalu memakai topi petaninya kembali, ia melanjutkan perjalanannya memacu kudanya ke keluar kota ke arah selatan, “Sepertinya Kakang Prabu semakin keras menekan orang-orang yang bersebrangan pendapat dengan dirinya.” duganya.

Sampailah ia di area pesawahan di luar kota Rajamandala, ia melihat para petani sedang giat bekerja menggarap sawahnya, ia lalu menghampiri para petani itu, “Assalam Mualaikum, sampurasun…” sapa Pangeran Adipati Bogaseta.

“Waalaikumsalam, rampes…” jawab para petani itu sambil menoleh, Pangeran Adipati Bogaseta pun membuka topi petaninya, terkejutlah para petani tersebut melihat bahwa orang itu adalah Pangeran Adipati Bogaseta, dari terkejut wajah mereka langsung berubah menjadi nampak ketakutan hingga tanpa mereka sadari, mereka melangkah mundur bebrapa langkah.

“Ki dulur semua, apa maksud semua ini? apa salahku? Sampai kalian begitu ketakutan bertemu denganku? Bukankah kalian semua pekerjanya Ki Tumenggung Wiralaya? Kalian tahu siapa aku?” cecar Pangeran Adipati Bogaseta dengan nada tinggi karena cukup tersinggung dengan perlakuan para petani itu.

“Bukan begitu Gusti, kami gembira sekali bertemu dengan Gusti, tapi keadaannya tidak memungkinkan, kalau sampai ketahuan oleh orang-orangnya Pangeran Dharmadipa, mereka pasti akan menghukum kami! Dan tanah ini juga sudah bukan milik Ki Tumenggung Wiralaya!”

“Apa maksudnya?” Tanya Pangeran Adipati Bogaseta.

“Ki Tumenggung Wiralaya beserta seluruh keluarganya sudah tewas terbunuh oleh orang-orangnya Gusti Pangeran Dharmadipa karena ketahuan menyembunykan para ulama dari Cirebon yang sedang melakukan syiar Islam di Rajamandala…” jelas si petani yang paling tua.

“Inalillahi Wainalillahi rojiun... Kapan kejadiannya?” kaget Pangeran Adipati Bogaseta.

“Baru saja dua malam yang lalu Gusti.” jawab si petani. “Maaf Gusti, kami tidak bisa menemui Gusti terlalu lama, manga…” para petani itu langsung pergi dengan langkah cepat dan ketakutan meninggalkan Pangeran Adipati Bogaseta. Pangeran Adipati Bogaseta termanggu menatap kepergian mereka, ia menghela nafas berat, ia lalu memacu kudanya kembali kedalam kotaraja setelah mengenakan topi petaninya kembali.

Di Rumah Tumenggung Sentanu, Ki Tumenggung sedang duduk termenung seorang diri di kamarnya sambil menikmati teh, wajahnya nampak sangat muram karena sudah beberapa purnama ini Prabu Kertapati tidak pernah memanggilnya ke balai penghadapan. Ia merasa khawatir akan mendapatkan nasib yang sama dengan almarhum Ki Wiralaya. 

Saat ia sedang termenung seorang diri seperti itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari jendela kamarnya, ia langsung waspada dan meraih Keris pusakanya, dengan hati-hati ia membuka jendelanya, terkejutlah ia melihat siapa yang mengetuk jendelanya tersebut, “Pangeran Adipati Bogaseta!” serunya tertahan, ia lalu celingukan melihat keluar dan mempersilakan Pangeran Adipati Bogaseta masuk lewat jendela.

“Apakah ada seorang prajurit penjaga rumah yang melihat kedatangan Raden?” Tanya Ki Sentanu dengan gelisah.

“Tentu saja tidak Paman, saya sangat berhati-hati menyusup kemari” jawab Pangeran Adipati Bogaseta. 

“Yang begini ini harus serba hati-hati, kalau mata-mata Dharmadipa sempat melihat ada orang mendatangi rumah ini, maka nasib paman akan runyam, sama seperti Ki Wiralaya!” ucap Ki Sentanu sambil menuangkan air teh untuk Pangeran Adipati Bogaseta.

“Sudah beberapa bulan ini Gusti Prabu tidak memanngil Paman ke Balai Penghadapan, sudah dua kali panen Paman gagal karena air yang mengalir ke sawah Paman ditutup, hanya karena Paman dan Ki Mantri Citrawirya memohon untuk mencabut larangan adzan berkumandang di Kutaraja Rajamandala ini.”


Pangeran Adipati Bogaseta menangguk-ngangguk, “Aku mendengar sepak terjang Putri Mega Sari dan Pangeran Dharmadipa yang semakin keji pada orang-orang yang bersebrangan dengan Gusti Prabu, mungkin dia memang hendak menjilat Kakang Prabu! Aku juga mendengar suara-suara yang tidak puas dengan pemerintahan selama saya meninggalkan negeri ini yang saya dengar di sepanjang jalan, bagaimana cerita sebenarnya Paman?”

Ki Sentanu menghela nafas berat, “Susah diceritakan Den, mula-mula rakyat memang dibuat terkagum-kagum dengan sosok Putri Mega Sari dan Pangeran Dharmadipa yang membangun waduk-waduk di sekitar anak sungai Citarum untuk dialirkan ke sawah-sawah dan perkebunan-perkebunan rakyat, ia juga memperbaiki semua waduk dan tanggul yang rusak, pencetakan sawah-sawah yang baru hingga panen pun berlimpah ruah, dan yang paling menarik perhatian adalah ia berani membangun daerah perbatasan-perbatasan yang berbatasan dengan Banten, Padjadjaran dan Sumedanglarang menjadi daerah pertanian dan perkebunan yang teramat subur, barak-barak keprajuritan pun dibangun di sana untuk memperkuat penjagaan…”

Pangeran Adipati Bogaseta menangguk-ngangguk sambil tersenyum “Bagus kalau negeri ini semakin maju begitu?” 

Ki Sentanu menggelengkan kepalanya, “Tidak Den! Karena semusim kemudian, semua hasil panen harus dijual pada pihak istana dengan harga yang mencekik leher, tidak ada yang boleh menjual pada pihak lain! Rakyat hanya bisa menyimpan sedikit padi hanya untuk makan sambil menunggu musim panen berikutnya. Belum lagi perekrutan prajurit yang semakin menjadi-jadi, bahkan anak-anak yang masih belum cukup umur sudah dipaksa untuk ikut wajib militer, mereka langsung dikirim untuk menjaga keamanan perbatasan! 

Para Pandai Besi semakin menderita karena jumlah kewajiban membuat senjata menjadi dua kali lebih banyak dari sebelumnya, mereka tidak dapat bekerja membuat peralaan rumahtangga maupun peralatan Bertani untuk mencari uang! Dan yang paling parah, Pangeran Dharmadipa yang ternyata memiliki dendam pada kaum muslim karena ayah dan ibunya tewas terbunuh oleh pasukan gabungan Demak, Cirebon, dan Banten, berlaku sangat kejam pada kaum muslim, puncaknya adalah pembunuhan seluruh keluarga Tumenggung Wiralaya yang dituduh memberontak dengan sangat kejam, rumahnya pun dibakar hingga rata dengan tanah, seluruh jenazah keluarganya dibiarkan terbakar begitu saja!”

“Jahanam!” kutuk Pangeran Adipati Bogaseta, “Keadaan Mega Mendung ini sudah rusak semenjak pemerintahan Kakang Prabu Kertapati, sekarang makin hancur saja dengan adanya Pangeran Dharmadipa yang penuh dendam itu! Belum lagi ia selalu mendapatkan ide-ide yang licik dari istrinya, Gusti Putri Mega Sari untuk setiap tindakannya!”

Ia lalu termenung, ia tahu pasti apabila menyusun kekuatan untuk memberontak sangat tidak mungkin karena Sang Prabu dan Pangeran Dharmadipa sangat ditakuti oleh para prajurit dan seluruh rakyat Mega Mendung, belum lagi Putri Mega Sari yang ternama amat sangat cerdik dalam bersiasat, tapi ia teringat pada janji Sultan Banten, maka ia pun bertekad untuk mengajak orang-orang yang tidak suka pada pemerintahan Prabu Kertapati untuk bergabung dengan Banten, “Paman, kalau begitu bisakah nanti malam membawa saya untuk menemui Paman Patih Balangnipa?”

Ki Sentanu mengangguk. “Bisa Den!”

     ***

Malam harinya, dua bayangan berpakaian serba hitam nampak berkelebatan di antara gelapnya langit malam diatas Kepatihan Mega Mendung, dua bayangan hitam tersebut hinggap diatas atap rumah utama kepatihan, mereka berdua lalu membuka genteng wuwungan di salah satu bagian rumah megah tersebut, kemudian mereka berdua masuk kedalam dari lubang yang mereka buat diatas atap tersebut.

Didalam ruangan tepat di bawah atap yang dibongkar tersebut, Ki Patih Balangnipa nampak sudah duduk menunggu, ketika dua manusia berpakaian serba hitam itu masuk, Ki Patih segera mempersilahkan mereka untuk duduk, mereka ternyata adalah Pangeran Adipati Bogaseta serta Ki Tumenggung Sentanu, “Bagaimana? dimana Raden sekarang?” tanya Ki Patih Balangnipa pada Pangeran Adipati Bogaseta.

“Saya mengabdi di Banten Paman, menjadi prajurit khusus telik sandi Gusti Sultan.” jawab Pangeran Adipati Bogaseta.

Ki Patih Balangnipa mengangguk-ngangguk sambil tersenyum kecil, orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan ini langsung dapat mengetahui maksud kedatangan Pangeran Adipati Bogaseta, apalagi Sang Pangeran terang-terangan mengatakan bahwa ia adalah prajurit khusus telik sandi yang artinya sebagai mata dan telinga Sultan Banten, “Bagus, berarti Sultan Banten sangat mempercayai Raden... Sekarang ada maksud apakah Raden kemari?”

“Saya ditugaskan untuk mengumpulkan informasi tentang orang-orang dan para pejabat yang tidak sehaluan dengan Kakang Prabu, dan kalau memungkinkan saya ingin mengajak mereka semua untuk bergabung dengan kekuatan Banten!” jelas Pangeran Adipati Bogaseta.

Ki Patih Balangnipa terdiam, ia menghela nafas berat, “Keadaan memang semakin kacau Raden, apalagi setelah Gusti Putri Mega Sari berhasil mendudukan Dharmadipa menjadi seorang pangeran yang mempunyai pengaruh sangat besar di keraton! Sungguh, tidak ada cara yang paling baik selain menindak Gusti Prabu beserta anak dan menantunya itu dengan keras!”

Pangeran Adipati Bogaseta mendengus marah, wajahnya merah padam, “Saya juga tidak tahan melihat keadaan negeri ini yang semakin morat-marit! Di sepanjang perjalanan saya melihat banyak rakyat yang menderita! Mungkin negeri ini memang berkembang pesat menjadi Negara yang kuat, tapi tidak dengan rakyatnya, rakyatnya merana dan menderita, jauh dari kata makmur!”

Mereka bertiga saling berdiam sejenak merasakan sesak didadanya mengingat kondisi negeri mereka yang morat-marit itu, setelah beberapa saat Pangeran Adipati Bogaseta membuka suara lagi, “Lalu bagaimana kalau Paman Patih, Paman Tumenggung, dan semua pejabat serta rakyat yang sudah tidak tahan dengan keadaan pemerintahan saat ini bergabung dengan saya untuk mengabdi ke Banten? Sultan Banten pasti akan bertindak dan kita akan sanggup melengserkan Kakang Prabu Kertapati!”

Ki Patih dan Ki Tumenggung saling pandang, kemudian Ki Patih mengemukakan pendapatnya, “Maafkan saya Raden, saya tidak setuju apabila kita menempuh cara yang demikian, sebab bagaimanapun pihak Banten pasti akan pamrih, akibatnya kalau kita meminta bantuan Banten mungkin kita akan menjadi negera bawahan Banten, atau minimal mereka akan memonopoli perdagangan juga hasil pertanian kita dan turut campur dalam urusan pemerintahan! Kalau sudah begitu apa bedanya dengan kita menjadi Negara yang terjajah?”

“Tapi mungkin nasib rakyat kita akan lebih baik daripada sekarang Paman, Sultan Banten adalah orang yang sangat arif dan bijaksana!” sela Pangeran Adipati Bogaseta.

Patih Balangnipa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Maaf Raden, saya hafal betul bagaimana watak orang-orang pesisir utara itu, watak mereka berbeda dengan kita orang-orang gunung dari pedalaman. Mereka adalah Bangsa Penakluk!

Maka, alangkah baiknya jangan sampai kita terpancing karena hanya masalah soal agama saja hingga mengabaikan hal lainnya terutama soal politik! Raden… tidak ada kata kemakmuran apalagi kebahagiaan apabila kita hidup sebagai orang yang kalah, orang terjajah! Kemerdekaan yang dengan susah payah diraih oleh Gusti Prabu Kertapati dari Padjadjaran akan sia-sia!”

Pangeran Adipati Bogaseta terdiam mendengarnya, Ki Patih melanjutkan ucapannya, “Menurut hemat Paman, akan lebih baik kalau kita bergerak sendiri dan meraih kemenangan dengan usaha sendiri tanpa menggantungkan nasib pada negeri lain, pada bangsa lain! Kita tinggal menyusun siasat yang tepat dan mencari pemimpin yang tepat... Soal waktu, Paman kira waktu yang terbaik adalah pada saat Pangeran Dharmadipa naik tahta menggantikan Prabu Kertapati, jadi saat ini kita masih harus bersabar…” 

Ki Patih lalu menatap Pangeran Adipati Bogaseta sambil tersenyum penuh selaksa makna, “Dan siapa lagi yang paling cocok untuk menjadi pemimpin kami selain Raden sendiri? Raden adalah putra Prabu Wangsareja, adik dari Dewi Nawang Kasih, jadi Radenlah yang paling berhak memimpin kami.”

Pangeran Adipati Bogaseta terdiam mendengarnya, Ki Patih menepuk pundak Pangeran Adipati Bogaseta, “Sabarlah Raden, saatnya akan pasti akan segera tiba! Saya yakin rakyat pasti akan mendukung raden pada saatnya nanti, ingatlah mata dan telinga Gusti Prabu ada dimana-mana, tembok-tembok dan pohon-pohon diseluruh wilayah Mega Mendung ini memiliki telinga, maka kita harus bersabar, kita harus memperhitungkan segalanya dengan masak dan cermat, belum lagi mereka mempunyai pasukan pembunuh khusus.” 

Pangeran Adipati Bogaseta mengangguk sambil tersenyum, kemudian bersama Ki Sentanu mereka berdua meninggalkan kepatihan lewat jalan yang tadi mereka buat. Ki Patih Balangnipa dengan jelas dan tegas menolak ajakan untuk bergabung dengan Banten, tapi dengan cerdiknya ia menyanjung Pangeran Adipati Bogaseta untuk menjadi pemimpin mereka selanjutnya, maka sang pangeran pun tidak tersinggung karenanya.

Seperginya mereka, Ki Patih menghela nafas berat, wajahnya nampak sangat muram, “Duh Gusti... Bagaimana kami akan menggangtungkan harapan pada seorang penghianat seperti itu? Bahkan dengan lancangnya ia menawarkan negeri ini untuk dijajah negeri lain! Apa yang harus kami lakukan ya Allah? Hanya kepadamu kami mengadu dan memohon harapan…” bathinnya.

***

Di Kestariaan keraton Mega Mendung atau lebih tepatnya di rumah kediaman Pangeran Dharmadipa dan putri Mega Sari, Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari mengundang Jaya untuk makan malam bersama. “Kau masih ingat makanan kita sewaktu di Padepokan Adi? Setiap hari tidak lebih dari sayur kangkung serta lalapan dan sambal terasi, kalau sedang beruntung kita dapat ikan asin.” ucap Pangeran Dharmadipa.

Jaya Laksana terdiam tidak menjawab sebab perhatiannya sedang tertuju pada Mega Sari, pemuda ini berkali-kali mencuri-curi pandang pada Mega Sari lalu kemudian menundukan kepalanya, begitu pun Mega Sari, berkali-kali ia mencuri pandang pada Jaya, ia malu-malu ketika pandangan mereka saling beradu sesekali.

“Kau dengar aku Adi Jaya?” Tanya Pangeran Dharmadipa.

“Ah tentu Kakang, saya sedang mengagumi kenikmatan masakan Mega, istri Kakang, terus terang sewaktu di padepokan saya tidak menyangka kalau Mega sangat pandai memasak! Kakang adalah lelaki paling beruntung, punya iastri cantik, dan pandai sekali memasak!” jawab Jaya dengan menindih keterkejutannya, rupanya pemuda ini pandai juga berakting menyembunyikan perasaan terkejutnya.

Pangeran Dharmadipa tertawa jumawa, “Hahaha... Tapi dulu dia selalu merintangi aku kalau aku mau menemuimu Mega, selepas kepergianmu dari padepokan, aku sangat ingin menyusul kepergianmu, tapi dia selalu menghalangi aku. Maka aku pun menantang dia, kalau dia punya trah Raja bukan dari golongan rakyat biasa, pasti dia akan tergila-gila padamu! Hahaha…” 

Mega Sari menatap dengan kagok pada Jaya, dia merasa tidak enak karena Jaya adalah mantan kekasihnya, ia juga sedkit terusik karena Pangeran Dharmadipa mengungkit masalah ‘Trah’ pada Jaya, “Jangan terlalu berlebihan memujiku Kakang, saya malu.”

Pangeran Dharmadipa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa, “Lho kenyataannya memang begitu kok, Tanya Jaya, istriku cantik kan?”

Jaya mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja cantik sekali Kakang, Mega adalah kembang padepokan kita, dan kecantikannya sangat terkenal ke seatero tanah Pasundan ini…” jawab Jaya sambil menatap Mega Sari, Mega Sari pun pura-pura tidak melihatnya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya dengan malu-malu.

“Jaya, jawab dengan jujur, sewaktu di padepokan dulu kita sama-sama tahu kalau dulu kamu juga punya perasaan pada Mega Sari, sekarang apakah kau masih tertarik pada istriku?” Tanya Pangeran Dharmadipa yang memberikan pertanyaan jebakan.

“Kakang” keluh Mega Sari pada Pangeran Dharmadipa.

Hati Jaya agak tertohok dengan pertanyaan jebakan tersebut, tapi untunglah Jaya dapat menindih perasaannya, dia tersenyum cengengesan menutupi perasaannya yang sebenarnya, ia juga memberikan jawaban yang cerdas, apalagi ia sangat tahu kalau Dharmadipa sangat suka disanjung, “Kakang, saya yakin, siapapun lelaki di dunia ini pasti akan tertarik pada kecantikan Mega Sari yang sangat mashyur lagi tersohor ini, tapi orang yang baik, yang tahu etika tidak akan berani melompati pagar rumah orang lain untuk mendapatkan seorang wanita yang sudah menjadi istri orang lain!”

Pangeran Dharmadipa mengangguk sambil tersenyum jumawa, sementara Mega Sari menatap Jaya tajam dengan tatapan tidak enak. “Tapi aku sangat senang Adi, akhirnya kita bertiga bisa berkumpul kembali bersama seperti waktu di padepokan dulu, aku yakin dengan bantuanmu kita akan dapat membangun negeri ini menjadi negeri yang besar!” ucap Pangeran Dharmadipa.

“Sayapun senang sekali Kakang, saya harap saya dapat membantu Kakang dengan baik” sahut Jaya.

“Tentu saja itu yang aku harapkan! Setelah aku naik tahta nanti, kau akan kuangkat menjadi Mahapatih Mega Mendung menggantikan Ki Balangnipa yang sudah bau tanah itu! Bersama kita akan taklukan Padjadjaran, lalu Banten dan Cirebon, menyusul Sumedanglarang! Setelah itu kita lebarkan wilayah kita ke wetan, kita ratakan Demak Bintoro dengan tanah! Kita kuasai seluruh Pasundan dan Jawa!” tekad Pangeran Dharmadipa.

Dia lalu menatap Jaya, “Besok pagi, Rama Prabu dan Ibu Dewi akan tiba dari pertapaan mereka di Gunung Padang, aku akan meminta Rama Prabu untuk mengangkatmu menjadi Manggala Bhayangkara, kepala pasukan Bhayangkara Mega Mendung, dengan begitu kau akan langsung menjadi tangan kananku, orang kedua yang berwenang untuk memimpin seluruh pasukan Mega Mendung!”

Jaya pun menjura hormat, “Terimakasih atas kebaikan hatimu Kakang!”

Setelah selesai makan malam, Jaya pun pamit untuk kembali ke biliknya, Pangeran Dharmadipa dan Putri Mega Sari pun bergegas ke kamarnya untuk tidur. Malam itu, Mega Sari amat gelisah, ia tidak bisa tidur, bayangan masa lalunya ketika sedang bersama Jaya terus menari-nari di benaknya, Dharmadipa pun yang sedari tadi belum tidur hanya memejamkan matanya dapat merasakan kegelisahan istrinya, ditatapnya wajah istrinya, “Nyai, kau tertarik padanya?” dengan suara dalam.

“Kenapa Kakang bertanya seperti itu?” sahut Mega Sari dengan gelagapan karena mengira suaminya sudah tidur, ia kaget Dharmadipa dapat menebak isi benaknya.

Dharmadipa tertawa kecil namun kecut, “Aku lihat Nyai selalu memperhatikan dia sewaktu makan malam tadi, dan sekarang nyai tidak bisa tidur karena memikirkan dia bukan? Hmm… Siapa yang tidak kenal dengan Jaya Laksana alias Pendekar Dari lembah Akhirat? Selain dikenal sakti mandraguna, ia juga dikenal sangat tampan! Tidak heran kalau banyak wanita yang jatuh hati padanya termasuk Nyai sendiri, apalagi dulu dia pernah dekat dengan Nyai!”

Mega Sari terdiam, “Aku tidak mau istriku mendua! Ingat, meskipun Jaya adalah adikku sekaligus sahabatku, tapi kalau sampai ia berani merebutmu, aku tidak segan untuk membunuhnya!”

Mega Sari terkejut mendengarnya, ialangsung membalikan badannya emosinya sedikit terpancing “Kakang tidak pantas untuk mencurigai saya!”

Dharmadipa membalikan badan Mega Sari dan menatapnya dengan tajam “Aku hanya ingin bahwa aku adalah satu-satunya lelaki yang kau cintai di dunia ini Mega! Kau hanya milikku! Dan aku bisa melakukan apa saja kalau sampai kau berani macam-macam! Aku tidak akan membiarkan nasib Pangeran Mundingsura menimpaku!” ancam Dharmadipa.

Mega Sari tertawa kecut, “Sejak kapan kau berani mengancam putri Mega Sari Kakang?” mereka pun saling beradu pandang untuk beberapa saat dengan perasaan yang bercampur aduk yang membuat dada mereka masing-masing terasa panas.

***


Hai hai salam untuk para sahabat pembaca semua yang budiman, terima kasih sudah mengikuti kisah “Wasiat Iblis” ini sampai episode 42, berkat dukungan para sahabat semua, penulis bisa terus bersemangat untuk menulis kisah ini sampai sejauh ini, tanpa dukungan dan sambutan hangat para sahabat semua, mungkin kisah ini tidak akan berlanjut sampai sejauh ini hehehe…

Oya dengan kesempatan ini juga penulis infokan bahwa Wasiat Iblis akan libur untuk sepekan atau 2 episode karena kondisi kesehatan penulis yang terus menurun sehingga harus beristirahat sejenak. Tetapi tenang saja, penulis pastikan kisah Wasiat Iblis episode 43 akan update selasa depan dan episode-episode selanjutnya akan update seperti biasanya demi menghibur sahabat semua. 

Terakhir, apakah ada pertanyaan atau saran/masukan untuk penulis? Silakan tulis di kolom komentar, Insyaallah penulis akan menjawab pertanyaan dari sahabat semua, salam…