Episode 67 - I Wanna Say Something



"Terima kasih sudah menemaniku belajar di kelas kakak-kakak selama seminggu ini. Sekarang waktuku sudah habis dan akan kembali ke kelasku, aku izin pamit dan sampai jumpa."

"Hee? Sudah seminggu ya? Cepet banget sih!" Fhonia turut sedih merasakan perpisahan.

"Terima kasih buat kak Fhonia yang walau selalu mencubit pipiku, tapi aku suka kakak."

"Z-Zio... apa kamu sudah harus pergi?" Fhonia seketika menjadi sangat sedih. 

"Iya kak, waktuku disini sudah selesai."

"Dan kak Alzen yang hebat, dengan sabar mau mengajariku banyak hal dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak kuketahui, terima kasih kakak." Zio tersenyum.

Dan Alzen mengacungkan jempol padanya.

"Oke Zio, aku lega mendengarnya. Aku juga ikut senang kamu bisa menikmati belajar disini. Sekalipun umurmu masih terlampau muda."

"Hehe..." Zio tersenyum pada Kazzel. "Terima kasih sudah memberikanku kesempatan belajar disini."

Kemudian Zio keluar dari kelas dan seterusnya, pelajaran dimulai seperti biasa. Kini, di hari pertama minggu kedua ini. Barulah Kazzel mengajarkan praktek dengan demonstrasi seperti di kelas-kelas lain. Mungkin Fragorlah yang paling terlambat untuk hal ini. 

***

Malam harinya, di restoran Twillight District, tempat mereka biasa berkumpul.

"Selamat malam kakak-kakak."

"Ehh ternyata kau datang." kata Lio yang sedang makan. "Jauh tidak?"

"Maaf ya aku terlambat sedikit. Tidak jauh kok, kan aku tinggal di Vheins juga."

"Ohh begitu." Lio lanjut makan.

"Tidak apa kok. Sini duduk sini." Fhonia mempersilahkan untuk duduk di bangku kosong disampingnya. "Ini memang kursi khusus buat kamu."

"Gak mau! Nanti dicubitin lagi."

"Haha, kalau gitu duduk disini saja." Alzen geser sedikit dan memberikan ruang kosong untuk diduduki Zio.

"Ehh!? Ada kakak yang kemarin." kata Zio. 

"Halo, kamu Zio ya." Leena memberikan tangannya untuk bersalaman. "Aku Leena Leanford."

"Hihi... aku Zio Mirtel."

"Mirtel?" Leena teringat sesuatu.

'Leanford?" Zio-pun begitu.

"Hah! Nama itu kan?!"

"Hah! Nama itu kan?!"

Kata mereka berbarengan.

"Tunggu, tunggu, tunggu. Zio Mirtel ya? Jangan bilang kau, adiknya Lexion Mirtel?" kata Leena sambil menunjuknya.

"Dan kakak, Leanford. Jadi kakak adiknya Leinn Lenford?" kata Zio sambil menunjuk balik.

"Wah, jadi itu benar. Kau adiknya Lexion. Kau bahkan tahu nama kakakku."

"Loh? Kalian sudah saling kenal?" tanya Alzen.

"Woah... heboh sekali sih." komentar Lio.

Chandra terus makan dan tak menanggapi.

"Hihi, bisa kebetulan banget ya." Fia tertawa kecil.

Sedang Ranni, Cefhi dan Gunin tidak datang malam ini.

"Tidak, tidak, bukan artinya kita sudah saling kenal. Hanya saja..." Leena berusaha meluruskan.

"Kakakku, berteman baik dengan kakaknya, kak Leena."

"Lexion Mirtel ya," Alzen mengingat-ingat. "Dan satu lagi, seminggu lalu, aku dengar dari ayahku sewaktu pulang kemarin. Disana ia ada menyebutkan nama Mirtel juga, Uhm... namanya, ahh aku tidak begitu ingat. Pokoknya nama seorang wanita."

"Maksud kakak? Kak Rynka?"

"Ahh iya-iya. Itu dia! Rynka Mirtel. Dia kakakmu juga?"

Zio mengangguk. 

"Ehm!" sahutnya

"Woah, kalian bertiga terhubung ya. Hahaha." Lio meledek.

"Aku bukan dari benua ini," kata Chandra. "Aku tidak tahu apa-apa soal nama Mirtel."

Angguk Fia. "Sama, aku juga."

"Masa kalian tidak tahu?" Zio setengah tidak percaya. "Nama keluarga Mirtel terkenal loh di Griffinia, kalian yang datang dari luar benua harusnya tahu."

"Griffinia ya..." balas Lio. "Aku dan Fia memang datang ke benua ini lewat Griffinia."

"Tapi, aku tidak tahu apa-apa soal nama Mirtel." sambung Fia.

"Tidak, aku orang North Azuria, aku datang ke sini melelalui Quistra."

"Hee!? Aku baru tahu, kalian ini pendatang ya?" komentar Fhonia.

"Tidak juga, Aku tinggal disini. Di Vheins." balas Leena. "Dan Alzen orang Greenhill barat."

"Kau sendiri Fhonia, kamu berasal darimana?" tanya Alzen.

"Ohh... kalian penasarannya ya. Hihi." Fhonia mengusap-usap telapak tangannya. "Aku dari Letshera. Ibukota Greenhill. Aku satu kota dengan Superstar Nicholas. Hanya saja dia ada di kawasan pemerintahan. Sedang aku ada di kawasan elit. Hihi..."

"Jadi pada dasarnya, kalian semua orang-orang kaya ya." Alzen menghela nafas.

"Tentu saja, biaya sekolahnya kan mahal sekali." kata Fhonia santai. 'Jelas yang bisa belajar di sekolah ini hanya orang-orang yang berada."

***

Beberapa saat kemudian mereka selesai. Hari sudah semakin malam dan mereka kembali ke dormnya masing-masing. Karena mereka kembali ke tempat yang berdekatan, selagi berjalan pulang. Mereka masih berjalan bersama. Kecuali Leena yang tidak pernah menggunakan dormnya.

Di saat mereka berjalan kembali, Alzen dan Leena berada di barisan paling belakang dan secara diam-diam Alzen mencoba mengatakan sesuatu pada Leena di samping kanannya.

"Le-Leena." bisik Alzen.

"Ya?"

"Aku ingin bicarakan sesatu, bisa kita ketemu nanti. Jam 12 malam di tempat itu?"

"Huh? Ada apa?"

"Aku jelaskan nanti, bisakah kamu datang?"

"Uhm... boleh saja." 

"Hah!" Alzen tak menyangka Leena menyanggupi. "Janji ya?! Jam 12 di tempat itu."

"Hee? Kenapa kamu terkejut begitu. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan sih?"

Alzen tersenyum. "Biar kuberitahu nanti."

"Psst..." kata Lio yang berada di depan Alzen dengan Fia disampingnya. "Kalian ngomongin apa sih?"

"Ahh bukan apa-apa." Alzen tertunduk malu.

"Ohh iya, aku berpisah disini ya." balas Leena. "Aku tidak pernah tinggal di dorm."

"Hee? Memangnya boleh?" 

"Setelah tiga bulan, boleh. Tapi..." Leena menjulurkan lidah. "Sejak awal memang aku tidak pernah menggunakan kamar di dorm. Jadi sudah ya... Bye!"

"Aku juga!" sahut Zio yang berjalan di paling depan sebaris dengan Fhonia dan Chandra yang sedari tadi fokus memikirkan sesuatu dan hanya tertunduk diam.

"Yah Zio." Fhonia mecubitnya. 

"Adududuh! Sakit kak!"

"Kita gak akan ketemu lagi dong."

"Adududuh berhenti mencubitku dong. Kalau kalian mau kalian bisa ke rumahku di Sapphire District."

"Ohh kau tinggal di Vheins juga?" tanya Leena dari belakangnya. 

"Iya kak. Jadi kalau ada waktu silahkan saja kerumahku."

"Hihi... meski masih kecil. Zio mandiri ya." komentar Fia dengan tersenyum. Kau tinggal sendiri kah disana?"

"Iya dan tidak." jawab Zio.

"Iya dan tidak?" Fia bertanya-tanya.

"Iya aku tinggal sendiri karena tidak ada keluargaku. Tapi aku punya bibi yang mengurusi semuanya. Jadi... aku tidak benar-benar tinggal sendiri?"

"Bibi?" Lio bertanya-tanya. "Bukannya, bibi juga termasuk kelu- AWW!"

Fia menendang kaki Lio secara diam-diam kemudian membisikkan sesuatu. "Yang dia maksud pembantu, bukan bibi sebenarnya."

"Ahh tapi kan tak perlu sampai menendang juga." Kata Lio sambil mengusap-usap kakinya, kemudian di depannya ada Chandra yang terlihat menunduk diam sedari tadi. "Hoi Chan, tumben diam terus. Ada apa sih?"

"Haa!? Apa? Ti-tidak kok."

"Beneran? Daritadi kau seperti sibuk memikirkan sesuatu."

"Ti-tidak, a-aku biasa saja." Chandra mendadak canggung. "Li-lihat kan? Apa yang aneh?"

Dan semuanya menatapa Chandra dengan menyipitkan mata, kecuali Alzen yang sibuk melihat ke jalan dimana Leena yang pergi. Dan sesungguhnya ia juga telah mengetahui beban pikiran yang dialami Chandra. 

'Sudah ya, aku ke arah sana. Bye... kakak-kakak semua." Zio melambaikan tangan dengan polosnya, ia benar-benar terlihat seperti anak kecil riang gembira yang tanpa beban.

"Bye Zio..." sahut semuanya berbarengan.

"Bye..." lambai Alzen.

"Bye-bye Zio." lambai Fhonai dengan kedua lengannya secara lebar-lebar dengan rasa perpisahan yang mendalam. 

"Hah... Akhirnya tersisa kita ya." kata Lio sambil menyandarkan kepalanya ke kepala tangannya. "Anak-anak Ignis yang terpecah belah."

"Terpecah belah? Meski kalian berbeda-beda kelas sekarang tapi kalian tetap teman kan."

"Tapi intensitas ketemuan kita jadi hanya sebatas kumpul makan-makan saja." keluh Lio.

***

Setelah mereka semua kembali ke Dorm yang sama, Zio berjalan pulang seorang diri di jalanan gelap yang hanya diterangi semacam makhlukkecil bercahaya layaknya kunang-kunang yang disimpan di dalam lampion kaca. Dan daya cahayanya juga tidak begitu besar. 

Pada jaman ini lampu sudah ditemukan namun tidak seluruh negara memilikinya. Dan Greenhill yang sangat bergantung pada peralatan sihir mengganti obor-obor api yang biasa digunakan oleh negara-negara di Azuria dengan benda-benda sihir semacam ini. Dan pada jaman ini, malam terasa begitu gelap gulita.

Dan Zio berjalan dan terus berjalan cukup jauh hingga mencapai rumah sewanya di Sapphire District, rumah kecil tapi bisa terbilang cukup besar jika hanya ditinggali Zio seorang ditambah pembantunya. Rumahnya juga cukup terbilang terang saat malam hari, seolah lampu sudah terpasang di rumah ini.

Zio membuka pintu rumahnya dan langsung berbaring di atas kasur yang ada di ruang tamu itu sendiri.

"Puahhh... akhirnya aku sendiri lagi." Katanya dengan menyipitkan mata. Ekspresi riang gembira ala anak kecil di depan Alzen dan teman-temannya tidak terpancar disini. 

Pembantunya tidak tinggal menginap disini, jadi sebagai anak umur 10 tahun, ia harus melewati malam hari seorang diri hampir setiap hari. Di anak seumurannya, sulit untuk mengajak temannya bisa datang pada jam selarut ini.

Setelah berbaring sejenak, Zio segera mengambil cincin Crystal Communicator yang ditaruh di tempat khusus agar mudah diambil dan diingat lokasinya, kemudian mengenakannya pada jari tengahnya, lalu CC itu diberi pancaran Aura dan terhubung dengan orang yang akan dihubunginya.

"Halo kak Lex..." katanya dengan nada tak bersemangat.

"Zio, apa kabarmu? Aku sedang menjalani misi di Fel. Jadi sebentar saja ya." balas Lexion dari suatu tempat di Fel, ia saat ini sedang berkemah di dekat goa dia belantara padang pasir Fel. Selagi mereka beristirahat mengelilingi api unggun, Lexion menyempatkan diri untuk menanggapi adiknya.

"Hah..." Zio menghela nafas. "Baik kak." katanya dengan wajah tak bersemangat yang hampir menyerupai Velizar.

"Bagaimana seminggu terakhir? Kamu mengalami sesuatu yang menarik?" kata pria berkacamata, berambut panjang berwarna biru muda itu.

"Menarik? Membosankan kak. Semua yang ada di Fragor tidak ada yang hebat. Semuanya payah, mereka malah lebih memandangku dengan perasaan iri hati. Tapi aku sudah tahu, bahwa mereka semua orang-orang payah."

"Hmm begitukah? Apa angkatan tahun ini tidak ada yang menarik di matamu?"

"Tidak ada kak, uhmm mungkin kecuali. Alzen. Dia bisa tiga elemen kak."

"Tiga elemen? Kemampuan yang langka. Terlebih di kalangan anak usia dibawah dua puluh tahun. Jarang sekali."

"Nama lengkapnya Alzen Franquille, apa kakak pernah mendengar nama itu?"

"Ohh Franquille, sekarang jadi jelas, aku tidak lagi heran."

"Huh!?" Zio yang terbaring lemas seketika bangkit dan menjadi tertarik mendengar kelanjutnya. "Tidak lagi heran? Kenapa memangnya kak?"

"Hanya sedkit orang Azuria yang tahu, Tapi Franquille itu nama yang sangat terkenal di benua bernama El-"

Kemudian sahut orang di dekat Lexion. 'Hei Lex! Kamu tidak tidur? Besok kita akan melakukan serangan mendadak sebelum matahari terbit. Kita lenyapkan ketuanya pagi-pagi buta dan kita tak perlu melakukan perang yang tak perlu."

Selagi ketua party Lexion bicara, suaranya jadi campur aduk dan Zio tak menerima kata-kata Lexion dengan jelas, padahal Lexion sudah mejelaskan panjang lebar saat itu.

"Ha? Apa kak?"

"Zio, sudah dulu ya. Orang yang mengontrakku-"

Syupp..

Kemudian Cahaya sinar CC itupun menghilang dan suara Lexio tidak terdengar.

"Yahh kakak..." kata Zio menyangkan itu.

***

Jam 12 malam lewat beberapa menit, Alzen sudah berdiri dengan baju rapihnya di Seas of Destiny. Ia mengenakan jas yang biasa ia kenakan dengan jubah almamater Vheins tapi kini jubah itu dibiarkan di lemari dan tidak dikenakannya. Tak ada seorangpun disana. Alzen berdiri disana seorang diri, di depan bangku panjang tempat biasa Alzen dan Leena bertemu.

"Hai Alzen, wah kau rapih dan wangi sekali. Ada apa ini?" kata Leena dengna baju santainya. Baju yang sama saat ia mengajak Alzen subuh-subuh ke rumahnya.

"Le-Leena." Alzen terbatah-batah, hatinya berbedar-debar sekali karena ini kali pertamanya ia melakukan ini. Tak satupun buku-buku yang ia baca di rumah menara ayahnya, mengajarkan tentang hal ini dan ia hanya melakukan apa yang menurutnya dapat ia lakukan.

"Dari awal aku bertemu denganmu di panggung itu. Aku sudah merasakan ini." Alzen berusaha tenang dan mengucapkan kalimat yang ia sudah catat secara detail di dua lembar kertas penuh. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Tapi ia berusaha melakukannya segagah mungkin.

"Hei-hei Alzen, kau tidak sedang melakukan apa yang kupikirkan kan?"

"Aku ingin menundanya hingga di akhir kelulusan nanti, tapi aku tak sanggup melakukannya. Setiap aku melihatmu baik di quest saat itu hingga aku harus beduel denganmu di turnamen. Aku terus memikirkannya, setiap kali melihat dirimu. Aku tak ingin menyesal di kemudian hari, karena aku tidak pernah punya keberanian untuk bilang..." kata Alzen di depan Leena berdiri berhadap-hadapan.

"..." mata Leena terbuka lebar-lebar mendengar itu.

Kemudian hening sesaat, hening yang cukup panjang, tak ada suara apapun di saat itu. Mereka berdua hanya berdiri disana di tengah malam yang disinari sinar bulan, berdua saja.

"Aku suka kamu... Leena."

Leena hening terdiam, ia hanya menatap mata Alzen di depannya yang sungguh-sungguh mengatakan itu semua.

"Kukatakan sekali lagi, bahwa aku suka padamu..."

Alzen tersenyum sebentar dan lanjut mengatakan kalimat berikutnya. "Apa kamu tahu, apa yang bisa kulakukan karena dirimu," mata Alzen berkaca-kaca. "Saat kau mengundangku dan kamu tiba-tiba menyuruhku pergi, aku terus memikirkan dirimu. Selama itu aku hanya bisa terus memikirkan dirimu. Dan saat aku butuh anggota untuk melakukan Quest saat itu, tak ada yang kupikirkan selain dirimu, aku berlagak seolah tak ada yang terlintas di kepalaku, tapi aku ingin kamu pada saat itu. kamu sempat menghunuskan pedangmu ke Chandra tapi aku tetap ingin kamu ada bersamaku saat itu, dan ketika kau akhirnya menerima permintaanku itu, betapa bahagianya aku."

"..." Leena terus mendengarkan di depan mata Alzen.

"Kamu pergi dan mengatakan akan datang kembali, Chandra sempat cemas kalau kau tak akan datang, tapi aku percaya kau pasti datang. Entah apa alasannya aku percaya itu. Dan saat kau datang untuk melakukan Quest itu bersama-sama. Aku tidak bisa mengatakannya tapi yang kurasakan bahwa betapa cantiknya kamu saat itu, baju biru yang sederhana tapi karena kamu yang mengenakannya membuatnya begitu cantik." 

"Kita bertempur bersama, berjuang bersama, di hutan itu. Dan aku merasa betapa gagahnya dirimu, betapa kuatnya dirimu dan betapa indahnya dirimu dengan sihir Dancing Blade Illumination pada saat itu. Aku sangat mengagumimu."

"Pada saat kelasku melakukan perayaan besar di tengah api unggun, aku ingin mengajakmu, aku terus membayangkan kita berdua bersama duduk bersama pada saat itu. Aku sempat menyangkalnya tapi aku tahu, aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya, tapi aku tahu, aku tahu, aku menyukai dirimu."

"Duduk berdua bersamamu akhirnya terjadi, tidak di depan api unggun itu. Tapi disini, di tempat ini. Tempat yang kita sebut Seas of Destiny. Tempat kita pertama kali duduk berdua, dia hamparan laut malam ini. Aku berlagak seperti aku lebih ingin mengetahui ayahku daripada bersamamu pada saat itu, tapi yang sebenarnya adalah sebaliknya. Aku lebih ingin bersama lebih dari apapun." 

"Aku merangkai kata-kata yang sangat panjang dan detail di setiap katanya, pada surat ini." Alzen menunjukkan dua lembar kertas. "Sudah banyak yang aku robek, dan bakar untuk mempersiapkan ini semua. Tapi pada akhirnya bukan kertas ini yang bicara. Dan sekali lagi..." Alzen membakar kertas itu dengan sihirnya dan sisa-sisa kertas terbakar itu melayang di terpa angin dan jatuh ke laut. "Aku telah gagal menuliskannya, hingga pada akhirnya. Bukan kata-kata di surat ini yang aku ucapkan, tapi perasaanku selama ini kepadamu."

"Pada saat turnamen, di saat aku tak sadarkan diri dan kau ada bersamaku, sungguh itu hal terindah dalam hidupku." Alzen menggenggam kedua tangan Leena dan mereka berdua kini berpenggangan tangan. "Dan ketika sampai hari dimana, aku harus bertarung melawanmu, sungguh itu adalah hal yang tak bisa kuungkapkan, kau membuatku mampu melampaui batas diriku. Hari itu aku ingin sekali menyatakan ini semua. Dan sampai akhirnya di hari ini, aku mengumpulkan segenap keberanian untuk bilang bahwa, Leena... Aku... cinta... kamu..."

***