Episode 45 - Jenius (2)


 

Unggul hanya tersenyum tipis mendengar perkataanku, meskipun dia tidak mengiyakan dirinya sebagai seorang jenius, tapi dia juga tidak membantahnya. Pantas saja Reza begitu menghormati dan menurut padanya ketika aku bertemu pertama kali dengan Unggul dua hari lalu. Dengan kemampuan dan bakat yang dimilikinya, cuma soal waktu sebelum Unggul menjadi salah satu pilar utama Perkumpulan Angin Utara. 

“Oh iya, kudengar banyak pendekar jenius dari berbagai kelompok persilatan yang ikut masuk ke dalam markas ini.” Unggul kembali terlihat serius saat memberitahukan hal itu padaku. 

“Terima sudah memberitahukannya padaku, aku akan lebih berhati-hati,” jawabku pelan. 

“Tidak masalah, anggap saja ini sebagai itikad baik dariku, mengingat kita sudah saling membantu sebelumnya.”

“Iya.” Aku tersenyum lebar. 

Kemudian pandanganku beralih pada orang-orang yang datang bersama Unggul, jumlah mereka ada lima orang, dan satu orang diantaranya adalah perempuan. Meskipun aku segera mengenali Reza, namun sisanya sama sekali tidak bisa kukenali. Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku, walaupun mereka mengenakan pakaian berbeda-beda, namun ada satu kesamaan yang menjadi ciri khas mereka, seluruhnya mengenakan kain berwarna biru tua di salah satu bagian tubuh mereka. Ada yang mengenakannya sebagai slayer, mengikatkannya sebagai gelang, ada juga yang menjadikannya sebagai ikat kepala. Pada kain tersebut terdapat simbol berupa angin yang membentuk tiga lingkaran kecil di atas garis-garis bergelombang. 

“Mereka... anggota Perkumpulan Angin Utara juga?” tanyaku perlahan pada Unggul. 

“Ya,” jawab Unggul singkat. Kemudian dia mengajakku berjalan mendekati para anggota Perkumpulan Angin Utara lainnya dan memperkenalkanku dengan mereka. Kebanyakan dari mereka berusia sekitar dua puluhan meskipun ada satu dua yang usianya kurang lebih sama denganku.

Yang menarik buatku adalah reaksi mereka saat berkenalan denganku, aku merasa pandangan mata mereka seakan meremehkanku begitu mengetahui aku berasal dari Kelompok Daun Biru. Tapi tentu saja aku tidak terlalu memperdulikannya, karena kupikir cukup wajar jika mereka memandang rendah Kelompok Daun Biru. 

“Jadi kau sudah bertemu dengan semua anggota Perkumpulan Angin Utara di dalam sini?” ujarku saat berhadap-hadapan dengan Reza. Aku ingat pada saat bertama kali bertemu dengan Reza, dia memberitahukan padaku kalau dirinya masuk ke dalam markas ini berenam. 

Reza menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. “Bagaimana denganmu, apa kau sudah bertemu dengan anggota Kelompok Daun Biru?”

“Belum, aku baru saja datang ke tempat ini. Jadi belum sempat bertemu dengan siapapun.” 

“Tenang saja, aku yakin kau akan bertemu lagi dengan mereka ditempat ini. Karena setahuku sebagian besar pendekar yang masuk ke markas rahasia telah berkumpul di tempat ini.”

“Kalau mereka masih hidup...” gumamku pelan. 

Reza sempat tertegun mendengar gumamanku barusan, namun dia tak berkata apa-apa untuk menyemangati diriku.

“Tapi, kenapa semua pendekar berkumpul di tempat ini? Apa mereka juga...?” Aku kembali bertanya. 

“Benar, mereka juga diundang oleh mayat hidup seperti kita,” sahut Unggul.

Aku tak lagi mengatakan apa-apa, namun pikiranku kembali menerawang pada mayat hidup yang tempo hari kuserap darahnya. Awalnya kukira orang yang merasuki mayat hidup itu mengundang kami karena melihat pisau Sadewo yang kugunakan ketika bertarung dengannya. Ternyata dugaanku salah...

Apa yang sebenarnya direncanakan oleh orang yang merasuki mayat hidup tempo hari hingga mengundang kami semua ke satu tempat yang sama?

“Lalu, apa yang hendak kau lakukan sekarang Rik?”

“Aku tidak tahu, mungkin akan menunggu hingga hari undangan tiba sambil mencari kawan-kawanku dari Kelompok Daun Biru.

Unggul sempat terdiam sebentar mendengar perkataanku, kemudian dia berkata lagi. 

“Situasinya sangat berbahaya jika pergi sendirian, bagaimana jika kau bergabung dengan kami. Sambil mencari teman-temanmu dari Kelompok Daun Biru.”

“Memangnya apa rencana kalian saat ini?”

“Kami masih berkeliling mencari barang-barang yang bisa kami ambil, sambil menunggu waktu undangan tiba.” 

Setelah memikirkannya sebentar, akhirnya aku menyetujui usulan Unggul dan ikut bergabung dalam rombongan Perkumpulan Angin Utara. Toh bergabung dalam rombongan Unggul lebih menguntungkan buatku ketimbang kelayapan di tempat berbahaya seperti ini sendirian. 

“Nggul, apa kau yakin akan mengajak dia bersama kita?” Tiba-tiba salah satu anggota rombongan mereka yang sebelumnya berkenalan denganku sebagai Rangga ikut bicara, dari wajahnya jelas sekali dia kurang setuju kalau aku bergabung dengan rombongan mereka. 

“Hmmm... Tentu saja, memangnya kenapa?”

“Apa dia tidak akan menjadi beban tambahan buat kita?”

Unggul terkekeh kecil mendengar perkataan Rangga, “Tenang saja, aku dan Reza sudah melihat sendiri kemampuan yang dia miliki. Lagipula, jika bukan karena Riki, mungkin Reza tidak akan bersama kita saat ini. Ya kan Za?”

“Betul kata Unggul.” Reza menganggukkan kepalanya.

“Baiklah...” Akhirnya Rangga tidak lagi protes dan hanya melirikku sebentar, kemudian dia tak mengatakan apa-apa lagi. Aku sendiri hanya diam saja mendengarkan perdebatan ringan mereka. 

Setelah tak ada lagi protes dari anggota Perkumpulan Angin Utara, aku ikut bersama mereka menjelajah wilayah tengah markas rahasia ini. 

***

Keesokan harinya....

Dalam sebuah ruang gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun, seorang laki-laki paruh baya duduk bersila dengan kedua mata terpejam. Kedua tapak tangannya diletakkan menghadap keatas di lutut kiri dan kanannya, sedangkan mulutnya terus berkomat-kamit seperti tengah merapal sesuatu. Namun sesaat kemudian mulutnya terkatup rapat secara tiba-tiba dan matanya yang semenjak tadi terpejam rapat perlahan-lahan mulai terbuka.

“Sudah tepat tiga hari berlalu semenjak aku pertama kali mengundang para pendekar muda yang masuk ke dalam markas ini...” ucapnya lirih begitu dia membuka kedua matanya. 

Kemudian tanpa mengeluarkan sedikitpun suara, tubuhnya telah hilang dari lokasi pertapaan yang gelap gulita dan muncul lagi pada sebuah taman yang cukup luas. Udara di taman itu tertutup oleh kabut putih yang dingin mencucuk tulang, bahkan bunga dan rerumputan yang ada di taman tersebut tampak tertutupi sebagian oleh bunga es. Namun lelaki paruh baya tersebut sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa dingin tersebut dan berjalan ke tengah taman dengan tenang. 

Pada bagian tengah taman, terdapat sebuah peti besar yang seluruhnya terbuat dari es. Dan disamping peti besar terus berdiri seorang gadis tengah menatap isi peti dengan mata nanar. Jika saja Riki ada disitu, dia pasti akan langsung mengenali gadis itu. Dialah gadis yang selama ini dicari-cari oleh Riki, Kinasih!

“Bagaimana kondisinya?” ujar pria paruh baya begitu dia sampai di bagian tengah taman pada Kinasih.

Kinasih hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun. 

Melihat reaksi Kinasih, lelaki paruh baya itu hanya menarik nafas panjang. Diapun berjalan mendekati peti es dan ikut memandang isi peti tersebut. Di dalam peti tersebut ternyata terbaring seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian serba hitam, dan jika dilihat dari perawakan tubuhnya, usianya kurang lebih masih sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun. 

“Pewaris Sekte Pulau Arwah...” gumam si lelaki paruh baya sambil mengusap lembut peti es, kemudian dia memejamkan matanya menahan luapan emosi kesedihan yang tiba-tiba saja melanda dirinya. Setelah beberapa saat, dia membuka kembali matanya dan segera mengalihkan pandangannya pada Kinasih. 

“Apa benar yang kau ceritakan waktu itu? Sadewo berhasil melakukan Mantra Pemindah Arwah?

“Benar.” Kinasih menganggukkan kepalanya. 

“Mantra Pemindah Arwah...” gumam lelaki paruh baya itu sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Saatnya aku menyambut para pendekar yang masuk ke markas ini.”

Lelaki paruh baya itu kemudian meninggalkan Kinasih dan peti es di tengah taman lalu menghilang dibalik kabut putih dingin yang melingkupi taman, sebelum akhirnya muncul tepat di atas bangunan tertinggi di area pusat. Setelah memperhatikan seluruh area pusat selama beberapa saat, dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi lalu menembakkan cahaya hitam pekat yang membuat seantero wilayah pusat berubah menjadi redup. 

***

Ditengah tanah lapang, seorang lelaki berusia tiga puluhan tampak tengah merangkak tergesa-gesa dengan wajah ketakutan setengah mati. Di belakangnya, seorang pemuda berjalan mengikutinya dengan santai. 

“Ampun, tolong jangan bunuh aku. Aku sudah menyerahkan semua barang berharga yang kumiliki. Kumohon, aku masih punya anak...” Orang itu mengiba sambil terus merangkak.

Namun pemuda yang mengikutinya hanya tertawa mengekeh saja mendengar orang yang merangkak itu terus mengiba. 

“Bagus, teruskan. Teruslah memohon, aku suka mendengarnya,” ujar pemuda itu sembari terus mengekeh. 

Tapi kekehannya langsung terhenti ketika sudut matanya menangkap cahaya hitam menjulang dari gedung tertinggi di tengah area pusat. 

“Cih, ternyata sudah waktunya. Padahal aku masih asik bersenang-senang,” gumamnya kesal. “Sayang sekali, tampaknya permainan kita cukup sampai disini saja.”

“Jangan! Kumohon jang...”

Orang yang merangkak itu tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena kepalanya sudah ditebas putus oleh si pemuda. Lalu tanpa bicara, pemuda itu langsung melesat hilang dari tempat itu. 


“Ck... Peringkat dua Perserikatan Tiga Racun ternyata memang sekejam reputasinya.”

Sesaat setelah pemuda itu pergi meninggalkan tanah lapang, seorang pemuda lain yang mengenakan pakaian taktis keluar dari balik tembok. Dia sempat memandang jasad orang yang baru saja ditebas putus kepalanya, lalu menggeleng prihatin. Sebelum akhirnya dia ikut melesat menuju arah cahaya hitam pekat. 

***

Di dalam gedung bertingkat dua, seorang gadis muda sedang duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Begitu cahaya hitam pekat menjulang di atas gedung tertinggi, dia langsung membuka kedua matanya. 

“Kebetulan sekali, aku ingin menjajal sejauh apa peningkatan kemampuanku setelah mengkonsumsi pil-pil sakti di dalam markas ini,” ujarnya sambil berdiri lalu melesat ke arah cahaya hitam pekat.

***

Dua orang pemuda tengah bertarung dahsyat hingga menyebabkan tanah dan bangunan di sekitar mereka rusak berat. Namun pertarungan mereka mendadak berhenti begitu mata keduanya menangkap cahaya hitam pekat menjulang di tengah-tengah area pusat. 

“Sayang sekali, tampaknya pertarungan kita harus tertunda dulu sekarang,” ujar pemuda pertama.

“Humph, jangan khawatir. Setelah keluar dari tempat ini, aku pasti akan datang mencarimu meskipun harus mengobrak-abrik Bendera Tujuh Warna.”

“Hah! Besar sekali bualanmu Bowo, pantas orang-orang menjulukimu si mulut besar dari Perguruan Sanca Kembang.”

“Apa katamu?!”

“Kau dengar apa kataku. Aku pergi dulu mulut besar.” 

Pemuda pertama langsung melesat cepat ke arah cahaya hitam pekat. 

“Sialan! Jangan kabur!” 

Pemuda kedua yang ternyata adalah Bowo dari Perguruan Sanca Kembang ikut melesat menuju arah cahaya hitam pekat. 

***

Meskipun sudah mengikuti rombongan Perkumpulan Angin Utara selama satu hari penuh berkeliling menjelajahi area tengah, namun aku masih belum berhasil menemukan satupun anggota Kelompok Daun Biru. Tapi memang area penjelajahan kami tidak begitu luas, selain karena berusaha menghindari bentrok sia-sia dengan kelompok lain yang berseliweran di area pusat, waktu yang tersisa sebelum undangan juga tidak banyak lagi. 

Disamping itu, anggota Kelompok Daun Biru yang masuk ke markas ini bersamaku hanya lima orang dan tidak memiliki persiapan matang, sehingga kemampuan bertahan hidup mereka cukup rendah. Aku hanya bisa berharap mereka dapat bertahan hidup sampai hari ini. 

“Sudah hari ketiga semenjak mayat hidup itu mengundang kita...” ucap Unggul sembari berlutut mengamati deretan bangunan agak jauh di depan. 

“Kau benar, seharusnya siapapun yang mengundang kita kesini, akan muncul tidak lama lagi,” ujarku menimpali Unggul. Aku sendiri juga berjongkok mengamati deretan bangunan tersebut, begitu juga para anggota Perkumpulan Angin Utara yang lain. 

Unggul hanya menganggukkan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya pada deretan bangunan di depan. Disana, kami melihat beberapa siluet tubuh sedang berjalan di dalam bangunan. Tampaknya mereka sedang menjarah isi bangunan tersebut dan belum menyadari keberadaan kami. 

Namun demikian, aku tahu benar Unggul dan anggota Perkumpulan Angin Utara lainnya tidak berniat menyerang mereka sama sekali. Kami hanya mengamati gerak-gerik mereka dari kejauhan untuk memastikan apakah mereka akan membahayakan bagi kami atau tidak. 

Saat sedang asyik mengamati orang-orang yang ada dalam bangunan, tiba-tiba sudut mataku menangkap kelebatan tiga orang mendekati bangunan tersebut. Dan mataku langsung terbelalak ketika menyadari siapa adanya salah satu orang yang mendekati bangunan tersebut, dia tak lain adalah anggota wanita Kelompok Daun Biru bertubuh padat yang pertama bertemu denganku, Shinta!

Aku langsung tersenyum lega melihat dia selamat, namun belum sempat aku melakukan apapun, tiba-tiba mataku menangkap kelebatan dari arah bangunan menuju Shinta dan dua orang yang datang bersamanya.

“Gawat!”

Secara refleks aku langsung berdiri dan bersiap melesat ke arah Shinta, namun Unggul segera mencegahku. 

“Kenapa Rik?” tanyanya padaku. 

“Dia anggota Kelompok Daun Biru,” jawabku gusar. Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera melesat ke arah Shinta. Tanpa kuduga, Unggul juga ikut melesat mengikuti beberapa saat kemudian diikuti oleh anggota Perkumpulan Angin Utara lainnya. 

Di depan sana, Shinta dan kedua temannya tampak terkejut dengan kemunculan orang dari dalam bangunan secara tiba-tiba. Namun mereka tidak langsung bertarung, melainkan hanya berdiri di posisi mereka masing-masing dengan posisi waspada dan mulai berbicara satu sama lain. Pada saat itulah mereka menyadari kedatanganku dan anggota Perkumpulan Angin Utara. 

Baik orang yang muncul dari dalam bangunan maupun rombongan Shinta langsung memasang kuda-kuda bersiap menyambut kedatanganku. 

“Shin, kau tak apa-apa? Dimana bang Genta dan yang lain?” 

Tanpa memperdulikan semua orang yang ada ditempat itu, aku langsung bertanya pada Shinta bahkan sebelum kakiku menjejak tanah. 

“Riki?!”

“Siapa kau?” orang yang tadi melesat dari balik bangunan langsung bertanya padaku dengan sikap penuh waspada. Pada saat yang sama, orang-orang yang ada dalam bangunan berlompatan keluar. 

“Dia dari Kelompok Daun Biru, ini hanya salah paham saja. Kalau tidak salah, kau Gantri dari Sekte Inti Bulan kan?” suara Unggul terdengar dibelakangku. 

“Oh, kalau tidak salah, yang ada didepanku saat ini adalah peringkat dua Perkumpulan Angin Utara, Unggul bukan?”

Unggul hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. 

“Maafkan jika kedatanganku mengejutkan kalian, hanya saja aku mengira kalian hendak menyerang kawanku dari Kelompok Daun Biru sehingga datang terburu-buru kemari. Maaf atas kesalahpahaman ini.”

Aku segera memutar tubuhku menghadap Gantri dan memohon maaf sambil menganggukkan kepala. 

“Humph... Kau beruntung kesalahpahaman ini tidak sampai berlanjut panjang. Lain kali berhati-hatilah dalam bertindak.” 

“Aku mengerti.”

Aku memilih bersikap rendah hati dihadapan orang-orang ini, daripada masalahnya menjadi panjang. Hanya menghabiskan waktu dan energi sia-sia saja. 

“Karena kesalahpahaman ini sudah bisa diselesaikan dengan baik, kurasa sebaiknya kami pergi dari sini dan tak lagi mengganggu kalian.”

Unggul segera memanfaatkan kesempatan meredanya ketegangan di tempat ini dan memohonkan ijin untuk kami pergi dari sini. 

“Hmm... Tidak masa..”

Pada saat itu, tiba-tiba saja sebuah cahaya hitam pekat menjulang tinggi dari bangunan tertinggi di kejauhan. Semua orang yang ada di tempat itu termasuk diriku langsung saling pandang satu sama lain. 

“Waktunya sudah tiba.”

“Ayo Shin,” ajakku pada Shinta.

Shinta mengangguk dan kami berdua menjadi yang pertama melesat menuju cahaya hitam pekat. Disusul oleh dua kawan Shinta, lalu Unggul dan anggota Perkumpulan Angin Utara, setelah itu orang-orang dari Sekte Inti Bulan.