Episode 44 - Jenius (1)


Dengan kesaktian tahap penyerapan energi tingkat delapan, aku cukup percaya diri tidak banyak bahaya dalam markas rahasia ini yang dapat mencelakakanku. Karena itu aku memutuskan tidak menghabiskan waktu lagi berputar-putar menjelajahi ruangan-ruangan di sekitar sini, lagipula kupikir tidak akan ada banyak barang berharga yang tersisa di ruangan-ruangan tersebut.

Aku langsung melesat menuju lorong yang dimaksud dengan berbekal ingatan dari peta yang ditunjukkan Reza, tak butuh waktu lama bagiku menemukan lorong tersebut. Begitu aku sampai di lorong menuju wilayah tak terpetakan, aku langsung berhenti dan mempertajam seluruh inderaku, terutama penglihatan, penciuman, dan pendengaran, untuk memeriksa kondisi sekitar terlebih dahulu. Setelah memastikan inderaku tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan dalam lorong ini, aku kembali melesat cepat menyusuri lorong tersebut. 

Dalam perjalanan sepanjang lorong, sempat kulirik beberapa ruangan yang tak begitu besar, sebagian ruangan hanya berisi kursi dan meja saja dan aku bahkan sempat melihat ruangan yang tampak seperti pentry dan cafetaria. Namun tidak ada satupun ruangan tersebut yang menarik perhatianku sehingga aku terus melanjutkan perjalananku menuju wilayah yang tak terpetakan.

Begitu sampai di ujung lorong, nafasku sempat terhenti karena kaget melihat pemandangan yang terpampang di hadapanku. Ujung lorong ini adalah sebuah ruangan super besar dengan bagian atap berbentuk kubah yang tingginya mencapai puluhan meter, dan yang ada dalam kubah tersebut bukan lagi ruangan-ruangan, tetapi bangunan dengan berbagai variasi bentuk. Dan anehnya lagi, ruangan super besar ini sama sekali tidak gelap karena ada sumber cahaya yang menyinari seluruh ruangan dari atas kubah. 

Dalam hati, aku bertanya-tanya bagaimana Sekte Pulau Arwah bisa membangun kompleks bawah tanah sebesar ini dibawah kota Jakarta dan menyembunyikannya dari mata publik? Tapi kemudian aku segera memakluminya, toh dari pengalamanku terjun dalam dunia persilatan selama beberapa bulan terakhir, seringkali misteri dalam dunia persilatan tidak dapat di cerna dengan logika manusia normal. 

Sambil menghela nafas pelan, aku mulai berjalan menjelajahi wilayah baru ini. Hanya dalam waktu singkat saja, aku sudah merasakan perbedaan antara wilayah baru ini dengan wilayah yang sebelumnya kujelajahi. Selain terlihat jauh lebih luas, tempat ini juga tampak lebih ramai, hanya dalam waktu beberapa menit semenjak aku sampai di tempat ini saja aku sudah beberapa kali melihat sejumlah siluet tubuh dari kejauhan. Meskipun merasa penasaran dengan siluet-siluet tubuh itu, tapi aku tidak ingin gegabah dan memutuskan menjelajah sendiri sambil mencari sesuatu yang bisa membantuku lebih memahami tempat ini terlebih dahulu.

Aku mulai memasuki bangunan demi bangunan yang kuanggap memiliki kemungkinan menyimpan informasi mengenai markas rahasia ini. Dan hasilnya sama sekali tidak mengecewakanku, pada sebuah bangunan besar yang terdiri dari beberapa ruangan, aku menemukan sebuah peta besar yang tergambar di atas sebuah meja bundar berdiameter kurang lebih dua meter. Saat kuperhatikan peta itu, aku langsung paham kenapa selama beberapa hari kemarin aku tidak bertemu dengan orang lain di tempat penjelajahanku sebelumnya.

Ternyata markas rahasia ini terdiri dari cluster-cluster yang berbentuk lingkaran kecil mengelilingi sebuah lingkaran besar, jumlah cluster lingkaran kecil itu total ada sepuluh buah. Berdasarkan peta yang kulihat ini, maka lokasi dimana aku berada sebelumnya adalah salah satu cluster lingkaran kecil di sebelah barat daya. Maka wajar saja jika aku hanya bertemu dengan sedikit orang di cluster itu, karena meskipun jumlah pendekar yang masuk ke dalam markas rahasia ini totalnya mencapai ratusan orang, mereka tersebar dalam sepuluh cluster, jadi setiap cluster rata-rata hanya berisi sepuluh orang saja. 

Aku kembali memperhatikan peta yang ada di meja dan mulai memperhatikan tiap cluster satu persatu. Sempat terbersit dalam pikiranku untuk menjelajahi cluster lain untuk memeriksa apa masih ada mayat hidup yang bisa kumanfaatkan disana. Tapi setelah kupikir lagi, sebaiknya aku memenuhi undangan di wilayah tengah terlebih dahulu, baru setelah itu aku akan mendatangi cluster lain. 

Saat aku masih sibuk memikirkan berbagai informasi yang baru saja kudapatkan dari peta di meja bundar, tiba-tiba saja telingaku menangkap suara tapak kaki yang sangat halus, dan lebih dari satu orang!

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung membalikkan badan dan melompat keluar bangunan melalui salah satu jendela.

“Ada orang kabur lewat jendela!”

Aku sempat mendengar suara teriakan kaget agak jauh disamping kiriku. Namun aku sama sekali tidak menggubrisnya dan meneruskan lesatanku. Namun aku sama sekali tidak menduga ternyata didepanku ada lima orang yang tengah berdiri sejajar. Sontak aku langsung menghentikan lesatanku sekitar enam meter dari kelima orang itu. 

Wajah kelimanya tampak kaget ketika melihatku tiba-tiba berada dihadapan mereka, tampaknya mereka tidak mengetahui keberadaanku di dalam gedung itu sebelumnya. Namun dalam sekejap mereka semua langsung memasang kuda-kuda.  

“Bangke!” makiku dalam hati, kalau saja tadi aku lebih berkepala dingin dan tidak langsung melarikan diri keluar, mungkin mereka tidak akan tahu keberadaanku. Oh well, setidaknya kejadian ini jadi pengalaman buatku. 

Saat kuperhatikan wajah kelimanya, tak ada satupun dari mereka yang dapat kukenali. Setelah itu, aku langsung melirik ke arah teriakan di samping kiriku, disitu ada satu orang yang tengah menatapku tanpa berkedip.

“Tidak ada orang lain lagi di dalam gedung ini selain dia.” Dibelakangku terdengar teriakan cukup kencang memberitahu pada orang-orang yang tengah berdiri di hadapanku. Saat kulirik kebelakang, aku dapat melihat dua sosok tubuh sedang berdiri di balik jendela. Berarti total pendekar yang harus kuhadapi ada delapan orang, bukan jumlah yang sedikit, tapi juga tidak terlalu banyak. Masalahnya adalah, aku tidak tahu sampai dimana tingkat kesaktian orang-orang ini... Ah masa bodoh, pahit-pahitnya aku hanya perlu mengeluarkan jurus iblis darah untuk melarikan diri jika kondisinya semakin tidak menguntungkanku. 

“Hehehe, siapa sangka kita akan menemukan mangsa disini,” ujar salah seorang yang ada di hadapanku. 

“Aku tidak ada silang sengketa apapun dengan kalian, kenapa kalian tidak membiarkanku pergi saja dan menganggap kita tidak pernah saling bertemu. Untuk apa kita saling bertarung dan melukai?” ucapku mencoba bernegosiasi.

“Kurasa kau benar...” Orang yang tepat berdiri di tengah-tengah tampak menggut-manggut seakan menyetujui perkataanku. “Bagaimana kalau begini, kau serahkan dulu semua barang berharga yang ada pada tubuhmu... Jika kami cukup puas dengan barang yang kau berikan, mungkin kami bisa membiarkanmu pergi dari sini.”

Aku hanya mendengus pelan kemudian tersenyum kecut mendengar tawaran omong kosong orang itu. Toh sejak awal aku tak menaruh harapan besar mereka akan bersedia bernegosiasi. 

“Bagaimana?” Orang itu kembali bertanya padaku sambil tersenyum tipis.  

Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. 

“Oh, kalau begitu, jangan salahkan kami menjatuhkan tangan jahat kepadamu.” Orang yang di tengah itu segera memberi isyarat pada salah satu kawannya untuk dengan kepalanya.

Orang yang diberikan isyarat itu mengangguk mengerti, lalu tanpa peringatan sama sekali dia langsung melesat ke arahku dengan sebuah kelewang ditebaskan ke arah leherku. 

Humph! Tahap penyerapan energi tingkat keempat. Jika dia menyerangku tiga hari yang lalu, mungkin aku akan sedikit kesulitan menghadapinya, tapi sekarang...

Aku sama sekali tidak menggerakkan tubuhku dan hanya menatap kelewang itu melesat menuju leherku. Lalu saat kelewang itu hanya tinggal sepuluh centimeter lagi dari leherku, aku segera menggerakkan tanganku guna menangkap lengan orang yang menyerangku.

Krak!

“Aaaaaaaahhhhhhh.…….sakiiiiit!!!

Suara tulang yang remuk terdengar renyah di telingaku disusul oleh gema teriak kesakitan. Dengan mudah aku menghancurkan tulang lengan orang yang hendak menyerangku dengan cengkraman tanganku. Lalu setelah orang yang menyerangku itu melepaskan kelewang dari genggaman tangannya, barulah aku melepaskan lengannya dan membiarkan dia meringkuk sambil terus menjerit kesakitan. 

“Apa?!”

“Mustahil!”

“Di...dia sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedelapan?!”

Seketika itu juga orang-orang yang mengepungku terhenyak kaget, bahkan beberapa di antaranya sempat tersurut satu langkah sebelum kembali berhasil mengendalikan diri. 

“Penyerapan energi tingkat.… kedelapan? Katakan, darimana asalmu?” Orang yang tadi memberikan perintah menjadi satu-satunya yang tetap tenang setelah melihat kemampuanku. 

“Kau tak perlu tahu,” jawabku singkat.

“Humph... Sombongnya. Kau pikir hanya dengan tahap penyerapan energi tingkat kedelapan kau bisa meloloskan diri dari sini?” ujar orang itu lagi. 

Tiba-tiba saja tubuhnya berubah menjadi bayangan, pada saat yang sama, kurasakan angin deras menerpa wajahku. Aku langsung menggeser posisiku ke sebelah kiri demi menghindari serangan angin deras itu. 

Tapi serangan orang itu tak berhenti sampai disitu. Begitu aku berhasil menghindari pukulan tangannya, dia langsung menyusul dengan sebuah tendangan kaki kiri yang mengarah pada pinggangku. Karena tak sempat lagi menghindari serangan tersebut, aku terpaksa menggunakan lenganku untuk menangkis tendangannya. 

Buk!

Suara hantaman nyaring terdengar saat tendangan itu berbenturan dengan lenganku. Aku langsung tersurut mundur sejauh satu meter akibat tendangan tersebut, sementara tanganku rasanya nyeri sekali serasa habis digebuk balok besi!

“Penyerapan energi tahap kesembilan...” 

Kuperhatikan orang ini usianya kurang lebih sama denganku, tapi siapa sangka tingkat kesaktiannya ternyata lebih tinggi satu tingkat dariku yang kini sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedelapan. Diam-diam aku menarik nafas panjang, beberapa hari dalam markas rahasia ini benar-benar telah membuka wawasanku mengenai dunia persilatan. Sebelumnya kupikir, tahap penyerapan energi tingkat keempat sudah cukup tinggi untuk pendekar seusiaku. Siapa sangka hanya beberapa hari di markas ini, aku sudah bertemu Unggul yang telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kesebelas dan orang ini, yang telah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kesembilan padahal usianya kurang lebih sama denganku. 

Tapi sekarang bukan saatnya mengagumi tingkat kesaktian orang lain, karena sebuah serangan susulan telah kembali dilancarkan oleh orang itu. Dia melancarkan satu pukulan yang diarahkan pada perutku. 

Kali ini, aku tidak ingin hanya menghindar atau menangkis saja, sudah saatnya dia juga merasakan seranganku. Kebetulan aku juga ingin tahu sampai sejauh apa peningkatan kekuatanku setelah mencapai penyerapan energi tingkat kedelapan. 

Aku segera mengalirkan tenaga dalam ke tangan kananku yang telah membentuk cakar, lalu tanpa ragu-ragu kuhantamkan cakarku menyambut pukulan lawan. 

Bum! 

Suara dentuman menggetarkan tempat itu begitu kedua serangan kami saling bertemu satu sama lain. Tubuhku kembali terdorong mundur hingga dua langkah, sedangkan dia terjajar mundur juga sejauh dua langkah. Tampaknya beda kekuatan antara tahap penyerapan energi tingkat kedelapan dan tingkat kesembilan tidak terlalu jauh. Tapi jika aku ingin mengalahkannya, sepertinya sama sekali bukan hal yang mudah. 

Mata orang itu sempat terbelalak ketika serangan cakarku berhasil menahan pukulannya. Tapi tiba-tiba saja sinar matanya berubah tajam dan wajahnya terlihat kembali tenang dan serius. 

“Tampaknya kau tidak bisa dianggap remeh...” ucap orang itu sambil mengusap-ngusap pergelangan tangan kanannya. 

“Kau juga,” balasku pelan. 

“Jangan ada yang ikut campur, sudah lama aku tidak bersenang-senang,” ujar lawanku lagi begitu terlihat ada anggota kelompoknya yang bergerak hendak membantunya mengeroyok diriku. Orang-orang yang tadinya hendak membantu dia langsung menghentikan gerakan mereka. 

Lalu tanpa berusaha memasang kuda-kuda yang kokoh, dia kembali melancarkan tiga pukulan beruntun dan dua tendangan ke arahku. 

Dengan cepat aku segera mengimbangi serangan-serangan tersebut, dalam sekejap saja kami sudah terlibat dalam pertarungan jarak dekat yang sangat sengit. Selama pertarungan itu, aku merasakan serangan-serangan yang dia lancarkan sangat kuat dan akurat. Bahkan dia sama sekali tidak kesulitan mengimbangi kecepatan serangan jurus iblis sesat. Saat itulah aku menyadari, lawanku ini sama sekali bukan lawan sembarangan. 

“Cih, selama ini jarang sekali ada pendekar tahap penyerapan energi yang mampu menghadapi serangan-seranganku. Tapi kau sanggup bertarung seimbang denganku meskipun masih berada pada tahap penyerapan energi tingkat kedelapan... Katakan siapa namamu dan darimana kau berasal?” ucap lawan tarungku dalam jeda pertarungan jarak dekat kami. Tampaknya dia juga terkejut aku mampu mengimbangi serangan-serangannya. 

“Jika aku memberitahukan jati diriku, apa kau akan membiarkanku pergi dari sini?”

“Hmmm.… Mungkin saja,” jawabnya cepat. 

“Aku bernama...”

“Riki!” 

Belum sempat aku memperkenalkan diriku, tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memanggil namaku cukup keras. Suara itu serta merta menarik perhatian semua orang yang ada ditempat itu, termasuk diriku. Aku segera menengok ke arah sumber suara dan melihat beberapa orang melangkah cepat ke arahku. 

“Unggul..” Lawan dihadapanku menyebut nama orang yang baru saja memanggil diriku. Kemudian dia segera mengalihkan pandangannya pada diriku, “Jadi kau berasal dari Perkumpulan Angin Utara? Aneh, kenapa aku tidak pernah mendengar ada murid berbakat dari Perkumpulan Angin Utara bernama Riki sebelumnya.”

“Bowo? Apa yang kau inginkan dari Riki? Dia kawanku. Kau tahu kan konsekuensinya jika berani melukai kawanku?”

Begitu sampai di dekat kami, Unggul langsung bertanya sinis pada lawan bertarungku yang ternyata bernama Bowo. 

“Kawanmu? Tidak ada apa-apa, kami hanya sedang berbincang-bincang saja,” ujar Bowo sambil tersenyum kesal. “Jadi kau bukan berasal dari Perkumpulan Angin Utara?”

“Aku tidak pernah bilang aku berasal dari Perkumpulan Angin Utara...”

“Lalu, darimana kelompok mana kau berasal?”

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kau! Humph.… Oke! Kau beruntung karena Unggul datang menyelamatkanmu hari ini, tapi ingat, urusan kita masih belum selesai! Ayo pergi!” 

Bowo hanya bisa berpaling pergi dari hadapanku sambil menggeretakkan rahang, diikuti oleh kawan-kawannya sambil membopong orang yang lengannya telah kuremukkan. Aku sendiri tetap menatap sosoknya tanpa berkedip sampai dia benar-benar hilang dari pandanganku. 

“Kau benar, urusan kita memang masih belum selesai...” gumamku pelan beberapa saat setelah dia menghilang. 

“Kau baik-baik saja Rik?” tanya Unggul padaku begitu Bowo dan kawan-kawannya menghilang dari pandangan. 

“Ya, aku baik-baik saja,” jawabku santai. 

“Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa sampai berhadapan dengan Bowo?”

Akupun menceritakan secara singkat bagaimana aku bisa sampai berhadapan dengan Bowo dan komplotannya. Unggul tampak manggut-manggut mendengarkan penuturanku. 

“Kau beruntung aku datang sebelum Bowo mulai bertindak, sebaiknya kau segera menghindar jika bertemu lagi dengannya. Dia tak hanya dikenal bengis, tapi bakat silatnya juga tak bisa dianggap remeh. Dia seorang jenius yang menduduki peringkat keempat diantara murid-murid Perguruan Sanca Kembang,” kata Unggul sambil menghela nafas lega. Tampaknya dia tak sempat melihatku bertarung dengan Bowo sehingga mengira Bowo pergi sebelum sempat melakukan tindakan apapun. 

“Jenius? Posisi keempat?” Aku tidak begitu perduli pada peringatan Unggul, yang lebih menarik perhatianku adalah kata-kata ‘jenius’ dan ‘peringkat’. Baru kali ini aku mendengar istilah murid jenius dan peringkat murid dalam satu perguruan, sebelumnya baik di Perguruan Gagak Putih maupun Kelompok Daun Biru tidak pernah sekalipun ada pemeringkatan diantara para murid. 

“Dalam dunia persilatan, manusia tidak terlahir sederajat. Ada yang lahir dengan bakat biasa saja dan ada yang begitu disayangi oleh alam semesta sehingga terlahir sebagai jenius. Kemampuan para jenius dalam menyerap energi murni alam semesta sangat tinggi sehingga mampu mencapai kesaktian tahap tinggi meskipun usia mereka masih muda, selain itu kemampuan mereka memahami jurus-jurus dunia persilatan juga sangat tinggi, jauh diatas rata-rata pendekar biasa. Dan para jenius itu menduduki posisi utama sebagai murid dalam kelompok-kelompok dunia persilatan. Kau harus berhati-hati jika bertemu dengan para jenius itu,” jelas Unggul padaku.  

“Jadi Bowo adalah seorang jenius dalam dunia persilatan?” Aku mencoba menegaskan maksud penjelasan Unggul. 

“Betul, meskipun dia bukan yang paling jenius,” jawab Unggul.

Para jenius?! Orang-orang seperti apa mereka? Sejauh apa kira-kira kemampuanku jika dibandingkan dengan mereka? Meskipun tadi aku mampu menahan serangan demi serangan yang dilancarkan Bowo, tapi aku tidak terlalu yakin mampu mengalahkannya...

“Lalu, kalau Bowo yang kesaktiannya ada pada tahap penyerapan energi tingkat kesembilan berada pada peringkat keempat di perguruannya. Kau yang tingkat kesaktiannya di tahap penyerapan energi tingkat kesebelas berada di peringkat berapa dalam Perkumpulan Angin Utara?”

“Aku.… Peringkat kedua,” jawab Unggul sambil menggaruk kepalanya malu-malu. 

“Jadi kau juga seorang jenius.”