Episode 40 - Cermin Noda Gelora (1)


Ketika sang surya mulai bercahaya terang menyibak kegelapan dan menghalau kelam, sebuah Kereta kuda berwarna hitam yang ditarik oleh dua kuda itu bermodel sederhana, tidak ada atribut kerajaan dan tidak Nampak seperti kereta kerajaan, dan tidak dikawal oleh pasuka kerajaan, diluar hanya nampak seorang pria tua bertubuh tinggi kurus yang bernama Ki Silah sebagai sais kereta kuda yang ditumpangi oleh Putri Mega Mendung itu, mungkin hal ini dilakukan demi keamanan agar tidak mengundang para begal yang akan menghambat perjalan mereka.

Ketika memasuki batas Kotaraja Rajamandala dari sebelah tenggara, kereta kuda tersebut mulai berjalan pelan setelah sebelumnya dipacu dengan kecepatan tinggi sedari malam tadi, ketika melewati kawasan hutan disekitar kotaraja Rajamandala tersebut. Kereta itu terus berjalan pelan melewati aliran sungai Citarum diluar batas kota Rajamandala, hingga di suatu tepian sungai yang sepi tertutupi hutan kecil yang cukup rimbun dan dianggap angker oleh penduduk setempat, kereta tersebut berhenti, “Gusti Putri, kita sudah sampai di tepian sungai tempat biasa, apakah Gusti Putri hendak mandi disini atau di kolam dalem kaputren?” tanya Ki Silah sebagai sais kereta ini.

Dari dalam kereta terdengarlah suara seorang perempuan yang sangat halus dan merdu, bagaikan buluh perindu yang mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. “Saya mandi disini saja Abah, air disini jauh lebih segar daripada di kolam kaputren, lagipula saya suka suasananya yang sepi, sejuk, dan mempunyai pemandangan luas ini tanpa gangguan siapapun!”

“Baik Gusti, kalau begitu biar Abah periksa dulu keadaan disekitar sini untuk memastikan keamanan dan tidak ada yang melihat kita!” orang tua bertubuh tinggi kurus itu turun dari keretanya, setelah mengambil dan menyelipkan golok pusakanya ke pinggangnya.

Ki Silah melangkah masuk kedalam hutan di tepian sungai tersebut, tapi kemudian ia melihat ada seorang pemuda yang sedang mandi di sungai tersebut, dengan penuh kewaspadaan, ia terus memperhatikan pemuda gondrong yang sedang mandi tersebut dari kejauhan, “Hmm... Nampaknya ia bukan orang sini, dari penampilannya ia dari kalangan pendekar.”

Ki Silah lalu kembali ke kereta hitam, tempat Mega Sari berada, “Ampun Gusti, ternyata di tempat Gusti biasa mandi ada seorang pemuda yang sedang mandi!” lapornya.

Marahlah Mega Sari mendengar apa yang disampaikan oleh abdinya yang sangat setia itu, keluarlah seorang wanita yang teramat cantik dari dalam kereta itu, kulitnya putih mulus bersih, matanya bulat tajam, hidungnya bangir, bibirnya tipis merah, rambutnya lurus panjang, tubuhnya ramping dan menebar bau yang teramat harum. Tubuhnya tersebut dibungkus oleh pakaian rakyat biasa dengan mengenakan celana panjang hingga penampilannya lebih mirip dari kalangan pendekar bukan putri keraton. 

Kini wajah perempuan yang sosoknya bak bidadari turun dari swargaloka ini merah padam, “Apa?! Lancang sekali orang itu mandi di tempatku! Abah beri pelajaran dan hukuman yang setimpal untuk orang yang berani menodai tempat mandi Putri Mega Mendung yang suci itu!”

“Baik Gusti.” Mega Sari dan Ki Silah pun langsung melangkah menuju ke sungai tempat Ki Silah melihat pemuda tadi yang sedang asyik mandi. Dari atas tebing, mereka melihat seorang pemuda yang baru selesai mandi telah mengenakan pakaiannya kembali yang serba biru tua, pemuda itu lalu mengikat kepalanya dengan ikat kepala bermotif batik khas Mega Mendung.

Mata bulat tajam yang indah dari Mega Sari itu menyipit, menatap dengan sangat tajam pada pemuda yang sedang baru saja selesai mandi tersebut. “Kau pernah melihat lelaki itu Abah?”

Ki Silah menggelengkan kepalanya, “Tidak, mungkin bukan orang Rajamandala Gusti, saya tidak pernah melihat ada penduduk Rajamandala dan sekitarnya yang berani mandi atau sekedar mengambil air dari bagian sungai yang dianggap angker ini, betul-betul nekat!”

Dengan mendengus menahan amarah Mega Sari memberi perintah, “Hajar dia sampai babak belur Abah, lalu kita seret dia ke keraton untuk diberi hukuman karena berani menodai tempat mandi Putri Mega Mendung!” 

Ki Silah menjura hormat “Baik Gusti!”

Tubuh tua yang rambutnya telah mulai dipenuhi uban itu melesat turun ke tepi sungai tempat pemuda gondrong itu berada, pemuda itu yang tak lain adalah Jaya Laksana yang baru saja selesai mandi setelah berpisah dengan Tabib Wong di tempat itu sejak tadi sudah maklum kalau ia sedang diawasi, tapi ia sengaja bertindak tenang untuk mengetahui siapa yang sedang mengawasinya, sekarang satu dari yang mengawasinya mandi tadi telah berada dihadapannya. “Ah rupanya orang tua yang mengintipku mandi, kukira seorang gadis cantik kembang kota Rajamandala!” cibir Jaya pada lelaki tua dihadapannya.

“Kurang ajar! Apakah kau tak tahu kalau bagian sungai terlarang bagi sembarangan orang?!” bentak Ki Silah sambil melotot.

Jaya nyengir mendengarnya, “Ah aku tidak tahu kalau ada sungai yang dilarang untuk orang pakai mandi padahal aliran sungainya tenang lagi jernih, apakah karena sungai ini dihuni oleh Genderuwo yang genderuwonya Aki ini?”

“Bangsat!” Ki Silah langsung menerjang dan menyerang Jaya!

Jaya segera berkelit, “Tunggu Ki, saya orang asing dan tidak tahu menahu tentang aturan di tempat ini! Saya hanya numpang mandi disini, masa tidak boleh?!” tanya Jaya penasaran.

“Bagian sungai ini dikeramatkan oleh kerajaan, bagian sungai ini adalah tempat Gusti Putri biasa siram!”

“Tempat siram Gusti Putri? Bukankah tempat siram Gusti Putri di Kolam Kaputren sana?”

“Setan alas! Orang asing mana tahu hukum di Rajamandala ini!” Maki Ki Silah sambil terus melancarkan serangan-serangannya.

“Kalau benar begitu apakah Aki seorang prajurit Mega Mendung? Mana Gusti Putri? Aku tidak mendengar ada prajurit yang menjaga tempat ini! Aki, kalau kau mengada-ada, aku tidak mau konyol olehmu!” sahut Jaya yang mulai meladeni Ki Silah.

Mega Sari terus memperhatikan pertarungan antara Ki Silah dengan si pemuda gondrong tak dikenal itu, melihat dari jalannya pertarungan tersebut, ia dapat menaksir bahwa ilmu silat si pemuda jauh lebih tinggi daripada Ki Silah, terbukti dari cara si pemuda yang seolah nampak sedang bermain-main meladeni Ki Silah, tak mau Ki Silah mendapat celaka maka ia pun menghentikan pertarungan tersebut. “Cukup! Hentikan! Cukup Abah!”

Ki Silah pun menghentikan serangannya, Mega Sari segera melompat ke tempat Ki Silah dan Jaya berada, dengan gerakan yang teramat enteng, Mega Sari menjejakan kakinya dihadapan mereka berdua, gerakannya bagaikan burung yang hinggap diatas pohon, membuktikan bahwa putri ini memliki ilmu silat yang cukup tinggi. 

Jaya terkejut melihat wanita yang berada di hadapannya, matanya menatap seksama pada Mega Sari, begitupun Mega Sari, ia tercekat menatap pria yang berdiri dihadapannya, ditatapnya pria itu dengan tatapan tajam menyelidik, sulit sekali bagi ia untuk mempercayai siapa yang sedang berdiri dihadapannya. Setelah beberapa saat saling beradu tatap dengan pandangan yang sama-sama sulit mereka percaya, Jaya pun tersadar dan menjura hormat pada Mega Sari, “Gusti Putri, hamba mohon ampun kalau tempat ini terlarang bagi khalayak rakyat biasa seperti hamba.”

Mega Sari nampak salah tingkah melihat pria yang berada dihadapannya itu bersujud padanya, ia lalu celingukan, setelah memastikan disana tidak ada siapa-siapa, selain mereka bertiga, ia pun membangunkan Jaya. “Kang Jaka, kiranya kau... Bukannya kau sudah meninggal tiga tahun yang lalu setelah jatuh ke jurang di lembah akhirat? Atau apakah ini hanya hantumu yang sengaja datang menemuiku?” tanya Mega Sari yang masih tak percaya pada pandangan matanya sendiri karena ia mengira Jaya Laksana atau yang dahulu bernama Jaka Lelana telah tewas.

Jaya mahfum kalau Mega Sari pasti telah mengetahui kabar kematiannya dari Dharmadipa, ia pun menjawab tetap dalam posisi bersujud. “Hamba diselamatkan oleh seorang pertapa yang kebetulan lewat sana Gusti, dan sekarang hamba telah berganti nama menjadi Jaya Laksana.”

“Jaya Laksana? Bukankah ia seorang pendekar yang tengah menggegerkan dunia persilatan saat ini dengan julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat?” tanya Mega Sari yang tak mampu menahan keterkejutannya mendengar penjelasan dari Jaya tersebut.

“Ah Gusti Putri terlalu melebih-lebihkan…” jawab Jaya.

Kemudian, seolah baru tersadar, Mega Sari pun membangunkan Jaya, “Kang Jaka, bangunlah, kita tidak sedang berada di lingkungan keraton dan aku pun sedang tidak dalam tugas keraton, berlakulah seperti biasanya saja!”

Jaya pun bangun, lalu dengan segan dan malu-malu, Jaya mencuri-curi tatap pada Mega Sari, Mega Sari pun nampak malu-malu mendapati tatapan Jaya, bunga-bunga di hatinya bersemi kembali, kenangan-kenangan serta perasaan-perasaan pada saudara seperguruannya yang telah lama terpendam ini bangkit kembali, seolah gunung yang meletus, dadanya dibanjiri oleh perasaan hangat yang nyaman.

“Ada urusan apakah Kakang kemari?” Tanya Mega Sari.

“Aku kemari hendak memenuhi janjiku, untuk mengabdi pada Mega Mendung. Kemarin aku sudah bertemu dengan suamimu, Kakang Dharmadipa, ia sudah mengangkatku sebagai lurah tantama penjaga Pura Kesatriaan Keraton.” jawab Jaya.

Mega Sari terdiam, ia teringat saat tiga tahun yang lalu, waktu sebelum berpisah dengan Jaya dan Dharmadipa karena ia harus memperdalam ilmunya ke gunung Patuha, ia meminta mereka untuk berjanji mengabdikan dirinya ke Mega Mendung, beberapa saat kemudian, Dharmadipa pun memenuhi janjinya namun saat itu juga Mega Sari mendengar kabar yang sangat menyedihkan yaitu kematian Jaka, maka dengan hati yang didera kesedihan yang teramat sangat karena kehilangan orang yang amat ia cintai, ia pun mengalihkan cintanya pada Dharmadipa, dengan kecerdikannya, ia berhasil menyingkirkan suaminya sendiri Pangeran Mundingsura, dan menggantinya dengan Dharmadipa, sehingga putra angkat Kyai Pamenang tersebut menjadi Pangeran Mega Mendung.

Setelah beberapa saat terdiam, Mega Sari pun menghela nafas, ia menatap Jaya dengan perasaan yang sangat aneh karena di satu sisi sekarang ia telah menjadi istri orang lain, tapi disisi lain, sangat sulit baginya untuk menghapus perasaannya pada pria yang berdiri dihadapannya tersebut, sedalam aapun ia mengubur perasaannya, perasaan itu seolah selalu menemukan cara untuk bangkit meluber keluar.

“Ada apa Mega Sari?” Tanya Jaya.

Mega Sari menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia lalu duduk di atas sebuah batu kali, ia lalu menoleh pada Ki Silah, “Abah, tolong awasi tempat ini, jangan sampai ada yang melihat kami!”

Ki Silah pun pergi melaksanakan apa yang diminta Mega Sari. Mega Sari lalu menatap kosong ke arah aliran sungai, “Kakang... Entah mengapa kejadian saat itu selalu terlintas kembali di benakku dan tak bisa aku lupakan meskipun hingga beberapa saat yang lalu aku tidak tahu bahwa kau masih hidup”

Jaya terdiam seribu bahasa, ia pun teringat pada kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka berdua masih berguru di padepokan Sirna Raga yang diasuh Kyai Pamenang dan Nyai Mantili, suatu kejadian hebat diantara mereka yang nyaris mengubur mereka dalam kubangan lumpur dosa yang teramat dalam serta kotor dan pekat!

Saat masih berguru di Padepokan Sirna Raga, Jaya dan Dharmadipa sering menemui Mega Sari secara diam-diam, mereka berdua sama-sama menaruh hati pada gadis kembang padepokan tersebut yang juga putri dari Raja mereka, mereka berdua nekat untuk meneruskan perasaan mereka pada Mega Sari meskipun dalam hati kecil mereka, mereka sama-sama tahu bahwa hampir mustahil bagi mereka dapat bersanding dengan Mega Sari kalau bukan karena ada keajaiban.

Mereka terus saja nekat menerjang hal tersebut dan melanggar aturan padepokan yang tidak memperbolehkan para murid putra untuk menemui atau berbaur dengan para murid putri. Dharmadipa dan Jaya Laksana atau Jaka Lelana pun terus bersaing secara sehat untuk dapat menggapai cinta putri Mega Mendung ini.

Pada suatu waktu menjelang kepergian Mega Sari dari padepokan Sirna Raga, saat Dharmadipa diajak pergi oleh Kyai Pamenang, kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh Jaka Lelana untuk menemui Mega Sari seorang diri, mereka nekat melanggar aturan untuk tidak meninggalkan kawasan Bukit Tagok Apu, mereka pun meninggalkan kawasan Bukit Tagok Apu dan saling bertemu di sebuah pesawahan desa Sindang Reret dbawah bukit Tagok Apu.

Mereka asyik mengobrol sambil memandangi para petani menggarap sawah yang sudah menguning itu, Mereka berdua lalu berjalan mengitari area pesawahan dan perkebunan yang terdapat di desa tersebut, senyum bahagia terus merekah dari pasangan muda-mudi ini, kadang mereka kejar-kejaran berlari-lari kecil seperti anak-anak yang sedang main kucing-kucingan, Jaka merasa sangat senang karena waktu itu tidak ada Dharmadipa yang menghalangi mereka, begitupun Mega Sari, meskipun ia juga menyukai Dharmadipa, tapi ia lebih menyukai Jaka, maka teramat senanglah hatinya ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk berduaan saja.

Mega Sari mendesah mengingat saat itu, kejadian itu tergambar jelas dimatanya. “Sebenarnya kaulah laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini Kakang Jaka Lelana, setiap kali aku mengenang padepokan Sirna Raga dan Bukit Tagok Apu, yang ada hanya saat-saat manis aku berada di sampingmu!”

Jaya menghela nafas, dimatanya pun tergambar jelas bagaimana ia dengan senangnya terus menggoda Mega Sari saat sedang berduaan tersebut, pemuda ini lalu memetikkan beberapa buah manga setelah meminta izin pada pemiliknya lalu memberikannya pada Mega Sari, kemudian matanya melihat bunga-bunga mawar yang bermekaran, ia pun memetik satu tangkai, dengan jantung berdegup ia menatap Mega Sari, dengan perlahan sambil matanya tak lepas dari mata Mega Sari, pemuda ini memasangkan bunga mawar tersebut disela-sela telinga Mega Sari, wajah gadis cantik berkulit putih bersih ini pun merona memerah, ia menundukan kepalanya karena malu.

Mereka pun lalu duduk diatas sebuah batu, pandangan mereka tertuju pada sebuah bukit yang berada di sebelah bukit Tagok Apu, tiba-tiba terlintaslah sebuah ide dari benak Jaka yang saat itu sedang dibakar oleh api asmara yang sangat membara tersebut. “Mega Sari, kita ke Bukit Panganten itu yuk? Konon menurut cerita rakyat, pasangan yang berhasil mendaki ke puncak bukit itu akan dapat menemukan kehidupan rumah tangga yang abadi serta senantiasa selalu dipenuhi kebahagiaan.”

Mega Sari tidak langsung menjawab, ia mendongkakan kepalanya melihat langit siang itu yang mulai mendung, “Tapi sepertinya mau hujan Kakang, aku takut Nyai Guru akan mencariku.” 


Jaka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum merayu gadis pujaan hatinya itu, “Cuma sebentar kok Mega, dengan ilmu meringankan tubuh kita, kita bisa cepat sampai disana!”

Mega Sari tidak langsung menjawab, ia nampak bimbang, tapi Jaka segera meraih tangannya. “Yuk!” pemuda itu pun menuntung Mega Sari melangkah ke arah Bukit Panganten.

Sepasang murid Padepokan Sirna Raga itu pun mengerahkan ilmu lari cepat dan meringankan tubuhnya, dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai ke atas puncak bukit Panganten tersebut, kedua muda-mudi ini lalu menatap pemandangan yang terhampar dari atas puncak bukit tersebut, “Kenapa bukit ini dinamakan Bukit Panganten Kakang?” tanya Mega Sari.

“Konon dahulu kala, ada seorang Pangeran dari Galuh Pakuan yang bernama Pangeran Cakrasena, saat itu ia jatuh cinta pada putri Sokawati dari kerajaan Madukara, hubungan mereka tidak direstui oleh kedua orang mereka sebab waktu itu Negara mereka sedang terlibat perang, Putri Sokawati pun dijodohkan dengan seorang Pangeran dari Malayu sedangkan Pangeran Cakrasena pun dijodohkan dengan seorang putri dari Negara Kutai Kertanegara, karena rasa cinta berdua yang begitu besar, maka mereka pun memutuskan untuk melarikan diri dan mencopot jabatan mereka sebagai pangeran dan putri, mereka lalu menikah dan bermukim diatas bukit ini dan hidup dengan bahagia tanpa diketahui keberadaannya oleh kedua pihak keluarganya hingga akhir hayatnya.” cerita Jaka.

Mega Sari terdiam mendengar cerita itu, cerita tersebut seakan menyadarkannya bahwa ia adalah putri Prabu Kertapati penguasa Mega Mendung sedangkan Jaka hanya seorang rakyat biasa yang seolah terlupakan oleh dirinya selama ia tinggal di padepokan Sirna Raga, Jaka pun terdiam ketika melihat wajah Mega Sari yang berubah muram, ia pun menyadari bahwa ada satu jerang pemisah yang sangat lebar lagi sangat dalam yang memisahkan mereka berdua, semua keceriaan dan kesenangan yang mereka dapatkan hari itu seolah sirna begitu saja.

Tiba-tiba satu kilat yang sangat besar menerangi puncak bukit Panganten tersebut yang kemudian disusul satu suara gelegar yang dahsyat disertai getaran gempa di bukit tersebut, Mega Sari sangat terkejut oleh petir yang tiba-tiba menggelegar tersebut sampai ia meloncat dan memeluk Jaka, saat itu langit diatas mereka yang memang sudah mendung mencurahkan air hujan yang teramat deras disertai badai yang dahsyat serta diselingi petir yang saling bersahutan. Angin puting beliung langsung bertiup deras dan merobohkan beberapa pohon yang berada diantara Jaka dan Mega Sari.

“Kakang bagaimana ini?” Tanya Mega Sari yang panik serta ketakutan melihat hujan badai yang dahsyat tersebut.


“Lihat disana ada gua! Ayo kita kesana!” tunjuk Jaka, maka dengan seluruh daya mereka pun berlari menuju ke sebuah gua yang terdapat di puncak bukit itu dengan seluruh tubuh yang basah kuyub.

“Aku takut” rintih Mega Sari yang menatap keluar goa setelah mereka berdua sampai kedalam goa.

“Tenanglah Mega, ada aku!” ucap Jaka menenangkan gadis pujaan hatinya tersebut, tapi Mega Sari masih saja gelisah menatap hujan badai yang dahsyat diluar, Jaka pun memeluk Mega Sari untuk menenangkan gadis itu, Mega Sari terkejut ketika mendapati tangan Jaka yang kekar itu memeluk dirinya.

“Jangan takut Mega, aku bukan lelaki kurang ajar yang tidak tahu sopan santun! Dan Buat apa kau takut? Kita kan saudara seperguruan!” perlahan kegelisahan yang tadi nampak jelas di mata Mega Sari mulai menghilang, meskipun ia adalah seorang putri raja dan juga memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, ia tetap merasa aman dan terlindungi oleh pemuda yang ia cintai tersebut, matanya yang tajam dan indah menatap penuh harap pada Jaka.

Jantung Jaka berdegup amat kencang, seolah mau copot dan membobol dadanya ketika mendapati tatapan mata Mega Sari yang indah tersebut, dirasakan kehangatan yang sangat nikmat dari tubuh Mega Sari yang sedang ia peluk itu, begitupun Mega Sari, dirasakan kehangatan yang termata nikmat dalam pelukan Jaka diantara dinginnya udara saat itu. 

“... Kang Jaka...” rintihnya perlahan dengan suara yang manja, gadis itu tidak paham kenapa ia memanggil nama Jaka dengan meratap seperti itu, hanya dirasanya ada deburan gelora dahsyat didadanya, di sisi lain, naluri kelelakian Jaka pun tersulut mendengar rintihan manja Mega Sari, sambil menelan ludah, ia menyibakan rambut Mega Sari, dengan didorong oleh suatu kekuatan maha dahsyat yang tidak ia ketahui dan ia sadari, ia mengecup bibir Mega Sari yang merah ranum itu, Mega Sari pun menutup matanya merasakan sentuhan bibir Jaka yang hangat itu, dan bahkan mulai membalasnya!


***


Ngobrol-ngobrol : 

Hai hai para sahabat semua, bagaimana dengan cover terbaru dari Wasiat Iblis ini? Cover ini khusus untuk sahabat semua yang sudah setia mengikuti kisah Wasiat Iblis ini setiap minggunya sejak akhir bulan Januari yang lalu. Semoga cover baru ini juga bisa membuat mood para sahabat semua menjadi segar kembali untuk tetap terus mengikuti kisah Wasiat Iblis ini ya :D

Credit for Sista Chiasa Anggie yang keren banget membuat ilustrasi cover & para tokoh utama Wasiat Iblis ini :D