Episode 37 - Lima Kandidat


Di sini, tempat tragedi besar itu terjadi. Pada awalnya, tempat ini hanya dikenal sebagai gudang senjata lama. Banyak senjata yang telah lama dan tidak dipakai di tempatkan di dalamnya.

Hanya sedikit yang mengetahui kebenaran, bahwa tempat ini adalah tempat di mana ancaman besar pernah muncul puluhan tahun yang lalu. Tidak, mereka semua tidak melupakannya, mereka hanya tidak mau mengingatnya.

Saat itu, saat perang besar itu terjadi, banyak kawan dan sahabat mereka yang gugur di sana, karena itu, mereka mencoba untuk melupakan kejadian tersebut dan terus hidup dengan normal.

Lalu, tiba-tiba saja tanpa mereka sadari ancaman itu kembali datang, tapi untung saja, para pemimpin pasukan cepat datang dan menghentikan ancaman tersebut untuk terulang kembali.

Berkat insiden ini, kekaguman banyak iblis semakin besar kepada para pemimpin pasukan. Tanpa ada yang tahu, bahwa ternyata salah satu dari pemimpin pasukanlah yang telah membuat masalah itu terjadi.

Tidak ada korban jiwa dari pihak iblis biasa, hanya prajurit iblis dan dua dari dua belas pemimpin iblis yang gugur.

Pada saat kejadian tersebut, tidak semua pemimpin pasukan datang, karena kebanyakan dari mereka masih bertugas jauh.

Namun, untungnya semua bisa dilalui dengan lancar.

Dua bulan yang terlihat menyeramkan masih tergantung di langit. Semua iblis melakukan aktifitas seperti biasa, dengan tawa yang mengerikan, disertai bunyi cambuk, lalu terdengar suara teriakan memilukan.

Di tempat lain, di sebuah bangunan mewah, tepatnya di dalam sebuah ruangan luas. Banyak prajurit iblis berdiri dengan tegap di luar pintu sembari membawa senjata. 

Di dalam ruangan terdapat sebuah meja bundar dan kursi-kursi di sisinya. Pencahayaan ruangan itu berasal dari api yang terbakar pada tengkorak yang berbaris di sekeliling ruangan. 

Wajah setiap orang di dalam sana membuat siapa saja tidak berani untuk memandangnya. Ada seorang pria dengan sayap griffin di punggungnya, yang kini sedang duduk sambil menekuk dahinya.

Dia adalah Focalor.

Ada juga seorang iblis dengan kepala singa yang membuat siapa saja akan bergetar ketakutan, akan tetapi sangat disayangkan, kesan itu akan langsung hilang jika kau melihatnya dari belakang, karena terdapat ekor kelinci yang membuat penampilannya terkesan menggemaskan.

Dia adalah Idos.

Di sebelahnya, terdapat seorang iblis dengan wujud seekor ayam jantan dan memiliki sayap di punggungnya. Meskipun ayam, tapi dia dapat terbang.

Dia adalah Vaberian.

Di sisi Vaberian, terdapat seorang iblis dengan wujud seorang kesatria gagah.

Dia adalah Sorcas.

Hanya ada mereka berempat. Solas sudah mengorbankan nyawanya, Sitri sudah berkhianat dan sisa jiwanya telah pergi bersama pecahan pedang gram, dan Lerajie sudah berada dalam ruang bawah tanah.

Focarol dan yang lainnya merasa semua masalah ini bersumber dari Lerajie, dan jika bukan karena kontribusinya terhadap penyegelan naga Fafnir, dia pasti sudah kehilangan nyawanya.

Sedangkan itu, lima pemimpin pasukan lainnya sedang dalam tugas penting lain.

“Apa yang harus kita lakukan?” Sorcas bertanya dengan muram.

Situasi saat ini sangat buruk, masih banyak ancaman dari iblis lain yang mencoba untuk mengambil alih kekuasaan, tapi tiba-tiba saja mereka mendapat insiden buruk yang mengikis kekuatan mereka.

“Kita harus bertahan, ini memang tidak mudah, tapi kita pasti bisa melaluinya jika kita terus bersama.” Balas Vaberian dengan tegas.

“Benar, kita pasti bisa jika kita terus bersama. Selain itu, aku juga sudah mendapatkan beberapa kandidat untuk mengambil alih tiga tempat yang kosong.” Focarol berkata dengan tenang.

“Oh, apakah mereka kuat?” tanya Idos dengan cepat. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Tentu saja, tapi masalahnya adalah aku mendapatkan lima kandidat, sedangkan yang kita butuhkan hanya tiga, jadi, bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Focarol lagi.

Dia sangat bimbang. Karena bagi Focarol, mereka memiliki kekuatan yang setara, dan juga memiliki skil unik masing-masing yang sangat berguna dalam pertarungan.

Namun, hanya tiga tempat yang kosong, sedangkan mereka berlima masing-masing sangat menginginkan posisi tersebut. Bukan hanya godaan dari kekuasaan, akan tetapi banyak hal lagi manfaat yang bisa didapat jika mereka berada dalam posisi pemimpin pasukan.

Dua belas pemimpin pasukan, mereka adalah tombak sekaligus perisai dari raja iblis. Dan bagi para iblis, bisa dekat dan berguna bagi sang raja iblis adalah sebuah kehormatan yang tidak ternilai harganya.

“Sangat mudah, tinggal kita adu saja mereka dalam sebuah pertarungan, dan tiga orang terakhir yang tetap bertahan adalah pemenangnya.” Ucap Vaberian.

“Adu, kah? Benar juga, tumben sekali ide bagus keluar dari paruhmu itu.” Focarol berkata dengan sukacita setelah mendengar ide dari Vaberian, si iblis dengan wujud seekor ayam jantan.

“Hei, apa yang kau maksudkan dengan tumben? Aku selalu cerdas dan memiliki ide-ide brilian.” Vaberian berteriak dengan keras. 

“Ya, ya, terserah kau sajalah.” Balas Focalor dengan apatis.

“Hei, kenapa kau mengatakannya dengan nada seperti itu? cepat katakan dengan benar, dengan penuh ketulusan, sialan!” Vaberian berteriak sambil melotot pada Focarol.

“Baiklah, baiklah, hentikan semua ini, kita tidak punya waktu untuk pembicaraan tidak penting seperti ini, kita harus segera mengisi tiga tempat kosong yang telah hilang.” Ucap Sorcas dengan muram.

Pada akhirnya, lima kandidat yang telah Focarol pilih akan bertarung, dan tiga dari mereka yang masih bertahan akan mendapatkan posisi sebagai pemimpin pasukan.

Begitulah, hanya yang terkuat yang akan mendapat rasa hormat dan posisi penting, sedangkan mereka yang tidak memiliki kekuatan hanya bisa menundukan kepala tanpas mahkota kebanggaan.

Pertarungan akan diadakan di dalam sebuah arena pertarungan. Pada masa lalu, tempat itu sangat sering digunakan untuk menantang atau sekadar bersenang-senang. Para iblis akan mengirimkan surat tantangan pada iblis yang lain, dan bagi iblis yang ditantang, mau tidak mau mereka harus menerima tantangan, atau jika tidak, mereka akan dianggap penakut oleh iblis yang lainnya.

Kematian sering terjadi, dan tradisi itu terus berlanjut hingga akhirnya perang besar itu terjadi. Populasi iblis mengalami penurunan, dan pertarungan di arena tidak diperbolehkan lagi.

Kabar tentang pertarungan yang akan datang terdengar dan membuat para iblis lain bersemangat untuk menyaksikannya. Pada hari pertarungan, mereka datang berbondong-bondong ke arena pertarungan. Arena pertarungan yang sebelumnya sepi, kini telah ramai dan sesak oleh para iblis.

Dari lima sisi arena yanng berbeda, lima sosok muncul dan berjalan menuju ke tengah arena. Mereka berlima menatap dengan tajam pada yang lainnya dengan niat membunuh yang terlihat dengan jelas.

Aroma darah dari bekas para pecundang yang kalah di arena masih tercium sangat kuat. Beberapa potongan tubuh masih berserakan. Namun, semua itu tidak mengganggu konsentrasi mereka berlima.

“Cepat mulai bertarung!”

“Hajar hingga mati, jangan beri ampun sedikitpun.”

“Berhenti saling tatap, kau sedang jatuh cinta atau hendak bertarung?”

Para iblis yang sedang menonton berteriak dengan keras dan antusias. Mereka tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menyaksikan pertarungan dari mereka berlima.

“Diam!” 

Salah satu dari kelima petarung, Malpos, berteriak dengan suara yang melengking. Dia adalah seorang iblis dengan wujud seorang pemuda yang menggunakan jubah bulu berwarna hitam. 

Dia juga memiliki kemampuan untuk berubah menjadi burung gagak, sama seperti Solas, karena itu, dia adalah salah satu kandidat favorit Focarol.

“Haha, sepertii biasa, suaramu benar-benar tidak enak didengar, menjijikan.” Ucap salah seorang kandidat lainnya dengan sinis.

Dia adalah seorang iblis bernama Raon, yang memiliki wujud seorang pemuda dengan pakaian serbaa hitam dan sepasang sayap gagak di punggungnya. Benar, dia juga adalah iblis yang bisa berubah bentuk menjadi gagak, sama seperti Solas dan Dalpos.

“Coba katakan sekali lagi jika kau berani!” Dalpos berteriak dengan suaranya yang melengking sambil mengangkat dagunya dan melihat Raon dengan penuh kebencian.

“Kalian ini memang tidak bisa akur, ya. Padahal kalian berdua sama-sama gagak, loh.” Terdengar suara menyenangkan dari salah satu petarung lainnya.

Dia adalah Gop, seorang iblis dengan wujud seorang pemuda yang bertelanjang dada dengan rambut pirang panjang dan sepasang sayap kelelawar di punggungnya.

“Diam kau narsis sialan!” Raon dan Dalpos berteriak bersamaan.

“Haha, maaf, ternyata aku salah, kalian berdua memang sangat akrab.” Gop berkata sambil menahan tawa dengan tangannya.

Dalpos dan Raon saling pandang dengan marah lalu akhirnya mereka mendengus dan mengalihkan pandangannya.

“Gop, hentikan, jangan ganggu mereka.” Terdengar suara merdu dari salah satu sisi arena pertarungan.

Dia adalah Egor, seoranng iblis dengan wujud kesatria yang membawa tombak dan di tubuhnya melilit seekor ular cantik berwarna pelangi.

“Haha, benar, kau sangat benar, aku tidak seharusnya mengganggu waktu romantis mereka berdua.” Gop kembali berkata sambil menahan tawanya dengan lebih keras.

Dalpos dan Raon menoleh dan melihat ke arah Egor dengan tatapan yang beracun.

“Hei, kalian berdua tenang dulu, bukan itu yang aku maksudkan.” Egor berkata dengan buru-buru setelah mendapatkan pandangan beracun dari Dalpos dan Raon.

“Haha...” Gop tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dari Egor.

“....” Di salah satu sisi arena, seorang iblis berdiri dengan tegap sembari memperhatikan empat lainnya. Dia adalah salah satu kandidat yang telah Focalor pilih, namanya adalah Biloth. 

Dia adalah iblis dengan wujud seorang pria yang menggunakan jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan matanya. Di tangannya, Biloth membawa sebuah seruling berwarna emas, dan itulah senjatanya.

Biloth memandang mereka dengan diam. Tidak, sebenarnya dia ingin ikut dalam pembicaraan, akan tetapi dia tidak tahu harus mengatakan apa.

Bagi sebagian iblis yang menonton, Biloth adalah sosok yang paling misterius dan menyeramkan, akan tetapi, tanpa mereka duga, ternyata dia memiliki sisi imut di dalam dirinya.

Dia benar-benar pemalu.

Tiba-tiba, dari arah langit, empat sosok turun dan berdiri di tengah arena pertarungan. Mereka adalah Focalor, Idos, Vaberian, dan Sorcas.

“Tanpa membuang waktu lagi, mari kita saksikan pertarungan dari para pemberani ini.” Teriak Focarol membungkam semua suara di arena pertarungan.

“Hanya tiga orang yang akan terpilih, jadi bertarunglah dengan seluruh kemampuan kalian.” Ucap Idos dengan keras.

“Tidak ada peraturan, yang perlu kalian lakukan hanyalah bertarung.” Sambung Vaberian sembil tersenyum kecil.

“Kalian boleh menjadi seorang pengecut, tapi jangan pernah menjadi seorang pecundang.” Ucap Sorcas sambil melirik Idos dan dibalas Idos dengan tatapan tajam.

“Baiklah, pertarungan dimulai.” Mereka berempat berteriak bersamaan lalu terbang ke langit tinggi.