Episode 254 - Satu Pertanyaan


Suasana sama sekali tiada mencerminkan bahwa malam telah tiba. Semarak di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang terlihat layaknya siang hari. Tetiba, para hadirin sontak berubah gaduh. Sorak-sorai kemudian membahana menyambut sebuah lorong dimensi yang membuka di tengah-tengah gelanggang. Dari dalamnya, melangkah keluar sembilan ahli. Setiap satu dari mereka menyibak aura penuh wibawa. 

Para Datu Besar, telah kembali!  

“Selamat datang, wahai para Datu Besar. Apakah gerangan yang terjadi di lapisan langit nan tinggi di angkasa sana?” Si pembawa acara, yang juga merangkap ketua panitia Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang, tiada dapat menahan rasa penasaran. 

Sebelumnya, telah kembali lima peserta Hajatan Akbar. Dua dari mereka menderita cedera berat, sementara tiga lagi kehabisan tenaga dalam. Mereka saat ini sedang menjalani perawatan, dan kondisi kelimanya pun sudah jauh lebih baik.

Bagaimana dengan satu peserta yang belum kembali? Apakah Balaputera Gara baik-baik saja? Ataukah ia meregang nyawa? Tiada yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Segenap hadirin hanya dapat menduga-duga. Walau, perkiraan mereka lebih berat kepada kemungkinan di mana Balaputera Gara menjadi peserta terakhir yang bertahan. Siapa di antara para hadirin yang tak mengakui reputasi Balaputera Dharanindra sang kakek sebagai pahlawan besar, serta Balaputera Ragrawira sang ayah si jenius? 

Bahwasanya, kemungkinan terbesar adalah Balaputera Gara saat ini sedang berada bersama Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa! 

Kesembilan Datu Besar tiada menjawab pertanyaan dari ketua panitia. Mereka kembali ke tribun kehormatan masing-masing. Para anggota keluarga sontak bangkit menyambut. Akan tetapi, betapa pun besar rasa penasaran, tak ada satu pun yang lantang melontar pertanyaan kepada para Datu Besar. Para pemimpin keluarga bangsawan Wangsa Syailendra itu pun tiada berucap barang sepatah kata. Mereka segera mengambil tempat duduk. Menanti. 

Datu Besar Kadatuan Kesembilan menganggukkan kepala, sebagai jawaban kepada raut wajah Balaputera Samara yang demikian gelisah. Meski tiada sepatah kata nan terucap, tatapan mata Balaputera Rudra sudah memberikan jawaban yang lebih dari cukup bagi sang adinda. 

Tak berselang lama, keadaan tetiba berubah lengang. Penyebabnya, adalah sebuah formasi segel yang sedang berpendar. Perlahan, juga membuka sebuah lorong dimensi tepat di tengah Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Sejumlah hadirin menahan napas. Tiada satu dari mereka yang rela mengedipkan mata. Siapakah yang akan mengemuka!? 

Tetiba, seorang lelaki setengah baya melompat keluar. Keringat bercucuran dan napas terengah. Rambutnya acak-acakan, dan pakaian yang ia kenakan berantakan. Tak sulit menyimpulkan bahwa ia baru saja terlibat dalam pertarungan sengit. Melayang di udara lelaki setengah baya itu terlihat memutar tubuh, menatap bengis ke arah lorong dimensi dari mana ia baru saja melompat keluar. Sikap yang ditampilkan sungguh mencerminkan kecemasan, bahkan menyiratkan seberkas rasa takut…

 “Ayahanda!” Tetiba terdengar suara memanggil, yang datangnya dari Kadatuan Kesatu. 

Perhatian Balaputera Tarukma, Datu Tua Kadatuan Kesatu, terpecah. Sontak ia menyapu pandang. Baru pula ia tersadar bahwa telah tiba di tengah Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Terlepas dari jati diri sebagai ahli yang telah berada pada Kasta Bumi, bilamana hati sedang dilanda gundah, maka perhatian hanya terpusat pada permasalahan di depan mata sahaja. Kini, berada di tengah pantauan hampir segenap rakyat di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, semakin membuat hatinya gugup.

Tak lama kemudian, seorang perempuan setengah baya bersama seorang lelaki dewasa muda, menyusul keluar dari lorong dimensi yang sama!

Datu Besar Kadatuan Kedua, Balaputera Wrendaha sontak bangkit berdiri. Ia menatap tajam ke arah dua ahli yang baru saja tiba, lalu melesat cepat ke arah mereka. 

“Puan Balaputera Sukma nan terkasih, sudah lama diriku menanti kepulangan dikau!” Lelaki dewasa itu membungkukkan tubuh dalam-dalam. Bagi Balaputera Wrendaha, perempuan setengah baya itu ibarat seorang ibunda yang telah lama dirindu. 

“Ananda Wrendaha, sejak kapankah engkau menyapa diriku sebagai puan…?” Balaputera Sukma tersenyum teduh. 

“Ibunda Bungsu Sukma…” suara Balaputera Wrendaha bergetar. Tak terbayang betapa senang hatinya. Ratusan tahun berlalu, hanya untuk menantikan tibanya hari ini. 

“Ibunda!” Balaputera Rudra dan Balaputera Samara melesat hampir bersamaan. Keduanya enggan percaya pada pemandangan yang tampil di hadapan mata. Akan tetapi, walau ingatan terasa samar, keduanya yakin dan percaya bahwa perempuan setengah baya tersebut adalah ibu kandung mereka! 

“Rudra dan Samara…” Balaputera Sukma terlihat senang. “Kalian telah tumbuh besar.” 

Balaputera Samara terisak, dan air mata berlinang membasahi wajahnya dan teduh. Di lain sisi, Balaputera Rudra berdiri tegar, meski pandangannya tiada pernah lepas dari sang ibunda.

“Hahahaha…” Balaputera Tarukma tergelak. “Betapa aku, Balaputera Tarukma, telah menemukan adik kandungku, Balaputera Sukma! Dengan susah-payah aku membawa ia kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

“Balaputera Sukma dari Kadatuan Kesatu…?” 

“Tidak… Balaputera Sukma dari Kadatuan Kesembilan…” 

“Itu… tak salah lagi!” 

“Beliau adalah istri dari pahlawan besar Balaputera Dharanindra!” 

Segenap hadirin, baik yang berada di tribun kehormatan maupun tribun khalayak ramai, terlihat sama takjubnya. Bagaimana mungkin tokoh yang diperkirakan telah lama mati di kala melindungi segenap rakyat, kini kembali!? 

Di saat yang sama, tak sedikit dari mereka yang memandang si Datu Tua dari Kadatuan Kesatu, dengan penuh rasa hormat. Mencari dan menemukan Balaputera Sukma, sungguh pengabdian tokoh tersebut tiada dapat ditakar. 

“Ibunda Bungsu Sukma…?” Datu Besar dari Kadatuan Kesatu, merangkap Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, tersenyum lebar. Betapa ia bangga akan kembalinya seorang anggota keluarga. Meski telah menikah ke dalam Kadatuan Kesembilan, perempuan setengah baya tersebut tetaplah merupakan bibinya sendiri. 

“Balaputera Akrama…,” sapa Balaputera Sukma kepada Datu Besar Kadatuan Kesatu, yang tentunya adalah kemenakannya. Akan tetapi, tatapan matanya segera beralih. Ia menatap tajam ke arah Balaputera Tarukma. 

“Cuih!” Balaputera Lintara meludah sambil melangkah cepat. Segera ia bergegas meninggalkan posisinya yang sedang berada di tengah-tengah Gelanggang Utama. Tampil di depan umum, bukanlah sesuatu yang ia senangi. Meski lebih dikenal sebagai Balaputera Lintara dan sempat bersembunyi di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bukan tak mungkin ada yang mengenali dirinya. Lintang Tenggara alias Titisan Ganesha, alias Petaka Perguruan di Perguruan Gunung Agung, alias Bupati Selatan Pulau Lima Dendam di Partai Iblis, segera menuju ke tribun khalayak. Karena perhatian sedang terpusat kepada kakak-adik Balaputera Tarukma dan Balaputera Sukma, maka tak ada yang terlalu memperhatikan di kala seorang lelaki dewasa muda menyelinap lalu berbaur ke dalam tribun khalayak

“Berhentilah bersandiwara!” sergah Balaputera Sukma lantang, sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Balaputera Tarukma. Raut wajahnya menyiratkan kebencian nan mendalam. 

Balaputera Tarukma tercekat. “Ter… terlalu lama terkurung… membuat dikau linglung…” Ia masih berupaya berkelit. 

Mendengar ucapan Balaputera Sukma, seluruh hadirin di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang berubah senyap. Apakah gerangan yang terjadi? Mereka menantikan kelanjutan…

“Kau menikam suamiku, Balaputera Dharanindra, dari belakang! Kau mengurung aku, adik kandungmu sendiri, di dalam sebuah dimensi ruang!” 

Balaputera Wrendaha bersiaga. Gelagat ini ditiru oleh Balaputera Rudra dan Balaputera Samara. Bilamana pertempuran terjadi, maka mereka akan terjun ke dalamya tanpa berpikir panjang. 

“Ibunda Bungsu Sukma… Apakah maksud dari kata-kata Ibunda Bungsu tadi? Bukankah ayahanda telah membawa Ibunda Bungsu kembali…?” Datu Besar Kadatuan Kesatu terlihat kebingungan. Sangat. 

“Akrama, diriku yakin bahwa dikau tiada terlibat di dalam muslihat busuknya. Jadi, kumohon untuk menahan diri.” Balaputera Sukma berujar tenang.

Suasana memanas. 

“Datu Besar Kadatuan Kedua, apakah yang sedang terjadi?” Datu Besar Kadatuan Keempat berujar dari jauh. Datu Besar Kadatuan Ketujuh pun terlihat di sisinya. Kedua Kadatuan ini diketahui senantiasa memusuhi Kadatuan Kesembilan. Kini, menyaksikan bahwa Datu Besar Kadatuan Kedua berada di pihak Kadatuan Kesembilan, betapa mereka sulit memahami. 

“Ketahuilah saudara-saudaraku, serta segenap rakyat Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bahwasanya Datu Tua Kadatuan Kesatu adalah penyebab kematian Balaputera Dharanindra dari Kadatuan Kesembilan.” Suara Balaputera Wrendaha lantang, bergema ke seantero Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang.  

Tuduhan Balaputera Sukma, yang ternyata masih hidup dan kembali entah dari mana, mendapat penegasan. Seluruh khalayak yang sedia kala menanti kedatangan Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, kini teralihkan perhatian. Siapa yang menduga akan munculnya tuduhan yang demikian berat kepada tokoh mantan Pimpinan Perguruan Svarnadwipa, yang selama ini terkenal akan keluhuran budi serta kemuliaan pekerti.  

“Di saat sang pahlawan besar menahan gempuran kaum siluman yang datang bergelombang, ia menikam dari belakang! Akibat tindakan tersebut pula, lebih dari seratus ahli dari Kadatuan Kesembilan meregang nyawa!” lanjut Balaputera Wrendaha. “Balaputera Sukma, adalah saksi hidup akan kebiadabannya!”

Betapa yang dikemukakan tersebut adalah tuduhan serius. Sebagaimana diketahui, perselisihan di antara sejumlah Kadatuan memanglah nyata adanya. Akan tetapi, selalu dapat para bangsawan Wangsa Syailendra selalu dapat menahan diri agar tak saling bunuh. Telah disabdakan oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa, bahwasanya membunuh sesama bangsawan, baik secara langsung maupun tiada, akan diganjar hukuman berat! Hukuman mati!

Segenap khalayak terlihat saling bisik. Tak ada yang berani bersuara lantang. Anggota keluarga bangsawan dari Kadatauan Kesatu, bengkit berdiri di tribun kehormatan mereka. Tentu saja mereka tiada percaya akan kata-kata Balaputera Wrendaha. Meski, raut wajah mereka terlihat kusut, karena Balaputera Sukma adalah saksi kunci yang sangat kuat bilamana hal yang dituduhkan benar terjadi.

“Kau… Kau mencuci otak adikku agar ia menentang kakak kandungnya!” Balaputera Tarukma membela diri. “Muslihat apa lagi yang engkau susun!?”

“Muslihat…?” cibir Balaputera Wrendaha. 

“Ke mana perginya Balaputera Lintara yang tadi tiba bersama dengan Sukma!?” hardik lelaki setengah baya itu. “Mengapa ia, yang kita ketahui adalah muridmu, berada bersama Sukma? Sejak kapan? Cih! Balaputera Lintara adalah buronan di Negeri Dua Samudera. Ia adalah Petaka Perguruan, sekaligus anggota Partai Iblis! 

Sejumlah khalayak kembali saling bisik. Akan tetapi, tatapan penuh kecurigaan kini beralih kepada Datu Besar Kadatuan Kedua. Antara Balaputera Tarukma dan Balaputera Wrendaha, sungguh reputasi mereka bertolak belakang bak langit dan bumi. Balaputera Tarukma adalah tokoh nan bijak, jujur, lagi adil. Sebaliknya, Balaputera Wrendaha terkenal sangat ambisius, menghalalkan segala cara, serta merupakan seorang politisi handal yang terbiasa menyusun muslihat!

“Aku tak heran bilamana selama ini engkau mengetahui keberadaan Balaputera Sukma! Bersama kaki tanganmu Balaputera Lintara, kalian mencuci otak adik kandungku! Tak dapat diterima!”

Aura ahli Kasta Bumi itu mencuat pekat. Wajahnya memerah dipenuhi amarah. Bukan sandiwara, karena ia benar-benar murka tatkala kejahatan di masa lalu diungkap dengan semena-mena! 

“Bertobatlah, wahai Balaputera Tarukma,” ucap Balaputera Sukma. “Akui kekeliruan di masa lampau, maka diriku akan memohon pengampunan kepada Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa.”

“Tiada yang perlu diakui,” tanggap Balaputera Tarukma. 

Lelaki setengah baya itu melesat ke arah Datu Besar dari Kadatuan Kedua. Di dalam pandangannya, ancaman terbesar saat ini justru datang dari tokoh yang satu itu. Setara dengan kekuatan tempur, siasat dan muslihat ibarat unsur kesaktian yang dahsyat dalam menjatuhkan lawan dengan sangat cepat!  

Balaputera Rudra dan Balaputera Samara melompat bersamaan. Mereka berdiri di hadapan Balaputera Wrendaha, dengan tujuan menghadang laju Balaputera Tarukma. Menyaksikan Balaputera Wrendaha, kedua kakak beradik dari Kadatuan Kesembilan mulai menyadari apa yang sesungguhnya berlangsung selama ratusan tahun terakhir!


==


Bintang Tenggara merasakan hentakan yang sangat kuat dari dalam tubuhnya, sebelum terjungkal dan kehilangan kesadaran. Kini, meski telah siuman, ia justru terlihat semakin kikuk. Anak remaja tersebut tiada mengetahui tata krama di kala berhadapan dengan sang penguasa. Bagaimana sepantasnya berperilaku…? Apakah membungkuk…? Bersujud…? 

Bagi seorang bocah dusun, tentu pengalaman ini merupakan sesuatu yang benar-benar baru…

“Dikau belum menjawab pertanyaanku…” Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa berujar.

Bintang Tenggara tertegun… Mungkinkah masih pertanyaan terkait rahasia? Rahasia yang mana…? Sepertinya sang penguasa sudah mengetahui keberadaan Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa. Jadi, hal ini bukanlah lagi menjadi sebuah rahasia. Bahkan, para tokoh tersebut saling mengenal!

“Sungguh hamba tiada berani memendam rahasia…,” tanggap Bintang Tenggara, sambil mencoba untuk tetap tampil tenang. 

Balaputera Dewa tiada berkata-kata. Ia mengibaskan lengan, di mana rangkaian formasi segel berpendar layaknya bola-bola berwarna-warni serta ribuan titik-titik nan bercahaya. Balaputera Dewa dan Balaputera Gara seolah tenggelam di dalam formasi segel tersebut. 

Bukan, tetiba Bintang Tenggara mengingat-ingat. Di sekeliling wilayah di mana mereka berdiri, bukanlah sembarang formasi segel. Karena bilamana diperhatikan dengan lebih seksama, maka yang berpendar di sekeliling meraka saat ini adalah perwujudan miniatur dari… antariksa!

“Dikau memiliki satu pertanyaan…” Balaputera Dewa berujar dengan nada mempersilakan. Akan tetapi, tak terlalu sulit menangkap gelagat tokoh tersebut yang justru mencerminkan rasa keingintahuan. Ia kemudian menggerakkan tangan, sebagai isyarat bahwa pertanyaan hendaknya seputar antariksa. 

Apakah ini semacam ujian…? Batin Bintang Tenggara.  

Anak remaja itu mulai mencermati. Ia memandangi benda-benda antariksa satu per satu. Matahari, planet, bintang, susunan tata surya, serta benda-benda lain yang tiada dimengerti. Tetiba, di antara hamparan kerlap-kerlip bintang, di sisi lain planet yang terlihat semarak berwarna-warni, Bintang Tenggara mendapati sebuah gumpalan nan gelap. Gelap sekali, dan seolah dapat menyedot apa pun itu yang masuk ke dalam wilayah kekuasaanya. 

Entah mengapa, rasa ingin tahu Bintang Tenggara melesat tinggi. Ia pun melangkah lebih dekat. Raut wajahnya terlihat penasaran serta kedua bola matanya hampir tiada berkedip. “Gumpalan apakah gerangan ini, Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa?”

“Hm…?” Balaputera Dewa terdiam sejenak. “Apakah itu pertanyaanmu, wahai Balaputera Gara…? Ingat, diriku hanya akan menjawab satu pertanyaan.”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. 

“Yang dikau cermati itu, tak lain adalah… lubang hitam!"