Episode 23 - Duapuluh Tiga


“Ketinggian ilmu yang luar biasa dan dtambah ketajaman pikir yang hebat akhirnya dapat membuat Bondan sanggup menahan Ki Cendhala Geni sedemikian lamanya,” Gajah Mada memuji Bondan. Ken Banawa mengiyakan dengan anggukkan kepala.

Gaung kapak Ki Cendhala Geni semakin menghebat namun kecepatan geraknya berubah menjadi lambat. Gaung kapak yang mengandung tenaga inti dirasakan Bondan seperti sebuah batu yang menghimpit dadanya. Selain itu pendengaran Bondan mulai terganggu dengan gema gaung yang seperti tusukan belati di bagian dalam telinganya. Ketika perhatian Bondan sedikit teralih karena ia merasa harus meningkatkan daya tahannya, sebuah hantaman dari siku Ki Cendhala Geni dengan telak mengenai bagian rahangnya. Walaupun ia tidak sampai terjatuh namun Bondan terhuyung-huyung ke belakang. Ia masih sanggup bergerak menghindar dengan cepat saat Ki Cendhala Geni mencoba memburunya. Akan tetapi gaung kapak itu semakin menjadi-jadi dan mulai menyakitinya. Denging suara yang melengking tinggi pada bagian dalam telinganya serasa meledakkan isi kepala Bondan. 

Namun Bondan tidak mau menyerah dengan keadaan seperti itu. Ia meningkatkan lagi daya tahannya bersamaan dengan darah yang mulai menitik keluar dari telinganya. Pada saat itu pendengaran Bondan telah berkurang kemampuannya untuk mendengar suara-suara sekitarnya.

“Aku tidak dapat menghindarinya lagi,” hati Bondan berkata. Dengan satu loncatan panjang, ia memejamkan telinga lantas dengan cepat ia menutup kedua matanya dengan ikat kepalanya. Ilmu yang didapatnya dari Mpu Gandamanik akan segera ia terapkan untuk keluar dari tekanan yang dilakukan Ki Cendhala Geni. Kedua mata Bondan sudah tertutup rapat saat kakinya menjejak bumi. Darah yang mengalir dari telinganya telah berhenti mengalir. Satu usaha yang luar biasa telah dilakukan Bondan dengan mengalihkan urat syarafnya pada saat tubuhnya masih melayang dan bersamaan dengan ia menggerakkan tangan untuk menutup kedua matanya dengan udeng berlukiskan bunga dan kepala singa.

“Kau telah menunjukkan usaha dari semangat yang luar biasa untuk menjemput kematian, Bondan!” seru Ki Cendhala Geni. Sementara Ken Banawa dan Gajah Mada bertukar pandang karena mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan Bondan selanjutnya.

“Aku akan mati, Ki. Tetapi aku tidak ingin melihat tangan maut dewa kematian terulur pada wajahku,” sahut Bondan kemudian melangkah maju.

Ki Cendhala Geni dan orang yang melihat Bondan menjadi terkejut. Bahkan Ken Banawa mulai khawatir ketika Bondan justru melangkah pada arah yang salah. Bondan tidak berjalan mendekati Ki Cendhala Geni, Bondan justru menuju bagian samping tubuh lawannya. Lalu terdengar Ki Cendhala Geni menertawakan Bondan.

“Lihatlah dirimu, orang buta. Sebaiknya kau maki gurumu karena mengajarimu menjadi dungu!” Ki Cendhala Geni tergelak sambil menyuruh orang-orang melihat pada Bondan.

Bondan menghentikan langkahnya, lalu ia menengadahkan wajahnya sambil berkata,”Tidak seorang pun boleh menghina guruku kecuali orang-orang dungu.” Tetapi Bondan tidak menjadi terpancing oleh lawannya yang sengaja membuat gusar hatinya.

“Bondan,” berkata Ki Cendhala Geni,” sebenarnya aku ingin dapat berbicara denganmu. Aku dapat membuka hatimu apabila di masa itu kau memberiku kesempatan untuk berbicara.”

“Apa yang akan kau katakan, orang tua?” bertanya Bondan tanpa mengubah sikapnya.

“Aku tidak mengerti pemikiran yang menyebabkanmu mengejar Prana Sampar. Sedangkan kau telah dapat memperkirakan jumlah emas yang berhasil dikumpulkan oleh mantri tua itu. Andai saja kau mau sedikit saja menggunakan nalarmu tentu saja kau dapat menikmati hidup tanpa kerja keras. Dan kau juga tidak perlu menghambakan dirimu pada Jayanegara,” kata Ki Cendhala Geni.

“Aku bukan seorang hamba yang dimiliki Jayanegara,” Bondan berkata,” aku hanya tidak ingin mereka yang telah bekerja di sawah, pasar, perkebunan dan ladang tidak mendapatkan keadilan dari apa yang mereka usahakan. Sedangkan kau melakukan ini semua karena ketamakan.”

“Keadilan? Bukankah itu yang menjadi persoalan utama Jayanegara?” Ki Cendhala Geni sedikit gusar dengan tanggapan Bondan. Akan tetapi ia hanya melihat Bondan mengangguk kecil dan kembali berjalan gontai. Sesekali kakinya tersaruk saat melangkah. 

Gumilang merasa cemas ketika ia melihat Bondan seperti orang yang benar-benar buta. Langkah Bondan tidak menentu dan ia berjalan setapak demi setapak.

“Bondan!” rasa khawatir menyergap Gumilang.

Tiba-tiba semua mata yang melihat Bondan menjadi terperanjat. Jantung mereka seolah berhenti berdetak ketika melalui sebuah gerakan yang tidak terduga, Bondan mengerahkan puncak ilmu meringankan tubuh yang dikuasainya kemudian tubuh Bondan tiba-tiba seperti menghilang. Lalu tiba-tiba terdengar suara ledakan yang dahsyat saat keris Bondan menghantam tangkai panjang kapak lawannya.

Ki Cendhala Geni yang terlena dengan sikap gerak Bondan sama sekali tidak menduga serangan mendadak yang sangat cepat. Ia harus mengangkat tangkai kapaknya untuk menghadang laju keris Bondan yang akan membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Benturan hebat kemudian terjadi saat dua senjata itu bersentuhan. Tanah tempat mereka berpijak pun tersibak seperti terjadi pusaran angin diatasnya. Debu-debu dan kerikil juga terhempas berterbangan ke segala arah. Orang-orang sekitar mereka harus melangkah surut untuk menghindari kerikil yang berjatuhan di depan mereka.

Sebuah lubang dangkal yang besar berbentuk seperti lingkaran mengelilingi mereka. Seakan-akan tanah tempat mereka berpijak menjadi amblas lebih dalam. Kedua orang itu terdorong surut beberapa langkah kemudian bersikap kaku seperti patung.

Untuk beberapa lamanya mereka mematung seraya mengamati perkembangan masing-masing. Dada Ki Cendhala Geni terlihat naik turun dan berulang-ulang ia mengusap wajahnya. Ia benar-benar terperanjat dengan kemampuan Bondan yang meningkat tajam. Sehari sebelumnya ia masih menduga jika tenaga inti Bondan meningkat selapis dari pertarungan mereka yang terakhir kali. Tetapi kini mendapati Bondan menyimpan kekuatan yang lebih dahsyat.

Bondan ternyata tidak memberi kesempatan lebih lama bagi lawannya untuk menata saluran pernafasan yang tergoncang karena gelombang benturan terpantul memukul balik padanya. Walaupun Bondan bertarung dengan mata tertutup kain namun olah geraknya semakin garang dan sangat menyengat. Ki Cendhala Geni mulai terdesak hebat dengan olah gerak Bondan yang semakin tidak dapat diduga arahnya. Petunjuk Mpu Gandamanik sangat membantu Bondan mengenali lebih dalam watak ilmu dari Resi Gajahyana. Selain itu, Mpu Gandamanik juga membekalinya pengetahuan tentang melipatgandakan ketajaman indra pendengaran.

Karena itu Bondan dapat memperkirakan arah gerak lawannya dengan mendengar desir angin dan hawa pukulan. Demikianlah kedudukan Ki Cendhala Geni semakin tertekan dan ia selalu menemui jalan buntu saat ingin melepaskan diri dari tekanan demi tekanan yang mengalir deras dari Bondan. Ki Cendhala Geni sama sekali tidak habis pikir tentang perubahan dalam oleh gerak Bondan. Betapa kapaknya yang terus menerus menggaung seperti tidak dapat menembus benteng pendengaran Bondan. Bondan memang tidak terlihat seperti saat-saat sebelumnya ketika ia harus membagi perhatian dan juga merasa sakit pada bagian dalam telinganya. Namun kini ia bertarung lebih trengginas dan benar-benar sangat menguasai keadaan perkelahian.

“Apa yang ia lakukan? Seharusnya dengan mengandalkan pendengaran maka ia harusnya menjadi lebih menderita. Tetapi ia justru menjadi lebih menggila!” berkata heran Ki Cendhala Geni dalam hatinya. 

 “Hari mulai dirundung gelap,”berkata Ken Banawa dari luar lingkaran pertarungan.

Gajah Mada berpaling ke tempat matahari terbenam lalu menganggukkan kepala. Kemudian,” Apakah Ki Rangga akan menghentikan perang tanding itu?”

Ken Banawa menggeleng.

Sementara Gajah Mada kemudian menarik nafas panjang lalu katanya,” Kedudukannya tidak dapat lagi diselamatkan.”

“Entahlah,” sahut Ken Banawa. Kemudian ia berkata dengan nada cemas,” Penglihatan yang tertutup rapat tentu tidak akan membawa akhir yang baik bagi Ki Cendhala Geni. Tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

“Ki Rangga benar,” berkata Gajah Mada,” Mungkin Ki Cendhala Geni akan mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk mencapai batas akhir. Walaupun aku juga penasaran bagaimana Bondan dapat bertahan gema gaung yang tentunya menyakiti telinganya, sementara ia sendiri meningkatkan kemampuannya pada pendengaran.” Ia beringsut setapak. Kemudian ia berkata lagi,” Sebenarnya aku menginginkan ia masih dapat melanjutkan hidup. Kita membutuhkan keterangan dari orang itu tentang apa yang kita dengar sebagai awan hitam.” 

“Apakah itu perintah Sri Jayanegara?”

“Tidak!” jawab Gajah Mada. Ia menambahkan,” Itu hanya sebuah dugaanku saja namun aku tidak dapat berbuat lebih jauh dari sekedar menduga.” Ia berpaling pada Ken Banawa lalu,” Apakah Ki Rangga pernah membicarakan tentang awan hitam dengan Bondan?”

“Aku belum berkata apa-apa dengannya,” jawab Ken Banawa.

“Tetapi ia adalah saudara Gumilang,” kata Gajah Mada lalu,” sudah barang tentu Bondan pernah membicarakan itu dengan saudara-saudaranya.”

“Kemungkinan itu selalu ada,” Ken Banawa mengangguk-angguk.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan yang hebat. Tubuh Bondan dan Ki Cendhala Geni kembali terbungkus rapat di balik gulungan sinar senjata mereka yang berkelebat dan berputar-putar sangat cepat.

Bondan yang dapat memperkirakan setiap arah serangan lawannya akhirnya mampu mengulurkan ujung kerisnya menggores bagian dada Ki Cendhala Geni. Seruan tertahan keluar dari mulut lawannya. Bondan menjatuhkan diri dan cepat menjulurkan kaki menggedor ulu hati lawannya yang mempunyai nama besar di daerah selatan. Tubuh Ki Cendhala Geni terpental melayang jauh ke belakang. Bondan tidak berhenti menebar ancaman maut, tangannya melontarkan keris yang kemudian meluncur deras mengejar Ki Cendhala Geni dan menembus lambungnya.

Ki Cendhala Geni jatuh terlentang tanpa mampu menggerakkan kedua tangannya karena tendangan Bondan telah meremukkan tulang dadanya. Ia hanya dapat menggerakkan kepala samba menyeringai menahan sakit. Ia melihat Bondan yang berjalan menghampirinya dengan mata yang tidak lagi ditutup rapat dengan ikat kepala.

“Bergabunglah bersamaku, anak muda. Kau tidak akan pernah menyesali keputusan itu,” kata Ki Cendhala Geni terengah-engah.

Bondan menggoyangkan kepala kemudian katanya,” Apa yang telah kau lakukan hari ini dapat kau anggap sebagai penebus kesalahanmu di masa lalu, kiai.”

“Aku tidak akan pernah menyesalinya, anak muda.” Ki Cendhala Geni sedikit terbatuk-batuk lalu berkata lagi,” Aku tidak pernah menganggap kematianku dalam perang tanding ini adalah sebuah kekalahan. Justru sebaliknya, kematianku dan kekalahan pasukan Ki Sentot Tohjaya adalah awal dari sebuah gerakan yang sangat besar.”

Ken Banawa dan Gajah Mada saling bertukar pandang mendengarnya. Mereka berdua berlarian mendatangi Ki Cendhala Geni ketika orang tua bertubuh tinggi besar itu terbaring lemas di atas tanah.

“Seperti apa gerakan itu, kiai?” Gajah Mada bertanya dengan dahi berkerut.

Ki Cendhala Geni menoleh padanya sambil mencoba mengingat orang muda yang bertubuh besar seperti dirinya. Kemudian,” Bukankah kau yang bernama Gajah Mada?”

Gajah Mada mengangguk.

“Tidak ada lagi yang patut kalian ketahui selain menjadi saksi kematianku,” lirih berkata Ki Cendhala Geni saat nafas terakhir berhembus keluar darinya.

Demikianlah kemudian Ken Banawa memberi perintah pada orang-orang kademangan untuk merawat jasad Ki Cendhala Geni sebagaimana wajarnya.

“Meskipun ia telah banyak berbuat jahat dan menebar ketakutan pada kita semua, namun ia mempunyai hak untuk tetap dipandang sebagai bagian dari kita. Tubuhnya sudah tidak bergerak lagi, yang patut kita benci adalah kesadarannya saat masih hidup,” kata Ken Banawa. Gajah Mada dan Bondan yang berdampingan kemudian menundukkan kepala.

Diam-diam Gajah Mada mengagumi apa yang telah dilakukan oleh Bondan. Ia menganggap anak muda yang berdiri disampingnya itu benar-benar pantas menjadi seorang perwira dalam keprajuritan Majapahit. Meskipun Gajah Mada masih menyimpan harapan tetapi ia tahu apabila Bondan masih akan melanglang lebih jauh. 

Orang-orang yang berada di medan perang itu masih hilir mudik melakukan berbagai kegiatan sekalipun hari telah menjadi gelap. Obor-obor telah menyala di banyak tempat. Sejumlah lubang yang cukup besar telah digali dan banyak orang yang dikuburkan menjadi satu lubang. Mereka membedakan lubang yang berisi orang-orang Ki Sentot dengan yang lain. Sementara beberapa orang menaikkan beberapa jasad orang Wringin Anom dan Sumur Welut yang akan dirawat di kampung halaman mereka. Malam semakin larut dalam pekat dan mereka yang masih berada di bekas medan perang itu telah bersiap untuk meninggalkan tempat yang mengerikan. Banyak di antara pengawal dua kademangan yang tidak ingin kembali ke medan perang, namun mereka tahu keadaan tidak akan memberi banyak pilihan apabila waktu telah tiba.

“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” bertanya Gumilang pada Bondan ketika mereka duduk berdampingan di bawah sebuah pohon trembesi sambil mengamati orang-orang yang hilir mudik didepan mereka.

“Aku masih akan tinggal di kotaraja.”

“Apakah kau mempunyai rencana untuk bergabung bersamaku?”

Bondan mengerutkan dahinya, lalu,” Kau akan kemana?”

Gumilang tersenyum padanya kemudian,” Aku akan bergabung dengan pasukan berkuda yang berada di Watu Golong. Sebenarnya aku sudah merencanakan itu sejak lama, namun sepertinya memang harus ditunda karena keadaan yang berkembang selanjutnya.”

“Tidak, Gumilang,” kata Bondan,” aku belum mempunyai rencana yang tetap untuk saat ini. Aku masih harus kembali ke Pajang. Dan aku akan berbicara dengan guru mengenai apa-apa yang aku butuhkan di masa mendatang.”

Hari telah menjelang senja ketika gabungan pasukan yang besar itu harus berpisah. Pengawal-pengawal Kademangan Sumur Welut telah memasuki pedukuhan induk saat para pengawal Kademangan Wringin Anom berjalan semakin dekat dengan wilayah kademangannya, sementara para prajurit Majapahit masih harus menempuh perjalanan yang sedikit jauh. Mereka yang bergabung dan turut serta dalam peperangan merasa bangga karena berhasil memadamkan api pergolakan yang dikobarkan oleh Ki Sentot Tohjaya. Kebanggaan itu seolah menjadi obat penawar rasa letih yang menerpa mereka semua. Ki Demang Wringin Anom pun menyambut pengawalnya dengan suka cita, bahkan ia kemudian menyiapkan sebuah kegiatan yang secara khusus untuk menyambut kemenangan itu. Ki Demang terlihat dalam barisan orang-orang yang menyambut para pengawal. Bahkan Arum Sari pun nampak seperti mencari seseorang. Ki Demang yang mengetahui tingkah laku Arum Sari kemudian bertanya,” Adakah kau sedang mencari satu atau dua anak muda?”

“Ayah!” Arum Sari mencubit lengan ayahnya dengan muka tersipu. Ki Demang pun kemudian mengalihkan perhatiannya kembali ke barisan pengawal yang berjalan pelan menuju banjar pedukuhan induk.

Akan tetapi diantara kegembiraan itu, terselip kepedihan bagi mereka yang ditinggalkan. Ki Demang Wringin Anom dan Sumur Welut kemudian membesarkan hati mereka bahwa pengorbanan besar dari anggota keluarga tidak pernah dilupakan. Dan mereka yang meninggal akan selalu abadi dalam kehidupan di dua kademangan. 

Sementara Gajah Mada telah membawa kembali pasukannya ke Kahuripan. Ia menyimpan rapat semua keterangan yang diperolehnya dari Ken Banawa dan semua yang ia saksikan di medan perang pun tersimpan rapi dalam benaknya. Ia merasa sedikit lega karena mendapatkan gambaran tentang pengaruh dari apa yang disebut sebagai awan hitam.

Namun demikian keadaan di kotaraja masih mencekam. Usaha-usaha orang yang menginginkan pergolakan tidak terhenti karena kegagalan Ki Sentot Tohjaya. Mereka yang lolos dari medan perang telah memasuki kotaraja dan melaporkan pada orang-orang yang berada dalam pusaran awan hitam. Mereka juga bekerja dengan cepat. Mereka telah menyusun langkah-langkah baru pada saat pasukan yang mengalahkan mereka masih larut dalam kegembiraan kerena memenangkan peperangan.

Sehari setelah peperangan di dekat Kademangan Sumur Welut itu usai, seseorang berkata di sebuah pertemuan yang terjadi di sebelah barat istana raja,” Aku telah mendapatkan laporan dari petugas sandi tentang keadaan di lereng Merapi. Akan datang serombongan orang yang akan melintasi lereng Wilis. Kita akan lanjutkan usaha ini di tempat mereka melintas. Pesan ini tidak akan segera dapat dibaca dengan cepat oleh Jayanegara.“

“Lalu apa yang akan terjadi kemudian?” bertanya seorang perwira padanya.

“Ia menginginkan adanya pergolakan di sekitar Merapi, Pang Randu. Keberadaan pasukan Ki Nagapati di wilayah itu akan menjadi senjata terbaik yang kita miliki. Kita harus pergunakan waktu yang singkat ini dengan sangat baik,” jawab orang berbaju merah dengan gelang emas di lengan kirinya.

“Malam ini kita harus siapkan orang untuk membertahu orang-orang di padepokan. Mereka harus dapat menghadang rombongan yang menuju kotaraja,” seorang perwira disampingnya menambahkan.

Selanjutnya mereka mematangkan rencana hingga hari menjadi senja.

Orang bergelang emas itu berkata kemudian,“ Kita harus selalu mengatakan bahwa raja yang sekarang tidak lagi mempunyai kemampuan. Kepergian Ki Nagapati adalah bukti kelemahannya. Kita juga harus katakan pada mereka yang berseberangan dengan kita bahwa mereka harus menentukan sikap dan harus berani untuk berubah. Kejayaan Majapahit tidak akan pernah dapat diraih dengan sebuah mimpi. Ada saat untuk berjuang melawan, dan kalian harus meyakinkan bahwa perjuangan itu akan selalu ada bersama kita semua. Kita akan memberi bukti bahwa kita tidak menjadi lemah karena kekalahan di Sumur Welut.”

Orang-orang yang berada dalam ruangan itu mengangguk-angguk. Selanjutnya mereka berpisah dan menata kembali rencana-rencana yang disepakati agar dapat berjalan sesuai perkembangan.

Saat matahari telah terlihat di batas garis cakrawala, seorang lelaki menggendong jasad yang terkulai lemas dipundaknya. Ia menggali sebuah lubang di lereng gunung Semar dan beberapa lama kemudian lelaki itu bersimpuh di gundukan tanah yang basah.

“Angger, kau tidak dilahirkan oleh ibumu untuk menemui kematian di depan mataku. Dan sekali-kali aku tidak pernah menyalahkan diriku sendiri karena memintamu untuk menjadi seorang prajurit,” kata Ki Wisanggeni. Ia menarik sebatang rumput kemudian berkata lagi,”Oh Tuhan Yang Agung, bukankah kau benar-benar Maha Agung? Bukankah Kau adalah Yang Sempurna? Bukankah Kau yang Mutlak? Tetapi mengapa kau tempatkan aku pada keadaan seperti ini? Kau ambil satu-satunya harta yang paling berharga. Lalu Kau bisikkan dalam hatinya untuk melawanku.”

“Oh Tuhan yang menyuruhku berbuat baik. Mengapa Kau tidak membalas kebaikanku? Bukankah aku tidak pernah menyimpang darimu? Segala persembahan dan semua puja puji aku lakukan untukMu. Tetapi kini semua sirna. Semua persembahan dan segala pujaan itu tidak mempunyai arti sama sekali dihadapanMu. Aku tahu aku berulang kali berbuat salah padaMu tapi aku tahu jika selalu kembali padaMu. Lalu mengapa Kau bunuh anakku? Mengapa?”

Ki Wisanggeni bangkit berdiri dan tiba-tiba tangannya bergerak mengeluarkan angin pukulan menghantam tebing batu sebuah bukit kecil. Suara gemuruh yang ditimbulkannya dan tanah yang bergetar seolah menjadi gambaran rasa marah dan gelisah Ki Wisanggeni.

“Tidak!” desis Ki Wisanggeni,”Aku tidak akan percaya lagi padaMu.” Usai berkata demikian, Ki Wisanggeni melompat ke punggung kuda dan melarikan kudanya menyusul tenggelamnya matahari.


( T A M A T )

Kelanjutan dari babak 'Bondan Lelana: Ki Cendala Geni' adalah 'Bondan Lelana: Bara di Borobudur' yang akan tayang pada akhir bulan September 2019.