Episode 22 - Duapuluh Dua


Ki Sentot Tohjaya melihat pergerakan sekelompok prajurit yang terdiri dari pasukan berkuda dan prajurit berjalan kaki sedang mengalir ke tengah pusaran yang ia pimpin. “Ken Banawa adalah senapati pilihan,” gumamnya,”Pasukannya dapat menutup celah dan segera menuju ke barisan kita.” Kemudian ia memberi aba-aba pada kedua senapati pengapitnya untuk mempersiapkan diri atas kemungkinan benturan keras yang bakal terjadi dengan pasukan pimpinan Ken Banawa. Sesaat kemudian pasukan Ki Sentot yang berjumlah besar mengalir pelan menyambut laju lawannya.

Di atas tanah yang banyak gundukan lebih tinggi, prajurit Majapahit dan para pengawal kademangan segera membuka barisan untuk menebar. Agaknya mereka akan menghantam secara langsung pada inti kekuatan pasukan Ki Sentot Tohjaya.

“Tahan diri kalian masing-masing! Kita akan menyerang setelah ada perintah dariku!” Ki Rangga Ken Banawa berseru lantas dari atas punggung kuda.

Dalam jarak yang cukup dekat dari pasukan Ken Banawa, Ki Sentot Tohjaya menyuruh pasukannya berhenti. Ia berkata,” Aku tidak menutup mata atas kekalahan kita di beberapa tempat, akantetapi kemenangan kita akan ditentukan sekarang ini. Oleh kalian semua! Kita telah sampai di tempat ini dan kita akan bertahan di sini, menghancurkan Majapahit di sini. Tidak ada lagi jalan untuk pulang, satu-satunya pilihan bagi aku dan kalian semua adalah mengubur mereka di tanah ini!”

Usai mengatupkan bibirnya, Ki Sentot memberi perintah pada pasukannya untuk maju menyerang. Dalam pada itu Ken Banawa pun telah menarik tali kekang kudanya dan menerjang diikuti oleh prajurit-prajuritnya.

Seperti yang telah diperkirakan oleh kedua pemimpin tertinggi kedua pasukan, benturan keras dari dua barisan yang berlawanan mulai terjadi. Dentang senjata beradu, anak panah beterbangan mencapai sasaran dan suara-suara tertahan bercampur baur menjadi satu. Ken Banawa telah memutar pedangnya dan membuka jalan untuk bertarung melawan Ki Sentot Tohjaya yang berada di belakang barisan depan pasukannya. Para pemimpin dari kedua pasukan telah bertemu dengan lawan masing-masing sambil sesekali meneriakkan perintah-perintah dan kata-kata pembangkit semangat juang.

Pada saat pertempuran makin memanas dan darah mulai membasahi tanah, Ken Banawa telah berhasil berhadapan dengan Ki Sentot Tohjaya yang sibuk memberikan perintah pada prajurit-prajurit sekelilingnya.

“Akhirnya aku dapat bertemu secara langsung denganmu, Ki Sentot Tohjaya,” kata Ken Banawa.

Ki Sentot Tohjaya memandangnya dari ujung rambut hingga tidak terlepas satupun bagian Ken Banawa yang lolos dari sorot matanya yang tajam.

“Akhirnya satu langkah maju telah aku lakukan untuk membuat Jayanegara tunduk padaku, Ki Rangga,” Ki Sentot berkata sambil membuka selongsong ujung tombaknya.

Ki Rangga Ken Banawa menganggukkan kepala kemudian, “Tidak seharusnya kau menempatkan diri sebagai penantang raja, Ki Sentot. Kau adalah orang terhormat dan mempunyai pengikut yang tidak dapat diremehkan. Dan aku melihat pasukanmu telah menyerah, namun mereka adalah orang yang harus dihormati karena mengerti arti kehidupan.”

“Aku tidak dapat menentang apa yang telah menjadi suara hatiku. Aku juga tidak mengatakan menyerah adalah sebuah kesalahan, aku hormati keputusan mereka selagi kita masih di medan pertempuran. Namun kau juga tahu jika keputusan itu akan membawa dampak yang mungkin berbeda dengan harapan mereka saat ini.”

“Perlu Ki Sentot untuk mengerti jika akhirnya aku harus bertarung mati-matian melawanmu itu sama sekali bukan kebencian pribadi,” Ken Banawa berkata.

Ki Sentot menganggukkan kepala, dan katanya,”Aku mengerti, Ki Rangga.” Maka sejenak kemudian, mereka telah bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.

Ken Banawa dapat melihat sorot mata penuh keyakinan dari Ki Sentot Tohjaya. Dalam hatinya, Ken Banawa sangat menyayangkan sikap KI Sentot yang teguh pada pendirian untuk menentang Sri Jayanegara. Karena itu, Ken Banawa segera memutuskan untuk segera menggunakan bagian-bagian puncak dari ilmu yang dimilikinya karena jika menilik sikap dan geraknya maka lawannya yang mulai memutar-mutar tombak benar-benar akan menjadi lawan yang sangat kuat.

Sebaliknya, Ki Sentot juga tidak memandang remeh Ken Banawa yang telah melompat turun dari kuda. Ia menyadari jika senapati lanjut usia yang menjadi lawannya itu akan dapat memberinya bahaya dan akibat yang tidak diharapkan oleh para pengikutnya. Maka ia melapisi setiap bagian tombaknya dengan tenaga inti yang menjadi puncak ilmunya. Putaran tombak telah menimbulkan pusaran angin yang mengelilingi tubuhnya.

Tiba-tiba Ki Sentot menerjang maju dengan dahsyatnya, Ken Banawa bergeser surut. Serangan tombak Ki Sentot mengalir deras dan tajam. Kedua kaki Ki Sentot datang membadai dan memang sebenarnya ketinggian ilmu Ki Sentot Tohjaya sukar dicari bandingannya. 

Serangan demi serangan Ki Sentot Tohjaya seperti mengepung Ken Banawa dari segala penjuru. Ken Banawa dapat segera menilai jika Ki Sentot adalah orang yang yakin dan percaya diri dengan kemampuannya. Setiap ayunan tangan dan kakinya menimbulkan desir angin yang tajam dan dapat merobek kulit, maka dengan begitu Ken Banawa dapat mengukur kedalaman ilmu Ki Sentot Tohjaya. Akan tetapi Ken Banawa telah bersiap dengan puncak ilmunya sehingga ia dapat mengimbangi kedudukan dan membuat pertahanan yang cukup sulit ditembus oleh Ki Sentot.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di sekitar perang tanding Ken Banawa dengan Ki Sentot semakin lama menjadi semakin dahsyat. Para pengawal kademangan bertempur berkelompok dan terlihat sangat padu dengan prajurit Majapahit yang mempunyai pengalaman tempur lebih banyak. Sehingga kelebihan yang dimiliki oleh pasukan Ki Sentot belum mampu mengubah keseimbangan dan belum memberikan keuntungan bagi pertempuran secara keseluruhan. Para pengawal kademangan yang sebenarnya masih menyimpan jerih dalam hatinya, kini lambat laun mulai dapat menguasai diri saat menyaksikan sendiri kemampuan tempur prajurit Majapahit. 

“Pergilah. Ngger,” kata Ki Wisanggeni ketika ia bertarung dalam jarak cukup dekat dengan anaknya.

“Tidak, Ayah. Aku tidak mungkin dapat meninggalkan janji yang telah aku ucapkan,” Lembu Daksa menolak permintaan ayahnya.

“Karma seperti apa yang aku terima? Aku telah berikan hidupku untuk melakukan kebaikan dan kebenaran,” keluh Ki Wisanggeni dalam hatinya. Ia terus memutar senjatanya menyerang Lembu Daksa dengan hati tersayat.

“Ayah, mungkin Sri Jayanegara memang mempunyai keburukan tetapi ia adalah Raja Majapahit. Satu-satunya orang yang mempunyai wewenang layaknya dewa. Kita tidak semestinya berdiri menentangnya baik dalam damai maupun peperangan,” kata Lembu Daksa sambil menghindar tusukan pedang ayahnya.

“Dan itu adalah persoalanmu yang terbesar, Ngger,” Ki Wisanggeni kemudian meloncat surut. Ia menebar pandangan sekelilingnya. Pasukannya telah mundur setapak demi setapak, sementara bagian sayap yang seharusnya dapat memberi keunggulan pada pasukan Ki Sentot justru terdesak.

Lembu Daksa memutar tombak menangkis sebatang anak panah yang deras meluncur menggapai tubuhnya. “Pertempuran ini tidak akan berakhir hanya dengan kematian salah seorang diantara kita, Ayah,” ia berkata.

“Maka itu, mundurlah. Aku tidak dapat membiarkanmu untuk melakukan sesuatu yang salah,” Ki Wisanggeni mengulan permintaannya.

“Justru dengan menentang raja itulah kesalahan, Ayah.”

“Aku tidak mempunyai jalan lain yang terbuka lebar, Ngger,” berkata Ki Wisanggeni sambil menggebrak Lembu Daksa dengan sepenuh tenaga. Kini keduanya terlibat kembali dalam pertarungan yang sengit meski tidak ada keinginan untuk saling menumpas satu sama lain. Bagaimanapun dalam hati Ki Wisanggeni tidak ada setitik kekejian dengan membunuh salah seorang anaknya demi sebuah keyakinan yang mendasar. Ia meronta dalam jiwanya karena seolah-olah dibiarkan berjalan sendiri oleh yang ia yakini sebagai kekuatan yang tidak terjangkau.

Ki Wisanggeni merasa seluruh hidupnya adalah perjuangan untuk menunaikan kewajiban. Baik sebagai prajurit, sebagai ayah dan juga sebagai bagian suatu kelompok masyarakat. Ia sangat memperhatikan secara baik apa yang menjadi panduan untuk menjalani kewajibannya dan ia melakukan itu dengan sangat baik. Namun kini Ki Wisanggeni diterpa badai yang menggoncang kejiwaannya. Semenjak ia bergabung dengan Ki Sentot, Ki Wisanggeni berusaha mencari alasan yang dapat ia benarkan untuk menerima kenyataan bahwa anaknya akan berhadapan dengannya sebagai musuh di medan perang.

“Andaikata Jayanegara adalah orang yang kuat dengan nalarnya,” suatu ketika Ki Wisanggeni bergumam dalam hatinya. Lalu ia mengangkat senjata melawan Jayanegara dengan bergabung dalam pasukan Ki Sentot yang dipandangnya sebagai orang baik.

Pada saat itu, kelengahan Lembu Daksa telah membuat luka cukup dalam yang merobek lambungnya. Darah yang tidak berhenti mengalir sedangkan ia masih terus berloncatan menghindari serangan ayahnya yang tak lagi berbahaya.

“Berhentilah, Ngger!” perintah Ki Wisanggeni melihat anaknya masih saja bergerak mencoba menyerangnya. “Kita harus hentikan pertarungan ini. Lihatlah! Darahmu semakin deras memancar keluar.”

Lembu Daksa meloncat surut dengan satu tangan menutup luka dilambungnya. Sejenak ia melirik pada lukanya itu lalu tiba-tiba sebatang tombak berkelebat sangat cepat meluncur deras padanya.

Ki Wisanggeni bergerak sangat cepat berusaha memotong jalannya tombak namun ia terlambat. Tombak itu kemudian menancap pada dada Lembu Daksa hingga tembu sampai bagian belakangnya. Ki Wisanggeni menengok arah tombak dilontarkan dan ia melihat seorang lurah prajurit berdiri ketakutan saat bertatap mata dengannya. Ki Wisanggeni nyaris tidak dapat menahan amarah namun ia sadar bahwa lurah prajurit itu tidak dapat disalahkan karena mereka sedang dalam medan perang. Maka selanjutnya Ki Wisanggeni berjalan menghampiri anaknya yang terkulai lemas dengan nafas satu per satu keluar dari hidungnya.

“Maafkan ayah,” berkata lirih Ki Wisanggeni dengan air mata menitik keluar dari kedua pelupuknya. 

Lembu Daksa menggeleng, kemudian ia mencoba berkata,” Tidak. Ayah tidak bersalah. Aku bangga mempunyai seorang ayah yang teguh pada prinsipnya. Bukan ayah yang membunuhku. Bukan ayah yang membunuhku.” Lembu Daksa mengucapkan kalimat terakhir itu berulang-ulang hingga kepalanya terkulai dan nafas terakhir menghentak keluar dari dadanya.

Ki Wisanggeni berteriak panjang. Suara yang keluar darinya sangat menyayat hati. Ia tidak menangisi kematian anaknya, tetapi Ki Wisanggeni menangisi peperangan yang sedang terjadi. Sejenak kemudian ia meletakkan jasad anaknya pada pundaknya lalu dengan ketinggian ilmu meringankan tubuhnya kemudian Ki Wisanggeni melesat ke arah timur dan meninggalkan medan perang.

Sesaat setelah kepergian Ki Wisanggeni yang membawa tubuh tak bernyawa anaknya, pasukan Majapahit dan pengawal kademangan berteriak menyerukan kematian Lembu Daksa. Berita itu segera menyebar dan Gumilang segera membuka jalan menuju tempat pertarungan Lembu Daksa.

“Aku tidak melihat tubuh Lembu Daksa,” berkata Gumilang. Seorang prajurit Majapahit yang mendengarnya lalu berkata,”Ia telah dibawa pergi oleh lawannya.”

“Orang itu bukan lawannya. Ia adalah Ki Wisanggeni, ayah Lembu Daksa,” Gumilang berkata dengan sorot mata yang memperlihatkan rasa tidak suka ketika prajurit itu memberikan keterangan.

“Tetapi ia adalah lawan kita, Ki Lurah,” kata prajurit itu.

“Diam! Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua,” Gumilang berlalu dari tempat itu dengan kesedihan yang sangat mendalam. 

Sementara itu pasukan berkuda Gumilang semakin mendesak pasukan Ki Wisanggeni hingga garis akhir pertahanan. Gumilang kembali pada tempatnya semula dan ia bertempur seperti seekor singa yang marah. Tubuhnya berloncatan berpindah-pindah dari satu kuda ke kuda yang lain meroboh para penunggangnya dengan busur dan anak panah yang tergenggam erat padanya. Maka kemudian siasat yang didelar oleh pasukan Ki Wisanggeni menjadi porak poranda. Para pasukan Ki Wisanggeni akhirnya memilih bergabung di sayap yang lain, namun tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk keluar dari medan perang.

Mereka yang berlari dari medan mempunyai alasan yang berbeda dengan rekan-rekannya yang bergabung di sayap lain. Kelompok ini bukan berasal dari satuan yang sejak awal dipimpin oleh Ki Wisanggeni. Mereka bergabung dalam pasukan besar Ki Sentot dengan keyakinan dan alasan yang berbeda.

“Jangan kejar mereka! Simpan tenaga kalian!” perintah Gumilang pada pasukannya yang hendak mengejar para pelarian dari prajurit Ki Wisanggeni. 

Pasukan berkuda yang dipimpin oleh Gumilang telah mendesak pasukan berkuda yang bertempur tanpa pemimpin. Lingkar pertarungan Ken Banawa dan Ki Sentot Tohjaya semakin mencekam. Tidak ada seorang pun dengan kepala tegak yang dapat melihat keduanya berkelahi. Setiap orang yang berada diseputar mereka telah menghentikan perkelahian. Mereka hanya berdiri memandang dan menjaga agar tidak ada orang ketiga yang memasuki gelanggang. Seperti tidak ada rasa permusuhan diantara mereka, pasukan yang seharusnya saling berhadapan itu kini berdiri berdampingan. Amarah, keinginan untuk membunuh, keinginan untuk meraih satu kejayaan yang ada dalam diri setiap prajurit itu seolah lebur ketika mereka tahu bahwa dua orang yang pernah tumbuh bersama itu sedang bertarung untuk sebuah nilai yang mereka yakini kebenarannya. 

Gumilang yang melihat pertarungan itu dari tempat yang sedikit agak jauh dapat menilai jika sebenarnya Ki Rangga Ken Banawa masih berada satu lapis diatas Ki Sentot. Sesekali Gumilang memberi perintah prajuritnya untuk memperhatikan para prajurit Ki Wisanggeni yang tertawan dan luka-luka.

“Kumpulkan mereka disini dan rawat mereka yang terluka,” perintah Gumilang pada pasukannya, lalu ia menatap pada sejumlah orang yang telah duduk menyerah, katanya,”Aku tidak ingin kalian melakukan percobaan untuk melarikan diri. Menyerah itu bukanlah perbuatan yang hina, akan tetapi dengan menyerah, kalian dapat menunjukkan jika kehidupan itu memang layak untuk dipelihara.”

Para prajurit yang menyerah lantas menganggukkan kepala. Seorang senapati mereka berdiri kemudian berbicara pada yang lain sambil menunjuk Gumilang,” Kawan-kawan, mungkin ada benarnya kita ikuti kata-kata senapati muda itu.” Kemudian ia menurunkan senjatanya dan berkata lagi,” Aku sadar menyerah adalah keputusan yang sulit karena lebih mudah bagi kita untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Akan tetapi menyerahkan senjata adalah pilihanku saat ini.”

Beberapa kawannya mengikuti perbuatan senapati pasukan Ki Wisanggeni yang menurunkan senjata, meskipun terjadi gejolak perlawanan untuk sesaat namun prajurit-prajurit Gumilang dapat meredamnya dengan sangat baik. Karena itu, keberhasilan Gumilang akhirnya mejadikan sayap utara pertempuran menjadi sedikit lebih tenang. 

Kemudian ia memberi aba-aba untuk melintas dari sayap utara ke selatan untuk memukul pasukan Ki Sentot yang berada di garis pertahanan. Yang terjadi kemudian adalah pasukan Ki Sentot menjadi kalang kabut dengan serangan mendadak pasukan berkuda yang dipimpin Gumilang. Pada saat itu, dua kelompok kecil pasukan khusus Majapahit berhasil membuka jalan dan memisahkan barisan pasukan Ki Sentot. Dengan begitu kekacauan besar kemudian terjadi diantar pasukan Ki Sentot. Setapak demi setapak pasukan Ki Sentot berhasil diceraiberaikan dan akibatnya adalah perlawanan mereka semakin lemah.

Beberapa pertempuran kecil masih terjadi namun prajurit Majapahit yang dibantu para pengawal kademangan telah menguasai keadaan dan berhasil memadamkan api pertempuran.

“Ki Sentot, kau dapat melihat kekacauan yang terjadi dalam induk pasukanmu,” berkata Ken Banawa setelah mendapat laporan dari petugas penghubung.

“Aku tidak peduli, Ki Rangga,” sahut Ki Sentot. Kemudian,”Mereka telah memperjuangkan tujuan mereka melalui cara yang terhormat. Kekalahan bukanlah satu hal yang tabu untuk kami hindari.”

Ken Banawa menggelengkan kepala kemudian ia memiringkan tubuhnya condong ke samping menghindari kejaran tombak Ki Sentot yang berusaha menyentuh lambungnya. Tombak Ki Sentot menggelepar kuat dan sanggup menggetarkan persendian Ken Banawa setiap kali kedua senjata mereka berbenturan. Kedua senapati tangguh dan kenyang pengalaman tempur itu kini saling melepaskan ancaman maut untuk mempertahankan hidup mati-matian.

Dengan bertumpu pada kaki kirinya, Ken Banawa memutar tubuhnya dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba tumit kanannya melesat menyilang dari bawah ke atas menyentuh kening Ki Sentot. Ki Sentot tidak bersiap dengan serangan yang tidak terduga itu dan ia terguling roboh. Namun saat ia bangkit berdiri, Ken Banawa telah menyentuh lehernya dengan ujung pedangnya.

“Perintahkan pasukanmu untuk menyerah, Ki Sentot,” Ken Banawa mencoba mengulang permintaannya.

“Tidak mungkin aku lakukan itu, Ki Rangga,” kata Ki Sentot lalu ia berdiri perlahan dengan tombak yang masih tergenggam. Kemudian ia menatap tajam wajah Ken Banawa dan berkata,”Kau adalah seorang yang jantan dan tidak membunuh lawan yang tidak bersenjata.” Lalu Ki Sentot melemparkan tombaknya dan berjalan meninggalkan Ken Banawa di belakang punggungnya.

“Aku perintahkan kau untuk berhenti, Ki Sentot!” lantang Ken Banawa berkata.

Ki Sentot berhenti sesaat. Ia seperti merenung ketika wajahnya melihat tanah yang dipijaknya. Tiba-tiba ia berseru nyaring,”Aku perintahkan kalian untuk menyerah pada pasukan Majapahit.” Perintah Ki Sentot yang diucapkan dengan lambaran tenaga inti mengumandang di seantero medan perang. Sejumlah prajurit-prajuritnya menyambut dengan kebingungan, namun mereka melihat rekan-rekannya melemparkan senjata. Beberapa prajurit yang masih memegang senjata kemudian berkumpul dalam satu barisan yang berbeda dengan rekan-rekannya yang menyerah.

“Kami menolak perintahmu, Ki Sentot,” kata seorang perwira yang berlari menuju ke tempat Ki Sentot berdiri. 

“Maka lanjutkan keinginanmu itu,” berkata Ki Sentot lalu mengambil sebatang pedang seorang prajuritnya yang berdiri didekatnya. Lalu tiba-tiba ia berbalik arah dan menerjang Ken Banawa dengan satu serangan hebat. Kepulan tipis keluar dari batang pedang dan menyerang Ken Banawa yang telah merendahkan tubuhnya. Lambaran tenaga inti yang telah mengalir pedang Ken Banawa memancarkan hawa panas lalu ia menyongsong Ki Sentot dengan kekuatan tenaga intinya yang telah mencapai puncak. 

Ledakan hebat terdengar dan menggetarkan tanah sekeliling mereka. Sejumlah orang pun roboh karena tidak dapat menahan gelombang dahsyat yang menghantam dada mereka. Dalam waktu yang bersamaan, tubuh Ki Sentot terhenti dan kakinya terbenam sampai batas mata kaki. Kekuatan raksasa yang muncul dari pedang Ken Banawa telah membuyarkan kepulan asap tipis yang panasnya sanggup membuat besi menjadi merah. Ki Sentot tidak dapat menahan tenaga Ken Banawa dan dalam keadaan berdiri ia mengeluarkan segumpal darah kental. Ki Sentot merasakan tubuh bagian dalamnya telah remuk redam. Sekejap kemudian ia menancapkan pedang di dekat kakinya dan ia berdiri dengan bertelekan hulu pedang.

“Sangat disayangkan,” kata lirih terucap dari bibir Ken Banawa saat menghampiri Ki Sentot yang telah tidak bernyawa.

Pertempuran lain di medan perang itu mulai susut. Meski masih ada beberapa perlawanan terutama dari kelompok prajurit yang tidak mau menyerah, namun pasukan Ken Banawa telah sepenuhnya menguasai keadaan. Berita kematian Ki Sentot yang telah tersebar di seluruh medan akhirnya meluluhkan semangat prajurit yang tidak rela menyerah.

“Ki Sentot telah tiada. Andaikata aku dapat memenangkan perang ini, namun itu tidak akan mempunyai arti lagi bagiku dan seluruh orang yang mendukung perjuangan Ki Sentot,” kata perwira yang membangkang perintah Ki Sentot.