Episode 43 - Mayat Hidup (2)


“Kinasih?” Bibir Unggul sedikit bergetar menyebut nama itu. 

“Kinasih yang mana yang kau maksud?” ucap Reza setelah tampak menarik nafas panjang sambil melirik sedikit pada Unggul. 

“Kinasih, Putri Teratai Salju,” jawabku lagi. 

“Tentu saja kami mengenalnya, dia legenda hidup. Yang paling jenius dari para jenius! Siapa yang tidak kenal dia,” jawab Reza sambil mengangkat alisnya. 

“Meskipun julukannya Putri Teratai Salju dari Istana Teratai Salju, tapi kudengar dia berasal dari Perkumpulan Angin Utara?”

Reza dan Unggul hanya saling pandang mendengar kata-kataku. Kemudian setelah menarik nafas panjang, Unggul berkata pelan, “Dia memang berasal dari Perkumpulan Angin Utara. Tapi sejak dua tahun lalu, dia bergabung dengan Istana Teratai Salju.”

“Apa kalian tahu ada dimana dia sekarang?” Begitu Unggul mengakui kalau Kinasih memang berasal dari Perkumpulan Angin Utara, aku langsung mengejar dengan sebuah pertanyaan yang selama ini tersimpan lama di hatiku.

Unggul dan Reza sama-sama mengerenyitkan kening mendengar pertanyaanku, namun sesaat kemudian ekspresi wajah mereka kembali normal. 

“Kami tidak tahu dimana dia berada saat ini?” jawab Reza sambil menggelengkan kepalanya.

Meskipun sebenarnya dalam hati aku merasa kecewa mendengar jawaban mereka, tapi aku juga paham jika mereka tidak mengetahui keberadaan Kinasih saat ini. Selain Kinasih sudah bukan bagian dari Perkumpulan Angin Utara lagi, Reza dan Unggul juga hanya pendekar tahap penyerapan energi, tidak banyak informasi yang dapat kugali dari mereka. Hanya saja, aku tidak ingin menyerah pada harapan sekecil apapun. 

“Kalian tidak memiliki informasi sedikitpun tentang Kinasih? Apapun itu?” tanyaku lagi. 

Keduanya kembali saling pandang dengan raut muka sedikit bingung. Namun pada akhirnya mereka hanya kembali menggelengkan kepalanya. 

“Kenapa kau menanyakan tentang Kinasih? Ada hubungan apa antara kau dengan Kinasih?” Tiba-tiba saja Unggul balik bertanya padaku. 

“Aku... tidak bisa memberitahukannya pada kalian, maaf.” Aku hanya menggeleng pelan.

“Tampaknya kau tertarik dengan Kinasih... Mungkin jika bertemu lagi dalam situasi yang lebih baik, aku bisa bercerita banyak tentang Kinasih saat masih berada di Perkumpulan Angin Utara,” ucap Unggul sambil tersenyum kecut. 

Aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Unggul, lalu kami bertiga sama-sama diam tak berkata apa-apa selama beberapa detik.

“Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi, kami pergi dulu,” ucap Unggul sembari membalikkan badannya dan melangkah pergi, diikuti oleh Reza. 

Sedangkan aku hanya bisa menatap kepergian keduanya sambil menghela nafas panjang. Meskipun aku tidak menyesal telah menyelamatkan Reza, tapi tampaknya aku tidak berhasil mendapatkan informasi apapun tentang Kinasih dari mereka. Namun aku merasa sedikit aneh dengan reaksi mereka saat pertama kali kusinggung tentang Kinasih, terutama Unggul. Dia seperti memendam kekecewaan, mungkin juga dendam pada Kinasih. Sayangnya, aku tidak mungkin mengetahui perasaan yang sebenarnya dipendam Unggul untuk saat ini.

Setelah keduanya menghilang dibalik pintu keluar ruangan, aku tetap tidak bergerak selama beberapa saat untuk memastikan mereka benar-benar pergi dari sini. Baru setelah aku yakin keduanya sudah berada cukup jauh, aku segera bergerak mendekati makhluk kurus yang hingga saat ini masih berdiri mematung dengan pose Julius Caesar. 

Sebenarnya aku sudah mulai bisa menduga asal-usul makhluk kurus ini dan penelitian jenis apa yang dilakukan oleh Sekte Pulau Arwah di tempat ini. Kemungkinan besar tempat ini adalah lokasi penelitian Mantra Pemindah Arwah, dan makhluk ini adalah kelinci percobaan dari penelitian tersebut. 

Cairan merah kehitaman yang keluar dari tubuh makhluk ini sepertinya adalah darah. Dan karakteristik terkandung di dalam darah mayat hidup ini pada dasarnya sama dengan darah yang mengalir dalam tubuhku. Karena itu efek yang kurasakan saat menyerap darah dari makhluk ini jauh lebih dahsyat dibandingkan saat aku menyerap darah dari lawan-lawan bertarungku. 

Kekuatan yang kuserap dari darah orang lain hanya bersifat sementara saja, sedangkan efek yang kudapat dari menyerap darah makhluk ini bersifat permanen! Karena itu, meskipun bagi Unggul darah yang berasal dari makhluk ini beracun, tapi bagiku justru darah makhluk ini mengandung vitamin berkhasiat tinggi bagi tenaga dalamku. 

Dibandingkan dengan semua obat, pil, dan rempah di tempat ini, justru yang paling berharga bagiku adalah makhluk kurus ini. Jika aku bisa menyerap darah dari makhluk ini maka tingkat kesaktianku sudah dapat dipastikan akan meningkat tajam! Karena itu aku memilih berpisah dengan Reza dan Unggul, karena tidak mungkin aku melakukan penyerapan darah makhluk ini di depan mata mereka.

Sesampainya didekat makhluk kurus, aku segera mengeluarkan kembali pisau pasak dari balik pakaianku. Lalu dengan sangat hati-hati, aku mulai menguak luka di beberapa urat nadi makhluk tersebut. Beruntung dia sama sekali tidak bergerak meskipun aku melukai tubuhnya disana-sini. 

Setelah cairan darah berwarna merah kehitaman mulai keluar dari luka-luka tersebut, aku langsung mensirkulasikan jurus iblis darah dan mulai menyerap darah makhluk kurus itu ke dalam tubuhku melalui lubang hidung dan pori-pori. Darah tersebut mengeluarkan suara mendesis dan berubah menjadi kabut sebelum terserap masuk ke dalam tubuhku. 

Sensasi aneh langsung menjalar ke seluruh tubuh begitu darah makhluk kurus terserap ke dalam tubuhku. Rasanya seperti tubuhku dipenuhi energi yang siap meledak sewaktu-waktu. Aku segera duduk bersila dan mengatur sirkulasi energi yang masuk ke dalam tubuhku dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kesaktianku. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit kemudian, aku merasakan seperti ada dentuman dahsyat di pembuluh energi kelima dalam tubuhku, tanda terbukanya pembuluh energi kelima. Itu berarti aku sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kelima. 

Aku membuka kedua mataku secara perlahan. Meskipun saat kuperhatikan tidak ada perubahan pada fisikku, namun aku dapat merasakan lonjakan kekuatan dalam tubuhku. 

“Luar biasa, hanya dalam waktu sekejap saja aku sudah berhasil menembus tahap penyerapan energi tingkat kelima. Dibandingkan saat menggunakan pil pengumpul energi, kecepatanku meningkatkan tenaga dalam bertambah hingga belasan kali lipat.” Pandanganku beralih kembali pada makhluk kurus itu dengan berbinar-binar. Barusan aku hanya menyerap sebagian kecil saja cairan dari dalam tubuh makhluk tersebut, kira-kira seberapa tinggi peningkatan tenaga dalamku saat seluruh cairan dalam tubuhnya kuserap nanti?

Hal selanjutnya yang kulakukan adalah menstabilkan tenaga dalam tahap penyerapan energi tingkat kelima pada tubuhku. Ternyata penstabilan ini makan waktu cukup lama, kurang lebih dua jam kemudian aku kembali bersiap menyerap cairan merah kehitaman itu lagi. Namun gerakanku tertahan, karena tiba-tiba saja aku teringat posisiku sekarang berada ditengah ruangan yang terbuka lebar. Bagaimana jika saat aku sedang fokus meningkatkan tenaga dalam, ada orang lain yang datang ke ruangan ini dan membokongku?

Akhirnya dengan pertimbangan seperti itu, aku nekat mengangkat tubuh makhluk kurus dan mencari ruangan lain yang ku anggap lebih aman. Setelah menemukan ruangan yang ku anggap cukup aman, aku kembali meneruskan penyerapan cairan makhluk tersebut dengan memanfaatkan jurus iblis darah. 

Tanpa terasa, sudah dua hari aku tidak beranjak dari dalam ruangan tempatku meyerap cairan darah dari makhluk kurus. Dalam dua hari ini, kesaktianku telah mencapai puncak tahap penyerapan energi tingkat ketujuh, dan saat ini aku sedang berusaha menembus tahap penyerapan energi tingkat kedelapan!

“Kurang, jumlah yang kuserap ternyata masih kurang untuk menembus tahap penyerapan energi tingkat kedelapan. Apa yang harus kulakukan?” gumamku perlahan tanpa membuka mata. 

Tiba-tiba saja sesuatu terlintas dalam pikiranku, namun aku masih ragu-ragu untuk mencobanya. Mengingat resiko yang akan kuterima tidak sedikit jika aku nekat melakukannya. 

Yang barusan terlintas dipikiranku adalah penggunaan pil dan obat-obatan yang dua hari lalu diserahkan Unggul padaku. Tapi metodeku meningkatkan tenaga dalam ini jauh berbeda dengan metode biasa. Pada metode biasa, seorang pendekar membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk meningkatkan tenaga dalamnya dari satu tahap ke tahap selanjutnya, tergantung dari seberapa compatible tubuhnya menerima energi murni dari alam semesta. Karena memakan waktu lama, maka energi yang dihasilkan lebih stabil dan kokoh, sehingga lebih aman untuk digunakan menembus ke tahap selanjutnya. Ditambah lagi, usaha mereka menembus tahapan selanjutnya tidak dilakukan hanya dalam waktu satu dua malam saja. Mereka menggempurnya berkali-kali, menguaknya perlahan-lahan, hingga akhirnya terbuka sama sekali. Metode itu bisa memakan waktu tiga hari hingga dua minggu. 

Sedangkan metode yang kugunakan, seperti yang kalian lihat sendiri, mengalirkan energi murni yang kudapat dari darah makhluk kurus secara langsung untuk mengisi dan mendobrak pembuluh energi murni tahap selanjutnya. Bisa dibilang, menggunakan metode normal seperti membuka pintu bendungan sedkit demi sedikit untuk mengalirkan air secara perlahan-lahan. Dan metode yang kugunakan adalah menggunakan air dalam volume sangat besar dan arus yang sangat kuat untuk menghancurkan seluruh bendungan tersebut dalam sekejap. Dan jika aku menambahkan pil dan obat-obatan, sama saja dengan menambahkan ratusan bahan peledak ke bendungan. Ledakannya tidak hanya akan menghancurkan bendungan, tapi juga aliran sungai -dalam hal ini pembuluh energi murni-. 

Tapi jika hanya mengandalkan darah dari tubuh kurus ini, sepertinya aku tidak akan berhasil menembus penyerapan energi tingkat kedelapan, padahal rasanya hanya tinggal seujung rambut lagi aku bisa menembusnya. Dan aku tahu benar, jika aku menghentikan usahaku menembus tahap kedelapan sekarang, maka tidak akan semudah itu berusaha menembusnya di lain waktu. Bahkan, bukan tidak mungkin kesaktianku mentok di tahap ketujuh seumur hidup. 

“Humph! Siapa takut!” Aku mendengus keras.

Kemudian dengan cepat aku segera mengeluarkan dua butir pil yang menurut Unggul sangat berkhasiat membantu meningkatkan tenaga dalam. Setelah menatap pil ini sebentar, aku langsung menelan keduanya secara bersamaan. Lalu bersamaan dengan itu aku mensirkulasikan jurus iblis darah untuk mendapatkan efek penyembuhan instant. 

Boom! 

Serasa ada sebuah ledakan dahsyat dari dalam tubuhku, dengan mata terbelalak aku segera menarik nafas panjang dan mengatur aliran tenaga dalamku. Aku dapat merasakan darah tipis mengalir keluar dari tujuh lubang ditubuhku, kedua telinga, kedua mata, kedua lubang hidung, dan mulut. Rasa sakit menyelimuti tubuhku, seluruh pori-poriku seperti ditusuk ribuan jarum.

“Aaaarrrghhh.…….” 

Sambil berteriak keras, aku memusatkan seluruh kekuatan yang hampir membuat tubuhku meledak itu menuju satu titik, pembuluh energi kedelapan! Namun ternyata membuka titik itu tidak semudah yang kubayangkan. Bahkan dengan bantuan dua butir pil aku masih belum berhasil menembusnya. Mungkin karena rasa sakit tak terbayangkan yang menjalar disekujur tubuhku, otakku jadi tak bisa berpikir jernih hingga aku berlaku nekat. Tanganku bergerak kembali mengeluarkan pil, kali ini tiga butir! Tanpa buang waktu, aku segera menelan ketiga pil itu sekaligus!

“BUKAAAAAAA!!”

Aku menjerit sejadi-jadinya sambil mengalirkan semua tenaga dalam dan energi yang berasal dari darah merah kehitaman maupun dari pil-pil yang kutelan ke titik pembuluh energi murni kedelapan. 

Krak! 

Suara imajiner terdengar jelas di otakku ketika akhirnya pembuluh energi kedelapan dalam tubuhku terbuka. Sontak semua energi mengalir deras ke pembuluh energi tersebut dan membuatku mendadak lemas.

“Berhasil.… Aku berhasil, aku telah menembus tahap penyerapan energi tingkat kedelapan...” 

Tanpa dapat kukendalikan, tawa kecil mulai terdengar dari mulutku, dan lama-kelamaan tawa itu semakin membesar menjadi terbahak-bahak. Tapi mungkin karena aku sudah sangat kelelahan, mendadak pandanganku kabur dan menjadi gelap saat aku tengah tertawa. 

Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi kurasa tidak sampai satu hari. Karena sisa-sisa darah yang keluar dari tubuhku saat berusaha menembus tahap penyerapan energi tingkat ketujuh masih belum mengering. Dengan susah payah, aku kembali bangkit dan langsung duduk bersila sambil memejamkan mata. 

Aku segera mensirkulasikan tenaga dalam dan memeriksa seluruh bagian tubuhku, memastikan tidak ada luka dalam yang fatal saat aku nekat menembus penyerapan energi tahap kedelapan tadi. Setelah beberapa saat, aku kembali membuka mata dan menyeringai tipis. 

“Tidak ada luka dalam yang signifikan pada tubuhku, sepertinya efek penyembuhan jurus iblis darah berhasil melindungiku dari ledakan energi murni saat menembus pembuluh energi kedelapan. Benar-benar jurus yang luar biasa...”

Setelah bersila beberapa jam untuk menstabilkan tahap penyerapan energi tingkat kedelapan, aku bangkit berdiri dan langsung memutar tubuh menghadap arah yang ditunjuk oleh makhluk kurus sebelumnya. 

“Kurasa sekarang saatnya aku memenuhi undangan itu.…” gumamku sambil melangkahkan kaki menuju lorong tak terpetakan.