Episode 19 - Sembilan Belas


Dika melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua. Namun, ia tidak pergi ke kelasnya, melainkan menuju kelas XI Sos 4. Ia berpura-pura lewat sembari mengintip ke dalamnya. Kelas itu kosong. Memang kebanyakan murid-murid lebih senang menonton pertandingan futsal di lapangan, atau tidak berangkat sekolah sama sekali karena sudah tidak ada kegiatan belajar.

Dika memutar balik lalu kembali turun ke lantai satu. Ia meneruskan langkahnya menuju perpustakaan. Ia yakin Darra ada di sana. Gadis itu tidak suka keramaian, jadi tidak mungkin dia berada di lapangan. Kalau tidak ada di sana, berarti Darra tidak berangkat sekolah.

Itu dia. Dika menghampiri meja di sudut ruangan. Gadis itu sudah tidak terlihat kaget dengan kedatangan Dika.

“Kemarin Agung nyariin kamu,” kata Dika sambil duduk di hadapan Darra.

“Aku belum ketemu dia hari ini,” kata Darra. “Kamu lihat dia, nggak?”

“Agung hari ini nggak masuk. Ada urusan sama ibunya,” jawab Dika. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku nggak enak, kemarin dia ngajak pulang bareng, tapi aku nggak bisa.”

“Jadi kemarin kamu nggaj jadi pulang bareng Agung?”

Darra menggeleng. “Aku pulang duluan. Makanya aku nggak enak karena nggak bilang.”

“Nggak apa-apa. Pasti dia ngerti, kok.”

Darra terlihat berpikir sebentar. “Ka, kamu ngerti soal HP, kan?”

Dika mengangguk. “Kenapa?”

“Kemarin aku baru ganti HP. Tapi aku nggak ngerti cara pakainya.”

“Kamu bawa HP-nya?”

Darra mengangguk. Ia mengaduk-ngaduk tasnya kemudian mengeluarkan smartphone dari dalamnya. “Kontak dari kartu aku nggak muncul di buku teleponnya. Jadi aku bingung cara pakainya,” kata Darra sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dika.

Dika tersenyum dengan kepolosan Darra. “Gini aja. HP kamu nanti aku bawa pulang, ya. Nanti aku pasangin aplikasi, terus aku ajarin cara pakainya.”

“Tapi kayaknya besok aku nggak berangkat,” kata Darra. “Aku males, nggak ngapa-ngapain di sekolah.”

Dika berpikir sebentar. “Ya udah, besok aku anterin ke rumah kamu. Kita ketemuan di taman dekat rumah kamu aja,” tambah Dika buru-buru begitu melihat Darra hendak protes.

“Jam berapa?” tanya Darra.

“Ya, terserah kamu bisanya jam berapa.”

“Kalo HP-nya dibawa kamu, aku mau ngabarin kamunya gimana?”

“Ya udah, kamu bawa HP aku aja.”

Dika merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Darra.

“Nggak apa-apa nih, aku pakai HP kamu?” tanya Darra ragu. “Nanti kalo ada yang hubungin kamu, gimana?”

“Nggak ada yang hubungin aku, kok. Kalo mama aku yang telepon, kamu angkat aja.”

Darra menerima ponsel Dika dengan wajah tersipu. “Oke.”

~***~

Malam itu Dika duduk di depan komputernya dengan monitor yang menunjukkan sebuah folder berisi bermacam-macam aplikasi. Sambil menunggu ponsel Darra menyala, Dika memilih-milih aplikasi yang kira-kira cocok untuk Darra.

Ketika sedang melihat-lihat, tiba-tiba ponsel Darra berbunyi terus-menerus. Dika memeriksa ponsel itu. Rupanya pesan-pesan yang selama ini tertunda karena nomor Darra mati, mulai masuk tanpa henti. Kebanyakan pesannya dari Agung. Mau tidak mau Dika penasaran untuk melihat isinya. Tiga di antaranya adalah dikirim kemarin.

“Kamu di mana? Aku nyariin kamu kemana-mana.”

“Kamu udah pulang? Aku tunggu kamu di taman dekat rumah, ya. Kalo kamu baca pesan aku, cepat datang ke sini.”

“Kamu tega. Aku nungguin sampe sore. Aku tahu HP kamu rusak. Tapi kalo nanti kamu udah bisa terima pesan aku, kabarin aku ya. Ada yang mau aku omongin sama kamu. Penting.”

Sebenarnya Dika merasa tidak enak karena mengintip pesan milik orang lain seperti ini. Tapi biar bagaimana pun, dia harus menjaga miliknya, kan?

~***~

Siang itu Darra sedang mencuci piring ketika ponsel Dika di sakunya bergetar. Nama ANDARRA tertera di sana. Darra mengerenyitkan dahi. Padahal tidak ada pulsa di nomornya. Kenapa Dika bisa menelepon? Darra mengeringkan tangannya lalu menjawab teleponnya.

“Halo?”

“An, kamu lagi apa? Masih sibuk?” tanya Dika dari seberang.

“Nggak, kok. Kenapa? HP-nya udah selesai?”

“Iya. Aku udah bisa ke sana?”

“Bisa. Ya udah, aku tunggu, ya.”

Darra menutup teleponnya. Ia bergegas menyelesaikan pekerjaannya lalu buru-buru kembali ke ruangannya untuk berganti pakaian. Untunglah Aline sudah pergi setelah makan siang tadi. Ia senang Darra tidak berangkat sekolah. Karena itu artinya Darra tidak punya alasan untuk menunda-nunda pekerjaannya.

Darra pergi ke taman di dekat rumahnya. Cuaca agak mendung hari itu. Darra berharap tidak turun hujan, walaupun ia sudah membawa payung. Rupanya setelah hampir lima belas menit menunggu, hujan benar-benar turun. Darra berteduh di bawah salah satu shelter lalu duduk di sana. Ia cemas memikirkan Dika. Bagaimana kalau Dika kehujanan? Darra ingin menghubunginya, namun ia takut Dika sedang dalam perjalanan. Jadi Darra hanya menunggu sambil terus menerus melongok ke arah jalan.

Tak lama kemudian terlihat sebuah motor mendekat kemudian berhenti dan memarkir motornya di samping shelter tempat Darra berteduh. Karena pengendaranya mengenakan helm dan jas hujan, Darra tidak berani memastikan jika itu Dika.

“An.”

Darra menoleh dan melihat pengendara motor tadi menghampirinya lalu melepas tudung jas hujannya. Ada perasaan senang saat Darra melihat Dika, namun ia menahannya.

“Kenapa kamu nggak tunggu hujannya berhenti aja?” tanya Darra sambil memperhatikan Dika melepas jas hujannya.

“Aku kan bawa jas hujan. Lagian aku nggak mau kamu nunggu kelamaan,” jawab Dika. Setelah menggantung jas hujannya di pinggiran pagar yang berada di dekat shelter, ia duduk di sebelah Darra. “Kamu buru-buru, nggak?”

Darra memandang Dika dengan bingung. “Hm?”

“Maksud aku, nanti kamu dicariin Tante kamu, nggak?”

Darra langsung menggeleng. “Nggak. Dia lagi pergi.”

Dika mengeluarkan ponsel Darra dari tasnya. “Ini. Aku udah bikinin email, udah instal beberapa aplikasi, sama nyalin daftar kontak kamu ke email supaya nggak hilang kalau kamu ganti HP,” tutur Dika sambil menunjukkan ponsel Darra. “Aku juga kasih kartu memori dan udah diisi lagu-lagu. Aku sih nggak tahu kamu suka lagu kayak apa. Biar kamu nggak bosan aja.”

Dika menyerahkan ponsel Darra lalu mengajari cara memakainya. Darra melirik Dika yang jaraknya hanya beberapa senti darinya. Ia merasa gugup, mereka belum pernah sedekat ini. Bahkan lengan mereka bersentuhan. Darra berdehem lalu menegakkan tubuhnya. Dika memandangnya dengan bingung.

“Oh, maaf,” ucap Dika sambil menjaga jaraknya dengan Darra.

“Nggak apa-apa,” gumam Darra. Kemudian ia teringat sesuatu. “Ah, iya. HP kamu.”

Darra merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponsel Dika dan mengembalikannya.

“Nggak ada yang nelpon aku, kan?” tanya Dika.

“Nggak ada, sih. Tapi ada SMS berapa kali,” jawab Darra. “Oh, iya. Kok kamu bisa telepon dari nomor aku?”

“Oh, itu. Aku udah isi pulsanya kemarin, terus udah aku daftarin paket internet. Jadi nanti kalo paketnya udah habis bisa langsung perpanjang tanpa perlu daftar lagi,” jawab Dika. Ia memeriksa ponselnya. Wajahnya sempat berubah sesaat sebelum akhirnya ia menyimpannya ke dalam tas.

“Makasih.”

“Besok kamu sekolah?” tanya Dika. Darra menggeleng. “Besok jalan-jalan, yuk. Mau? Kamu bawa baju ganti aja dari rumah. Nanti aku jemput di sini.”

“Jalan-jalan ke mana?” tanya Darra. Ia berusaha agar suaranya tidak terdengar terlalu bersemangat.

Dika berpikir sebentar. “Umm... karena kemarin kita nggak jadi ke Ragunan, jadi kalo kita ke sana aja, gimana?”

Darra mengangguk. Setelah itu mereka masih mengobrol selama beberapa saat. Namun entah mengapa Dika berkali-kali melihat jam di tangannya lalu menoleh ke arah jalan. Darra penasaran melihatnya.

“Kenapa? Kamu kok gelisah banget?” tanya Darra.

“Nggak apa-apa,” jawab Dika, terdengar gugup. “Umm... aku pulang aja, deh. Udah sore, kalo tante kamu keburu pulang, nanti kamu dimarahin.”

Darra mengangguk-ngangguk. “Oke.”

Dika bangkit lalu mengambil jas hujannya. Ia kembali menoleh ke arah jalan, kemudian wajahnya terlihat lebih gugup dari sebelumnya. Karena penasaran, Darra ikut melongok ke arah jalan. Walaupun tidak terlalu berguna juga, karena pandangannya terhalang oleh hujan yang cukup lebat.

“An, bisa tolong aku?” tanya Dika tiba-tiba, mengagetkan Darra.

“Ya?”

“Tolong pakein tudungnya.”

Darra bangkit lalu menghampiri Dika yang sedang memasukkan lengannya ke dalam jas hujannya. Setelah itu Dika memasang kancing jas hujannya. Karena Dika lebih tinggi dari Darra, jadi ia sedikit menunduk agar Darra bisa mencapai ke belakang kepalanya.

“Hujannya masih deras,” gumam Darra sambil berjingkat di depan Dika, meraih tudung jas hujannya. “Padahal kalo mau nunggu sampai reda juga nggak apa-apa.”

Darra memakaikan tudung jas hujan ke kepala Dika. Tiba-tiba Dika memiringkan kepalanya dan mencium pipi Darra. Darra yang terkejut hanya bisa menatapnya dengan kedua tangannya masih memegang tudung.

“Makasih,” kata Dika sambil tersenyum.

Darra melepaskan tangannya. Ia hanya menunduk tanpa menjawab.

“An? Kenapa? Kamu marah?” tanya Dika.

Darra menggeleng.

“Terus kenapa kamu diam aja? Aku kan jadi nggak enak.”

Darra kembali menggeleng.

“Ya udah, aku pulang ya. Nanti aku telepon.”

Dika mengusap kepala Darra sebelum akhirnya memakai helmnya lalu berbalik menuju motornya. Ia melambaikan tangan ke arah Darra kemudian melajukan motornya, meninggalkan Darra yang masih termangu sendirian.

Darra memegang pipinya. Belum pernah ada laki-laki yang menciumnya—selain adik-adiknya di panti asuhan, tentunya. Ia belum pernah dekat atau berhubungan dengan cowok manapun. Jadi seperti inikah pacaran? Seperti yang selama ini hanya dia lihat di televisi atau di novel teenlit yang dibacanya di perpustakaan? Darra tidak pernah membayangkan dia akan mengalaminya sendiri. Dengan cowok yang cukup terkenal, dan menurut Darra paling ramah di sekolahnya.

Darra mengusap wajahnya sendiri lalu menutupnya dengan kedua tangan. Wajahnya pasti merah sekali sekarang. Dadanya masih berdebar-debar. Ia ingin sekali tersenyum di balik tangannya. Namun, ia takut ada yang melihatnya dan menganggapnya aneh.

Akhirnya Darra melepaskan tangannya dari wajahnya. Ia menghela napas lalu memandang berkeliling, memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Setelah itu ia membuka payungnya dan melangkah pulang ke rumah. Sepanjang hari itu ia tidak bisa berhenti memikirkan Dika. Untunglah Aline tidak pulang malam itu. Darra bisa tidur dengan nyenyak dan tidak sabar menunggu hari esok.