Episode 249 - Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara



“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!” 

Sebuah formasi segel berbentuk limas dengan dasar persegi membangun wujud. Merangkai dengan sangat cepat. Dimulai dari bagian paling dasar, yang mana terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, lalu membangun naik ke tiga pelataran melingkar. Pada permukaan dinding-dindingnya, dihiasi pula dengan panel-panel ukiran dan arca yang teramat rinci. Terakhir, adalah sebuah stupa utama sebagai yang terbesar dan teletak di tengah, sekaligus memahkotai struktur bangunan tersebut. 

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, maka akan terlihat arca-arca tokoh mulia yang sedang duduk bersila di dalam posisi teratai sempurna. Arca-arca tersebut sedang menerapkan mudra (sikap tangan) yang dikenal sebagai dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Bangunan ini sesungguhnya merupakan monumen yang diperuntukkan sebagai model nan mewakili alam semesta, serta dibangun sebagai tempat suci. Ia juga berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju kebijaksanaan melalui pencerahan. Di Kamulan Bhumisambhara, manusia dibekali pengetahuan akan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah pelepasan perkara duniawi), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). 

Sungguh mencerminkan sebuah monumen nan agung. Kendatipun demikian, Kamulan Bhumisambhara yang saat ini sedang mengemuka merupakan semacam replika yang tersusun dari formasi segel semi transparan. Bangunan Kamulan Bhumisambhara yang asli, pada kenyataan telah hancur berkeping menjadi puing-puing nan melayang tinggi di atas Ibukota Minangga Tamwan. Ukuran formasi segel ini pun tidaklah sama sebagaimana aslinya, paling besar hanya berukuran seperempat sahaja, yaitu dengan luas dasar sekira tiga puluh meter persegi serta tinggi sekira sepuluh meter. 

Sebuah pedang raksasa nan bersinar terang, yang juga merupakan perwujudan dari formasi segel, terpental keras. Hak tersebut terjadi seketika ia bersentuhan dengan permukaan formasi segel nan berwujud struktur bangunan agung dimaksud. 

“Bangsat!” 

Seorang lelaki berusia setengah baya menghardik saat serangan yang ia luncurkan seolah berbenturan dengan tembok kokoh nan tiada dapat didobrak. Wajahnya demikian bengis, namun seketika kemudian memucat. Tiada pernah terbayangkan sepanjang sisa hayatnya, bahwa telah tiba hari di mana ia bersua kembali dengan momok yang senantiasa menghantui di masa muda. Ia mengetahui betul, bahwa sebuah formasi segel pertahanan terkuat di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bahkan di seantero Negeri Dua Samudera, telah kembali mengemuka!

Sang perapal, kini melayang ringan di pusat formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Raut wajahnya setenang air danau di kala musim kemarau. Sorot matanya terpusat dan tiada akan bergeming. Ia merupakan seorang lelaki yang berpenampilan dewasa muda, mengenakan pakaian demikian rapi bahkan tak terlihat satu kedutan pun, serta menyibak aura nan terpelajar. 

Turut melayang di samping si lelaki dewasa muda, juga berada di dalam naungan formasi segel pertahanan nan agung itu, adalah seorang perempuan berusia setengah baya dengan penampilan sangatlah sederhana. Balaputera Sukma tiada tahu harus berkata atau bertindak apa. Walau lebih kecil ukurannya, perempuan setengah baya itu mengenal betul formasi segel yang saat ini mengemuka. Asli adanya! 

Raut wajah Balaputera Sukma menunjukkan perasaan di antara suka, serta duka. Suka, karena tiada pernah ia menyangka bahwa jurus formasi segel yang merupakan andalan dan biasa dikerahkan oleh suaminya, Balaputera Dharanindra, menurun ke sang cucu, Balaputera Lintara. Duka, karena formasi segel ini mengingatkan pada kenyataan pahit bahwa Balaputera Dharanindara sang suami, sudah tiada lagi berada di dunia fana. 

“Cucuku Lintara…,” bisik Balaputera Sukma. “Terima kasih…” Air mata mulai membasahi kedua belah pipi sang nenek. 

“Oh…Nenek Sukma,” jawab Lintang Tenggara penuh perhatian. “Adalah kewajiban bagi diriku untuk melindungi dan menyelamatkan Nenek Sukma.” 

“Balaputera Lintara!” hardik Balaputera Tarukma di kejauhan. Ia yang sebelumnya telah memutuskan untuk menghabisi kedua ahli, kini dibuat tiada berdaya. “Darimana kau pelajari Kamulan Bhumisambhara!? Sejak kapan!? Hah!?”

“Sungguh aku tiada berkewajiban memberi jawaban. Akan tetapi, dikarenakan hatiku sedang senang menyaksikan raut wajah nan demikian menyedihkan, maka akan kuberitahu…,” gelak Lintang Tenggara yang saat ini berada di atas angin.

“Bangsat!” 

“Aku mendapat panduan dari seorang guru, serta melakukan penelitian nan teramat panjang…”

“Cih! Balaputera Wrendaha si keparat,” maki Balaputera Tarukma yang langsung dapat menjalin benang merah. “Selama ratusan tahun ia bersandiwara. Seharusnya sudah kucabut saja nyawanya sedari dulu!”

“Menyerahlah…,” ejek Lintang Tenggara.  

Balaputera Tarukma hanya mendengus. Tak sudi ia disepelekan oleh ahli yang hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 9. Perbedaan di antara mereka terpaut satu kasta penuh, antara Kasta Perak dengan Kasta Bumi. Kendatipun demikian, kedigdayaan Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara, seolah mampu memupus jurang pemisah nan demikian lebar. 

Lelaki setengah baya itu kemudian melesat turun ke sebuah bukit, di mana sebelumnya ia merapal formasi segel pembuka untuk keluar dari dimensi ruang tersebut. Tak lama lagi formasi segel yang merangkai secara mandiri itu akan rampung adanya. 

“Cih!” Lintang Tenggara terlihat sebal. Kata-kata pancingan yang ia lontarkan tiada membuahkan hasil. 

“Terlalu cepat lima ratus tahun untuk engkau dapat mengelabui aku…,” cibir sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu. “Kamulan Bhumisambhara yang dapat engkau rapal belum sempurna. Ukurannya hanya seperempat dari yang asli, dan engkau hanya dapat mengerahkan sebagai formasi segel pertahanan.”

Lintang Tenggara menyadari betul kelemahan dari formasi Segel Darah Syailendra yang sedang ia rapal itu. Walau terlampau sulit diakui, kata-kata Balaputera Tarukma adalah sepenuhnya benar. 

Awalnya, dengan merapal jurus simpanan ini, Lintang Tenggara berharap bahwa Balaputera Tarukma akan naik pitam dan tergores harga dirinya. Bilamana hal tersebut tercapai, diharapkan bahwa Datu Tua dari Kadatuan Kesatu itu akan terus-menerus menyerang tanpa henti, dengan tujuan meruntuhkan Kamulan Bhumisambahra. Lintang Tenggara berharap bahwa lawannya akan menghabiskan banyak tenagada dalam sehingga melemah dengan sendirinya.  

Akan tetapi, kini Lintang Tenggara menyadari bahwa Balaputera Tarukma bukankah sosok yang gegabah dan gelap mata sebagaimana ratusan tahun lalu. Bertumbuhnya usia, tentu akan seiringa dengan pertumbuhan kebijaksanaan dalam menilai peristiwa di hadapan mata. 

“Apakah ini kali pertama dikau merapal Segel Darah Syailendra ini?” tetiba Balaputera Sukma berujar ringan. 

“Tidak. Sudah beberapa kali…”

“Dalam rentang waktu berapa lama untuk setiap rapalan…?”

“Di saat berada pada Kasta Perak Tingkat 1, sekira sepuluh menit.” Lintang Tenggara berhitung cepat. “Namun kini, dengan Kasta Perak Tingkat 9, diriku yakin dapat terus merapal sampai sekira satu jam sebelum kehabisan tenaga dalam.”

“Apakah dikau mengetahui bahwa Segel Darah Syailendra ini melindungi terhadap serangan dari sisi luar, namun sesiapa yang berada di dalamnya dapat melancarkan serangan dari dalam?” 

Lintang Tenggara mengangguk cepat. Tentu ia menyadari bahwasanya keunggulan Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara, adalah sebagaimana disampaikan oleh Nenek Sukma. Akan tetapi, dengan tingkat kemahirannya saat ini, Lintang Tenggara hanya mampu bertahan. Ia belum dapat melakukan serangan karena hal tersebut berarti memecah pemusatan perhatian. 

Di saat yang sama, Balaputera Sukma melangkah maju. Tak ada keraguan dari sorot matanya. Perempuan setengah baya itu tak hendak lagi kehilangan anggota keluarga yang disebabkan oleh kakak kandungnya itu. Dengan demikian, ia akan bertarungan dengan sepenuh hati. 

Balaputera Tarukma, di lain pihak, menggeretakkan gigi. Sepenuhnya ia sadari bahwasanya Balaputera Sukma akan melancarkan serangan dari balik formasi segel pertahanan nan maha digdaya. Hal tersebut akan menjadikan sebuah pertaruangn yang berat sebelah. Siapa dapat menyangka bilamana kehadiran tokoh lemah seperti Balaputera Lintara dapat mengacaukan neraca kekuatan sampai sejauh ini. Di saat yang sama, setidaknya masih diperlukan beberapa jam lagi bagi formasi segel untuk membuat lorong dimensi keluar rampung. Sebelum itu, ia terpaksa bertahan! 


===


“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara.” 

Melayang tinggi di atas lautan, sebuah formasi segel berbentuk limas dengan dasar persegi membangun wujud. Merangkai dengan teramat cepat, bahkan lebih cepat dari satu kedipan kelopak mata. Dimulai dari bagian paling dasar, yang mana terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, lalu membangun naik ke tiga pelataran melingkar. Pada permukaan dinding-dindingnya, dihiasi pula dengan panel-panel ukiran dan arca yang teramat rinci. Terakhir, adalah sebuah stupa utama sebagai yang terbesar dan teletak di tengah, sekaligus memahkotai struktur bangunan tersebut. 

Yang menarik perhatian, adalah ukuran formasi segel kali ini adalah persis serupa sama dengan struktur Kamulan Bhumisambhara yang asli. Dengan kata lain, luas dasarnya adalah 123 meter persegi dengan tinggi mencapai 42 meter. 

Formasi segel ini mengemuka bukan tanpa sebab. Jauh tinggi di atas langit, sebuah lorong dimensi ruang telah membuka. Gelap, serta luas sekali lubang itu. Hawa membunuh menyibak teramat kental dari balik sana. Hawa membunuh yang bahkan dapat mencabut nyawa makhluk hidup, bilamana tak cukup kuat bertahan memanfaatkan kemampuan mata hati. 

Berpasang-pasang mata nan bersinar layaknya milik makhluk buas, berlindung di balik kegelapan. Mereka menunggu kesempatan terbaik, sebelum melesat keluar! 

Tetiba, kegelapan malam dirompak habis. Dimulai dari hanya beberapa, lalu bertambah jumlahnya menjadi ratusan. Batu-batu besar yang menyala api layaknya meteor, berjatuhan dari dalam lorong dimensi ruang yang telah membuka itu. Ukuran setiap satunya tak lebih kecil dari kereta pedati. 

Ratusan jumlah meteor-meteor tersebut menghujani formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Meskipun demikian, tak satu pun bongkahan batu berapi yang berhasil menembus, bahkan sebagian besarnya terpental kembali ke atas. Tabrakan di antara bola-bola api tak terelakkan, sehingga menciptakan ledakan-ledakan yang sambung-menyambung nan membahana! 

Menanggapi kemelut yang demikian sengit, ombak lautan di bawah sana berdebur keras. Pecahan air saling menghempas lalu membumbung, sebelum sirna dibawa angin. Suara-suara berdesir kemudian terdengar nyaring di kala sejumlah meteor yang terpental terjatuh ke lautan. Uap panas tercipta seketika, lalu membaur bersama kesejukan angin malam. 

“Balaputera…” Seekor binatang siluman dengan suara melengking menyapa gelisah. “Ragrawira…” Ia berdiri melayang di pusat formasi segel bersama dengan sang perapal. 

“Kau tahu… diriku jarang sekali menyebut namamu secara lengkap…” Si Kancil memulai ocehan. “Akan tetapi, hawa membunuh dari apa pun itu yang berada di balik sana… sungguh teramat mengerikan…” 

Balaputera Ragrawira hanya diam. Tentu bukan karena kata-kata kurang berhubungan yang dilontarkan oleh Si Kancil. Seperti biasa, tokoh yang satu terlihat kelelahan. Lelah sekali. Apalagi, kini diketahui bahwa ia sedang merapal jurus yang tak diragukan lagi kemahadigdayaannya. 

“Mengingatkanku akan sebuah ceritera…” Si Kancil pun terpancing untuk memulai akan sebuah dongeng, kendati hanya memiliki seorang pendengar, dan tiada pula diminta. “Puluhan ribu tahun lalu, di dunia antah berantah di mana entah, hiduplah seorang maharaja. Ia merupakan penguasa yang adil lagi bijaksana.”

Balaputera Ragrawira mengangkat kedua belah lengan tinggi, ibarat hendak menyegel lagit. Sambil menahan gempuran demi gempuran yang datang dari atas, ia kemudian merapal formasi segel yang berbeda lagi. Upaya yang ia lakukan meski terlihat berat adanya, namun dilakukan dengan sangat fasih. Tiada sedikit pun terlihat kecanggungan dari setiap gerak-gerik lelaki dewasa itu. 

“Rakyat di kemaharajaan yang beliau pimpin hidup makmur lagi sejahtera…,” sambung Si Kancil.

Lorong dimensi ruang yang membuka besar di atas langit, perlahan mulai mengecil. Atas kejadian tersebut, meteor-meteor yang berjatuhan pun semakin berkurang banyaknya. Sejumlah pasang mata yang mengamati dari balik lorong dimensi nan gelap, pun mulai menarik diri. 

“Rakyat yang beliau pimpin tak hanya terdiri dari umat manusia dan kaum siluman, namun juga… bangsa iblis.”


===


Di suatu tempat... 

Nun jauh dari dunia paralel Minangga Tamwan dan Negeri Dua Samudera. Sebuah gurun luas menghampar. Angin bertiup naik dan turun, mengubah bentangan pasir gurun saban hari. Melewati wilayah gurun, di mana pusaran angin bertemu dan menyebabkan badai, halilintar bergemeretak dan memangsa apa pun yang masuk ke wilayah tersebut. 

Di balik badai pasir gurun, bayangan-bayangan besar menaungi daratan. Adalah patung-patung batu nan maha besar tersusun berjajar, yang mana tinggi setiap satunya seolah menyentuh awan. Sulit menghitung jumlah patung secara akurat, karena pandangan disamarkan oleh peristiwa alam nan pelik.

“Krak!” 

Wajah sebuah patung tetiba meretak! Dari celah yang baru tercipta pada patung tersebut, udara nan lembab dan pengap merembes keluar. Di saat yang sama pula, semilir angin membawa suara nan sayup…

“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara…”