Episode 248 - K.B.



Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita, dua gadis belia, melenggok beriringan. Dua pasang payudara berguncang naik lalu turun di kala keduanya melompat dan memadu serangan. Tak ada keraguan dari gerak tubuh mereka, padahal adalah makhluk nan mengerikan yang menjadi lawan bagi kedua gadis belia itu. 

Bintang Tenggara, tanpa pikir panjang, ikut merangsek maju. Mana mungkin bagi dirinya membiarkan dua gadis tersebut mengumpankan diri ke hadapan musuh begitu saja. Langkah pertama yang ditempuh, tentu saja memungut kembali Tempuling Raja Naga yang tergeletak di salah satu sisi pilar nan bercahaya gemilang. 

Selepas memungut senjata pusaka miliknya, Bintang Tenggara sempat mendongak. Di saat itulah ia mendapati bahwa tepat di hadapan, adalah Ayahanda Sulung Rudra yang sedang menatap ke arah dirinya dari balik pilar nan membumbung tinggi serta bercahaya gemilang. 

“Ayahanda Sulung…,” sapa Bintang Tenggara. “Apakah maksud dan tujuan dari Tantangan Ketiga ini…?”

Sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan menjawab dengan sebentuk senyum ringan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tak ada kekhawatiran bahwa si iblis akan melahap keenam remaja. Tenang. 

“Akh!” 

Rintih kesakitan yang datang dari salah seorang gadis memaksa Bintang Tenggara memutar tubuh dan melesat pergi. Ia memendam seberkas kekecewaan terhadap sang Datu Besar Kadatuan Kesembilan yang terlihat tiada peduli akan nasib para remaja. 

Sembari bergerak cepat, Bintang Tenggara menyapu pandang. Ia mendapati bahwa Balaputera Dirgaha, Balaputera Vikrama serta Balaputera Naga sedang duduk bersila. Dengan teknik mereka masing-masing, ketiganya sedang menyerap tenaga alam demi mengisi mustika tenaga dalam. Tentu proses tersebut tiada akan berlangsung cepat. Bahkan dengan bantuan pil Cakra Raga yang dapat mengisi mustika tenaga dalam dan mempercepat penyembuhan luka ringan, tetap tak akan banyak membantu. 

Dalam waktu dekat ini, ketiga remaja tersebut tiada mungkin dapat melanjutkan pertarungan! 

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita terpental jauh di kala menagkis tebasan cakar-cakar nan tajam. Saat sang iblis hendak mengejar dengan niat menghabisi, dari arah yang berlwanan Bintang Tenggara melesat di antara kedua gadis. Ia menghunus, lalu menikamkan Tempuling Raja Naga!

Si iblis, memandang rendah si anak remaja bersama senjata pusakanya, hanya menepis dengan sebelah lengan. 

“Duak!” 

Si iblis terdorong jauh ke belakang. Ia tiada menduga akan kekuatan tikaman yang datang dari anak remaja, karena ditopang oleh Gerakan Ketiga dari Pencak Laksamana Laut. Sebagai catatan, jika hanya jurus Pencak Laksama Laut, memanglah kurang mumpuni pada kesempatan ini. Akan tetapi, andai saja tadi si iblis memperhatikan dengan lebih seksama, maka ia akan mendapati sebuah formasi segel semi transparan berwujud kereta kencana yang mana membungkus tubuh Bintang Tenggara. 

Adalah Balaputera Citaseraya yang merapal formasi Segel Syailendra ini di saat ia terdorong mundur. Dengan kata lain, setelah memperoleh kekuatan dan kecepatan yang berlipat ganda dari jurus persilatan, Bintang Tenggara juga memperoleh dukungan tambahan yang melipatgandakan lagi kecepatan dan kekuatan sebelumnya! 

Tak hendak melonggarkan serangan, Super Murid Komodo Nagaradja menebar Segel Penempatan. Ia melenting-lenting ibarat berlari tangkas di udara, lalu melepaskan tikaman demi tikaman. Setiap satu serangan dapat ditangkis atau ditahan. Akan tetapi, perlahan namun pasti, sang iblis mulai terdorong mundur.  

“Brak!”

Ekor nan besar tetiba menyapu tubuh Bintang Tenggara yang sedang berada di atas angin. Anak remaja tersebut lengah, karena terlalu terpusat dalam menyerang. Bagaimana tidak, kesempatan menekan yang diperoleh memang tiada dapat disia-siakan.

Bintang Tenggara terpental. Bahu kanan, walau telah dibungkus oleh Sisik Raja Naga, terasa nyeri bukan kepalang. Tak terbayang bilamana ia tiada mengenakan perisai yang mampu meredam getaran tersebut. 

Belum sempat mendarat, tetiba si iblis, yang menggunakan teleportasi jarak menengah, telah tiba tepat di belakang tubuh si anak remaja. Sebuah tendangan keras bersiap menyambut, akan tetapi Bintang Tenggara cukup waspada untuk memutar tubuh dan memasang Tempuling Raja Naga di depan dada. 

Di kejauhan, Bintang Tenggara mendarat, lalu memuntahkan darah. Meski sempat menahan tendangan, lengannya tak cukup kuat meredam kekuatan yang mengalir. Tempuling Raja Naga menghimpit dada, dan getaran yang terima seolah memindahkan posisi organ dalam tubuh. 

Tenaga dalam hanya tersisa sekira sepuluh persen dan kini ia menderita cedera. Bintang Tenggara kembali menyapu pandang, ke arah kelima remaja lain demi memastikan bahwa setiap satu dari mereka berada di tempat yang aman. Tak dapat dipungkiri, si iblis dapat saja membantai mereka dengan mudah. Tetiba, Bintang Tenggara menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari posisi di mana kelima remaja tersebut berada.

Di lain sisi, si iblis terlihat senang. Sepertinya sangat ia menikmati perburuan ini. Bahkan, baginya pertarungan yang sedari tadi berlangsung hanyalah permainan belaka. Bisa saja ia menghabisi terlebih dahulu ketiga remaja yang sudah tak lagi dapat melanjutkan pertarungan, lalu membantai sisanya satu per satu. Akan tetapi, bukan tindakan seperti itu yang hendak ia tempuh. Keberadaan dirinya sebagai makhluk di puncak rantai makanan, menginginkan sesuatu yang lebih.

Bagi si iblis, akan terasa jauh lebih nikmat menciptakan kengerian dan ketidakberdayaan di dalam benak anak-anak manusia. Yang ia nantikan adalah munculnya perasaan putus asa. Keputusasaan merupakan sikap atau perilaku yang mencerminkan bahwa seseorang menemui kegagalan dan tidak akan mampu lagi berupaya untuk meraih suatu harapan atau cita-cita, serta tidak mau berusaha untuk melanjutkan apa yang hendak dicapai. Bilamana manusia telah kehilangan asa, kehilangan semangat hidup, maka mereka ibarat mati sebelum dicabut nyawanya. Kenikmatan memupuk keputusasaaan sungguh tiada tara kenikmatannya. 

Melahap daging, meminum darah dan menyerap mustika tenaga dalam manusia adalah semacam bonus setelah memberikan keputusasaan. Sungguh bangsa iblis makhluk nan teramat keji. 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Keputusasaan belum menghinggapi sorot kedua bola matanya. Sekali lagi menyapu pandang ke arah lima remaja lain, ia pun melompat maju! 

Si iblis, tentu menyadari bahwa bibit keputusasaan masih belum tertanam. Jadi, langkah selanjutnya adalah mencabik lengan dan kaki dari satu-satunya remaja yang masih cukup bersemangat itu. Pemandangan yang nantinya tercipta, tentu akan sangat mengerikan bagi yang lainnya. 

Masih menggunakan teleportasi jarak menengah, sang iblis tiba tepat di hadapan Bintang Tenggara! Ia mengayunkan lengan besar yang dilengkapi dengan cakar-cakar nan panjang lagi tajam!

Meski masih menggenggam Tempuling Raja Naga, Bintang Tenggara tetiba terlihat menendang sesuatu tepat di hadapannya. Bukan, bukan menendang… melainkan menjadikan Segel Penempatan sebagai tumpuan pijakan untuk melompat mundur!

Di kala tebasan cakar sang iblis menerpa angin, di saat yang sama pula, kelima remaja lain yang terlihat sedang merapal… 

“Segel Syailendra: Panca Penjuru!” 

Bintang Tenggara telah menyadari rencana kelima remaja ketika memastikan keadaan mereka. Saat itu ketahui bahwa posisi mereka berada telah membentuk lingkaran. Karena dirinya pun secara bersama-sama pernah merapal Segel Syailendra: Panca Penjuru, maka Bintang Tenggara segera menyadari akan rencana tersebut. 

Bintang Tenggara telah mendarat tepat di tengah-tengah kelima remaja. Sebuah kubah langsung membangun wujud beberapa langkah di hadapan mereka yang duduk melingkar dan terpaut jarak sekira sepuluh meter. Sebagaimana diketahui, Segel Syailendra: Panca Penjuru merupakan formasi segel pertahanan wilayah. 

Menyadari bahwa kelima remaja belum hendak menyerah, si iblis mendatangi dan memeriksa kubah formasi segel yang menaungi mereka. Ia mengayunkan lengan dan menebaskan cakar. Sebuah guratan tercipta pada formasi segel, namun segera permukaan kubah tersebut memperbaiki diri. 

Sang iblis melontar pandang, memeriksa keadaan sekeliling. Pandangan matanya tiada dapat menembus pilar dan dinding nan bercahaya gemilang. Ia tiada dapat melihat keberadaan sembilan Datu Besar di dalam setiap pilar. Akan tetapi, ia sepenuhnya menyadari bahwa ada ahli di luar sana yang merapal formasi segel tersebut. Baru sekarang pula ia bertanya di dalam hati… apakah gerangan maksud mereka membiarkan dirinya memangsa kelima anak manusia?

“Formasi segel ini tak akan bertahan lama,” rintih Balaputera Vikrama. 

“Hmph…” Balaputera Naga hanya mendengus. Menyadari bahwasanya Segel Darah Syailendra yang ia rapal masih terlalu rapuh, serta sisa tenaga dalam yang dimiliki hanya mampu untuk merapal formasi segel gabungan ini. 

Balaputera Dirgaha menghela napas panjang. Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita hanya terdiam. Mereka sempat menggantungkan harapan kepada Balaputera Gara, agar mampu merapal formasi Segel Darah Syailendra. Akan tetapi, sepertinya hal tersebut merupakan harapan nan terlalu muluk. Mereka yang terlahir dan besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang saja, belum mampu merapal formasi segel dimaksud. Bahkan Balaputera Vikrama yang terkenal akan kepintarannya, belum juga mampu. Balaputera Naga memang memiliki kepribadian yang tak biasa, namun Segel Darah Syailendra miliknya diketahui masih rapuh adanya. 

Apa yang dapat dilakukan selanjutnya? Formasi segel pertahanan yang dibangun dengan sisa-sisa tenaga dalam tiada akan bertahan lama…

Di kala kegelisahaan menjangkiti benak para remaja, Bintang Tenggara terpikir untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan yang terbuka. Apalagi kalau bukan demi memulihkan tenaga dalam. Ia pun membuka jurus penyerapan tenaga alam…

Tetiba, si iblis yang berada di luar formasi segel pertahan, tersentak! [Itu… Itu adalah jurus milik… Siapa anak manusia itu!?] 

Kelima remaja sontak menoleh ke arah si iblis yang terlihat meraung seolah kehilangan kendali. Bintang Tenggara, yang sedang berkonsentrasi menjaga perasaan di hati, tak terlalu ambil pusing. Masih ia terus menyerap tenaga alam guna diubah menjadi tenaga dalam…

“Crash!” 

Sang iblis mencabik-cabik formasi segel secara membabi-buta. Guratan-guratan tercipta lalu menutup. Akan tetapi, sejumlah guratan memerlukan waktu yang sedikit lebih lama dalam memperbaiki diri!

[Celaka! Celaka! Celaka!] Sang iblis yang sedari awal tenang-tenang saja, kini bahkan mulai terlihat panik. [Mengapa ada manusia yang dapat mengerahkan jurus itu!? Siapakah ia sesungguhnya!?]

Kelima remaja waspada. Raut wajah mereka berubah semakin cemas di kala menyaksikan makhluk nan sangat beringas. Tiada satu pun yang menyadari bahwa kepanikan sang iblis tak lain disebabkan oleh suatu jurus yang sedang Bintang Tenggara rapal. 

Seribu tahun lalu, di kala Negeri Dua Samudera dalam masa kejayaan, ditemukan sejumlah artefak misterius. Artefak-artefak tersebut tiada diketahui asal-muasalnya, namun diperkirakan memiliki kemampuan maha dahsyat. Ada artefak yang telah dimaklumi kegunaan serta cara menggunakannya, ada pula yang sangat membingungkan.

Salah satu dari artefak dimaksud, adalah sebuah gulungan naskah dari daun lontar. Sudah cukup banyak ahli yang mencoba mendalami, semuanya menemui kebuntuan. Komodo Nagaradja membawa gulungan naskah tersebut dengan harapan dapat membangun pemahaman dan menguasai jurus yang terkandung di dalamnya. Yang diketahui adalah naskah tersebut memuat jurus untuk menyerap tenaga alam. 

Pada akhirnya, adalah seorang anak remaja yang berhasil memperoleh pencerahan atas gulungan naskah tersebut, yang kemudian diketahui merupakan jurus Delapan Penjuru Mata Angin!

“Srek!” 

Tetiba cakar lengan kanan si iblis menusuk formasi segel. Ia lalu menggerakkan cakarnya ke arah bawah. Perlahan. Karena bahkan baginya, upaya tersebut tiada mudah dilakukan. Otot-otot nan besar mengencang, di kala ia menusukkan sebelah lengan lagi ke permukaan formasi segel. Kini, si iblis itu terlihat sedang menoreh lubang pada formasi segel. Atas perbuatan ini, bunyi yang ditimbulkan ibarat mengiris lapisan kaca dengan belati, berdecit ngilu bagi pendengaran.

Keenam remaja, termasuk Bintang Tenggara, merasakan hawa membunuh yang demikian dingin merasuk sampai ke dalam sumsum tulang belakang. Padahal, sebelum ini, hawa membunuh sang iblis tiada terlalu kentara. Apakah yang membuatnya demikian diliput amarah!?

“Gara!” Balaputera Naga menyergah, karena ia menyadari bahwa kemungkinan besar tenaga di dalam mustika bangsawan muda dari Kadatuan Kesembilan itu telah kembali terisi penuh. “Apakah kau masih mengingat formasi segel yang dirapal oleh Datu Besar Kadatuan Kesembilan sebelum ini!? Apakah kau masih mengingat formasi segel yang melayang di atas kepala kita!?”

Bintang Tenggara mengangguk sekenanya. Tatapan matanya masih terpaku kepada sang iblis, yang sebentar lagi mengoyak formasi segel pertahanan di hadapan. 

“Gabungkan! Ciptakan Segel Darah Syailendra!” perintah Balaputera Naga. Tak pelak lagi, yang sedang ia sampaikan adalah cara merapal jurus. 

Balaputera Naga kemudian melompat maju, disusul oleh Balaputera Vikrama dan Balaputera Dirgaha. Dengan sisa-sisa tenaga dalam yang ada, ketiganya berniat menahan masuknya sang iblis. 

Tunggu…, batin Bintang Tenggara. Benaknya berputar deras, sehingga menyadari bahwa masih ada unsur lain yang kurang bilamana mengacu kepada petunjuk Balaputera Naga. Unsur tersebut adalah… wujud. Bilamana nenek Sukma mewujudkan sangkar api dan Balaputera Naga mewujudkan naga Antaboga, maka wujud apa yang akan dirinya bangun dalam menyusun Segel Darah Syailendra…?

Di saat yang sama, si iblis menyeruak masuk ke dalam formasi segel. Terhadap ketiga remaja lelaki yang memang sudah sangat lemah, ia mengibaskan ekor nan besar. Walaupun diketahui kekuatan sejatinya tertahan oleh formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang, namun ia tetap memiliki kemampuan setara ahli Kasta Emas. Dalam sekali sapuan, ketiga remaja terjungkal jatuh. Bahkan, sejumlah tulang pada bagian tubuh yang terkena hantaman remuk seketika! 

Sang iblis tiada lagi bermain-main!

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita kembali melompat secara bersamaan. Dua pasang payudara berguncang lebih keras dibandingkan sebelumnya. Keteguhan hati mereka, sebaliknya, tiada dapat tergoyahkan!

Bintang Tenggara menatap lurus ke hadapan. Melewati pinggul ramping kedua gadis belia, melampuai si iblis yang melangkah maju, menerobos keluar dari formasi segel nan bercahaya gemilang. Pandangannya matanya terpaku pada reruntuhan dan puing-puing nan berserakan, yang melayang ringan di luar sana. 

Di saat itu pula, benak si anak remaja berkelana pada lembar-lembar kertas nan lusuh ‘pemberian’ Datu Besar dari Kadatuan Kedua. Gambar demi gambar pada setiap halamannya sudah terhapal di luar kepala. Perlahan, di dalam benak ia mencoba membangun sebuah struktur. 

“Kamadhatu merupakan alam bawah di mana dunia hasrat dan hawa nafsu berada. Rupadhatu adalah alam antara atau tengah, di mana hasrat dan nafsu dilepaskan. Arupadhatu adalah alam atas tempat para dewa…,” gumam Bintang Tenggara mengulang penjelasan sebagaimana pernah disampaikan oleh Nenek Sukma. 

Dua gadis belia bersimbah darah! Upaya mereka melindungi tubuh dari sepasang cakar nan besar tiada membuahkan hasil. Pundak Balaputera Citaseraya tertembus cakar, dan paha kanan Balaputera Sevita terpenggal!

Bintang Tenggara terus memusatkan pikiran. Benaknya membayangkan Kamadhatu yang diwakili oleh 160 bingkai ukiran yang terdapat pada kaki bangunan, dan melukiskan kisah hukum sebab akibat. Rupadhatu terdiri dari empat lorong penghubung antara tingkat satu sampai dengan tingkat empat di mana terdapat 1.212 bingkai ukiran dan 432 patung. Arupadhatu merupakan teras bundar bertingkat tiga, di mana pada setiap teras terdapat, 32, 24 dan 16 stupa kecil. Sebuah stupa induk bersemayam pada tingkat tertinggi. 

[Aku tiada mengetahui dari mana engkau memperoleh jurus yang seharusnya sudah lama punah… Akan tetapi, tak akan kuizinkan kemunculan ahli yang dapat kembali menyegel kami…] 

Sang Iblis telah tiba tepat di hadapan Bintang Tenggara. Sungguh megah ia berdiri, ibarat pohon kayu jati menatap ilalang nan tiada berarti. 

Di saat itu, benak Bintang Tenggara berkelebat pada sosok seorang lelaki dewasa muda. Di balik penampilan nan terpelajar, senyumnya congkak demikian merendahkan. Bukan, bukan bayangan wajah Lintang Tenggara yang sepatutnya melintas di dalam benaknya. Yang ia cari di dalam ingatan, adalah sampul dari lembaran-lemabaran kertas nan lusuh. Lintang Tenggara sempat menunjukkan sampul tersebut sebagai bukti kepemilikan. Selain tulisan nama pemiliknya ‘Balaputera Lintara’, pada sampul buku catatan itu tertera pula sebuah judul… yang mewakili sebuah nama…

[Jelang ajal menjemput… ingatlah aku di dalam kubur kelak. Iblis ke-17 dari 72 bersaudara, aku dikenal dengan nama… Botis!] 

Entah mengapa sang iblis masih sempat-sempatnya menyampaikan nama, padahal setiap kata yang keluar dari mulutnya tiada dapat dipahami. Akan tetapi, yang jelas, ia kini mengangkat dan merentangkan kedua lengan tinggi dan lebar. Dengan sepenuh kekuatan yang dimiliki, ia pun mencabik!

“Tes…” 

Rampung sudah. Puing-puing dan reruntuhan telah terangkai di dalam benak berkat bantuan buku catatan dan sampul milik Lintang Tenggara serta penjelasan Nenek Sukma. Sebulir darah jatuh pada permukaan formasi segel nan terlampau rumit susunannya. Di saat yang sama, Bintang Tenggara menggumamkan wujud… 

“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!” *



Catatan:

*) Di dunia lain, Kamulan Bhumisambhara merupakan nama asli dari Candi Borobudur!

Merdeka!