Episode 247 - Segel Darah Syailendra


Dua remaja lelaki berdiri paling depan. Keduanya terlihat waspada. Tatapan mata dan tebaran mata hati keduanya tak lepas dari musuh di hadapan. Berbekal formasi segel berwujud ular besar yang dapat dikerahkan sebagai pelindung, Balaputera Naga terlihat bersemangat sekali. Di sebelahnya, Balaputera Gara menghela napas panjang. Mimpi apakah dirinya semalam, sampai-sampai berdiri berdampingan dengan Balaputera Naga, sekaligus berhadapan dengan iblis yang terlihat demikian bengis…?

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita berada dua atau tiga langkah di belakang. Menyebar ke sisi, kedua gadis belia mengambil peran sebagai pendukung Balaputera Gara dan Balaputera Naga. Bilamana kedua remaja lelaki di depan kewalahan, maka kedua gadis inilah yang akan membantu melepaskan mereka. Selain itu, peran terpenting dari kedua gadis adalah sebagai pelindung bagi Balaputera Vikrama di tengah. 

Balaputera Vikrama saat ini adalah satu-satunya ahli di antara mereka yang diketahui memiliki kekuatan serangan terbesar. Walau, sangat disesali bahwa ia hanya mampu merapal Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa, hanya untuk sekali lagi saja. Satu kesempatan serangan yang dimiliki, tiada boleh meleset!

Terakhir, adalah Balaputera Ugraha berdiri seorang diri. Walau berada paling belakang, ia akan berperan untuk mengecoh lawan. Salah satu senjata Pusaka Angkara Murka, yaitu Wayang Kulit Siluman Punakawan erat di dalam genggaman. Walau tak akan mampu berlama-lama mengerahkan senjata pusaka tersebut, akan tetapi ia yakin bahwa dapat membuka sebuah kesempatan. 

Secara umum, formasi bertempur yang disusun oleh keenam remaja ini adalah bertahan dan membuka ruang. Bertahan agar tak ada serangan terhadap Balaputera Vikrama di tengah. Membuka ruang menggunakan Wayang Kulit Siluman Punakawan milik Balaputera Dirgaha, yang menjadi dalang sisi belakang…

“Srash!” 

Tetiba si iblis di hadapan meghilang, lalu Balaputera Dirgaha di belakang jatuh terjungkal! Empat lembar wayang kulit terlepas dari genggamannya. Guratan besar menyilang dari pundak kanan, sampai ke rusuk kiri. Darah merah mengalir deras! 

“Bangsat!” Balaputera Naga sontak melompat ke belakang. 

Teleportasi jarak menengah! batin Bintang Tenggara. Siapa yang menyangka bahwa si iblis akan menyerang Balaputera Dirgaha… Apakah ia menyadari akan keberadaan senjata pusaka? Mungkinkah ia membaca rencana keenam remaja bangsawan Wangsa Syailendra!? 

Di kala Balaputera Naga melesat, formasi segel yang dirapal Balaputera Citaseraya, yaitu kereta tanpa kuda diarahkan untuk mengikuti. Hal ini membuat remaja lelaki tersebut terlihat seolah berada di dalam kereta kencana yang semi transparan. Adapun dampak yang diciptakan, adalah kecepatan dan kekuatan Balaputera Naga naik menjadi berlipat ganda! 

Formasi segel pendukung kecepatan dan kekuatan kawan, adalah kelebihan dari Segel Syailendra yang dirapal oleh Balaputera Citaseraya! 

Di saat yang sama, Balaputera Sevita mencengkeram pundak Balaputera Dirgaha, dan membawa tubuh nan tak berdaya terbang menjauh. 

Bintang Tenggara memutuskan untuk tetap melindungi Balaputera Vikrama. Bersama-sama mereka melesat demi menjaga jarak. Bilamana sang iblis diketahui dapat merapal teleportasi jarak menengah, maka Balaputera Vikrama tak bisa ditinggal seorang diri. 

Tukar menukar serangan berlangsung sengit. Balaputera Naga, meski mendapat dukungan penambahan kecepatan sekaligus kekuatan, mulai terdesak. Ia pun memutuskan untuk melompat mundur dan berkumpul dengan kelima remaja lain. 

Rencana yang telah tersusun, porak-poranda! 

“Bagaimana keadaannya!?” sergah Balaputera Vikrama menyaksikan keadaan Balaputera Dirgaha. 

“Tak terlalu dalam…,” jawab Balaputera Sevita cepat, mengacu kepada cedera yang diderita remaja tersebut. “Sepertinya, di detik-detik akhir, ia sempat melompat mundur…” 

Balaputera Citaseraya terlihat merapal formasi segel terhadap luka panjang yang diderita. Pendarahan telah terhenti, namun Balaputera Dirgaha masih tak sadarkan diri. Serangan datang di saat ia sedang terpusat mengerahkan senjata pusaka, sehingga keadaan terkejut membuat kekacauan tenaga dalam dan mata hati. 

“Sialan!” Balaputera Naga, napas terengah, tiba. 

“Brak!” 

Bintang Tenggara menahan sabetan cakar-cakar besar mengandalkan Sisik Raja Naga yang membungkus di kedua lengan. Serangan yang terpaksa ia tahan ini, dikerahkan untuk melibas Balaputera Vikrama… Sesuai perkiraan!

Di kala Bintang Tenggara terdorong deras, Balaputera Vikrama telah melesat mundur dan Balaputera Naga kembali merangsek maju. Ia kini menyerang membabi buta agar lawan tiada mengincar teman! 

Bintang Tenggara di hadapkan pada pilihan yang sangat terbatas. Yang sedang berlangsung saat ini, merupakan pertempuran yang tiada membuka kesempatan untuk mengandalkan rencana atau bersiasat. Keputusan bertindak hanya dapat diambil berdasarkan naluri di kala menyaksikan pergerakan lawan. Demikian, ia membiarkan Balaputera Naga bertindak seorang diri.

Bintang Tenggara tetiba memacu langkah. Lintasan larinya tiada beraturan sebagai petanda bahwa ia mengerahkan langkah petir. Di saat yang sama, ia pun mengerahkan bentuk ketiga dari jurus Pencak Laksamana Laut. Kecepatan dan kekuatan serta-merta berlipat ganda! 

Jarak yang memisahkan dirinya dengan Balaputera Naga, yang terlibat dalam pertarungan tak imbang satu lawan satu dengan si iblis, terpaut sekira sepuluh langkah. Seketika itu, Bintang Tenggara mengepalkan tinju, lalu dengan sangat cepat melepas… tidak hanya lima, tidak pula tujuh, akan tetapi sepuluh tinju berkecepatan supersonik. Ketika gelombang kejut tercipta di ujung kepalan tinjunya, segera ia melakukan teleportasi jarak dekat! 

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

Si iblis tentu telah mengetahui bahwa ada seorang anak remaja yang bergerak mendekat. Akan tetapi, sama sekali ia tiada mengira bahwa anak remaja tersebut akan tiba di sudut mati, tepat di di kala sedang melibaskan cakar-cakar nan besar ke arah Balaputera Naga di depan. Perhitungannya meleset! 

“BELEDAR! 

Gelombang kejut mendarat telak di wilayah rusuk yang terbuka karena sedang menyerang. Dalam kondisi terkejut, sang iblis tiada sempat menghindar. Ia terdorong sampai menghantam sisi dinding formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang! 

Di dalam situasi maha genting seperti ini, Bintang Tenggara telah menyadari bahwa bukanlah saat yang tepat untuk merahasiakan kemampuan sesungguhnya. Pertarungan harus dijalani dengan sepenuh hati dan dengan mengerahkan segenap kemampuan! 

Di Gelanggang Utama, di atas singasana besar yang terjalin dan formasi segel, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa sontak mendongak. Dari jauh, sejak awal ia mengamati keadaan di dalam wilayah formasi segel nan berkilau cemerlang. Raut wajahnya mencerminkan bahwa ia cukup mengenal jurus persilatan yang dapat menciptakan gelombang kejut, serta yang dapat melipatgandakan kekuatan secara bersamaan. 

“Tinju Super Sakti…? Pencak Lasamana Laut…?” gumam sang Penguasa. Misteri yang selama ini mengganjal di dalam benak, perlahan mulai menampilkan diri. Sebuah senyuman, menghias di sudut bibirnya. 

Bintang Tenggara, Kasta Perunggu Tingkat 11, telah mengerahkan lebih dari setengah tenaga dalam dari mustika di ulu hati. Di saat yang sama, tubuhnya merasakan nyeri karena menggunakan tiga jurus secara serempak. Di samping itu pula, hentakan balik atas jurus yang dilepaskan kepada lawan nan jauh lebih digdaya, terasa semakin membebani tubuh. 

“Apa itu tadi…?” Balaputera Naga menyipitkan mata, di kala menoleh ke arah Bintang Tenggara. 

“Kita perlu melemahkannya sebelum Rama dapat melancarkan serangan penutup…,” jawab Bintang Tenggara, mengalihkan pertanyaan. 

Kedua remaja mengetahui bahwa kelemahan dari Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa, milik Balaputera Vikrama adalah gerakannya yang sangat lambat saat dikerahkan. Tentunya, Bintang Tenggara mengetahui jurang pemisah di antara Balaputera Tarukma dengan Balaputera Vikrama di kala mengendalikan jurus yang sama. Oleh karena itu, mereka harus membuat iblis tersebut tak bisa leluasa bergerak terlebih dahulu, sebelum dapat diincar. 

Bintang Tenggara dan Balaputera Naga menatap ke salah satu sisi dinding nan berkilau demikian terang. Sang iblis terlihat sedang bangkit berdiri tegak. Sikut kirinya terlihat menekuk ke arah yang berlawanan. Rupanya, pada detik-detik akhir sebelum gelombang kejut meledak, si iblis itu sempat menarik lengan dalam upaya menangkis serangan. 

“Ukh!” 

Si iblis meringis pelan ketika ia menarik paksa lengannya, dan membetulkan posisi sendi sikut yang tadinya terlepas. Di saat itu terjadi, Balaputera Naga dan Bintang Tenggara mundur ke tempat di mana keempat remaja lain berkumpul. Balaputera Dirgaha, meski terlihat kepayahan, sudah sadarkan diri dan duduk bersila. 

“Menyebarlah…,” ujar Balaputera Vikrama tenang. Di saat yang sama, ia terlihat membagikan sesuatu yang sempat ia pungut ketika kemelut berlangsung. 

Kelima remaja sontak memahami maksud Balaputera Vikrama. Kecuali Balaputera Dirgaha yang hanya duduk diam di tempat, mereka pun menyebar. 

[Sungguh jurus yang unik…] si iblis berujar dengan bunyi-bunyi yang tiada dapat dimengerti. Lengannya pun sudah kembali dapat digunakan seperti sedia kala. Proses penyembuhan bagi bangsa iblis rupanya berlangsung teramat cepat. 

[Hm...? Apakah makhluk rendahan seperti kalian hendak menjebakku…? Berbuatlah sesuka kalian… Aku akan melahap satu per satu, agar kalian rasakan kengerian sesungguhnya dari bangsa iblis!] 

“Srash!” 

Makhluk mengerikan dengan kepada mirip buaya, sepasang tanduk besar, sepasang bola mata hitam dan gelap, serta bertubuh kekar tiba di hadapan Balaputera Citaseraya! Ia pun segera melibas dengan cakar-cakar tajam nan besar! 

“Wayang Kulit Siluman Punakawan!” teriak Balaputera Citaseraya sambil melompat mundur. 

Di saat yang sama, Balaputera Naga, Balaputera Sevita, dan Balaputera Dirgaha, masing-masing mengibaskan selembar senjata pusaka Wayang Kulit Siluman Punakawan! Masing-masing dari mereka melakukan pemanggilan!

“Bangsa iblis…?” Petruk menganga. 

“Kembalikan diriku ke dalam wayang kulit…” gerutu Bagong. 

Meskipun demikian, keduanya telah melesat ke arah Balaputera Citaseraya. Semar, yang kebetulan muncul di hadapan gadis belia tersebut, segera memasang tembok tanah sebagai tameng. Petruk sebagai yang tercepat, telah menggapai tubuh si gadis belia dan membawanya melesat pergi! 

“Duar!” Gareng meledakkan diri, memecah konsentrasi sang iblis! 

Terakhir, unsur kesaktian air milik Bagong menjadi gumpalan air yang membungkus sekujur tubuh si iblis! Ia terpasung! 

Sepuluh hitungan detik yang diharapkan Bintang Tenggara tercapai! Menggunakan teleportasi jarak dekat, ia tiba sekira lima langkah di belakang makhluk nan mengerikan itu. Akan tetapi, kali ia tiada melepas Tinju Super Sakti…

Petir bergemeretak… terdengar seperti dahan-dahan dan ranting pohon yang berpatahan. Postur tubuh Bintang Tenggara sempurna seperti pose pohon dalam yoga. Ia selesai merapal! 

Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana!

Gemuruh halilintar saling bersahutan ketika jurus dilepaskan. Dahan dan ranting petir segera melingkupi wilayah kekuasaannya, dengan Bintang Tenggara sebagai titik pusat. Sebagaimana diketahui, kelebihan bentuk ketiga dari salah satu Sapta Nirwana Perguruan Gunung Agung ini adalah sifatnya sebagai jurus yang menaungi wilayah tertentu, selama jangka waktu tertentu pula. Dengan tingkatan mustika tenaga dalam dan pemahaman jurus saat ini, Bintang Tenggara mampu merapal jurus dalam radius sembilan meter, dalam jangka waktu sembilan detik! 

Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa! 

Balaputera Vikrama pun usai merapal jurus, dan kini ia melesat cepat. Kedua telapak tangan ditangkup, dan lengannya mengarah lurus ke depan. Kesempatan baginya menikamkan pedang nan maha besar, yang merupakan perwujudan dari formasi segel, telah terbuka!

Sang iblis yang terkunci di dalam badai halilintar, akan menjadi sasaran nan empuk. Dengan tubuh besar yang mana tingginya mencapai tiga meter… serangan yang walaupun datangnya lambat, tiada mungkin meleset! 

“Hragh!” 

Tetiba sang iblis menghentakkan tenaga dalam! Bintang Tenggara terlontar mundur dan badai halilintar berlalu bersama dirinya!

Tidak hanya itu, Pedang Svarnadwipa, yang diharapkan dapat menikam makhluk nan mengerikan itu, pun terkena dampak hentakan tenaga dalam sehingga terpental. Formasi segel tersebut kemudian menghilang, menguap bersama dengan harapan para remaja bangsawan Wangsa Syailendra…

“Tes!” 

Sebulir darah menetes pada permukaan formasi segel nan terlihat demikian rumit. Seketika itu terjadi, maka terdengar pekik membahana. Seekor naga, terlihat menyeruak keluar dari formasi segel yang berpendar di atas permukaan tanah. Ukuran tubuhnya tak kalah besar dari Pedang Svarnadwipa, akan tetapi panjangnya berlipat ganda.

“Segel Darah Syailendra: Naga Antaboga!” teriak Balaputera Naga dengan suara teramat lantang. 

Di dalam dunia pewayangan, Antaboga adalah nama raja ular yang hidup di dasar bumi, dan dikatakan berperan sebagai pengasuh Wisanggeni. Perwujudannya adalah seekor naga nan besar dan panjang, yang mengenakan mahkota badhong, berambut, mengenakan pakaian, serta memakai seutas kalung emas di lehernya.

Demikian pula adalah penampakan formasi segel yang berwujud sebagaimana layaknya Naga Antaboga, yang didatangkan oleh Balaputera Naga! 

Menyaksikan formasi segel berwujud Pedang Svarnadwipa, si iblis sesungguhnya memandang sebelah mata. Akan tetapi, menyaksikan formasi segel berwujud Naga Antaboga yang melayang tinggi, ia mulai terlihat gentar!

[Segel Darah Syailendra!] Si iblis mengerang, sambil melompat mundur!

Sembilan Datu Besar yang masih berada di dalam pilar cahaya, terlihat sangat bersemangat. Sepertinya, sesuatu yang telah sedari awal mereka nanti-nantikan, akhirnya mengemuka jua! 

“Hm…? Masih belum stabil,” gerutu Datu Besar dari Kadatuan Kedelapan. 

Bintang Tenggara mencermati. Ini bukanlah kali pertama ia menyaksikan jurus yang serupa. Ia pernah menyaksikan Segel Darah Syailendra: Sangkar Svarnadwipa, yang dikerahkan oleh Nenek Sukma ketika mengurung Balaputera Tarukma. Ia pun menyadari bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Segel Syailendra dan Segel Darah Syailendra. Tentu saja, perbedaan pertama adalah setetes darah, kemudian yang kedua…merupakan landasan penyusunan formasi segel teramat rumit. 

Balaputera Naga, mengarahkan formasi segel berwujud Naga Antaboga, yang memiliki taring-taring besar nan tajam, mengejar sang iblis. Akan tetapi, tetiba formasi segel tersebut bergetar, petanda bahwa ia memang benar belum stabil adanya. Balaputera Naga, di saat yang sama, terlihat lunglai dan jatuh bertumpu pada satu lutut. 

“Sshhhh…” 

Simbol-simbol di dalam formasi segel berwujud Naga Antaboga mengurai perlahan, kemudian menghilang ibarat uap air panas di bawa angin. Napas terengah dan keringat mengucur deras, Balaputera Naga roboh ke tanah. Ia kehabisan tenaga dalam! 

[Hahaha…] Si iblis yang awalnya terlihat cemas, kini berubah lega. [Masih terlalu dini bagi umat rendahan untuk mengancam bangsa iblis!] 

Balaputera Dirgaha cedera, Balaputera Vikrama dan Balaputera Naga kehabisan tenaga dalam. Balaputera Sevita dan Balaputera Citaseraya melompat mendekat, lalu membelakangi Bintang Tenggara. Sungguh lekuk pinggul kedua gadis belia demikian ramping, lagi menggoda. 

“Balaputera Gara…,” sapa Balaputera Citaseraya tanpa menoleh. “Apakah dikau melihat betapa cemas makhluk itu dibuat oleh formasi segel tadi…?” 

“Kami akan menahan iblis itu dengan segenap kemampuan,” sela Balaputera Sevita. “Segera rapal Segel Darah Syailendra… kuyakin dikau bisa!”

“Tunggu…” seru Bintang Tenggara. Ia tak memahami maksud dari kata-kata kedua gadis belia. Bagaimana mungkin dirinya merapal formasi segel yang baru dua kali disaksikan…?