Episode 36 - Ki Patih Balangnipa


Di Surasowan Kutaraja Banten, seorang pria berpakaian kebesaran Mega Mendung menghadap Panembahan Yusuf Sultan Banten di balairiung istana dengan iringan lurah prajurit penjaga pura istana. Amatlah tersentak Panembahan Yusuf mendengar kedatangan orang tersebut yang tak lain adalah Pangeran Adipati Bogaseta, adik dari Dewi Nawang Kasih, permaisuri Prabu Kertapati dari Mega Mendung tanpa dimintanya menghadap. Bergegas ia turun dari singgasananya dan langsung memeluk “Mata dan Telinganya” di Mega Mendung, ketika adik Dewi Nawangkasih dari selir itu memasuki balairiung. Diterimanya penghormatan Pangeran Adipati sebelum dipersilahkannya duduk di kursi kehormatan.

“Ampun Gusti Sultan.” ujar Pangeran Bogaseta seraya menghantrkan sembahnya, semburat kekecewaan terlihat jealas di wajahnya, “Kedatangan mendadak hamba kemari adalah untuk menyerahkan hidup dan matinya hamba kepada Gusti Sultan.” 

Panembahan Yusuf tersentak, lekat-lekat dipandanginya wajah Pangeran Adipati “Kakang Bogaseta, apa maksudmu menyerahkan hidup dan matimu kepadaku?”

Pangeran Adipati mengehla nafasnya, wajahnya tertunduk tak berani menatap wajah Sultan Banten. “Sebab hamba sudah tidak mampu lagi menjadi mata dan telinga paduka di Mega Mendung, perlahan tapi pasti Prabu Kertapati telah menyingkirkan hamba serta para pejabat yang muslim dari lingkaran kekuasaan keraton.”

Sultan Banten mengangkat alisnya “Menyingkirkan para pejabat yang islam? Coba ceritakan lebih jelas padaku Kakang!”

Pangeran Adipati menjawab dengan wajah sangat muram, “Beberapa pejabat islam disingkirkan dari istana secara halus, termasuk hamba sendiri yang pangkat hamba diturunkan dari Senopati dengan hanya menjadi Adipati di Raja Situ dengan alasan untuk menjaga wilayah perbatasan tersebut dari gangguan Sumedanglarang yang mulai menggeliat, saat itu meskipun hati hamba sangat sakit, hamba masih dapat menuruti perintah Kakang Prabu Kertapati, tapi jabatan hamba di sana hanya bertahan empat bulan saja, satu bulan yang lalu Kakang Prabu memanggil hamba kembali ke keraton untuk diangkat menjadi penasihat Raja, satu jabatan yang sebenarnya tidak ada gunanya dalam tata pemerintahan.

Prabu Kertapati tidak pernah meminta nasihat dari hamba, sepertinya itu hanya jabatan formalitas saja sebab saya masih keturunan langsung mendiang Prabu Wangsaredja sehingga Kakang Prabu segan untuk menyingkirkan saya... Dan nasib para pejabat lainnya banyak yang lebih apes daripada hamba, dengan terang-terangan mereka diusir dari istana dan tanah-tanah kikitir mereka diambil oleh pihak istana, padahal mereka semua adalah para pejabat senior yang sudah lama mengabdi di Mega Mendung sejak zaman mendiang Prabu Wangsaredja!”

Sultan Banten sejenak terdiam, beberapa kali menghela nafas, diatatapnya wajah Pangeran Adipati Bogaseta dengan mengangguk-nganggukan kepala, “Begitu? Ah sungguh prihatin saya selaku sesama muslim mendapati saudara-sauadara saya diperlakukan tidak adil begitu, apalagi dari laporan-laporanmu sebelumnya saya juga mendengar bahwa umat muslim di Mega Mendung sangat menderita! Selain umat muslim, semua rakyat di Mega Mendung juga dibebani pajak yang teramat tinggi dan tak masuk akal, belum lagi para pemudanya dipaksa menjadi prajurit dan para pandai besi dipakasa terus membuat persenjaataan!”

Pangeran Adipati terdiam mendengar ucapan Sultan Banten yang bernada sedih prihatin itu namun sangat terkesan provokatif tesebut. “Namun begitu, saya tetap menyesalkan kenapa Kakang langsung memutuskan untuk pergi dari Keraton Mega Mendung, padahal di sana masih ada sesepuh pejabat yang telah memeluk Islam seperti Mahapatih Ki Balangnipa, Ki Tumenggung Sentanu dan Ki Mantri Citrawirya, saya yakin kedudukan mereka masih kuat terutama Ki Patih Balangnipa, mereka bertiga juga dapat menyelaraskan kehidupan beragama dengan bernegara... Kakang masih bisa bertukar pikiran dengan mereka dan tetap menjadi mata serta telinga saya di Mega Mendung.”

Pangeran Adipati pun menghaturkan sembahnya, “Mohon ampun Gusti Sultan, Maafkan kelacangan hamba... Mereka memang para sesepuh yang bijak yang masih berada di lingkungan Keraton Mega Mendung, namun kesetiaan mereka pada Mega Mendung dan Prabu Kertapati sangat kuat sekali, kesetiaan buta mereka pada Negara membuat mereka bagaikan kerbau yang dicocoki hidungnya sehingga mereka hanya bisa berdiam diri menyaksikan orang Islam dizhalimi dan seluruh rakyat Mega Mendung menderita... Maka dari itulah hamba menyerahkan hidup dan mati saya kepada Gusti Sultan, sebab hamba sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan hamba, hamba sudah tidak tahan lagi melihat penderitaan rakyat Mega Mendung! Hamba sipa menerima hukuman atas kelemahan hamba ini!”

Sultan Banten mengangguk-ngangguk, saat itu wajahnya nampak sangat prihatin padahal dalam hatinya ia merasa sangat gembira mendengar penututran dari Pangeran Bogaseta. Panembahan Yusuf sang Sultan Banten selain mempunyai wibawa yang sangat besar dan berpengaruh sehingga dapat mempengaruhi siapapun lawan bicaranya, adalah orang yang sangat cerdas, saat itu Banten mengalami kebuntuan untuk menyerbu Kota Pakuan Padjadjaran, tapi kesempatan untuk menyerbu Mega Mendung kini terbuka lebar berkat kedatangan Pangeran Adipati Bogaseta, meskipun kini ia tidak lagi mempunyai mata dan telinga di dalam lingkungan keraton Mega Mendung, tapi sekarang ia dapat memanfaatkan Pangeran Adipati Bogaseta yang cukup mempunyai pengaruh di Mega Mendung. 

“Kakang pangeran, bagaimana saya bisa menghukum Kakang yang telah banyak berjasa pada Banten dan telah saya anggap sebagai saudara saya sendiri? Meskipun saya tetap menyesali keputusan Kakang untuk meninggalkan Keraton Mega Mendung dan terang-terangan memperlihatkan pembelotan Kakang pada Mega Mendung sangat saya sayangkan! Maka dari itu saya mempunyai tugas lain untuk Kakang!” ucap Sultan Banten.

“Terimakasih atas anugerah Gusti Sultan, saya siap melaksanakan tugas apapapun dari Gusti Sultan selama hayat dikandung badan!” sahut Pangeran Adipati.

“Kakang saya minta untuk menghubungi semua pejabat yang disingkirkan oleh Prabu Kertapati dari lingkungan Keraton, perintahkan pada mereka untuk mempengaruhi rakyat dan membangun masa untuk membentuk pemerintahan yang baru, pemerintahan Islam sebagaimana kepercayaan yang paling banyak dianut oleh rakyat Mega Mendung, pemerintahan yang adil hingga dapat mewujudkan Negara yang adil, makmur, sentausa, gemah ripah repeh loh jinawi! Katakan pada mereka bahwa Banten siap membantu mereka! Banten akan menjadi sahabat sekaligus saudara Negara-negara Islam!” perintah Sultan Banten.

Pangeran Bogaseta pun mengaturkan sembahnya, “Daulat gusti, hamba akan menyusup masuk kembali ke Mega Mendung dan akan mempengaruhi para mantan pejabat yang merasa terdzalimi oleh Prabu Kertapati!”


***


Sore Bada Ashar di Kepatihan Keraton Rajamandala Mega Mendung, nampak Ki Tumenggung Sentanu dan Ki Mantri Citrawirya beserta Mang Juju si pekatik kudanya Pangeran Dharmadipa tergopoh-gopoh memasuki kepatihan dengan wajah yang sangat kusut, jelaslah terlihat semburat kekecewaan yang terlukis di wajah kedua pejabat senior Mega Mendung serta mata-mata yang telah mengabdikan dirinya sejak zaman mendiang Prabu Wangsareja tersebut. 

Ki Patih Balangnipa pun menerima kedatangan 3 rekannya itu, mereka lalu diterima di ruangan tengah Kepatihan sambil disuguhi santapan makanan kecil jajan pasar serta goyobod, setelah itu Ki Patih memerintahakan kepada semua pelayan dan prajurit penjaga untuk meninggalkan mereka, nampaknya mereka akan memperbincangkan sesuatu yang amat rahasia. 

“Kami benar-benar terjepit di negeri sendiri Kakang Patih, gusti Prabu memang belum memecat kami berdua, tapi sudah mulai mengucilkan kami dari pemerintahan dalam keraton, kami juga dikucilkan oleh para pejabat lain!” ucap Ki Tumenggung Sentanu membuka percakapan.

“Betul Kakang Patih, bahkan setelah Pangeran Adipati pergi meninggalkan Mega Mendung untuk bergabung ke Banten, keadaan kami menjadi semakin parah, sudah cukup lama tidak ada seorang pun yang mau menggarap sawah serta kebun kami, bakul-bakul juga dipengaruhi untuk tidak membeli hasil sawah dan kebun saya!” timpal Ki Mantri Citrawirya.

“Kelakuan Pangeran Dharmadipa pun semakin hari semakin memuakan, dia terus memanas-manasi Gusti Prabu untuk menyingkirkan para pejabat yang muslim!” timpal Mang Juju yang merupakan mata-mata yang dikirimkan oleh Ki Balangnipa untuk memata-matai Pangeran Dharmadipa serta Putri Mega Sari dengan menyamar menjadi pekatik kuda mereka.

Ki Patih menghela nafas berat, wajahnya nampak sangat muram sekali, memang selama dua puluh tahun belakangan ini Prabu Kertapati memberlakukan pembatasan bagi penyebaran agama Islam, agama Islam hanya diperbolehkan menyebar di sekitar wilayah bukit Tagok apu dimana Padepokan Sirna Raga berdiri, Gunung Masigit, serta daerah pelosok saja, di daerah dekat Kutaraja Islam dilarang termasuk adzan pun dilarang berkumandang.

Ia melakukan pelarangan terbatas tersebut karena selain mendiang ayah mertuanya Prabu Wangsareja terlanjur mengizinkan Islam masuk ke wilayah Mega Mendung, telah banyak pula para pejabat keraton yang memeluk Islam, sehingga kalau ia terang-terangan melarang Islam di Mega Mendung bisa terjadi kegoncangan politik di dalam pemerintahan, maka dengan cara licik perlahan-lahan ia menyingkirkan para pejabat dan orang-orang yang berpengaruh di lingkungan keraton, ada yang dituduh berkhianat dan dijatuhi hukuman mati, ada yang dipensiunkan karena alasan usia, ada yang difitnah melanggar tata karma keraton dan banyak lagi, perlahan tapi pasti para pejabat Islam berhasil ia singkirkan sekaligus menanamkan rasa takut bagi pejabat lainnya agar tak memeluk Islam. Kini hanya tersisa beberapa orang pejabat senior setelah sebelumnya Pangeran Adipati Bogaseta dilaporkan membelot ke Banten.

Rupanya Prabu Kertapati merasa segan untuk mengusir Ki Tumenggung Sentanu dan Ki Mantri Citrawirya dari keraton sebab mereka berdua adalah pejabat yang sangat senior juga orang-orang kepercayaan mendiang Prabu Wangsareja seperti halnya Ki Patih Balangnipa, bedanya meskipun Ki Patih telah masuk Islam sejak lama, tapi kesetiannya tak perlu diragukan lagi, mungkin orang tua ini adalah orang yang paling setia pada Prabu Kertapati serta Negara Mega Mendung, kesetiaannya, kepiawaian serta kecerdikannya terbukti ketika KI Balangnipa melaksanakan tugasnya dengan baik saat menyelamatkan Prabu Kertapati dari sergapan pasukan Padjadjaran dan Portugis 20 tahun silam. 

Selain itu kecakapannya dalam menata pemerintahan sangat dibutuhkan oleh Sang Prabu, berbeda dengan Tumenggung Sentanu dan Mantri Citrawirya yang di usianya yang sudah lanjut sudah tidak secakap Ki Patih Balangnipa, Prabu Kertapati memang tidak memecat mereka karena mereka pejabat yang muslim dan dianggap “Sudah Udzur”, tapi Prabu Kertapati mendiamkan dan mengucilkan mereka berdua dari pemerintahan keraton.

“Adi Tumenggung dan Adi Mantri, terus terang saja, saat ini Gusti Prabu sudah tidak pernah lagi meminta nasihat kepadaku soal pelaksanaan tugas para pejabat atau pemilihan pengangkatan pejabat, beliau juga tidak pernah meminta pendapatku soal menghadapi pengaruh para ulama yang kian hari makin tidak puas oleh kebijakan Negara yang menyudutkan Islam, beliau hanya meminta saranku soal politik pemerintahan menghadapi pengaruh Banten yang kian besar serta pembangunan militer.” ucap Ki Patih.

“Tapi Kakang Patih... Setidaknya Kakang sebagai Mahapatih Mega Mendung yang sampai saat ini masih disegani oleh Gusti Prabu mungkin masih bisa memberikan nasihat pada Gusti Prabu, bahwa kebijakannya terhadap para pejabat yang telah muslim dan perlakuannya pada rakyat kaum muslim, serta kewajiban pajak yang terlampau tinggi bisa mengakibatkan Negara ini hancur!” sela Tumenggung Sentanu.

“Benar Kakang, kalau bukan karena serangan Banten atau Cirebon, bukan tidak mungkin Mega Mendung akan hancur kalau pada akhirnya rakyat yang akan memberontak!” sambung Ki Mantri Citrawirya.

Ki Patih menatap ketiga kawannya itu dengan mata kuyu, “Tentu saja aku sudah pernah mengutarakan itu, tapi Gusti Prabu malah memintaku untuk memikirkan bagaimana caranya kita menyerbu Padjadjaran dan merebut semua pusaka peninggalan Sri Baduga Maharaja sebelum keduluan Banten! Kalian juga pasti lebih dari sekedar tahu kalau tabiat Gusti Prabu itu sangat keras! Semenjak kejadian 20 tahun yang lalu yang hampir membuat Mega Mendung hancur oleh pasukan Padjadjaran, tabiat Gusti Prabu berubah menjadi raja yang bertangan besi, tidak suka dinasehati apalagi dibantah perintahnya!”

“Tabiat Gusti Prabu memang berubah semenjak ia bersekutu dengan si Topeng Setan dari Gunung Patuha dan menjadi penganut aliran sesat penyembah Berhala Iblis! Tetapi apakah kita akan diam saja melihat rakyat semakin menderita dan negeri ini semakin rusak?” Tanya Ki Tumenggung.

“Benar apa yang dikatakan Kakang Tumenggung, apalagi calon penerusnya Pangeran Dharmadipa nampaknya mempunyai tabiat yang sama dengan Gusti Prabu, mereka sama-sama membenci Islam, sama-sama bertangan besi! Gusti Putri Mega Sari pun terkenal licik! Bahkan ada desas-desus Gusti Putri Mega Sari lah yang mempengaruhi Dharmadipa yang saat itu masih menjabat sebagai Tumenggung untuk membunuh suaminya sendiri, mendiang Pangeran Mundingsura!” sambung Ki Mantri.

Ki Patih menggelengkan kepalanya, “Kalian sabarlah, jangan pernah berpikir untuk melakukan pemberontakan sebab pemberontakan terhadap penguasa yang sah hanya akan membawa malapetaka pada diri kita! Suatu saat nanti, kalau Gusti Allah memang menghendaki, akan ada jalannya bagi kita untuk memperbaiki tatanan kehidupan di negeri Mega Mendung ini, entah lewat peperangan atau tidak, pasti akan tiba saatnya kedamaian di bumi Mega Mendung ini! Lebih baik kita sabar, tawakal kepada Gusti Allah! Kata orang-orang tua, tidak bijak kalau kita menerjang badai, biarkan badai itu berlalu, badai pasti berlalu dan hari yang cerah akan datang!”

“Tetapi sudah terlalu lama keadaan kita seperti ini Kakang Patih! Sudah 20 tahun! Rasanya sudah tidak sabar lagi melihat tingkah polah Raja dan anak menantunya itu Kakang Patih! Kita harus membalas perbuatan mereka pada kita dan seluruh rakyat Mega Mendung dengan cara apapun!” sela Ki Mantri.

“Iya Kakang Patih, kita tidak boleh tinggal diam!” geram Ki Tumenggung. 

“Terus mau apa kalian? Melawan Gusti Prabu junjungan kita? Melawan Pangeran Dharmadipa yang kesaktiannya kalian saksikan sendiri saat menumpas Gajah Liman Wadag? Percuma! Berapa kekuatan yang bisa kalian kumpulkan untuk melawan ribuan prajurit Mega Mendung ini? Ilmu Kesaktian apa yang bisa kalian andalkan untuk menghadapi Pangeran Dharmadipa atau Gusti Prabu Kertapati sendiri yang sakti mandraguna itu? Prabu Bojakerti serta Pangeran Mundingsura yang kesaktiannya tersohor saja, bisa Dharmadipa bunuh!” Tanya Ki Patih.

Ki Patih lalu berdiri dari duduknya, ia lalu berjalan mondar-mandir, “Tadinya memang aku yang ingin membalas perbuatan mereka pada seluruh rakyat terutama kaum muslim di seluruh Mega Mendung ini, ingin benar aku membalas perbuatan Gusti Prabu karena telah mengacak-acak tatanan kehidupan masyarakat di Mega Mendung yang telah ditetapkan oleh mendiang Prabu Wangsareja dengan kebijakannya yang seenaknya itu! Tapi setelah kupikir-pikir, lebih baik kita tunggu waktu saja, Gusti Allah pasti akan memberikan kita jalan yang tidak kita duga, ingatlah IA selalu bekerja dengan caraNYA yang mungkin bagi kita penuh misteri!”

Ki Mantri mendesah berat, “Tapi maksud saya Kakang Patih, kalau kita tidak berani bertindak terang-terangan, kita bisa menyerang mereka dari belakang, kita bisa menyewa orang-orang pandai untuk menjatuhkan mereka dari tahtanya!”

Ki Tumenggung segera menyambungi “Benar Kakang Patih, saya punya kenalan orang pandai, seorang dukun yang ampuh dari Gunung Halimun! Saya yakin ia pasti sanggup melenyapkan seluruh keluarga Prabu dengan jabang manteranya!”

Ki Patih terkejut mendengar ide Ki Tumenggung tersebut, “Jangan! Sesat! Ingat, kita ini orang Islam! Tidak baik menempuh jalan setan seperti itu! Selain itu, ingatlah bahwa sekutu Gusti Prabu dari Gunung Patuha yang bernama Topeng Setan dan Nyai Lakbok adalah dua tokoh golongan hitam yang sangat sakti mandraguna, kalau dukun kalian bisa mereka kalahkan, kita yang akan langsung terkena imbasnya! 

Sudahlah, sekali lagi aku katakan bahwa kita ini orang Islam, kita harus melakukan segala usaha dengan cara yang baik, cara yang diridhai Gusti Allah, cara yang sebisa mungkin menghindarkan pertumpahan darah! Hidup ini ada hukumnya! Tidak ada air mengalir yang menanjak ke hulu ke puncak gunung! Dan tidak ada kejahatan yang memenangkan kebaikan! Masalahnya Cuma waktu, orang dzalim akan runtuh dengan kedzalimannya sendiri! Ingatlah kisah Rasulullah, butuh waktu yang sangat lama hingga akhirnya kota Mekah dapat direbut dan dikuasai oleh kaum muslimin dari kaum Qurais! Sabar! Sabar!”

“Tetapi bagaimanapun pendapat Gusti Patih, mohon maaf, dengan segala hormat, saya akan memihak Pangeran Adipati Bogaseta…” ucap Mang Juju yang sedari tadi lebih banyak diam.

Ki Balangnipa menghela nafasnya, ia menepuk pundak Mang Juju, “Mang Juju… Pangeran Bogaseta sekarang telah berpihak kepada Banten, maka aku belum bisa berkata apa-apa tentang beliau, tetapi aku tetap memintamu untuk bersabar… Sabar… Kita harus mengambil keputusan dengan pikiran yang jernih, sejernih-jernihnya!”


***


Keesokan pagi harinya, Jaya Laksana dan Galuh Parwati nampak sedang berjalan memasuki gerbang Kutaraja Rajamandala, “Ah akhirnya kita sampai di Kutaraja Rajamandala” ucap Galuh, dia lalu menoleh pada Jaya, Jaya hanya terdiam, dia hanya menatap gapura Kutaraja yang megah itu dengan tatapan nanar, wajahnya nampak sangat lesu, “Kamu kenapa Jaya? Nampaknya kamu lesu sekali, bukankah kau seharusnya senang kita akhirnya bisa sampai di Rajamandala ini setelah melewati berbagai rintangan di perjalanan?”

“Aku tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan saja perjalanan kita” jawab Jaya dengan lemas.

“Tunggu! Aku tetap merasa ada yang aneh denganmu” cegah Galuh, Gadis ini lalu menatap tajam pada mata Jaya “Jaya, aku minta kau jujur padaku!”

Jaya jadi keheranan mendapati tatapan tajam Galuh yang menyelidik itu, “Apa maksudmu Galuh? Apa yang harus aku jujur?”

Galuh berkata sambil mencibir Jaya, “Jaya siapakah itu Mega Sari?”

Bukan main terkejutnya Jaya mendapati pertanyaan Galuh itu, “Galuh tahu darimana kau tentang Mega Sari?”

Galuh tersenyum sinis, hati gadis ini sungguh panas. “Aku dengar darimu sendiri! Pada saat kau pingsan akibat terluka dalam oleh Juana Suta beberapa hari yang lalu kau sering mengingau menyebut Nama Mega Sari!”

Jaya terdiam tidak menjawab, dia bingung harus berkata apa. “Jaya, aku pernah mendengar bahwa Gusti Putri Mega Sari, putri satu-satunya Prabu Kertapati pernah belajar di Padepokan Sirna Raga, apakah Mega Sari yang ada dalam mimpimu itu adalah Mega Sari putri Mega Mendung ini?”

Jaya tetap terdiam hanya desahan nafasnya saja yang tersengar berat. “Oh begitu? Sepertinya tebakanku benar, kau pasti jatuh hati pada tuan putri Mega Mendung yang kecantikannya terkenal ke seantero Tanah Pasundan ini, makanya kau merasa segan memasuki Rajamandala ini karena kau takut untuk bertemu dengannya lagi bukan?” cecar Galuh.

Jaya masih tetap terdiam, apa yang dikatakan oleh Galuh tak meleset sedikitpun, didalam benaknya, Mega Sari masih terus menari-menari, menganggu jalan pikirannya, menghangatakan sekaligus menyakiti hatinya di waktu yang bersamaan, waktu selama tiga tahun ini tak sanggup untuk menghapus bayangan gadis putih, bertubuh sintal, berambut hitam panjang lurus, dan bermata bulat tajam indah itu. Meskipun telah diperingatkan oleh kedua gurunya, meskipun dari desa-desa yang ia lalui ia mendengar Mega Sari telah menikah dengan dengan Dharmadipa yang sekarang menjadi Pangeran di Mega Mendung, betapa Jaya Laksana tidak sanggup untuk melupakan Mega Sari.

“Sekarang, apakah kau masih akan melanjutkan niatmu itu, melaksanakan tugas dari gurumu sementara Mega Sari adalah putri Prabu Kertapati?” cibir Galuh dengan nada pedas.

Jaya terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan sambil melanjutkan langkahnya “Tentu saja aku akan tetap melaksanakan titah guruku… tapi sebelumnya aku akan ke pasar dulu.” 

Galuh kerutkan keningnya, “Ke pasar? Mau apa?”

Jaya menjawab sambil tersenyum, “Bukankah kau ingin membeli pakaian baru setelah pakaianmu itu terciprat darah ular-ular siluman?”

Kontan saja wajah gadis hitam manis ini memerah, api kecemburuannya padam seketika, kini ia jadi tersipu. “Tapi aku sudah tidak punya uang, memangnya kau punya uang Jaya?”

Jaya mengangguk, “Aku masih punya sedikit uang, ya cukuplah untuk membeli pakaian untukmu!”

Mereka pun berjalan menuju ke pasar, ternyata keadaan di sana sangat sepi untuk ukuran pasar di Kutaraja, hal ini akibat perdagangan Mega Mendung sangat lesu karena pajak yang diberlakukan sangat tinggi, semua pajak itu digunakan untuk kepentingan militer kerajaan. 

Di toko pakaian, Galuh memilih satu stel pakaian, bajunya berwarna biru langit, celana tiga perempat berwarna hitam, dan ikat kepala berwarna biru tua. Gadis ini tak dapat berhenti tersenyum, hatinya merasa bahagia karena dibelikan pakaian oleh pria yang ia cintai. Berkali-kali ia berkelak-kelok melihat penampilan barunya di cermin di pasar took pakaian itu, ia merasa sangat cantik dengan pakaian pemberian Jaya tersebut.

Saat itu empat orang prajurit keamanan pasar nampak berpatroli melihat-lihat keadaan, sontak saja delapan batang pisau berdesing menyerang keempat prajurit keamanan itu, karena tidak mengira mereka akan dibokong, keempat prajurit itu menjadi lengah, mereka langsung rubuh dengan masing-masing dua pisau beracun menancap tepat di tengkuk mereka, yang tiga langsung tewas seketika, tapi yang satu masih sempat meniup peluit tanda bahaya dengan seluruh sisa tenaganya sampai akhirnya ia tewas menyusul tiga kawannya. Puluhan Prajurit Mega Mendung segera berdatangan ke pasar tersebut!