Episode 246 - Rantai Makanan



“Komodo Nagaradja, bersabarlah sejenak…” Ginseng Perkasa menasehati. 

“Ggrrrr…” 

“Diriku mengenal formasi segel ini… Segel Syailendra: Cahaya Gemilang…,” gumam Ginseng Perkasa. “Bila ingatanku tiada mengelabui, maka ia merupakan salah satu formasi segel gabungan paling digdaya yang hanya dapat dirapal secara bersama-sama oleh sembilan ahli.” 

Ginseng Perkasa benar adanya. Formasi segel yang saat ini dirapal oleh kesembilan Datu Besar merupakan formasi segel bernama Segel Syailendra: Cahaya Gemilang. Formasi segel ini merupakan salah satu formasi segel terampuh di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, dan hanya dapat dirapal bilamana sembilan ahli berdarah Wangsa Syailendra dari trah Balaputera berkumpul dan merapal secara bersama-sama.

Selain itu, ada satu fakta penting seputar formasi segel ini yang tak diketahui oleh banyak ahli. Bahwasanya, formasi Segel Syailendra: Cahaya Gemilang memang diperuntukkan bagi bangsa iblis! Ia berfungsi menekan kedigdayaan mereka sampai kepada batasan tertentu, serta tiada dapat bangsa iblis merangsek keluar dari pilar-pilar dan dinding yang seolah tercipta dari cahaya. 

“Lagi pula, tidakkah dikau menyadari bahwa iblis ini hanya dapat mengerahkan kekuatan setara Kasta Emas pada tingkatan awan?” lanjut Ginseng Perkasa.

“Kekuatan sejatinya tersegel…,” dengus Komodo Nagaradja. Meski masih sangat kesal, setidaknya kini pembawaanya jauh lebih tenang. 

Iblis tersebut terlihat merendahkan postur tubuh besarnya, walau masih terlihat lebih tinggi dibandingkan manusia pada umumnya. Posisi seperti ini mirip seperti saat seekor harimau yang siap menerkam mangsa!

“Berpencar!” seru Balaputera Vikrama di kala menyadari bahwa lawan bersiap bergerak. 

“Srak!” 

Sang iblis merangsek maju! Ia melesat sangatlah cepat. Dalam satu kedipan mata, telah tiba tepat di hadapan kelima remaja!

Di saat yang sama, Balaputera Vikrama sontak merapal formasi segel. Kecepatan rapalan remaja lelaki yang satu ini memanglah jauh di atas rata-rata. Formasi segel terlihat bergerak merangkai dengan tangkas dan lugas!

Di lain sisi, cakar-cakar nan panjang dan tajam melibas angin. Lima remaja telah melompat dan berpencar. Hanya Balaputera Vikrama yang memutuskan untuk berdiam diri dan bertahan…

“Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa!” 

Sebilah pedang raksasa mengemuka! Ia merupakan wujud dari formasi segel yang terlihat demikian perkasa, bahkan seolah mampu membelah bumi dan langit. Tentu Bintang Tenggara pernah menyaksikan pedang maha besar ini. Walau lebih kecil ukurannya, hanya sepanjang duapuluh lima meter, ia merupakan jurus formasi segel yang sama dengan milik Balaputera Tarukma, sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu. 

Menyaksikan jurus yang satu ini mengemuka, perasaan di hati Bintang Tenggara bercabang dibuatnya.

Si iblis terus melibas beringas dengan cakar-cakar besarnya. Pedang besar menebas deras sesuai dengan arah gerakan lengan Balaputera Vikrama, yaitu dari atas ke bawah. Di kala cakar melibas bilah pedang, serta merta terlihat bahwa pedang terpental ke belakang dan Balaputera Vikrama terlontar mundur belasan langkah. Ia terbatuk sekali dua, darah merah pun mengalir dari sudut bibir. Akan tetapi, tatapan mata remaja lelaki tersebut tetap terpusat ke arah depan. 

Sebagai catatan, kekuatan iblis itu adalah setara dengan Kasta Emas Tingkat 2 atau 3. Sudah dapat menahan serangannya saja, bagi Balaputera Vikrama yang berada pada Kasta Perak Tingkat 4, merupakan sebuah kebolehan tersendiri. Kendati pun demikian, perlu digarisbawahi bahwa pada pertukaran serangan pembuka, remaja tersebut langsung merapal jurus pamungkas, sedangkan lawannya hanya mengibaskan lengan tanpa mengerahkan jurus tertentu. 

Terlepas dari itu, langkah Balaputera Vikrama menahan laju si iblis pun sudah paling tepat adanya. Bilamana tadi ia tidak berupaya menahan, maka iblis itu tentu saja akan melesat mengincar salah satu dari mereka yang sedang berpencar mundur. 

“Berkumpul!” seru Balaputera Naga. Kata-kata ini datang dari remaja lelaki yang biasa bergerak seorang diri. Gelagat ini menjadi sebuah bukti bahwa ia sepenuhnya menyadari akan ancaman besar di hadapan mata, adalah nyata adanya. 

“Yang Terhormat Datu Besar…,” Balaputera Dirgaha meratap ke pilar cahaya yang memuat Balaputera Wrendaha dari Kadatuan Kedua. “A… apakah maksud semua ini?” 

Tatap wajah remaja tersebut penuh harap. Ia menanti penjelasan yang sepantasnya dipaparkan. Mengapakah mereka dikurung di dalam formasi segel nan bercahaya? Mengapa mereka diumpankan kepada makhluk nan demikian buas..? Mengapa!? 

Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua tiada menggubris. Menoleh pun ia tidak. Raut wajahnya datar seperti biasa. 

Di saat yang sama, menyadari bahwa seorang remaja hanya diam meratap di tempat, sang iblis menemukan sasasan paling empuk. Ia pun menerkam tanpa hambatan. Rahang besar mirip buaya membuka, menyuguhkan taring-taring besar dan tajam yang tiada beraturan susunannya. 

“Brak!” 

Sedikit lagi si iblis hendak melahap Balaputera Dirgaha, mulutnya tetiba tertahan oleh sebilah galah nan panjang. Sang Lamafa Muda cukup sigap menebak niat dan arah pergerakan si iblis. Oleh karena itu pula, Bintang Tenggara sempat mengubah arah, melakukan teleportasi jarak dekat, menebar Segel Penempatan, melenting, dan menikamkan Tempuling Raja Naga! Keseluruhan tindakan tersebut dilakukan hanya dalam satu hentakan napas!

Rahang besar si iblis mencengkeram bilah tempuling dan menyentakkan kepala ke arah samping. Kekuatan sentakan yang datang secara tiba-tiba, membuat genggaman tangan Bintang Tenggara terasa perih, dan Tempuling Raja Naga pun terlepas! 

[Senjata rendahan yang hanya dari tubuh siluman, mampu menghentikanku…?]

Hubungan antara bangsa iblis, kaum siluman, dan umat manusia sangatlah pelik. Bilamana umat manusia berburu kaum siluman demi anggota tubuh atau pun mustika tenaga dalam mereka, maka bangsa iblis dahaga akan mustika tenaga dalam manusia. Bagi bangsa iblis, mustika tenaga dalam manusia memiliki tenaga murni yang paling bermanfaat dalam pertumbuhan kekuatan. 

Dengan kata lain, bangsa iblis selayaknya berada pada puncak tertinggi rantai makanan! 

Bintang Tenggara menarik tubuh Balaputera Dirgaha. Segera ia membawa remaja lelaki tersebut berkumpul bersama yang lainnya. Mereka berupaya menjaga jarak aman. 

“Makhluk apakah gerangan itu!?” pekik Balaputera Sevita resah. 

“Bangsa iblis…” Balaputera Naga menggeretakkan gigi. Ia cukup memahami keadaan genting yang bergolak di depan mata. 

“Bangsa iblis…?” Balaputera Dirgaha masih terpana. “Dari mana dikau mengetahui akan hal ini…? Apakah dari Datu Besar Kadatuan Kedelapan.”

“Selama menjelajah puing-puing dan reruntuhan, aku menemukan banyak bukti dab petunjuk akan keberadaan mereka.” Balaputera Naga menjawab cepat. Rupanya, bahkan ia tak memiliki pemahaman yang mendalam. 

“Berdasarkan catatan-catatan tua di Pustaka Perguruan, keberadaan mereka adalah alasan sesungguhnya kepindahan trah Balaputera ke Minangga Tamwan lima ratus tahun silam…” tambah Balaputera Vikrama. Kondisi tubuh remaja lelaki ini tidaklah terlalu buruk.

“Alasan sesungguhnya kepindahan…?” Bintang Tenggara penasaran. Di dalam benak ia mencoba mencerna. Bukankah pengungsian Kemaharajaan Cahaya Gemilang ke dunia paralel di mana Ibukota Minangga Tamwan berada, dikarenakan hendak menghindari Perang Jagat? Bukankah tindakan tersebut yang membuat banyak ahli melabel Kemaharajaan Cahaya Gemilang sebagai pengecut…? Bahkan Super Guru Komodo Nagaradja diketahui berpandangan sedemikian. 

“Bukan waktunya bertukar kata-kata!” geram Balaputera Naga.  

Berdiri sekira lima puluh langkah di hadapan, si iblis sedang mencermati Tempuling Raja Naga yang kini berada di dalam genggamannya. Kemudian, seolah tak acuh, ia melempar senjata pusaka yang terbuat dari anggota tubuh siluman sempurna tersebut ke arah belakang. Tindakannya seolah melempar sebatang tusuk gigi yang tiada bermanfaat lagi. Begitu rendah dan remeh ia menilai kaum siluman. 

“Keparat!” Komodo Nagaradja menggeram. Ada dua pihak yang kini ia benci sampai ke ubun-ubun kepala. Pertama, adalah para bangsawan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera itu, khususnya kesembilan Datu Besar yang berada di dalam pilar cahaya. Kedua, tentunya kepada iblis yang berlagak demikian angkuh. 

[Tak hanya satu atau dua manusia, akan tetapi enam…] Si iblis menatap tajam ke arah para remaja. [Meskipun masih berusia muda belia, sudah lebih dari cukup untuk melesatkan kemampuanku…]

Keenam remaja bersiaga. Entah apa arti suara-suara yang keluar dari mulut makhluk di depan mata itu. Yang pasti, para calon pewaris takhta ini menyadari bahwa bahaya yang mengancam semakin besar adanya. 

“Jangan gentar!” Balaputera Naga menyemangati. “Cermati bahwa ia hanya berada pada Kasta Emas Tingkat 1 atau Tingkat 2… bukanlah lawan yang tak mungkin kita tangani bilamana berjuang bersama-sama.”

“Jangan berpisah terlalu jauh…”

Si iblis kembali merangsek deras. Kedua lengannya merentang lebar, seperti hendak mengarahkan binatang ternak agar tak bermain-main terlalu jauh. Dari gelagatnya, betapa ia menikmati permainan ini. 

Akan tetapi, keenam remaja serempak berpencar. Sesuai dugaan, si iblis tetap bergerak mengincar salah satu dari mereka. Sasarannya kali ini adalah Balaputera Vikrama!

Di kala si iblis memusatkan perhatian pada satu sasaran tepat di hadapan, Balaputera Gara dan Balaputera Naga serempak mendekat dari dua sisi. Balaputera Dirgaha memutar jauh ke belakang untuk membantu Balaputera Vikrama. Dua gadis, melesat ke arah yang berlawanan. 

Dengan demikian, keenam remaja berencana mengepung si iblis. Dua di depan, dua di belakang, dan masing-masing satu dari sisi kiri dan kanan! 

Petir bergemeretak dan ledakan api terdengar membahana ketika Balaputera Gara melecut dan Balaputera Naga melompat. Meski tanpa komando sama sekali, keduanya mampu bergerak hampir secara bersamaan. Segera setelah itu, sebuah tinju berkekuatan ledakan api dan cakar bermuatan sambaran petir menghantam dan mencabik si iblis dari kedua sisi!

“Grab!” 

Tetiba si iblis berhenti di tempat. Tangan kirinya menangkap tinju Balaputera Naga dan tangan kanannya mengunci pergelangan tangan Bintang Tenggara. Untunglah formasi segel berwujud ular besar dan Sisik Raja Naga melindungi lengan masing-masing remaja. Karena bilamana tak memiliki pelindung, maka kemungkinan besar cakar-cakar nan tajam sudah mencabik-cabik lengan kedua remaja tersebut! 

Walhasil, kedua remaja lelaki terpasung. Kekuatan cengkeraman tangan tiada dapat mereka lepas. Sementara itu, Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita serempak melesakkan tendangan tepat ke arah punggung makhluk buas dan ganas itu. Akan tetapi, sasaran mereka tiada bergeming barang sedikit pun. Kedua gadis belia, sebaliknya, terpaksa merapal formasi segel pertahanan sambil bergerak mundur. Ekor nan besar dan kekar terlihat melibas deras menghantam kedua gadis belia. 

Dari arah depan, Balaputera Vikrama telah rampung merapal Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa. Walau masih terpaut jarak nan cukup jauh, ia mendorong lengan lurus ke depan. Pedang maha besar itu bergerak lurus menikam!

Menyadari akan datangnya ancaman, si iblis melompat ke belakang. Bintang Tenggara dan Balaputera Naga tetap berada dalam genggaman, sehingga keduanya ikut ditarik mundur. Akan tetapi, di kala si iblis merasa bahwa dirinya telah berada pada jarak aman, sebuah lorong dimensi ruang membuka tepat di hadapan ujung pedang raksasa. Di saat yang sama, satu lagi lorong dimensi membuka… tepat di belakang si iblis! 

Balaputera Dirgaha rampung merapal formasi segel dimensi ruang! Kini, berkat bantuan dua lorong dimensi ruang yang saling terhubung, ujung pedang besar menikam deras dari arah yang berlawaan! 

Terkejut, si iblis sontak melompat cepat. Di saat yang sama pula, cengkeraman terhadap kedua remaja terlepas dengan sendirinya! Kedua remaja lelaki yang jiwanya terlepas dari ancaman, tak membuang-buang waktu untuk melesat mundur. Dua gadis belia pun telah kembali bergabung ke depan.   

[Aku terlalu meremehkan anak-anak manusia…] Si Iblis menatap tajam ke arah keenam remaja. [Akan tetapi, apalah artinya sebuah perburuan bila mangsanya tiada memberikan perlawanan berarti…]

Keenam remaja telah berkumpul kembali di kejauhan. Waspada, sekaligus resah. 

“Unsur kesaktian api miliku seolah pupus di kala tertangkap tadi…,” gerutu Balaputera Naga. 

Bintang Tenggara menjawab dengan anggukan. Karena dirinya pun menyadari bahwa unsur kesaktian petir seolah sirna di kala bersentuhan dengan lawan. Kemungkinan besar, karena jurang pemisah tingkat kekuatan yang terlalu lebar, maka unsur kesaktian tiada ampuh dalam menghadapi si iblis itu…

“Apakah kalian memperhatikan bahwa hanya formasi segel yang membuat ia gentar…?” ujar Balaputera Vikrama.

“Berapa kali lagi kau dapat merapal jurus itu…?” Balaputera Naga berujar cepat. 

Pertanyaan yang diajukan Balaputera Naga bukan tanpa alasan. Sekujur tubuh Balaputera Vikrama dibasahi oleh keringat, dan terlihat dadanya naik turun dengan sangat deras. Jurus yang demikian digdaya, pastinya memerlukan pasokan tenaga dalam yang teramat besar. Sudah pada dua kesempatan pula ia merapal jurus andalan tersebut. “Sekali lagi,” jawabnya pelan. 

Kesemua remaja menyadari bahwa mereka hanya memiliki satu kesempatan bagi Balaputera Vikrama untuk menebas atau menikam lawan dengan pedang yang terbuat dari formasi segel. Sampai sejauh ini, hanyalah jurus tersebut yang diketahui paling digdaya di antara jurus-jurus yang dimiliki oleh keenam remaja. 

Hanya tersedia satu kesempatan! Satu kesempatan yang bilamana meleset, maka nyawa taruhannya!

“Beri aku waktu sekira sepuluh hitungan detik untuk menghentikan langkahnya,” tetiba Bintang Tenggara berujar. 

“Kau kira gampang!?” sergah Balaputera Naga. 

“Sepuluh detik…” Balaputera Citaseraya, yang mana pernah berada di dalam regu yang sama dengan Bintang Tenggara, sepenuhnya menyadari bahwa anak remaja lelaki misterius itu dapat dipercaya. Bahwasanya, ia selalu bisa menciptakan kejutan demi kejutan. 

“Sepuluh detik!” Balaputera Dirgaha memantapkan hati. Sebuah ruang dimensi kecil berpendar tepat di hadapannya. Ketika membuka, ia lantas mengeluarkan Senjata Pusaka Angkara Murka, Wayang Kulit Siluman Punakawan!

Balaputera Sevita mengangguk cepat. Di saat yang sama, sepasang sayap besar yang merupakan perwujudan dari formasi segel mencuat dari sisi belakang punggung nan mulus. Tak hendak tertinggal langkah, Balaputera Citaseraya merapal formasi segel berwujud kereta tanpa kuda yang cukup besar ukurannya. Tiada diragukan, ini adalah kemampuan Segel Syailendra terbaik milik kedua gadis belia!

[Apakah sudah cukup waktu untuk kalian mengucapkan kata-kata perpisahan…?]