Episode 41 - Kerasukan



Aku dan Reza kembali saling pandang, jujur saja aku masih tidak tahu apakah harus tetap bersembunyi atau keluar untuk melihat keadaan. Di kejauhan, suara ledakan masih terus terdengar disusul dengan suara jeritan aneh dan teriakan manusia. 

“Ada yang sedang bertarung...” gumam Reza sambil menatapku lekat-lekat seakan tengah meminta pendapat padaku. 

“Kita harus memeriksanya.”

Akhirnya aku tidak bisa mengalahkan rasa penasaranku. Meskipun akan lebih aman jika aku dan Reza tetap bersembunyi, namun aku juga percaya pada ungkapan ‘no pain no gain’. Aku tidak ingin menjadi pengecut yang selalu sembunyi dan tidak mendapatkan apa-apa pada akhirnya. 

Di depanku, Reza menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usulku barusan meskipun dapat kulihat ekspresi yang begitu tegang pada wajahnya. 

Setelah itu, kami berdua langsung bergerak mengendap-ngendap mendekati suara pertarungan. Ditengah perjalanan kami sempat melihat sosok tubuh yang tadi menghantam tembok lorong dengan keras. 

“Sepertinya dia sudah tewas,” bisik Reza setelah melirik sosok itu sebentar.

Aku hanya bisa menelan ludah melihat sosok yang terpendam dalam tembok lorong tersebut, tubuhnya sudah tak berbentuk dan wajahnya sudah tidak mungkin lagi bisa dikenali. Mengerikan sekali...

Namun pemandangan mengerikan itu sama sekali tidak menyurutkan langkah kami, kami berdua melesat menuju ruangan besar yang letaknya berada di tengah peta melalui lubang yang terbentuk dari benturan sosok tubuh tadi. Hanya dalam sekejap saja, kami sudah mencapai ruangan tengah. Begitu sampai di ruangan tengah, pemandangan pertama yang kulihat adalah dua sosok yang sedang bertarung sengit satu sama lain. Aku langsung mengerenyitkan kening begitu melihat salah satu sosok yang sedang bertarung, karena gerakannya cenderung kaku dan tubuhnya tampak begitu kurus. 

Kemudian aku mengalihkan perhatianku pada pemandangan latar di dalam ruangan. Sesaat aku mendapat kesan ruangan ini seperti laboratorium medis seperti dalam film-film, tampaknya penelitian yang dilakukan oleh Sekte Pulau Arwah di tempat ini adalah penelitian biologis. 

“Unggul!” Tiba-tiba Reza yang baru saja datang langsung berseru tegang di sampingku. 

Belum sempat kutanyakan padanya siapa Unggul, Reza telah mengeluarkan senjata kipas miliknya dan melesat ke area pertempuran ikut menyerang sosok kurus dan kaku itu. 

Tindakan Reza membuatku tertegun sesaat, namun aku segera mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya orang yang tengah bertarung dengan sosok kurus itu adalah teman Reza, bisa jadi dia juga berasal dari Perkumpulan Angin Utara. 

Untuk sejenak aku hanya terdiam di tempatku berdiri dan memperhatikan mereka bertarung menghadapi sosok kurus dan kaku. Namun semakin kuperhatikan semakin kusadari sosok itu terlihat aneh, sendi-sendi di tubuhnya kekurangan cairan pelumas sehingga gerakannya kaku seperti kayu. Selain itu, ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan dan tatapan matanya kosong. 

“Jangan-jangan...” 

Lalu tanpa membuang waktu lagi, aku langsung ikut melesat ke tengah pertempuran dan melancarkan sebuah pukulan yang mengincar batok kepala sosok kurus itu dari belakang. Namun seakan makhluk itu punya mata di belakang kepalanya, dengan mudah dia menghindari pukulanku. Bahkan dia sempat melancarkan serangan balik berupa tendangan yang diarahkan ke belakang tanpa membalik tubuhnya, seperti orang yang sedang melakukan sikap pesawat terbang. 

Aku segera bersalto ke belakang menghindari tendangan itu. Meskipun tendangan itu dilakukan tanpa kuda-kuda yang kokoh, namun angin serangannya terasa menderu keras di perut dan dadaku. 

“Serangannya sekuat serangan Shinta...” keluhku dalam hati begitu berhasil kembali menjejakkan kakiku ke tanah. 

Di sisi lain, Unggul, orang yang telah bertarung dengan sosok kurus itu terlebih dulu terlihat sedikit terkejut dengan kedatanganku dan Reza. Namun perhatiannya segera terfokus kembali menghadapi si sosok kurus. Akupun kembali melanjutkan serangan dengan cakarku, mencari celah-celah yang terbuka guna menyusupkan cabikan dan pukulan pada sosok kurus meskipun sejauh ini masih gagal. 

Sembari terus bertarung, aku terus menganalisa si makhluk kurus ini. Dari perawakan dan gerak-geriknya, sudah jelas dia bukan manusia normal. Apalagi fluktuasi tenaga dalam yang dia keluarkan sama sekali tidak stabil, naik turun antara tahap penyerapan energi tingkat keenam hingga mencapai tahap penyerapan energi tingkat kedua belas. Aneh! 

“Hati-hati, sepertinya makhluk ini bukan manusia biasa,” ujarku di tengah pertarungan. 

“Sudah jelas dia bukan manusia,” jawab Unggul tanpa mengalihkan perhatiannya dari makhluk kurus. 

Aku melirik ke arah pemilik suara tersebut. Dilihat dari perawakannya, orang yang menjawabku ini mungkin seusia denganku, namun tingkat kesaktiannya sudah mencapai tahap penyerapan energi tingkat kesebelas. Pukulan dan tendangan yang dilakukannya selalu menyebabkan angin deras, mirip seperti serangan Reza. 

Dialah yang paling banyak berperan melayani serangan-serangan si makhluk kurus karena tingkat kesaktiannya paling tinggi diantara kami. Sedangkan aku dan Reza lebih fokus mencari celah untuk menyarangkan pukulan-pukulan kami di tubuh makhluk kurus tersebut. 

Tapi meskipun pada akhirnya kami berhasil mendaratkan beberapa pukulan pada tubuh makhluk tersebut, dia sama sekali tidak mengurangi daya serangnya. Seakan serangan kami hanya angin lalu saja baginya. Selain itu, setiap kali pukulanku mengenai tubuhnya, rasanya sepert tengah memukul balok kayu saja. Keras dan kering!

Karena itulah, meskipun posisi kami lebih unggul semenjak aku dan Reza ikut bergabung ke dalam pertarungan. Namun jika posisinya masih seperti ini terus, bisa jadi keadaan akan berbalik. Biar bagaimanapun, pertarungan yang terlampau lama akan menghabiskan banyak stamina. Sedangkan makhluk yang kami lawan ini sepertinya memiliki stamina yang tak terbatas. 

Mau tidak mau aku harus mencari jalan keluar dari situasi buntu semacam ini. Tapi bagaimana caranya? Menyerang kelemahannya? Tapi hingga saat ini aku masih belum menemukan titik kelemahan makhluk tersebut. 

“Sebaiknya kita mundur dulu saja.” 

Setelah memikirkannya masak-masak, satu-satunya solusi yang bisa kutemukan adalah mundur dari pertempuran. 

“Aku mau saja, tapi makhluk ini sama sekali tidak mau berhenti menyerang. Jika kita mundur dia akan terus mengejar kita. Kecuali kita berpencar dan membiarkan nasib yang menentukan, ke arah siapa makhluk sialan ini akan mengejar. Kau mau?”

Aku tak lagi berkata apa-apa setelah itu, namun bukan berarti otakku berhenti menganalisa. Jika benar kata-kata Unggul barusan, berarti melarikan diri sama sekali bukan pilihan. Toh makhluk itu akan terus mengejar kami tanpa henti, sedangkan untuk berpencar... Aku tidak ingin melakukannya, pertama karena bisa jadi makhluk itu justru malah mengejarku. Yang kedua karena aku merasa belum orang yang sebengis itu, mengorbankan nyawa orang lain hanya demi keselamatanku sendiri. Berarti tidak ada cara lain keluar dari kebuntuan ini selain mengalahkannya...

Humph! 

Sambil mendengus kesal, aku mulai mensirkulasikan darahku untuk mengeluarkan jurus iblis darah sekaligus mengambil pisau pasak dari balik pakaianku. Rencanaku adalah menorehkan luka yang cukup besar pada tubuh makhluk tersebut kemudian menyerap darahnya sampai habis. Meskipun sebenarnya aku sangat enggan melakukannya karena disamping aku masih ingin merahasiakan jurus iblis darah dari mereka, aku juga tidak yakin cairan yang mengalir di dalam pembuluh makhluk kurus ini adalah darah. Tapi aku juga tidak punya cara lain lagi...

Aku segera menarik nafas panjang dan mengalirkan tenaga dalam ke pisau pasak untuk meningkatkan ketajamannya. Ternyata pisau pasak itu dapat menerima aliran tenaga dalamku dan secara perlahan mulai berpendar kehitaman.

Aku sempat melihat Unggul sedikit terbelalak melihat pisau dalam genggaman tanganku. Namun dia sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun dan kembali menangkis dua pukulan yang dikeluarkan si makhluk kurus. 

Tanpa buang waktu aku meliukkan tanganku seperti ular ke arah urat nadi di leher si makhluk kurus. Namun diluar dugaanku, makhluk itu seakan paham betapa berbahayanya serangan yang kulakukan dan memfokuskan dirinya menghindari sabetan pisauku. Bahkan demi menghindari seranganku barusan, dia membiarkan dirinya menerima sabetan telak dari senjata kipas Reza dan sebuah tendangan dahsyat dari Unggul. 

Sontak saja makhluk itu terpental hingga beberapa meter karena tendangan Unggul. Namun tak ada jeritan maupun muntahan darah dari mulutnya, makhluk itu hanya kembali berdiri dalam diam. Dan kali ini, dia mengarahkan wajahku ke arahku dan memandangku lekat-lekat dengan tatapan kosongnya. Lebih tepatnya dia memandang ke arah pisau yang ada dalam genggamanku.

“What the...” 

Tanpa kusadari, bulu kudukku langsung berdiri melihat perubahan pada makhluk tersebut. Aura yang keluar dari tubuh makhluk itu mendadak berubah sama sekali, meskipun fluktuasi tenaga dalamnya masih naik turun, namun aku tidak lagi dapat mengukur seberapa dalam tingkat kesaktiannya. Hal semacam itu hanya terjadi jika orang yang tengah kita ukur tingkat kesaktiannya berada jauh diatas tingkat kesaktian kita. Mungkin sekali tingkat kesaktian makhluk itu telah berubah menjadi tahap pembentukan dasar, penyerapan energi, atau mungkin lebih tinggi lagi, tahap penyatuan jiwa... 

“Apa... Apa yang terjadi...” kudengar suara Reza gemetaran agak jauh disampingku. Saat aku melirik ke arahnya, dia sudah jatuh seperti orang yang hendak bersujud di tanah.

Aku sendiri juga merasakan kedua kakiku terasa lemas dan gemetaran, jika saja aku tidak mengerahkan seluruh kemampuan tenaga dalamku serta mensirkulasikan darah yang mengandung tenaga dalam Sadewo di dalam tubuhku, mungkin saat ini aku juga sudah bersujud di hadapan makhluk itu seperti Reza. 

Dan tampaknya makhluk itu menyadari kalau aku berusaha keras menahan diriku agar tidak terjatuh. Dia menatapku lekat-lekat sambil memiringkan kepalanya sedikit, meskipun ekspresi wajahnya saat itu sama sekali tidak berubah. 

“Makhluk itu.... Makhluk itu kerasukan!” ucap Unggul tiba-tiba, suaranya juga terdengar gemetar tanda dirinya juga tengah mengalami hal yang sama dengan diriku dan Reza. 

“Kerasukan?” tanyaku pelan sambil berusaha mengalihkan pandanganku dari makhluk tersebut. 

“Itu... Kemampuan yang hanya dimiliki pendekar tahap penyatuan jiwa keatas...” jawabnya semakin gemetar.

Mampus aku! Tidak ada lagi harapan! 

Itulah hal pertama yang terlintas dipikiranku begitu mendengar perkataan Unggul. Apalah kami ini dihadapan seorang pendekar tahap penyatuan jiwa? Jika pendekar tahap pemusatan energi saja hanya menganggap kami sebagai kutu, lalu seberapa berharga keberadaan kami bagi pendekar tahap penyatuan jiwa? Habislah sudah hidupku yang tak berguna ini. 

“Oh... Ternyata kau tahu pendekar tahap penyatuan jiwa dapat merasuki tubuh orang lain?”

Tiba-tiba makhluk kurus itu menggerakkan mulutnya perlahan, suara yang keluar dari mulutnya seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Lalu makhluk itu menggerakkan kedua tangannya ke belakang dan berjalan mendekati kami secara perlahan. 

“Para pendekar muda... Selamat datang di Sekte Pulau Arwah...” ucap makhluk kurus itu lagi.