Episode 245 - Iblis



Berkat dua ahli di hadapannya terbelenggu, Balaputera Dirgaha mencapai buntelan kain berisi keping-keping emas pada urutan kedua. Sungguh sebuah pencapaian yang berada di luar dugaan. 

Balaputera Naga menyerah pada nasib. Pada akhirnya, ia berhenti berupaya melepas paksa si komodo keras kepala yang menggigit di kaki kiri. Gigitannya itu memang tiada membahayakan, namun tiada pula bisa dilepaskan. Memasang tampang berang, remaja lelaki itu menyeret kaki kirinya. Guratan nan dalam tercipta pada permukaan tanah, sampai ke tempat dimana ia meraih buntelan ketiga. 

Pada urutan keempat, adalah Balaputera Vikrama. Usai merangkak keluar dari tindihan berat sang paus, ia hanya melangkah ringan dan mengambil buntelan yang menjadi jatahnya. Sepertinya ia menahan malu, dan demi menjaga wibawa, terpaksa menyuguhkan raut wajah yang biasa-biasa saja dan perilaku nan tenang adanya. Seolah-olah, kejadian tertimpa paus tiada pernah berlangsung. 

Balaputera Sevita dan Balaputere Citaseraya serempak menggapai buntelan kelima. Persis bersama-sama secara bersamaan pula. Walhasil, sedang berlangsung peristiwa tarik-menarik buntelan yang demikian alot di antara kedua gadis belia.

Bintang Tenggara telah kembali berada di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Gegap-gempita nan membahana menjadi sambutan akan kedatangannya. Siapa yang menyangka bahwa anak remaja tersebut menyelesaikan Tantangan Kedua di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta pada urutan pertama. Layaknya si kuda hitam di dalam ajang turnamen, ia yang di dalam tantangan sebelumnya berada pada urutan buntut, bahkan dapat melanjutkan semata karena sebuah peruntungan, malah tampil demikian mengejutkan.

Peserta dari Kadatuan Kedua, Kadatuan Kedelapan, dan Kadatuan Kesatu kemudian muncul secara berturut-turut. Pun kehadiran mereka mendapat sambutan berupa sorak-sorai yang memenuhi seantero Gelanggang Utama. Bersama-sama Balaputera Gara, mereka berdiri di atas sebuah panggung yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

Kemudian, dua gadis peserta dari Kadatuan Keempat dan Kadatuan Keenam muncul secara bersamaan. Atas kehadiran mereka, segenap penonton segera bertanya-tanya. Apakah artinya ini…? Siapa di antara kedua gadis yang berhak melanjutkan ke tantangan berikutnya? Bukankah hanya tersedia lima tempat…? 

“Enam peserta berhak melanjut ke Tantangan Ketiga atau tantangan terakhir di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta!” 

Suara pembawa acara nan lantang memecah keraguan para hadirin. Tak perlu dipertanyakan lagi, bahwasanya buntelan kelima benar-benar telah dicapai oleh kedua gadis secara bersamaan. 

“Srek!” 

Mendengar pengumuman si ketua panitia, sembilan Datu Besar dari Sembilan Kadatuan penopang Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bangkit berdiri. Tujuh lelaki dewasa dan dua perempuan dewasa. Sebagai catatan, kepala keluarga dari Kadatuan Ketiga dan Kadatuan Kelima memanglah perempuan. Serempak mereka melayang ringan ke atas panggung dimana keenam remaja berada. 

Bintang Tenggara cukup terkejut menyaksikan sembilan ahli nan digdaya yang tetiba mengemuka. Bukan sembarang ahli, karena mereka adalah para kepala keluarga dari Wangsa Syailendra trah Balaputera. Anak remaja itu sontak menyapu pandang. Ia memandangi mulai dari Balaputera Wrendaha sang Datu Besar dari Kadatuan Kesatu, yang mana terlihat kaku seolah tak memiliki perasaan. Tatapan matanya kemudian bertemu dengan tatapan Balaputera Rudra, sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan yang menyibak senyum ramah. 

“Laksanakan!” titah Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa!

Mendengar seruan sang penguasa, serempak kesembilan ahli melesat dan menghilang dari pandangan mata. Kejadian ini menambah gelegar sorak-sorai para hadirin di seantero Gelanggang Utama, tak peduli dari tribun kehormatan sampai ke tribun khalayak. Pemandangan kesembilan Datu Besar berkumpul lalu bergerak secara bersamaan sungguhlah peristiwa yang teramat langka. 

Bintang Tenggara tiada dapat menyembunyikan perasaan heran. Apakah Tantangan Ketiga di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta ini melibatkan para Datu Besar? Tantangan seperti apakah gerangan…? Mengapa seolah hanya dirinya yang tiada mengetahui…?

Saat ini, seluruh pandangan mata terpusat kepada Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Lelaki setengah baya bertubuh tegap itu telah bangkit berdiri. Aura sebagai sosok penguasa, memang tiada dapat disamarkan. Betapa agung pembawaan. Beliau kemudian mengibaskan tangan perlahan... 

Pada kibasan pertama, Bintang Tenggara merasakan formasi segel berpendar di sekitar tubuhnya. Kejadian yang sama juga terlihat pada kelima remaja lain. Formasi segel tersebut berpusat pada mustika tenaga dalam di ulu hati masing-masing dari mereka. Saat formasi segel rampung, anak remaja tersebut merasakan mustika tenaga dalamnya kembali terisi penuh! 

Betapa Bintang Tenggara mengetahui betul bahwa tenaga yang mengisi mustika sempat banyak terpakai. Untuk mencapai urutan pertama, anak remaja itu dua kali merapal Segel Syailendra, kemudian menggunakan teleportasi jarak dekat untuk memastikan diri berada di urutan pertama. Ia pun belum sempat membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. 

Namun demikian, perasaan yang merayap di kala terisinya mustika tenaga dalam tidaklah asing. Benar. Mirip dengan ketika Super Guru Komodo Nagaradja menyuplai tenaga dalam dari mustika retak. 

Kibasan tangan kedua sang Penguasa, menyibakkan formasi segel yang mengelilingi keenam remaja. Di kala formasi segel tersebut rampung, tetiba keenam remaja merasakan diri mereka melesat cepat. Teleportasi jarak jauh! 

Terbentang luas sejauh mata memandang adalah hamparan puing-puing batu berwarna hitam kelam. Berbagai ukuran. Mulai dari puing-puing bangunan, arca nan telah rusak bahkan hancur berkeping, sampai dengan gumpalan-gumpalan tanah. Kesemuanya melayang ringan. 

Langit di atas berwarna kemerahan. Di kala halilintar menggelegar, warna langit berubah semerah darah! Hawa membunuh dapat dirasa demikian kental.  

Bintang Tenggara mengenal betul akan tempat ini. Selama hampir dua purnama lamanya, Ayahanda Sulung Rudra rutin membawa dirinya bersama Balaputera Prameswara datang mengunjungi. Kala itu tiada diketahui alasan pastinya… mungkinkah persiapan demi menghadapi hari ini…?

Suasana di petang hari itu terbilang cerah, walaupun sesaat lagi sang mentari akan terbenam di ufuk barat. Sebagaimana diketahui, keenam remaja tersebut telah tiba di wilayah langit yang melayang tinggi di atas Ibukota Minangga Tamwan. Lima remaja lain, tentunya juga mengenal akan tempat dimana mereka kini berada. 

Mereka berdiri berkelompok di atas salah satu bongkahan tanah terbesar. Belum ada pertukaran kata-kata di antara para remaja. 

Sembilan titik formasi segel tetiba mengemuka dan berpendar mengelilingi keenam remaja. Seolah terbuat dari cahaya, masing-masing formasi segel menyala terang. Letaknya sekira seratus langkah dari mereka. Dengan kata lain, keenam remaja menjadi titik pusat dari sesuatu yang akan mengemuka. 

Samar, di balik masing-masing formasi segel tersebut, mengemuka setiap Datu Besar yang sebelumnya menghilang dari Gelanggang Utama. Mereka terlihat sebagai perapal formasi segel nan menyala. Posisi mereka berdiri mengelilingi, adalah sesuai dengan urutan, mulai dari Kadatuan Kesatu sampai dengan Kadatuan Kesembilan. Bintang Tenggara lebih memusatkan perhatian pada formasi segel nan berwujud limas dengan empat bidang di bawahnya, karena terlihat Ayahanda Sulung Rudra di balik sana. Cukup seksama ia mengamati, karena aura yang menyeruak sangatlah terasa dekat, serta cukup menarik pula wujud dari formasi segel tersebut. 

Kecuali Bintang Tenggara, kelima remaja lain langsung dapat mengenali setiap bentuk formasi segel yang mengelilingi mereka dari sembilan titik. Setiap satu formasi segel tersebut tak lain adalah lambang resmi yang mewakili setiap Kadatuan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang! 

Bintang Tenggara mendongak, karena telah merangkai sebuah formasi segel yang lain lagi. Kali ini, terlihat hanya beberapa meter di atas kepala keenam remaja. Ukurannya melingkar besar sampai seolah memayungi mereka. 

Tantangan Ketiga ini dipenuhi dengan kejutan-kejutan formasi segel, batin Bintang Tenggara mencoba memahami. Atau mungkinkah inti dari tantangan kali ini memang merupakan perlombaan menghapal formasi segel…? Ataukah mungkin tantangan mencipta formasi segel nan baru…? Bisa jadi. Oleh karena itu, Super Murid Komodo Nagaradja itu tak hendak membuang waktu, sehingga ia terus-menerus mencermati. 

Bintang Tenggara menoleh ke arah formasi segel yang merupakan lambang dari Kadatuan Kesembilan, lalu kembali ke atas. Kepalanya anak remaja tersebut pun terlihat bergerak mendongak, kemudian menoleh lagi, sampai berkali-kali.

Tiada diragukan lagi, batin Bintang Tenggara. Dirinya harus memanfaatkan waktu untuk menghapal formasi segel yang mengemuka, karena kemungkinan besar adalah inti dari Tantangan Ketiga! 

Di dalam proses menghapal simbol-simbol nan beraneka ragam bentuk dan ukurannya itu, Bintang Tenggara tetiba menyadari sesuatu yang sangat pelik. Ia yakin dan percaya bahwasanya pernah menyaksikan simbol-simbol yang mengudara. Entah di mana…? Sontak ia kini menoleh ke arah Datu Besar dari Kadatuan Kesatu. Bilamana dikombinasikan, yaitu antara formasi segel yang saat ini dirapal oleh Datu Besar Kadatuan Kesatu dengan formasi segel yang mengudara, maka kemungkinan besar susunannya akan sama dengan formasi yang pernah dirapal oleh… Nenek Sukma! 

Apakah ini kebetulan belaka? Mungkinkah sebuah petunjuk telah mengemuka!?

“Kemana engkau menatap!?” Tetiba terdengar suara menyergah menggunakan jalinan mata hati. Bukan dari Super Guru, bukan pula dari Kakek Gin, apalagi dari Dewi Anjani… 

Bintang Tenggara melirik ke arah Kadatuan Kedua. Sang Datu Besar sedang melotot ke arah dirinya… mengerikan sekali! Sungguh!

“Jangan pedulikan formasi segel lain. Pusatkan perhatian pada Kadatuan Kesembilan dan formasi segel yang berada di atas kepalamu!” 

Bintang Tenggara terlihat salah tingkah. Apa urusannya tokoh yang diketahui sebagai guru Lintang Tenggara itu memerintah seenaknya…? Apa yang sesungguhnya hendak ia sampaikan…? 

Benak Bintang Tenggara berkutat deras. Mencari petunjuk-petunjuk… 

“Swush!” 

Tetiba kesembilan Datu Besar berhenti merapal formasi segel yang terlihat berbeda-beda wujudnya di hadapan mereka. Kesembilan tokoh serempak merentangkan lengan, lalu membuka telapak tangan. Formasi segel lain lagi berpendar pelan, ibarat lukisan yang terbuat dari cahaya namun seragam adanya. Perlahan, formasi segel dari Datu Besar Kadatuan Kesatu melesat ke arah Datu Besar Kadatuan Kedua, lalu menuju Kadatuan Ketiga. Merangkai terus dan terus merangkai sampai dengan kepada Datu Besar Kadatuan Kesembilan, kemudian kembali ke Datu Besar Kadatuan Kesatu. 

Mereka merapal formasi segel gabungan, batin Bintang Tenggara. Anak remaja tersebut mengingat di kala menerima tugas memperkuat formasi segel di sebuah benteng, dimana satu regu bersama-sama merapal Segel Syailendra: Panca Penjuru. Akan tetapi, segel yang dihasilkan oleh kesembilan Datu Besar ini terasa jauh lebih digdaya, dari sembilan penjuru pula.  

Seluruh rangkaian kejadian ini tiada dapat disaksikan oleh segenap khalayak di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tiada layar yang mengemukan dan tiada pula Tawon Cincin yang mengekori setiap remaja. Suasana di Gelanggang Utama lengang… 

“Bersiaplah!” Tetiba suara menggema. Walau sosoknya tiada mengemuka, dapat diketahui bahwa suara tersebut datang langsung dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa! 

Sembilan pilar cahaya berwarna putih tetiba mengangkasa! Indah sekali pemandangan yang mengemuka. Suasana petang jelang malam berubah terang, ibarat siang hari dimana sang mentari bersinar terik. Di dalam setiap pilar cahaya, kesembilan Datu Besar terlihat melayang ringan dan terus merapal formasi segel. Mereka melaksanakan peran yang diemban dengan sempurna. 

Di antara setiap pilar, kemudian terbentuk pula dinding cahaya yang mengelilingi keenam remaja calon pewaris takhta. Dengan kata lain, keenam remaja kini terkurung di dalam formasi segel yang beradius sekira seratur meter. Sungguh luas wilayah di dalam formasi segel ini. 

Kendatipun demikian, kekhawatiran tetiba menyeruak di dalam diri Bintang Tenggara. Jantungnya berdetak keras, punggungnya terasa basah oleh keringat. Ada yang tak kena… Ini bukanlah sebuah upacara pelatikan! Anak remaja tersebut menoleh, dan mendapati Balaputera Vikrama dan Balaputera Naga mendongak. Raut wajah mereka sama khawatirnya. Balaputera Dirgaha berupaya menyembunyikan perasaan, namun gerak tubuhnya tak dapat mengelabui. Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita beringsut mendekat.

Apakah maksud dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa di kala memerintahkan untuk bersiap!?

“BELEDAR!” 

Tetiba halilintar merah menyambar dan lapisan langit di atas sana membuka celah! Di saat yang sama, hawa membunuh yang jauh lebih kental daripada biasanya tetiba menyeruak dari celah tersebut. Saking kentalnya hawa membunuh, tubuh keenam remaja dibuat kaku, dan gemetaran secara bersamaan!

“Bangsat!” sergah Komodo Nagaradja berang. 

“Apa yang akan kita lakukan!?” Ginseng Perkasa terdengar panik. Bukan karena ia gentar, melainkan karena si Maha Maha Tabib Surgawi itu tak memiliki tubuh untuk bertindak. 

Bayangan jemari tangan tetiba menyeruak dari balik celah yang membuka. Bila dicermati, bayangan itu lebih mirip dengan cakar-cakar nan tajam… kemudian mengoyak paksa!

“Super Guru… Kakek Gin… apakah yang sedang berlangsung!?” Bintang Tenggara menyadari bahaya besar akan datang bertandang. 

“Mereka membuka celah ke dunia lain!” geram Komodo Nagaradja ke arah sembilan Datu Besar di dalam pilar cahaya. “Benar-benar sudah tak berotak para Wangsa Syailendra ini!”

“Siapa… Apa yang…”

“DUAR!” 

Belum sempat Bintang Tenggara menyelesaikan kata-katanya, sesosok bayangan tubuh mendarat di hadapan keenam remaja yang masih terpana. Tanah berhamburan ke semerata penjuru dan debu membumbung tinggi. Hanya naluri saja yang bereaksi di kala remaja-remaja tersebut serempak melompat mundur!

Di kala debu-debu mulai mendarat ringan, terlihat sosok makhluk yang demikian aneh wujudnya! Kepalanya mirip dengan buaya, namun dua buah tanduk besar mencuat dari sisi-sisi kepala tersebut. Dua matanya berwarna hitam dan gelap. Tubuhnya kekar menjulang mencapai setinggi tiga meter. Pada kedua belah lengan besarnya, masing-masing memiliki empat cakar seperti elang, sedangkan kedua kakinya mirip harimau. Menjuntai pula ekor nan panjang seperti ular! 

“Makhluk… makhluk… a... apakah itu…?” Balaputera Citaseraya terdengar gemetar. 

“Siluman… Sempurna…?” Balaputera Dirgaha sudah tak mampu lagi meyembunyikan rasa gentar.  

Bintang Tenggara menyadari betul bahwa apa yang hadir di hadapan mereka bukanlah sosok Siluman Sempurna. Bilamana binatang siluman berevolusi menjadi Siluman Sempurna, ia akan mengambil wujud layaknya manusia. Komodo Nagaradja adalah contoh yang sederhana. 

Makhluk yang hadir di depan mereka, bukanlah berasal dari dunia ini! 

[Ini adalah… Formasi Segel Cahaya Gemilang…]

Makhluk itu mengamati keadaan, memperhatikan kesembilan pilar cahaya yang mengangkasa. Di saat yang sama, ia mengeluarkan suara-suara mirip raungan. Keenam remaja tiada dapat mencerna…

[Kekuatan sejatiku tertekan… tersegel…]

Dari sudut pendengaran keenam remaja, makhluk tersebut masih saja mengeluarkan suara-suara nan tak lazim. 

[Hahaha… Tiada mengapa… Sudah tak terbilang lamanya waktu dimana aku menanti kesempatan ini… melahap daging, meminum darah segar… dan menyerap mustika manusia!] 

“Beledar!” 

Di saat yang sama, halilintar besar-besar dan memekakkan telinga terus sabung-menyabung tinggi di angkasa sana. Meskipun celah yang sempat tercipta telah tertutup adanya, terasa seolah lebih banyak lagi apa pun itu yang hendak merangsek keluar!

Makhluk yang berada di hadapan keenam remaja mendongak, [Hahaha… saudara-saudaraku kurang beruntung. Hanya aku yang sigap melintasi celah antar dunia yang sempat membuka…] 

Makhluk tersebut kemudian menatap ke arah keenam remaja. Raut wajahnya mencerminkan rasa gembira, lapar, dahaga… Sulit dipahami… 

“Super Guru, makhluk apakah itu!?”

Sang Jenderal Ketiga dari Pasukan Bhayangkara, bersiaga dan siap mengemuka. Ia menyadari betul bahwa apa yang akan dihadapi oleh anak didiknya, bukanlah sebuah ancaman yang patut dipandang sebelah mata. Sebaliknya, mara bahaya yang demikian mengerikan, telah hadir di hadapan mereka!

“Super Guru…”

Berbisik pelan, Komodo Nagaradja menjawab… “Iblis!” 



Cuap-cuap:

Sayang sekali komentar-komentar nan ramai lagi lucu di dalam episode ‘Pengumuman’ harus hilang karena terbitnya episode ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, perubahan judul otomatis menghapus episode sebelumnya di dalam sistem ceritera.net

Di masa depan, tentunya akan ada lagi episode-episode pengumuman. Nantikan selalu wahai ahli baca nan jomblho… Hohoho…