Episode 243 - Senjata Pusaka...



‘Lempar Tangan, Sembunyi Batu’ berada di urutan keenam pada rangkaian 99 Taktik Tempur ala Komodo Nagaradja. Sungguh, hanyalah ahli nan digdaya yang akan mampu menyusun taktik yang sedemikian perkasa. Apalagi, sampai sedemikian bijak untuk dapat mewariskan taktik-taktik tersebut kepada muridnya. Walau bukanlah yang pertama kalinya, betapa nama taktik tempur ini jelas-jelas merusak peribahasa yang sudah lama ada. 

Bilah angin melesat deras. Kecepatannya membiaskan udara, sehingga membuat rerumputan berdesir. Suara yang ditimbulkan di kala terjadi pergesesan tekanan udara terdengar seperti siulan miris di saat gelombang badai datang berlabuh. 

Menyadari pekikan peringatan yang diteriakkan serta lambaian tangan petanda menyinkir dari Balaputera Gara, para remaja yang sedang terlibat dalam kemelut pertarungan sontak melompat mundur. Setiap satu dari mereka menyadari akan bahaya yang datang mengancam! 

Bintang Tenggara, di sisi lain, sebelumnya telah melompat ke samping, agar arah lintasan bilang angin berbeda dengan arah dimana ia datang. Anak remaja itu kini memacu langkah semakin cepat, bahkan bersiap melakukan teleportasi jarak dekat. Bilamana rencana yang tersusun di dalam benaknya membuahkan hasil, maka bilah angin akan menyayat formasi segel yang membentengi wilayah Plataran. Di saat itu terjadi, sebuah celah akan tercipta dimana ia yang akan pertama kali melesat masuk ke dalam! 

Urutan pertama dalam Tantangan Kedua Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang, berada tepat di hadapan mata!


“Apakah itu? Dari mana datangnya serangan nan demikian membahayakan!?” teriak si pemandu acara di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Sebagai ketua panitia Hajatan Akbar Pewaris Takhta, lelaki dewasa ini mengetahui betul bahwa semua binatang siluman yang dilepas maupun perangkap formasi segel yang dipasang di lereng Gunung Pagar Alam, masih berada pada batasan nan wajar. Bola matanya bergerak-gerak dari satu layar ke layar berikutnya. Layar terakhir masih gelap saja, karena Tawon Cincin belum menyiarkan pandangan matanya. Kemungkinkan besar, binatang siluman tersebut memang belum tiba di dekat Balaputera Gara. 

Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa memicingkan mata. Di atas singasana nan maha megah, raut wajahnya mencerminkan kecurigaan. Sepertinya ia mengenal betul bilah angin yang muncul secara tiba-tiba di sejumlah layar secara bersamaan. Andai saja beliau berada di Gunung Pagar Alam, maka dapat ia pastikan secara langsung apakah bilah angin itu berasal dari… 

“Golok Mustika Pencuri Gesit…? Mungkinkah…? Siapa…?” gumam sang penguasa ketika ingatan di masa lampau mencuat di dalam benak. Kendatipun penasaran, masih dapat ia menahan diri untuk tak membuka lorong dimensi dan melesat pergi ke Gunung Pagar Alam. 


“Srash!” 

Bilah angin menghantam keras formasi segel yang membentengi wilayah Pelataran di antara dua puncak Gunung Pagar Alam. Formasi segel tersebut kemudian bergetar keras, namun masih cukup kokoh berdiri. Di luar perkiraan Bintang Tenggara, kokohnya formasi segel menyebabkan bilah angin tiada dapat menyayat demi membuka celah. Sebaliknya, bilah angin terpantul dan menyebar ke segala arah. Segenap remaja di sekitar formasi segel pertahanan menyadari bahwa bahaya datang mengincar!

Bintang Tenggara yang merupakan si biang kerok, tentunya menyadari akan bahaya lebih awal. Ia pun segera menghindar dengan melenting-lenting tinggi ke udara.

Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga bahu-membahu menahan pecahan bilah angin yang melesat cepat ke arah mereka. Formasi segel ular nan besar, meliuk dan serta merta membungkus tubuh Balaputera Saratungga. Dengan demikian, gadis bertubuh bongsor tersebut memperoleh satu lagi lapisan pertahanan selain baju zirah formasi segel yang biasa ia kenakan. Keduanya berdiri berbaris menahan sayatan. 

Balaputera Vikrama, Balaputera Indravarma dan Balaputera Vikatama bersama-sama merapal sebuah formasi segel pertahanan. Koordinasi di antara mereka berlangsung cepat dan sempurna, sehingga secepat kilat pula sebuah formasi segel yang berwujud tameng nan besar mengemuka. Kokoh sekali kelihatannya dalam meredam sayatan.

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita, yang sebelumnya memisahkan diri untuk bertarung satu lawan satu, serempak melompat mundur. Posisi dua gadis ini memang terpaut jarak paling jauh dari titik pantulan bilah angin. Walhasil, mereka hanya perlu mengelak dari pecahan bilah angin yang menyebar itu. 

Balaputera Dirgaha melesat ke balik tubuh Balaputera Shinta, sedangkan gadis nan cantik jelita itu terkejut sehingga terlambat menghindar! Begitu pula dengan sepuluh remaja lain yang terpana dan mati langkah. Akibat bahu-membahu di dalam kubu masing-masing, mereka terlihat berkerumun. Oleh karena itu pula, mereka kurang sigap dan terlambat untuk melakukan upaya menghindar atau pun bertahan. 

Meskipun kekuatan bilah angin telah banyak berkurang dan ketajamannya berubah tumpul, namun akibat pantulan pecahannya masih cukup keras untuk menyebabkan luka berat bilamana menghantam secara langsung! 

Walhasil, sepuluh remaja terkapar. Bintang Tenggara mendarat dan segera memastikan keadaan mereka. Untungnya tak seorang pun dari mereka meregang nyawa. Mereka hanya hilang kesadaran karena menderita serangan yang datang mendadak. Untung pula tak ada yang cedera berat, karena tak mungkin bagi anak remaja tersebut menyembuhkan sesiapa pun di tengah pantauan puluhan ribu mata. Bisa-bisa dirinya dituduh sebagai pelaku tindak pidana pencabulan! 

Tiga wakil dari Kadatuan Kesatu, Balaputera Vikrama, Balaputera Indravarma dan Balaputera Vikatama segera berupaya mencari tahu darimana datangnya bilah angin. Balaputera Dirgaha dari Kadatuan Kedua melompat maju untuk sekali lagi memeriksa formasi segel nan menghambat langkah mereka. Balaputera Citaseraya dari Kadatuan Keempat dan Balaputera Sevita dari Kadatuan Keenam seperti hendak segera melanjutkan pertarungan satu lawan satu. 

Termasuk Bintang Tenggara, kini hanya tersisa sembilan remaja di sekitar wilayah pelataran. 

“Kau yang melepaskan serangan unsur angin tadi!” sergah Balaputera Naga sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Bintang Tenggara. Di sampingnya, Balaputera Saratungga sedang merapal kembali formasi segel yang berwujud baju zirah, yang sempat terkikis akibat menahan pantulan bilah angin. 

“Aku datang memperingatkan…,” balas Bintang Tenggara berupaya tampil tenang. Walau dari pembawaannya, ia terlihat sedikit gugup. 

“Dusta!” 

“Balaputera Gara memiliki kesaktian unsur petir.” Balaputera Citaseraya setengah membela. 

“Berkat peringatan yang ia sampaikan, maka kita semua terlepas dari ancaman jiwa. Apa yang dikau pikirkan dengan melontar tuduhan kosong!?” hardik Balaputera Sevita dalam menanggapi Balaputera Naga. 

“Tiada guna saling menuding,” sela Balaputera Vikrama. “Jumlah kita tinggal bersembilan sehingga tiada mungkin membuka formasi segel ini!” 

“Agar adil, kita tunggu saja sesiapa di antara mereka yang tak sadarkan diri ini siuman. Siapa pun itu, nantinya akan menjadi ahli kesepuluh.” 

Matahari semakin jauh beranjak ke ufuk barat. Berbeda dengan keterikan pada siang hari, kini sinarnya membias teduh. Kendatipun demikian, hati Balaputera Naga masih panas mendidih. Terlepas dari penjelasan dan pembelaan remaja-remaja lain, firasatnya mengatakan bahwa Balaputera Gara adalah sosok yang melepaskan serangan secara sembunyi-sembunyi. 

Persetan dengan hubungan baik antara Kadatuan Kedelapan dan Kadatuan Kesembilan. Meski ayahnya, sang Datu Besar Kadatuan Kedelapan, adalah bersahabat dengan Datu Besar Kadatuan Kesembilan, kenyataan tersebut tak ada sangkut-paut dengan dirinya. Ia bebas bertindak, apalagi terhadap sosok yang menyerang diam-diam. Terlebih lagi, keberadaan Balaputera Gara sudah cukup lama menarik minatnya untuk bertarung. 

Remaja yang terkenal karena celana sempak nan kecil serta formasi segel berwujud ular yang terus-menerus dirapal, melangkah garang ke arah Bintang Tenggara. Bilamana bilah angin tersebut merupakan milik Balaputera Gara, maka pastilah merupakan jurus andalan. Hanya di dalam pertarungan ia dapat membuktikan kecurigaan. Balaputera Naga bertekad untuk memaksa Balaputera Gara melepaskan jurus tersebut sekali lagi!

Akan tetapi, belum terlalu jauh Balaputera Naga merangsek, tetiba langkah kakinya terhenti. Tatapan matanya memandang jauh ke belakang, melewati tubuh Bintang Tenggara. Siluet bayangan berwarna hitam bergerak turun dan naik, dan semakin mendekat. Segenap remaja yang masih berada di luar formasi segel pertahanan, kontan ikut menoleh dan mengikuti arah pandangan Balaputera Naga. 

Perlahan, siluet tersebut menyibak tubuh binatang siluman nan besar-besar. Dua ekor Babun Rambut Hutan melangkah seolah sedang berbaris. Irama langkah mereka pun senada layaknya para prajurit kemaharajaan yang sangat disiplin serta terlatih. Akan tetapi, bukanlah keberadaan sepasang binatang siluman tersebut yang menyita perhatian segenap ahli. Yang sesungguhnya membuat terpana, adalah kedua binatang siluman tersebut terlihat sedang memanggul sebatang pohon kelapa di pundak mereka. Di atas batang pohon kelapa tersebut, duduk seperti sedang menunggang kuda, adalah ahli paling perkasa di sepanjang Tantangan Kedua dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta ini. 

Beberapa waktu sebelumnya… 

Tiga ekor binatang siluman Babun Rambut Hutan tergeletak dan dipenuhi memar dan luka-luka, sedangkan dua lagi terkurung di dalam kerangkeng formasi segel. Melihat keadaan ini, seorang remaja yang lembut hatinya tiada dapat menahan diri. Dengan segenap kemampuan dan perbekalan yang dimiliki, serta menahan perih di pergelangan kaki yang terkilir, ia pun memberikan perawatan kepada ketiga Babun Rambut Hutan. Luka-luka dibalur obat-obatan, lalu dibalut rapi menggunakan perban. Sungguh telaten ia sebagai perawat. 

Usai memberikan rawatan, menggunakan Segel Syailendra: Belida, remaja tersebut mengurai formasi segel yang mengurung dua ekor Babun Rambut Hutan lain. 

Tindakan penuh simpati nan sedemikian tulus menyentuh perasaan kawanan binatang siluman, sampai mereka jatuh hati. Kedua Babun Rambut Hutan lalu menawarkan diri untuk menandu remaja yang cedera tersebut. Kemana pun ia hendak diantarkan, maka kedua ekor babun Rambut hutan akan dengan senang hati menemani. 

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita terlihat sumringah. Semacam kesan bangga menghias raut wajah keduanya. 

 “Wara…?” gumam Bintang Tenggara, setengah tak percaya. 

Demikian, remaja kesepuluh pun tiba. Kehadirannya membuat segenap ahli terkesima. Sungguh tiada berlebihan bilamana mengulang untuk menyampaikan betapa ia adalah ahli nan paling perkasa di sepanjang Tantangan Kedua Hajatan Akbar Pewaris Takhta ini. Sejak awal perlombaan mendaki dimulai, tiada perlu ia bersusah payah mengerahkan tenaga. Sungguh kualitas diri yang teramat langka. Aura yang ia pancarkan demikian mempesona. 

“Sepupuku Gara, apakah dikau baik-baik saja…?” sapa Balaputera Prameswara dari atas singasana batang pohon kelapa. 

“Segeralah turun!” hardik Balaputera Naga teramat kesal. “Kita perlu mengurai formasi segel pertahan ini bersama-sama!” 

Balaputera Prameswara mengangguk pelan. Kemudian, ibarat memperoleh titah diraja, kedua binatang siluman Babun Rambut hutan serempak menekuk lutut, lalu membungkuk. Mereka hendak menurunkan sang tokoh nan berwibawa. 

Tak seorang pun remaja yang masih sadarkan diri mampu melontar kata-kata ketika Balaputera Prameswara menjejakkan kaki ke tanah. Kedua ekor binatang siluman kemudian melangkah ke belakang tubuhnya. Akan tetapi, ketika hendak akan melangkah, Balaputera Prameswara terlihat masih pincang. Sigap, salah seekor binatang siluman Babun Rambut hutan dengan penuh perhatian dan kesetiaan tiada tara, melangkah maju. Ia lalu mendekap tubuh remaja tersebut dan mengangkat pelan untuk didudukkan dalam gendongan sebelah lengan nan besar. 

“Arrgghhh…” Saking sebalnya, Balaputera Naga melupakan kecurigaan terhadap Balaputera Gara. Ia pun memutar tubuh dan melangkah mendekati formasi segel. Tindakan ini diikuti oleh delapan remaja lain dan seekor binatang siluman.

Sembilan remaja berdiri berbanjar dan seorang lagi duduk di dalam dekapan. Bersama-sama, kesepuluh ahli lalu merapal formasi segel dalam upaya membuka segel pertahan di depan mata. 

“Balaputera Naga, tenaga dalam yang dikau kerahkan terlalu berlebihan jumlahnya,” keluh Balaputera Dirgaha. 

“Balaputera Gara… bukan formasi segel itu hendak kita rapal…,” ujar Balaputera Vikrama pelan. “Contohlah formasi segel milikku ini…” 

“Kau juga keliru…,” ujar Balaputera Sevita. 

“Kau yang salah!” hardik Balaputera Citaseraya. 

Melalui penyesuaian di sana-sini, serta ketegangan yang sempat beberapa kali mencuat di antara mereka, para remaja bangsawan Wangsa Syailendra tersebut berupaya untuk bekerja sama. Pada akhirnya, kesepuluh remaja mulai merapal formasi segel secara kompak. 

Tak lama kemudian, terdapat buntelan kain yang mengemuka sekira lima puluh langkah dari balik formasi segel pertahanan. Lima jumlahnya, berderet dan melayang setinggi perut. 

“Di balik formasi segel ini adalah wilayah Pelataran dan di antara kalian bersepuluh… hanya lima ahli yang berhak untuk melanjutkan ke tantangan terakhir…” Tetiba terdengar suara si pembawa acara berkumandang. 

Kesepuluh remaja terkejut bukan kepalang! Apakah gerangan maksudnya!? Mengapa hanya lima buntelan!? Bukankah disebutkan bahwa tersedia tempat bagi sepuluh ahli untuk melangkah maju ke tantangan berikutnya!? Bagaimana mungkin aturan berubah di tengah tantangan!?

“Sebagai calon pewaris takhta, kalian perlu menyadari bahwa situasi genting dapat mencuat kapan saja… Kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan…,” lanjut suara si pembawa acara. “Barang siapa yang dapat mengambil kantong, maka ia akan memperoleh tempat dalam tantangan terakhir, yaitu Tantangan Ketiga dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta…”

Kesepuluh remaja masih berupaya mencerna. 

“Di dalam kantong tersebut, tersedia pula keping-keping emas!” tutup si pembawa acara.  

Kesepuluh remaja, walaupun merupakan keturunan bangsawan-bangsawan terhormat dan kaya, mulai terlihat tergiur. Jatah pemberian dari setiap kadatuan berbeda-beda, dan bukan tak terbatas. Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga memanglah merupakan pemburu hadiah atau penjelajah reruntuhan. Ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu menyadari betul betapa pentingnya pundi-pundi emas dalam menopang pertumbuhan keahlian di dalam perguruan. Balaputera Gara sempat merasakan penderitaan sebagai ahli yang tak memiliki apa-apa, sehingga untuk mencapai Ibukota Minangga Tamwan saja ia harus mencari bantuan ke sana-sini. 

Akan tetapi, bukanlah keping-keping emas yang penting saat ini. Yang utama adalah meneruskan ke babak berikutnya, dimana hanya setengah dari mereka yang dapat melanjutkan. Suasana yang awalnya adem-adem saja karena tadi mereka sempat bahu-membahu membuka formasi segel pertahanan, kini kembali memanas!

Segera setelah si pembawa acara menyelesaikan kata-katanya yang mana mengubah aturan secara tiba-tiba, formasi segel pertahanan yang membentengi wilayah Pelataran perlahan memudar. Sembilan remaja dan seekor bintang siluman memasang kuda-kuda. Kesemuanya bersiap melesat maju! 

3… 2… 1!

“Duar!” Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga meledakkan tanah di kala keduanya merangsek maju. 

Langkah angin ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu membuat mereka melesat ringan. Binatang Siluman Babun Rambut Hutan memang memiliki kecepatan di atas rata-rata, meski sedang menggendong seorang remaja. Petir berderak dan Bintang Tenggara pun bergerak ibarat kilat nan menyambar di kala hujan badai.

Di kala setiap satu dari remaja-remaja tersebut berlomba mencapai buntelan-buntelan berisi keping-keping emas lima puluh langkah di hadapan, Balaputera Indravarma dari Kadatuan Kesatu menghentikan langkah. Ia terlihat sedang merapal, dan hampir di saat yang bersamaan serta-merta mencuat sebuah formasi segel yang mirip dengan dinding kokoh tepat di hadapan remaja-remaja lain. Demi menjamin tempat bagi dua rekan satu kadatuan, ia memilih untuk berkorban dan menahan gerak langkah para peserta lain. 

Balaputera Gara menebar Segel Penempatan lalu melenting-lenting tinggi untuk melompati dinding. Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga mendobrak seolah tak ada apa-apa yang merintangi. Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita berkelit ke samping dan bergerak mengitar. 

Balaputera Dirgaha, sebaliknya, menghentikan langkah. Ada enam ahli yang telah mendahului. Menggeretakkan gigi, ia lalu mengeluarkan semacam senjata pusaka…

“Wayang Kulit Siluman… Punakawan!” gumam Balaputera Dirgaha dalam keadaan terpaksa. Di dalam gengaman tangan kiri dan kanan, ia mengeluarkan sesuatu yang bertangkai sehingga mirip dengan kipas yang terbuat dari kulit. Indah sekali guratan pada lembar-lembar kulit yang mencerminkan sosok-sosok mirip manusia. Ada yang gemuk, kurus tinggi, ceking, dan gempal.

“HAH!” Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa terkejut bukan kepalang! Tak ayal lagi, kedua Jenderal Bhayangkara tersebut mengenal betul akan senjata pusaka yang baru mengemuka itu. 

“Cih! Keparat!” hardik Komodo Nagaradja. 

Ginseng Perkasa menggeram, “Salah satu dari… Lima Senjata Pusaka Angkara Murka… milik Raja Angkara!” 

Balaputera Dirgaha dari Kadatuan Kedua kemudian merentangkan lengan, dan berkali-kali mengibaskan wayang kulit di dalam genggaman. Ibarat seorang dalang nan kondang, ia pun mengundang… 

“Semar, Gareng, Petruk, Bagong… Penuhi panggilanku!”