Episode 34 - Guna-Guna Siluman Ular (1)



Di Pakuan, Kotaraja Padjadjaran, terlihat dua belas prajurit Katumenggungan mengawal tandu Tumenggung Wirakerta* yang baru pulang dari Tanah Leluhur urang Sunda yang terletak di wilayah Cisolok, Pandeglang atas perintah Prabu Ragamulya Surya Kencana. Kedua belas prajurit tersebut rata-rata bertubuh tinggi besar dan kokoh, membawa tandu itu dengan setengah berlari. Empat di depan, empat di belakang, yang empat lagi menggotong tandu. Di bagian tengah tandu ada sebuah tempat duduk kayu yang diberi atap dan dinding serta pintu, semuanya terbuat dari kayu jati hitam. Mereka menggotong tandu berisi Tumenggung yang sudah sepuh itu memasuki Kutaraja Pakuan. (*fiktif)

Ketika mereka memasuki wilayah pasar sebelum alun-alun Kota, sekonyong-konyong melayanglah belasan pisau menderu mengarah pada mereka! Kedua belas prajurit Katumenggungan itu kaget bukan main mendapatkan serangan dadakan tersebut, dua orang prajurit yang mengawal di belakang tewas seketika sewaktu pisau-pisau yang nampaknya beracun itu menancap di perut mereka, sementara yang sepuluh lainnya termasuk empat pengangkat tandu keburu bersiaga, keenam prajurit pengawal itu segera melindungi tandu beserta para pengangkutnya, mereka memutarkan tombaknya dan mengangkat perisainya untuk menahan hujan serangan pisau-pisau beracun tersebut.

Kontan saja suasana di pasar itu menjadi semerawut, para penduduk yang berjualan dan pembeli yang tadinya berlutut menyambut Sang Tumenggung yang melewati pasar tersebut langsung panik dan kocar-kacir, “Siapa yang berani menyerang Gusti Tumenggung Wirakerta?!” bentak si kepala Ponggawa yang mengawal Tumenggung Wirakerta, matanya menatap liar menyapu keadaan di seluruh pasar yang kini kacau balau tersebut, sulit baginya untuk melihat siapa para penyerang gelapnya.

Saat para prajurit tersebut kebingungan mencari para penyerang gelap tersebut, tiba-tiba meluncur lagi belasan pisau menyerang mereka! Kali ini semua pisau itu mengarah tepat pada para pengangkut tandu Sang Tumenggung! “AAAAaaaaa!!!” jerit keempat pengangkut itu, mereka semua menjadi sasaran telak dari pisau-pisau beracun yang seolah bermata tersebut, tandu itu pun terlepas dari genggaman mereka dan akan jatuh ke bumi! Saat itu tiba-tiba… Braakkk!!! Sang Tumenggung melayang dari dalam tandu menerobos atap tandu tersebut, belasan pisau-pisau segera menderu berdesing menyerang Sang Tumenggung yang baru keluar dari dalam tandunya!

Ternyata meskipun sudah sepuh, Tumenggung Wirakerta masih sangat tangguh, dia berjumpalitan di udara menghindari serangan-serangan maut pisau beracun itu, ia juga berhasil menangkap dua buah pisau dan melemparkannya kembali ke arah para penyerang gelap yang bersembunyi di kerumunan orang. Satu jerit kesakitan melengking ketika 2 buah pisau yang dilempar oleh Tumenggung Wirakerta menancap di dada salah seorang pedagang sayur yang merupakan salah 1 penyerang gelap tersebut.

“Itu mereka! Kejar!” tunjuk Tumenggung pada empat orang yang menyamar sebagai pedagang sayur di pasar itu, keenam prajurit yang tersisa pun langsung berlarian ke arah penyerang gelap itu, para penyerang gelap itu langsung menghamburkan seluruh pisaunya untuk melarikan diri, dua lagi prajurit Katumenggungan roboh oleh serangan pisau-pisau beracun itu.

Saat itu dari dalam Keraton Padjadjaran keluarlah puluhan prajurit untuk mengamankan keadaan pasar, mereka langsung mengejar para penyerang gelap itu. Para penyerang gelap itu terus berlarian, karena Kutaraja Pakuan hanya memiliki satu gerbang pintu masuk dari sebelah selatan (Kota tersebut dikelilingi oleh tembok tinggi dan juga tebal serta lubang parit air yang banyak buaya), mereka pun terpaksa berlari menuju ke tembok disebelah barat kota untuk kemudian melompati pagar tinggi tersebut, tapi rupanya niat mereka tak kesampaian, puluhan anak panah bersiut menerjang mereka, tiga orang dari mereka kena, sedangkan pemimpinnya berhasil melompat keatas tembok untuk kemudian melarikan diri!

Dengan penuh putus asa, ketiga orang yang terluka ini melemparkan seluruh pisau mereka, rubuhlah tiga orang prajurit Padjajdaran karenanya. Naik pitamlah para prajurit itu, mereka segera menghujani tiga orang itu dengan panah-panah mereka, “Hentikan! Tahan serangan kalian!” perintah Tumenggung Wirakerta, tapi terlambat tiga orang itu sudah tewas dengan tubuh ditancapi belasan anak panah. 

“Kenapa kalian gegabah membunuh mereka?! Seharusnya kita tangkap mereka hidup-hidup untuk kita korek keterangan! Sudah! Sekarang geledah mereka!” Dengan raut wajah penuh kekecewaan Tumenggung Wirakerta segera memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menggeledah ketiga mayat tersebut, dari ketiga mayat tersebut, ditemukan tanda-tanda bahwa mereka adalah prajurit Kesultanan Banten.

Bukan main geramnya Prabu Ragamulya Surya Kencana mendapati para prajurit Banten dapat memasuki Kutaraja Pakuan, bahkan berani melakukan penyerangan di luar gerbang keratonnya. Serangan yang dilakukan “Didepan Hidungnya Sendiri” tersebut membuatnya marah sekaligus was-was, segeralah ia mengumpulkan seluruh pejabat Keraton Padjadjaran untuk mendengarkan laporan dari Tumenggung Wirakerta. “Ampun Gusti Prabu, tidak salah lagi mereka yang menyerang hamba adalah para prajurit pembunuh dari Banten yang dilatih khusus untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan gelap!”

“Sudah beberapa pekan ini aku menerima laporan bahwa di seluruh Padjadjaran ini telah diisusupi oleh mata-mata dari Banten, sekarang mereka mulai berani menyerang kita di Kutaraja kita sendiri!” ucap Prabu Ragamulya dengan masygul, “Bagaimana mereka bisa masuk Paman Tumenggung?” tanyanya pada Tumenggung Wirakerta.

“Mereka menyamar sebagai pedagang sayur Gusti, begitu hamba lewat ke pasar mereka langsung menyerang hamba dengan pisau-pisau beracunnya!” jawab Tumenggung Wirakerta.

“Hmm... Bahkan Kutaraja kita sendiri mulai tidak aman... Dengarkan kalian semua, aku minta penjagaan di Kutaraja di perketat, tangkap semua orang yang berbicara dengan logat Banten dan Cirebon! Larang orang-orang yang yang berlogat Banten ataupun Cirebon masuk ke Pakuan ini!” titahnya.

Sang Prabu lalu melirik lagi pada Tumenggung Wirakerta, “Paman Tumenggung, bagaimana dengan pembangunan Keraton di Kabuyutan Pandeglang?” 

Tumenggung Wirakerta menghaturkan sembahnya sebelum menjawab, “Keraton sudah hampir rampung Gusti, tinggal membangun Kutarajanya saja.”

Prabu Ragamulya mengangguk “Bagus! Pembangunan Kota tidak perlu terlalu besar dan mencolok, aku ingin Keraton di Pandeglang tetap berada didalam hutan!” ucapnya.

Saat itu Mahapatih Cakradara* menghanturkan sembahnya, “Mohon ampun beribu ampun Gusti Prabu, apakah Gusti benar-benar telah yakin akan memindahkan Ibukota Padjadjaran ke Pandeglang? Sebab menurut hemat saya dan para sesepuh, Kutaraja Pakuan ini masih tetap yang paling aman dibandingkan dengan Pandeglang sebab sulit ditembus oleh pasukan musuh, parit serta tembok benteng yang mengelilingi Kota Pakuan serta hanya mempunyai satu gerbang masuk akan sangat menyulitkan musuh meyerang kita, kita juga dapat menaruh pasukan panah dan ketapel kita diatas benteng Kota” (*fiktif)

Prabu Ragamulya mengangguk setuju, “Kamu benar Paman Patih, tapi menurut saya selaku Prabu disini, Kota dan Keraton ini sudah kehilangan Wahyu Keratonnya meskipun kita masih menyimpan seluruh pusaka peninggalan Eyang Prabu Sri Baduga Maharaja, nah menurut mimpi saya, Wahyu Keraton itu telah terbang ke arah tanah leluhur kita di Pandeglang, maka dari itu saya memutuskan untuk memindahkan Ibukota serta Keraton ke Pandeglang!” jelas Prabu Ragamulya.

Mahapatih Cakradara beserta seluruh sesepuh di sana hanya bisa diam dan mengiyakan saja, sebab menurut mereka bagaimapun pemindahan ibukota ke Pandeglang sangatlah tidak bijak, apalagi posisi Pandeglang yang lebih dekat ke wilayah Kesultanan Banten. Selain karena lebih dekat, benteng di Pandeglang pun tidak sekokoh Pakuan hingga akan memudahkan pasukan Banten untuk menyerbu Pandeglang suatu saat nanti, belum lagi kalau memperhitungkan persenjataan modern yang dimiliki oleh laskar Banten, prajurit mereka mahir menggunakan bedil dan meriam. Tetapi karena Prabu Ragamulya bersikeras untuk memindahkan Ibukota kesana, mereka hanya bisa mengangguk setuju saja.


***


Di ruang tamu Kademangan Saguling, Jaya dan Galuh sedang duduk santai setelah dipersilahkan untuk beristirahat di sana dan menunggu santap malam oleh Ki Demang Wiraguna. “Jaya menurutmu Ki Demang itu siapa?” Tanya Galuh yang penasaran dan curiga oleh cerita-cerita penduduk desa oleh karena Ki Demang mengambil bayi-bayi mereka, selain ia merasakan perasaan yang aneh.

“Dia manusia biasa.” jawab Jaya.

“Benarkah? Berarti kita tidak sedang berada di sarang siluman atau semacamnya kan?” tanya Galuh lagi.

“Ini bangunan Kademangan biasa Galuh, sampai saat ini aku belum merasakan hal yang aneh,” balas Jaya.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun dipersilahkan untuk masuk kedalam, Ki Demang berserta istrinya juga tujuh anak gadis kecilnya menyambut kedatangan Jaya dan Galuh, melihat sikap Ki Demang juga keluarganya yang memperlakukan Jaya dan Galuh bak tamu agung juga sajian yang berlimpah ini membuat Jaya sangat mencurigai tuan rumahnya, padahal mereka tidak melakukan apa-apa terhadap keluarga Ki Demang ataupun desa ini, apalagi Jaya terus-terusan mencium bau bisa ular yang sangat engas di ruangan itu, akan tetapi ia merasa tidak enak kalau harus menolak sajian dari tuan rumah, maka ia pun menerima jamuan Ki Demang dengan sungkan.

Setelah selesai makan malam, mereka pun dipersilahkan untuk menginap di Kademangan ini. Malam itu Galuh tak bisa memicingkan matanya, ia terus merasa gelisah sambil rebahan sendiri di kamar tamu yang dipersilahkan untuk ditempati dirinya. Saat itu entah mengapa ia merasa sangat takut, selain itu ada perasaan tidak enak saat ia memasuki Kademangan ini. Ia lalu bangun dan melihat ke sekeliling kamarnya, “Aneh ada apa ini... Kenapa semakin malam suasananya semakin seram? bulu kudukku semakin merinding saja!” pikirnya sambil memegangi tengkuknya yang terasa dingin.

Saat itu udara mencucuk sangat dingin, gadis itu seperti mendengar ada suara-suara aneh seperti suara desiran di luar jendelanya, ia segera melompat dan membuka jendelanya, “Siapa?!” tanyanya dengan keras, tapi diluar tidak ada siapa-siapa, hanya pemandangan ke kebun belakang Kademangan yang gelap kosong, gadis ini semakin merasa ketakutan melihat langit malam yang gelap kelam hitam tak berbintang tanpa rembulan, apalagi ketika telinganya mendengar suara-suara berdesis yang tak nampak oleh matanya,

Gadis itu lalu kebingungan harus melakukan apa, pikirannya langsung teruju pada Jaya, maka tanpa mengingat apa-apa lagi, Galuh langsung berlari menuju ke kamar Jaya. “Jaya! Jaya! Kamu belum tidur kan? Tolong buka pintunya!” pinta Galuh sambil mengetuk-ngetuk kamar Jaya.

Jaya pun membukakan pintu kamarnya, “Ada apa Galuh? Ini sudah sangat larut!” tanya Jaya.

“Jaya, tolong izinkan aku tidur di kamarmu!” pinta Galuh.

“Apa?! Tapi aku kan laki-laki! Kalau Ki Demang dan keluarganya tersinggung dan menuduh kita berzina bagaimana?!” Tanya Jaya.

“Aku tak peduli! Pokoknya aku minta ditemani Kamu! Aku takut sekali! Banyak suara-suara aneh dan perasaanku tidak enak!” pinta Galuh dengan memaksa.

“Hmm... Tempat ini memang sangat mencurigakan, aku juga tidak melihat ada seorang pengawal pun disini, bagaimana Kademangan sebesar ini yang sangat dekat dengan Kutaraja tidak memiliki pengawal? Aku juga mencium bau bisa ular sedari tadi…” sahut Jaya.

Galuh tak mendengarkan Jaya lagi, ia langsung menerobos masuk dan naik ke tempat tidur lalu menututpi dirinya dengan selimut, “Hei tunggu dulu! Aku belum mengizinkan kamu tidur di kamarku! Hei!” semprot Jaya.

“Diam! Dua malam kemarin juga kita tidur di pesanggrahan yang sama, kamu tidak protes!” balas Galuh dengan sengit.

“Ya, tapi ini kan lain lagi. Ini kan di tempat orang lain! Lagipula, bagaimana kita bisa tidur satu kamar begini!” balas Jaya.

“Kamu tidur saja di bawah! Kenapa hal seperti itu kamu pusingkan?!” jawab Galuh dengan nada perintah.

Jaya pun menghela nafasnya, ia lalu duduk di sudut kamar yang agak jauh dari Galuh. “Jaya, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh disini? Semakin malam perasaanku semakin aneh.” ucap Galuh setelah Jaya duduk disudut kamar. 

“Iya memang perasaanku juga tidak enak, dan suasana malam ini... Rasanya cukup mencekam bagiku meskipun kita berada didalam gedung Kademangan yang megah ini.” sahut Jaya.

“Benar kan? Lagipula aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari Ki Demang dan keluarganya... Kau juga lihat tadi kan, semua putri Ki Demang wajah serta perawakannya sama semua, mereka seperti kembar tujuh dan seumuran semuanya!” lanjut Galuh.

“Iya kau benar, apakah mereka kembar tujuh?” sahut Jaya sambil berpikir apakah mungkin Nyai Demang melahirkan tujuh putri kembar. 

Jaya lalu menatap wajah Galuh, ia terus memperhatikan tahi lalat di bawah mata kanan Galuh, teringatlah ia pada cerita gurunya Kyai Supit tentang gadis yang mempunyai tahi lalat di bawah mata kanannya, “Hoi apa yang kau lihat?!” Tanya Galuh penasaran ketika mendapati Jaya menatap wajahnya.

Jaya buru-buru memalingkan wajahnya, “Eh tidak... Galuh kalau merasa takut dan tidak enak, cobalah untuk berdoa dan berdzikir... Nah selamat tidur!” pungkas Jaya sambil memejamkan matanya.

“Hei jangan mengalihkan pembicaraan! Apa kau sudah mau tidur lagi?!” sela Galuh, tapi Jaya diam tak menjawab dengan menutup matanya, Galuh pun membaringkan dirinya dan memalingkan wajahnya ke tembok, seketika itu wajahnya memerah seiring dengan adanya perasaan hangat didalam dadanya ketika mengingat Jaya menatap wajahnya barusan.

Tapi kemudian Galuh teringat pada nasib bayi-bayi malang yang “dibuang” oleh para orang tuanya di pesanggrahan tak berpenghuni yang mereka pakai untuk bermalam beberapa malam kemarin, “Para bayi yang dibuang oleh orang tua mereka... Andai mereka dapat terus hidup bersama orang tuanya dan bisa hidup lebih dari cukup seperti keluarga Ki Demang Wiraguna ini... Dibuang kemudian tak tahu lagi bagaimana nasibnya, mati sebagai akibat sikap pengecut orang tuanya.”

Jaya termenung mendengar ucapan Galuh, ia dapat mengetahui dengan pasti bahwa ada bara api dendam yang maha hebat dari dalam diri Galuh yang terdengar dari getaran setiap kata yang ia ucapkan, Jaya juga dapat menebak bahwa Galuh sedang teringat pada dirinya sendiri. “Orang tuamu pasti orang tua yang sangat baik.”

Galuh menoleh pada Jaya yang menatap ke arah sudut kamar lain, “Iya, orang tuaku adalah orang yan sangat baik!” Galuh lalu menatap ke atas langit-langit kamar “Lalu kau sendiri Jaya? Bukankah kau hanya mengetahui tentang ayahmu yang mati terbunuh saat menitipkanmu pada Kyai Pamenang, lalu bagaimana dengan ibumu?”

Jaya menghela nafas “Entahlah, aku tak pernah mengetahui apapun tentangnya... Dan kalaupun ia masih hidup dan Tuhan mempertemukanku dengannya, bagaimana caranya aku akan mengenalinya?”

Galuh berdecak “Ckk! Nasibmu sama seperti para bayi di desa ini yang dibuang oleh orang tua mereka! Tapi ini semua juga gara-gara pemerintahan Mega Mendung yang tidak adil bagi rakyatnya! Hanya karena Ki Demang Wiraguna setia pada Raja, mereka tidak menghukumnya padahal Ki Demang menetapkan pajak tambahan yang tinggi serta mengambil para bayi penduduk!” lanjut Galuh.

“Galuh... Aku dapat merasakan dendam kesumat yang teramat dahsyat didalam hatimu... AKu tahu karena saudara seperguruanku pun memiliki dendam yang teramat dahsyat! Tapi satu saranku, jangan sampai kau berbuat suatu hal yang nantinya akan kau sesali.” nasihat Jaya.

Sementara itu di kamar ketujuh putri kembar Ki Demang Wiraguna dengan Nyai Kantili, ketujuh anak gadis yang masih berusia sekitar delapan tahunan itu nampak sedang berdiskusi. “Yang pria itu lebih baik, ia cukup jantan, tapi karena badannya tegap dan berotot mungkin dagingnya agak keras.” ucap salah sati dari mereka.

“Iya, tapi tetap saja ia lebih baik! Bukankah yang perempuan itu badannya sangat bau dan kotor? Kelihatannya ia gadis yang jorok! Aku merasa mual ketika mencium bau tubuhnya yang menusuk tadi!” sahut yang lainnya.

“Aku juga mual kalau membayangkan kita harus menyatap gadis kotor yang baunya menyengat itu!” sahut yang lainnya.

“Kelakuannya juga aneh seperti orang sableng dan tidak punya sopan santun!” sambung yang satunya.

“Tapi kelakuannya yang aneh dan sableng itu tak ada hubungannya dengan menu santapan kita, kita kan bisa membersihkannya terlebih dahulu sebelum memakannya?” sahut yang lainnya.

“Benar, kalau perlu kita rebus saja dia terlebih dahulu supaya kotoran dan bau busuknya hilang!” sahut yang lainnya.

“Benar, nampaknya daging dan darahnya cukup lezat karena sepertinya dia masih perawan tingting!” sahut saudaranya yang lain.

“Ah, sayang sekali kali ini kita tidak bisa menikmati daging dan darah bayi, sehingga terpaksa makan orang dewasa seperti mereka!” keluh yang terakhir.

“Tapi kita harus tetap bersyukur ayah masih bisa memberikan mangsa untuk kita, untung ia menemukan dua pengembara itu karena bayi di desa ini sudah habis semua!” tukas si Kakak tertua.

“Sudah! Sekarang waktunya kita makan!” pungkasnya, dan... Tubuh si Kaka tertua berubah menjadi ular kobra belang hitam-putih yang besar! Keenam adiknya pun berubah menjadi ular kobra belang hitam-putih yang besar! Mereka pun merayap meninggalkan kamarnya. Dengan gerakan cepat tak bersuara, ketujuh ular kobra raksasa itu merayap ke kamar tamu yang tadinya ditempati oleh Galuh, tapi setelah mengetahui kamar itu kosong, mereka langsung merayap ke kamar yang diisi Jaya dengan Galuh. 

Di dalam kamar, Jaya bermimpi sangat aneh. Saat itu ia sedang berdiri seorang diri sambil celingukan di ruang tengah kademangan itu, tiba-tiba seluruh kademangan itu diselimuti oleh kabut tipis, sesosok perempuan paruh baya yang sangat cantik mengenakan kebaya putih dan berwajah pucat menghampirinya, perempuan itu langsung melemparkan senyuman manis pada Jaya, “Maaf Nyai siapa?” Tanya Jaya.

“Saya Lasmini istri Ki Demang Wiraguna” jawab perempuan itu.

“Istri Ki Demang? Tapi tadi saya tidak melihat Nyai.” sahut Jaya.

“Sebab saya sudah berada di alam lain saudara” jawab Nyai Lasmini.

“Alam lain? Apa maksudnya?” tanya Jaya tak mengerti. 

“Maaf saudara, saya tidak punya waktu untuk menjelaskannya, tapi saya ingin meminta tolong pada saudara untuk mengakhiri kedzaliman istri muda Ki Demang yang bernama Nyai Katili dan menyelamatkan Ki Demang dari kesesatan yang membelenggunya!” tukas Nyai Lasmini.

“Maaf Nyai, saya benar-benar tidak mengerti!”

“Sudahlah tolong ikuti saya!” Nyai Lasmini langsung berjalan ke halaman belakang Kademangan, entah mengapa seolah ada kekuatan tak nampak yang menarik Jaya untuk mengikutinya.

Nyai Lasmini lalu membuka pintu gudang tak terurus di halaman belakang Kademangan dan menunjukan satu pintu rahasia yang ada di bawah lantai pada Jaya. “Saudara, jika kau masuk kedalam pintu ini kau akan menemukan satu rahasia besar yang akan menyingkap kejahatan Nyai Katili!” 

Jaya pun menatap pintu itu dengan penuh selidik, “Pintu ini menuju ke mana Nyai?” tanyanya

“Nanti saudara carilah sendiri jawabannya, sekarang sudah saatnya untuk pamit... Saudara lekaslah terjaga, bahaya besar juga sedang mengancam dirimu!” pungkas Nyai Lasmini.

Jaya pun langsung terbangun dari tidurnya, ketika ia hendak memikirkan mimpi yang baru saja ia alami, firasatnya mengatakan bahwa bahaya besar sedang mengincar dirinya dan Galuh, telinganya juga menangkap suara berdesir yang sangat halus, seperti suara ular yang merayap di lantai kayu seiring dengan bau bisa yang engas tercium olehnya, ia pun langsung melompat keatas atap kamar.

Dengan gerakan tanpa suara, ketujuh ular itu membuka pintu kamar tamu yang ditempati Jaya dan Galuh, tapi didalamnya, mereka hanya melihat Galuh yang sedang tertidur diatas tempat tidur. Ketujuh ular itu pun merayap masuk menghampiri tempat tidur Galuh, gadis berkulit hitam manis itu masih enak-enakan tidur sambil mengorok ketika ketujuh ular kobra raksasa itu mengelilinginya dengan tatapan siap menerkamnya! Pada saat ular-ular itu siap mematuk Galuh, sesosok tubuh melesat dari atas atap menghalau mereka!

Bruaakkk!!! Kerujuh ular itu terlempar ke sudut kamar setelah dihalau oleh Jaya! Galuh pun langsung terbangun dengan sangat terkejut! “Ada apa?!” teriaknya, saat itu ia melihat sinar lembanyung disertai pusaran angin panas menderu menerjang ketujuh ular kobra raksasa jadi-jadian itu! Blaarrrr!!! Ledakan dahsyat terjadi, ketujuh tubuh ular jadi-jadian itu meledak! Crasshhh!!!! Darahnya memuncrat kemana-mana termasuk membasahi tubuh Galuh! Tubuh mereka hancur oleh pukulan “Sang Surya Tenggelam” Jaya Laksana alias si Pendekar Lembah Akhirat yang ia dapatkan dari Kyai Supit Pramana.

“APA INI?!” jerit Galuh marah sambil bergidik jijik, perutnya terasa mual dan ia seperti hendak muntah setelah seluruh tubuh dan pakaiannya basah memerah terkena cipratan darah Ular Kobra jadi-jadian itu. Dengan marah gadis berlesung pipi ini mencengkram baju Jaya “Apa ini?! Kenapa kau lakukan ini padaku?! Ada banyak darah yang mengguyur tubuhku sampai tertelan kedalam mulutku!”

Jaya tidak menjawab, jarinya hanya menunjuk ke sisa-sisa tubuh ular kobra raksasa yang masih terbakar api mengeluarkan bau sangit. “Apa itu?!” jerit Galuh sambil bergidik.

“Ular kobra jadi-jadian!” sahut Jaya.

“Jadi-jadian?! Apa maksudnya?!” cecar Galuh.

“Siluman ular!” pungkas Jaya sambil melangkah keluar dari kamar.