Episode 21 - Duapuluh Satu



“Inilah sikap seorang ksatria, senapati. Aku bertarung untuk kemuliaan Sri Jayanegara dan rakyat Majapahit!” seru Lembu Daksa sambil menghantamkan ujung tombaknya pada perisai senapati pengapit yang menjadi lawannya.

Untuk kesekian kali, jantung Gumilang bergetar sangat keras.

“Lembu Daksa bukanlah orang yang tidak mempunyai hati dan jantung. Akan tetapi kesetiaan menjalani kewajibannya telah memaksa dirinya berada di satu tempat yang berbeda,” desis Gumilang dalam hati.

Lembu Daksa membentak nyaring dan tombaknya berputar semakin cepat hingga terdengar seperti suara bercuitan dan angin menyambar-nyambar keluar pada tiap kibasan tombaknya. dia mulai terdesak. Senapati yang menjadi lawannya merasa lengannya tergetar setiap berbenturan dengan tombak Lembu Daksa. Dan ia juga merasa guncangan hebat melanda jantungnya setiap benturan terjadi. Senapati pengapit itu surut dan mencoba melarikan kudanya menyusup diantara lingkaran-lingkaran kecil di sekitarnya.

Mundurnya senapati itu telah membuat gelar pasukan menjadi sedikit kacau, Ki Wisanggeni yang menyadari lubang yang terbuka pada gelarnya lantas mengambil Lembu Daksa sebagai lawannya. Gumilang beranjak kembali ke tempatnya semula ketika ia mengetahui kehadiran Ki Wisanggeni. 

“Anakku, hari ini kita akan segera menemui takdir kita masing-masing,” kata Ki Wisanggeni setelah menghadapi anak kandungnya.

“Tidak ayah. Sebaiknya ayah segera kembali ke barisan Majapahit,” sahut Lembu Daksa dari atas punggung kuda.

“Aku tidak membelakangi sebuah janji!” kata Ki Wisanggeni. Dalam pada itu, beberapa kelompok prajurit segera mengelilingi senapati masing-masing. Mereka agaknya menyadari bahwa dalam waktu yang tidak lama akan terjadi satu perang tanding. Satu pertempuran yang memilukan ketika ayah dan anak saling berhadapan untuk saling membunuh. 

“Ayah. Jika Ki Sentot menyadari keadaan yang semestinya terjadi dan dapat menerima itu sebagai kenyataan, tentu ia tidak akan kejam pada orang yang menentangnya. Sekalipun ia berpikir sedang berjuang untuk satu nilai kebenaran, sebenarnya ia hanya mementingkan diri sendiri serta menebar derita pada orang lain."

“Sesorahmu tidak akan pernah didengar oleh Ki Sentot.”

“Jika demikian. Aku mohon ampunan ayah. Aku akan melawan ayah sebagai seorang satria Majapahit!” berkata Lembu Daksa lirih lalu,”aku mungkin akan membunuh ayah tetapi bukan karena kebencian, tetapi tanggung jawabku sebagai prajurit Majapahit.”

Sebagai orang yang berkemampuan tinggi, Ki Wisanggeni dapat mendengar apa-apa yang dikatakan oleh anaknya meskipun sangat pelan terdengar di tengah gemuruh pertempuran.  

“Maafkan aku, Lembu Daksa. Aku hanya dapat berharap kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang berbeda di kehidupan yang akan datang. Tetapi aku bangga dengan apa pun yang kau lakukan pada hari ini,” suara Ki Wisanggeni terdengar menggetarkan dan menyayat setiap telinga yang mendengarnya. Bahkan ketika seorang prajurit Majapahit menundukkan kepala, beberapa prajurit yang menjadi lawannya dapat merasakan kegetiran yang melanda kedua ayah anak itu. Kecuali beberapa orang yang pada mulanya adalah sekelompok orang yang berhati kasar, mereka tetap meneriakkan makian serta umpatan-umpatan kotor pada Lembu Daksa.

Lembu Daksa merasakan sebulir air mata mengalir pada pelupuknya.

“Ampuni aku, Sang Pencipta. Maafkan aku, ayah,” gumam Lembu Daksa seraya mengangkat tombaknya.

Ki Wisanggeni dengan mata terpejam segera menarik pedangnya yang besar. Ia menundukkan kepala. Dadanya serasa bergemuruh seperti diterjang air bah. Ia menghentak lambung kuda dengan kedua kakinya. Tak lama kemudian pedangnya sudah menebas dahsyat. Dengan cekatan Lembu Daksa mengendalikan kuda menghindar sambil balas memukul dengan tombaknya yang juga dapat dielakkan oleh lawannya yang tangguh. Terjadilah perkelahian yang amat hebat, gerakan tangan mereka sedemikian cepatnya sehingga kedua senjata itu seperti saling membelit dan sukar diikuti pandang mata. Kuda mereka sesekali mengangkat kedua kaki depannya, di saat lain nampak seperti burung elang yang menyambar mangsa. Pertarungan itu semakin cepat dan dahsyat, tiba-tiba terdengar lengkingan keras dari Ki Wisanggeni. Ia melompat dari punggung kudanya dan meluncur deras ke Lembu Daksa yang sedang memperbaiki keadaan dirinya. Melihat bahaya datang padanya, Lembu Daksa segera melayang turun dari kuda. Ia tidak menghindar serangan yang datang, tombaknya berputar ke atas memukul pedang. Ki Wisanggeni cepat menyadari bahwa anaknya yang dia kasihi akan membenturkan kekuatan sepenuh tenaga dengannya. Satu letupan hebat terdengar mengguncang dada orang yang melingkari perang tanding itu. Keduanya merasakan tangan bergetar hebat. Agaknya tenaga Lembu Daksa berada pada satu lapis yang sama dengan ayahnya. 

Ki Wisanggeni yang meloncat mundur, segera menerjang kembali tanpa menghiraukan getaran pada tangannya. Terdengar desing angin dan gulungan sinar pedangnya menerpa sekujur tubuh Lembu Daksa. Dengan cepat Lembu Daksa menepi ke belakang dengan berjungkir balik menghindari sambaran pedang Ki Wisanggeni. Sekejap kemudian ia melihat celah di lambung kanan Ki Wisanggeni, ia balas menerjang. Keduanya kini saling membelit dan bergantian menyerang susul menyusul. Demikianlah yang terjadi diantara Ki Wisanggeni dan anaknya. Keduanya bertempur layaknya sebagai satria. Ki Wisanggeni meyakini kebenaran yang dianutnya bahwa ia sedang berjuang mengembalikan tahta sesuai garis yang sebenarnya. Sedangkan Lembu Daksa menganggap itu adalah bagian dari masa lampau. Oleh karenanya ia berbeda pandangan dengan ayahnya. Lembu Daksa bertempur demi sebuah tanggung jawab melindungi rajanya dari gangguan.

Ken Banawa yang berada di atas panggungan kecil di belakang garis pertempuran menilai keadaan yang terjadi di hadapannya dengan kening berkerut. Sesekali wajahnya melepaskan kelegaan ketika pasukan yang ia pimpin berhasil maju selangkah demi selangkah. Ki Jayapawira yang berada di sayap kiri terlihat sedang berusaha mempertahankan kedudukan prajuritnya. Sayap yang ia pimpin berhasil mendesak mundur pasukan lawan belasan langkah ke belakang. Ki Jayapawira ingin mempengaruhi pertempuran secara menyeluruh. Kemenangan yang diraihnya akan menghempaskan semangat lawan-lawannya. Pasukan yang dipimpinnya semakin bersemangat mendesak lawan-lawannya.

Ubandhana yang mendampingi Pragola berada pada sayap yang sama dengan Ki Jayapawira. Ia melihat kemunduran sedang pasukan yang berada pada sayapnya. Ia menebar pandang untuk mencari pemimpin dari sayap lawan. Dari jarak yang agak jauh ia melihat Ki Jayapawira mengamuk dan memukul roboh setiap prajurit yang mendekatinya. “ Agaknya senapati berusia lanjut itu yang menebar ancaman maut bagi pasukanku,” desis Ubandhana dalam hati. Lalu ia memutar-mutar tombak pendeknya sangat kuat. Seperti burung rajawali ia meloncat kesana kemari membongkar garis serang pasukan sayap Ki Jayapawira. Beberapa prajurit Sumur Welut roboh bergelimpangan menahan serangan Ubandhana yang merangsek maju mendekati Ki Jayapawira.

Seruan-seruan pasukan Sumur Welut memberi tahu senapatinya dengan adanya Ubandhana yang mengamuk mengacaukan garis depan sayap mereka. Ki Jayapawira melompat surut menjauhi garis serang sayap Ubandhana. Dengan kening berkerut dan tubuhnya berdiri kokoh seperti batu karang, ia melihat amukan Ubandhana.

Tombaknya semakin cepat dan kuat menyibak kepungan prajurit lawan yang berada I garis serang. Ia semakin dekat dengan Ubandhana. Kemudian mereka telah berdiri berhadapan dalam kesiagaan tinggi. Sekejap kemudian kedua tombak telah saling meluncur menuju bagian tubuh yang berbahaya. Akan tetapi Ki Jayapawira telah matang dalam pertempuran besar, satu telapak tangannya membentuk seperti cakar harimau siap merobek lambung Ubandhana. Ubandhana berseru terkejut, cepat-cepat ia memapas tangan lawannya ke samping. Ki Jayapawira menarik tangannya dan bersamaan dengan itu ia mendorong tombaknya dengan ujung telunjuknya sejengkal lebih maju menuju dahi Ubandhana.

Ubandhana gesit melempar tubuhnya ke belakang sambil mengumpati lawannya dengan kata-kata kotor. Ia berdiri tegak dengan wajah penuh amarah. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan dengan kaki merendah bergeser depan belakang. Ubandhana merasa harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang sudah berusia dua kali lebih banyak dari usianya.

Ubandhana menerjang cepat sekali mendahului Ki Jayapawira. Ki Jayapawira sengaja membenturkan senjata untuk mempersingkat pertarungan. Kedua tombak itu berbenturan keras. Pertemuan senjata yang kemudian disusul dengan gerakan yang berkelebat meloncat kesana kemari sulit diikuti pandangan mata biasa. Tubuh keduanya terhuyung ke belakang, namun kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Ki Jayapawira yang cepat memperbaiki keseimbangan lalu melesat deras dengan tombak panjang yang digenggamnya pada bagian tengah. Sementara Ubandhana yang mengalami sakit nyeri pada dadanya akibat pertemuan keras kedua senjata, masih membenahi tata geraknya. Melihat bahaya datang dengan deras, ia mencoba menjauhi Ki Jayapawira denga membuang tubuhnya ke samping. Gerakan deras Ki Jayapawira datang lebih cepat dari Ubandhana, pergelangan tangannya mengayunkan tombak yang kini lebih deras meluncur ke dada Ubandhana. Pada saat yang bersamaan kepalan Ki Jayapawira mengancam bagianleher Ubandhana. 

Dua serangan berbahaya itu tak terelakkan oleh Ubandhananya. Ujung lancip tombak Ki Jayapawira kuat menggapai dadanya. Serentak bersamaan dengan robohnya Ubandhana, prajurit Sumur Welut dan Wringin Anom berteriak kencang tentang kematian Ubandhana. Kematian Ubandhana seperti mempercepat jatuhnya semangat pasukan Ki Sentot yang berhadapan dengan pasukan Ki Jayapawira. Sekejap kemudian terjadi kepanikan yang hebat, setiap prajurit seperti tidak tahu harus melakukan apa. Sebagian langsung melemparkan senjata. Melihat kenyataan itu, Pragola berteriak-teriak seperti orang gila, ia mencoba membakar semangat anak buahnya.

Ki Jayapawira melihat perlawanan yang dilakukan oleh Pragola, kemudian ia bergeser cepat disertai beberapa prajurit pilihan mendekati Pragola.  

Pasukan Ki Jayapawira semakin maju dan mulai menguasai sayap kanan. Sementara itu Ki Sentot Tohjaya telah memutuskan untuk mengambil alih tanggung jawab di sayap sebelah kiri yang sedang terdesak oleh para prajurit Sumur Welut dan Wringin Anom. Ia tidak melihat seorang senopati dari barisannya yang bebas dari lawan. Ki Wisanggeni terikat perang tanding dengan anaknya, Lembu Daksa. Sedangkan Ki Cendhala Geni terlibat pertarungan dahsyat dengan Bondan di tempat berdekatan dengan pasukan Ki Wisanggeni.

Suaranya menggelegar menggema di atas riuh suara senjata yang berbenturan. Ia melompat jungkir balik di atas prajuritnya, ketika kakinya menyentuh tanah Ki Sentot berjalan menyeruak diantara sela - sela para prajuritnya yang sedang mempertahankan baris pertahanan. Sorak sorai para prajuritnya membahana seakan-akan mereka terbebas dari himpitan prajurit lawan yang 

"Pragola! Tinggalkan lawanmu, kembalilah ke tengah pasukanmu!" perintah Ki Sentot dengan suara yang terlambari tenaga dalam. 

"Tidak kiai!" bantah Pragola. Lanjutnya," biarkan aku yang hadapi orang tua kering ini. Tak lama lagi ia akan menyesali keputusannya untuk terlibat dalam perang ini," merendahkan Ki Jayapawira. 

Pragola berseru nyaring sambil menerjang ke depan dan menyerang Ki Jayapawira dengan garang. Pedangnya berkelebat cepat seperti sambaran elang berusaha mengepung rapat lawannya yang gesit menghindar. Pragola seakan terbungkus warna merah dari pedangnya yang berlumur racun dari bisa ular bercampur racun dari hewan lainnya. 

Ki Jayapawira terdesak cukup hebat, usianya yang merambat jauh mau tidak mau telah mengurangi kegesitannya. Ditambah lagi pertarungan sebelumnya dengan Ubandhana maka tubuhnya bergerak semakin lambat. Namun ia merasa belum sampai pada titik akhir tenaga dan ilmunya, tiba-tiba terdengar ia tertawa dari balik tombaknya yang berputar menangkis serangan Pragola. Kemudian asap putih terlihat keluar dari telapak tangannya lalu merambat keluar menyelubungi tombaknya dari pangkal hingga ujung runcingnya. Pada saat itu ia memutar tombak lebih cepat dan tubuhnya tidak lagi bergeser tempat. 

Pragola semakin gencar menggebrakkan serangan-serangannya. Ia melipatgandakan tenaganya ketika kekuatan lawannya mulai beralih lebih tinggi. Sekejap kemudian aroma anyir merebak di arena pertarungan. Semakin lama bau anyir seperti bau bangkai yang terbakar itu meluas hingga memasuki indra penciuman orang-orang yang bertempur di sekeliling kedua senopati itu. Tentu saja bau itu menjadi gangguan yang menyakitkan orang-orang biasa. Para prajurit yang bergulat dengan nyawa itu semakin menjauh sehingga kini lingkaran pertarungan dua senopati menjadi semakin luas. Hantaman demi hantaman Pragola yang datang bergelombang belum dapat mengoyak kekokohan benteng Ki Jayapawira.

Gumilang yang tidak terikat pertarungan satu lawan satu memanfaatkan kekosong yang melingkari Ki Jayapawira dan Pragola. Ia membawa beberapa orang prajurit berkuda melintasi arena yang kosong untuk menusuk ke garis belakang musuh. Meskipun jumlahnya sedikit akan tetapi kemampuan penunggang kuda itu di atas rata-rata prajurit kebanyakan. Mereka mahir menggunakan banyak senjata dari atas kuda. 

Pergeseran Gumilang tak lepas dari pengamatan Ki Sentot. Ia meneriakkan perintah pada senopati pengapit Ki Wisanggeni untuk menutup celah dalam gelarnya.

Ujung tombak Ki Jayapawira menebas dada Pragola, namun lawannya gesit mengelak sambil berkata,” sudahlah. Untuk orang seusiamu sudah sepantasnya menimang cucu atau berada di pategalan menikmati hari.” Namun Ki Jayapawira tidak membiarkan Pragola melanjutkan kata-kata, tombaknya mengejar Pragola yang memandang rendah dirinya. 

Tombaknya meluncur ke arah wajah Pragola, dan kepalan tangan kirinya melesat memasuki dada lawannya. Pragola selangkah mundur, dan ia mempersiapkan tenaga intinya untuk menerima pukulan ke dadanya dengan satu kepalan yang akan dibenturkannya pada tangan Ki Jayapawira.

Terjadilah benturan dahsyat yang disertai lambaran tenaga inti yang luar biasa. Keduanya beringsut mundur, akan tetapi Ki Jayapawira masih sempat memilin tombak di tangan kanannya lalu tiba-tiba tombak itu seperti menancap pada ujung jari telunjuk Ki Jayapawira. Pragola meneriakkan umpatan kotor, ia tidak menyangka jika lawannya dapat memilin senjata dan memutarnya dengan kedua jari lalu seolah terpaku pada jari telunjuk. Ujung tombak Ki Jayapawira mampu menggapai dada Pragola dan melesak masuk sedalam jari kelingking. Selagi Pragola terhuyung ke belakang, lawannya telah mendorongkan telapak kakinya dan menghantam dada Pragola. Tubuh Pragola terlempar dan jatuh terjengkang. Sorak sorai prajurit Majapahit dan pengawal Sumur Welut segera menggema menjatuhkan semangat prajurit lawan. 

Kenyataan pahit diterima oleh pasukan Ki Sentot dalam waktu tidak begitu lama. Kedua senapatinya yang sebenarnya mempunyai kemampuan tinggi telah roboh di tangan dingin seorang lurah prajurit yang telah berusia senja.

Seorang penghubung mengatakan kematian Ubandhana dan Pragola pada Gajah Praba. Wajah senapati muda ini memerah seketika, betapa seorang sahabat baiknya telah melepaskan nyawanya pada seorang senopati tua Majapahit. Ia menggeram marah, sesaat kemudian ia memberi perintah-perintah dengan kata-kata yang hanya dapat dimengerti oleh pasukannya. Suara Gajah Praba bergetar hebat membakar semangat prajurit yang berada dalam sayapnya. Dan akibat dari perintah yang diteriakkan Gajah Praba adalah prajurit Ki Sentot mengubah gelar perang, dan kini mereka bertempur dalam gelar yang tidak dipahami oleh prajurit lawannya.

Perubahan itu memberikan hasil menakjubkan! Betapa akhirnya pasukan sayap Gajah Praba dapat memukul mundur barisan Sumur Welut. Sementara Ki Jayanti yang menjadi senapati pengapit Gajah Praba, kini telah merubah kedudukannya sebagai penopang barisan pemukul yang berada di depannya. Ki Jayanti, orang kepercayaan Ki Sentot Tohjaya, bergerak seperti rajawali yang menyambar-nyambar. Tiba-tiba saja ia muncul di sisi kanan pasukannya, lalu menghilang dan tiba-tiba telah menggebrak di sebelah kiri. Sebagai orang berilmu tinggi, Ki Jayanti adalah orang yang mahir menggunakan berbagai macam senjata. Dalam keadaan itu, ia menggunakan rantai panjang yang mematuk-matuk, melilit banyak senjata dan melemparkan banyak tubuh prajurit lawan. Kekacauan benar-benar melanda sayap pasukan Ra Caksana.

Dua orang petugas penghubung segera membagi pekerjaan. Seorang petugas melompat ke punggung kuda dan menghentaknya menuju Ki Rangga Ken Banawa yang berada di tengah gelar pasukan induk. Satu orang lantas menyusup di sela-sela senjata yang berkelebat, melompati tubuh-tubuh yang tergeletak bujur lintang menuju ke arah Gumilang yang sedang memimpin pasukan berkuda menggempur pasukan Ki Wisanggeni.

“Ki Rangga!” seru seorang penghubung ketika ia melihat Ken Banawa melintas di depannya sambil memberi aba-aba ada pasukan pengawal Sumur Welut. Ki Rangga menoleh ke arahnya kemudian,”Aku melihat kekacauan itu. Bagaimana kedudukan kita sekarang?” 

“Ra Caksana terluka dan telah ditarik mundur, Ki Rangga,” jawab petugas penghubung yang sudah berjarak sekitar tiga langkah dari Ken Banawa. Ia melanjutkan,”Kini sayap pasukan itu tidak mempunyai seorang pengganti Ra Caksana. Pasukan kita di sayap itu terdesak jauh ke belakang, Ki Rangga.”

“Apakah Gumilang telah mengetahui perihal itu?”

“Seorang penghubung telah menuju tempatnya sekarang, Ki Rangga.”

Ken Banawa menganggukkan kepala kemudian memberi perintah pada beberapa pemimpin kelompok yang berada di dekatnya untuk mengikutinya menuju tempat Ki Sentot Tohjaya. Katanya,”Kalian akan pergi bersamaku dan harus dapat mencapai tempat Ki Sentot berada. Dan katakan pada Gumilang, untuk tetap menahan pasukan berkuda Ki Wisanggeni.”

“Ki Rangga!” kata petugas penghubung itu kebingungan,”bagaimana dengan sayap Ra Caksana?”

Ken Banawa menatapnya tajam. Lalu ia berkata,” Pasukan ini akan menuju tempat Ki Sentot dengan jalan memutar. Kami akan mencoba membelah kekuatan mereka, sekarang lihatlah!” ia menunjuk ke arah pasukan Ra Caksana. Dari tempat mereka berada, terlihat sebuah bayangan berkelebat cepat membelah kerumunan pasukan Ki Jayanti. Seorang senapati yang berusia muda,Warastika, dengan lincah menyelinap diantara desing senjata kedua pasukan yang masih tertib berada di dalam gelar. 

“Nah, sekarang kita bergerak!” perintah Ki Rangga Ken Banawa pada sekelompok kecil pasukan yang dipilihnya untuk mendekati Ki Sentot Tohjaya.

Sementara itu Gumilang telah berbicara singkat dengan petugas penghubung yang berhasil mencapai kedudukannya. Ia mendengarkan laporan singkat dari petugas itu mengenai perkembangan sayap pasukan yang dipimpin oleh Ra Caksana.

“Baiklah,” kata Gumilang kemudian,”Kau cari Warastika dan katakan padanya untuk mengambil alih kedudukan Ra Caksana.” Petugas penghubung itu bergegas menuju tempat Warastika yang agaknya sedang memegang kendali di sisi utara Ki Rangga Ken Banawa.

Ki Jayanti yang sedang membawa pasukannya merangsek maju mendesak selangkah demi selangkah sayap yang ditinggalkan Ra Caksana. Akan tetapi beberapa lama kemudian ia mendengar suara-suara penuh kemarahan terdengar dari sebelah kanannya. Para prajuritnya terlempar kesana kemari seperti dihantam angin puting beliung. Seorang anak muda dengan tombak pendek berwarna hitam nampak begitu mengerikan membelah gelar pasukan Ki Jayanti. Anak muda ini memutar tombaknya hingga terlihat seperti gulungan sinar hitam dan membuat porak poranda barisan prajurit lawan.

“Kau tetap bawa pasukan ini mendesak mundur, Gajah Praba. Aku akan memberi pelajaran pada anak muda itu,” kata Ki Jayanti pada Gajah Praba kemudian ia meluncur cepat diatas pundak-pundak prajuritnya menerjang anak muda bersenjatakan tombak pendek berwarna hitam itu.

Denting nyaring senjata beradu menusuk telinga mereka yang berada di dekat lingkar pertarungan Ki Jayanti dengan Warastika. Rantai besi yang menjadi senjata Ki Jayanti belum mampu mengurung Warastika yang sangat lincah bergerak. Ujung rantai yang berbandul segitiga dari besi itu seringkali menggelepar di dan meledak sejengkal dari tubuh Warastika, namun agaknya Warastika masih mampu mengimbangi tata gerak Ki Jayanti yang semakin lama semakin rumit.

Agak jauh dari tempat perkelahian Ki Jayanti dengan Warastika, Ki Cendhala Geni agaknya masih belum mampu mengurung Bondan dengan putaran kapaknya yang seringkali mengeluarkan dengung yang menggetarkan. Kelincahan Bondan dengan dua senjata yang berulangkali memotong laju kapak lawannya kini menemui lawan yang tak kalah cepat.ndapat membaca 

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Ki Cendhala Geni? Menilik usiamu sekarang ini, seharusnya kau sudah lebih dari cukup untuk memperoleh apa yang disebut sebagai kamukten,” kata Bondan ketika mereka terodorong beberapa langkah ke belakang.

“Kau bicara tentang kamukten di usia yang belum sepertiga dariku? Darimana kau belajar itu anak muda? Lihatlah, kau bicara seolah telah menggenggam langit,” usai mengatupkan bibirnya Ki Cendhala Geni menambah kecepatannya menerkam Bondan. Kaki dan tangan Ki Cendhala Geni bergerak sangat cepat mengurung Bondan dari berbagai penjuru. Berulangkali Bondan harus membenturkan kaki dan kedua senjatanya untuk menahan gelombang serangan Ki Cendhala Geni yang mengalir terus menerus. Bergantian keduanya telah saling melukai, ujung-ujung senjata keduanya telah merobek pertahanan dan mengurangi kemampuan kedua orang itu untuk bergerak cepat.

Ki Cendhala Geni seperti sudah merasakan jika ia tidak akan mampu keluar dari pertempuran kali ini dengan selamat.

“Kekuatanku telah jauh berkurang, anak ini telah menggangguku untuk bergerak lebih cepat lagi,” desahnya dalam hati. Sementara ia mengerling keadaan sekelilingnya yang secara keseluruhan pertempuran masih berlangsung dengan keadaan yang sudah tidak dapat dikatakan seimbang lagi. 

Ikat kepala Bondan telah terurai lepas dan sehelai kain itu kini berubah menjadi senjata yang dapat mematikan lawan. Ki Cendhala Geni menyadari datangnya bahayalain yang mengancam jiwanya saat kain berukuran pendek itu mulai menyerangnya dengan patukan seperti seekor ular. Suara ledakan terdengar ketika ikat kepala itu menyentak sandal pancing atau menebas dengan sangat liat. Kedua orang ini saling menyerang dengan garang dan sama-sama tidak menunjukkan rasa takut. Ikat kepala Bondan saling menggulung dan berputar bergantian dengan kerisnya untuk mengurung Ki Cendhala Geni yang nyaris selalu dapat melihat celah dalam gerakan-gerakan Bondan. 

Setelah berlangsung hampir sehari lamanya, pertarungan kedua orang yang masing-masing menjadi andalan dari kubu masing-masing akhirnya tiba di titik puncak. 

Kapak Ki Cendhala Geni menggaung dahsyat menimbulkan rasa sakit pada telinga orang sekitarnya. Angin sambaran yang ditimbulkannya sanggup menerbangkan debu dan menghamburkan kerikil yang berukuran kecil ke segala arah. Teriak kesakitan terdengar dari prajurit-prajurit yang berada di sekitar lingkar perkelahian dua orang berkekuatan raksasa ini. Beberapa prajurit baik dari kubu Ken Banawa maupun Ki Sentot Tohjaya pun roboh akibat kerikil yang menembus tubuhnya. Mereka dapat lolos dari senjata lawan yang dihadapinya namun mereka tidak sanggup menahan angin yang menyambar keluar dari kibasan kapak. Derita para prajurit itu bertambah luar biasa setelah keris Bondan juga memancarkan hawa panas yang terasa membakar kulit. Maka yang terjadi kemudian adalah lingkaran itu menjadi semakin luas. Para prajurit yang bertempur disekitar mereka bergeser menjauh.

Selanjutnya kedua orang itu sama-sama ingin menuntaskan pekerjaan yang mereka anggap telah tertunda cukup lama. Ki Cendhala Geni yang geram karena Bondan dapat lolos darinya kini mendapat kesempatan untuk mengakhiri hidup Bondan. Sementara di sisi lain, Bondan tidak ingin Ki Cendhala Geni dapat lolos dalam kesempatan ini agar tidak lagi menjadi gangguan keamanan Majapahit.

Demikianlah mereka berdua melibatkan diri dalam perang tanding yang susah dimengerti. Tak jarang Bondan harus mengelak dari tebasan kapak sekalipun jaraknya masih dua langkah darinya. Ia harus mengelak agar kulitnya tidak robek karena angin tajam dari kapak mampu menyetuhnya. Sebaliknya, Ki Cendhala Geni harus membagi perhatiannya pada serangan ikat kepala Bondan. Kain ini selalu membuat ledakan yang gelombang suaranya dapat langsung menghantam bagian dalam pendengaran Ki Cendhala Geni.