Episode 20 - Dua Puluh


Hari semakin gelap, Ken Banawa segera memerintahkan seorang prajuritnya untuk meniupkan sangkakala sebagai tanda berakhirnya pertempuran bagi pasukannya. Hal yang sama juga dilakukan Ki Sentot,”Ken Banawa telah memberi tanda mundur bagi pasukannya,” kemudian dia memberi perintah kepada orang yang berada di dekatnya untuk meng-ikuti langkah Ken Banawa.

Sedikit perubahan yang terjadi pada garis pertempuran kedua pasukan sehamparan tebasan parang. Seolah-olah tidak ada satu pihak yang terdesak, meski begitu bagian sayap yang dipimpin oleh Warastika sempat terdesak oleh Ubandhana dan ternyata Warastika belum sempat memperbaiki keadaan yang terjadi dalam pasukannya hingga berakhirnya pertempuran pada hari pertama.

Setiap senapati dari kedua pasukan telah meneriakkan aba-aba perintah untuk mundur dan mengakhiri pertarungan. Sekalipun sebagian prajurit merasakan kegelisahan dan kegeraman tetapi rasanya sangat sulit bagi mereka untuk mengendalikan diri. Sebagian kecil dari mereka masih terlibat perkelahian akan tetapi pemimpin masing-masing kelompok telah berusaha untuk mencegah anggotanya untuk lebih mengekang perasaannya. 

Keremangan senja ternyata tidak menjadi penghalang dalam pertarungan antara Bondan dengan Ki Cendhala Geni. 

Mereka masih saling menyerang. Sesekali berbenturan akan tetapi senjata mereka masih belum mampu menembus pertahanan lawannya. Dalam keremangan senja tubuh keduanya terbalut keringat seolah mereka bermandikan darah. Beberapa orang mengingatkan mereka untuk menghentikan pertarungan namun tampaknya seruan itu tidak dihiraukan.

Tiba-tiba Bondan melompat surut menjauh beberapa belas langkah. Sejenak dia mengatur pernafasan, Ki Cendhala Geni sempat terkejut dan termangu-mangu namun dia tidak memburu Bondan malah dia mengambil kesempatan itu untuk mengatur pernafasan juga. Sesaat muncul pikiran dalam benak Bondan untuk mengikuti seruan untuk menghentikan perkelahian dengna Ki Cendhala Geni. Dia sedikit mengingat kecurangan yang pernah dilakukan Ki Cendhala Geni sehingga timbul kecurigaan dalam dirinya jika Ki Cendhala Geni akan melakukan kecurangan lagi.

“Mungkin ada baiknya aku berhenti dari pertarungan ini. Orang itu bisa saja akan melakukan kecurangan lagi dan tiba-tiba meninggalkan medan pertarungan ketika terdesak,” kata Bondan dalam hatinya. Kemudian dia melihat sekelilingnya yang telah didatangi orang-orang yang bertugas mencari korban dari masing-masing pasukan. “Baiklah, aku akan meminta ijin paman Ken Banawa untuk tidak terikat dalam kesatuan agar dapat leluasa mencari orang itu. Dan mungkin paman akan memerintahkan beberapa prajurit untuk mengawal dalam pencarian yang aku lakukan esok hari,” gumam Bondan seraya mengatur pernafasan dan kemudian menyarungkan kerisnya serta menggulung ikat kepalanya.

“Ki Cendhala Geni, akan aku pastikan bahwa esok hari engkau akan bertemu dengan dewa kematian. Sementara ini sudah cukup bagiku untuk melakukan penjajagan terhadap kemampuanmu,” kata Bondan seraya melangkah menuju tempat berkumpulnya pasukan Sumur Welut.

“Kadal bunting! Apakah engkau mengira engkau akan selamat saat ini?” teriak Ki Cendhala Geni penuh amarah karena hinaan Bondan. Lalu katanya juga,”baiklah, mari kita lihat apakah engkau cukup tangkas menangkap dan membunuhku? Sedangkan tubuhmu akan terseret oleh kuda dan terinjak banyak telapak kaki hingga wajahmu tidak akan dapat dikenali!” 

Penuh kegeraman Bondan Lelana menatap lekat Ki Cendhala Geni yang berlari kecil meninggalkan dirinya di arena pertempuran. Dia hanya melihat Ki Cendhala Geni yang semakin jauh sambil menahan sesak di dadanya. Tiba-tiba kakinya menghentak tempatnya berpijak dan terasalah getaran seperti gempa yang melanda tanah sekitarnya. Begitu kuat hentakkan tenaga dalam yang tersalurkan melalui kakinya. Gejolak perasaan Bondan yang membara seperti dapat terlihat dari pohon-pohon sekitarnya yang ikut tergetar.

Seorang prajurit Ki Sentot yang sedang merawat luka-luka seorang kawannya hanya termangu-mangu sambil mendesis perlahan,”kekuatan dewa jenis apa mana yang merasuki anak muda itu ? Apakah engkau merasakan tanah ikut bergetar?”

“Ya, aku kira sempat terjadi gempa sesaat pada tanah ini,” jawab kawannya itu.

Sementara itu, Ki Cendhala Geni belum sepenuhnya mengakui ketangguhan Bondan yang mampu menahan sejumlah serangannya untuk sekian lama dalam pertempuran di hari pertama. 

“Bagaimanapun juga, anak itu telah terluka parah di tepi hutan. Dan nasib baik masih menyertainya ketika dia dapat selamat di rawa-rawa. Bahkan hari ini pun dirinya masih terselamatkan oleh sangkakala senja,” gumam Ki Cendhala Geni dalam hatinya. Namun dia juga mengakui ketangguhan Bondan menahan gempuran demi gempuran darinya.

“Tetapi esok dia akan menyesali mengapa dia dilahirkan dan esok akan menjadi hari baginya untuk menyalahkan penciptanya,” bergumam Ki Cendhala Geni dalam hatinya dan tersungging senyum kecil di bibirnya.

Dengan perlahan penuh kelembutan, malam pun datang menyelimuti perbukitan dengan kelam. Beberapa kelompok orang terlihat mulai bekerja hilir mudik mencari kawannya yang menjadi korban. Kelompok orang-orang berasal dari kedua pasukan yang berhadapan. Dalam keadaan ini, kedua kelompok yang terdiri dari beberapa ratus orang tampak bekerja sama untuk menemukan korban baik yang terluka maupun meninggal dunia.

Untuk sesaat mereka melupakan apa yang mereka rasakan dan alami di siang hari.

Saat itu di pendapa padukuhan induk Karangan, Ken Banawa mengadakan pembicaraan dengan beberapa senapati. 

“Kita berikan istirahat pada prajurit yang bertempur sejak pagi. Dan prajurit yang datang kemudian, akan mendapat giliran ronda,” kata Ken Banawa,selanjutnya,”gelar perang yang kita gunakan hari ini ternyata tidak memberi pukulan berat bagi mereka. Kesulitan kita ada pada jumlah mereka yang lebih banyak dan lebih terlatih.”

“Jumlah itu tidak semestinya menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi kita, Ki Banawa,” kata Ki Gede Pulasari yang masih terlihat gagah di usianya yang lanjut kemudian,” menurutku, kehadiran beberapa ekor gajahlah yang menjadi hambatan utama bagi kita untuk mendesak induk pasukan Ki Sentot.”

“Iya benar kata Ki Gede dan kehadiran Mpu Drana menjadikan gempuran gajah-gajah itu sedikit lebih dapat dihambat. Dari delapan ekor gajah, satu ekor berhasil direbut oleh Mpu Drana, seekor yang lain berhasil dilumpuhkan oleh seorang prajurit kita,” kata Ken Banawa. Lanjutnya kemudian,”dan sumbangsih Mpu Drana pula telah menghantam satu ekor lagi sehingga bila esok tidak ada perubahan maka lima ekor gajah akan kembali ke medan perang.”

Semua orang yang berada di pendapa mengangguk-anggukan kepala. Setiap orang sedang berpikir keras dan membayangkan apa yang dapat mereka lakukan esok hari untuk memukul mundur pasukan gajah dan pasukan Ki Sentot.

“Dan yang menjadi keanehan hari ini adalah pasukan berkuda Ki Sentot tidak tampak di arena, Ki Banawa,” kata Jayapawira dengan wajah gelisah. Perteempuran pasukannya dengan pasukan Gajah Praba ternyata belum mencapai hasil akhir. Kedua pasukan harus mengakhiri pertempuran saat terdengar perintah untuk mundur.

“Aku berpendapat sama dengan Ki Jayapawira,” Ra Caksana mengatakan itu sambil mengusap wajahnya, kemudian dia berkata,” ini berarti pasukan berkuda mereka mungkin akan melakukan tandang esok hari, akan tetapi kita belum tahu betul gelar seperti apa yang akan mereka ungkapkan esok.”

“Baiklah, sementara ini untuk esok hari maka aku minta Bondan untuk mendampingi Ki Jayapawira,” Ken Banawa memandang Bondan lalu melanjutkan,” Ki Jayapawira akan memimpin gelar dalam pasukan itu dan engkau dapat bergerak bebas menghadapi senapati yang akan berada di sayap yang berlawanan denganmu.”

“Paman, sebelumnya aku harus memohon maaf pada paman. Aku kira esok akan secara khusus menghadapi Ki Cendhala Geni. Meski begitu, aku akan tetap berada dalam arahan Ki Jayapawira namun jika petugas penghubung menyampaikan kabar tentang Ki Cendhala Geni maka aku akan meninggalkan Ki Jayapawira. Dan untuk sementara kekosongan itu dapat diisi oleh para perwira yang dipimpin Ki Jayapawira,” Bondan menanggapi usulan pamannya kemudian menundukkan kepala.

“Marilah semua orang berkumpul di dekatku,” perintah Ken Banawa dan sebuah isyarat diberikan Ken Banawa dan kemudian diatas tikar pandan di hadapan mereka telah tergelar sebuah papan. Untuk selanjutnya perundingan diantara mereka berlangsung sedemikian rapat dan nyaris tak dapat didengar dari jarak dua langkah.

Malam semakin dalam mencengkeram dalam keheningan. Pertemuan para pemimpin pasukan di dalam kemah besar Ken Banawa telah usai.

Sementara itu dengan langkah yang seperti tidak bertenaga, seorang lelaki muda bertubuh tegap dan tinggi menuju ke kemah Gumilang. Rambutnya yang tidak terkungkung dalam ikat kepala tampak berkibar-kibar oleh hembusan angina malam. Sorot matanya menunjukkan kemurungan yang dalam. Sebuah gelang yang terbuat dari akar kayu Jati membalut erat lengan bagian atas. 

Pendengaran tajam Gumilang segera menangkap desir langkah yang berjalan mendekati kemahnya.

“Siapa?” tanya Gumilang.

“Aku. Lembu Daksa,” kata lelaki itu dengan datar.

“Masuklah,” demikian Gumilang dan sesaat kemudian berdirilah lelaki yang nampak murung di hadapan Gumilang. 

Di perkemahan pasukan Ki Sentot juga sedang terjadi pembicaraan untuk menilai keadaan hari itu. Sesaat dadanya tergetar melihat Bondan yang beringsut dari tikar yang tergelar di sudut kemah. Kebingungan semakin jelas terlihat dari raut wajahnya.

“Bukankah engkau telah mengenal Bondan, Lembu Daksa?” tanya Gumilang ketika melihat Lembu Daksa tampak tertegun menatap wajah Bondan.

“Aku mengenalnya,senapati. Seseorang yang masih muda usia namun mampu menggetarkan jagad Majapahit dengan beberapa pertempurannya dengan Ki Cendhala Geni,” jawab Lembu Daksa sedikit gugup karena tersentak dari lamunannya ketika melihat Bondan.

“Ah, mereka terlalu berlebihan meskipun orang itu sudah sepantasnya untuk menjalani suatu hukuman,” desah Bondan.

Kemudian Lembu Daksa menatap Gumilang dan Bondan secara bergantian. Seolah dirinya hanya menghendaki Gumilang sendiri yang berada di dalam kemah. Sejenak Bondan melihat Gumilang akan tetapi Gumilang masih menundukkan kepala seperti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.

“Tidak mengapa engkau katakan keperluanmu, Lembu Daksa. Bondan adalah orang yang aku percaya selain itu dia juga adalah sepupuku,” Gumilang berkata seperti itu seolah dia mengetahui isi hati Lembu Daksa.

Desah perlahan keluar dari bibir Lembu Daksa lantas dirinya mengambil tempat duduk di sisi Gumilang, lalu dia berkata,”ki sanak berdua, sebenarnya aku tidak mengetahui apa yang akan dan harus aku lakukan esok hari.”

Gumilang menatap wajah Lembu Daksa penuh keheranan. Lalu “apa yang engkau maksudkan, Lembu Daksa? Bukankah sudah jelas perintah paman Ken Banawa kepadamu? Atau engkau mempunyai gambaran yang berbeda dari rencana yang telah diputuskan tadi?” Gumilang bergeser surut dan bertanya dengan nada yang tinggi.

“Lembu Daksa adalah perwira muda yang berotak cemerlang dan tidak pernah menyerah dengan keadaan perang paling sulit. Namun persoalan apa yang menjadikan dia berlutut?” gumam Bondan dalam hatinya seraya memandangi Lembu Daksa lekat-lekat.

“Baiklah senapati. Persoalanku adalah bahwa ayahku berada dalam barisan pasukan berkuda Ki Sentot. Dan besok aku akan menghadapinya dalam gelar yang telah ditentukan oleh Senapati Ken Banawa,” suara Lembu Daksa terdengar penuh getar dan dadanya menjadi sesak membayangkan apa yang akan terjadi esok hari jika dia bertemu dengan ayahnya.

Gumilang dan Bondan tertegun mendengar kalimat yang diucapkan Lembu Daksa. Untuk sesaat mereka saling berpandangan. Keheningan malam semakin dalam menghunjam dada ketiga lelaki muda yang duduk melingkar dalam kemah Gumilang.

“Siapakah ayahmu?” tanya Bondan yang memang tidak mengetahui siapa ayah Lembu Daksa.

“Ki Wisanggeni. Seorang senapati Majapahit yang berpangkat terakhir sebagai Tumenggung dan merupakan orang kepercayaan Mpu Nambi,” Gumilang mendahului Lembu Daksa untuk menjawab pertanyaan Bondan. Bondan hanya menundukkan kepala mendengar jawaban yang diberikan oleh Gumilang.

Kemudian Gumilang menghela nafas sambil berkata,” belum tentu itu akan terjadi, Lembu Daksa. Meski demikian segala sesuatu dapat saja terjadi dalam pertempuran besok. Akan tetapi, sangat mengherankan bagiku karena sejauh pendengaranku mengatakan bahwa Ki Wisanggeni adalah prajurit yang setia pada Majapahit.”

“Dan mungkin saja ada satu gejolak di dalam hati Ki Wisanggeni. Aku kira gejolak itu tidak mungkin ada jika tidak ada penyebab yang kuat,” kata Bondan seraya mengangkat kepalanya. 

“Bondan, penyebab itu memang ada. Ayahku memasuki keprajuritan sejak usia muda pada jaman Sri Kertanegara. Kemudian ayahku turut mengikuti perjuangan Ra Dyan Wijaya sebagai seorang rangga hingga kemudian menjadi seorang tumenggung sesaat sebelum Sri Rajasa meninggalkan kita semua untuk selamanya. Namun perkenalannya dengan Arya Wiraraja telah merubah seluruh pandangan hidupnya terhadap sosok Sri Ra Dyan Wijaya,” kata Lembu Daksa sambil menarik nafas dalam-dalam. Bondan mendengarkan sambil mengerutkan keningnya. 

Kemudian,”menurut ayah memang tidak pantas seorang lemah dan bukan keturunan orang kuat dapat menjadi raja. Maka dengan begitu semua keturunan dari orang itu adalah orang –morang lemah dan berasal dari golongan rendah.”

“Hmm, apakah itu dapat disimpulkan bahwa anggapan Ki Wisanggeni adalah berasal dari pengaruh Arya Wiraraja jika Sri Rajasa adalah seorang lemah dari golongan rendah?” tanya Bondan dengan melirik Gumilang.

“Mungkin saja anggapan itu berasal dari Arya Wiraraja, akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa anggapan itu merupakan kesimpulan dari Ki Wisanggeni sendiri. Dan Lembu Daksa, apakah engkau tahu bahwa Sri Rajasa adalah keturunan Mapanji Garasakan?” Gumilang bertanya.

“Bagaimana penjelasan senapati tentang kemungkinan itu?”

“Mapanji Garasakan adalah raja Panjalu. Dan engkau tahu bahwa Panjalu dan Jenggala sudah terlibat peperangan sekian lama. Selain itu beberapa orang dalam istana Panjalu telah berusaha memusnahkan seluruh keturunan Raja Airlangga yang berada di Panjalu. Menurut berita yang aku dengar dari beberapa orang yang sudah tua namun dapat dipercaya, Sri Rajasa adalah salah keturunan dari Mapanji Garasakan yang selamat dari bencana mengerikan itu. Salah seorang putri Mapanji Garasakan yang biasa disebut Wening Bethari kemudian menyeberang ke Jenggala,” Gumilang menghela nafas ketika dirinya membayangkan seorang wanita yang berani berbeda pendapat dengan keluarganya lalu menempuh perjalanan berbahaya untuk menyelamatkan dirinya dari kedua keluarga yang bersengketa. 

Kemudian dia melanjutkan,” dalam masa yang panjang pada akhirnya dari wanita menurunkan seorang lelaki yang bergelar Gajah Harsana. Orang inilah yang menjadi ayah Sri Rajasa. Sedangkan nama lahir Sri Rajasa sendiri adalah Sadarpa Aswatama sesuai yang dipesankan oleh ayahnya jika lahir seorang bayi lelaki. Lalu seorang telik sandi mengabarkan ke istana bahwa telah lahir seorang bayi lelaki yang diramalkan akan mengguncangkan tlatah Kadiri. Sejumlah pasukan dari kotaraja kemudian mendatangi tempat tinggal ibu Sadarpa lalu membawa wanita malang itu ke kotaraja. Sedangkan Sadarpa Aswatama yang berusia sangat muda itu telah dilarikan ke luar padukuhan dengan bantuan seorang brahmana.”

Suasana di dalam kemah itu terasa sangat sepi ketika Gumilang menceritakan sebuah sejarah yang sangat jarang diketahui oleh orang. 

Bondan begitu mengagumi keluasan wawasan Gumilang hingga,”entah darimana dia mendapat pengetahuan seperti itu. Luar biasa sekali,” desis Bondan dalam hatinya.

Dan Lembu Daksa juga mempunyai anggapan luar biasa tentang keluasan pengetahuan yang ada dalam diri Gumilang Prakoso. Dalam umur yang tidak berbeda jauh dengan dirinya, Lembu Daksa juga mengagumi Gumilang yang telah menjadi seorang rangga dalam pasukan berkuda Majapahit. 

“Ah,” desah Lembu Daksa. Gumilang lurus menatap wajahnya. Mendung yang kelam seakan terlihat bergantung di atas kepala Lembu Daksa. Gumilang dan Bondan menarik nafas panjang mencoba memahami perasaan temannya itu.

Lenguh panjang dari tanduk kerbau yang panjang telah berkumandang sebagai awal hari. Kesibukan luar biasa segera terlihat di kedua pihak yang berseteru. Kedua kelompok besar itu samasama menata barisan. Perintah-perintah dari pemimpin kelompok terdengar bersahutan. 

Sejumlah pengawas dari kubu Ken Banawa melihat keadaan yang cukup gawat saat debu tebal membumbung tinggi. Setelah mereka melakukan pengamatan yang lebih teliti akhirnya para pengawas itu menjadi terperanjat. Mereka melihat pasukan berkuda dalam jumlah yang cukup besar telah bersiap untuk bertempur.

“Mereka benar-benar siap menyerbu bahkan sebelum tanda perang belum ditiupkan,” kata seorang pengawal.

“Pasukan berkuda Majapahit mungkin akan mengalami kesulitan hari ini.”

Sebagian dari mereka bergegas melaporkan pekembangan terbaru itu pada Ken Banawa. Ken Banawa menerima laporan dengan kening berkerut. Sementara dua orang pengawas menunggu keputusan Ken Banawa dengan gelisah. 

“Kami menunggu perintah Ki Rangga,“ kata seorang pengawas.

Ken Banawa meminta mereka untuk menunggu. Ia segera memanggil para pemimpin prajurit dan para pemimpin pengawal dari dua kademangan. Dalam waktu yang sedikit lama, mereka menimbang rencana setelah mendengar laporan para pengawas. 

“Aku pikir,“ Bondan berkata memecah kesunyian,” aku akan berbuat seperti yang dilakukan Ki Cendhala Geni. Aku akan mengacaukan barisan depan mereka dan melakukan sedikit benturan pada pasukan berkuda. Mungkin kekacauan itu akan dapat membuahkan hasil.” 

Ken Banawa bertukar pandang dengan Gumilang kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Setelah merenung sesaat, Ken Banawa bertanya padanya,” Bagaimana menurutmu?”

Gumilang tercenung sambil berpikir keras tentang rencana Bondan. Kemudian katanya,”Pasukanku akan dapat membendung laju mereka, mungkin usaha Bondan akan benar-benar mengacaukan mereka.” Orang-orang berpaling pada Bondan dengan tatap mata penuh harap.

“Aku mengerti,“ kata Bondan,”mungkin saja Ki Cendhala Geni akan menghentikan usahaku. Tetapi kita tidak mempunyai pilihan lain.”

“Aku akan berada di belakang Bondan, Paman,” kata Gumilang kemudian. Lalu,”Aku akan membagi pasukanku dalam jarak yang dekat untuk mengurangi tekanan. Kemudian aku akan menunggu perkembangan yang akan terjadi.”

 Demikianlah sebelum bunyi terompet itu berhenti menggema, Bondan telah meluncur deras menyerbu barisan terdepan pasukan Ki Sentot. Sekejap kemudian ia telah membuka jalanmasuk bagi dirinya sendiri. Ikat kepala Bondan meliuk-liuk melemparkan setiap orang yang mendekatinya. Rupanya pergerakan Bondan tela berada dalam pengawasan Ki Cendhala Geni yang kemudian menjejak kaki berlari cepat menuju pusaran yang ditimbulkan oleh Bondan.

Tak lama setelah itu, Bondan mengangkat kepalanya dan menoleh ke satu titik yang semakin lama semakin dekat dengannya. Ia memutuskan untuk menyongsong orang yang getaran kakinya seolah menimbulkan gempa bumi. Bondan berlari kecil ke arah orang yang berlari melebihi kecepatan anak panah. Dan ketika jarak keduanya semakin dekat, Bondan berjongkok diatas satu lututnya dan melemparkan segenggam anak panah ke arah orang itu.

"Gandrik!" geram orang itu lalu mengibaskan kapaknya yang tajam di kedua sisinya. Kegeraman itu membuatnya semakin menghentakkan kecepatan berlarinya sehingga tanah semakin tergetar lebih keras.

"Ki Cendhala Geni," desis perlahan keluar dari bibir Bondan. Matanya yang tajam segera mengenali sosok yang rambutnya berkibar-kibar dihempas angin. Baju yang tak berlengan dan tidak berkancing semakin menambah kesan garang pada orang yang disebut sebagai Ki Cendhala Geni.

Segera Bondan berdiri dan berlari sangat cepat menusuk ke barisan pasukan berkuda Ki Sentot. "Marilah kita bermain-main, orang tua," desah Bondan perlahan.

Dari kejauhan gerak gerik Bondan terpantau oleh Ki Wisanggeni. Kemudian," Bersiaplah! Benturan akan segera terjadi di dekat kalian!" seruan Ki Wisanggeni ditujukan pada barisan sebelah kanannya.

"Dasar gila! Anak ini benar-benar akan mengacaukan barisan kuda Ki Wisanggeni," kata Ki Cendhala Geni dalam hatinya.

Melihat Bondan yang berlari ke arah pasukan berkuda lawan, Gumilang semakin mempercepat laju kudanya. Lalu ia memerintahkan pasukannya untuk semakin cepat agar dapat mengimbangi kecepatan lari Bondan. Kedua kaki Bondan seakan-akan terbang diatas rumput, dan terkadang tubuhnya seolah terbang ketika melompati tanaman perdu. 

"Siapkan anak panah," teriak Ki Wisanggeni lalu," sekarang!" Sekejap kemudian puluhan anak panah melayang ke arah Bondan.

Beberapa saat sinar matahari terhalang oleh anak panah yang melayang menggapai Bondan. Menyadari dirinya berada dalam bahaya, Bondan semakin mempercepat larinya, lalu kerisnya mulai berputar-putar seperti gasing. Keris yang berputaran cepat di tangan Bondan seolah memancarkan selubung berwarna hijau yang menutupi tubuhnya. Bondan melenting cukup tinggi dan saat tubuhnya berada di atas anak panah yang melayang, dia melontarkan anak panah yang masih tergenggam ke arah pasukan berkuda Ki Wisanggeni. Kegaduhan segera terjadi dalam barisan itu ketika anak panah yang dilontarkan Bondan mampu menggapai sasaran.

Tubuh Bondan lalu meluncur deras ke bawah dan seperti tidak menginjak tanah, ia melesat ke pasukan berkuda Ki Wisanggeni. Akan tetapi Bondan harus mengurungkan niatnya ketika pendengarannya menangkap suara orang yang memaki-maki dari arah punggungnya. Seketika tubuhnya melenting dan berjungkir balik di udara, mata Bondan menatap lekat orang yang mengejarnya. Sebatang anak panah yang tersisa dalam genggamannya dilontarkan dan sangat kencang meluncur ke dada orang tua yang bertubuh kekar.

Orang tua itu yang ternyata Ki Cendhala Geni meloncat ke atas dan melesat ke arah Bondan dengan sebuah terjangan yang sangat kuat. Sinar putih tampak bersinar menyilaukan, berputar-putar dengan garang mengeluarkan gema yang menggetarkan dada setiap telinga yang mendengarnya. Teriakan keras Ki Cendhala Geni berbarengan dengan serangan yang sangat ganar. Ia menbas leher Bondan, kemudian dengan cepat ia menarik kapaknya lalu memutar dengan gagangnya ia mencoba menusuk mata Bondan , Terjangan itu kemudian berakhir dengan satu tebasan mendatar yang mengarah ke pinggang Bondan. Dengan demikian, Bondan secara beruntun terbelit dalam serangan yang terangkai dengan dahsyat. 

Bondan sangat gesit mengelak serangan beruntun Ki Cendhala Geni. Sedikit ia meloncat mundur, kemudian ia menerjang maju dan kini keduanya terlibat dalam pertarungan hidup mati. Sesekali Bondan terdesak jauh ke belakang hingga berada sangat dekat dengan garis depan pasukan berkuda Ki Wisanggeni, dan kadang-kadang menyusupkan pukulan balasan.

Segenap kemarahan Ki Cendhala Geni seolah mendapatkan sebuah jalan khusus. Ia menumpahkan kekesalan dan kemarahannya melalui serangan-serangan yang sangat ganas kepada Bondan Lelana. Ki Cendhala Geni sendiri adalah orang yang pada awalnya tidak ingin menentang Majapahit. Lambat laun ia mengalami pergeseran pendapat, terlebih sejak ia mendengar kabar bahwa ada sekelompok orang yang akan menentang Majapahit. Setelah ia bertemu dengan seorang pengikut Ki Sentot dalam pelariannya di lereng-lereng Merapi, maka ia sedikit demi sedikit mulai berani dan sedikit banyak telah menanamkan ketakutan pada rakyat yang menganggap Majapahit sebagai penerus Rakai Sanjaya dan Mpu Sindok. Di setiap tempat ia melakukan keonaran, Ki Cendhala Geni berbicara tentang berbagai persoalan. Ia mulai mempengaruhi banyak orang dengan menganggap pemerintah mulai menyeleweng, para pembesarnya mulai melakukan pencurian dan penetapan pajak yang tinggi dianggapnya merupakan bentuk lain dari sebuah penindasan.

Pertarungan itu berlangsung dengan hebat. Setiap gerakan tangan maupun kaki selalu disertai angin dan menimbulkan getaran pada tanah setiap kali mereka menginjakkan kaki. 

Sementara Bondan tenggelam dalam pertarungan hidup mati dengan Ki Cendhala Geni, Ki Wisanggeni memberi perintah pada prajurit berkuda untuk menerjang barisan depan prajurit Sumur Welut. Dalam sekejap kemudian, ratusan anak panah meluncur cepat di udara menutupi sinar matahari sehingga terlihat bagaikan mendung yang berarak cepat. Terompet segera dibunyikan dari pasukan yang dipimpin oleh Gumilang Prakoso. Kedua pasukan berkuda ini kemudian saling menerjang dengan dahsyat. Hentak kaki-kaki kuda menerbangkan debu dan rumput-rumput tercabut dari tanah. 

Di belakang kedua pasukan itu, ribuan orang berlari menyerbu barisan lawan masing-masing. Gumilang yang mengetahui Ki Wisanggeni adalah ayah dari seorang perwiranya, berusaha mencegah pertempuran antara ayah dan anak itu terjadi. Ia segera mencari Ki Wisanggeni di tengah kerumunan perkelahian pasukan berkuda yang saling menyambar seperti elang di angkasa. Pandang mata Gumilang berhenti ketika ia melihat Lembu Daksa ternyata bertempur pada sayap berlawanan dengan ayahnya, Ki Wisanggeni. Jantung Gumilang berdegup kencang. Ia merasa seperti tak sanggup melanjutkan pertempuran saat terbayang di pelupuk matanya sebuah pertempuran hidup mati. Ketika seorang anak akan mati terbunuh oleh tangan ayahnya atau justru sebaliknya, sang ayah mati terbunuh di tangan anaknya. 

“Kemungkinan itu dapat saja terjadi sebentar lagi. Aku harus melepaskan tanggung jawab sebagai senapati pasukan berkuda. Lembu Daksa harus dapat menggantikanku sementara aku akan menghadapi ayahnya,” desis Gumilang dalam hatinya. Pedang tipis Gumilang segera berputar dan ia menghentak kudanya ke tempat Lembu Daksa.

“Lembu Daksa, segeralah beralih ke induk pasukan. Biarkan aku mengambil lawanmu,” berkata Gumilang seraya menggetarkan pedang ke prajurit lawan. 

Lembu Daksa tanpa berpaling ke arah suara berkata,”tidak mungkin bagiku meninggalkan lawan yang masih berbahaya.”

“Lihat sekitarmu. Bukankah itu berarti engkau akan bertempur melawan ayahmu?”