Episode 19 - Sembilan Belas



Pasukan gajah yang dipimpin Mpu Tandri telah merangsek maju dan membuat barisan Sumur Welut porak poranda. Upaya Gumilang untuk melumpuhkan pasukan gajah belum berhasil. Di tengah upaya yang belum menunjukkan hasil, Gumilang memutuskan untuk merubah susunan barisan. Kelompok yang menghambat laju gajah digesernya untuk menggebrak lawan yang berada di belakang pasukan gajah. Kelompok lainnya memukul pasukan gajah secara silang me-nyilang.

Teriakan Gumilang yang lantang memberi perintah kepada pasukannya yang dengan cepat segera dilakukan pasukannya tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Mereka lekas memenuhi perintah Gumilang dan pergerakan yang tiba-tiba itu memberi kejutan pada lawan yang berada di sekitar mereka. 

Seorang pasukan berkuda Gumilang yang bertubuh besar melompat dari punggung kuda. Dia menubruk gajah dari sebelah samping, dengan tombak terhunus dia menikam tepat pada mata gajah yang ditunggangi Mpu Tandri. Gajah itu pun menjeritkan suara kesakitan yang memekakkan telinga. Sejenak kemudian gajah itu melangkah tak tentu arah dan seringkali melibas pasukan Ki Sentot.

Keberhasilan prajurit berkuda yang bernama Wiranta ini disambut dengan sorak sorai bergemuruh pasukan Sumur Welut. Sedangkan Wiranta sendiri terjungkal karena tergores tombak Mpu Tandri. Seorang temannya yang berada di sebelah kudanya segera menaikkan Wiranta ke kuda dan melarikan Wiranta menuju garis belakang.

Gumilang yang kebetulan tidak menyaksikan sendiri itu segera mengerti bahwa seeorang dari pasukan Jala Bhirawa yang dipimpinnya telah berhasil menembus bagian lemah dari gajah. Lalu Gumilang menghela kudanya menyibak barisan dan mulai mendekati pasukannya untuk memberi pesan tentang bagian terlemah dari gajah.

Kegelisahan mulai merambati Ken Banawa. Pasukan Mpu Tandri telah menekan barisan terdepannya ditugaskan akan mampu menopang Gumilang sebagai belalai. Tak lama kemudian terlihat kelegaan yang dalam ketika dirinya menyaksikan seekor gajah mulai lepas kendali. 

“Gumilang akhirnya mengetahui cara melumpuhkan gajah-gajah itu,” gumam Ken Banawa dalam hatinya.

Namun di bagian lain, Ki Sentot yang menyaksikan seekor gajah mulai hilang kendali bergumam dalam hatinya,” “Agaknya Mpu Tandri kesulitan mendobrak barisan depan Sumur Welut. Rasanya akan ada sesuatu yang tidak berjalan seperti yang aku rencanakan.”

Pasukan Jala Bhirawa kini mulai menjalankan peran sebagai belalai dari susunan Dirada Meta. Gerak laju pasukan gajah pasukan Ki Sentot mulai dapat dihambat. Mpu Tandri segera melompat turun dari gajah sesaat tubuh gajah sedikit ter-huyung kemudian roboh. 

Tombak Mpu Tandri yang runcing pada kedua ujungnya berputar dengan garang. Mpu Tandri bertarung dengan sengit sehingga beberapa prajurit Sumur Welut roboh ketika mencoba membatasi ruang geraknya. Mpu Tandri bertarung dengan kemarahan yang meluap-luap, ia berusaha untuk dapat bertemu dengan senapati yang memimpin pasukan berkuda. Bagi Mpu Tandri, kematian gajah yang ditungganginya adalah sama dengan merendahkan harga dirinya. Dia merasa terhina dan baginya itu adalah aib yang mencoreng mukanya. 

Mpu Tandri bertempur sangat sengit dan tombaknya berputar-putar menyengat setiap prajurit Sumur Welut yang berada di dekatnya. Mpu Tandri telah membuka jalan darah untuk memberikan celah bagi pasukan di belakangnya agar dapat memukul mundur pasukan Sumur Welut yang mencoba menutup celah yang sempat terbuka oleh amuk gajah. 

Mpu Tandri memutar-mutar tombaknya dan berloncatan lincah kesana kemari seperti seekor rajawali. Badai prahara yang ditimbulkan Mpu Tandri benar-benar membuat barisan depan Sumur Welut nyaris luluh lantak. Seekor gajah yang roboh ternyata tidak memberikan keuntungan bagi pasukan Sumur Welut karena Mpu Tandri bertarung melebihi seekor gajah. Dan setiap kali tombaknya mematuk akan selalu diikuti satu atau dua prajurit yang roboh. 

 “Orang tua itu harus segera dihentikan agar pasukan Sumur Welut tidak semakin terdesak mundur,” kata Gumilang dalam hati dan sejurus kemudian kudanya melesat membelah kerumunan para prajurit yang sudah saling berhadapan.

“Hentikan amarahmu, orang tua. Prajurit di sekitarmu bukanlah orang yang bersalah dan pantas dihukum mati,” seru Gumilang ketika berhadapan dengan Mpu Tandri. Pedang tipis Gumilang terjulur menyentuh tanah.

“Persetan! Memang mereka bukan berbuat satu kesalahan. dTetapi ini adalah peperangan, anak muda. Siapa namamu? Agar engkau tak menyesal jika harus mati di ujung tombak seorang Mpu Tandri,” kata Mpu Tandri tanpa menghentikan tombaknya yang masih berputar-putar dalam genggamannya. 

“Namaku adalah Gumilang Prakoso. Marilah, Mpu Tandri. Kita bertarung hingga akhirnya ada yang mendapat hukuman,” seru Gumilang yang seketika melompat maju menerjang Mpu Tandri. 

Dengan tangkas Gumilang mencabut belatinya ketika tubuhnya masih melayang. Tanpa menghentikan putaran tombaknya, Mpu Tandri memapas Gumilang dan dalam sekejap kedua orang ini terlibat dalam pertarungan hidup mati. Gumilang bertempur dengan cermat dan penuh perhitungan. Untuk itulah dia segera mencabut belati yang sewaktu-waktu dapat disusupkan ke celah pertahanan lawan secara tiba-tiba.

Mpu Tandri sesaat dikejutkan dengan kemampuan Gumilang dalam bertempur. Hati Mpu Tandri diliputi rasa kagum bah-wa dalam usia semuda itu Gumilang mampu memimpin pasukan berkuda dan ternyata juga berhasil mendesak pasukan gajah yang dipimpin olehnya. Sedangkan Gumilang juga tak kalah kagum dengan kelincahan lawannya yang sudah berusia sekitar dua kali lipat Gumilang.

Sekilas bayangan belati terlihat menyusup ke lambung Mpu Tandri, namun dengan cepat pula Mpu Tandri berhasil menggeser posisinya menghindari tusukan belati lawannya. Menyadari kemampuan Gumilang yang tidak dapat diremehkan begitu saja, Mpu Tandri selekasnya menekan Gumilang dengan dahsyat.

Putaran tombak Mpu Tandri berayun-ayun sangat deras, menghujani Gumilang dari berbagai penjuru. Kecepatan Mpu Mpu Tandri menjadikan kedua ujung runcing tombaknya seolah-olah berjumlah puluhan. Dalam beberapa jurus kemudian Gumilang mulai mendapat tekanan yang hebat. Meski begitu Gumilang masih dapat mengimbangi gelom-bang serangan Mpu Tandri dengan kecepatan geraknya yang mengagumkan.

Tubuh besar dan berotot Ki Cendhala Geni seperti tidak mempunyai bobot. Begitu ringan berlompatan mengimbangi kecepatan Bondan. Rambutnya yang putih dan tidak terikat tampak berkibar-kibar setiap kali dirinya melayang cepat di udara. Kapak yang digenggamnya terus mendengungkan suara yang menggetarkan jantung. Setiap prajurit yang berada di dekatnya segera menjauh terlebih lagi ketika mereka melihat sosok anak muda telah berdiri tegak menghadapi Ki Cendhala Geni.

Putaran kapak itu pada mulanya berayun lambat, akan tetapi keris Bondan tetap saja menyusup dengan cepat. Hingga akhirnya kapak itu berputar semakin cepat. Dalam keadaan itu, angin yang berasal dari putaran kapak sangat menyakiti kulit sehingga para prajurit yang bertempur di sekitar mereka pun mulai menjauh tanpa diperintah.

Lingkaran pertarungan Ki Cendhala Geni dengan Bondan pun semakin membesar. Sekali-sekali keris Bondan menyengat memasuki celah putaran kapak. 

Ketika Bondan bergerak cepat mengurung Ki Cendhala Geni tiba-tiba Ki Cendhala Geni justru memburu Bondan. Kadang sebaliknya, ketika Ki Cendhala Geni mengitari Bondan maka secara mendadak Bondan mengejar Ki Cendhala Geni. Sehingga keduanya terlibat saling mengejar, saling mengitari dan terkadang keduanya harus bertumbukan hingga terdorong ke belakang. 

“Bersiaplah untuk mati, Bondan. Aku sudah katakana padamu bahwa aku akan menumpas kau dan semua orang yang berada di belakangmu. Aku adalah Ki Cendhala Geni. Aku adalah orang yang akan mencabut nyawa setiap orang dari kalian.”

“Ki Cendhala Geni,” sahut Bondan,”kenapa kau bersusah payah akan menggantikan dewa maut? Aku sendiri yang akan menghisap nyawamu.”

“Cobalah dulu dengan menangkapku hidup-hidup, anak muda!”

Bondan bergeser ke samping selangkah dengan tubuh sedikit merunduk. Ikat kepalanya telah terurai dan siap mematuk dada Ki Cendhala Geni. Ketika itu Ki Cendhala Geni bergeser setapak maju dan mempersiapkan diri untuk menyambut terjangan Bondan. 

Bondan melesat cepat sambil menyentakkan udengnya mengarah ke kening Ki Cendhala Geni dengan kecepatan yang luar biasa. Seiring dengan sentakan itu terdengar bunyi ledakan keluar dari ujung ikat kepala Bondan. Ki Cendhala Geni berlekas menghindar sambil mengayunkan kapaknya pada pangkal lengan Bondan. Serangan itu dielakkan Bondan dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan kapak. 

Desir angin yang ditimbulkan putaran kapak membuat kulit terasa pedih merupakan peringatan kematian yang akan datang setiap saat bagi Bondan Lelana. 

Demikianlah pertempuran itupun semakin sengit. Kedua pasukan sehamparan tebasan parang saling menekan dan saling mendesak. Kedua pasukan ini mulai merasakan bahwa lawan mereka adalah kekuatan yang seimbang. 

Tetapi di sayap yang dipimpin Ra Caksana yang membayangi Warastika sedikit banyak mulai dapat menekan pasukan Ubandhana. Ubandhana yang sedang terkepung itu melenting tinggi melampau kepala para pengepungnya dan mendarat di tengah-tengah pasukannya.

“Gila. Kita menghadapi dua pasukan yang gila. Pecah barisan dan beberapa orang ikuti aku membelah dari tengah ke dalam gelar mereka,” bisik Ubandhana pada Pragola yang bertempur di sisinya. Pragola lantas meneriakkan sejumlah aba-aba yang kemudian diikuti perubahan gelar dalam kelompok kecil mereka.

Sedikit demi sedikit perubahan gelar yang dilakukan Pragola dapat membebaskan pasukannya dari tekanan Warastika dan Ra Caksana. Meskipun begitu, baik Pragola maupun Ubandhana masih merasakan benturan yang terasa berat bagi pasukannya.

“Ubandhana, bukalah jalan untukku. Aku akan melawan pemimpin kelompok yang datang belakangan,” kata Pragola sambil menunjuk ke arah Ra Caksana.

Sambil menggeleparkan tombak pendeknya, Ubandhana menyahut,”baiklah.”

Dalam sekejap, tombak Ubandhana menerjang ke berbagai arah. Ujung tombaknya telah melukai bahkan membunuh orang-orang di barisan Sumur Welut. Pragola yang mengikutinya dari belakang kemudian melayang mendekati Pragola dengan tubuh yang berputar-putar cepat menusuk dada Ra Caksana.

Segera Ubandhana menerjang ke arah Warastika setelah dia telah memastikan Pragola telah menguasai keadaan Ra Caksana.

Matahari perlahan-lahan mulai mengambil tempat punggung perbukitan. Gelar kedua pasukan mulai menyusut. Rasa lelah mulai menghampiri para prajurit dan segenap orang yang terlibat dalam pertempuran besar itu.

Keringat dan darah kedua pasukan sehamparan tebasan parang ini mulai membasahi bumi. Tanah yang mereka pijak semakin membara seiring dengan mulai redupnya sinar matahari . Dalam keadaan seperti itu, pergerakan pasukan yang saling menggeser berdesakan ataupun saling mengisi kekosongan celah kosong gelar perang terlihat seperti gelom-bang besar di samudera.

Prajurit yang agar segar mulai menggantikan kawannya yang beringsut ke garis belakang untuk sekedar istirahat. Aliran prajurit dari kedua pasukan ini mulai merembes ke segala arah. 

Di barisan depan kedua pasukan tampak pergeseran susunan barisan yang menjadi bagian gelar perang. Diantara mereka juga terdapat beberapa prajurit yang secara khusus bertugas merawat kawannya yang terluka. Sebagian dari mereka juga tampak hilir mudik mempersiapkan makanan dan minuman bagi para prajurit.

Pada kedua ujung sayap kedua gelar perang itu pun terjadi benturan-benturan yang tak kalah dahsyatnya. Namun seiring dengan pergeseran waktu maka semakin banyak pula prajurit yang tidak tuntas melaksanakan tugasnya.

Tubuh para prajurit banyak tergeletak membujur melintang di medan perang. Sebagian prajurit yang merupakan kawannya berusaha membawa mereka ke garis belakang agar tidak terinjak namun tak jarang kesemepatan itu telah tertutup. Prajurit dari kedua pasukan ini sudah berusaha untuk bertahan hidup. 

Sementara itu di bagian tengah gelar, para pengiring Mpu Drana berusaha membatasi pasukan Ki Sentot yang akan mencegahnya menyerang gajah.

Mpu Drana segera membawa para pengiringnya ke seekor gajah yang terdekat dari tempatnya. Mpu Drana dengan tangkas mengurai sebatang cambuk yang panjangnya lebih dari dua tombak. Seraya memutar-mutar cambuk diatas kepalanya, Mpu Tandri yang semakin dekat dengan gajah itu tiba-tiba melecutkan cambuknya ke seorang prajurit yang berada di atas punggung gajah. 

Jerit tertahan terdengar ketika ujung cambuk membelitnya dan tubuhnya terlempar dari punggung gajah. Sekali lagi sebuah keluhan terdengar ketika Mpu Drana menyengatkan ujung cambuknya pada seseorang yang memegang busur diatas punggung gajah. Berturut-turut cambuk Mpu Drana menyambar-nyambar dengan diiringi suara ledakan yang menggetarkan dada yang kemudian satu demi satu penunggang gajah terlempar. 

Mpu Drana memacu kuda dan mengambil tempat untuk berhadapan dengan serati.

Serati itupun lantas memerintahkan gajahnya untuk maju dan belalai gajahnya menebas kuda Mpu Drana. Mpu Drana menghentakkan kudanya ke samping dan ketika cambuknya memutar tiba-tiba terdengar lengking orang kesakitan. Pada mulanya serati itu menyadari serangan Mpu Drana ketika dia melihat ujung cambuk itu menyasar kakinya. Namun dia terlambat menghindari karena ujung cambuk itu mematuk sangat cepat. Pergelangan kakinya yang terbelit ujung cambuk telah menjadi gangguan baginya, karena bagaimanapun juga akhirnya serati harus berupaya melepaskan kakinya dari belitan cambuk atau dirinya akan terjatuh menyusul teman-temannya yang lain.

Serati yang berusaha mengarahkan gajah untuk mengejar Mpu Drana tetapi usahanya menjadi sia-sia. Menyadari serati itu tak segera terseret jatuh maka seorang pengiring Mpu Drana yang mengetahui itu segera melontarkan tombak. Tidak ada seorang pun yang tersisa di atas punggung gajah, Mpu Drana segera berkuda di samping gajah dan melayang ringan ke atas punggung gajah untuk kemudian telah duduk mengendalikan gajah.

Barisan depan pasukan Ki Sentot mulai terkoyak oleh derap gajah yang dikendalikan oleh Mpu Drana. Gajah berbalik arah, melibas pasukan yang berada di kedua sisinya kemudian mencoba menabrakkan diri pada gajah yang tak jauh darinya.

Beberapa anak panah melesat ke arah Mpu Drana akan tetapi putaran cambuknya seperti dinding tebal yang mebungkus dirinya. Setiap anak panah yang terlontar seolah luruh ketika membentur dinding cambuknya. 

Senapati Ki Lurah Jayapawira yang menempati sayap kanan pasukan Sumur Welut berusaha mendesak lambung kiri pasukan Ki Sentot yang dipimpin oleh Gajah Praba. Senapati yang berusia cukup muda ini terlihat tenang dan mapan dalam memimpin pasukannya.

Gajah Praba sama sekali tidak terpengaruh dengan desakan prajurit Senapati Jayapawira yang telah mengerahkan seluruh kekuatan prajuritnya. Justru yang terjadi adalah prajurit Gajah Praba mulai menyusup menembus benteng pertahanan Senapati Jayapawira. Sebagai orang yang telah melewati banyak pertempuran, Ki Lurah Jayapawira merasa cemas dengan perkembangan yang terjadi dalam pasukannya.

“Anak muda itu sangat tenang dan mapan. Aku akan menghampirinya dengan begitu dia akan memecah perhatian. Jika ini berhasil, aku harap kedudukan akan seimbang,” kata Ki Lurah Jayapawira dalam hati.

Kemudian dia berkata,” hei, anak muda. Kemarilah. Kamu akan menemukan lawan sepadan disini. Orang tua yang masih ingin melihat matahari esok.”

Gajah Praba pun melihat seorang lelaki setengah baya yang memutar senjatanya berupa tombak pendek tengah menyibak kerumunan prajurit yang sedang bertempur. Beberapa prajuritnya terlempar ketika Jayapawira mulai menyibak dan memutar senjatanya dengan dahsyat.

“Orang tua tak tahu diri. Setiap nyawa prajuritku harus dibayar olehnya,” desis Gajah Praba.

Percikan darah yang nampak pada raut muka Gajah Praba justru lebih menjadikan dia terlihat bengis. Sekalipun begitu Gajah Praba tidak menunjukkan luapan perasaannya melihat sejumlah prajuritnya terlempar dan tak berkutik oleh sabetan tombak Jayapawira. Meski begitu dia juga tak ingin melihat prajuritnya menderita lebih lama karena putaran senjata senapati yang berada di sebelah depannya, Gajah Praba melayang melewati bahu-bahu prajurit yang bertempur di hadapannya.

Dari jarak sekitar tiga tombak, tubuh Gajah Praba meluncur cepat dan tangannya mengayun-ayunkan tombak yang sedikit lebih panjang dari senjata lawannya.

Jayapawira yang melihat bayangan melesat cepat menuju ke arahnya segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dalam sekejap mata, ujung tombak Gajah Praba meluncur deras kebagian lehernya, dengan sigap Jayapawira menggeser tubuhnya ke samping dan mencoba memukul lengan Gajah Praba. Gajah Praba berlekas menarik lengannya dan menebas mendatar ke arah dada Jayapawira.

Sekejap kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran yang sengit. Kedua tombak berayun-ayun, berputaran cepat dan saling menjulur serta saling menolak. Sesekali kedua senjata itu berbenturan keras hingga keduanya merasakan tangan masing-masing bergetar hebat.

Punggung perbukitan telah meredam sinar matahari dalam kelam. Kekuatan kedua pasukan tampaknya belum berkurang cukup banyak. Meski demikian jatuhnya korban adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Di setiap jengkal masih terdengar jerit kesakitan dan sorak sorai bila ada kemenangan kecil pada kelompoknya. Pertempuran masih menggelora dan semangat masih menyala pada setiap dada prajurit kedua pasukan besar itu.