Episode 34 - Alsiel (2)



Alsiel tersenyum tipis dan tampak bahagia. Namun, bagi pemuda dengan radio dan teman-temannya senyuman Alsiel terlihat sangat menakutkan.

Senyum Alsiel hanya bertahan sesaat, karena dia merasa terganggu dengan para pemuda yang telah dia kalahkan. Mereka terus berteriak histeris untuk meminta ampun. Alsiel mengerutkan kening dan tampak suram memandang para pemuda itu.

“Di mana aku bisa menemukan serangga seperti kalian?” Alsiel berkata dengan suara yang berat.

Alsiel memandang rendah manusia, jadi karena itulah dia memanggil mereka ‘serangga’. 

Mereka semua tertegun untuk sesaat dan masing-masing langsung mengepalkan tangan dengan kesal. Meskipun mereka bukanlah geng besar, tapi mereka belum pernah menerima perlakuan seperti ini sebelumnya.

Namun, mereka tidak berdaya di depan Alsiel, meskipun tampak biasa saja, akan tetapi kemampuan bertarungnya memang lebih baik daripada mereka semua. Jadi, mereka hanya bisa meremas senyum palsu dan berusaha menyembunyikan kekesalan di dalam hati masing-masing.

Pemuda dengan tindik maju dan tersenyum dengan terpaksa dan bertanya, “Maksudnya?”

Alsiel mengerutkan kening dan kembali berkata, “Aku butuh lebih banyak uang, jadi beritahu di mana aku bisa menemukan serangga tidak berguna seperti kalian?”

Pemuda dengan tindik itu meremas kuat kepalan tangannya sambil tersenyum masam, lalu tiba-tiba saja dia mendapatkan sebuah ide.

“Aku tahu tempat itu, tolong ikuti aku.” Pemuda dengan tindik itu berkata dengan penuh sukacita.

Dalam hatinya, pemuda dengan tindik itu tertawa dengan keras. Karena orang itu menginkan uang, maka akan aku antarkan dia ke tempat itu, yaitu markas dari geng Houndom. Geng terkuat di sekitar daerah ini.

Tempat itu adalah sebuah bar, biasanya tempat itu digunakan oleh para berandalan di sekitar untuk membeli obat-obatan terlarang, mabuk-mabukan, dan mencari kesenangan dunia. Dan tempat itu di kelola langsung oleh geng Houndom. Jadi, pasti akan ada banyak uang di sana.

Tapi, bukan karena itu pemuda bertindik itu merasa senang. Tapi karena dia ingin melihat adegan di mana Alsiel dihajar oleh orang-orang dari geng Houndom. Dengan kata lain, dia ingin meminjam pisau orang lain untuk membalaskan dendamnya.

“Hmm...” Alsiel mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti pemuda bertindik itu. namun, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menunjuk pemuda dengan rambut pelangi, “Kau, segera perbaiki motorku!”

Itu bukanlah permintaan, tapi perintah.

“Ba-baik, akan segera aku perbaiki.” Pemuda dengan rambut pelangi segera berlari menuju sepeda motor Alsiel dan menuntunnya pergi.

“Ayo kita lanjutkan.” Alsiel berkata dengan tenang.

Rombongan besar itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Pemuda dengan tindik itu terus berbicara dengan sopan sambil menjelaskan tentang geng Houndom.

Dari apa yang pemuda dengan tindik itu katakan, Alsiel jadi mengetahui bahwa geng tersebut adalah geng terbesar di daerah sekitar. Dan geng itu adalah pengikut setia dari salah satu geng terkuat di kota. Jadi, meskipun bisnis kotor mereka banyak diketahui oleh orang sekitar, tapi tidak ada yang berani untuk melaporkannya.

Yang bisa masyarakat sekitar lakukan hanyalah tutup mulut dan berakting seperti mereka tidak mengetahui apapun. 

Itulah tanda dari betapa menakutkannya geng terkuat di kota.

Tapi, meskipun begitu, Alsiel tidak peduli. Di matanya, mereka semua hanyalah serangga bau yang berkumpul dan merasa sombong dengan jumlahnya yang banyak.

Sangat menjijikan.

Di sisi lain, pemuda dengan radio sama sekali tidak bicara, dia dengan patuh berjalan di belakang sambil membawa radionya dan meringis kesakitan, hasil dari pertarungan sebelumnya. Di wajahnya terdapat dua luka lebam tepat di kedua matanya, yang membuat dia terlihat seperti seekor panda.

Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan besar dan mewah. Di depan bangunan itu terdapat papan nama bertuliskan ‘Dream House’, dan di depan pintu masuknya terdapat dua orang pria berbadan besar sedang berdiri dengan tenang.

“Di dalam sini Bos.” Pemuda bertindik itu berkata dengan sopan sembari menunjuk ke bangunan tersebut.

“Hmm...” Jawab Alsiel singkat. Dia langsung berjalan menuju bangunan tersebut.

Melihat Alsiel yang berjalan dengan santainya ke sana, membuat pemuda dengan tindik itu tersenyum cerah. Dalam khayalannya, dia bisa membayangkan tubuh Alsiel yang babak belur karena dihajar oleh dua penjaga tersebut.

“Haha, jangan salahkan aku, kau sendiri yang meminta kematian.” Gumam pemuda bertindik dengan pelan. 

Pemuda bertindik itu berbalik dan melihat ke teman-temannya, “Baiklah, kita pergi saja, biarkan geng Houndom yang menghajar pria sialan itu.”

Namun, teman-temannya tidak berkata apa-apa dan malah membelalakan mata dan membuka rahang dengan sangat lebar.

Seperti sedang melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.

“Ada apa? Kenapa kalian tampak terkejut seperti itu?” pemuda bertindik itu bertanya dengan heran.

“Li-ihat itu...” ucap pemuda dengan radio sambil menunjuk ke arah markas geng Houndom.

Pemuda bertindik itu segera berbalik dan tidak bisa tidak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Tidak pernah dalam mimpinya dia membayangkan hal seperti itu akan terjadi. Tapi, semua itu benar-benar terjadi tepat di depan matanya.

Dia melihat Alsiel dengan santai mengangkat kedua penjaga itu di masing-masing tangannya. Wajah dari dua penjaga itu sudah babak belur. Kemudian dengan tenang Alsiel membuang kedua penjaga itu ke samping.

‘Berapa lama waktu yang dia habiskan untuk mengalahkannya? Sial! Itu hanya beberapa detik.’

Tapi, setelah melihat adegan ini, mereka semua langsung membuang nafas dengan lega. Awalnya mereka mengira bahwa mereka terlalu lemah, tapi ternyata itu salah, Alsiel-lah yang terlalu kuat.

Sangat mendominasi.

Setelah mengalahkan kedua penjaga itu, Alsiel langsung masuk ke dalam bangunan itu. 

Satu kata yang bisa menjelaskan pendapat Alsiel terhadap tempat itu, yaitu berisik.

Alsiel merasa jijik setelah melihat banyak orang yang dengan keras berteriak dan menari. Di matanya, mereka seperti serangga yang baru saja melihat dunia.

Di luar, pemuda dengan tindik dan teman-temannya masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka terbangun dari kejutan tersebut.

“Sial! Dia benar-benar kuat!”

“Ya, hanya beberapa detik dan dua penjaga berbadan besar itu langsung hancur berantakan.”

“Keren, dia benar-benar keren!”

Tanpa sadar, mereka langsung memberikan pujian terhadap orang yang baru saja mereka anggap sebagai musuh bebuyutan.

“Apa yang harus kita lakuan?” tanya pemuda dengan radio.

Mereka semua terdiam dan menatap pemuda dengan tindik. Dia adalah pemimpin dari geng kecil ini.

“Ayo kita lihat, meskipun dia berhasil mengalahkan dua penjaga itu, tapi dia pasti akan di hajar oleh geng Houndom yang berada di dalam sana.” Jawab pemuda bertindik.

Dia masih tidak percaya bahwa Alsiel akan mampu mengalahkan geng Houndom.

“Benar, mereka berdua hanya penjaga pintu, wajar saja kalau kalah.”

“Iya, dia pasti akan mati oleh geng Houndom di dalam sana.”

“Pasti, lagipula dia hanya sendiri, tidak mungkin dia berhasil mengalahkan mereka semua.”

Meskipun mereka mengatakan begitu, tapi mereka masih menyimpan pemikiran bahwa Alsiel mampu mengalahkan geng Houndom. Tapi, karena harga diri, mereka tidak akan mengatakannya.

“Benar, ayo kita lihat wajah babak belurnya di dalam.” Ucap pemuda bertindik.

“Ya.” Mereka semua menjawab dengan serempak.

Mereka semua masuk dan berjalan dengan terburu-buru. Ketika mereka sampai ke dalam, apa yang mereka lihat lebih mengejutkan dari apa yang baru saja terjadi di pintu masuk.

Mereka melihat Alsiel sedang duduk di kursi yang berada di tengah ruangan, sedangkan itu orang-orang di sekitar duduk dengan patuh di lantai. Tidak lama kemudian datang seorang pria dengan jas rapi membawa sebuah gelas. Lalu dengan sangat sopan pria itu memberikan gelas itu pada Alsiel.

“Bukannya dia bos geng Houndom?” ucap pemuda dengan radio.

“Ya, benar, aku juga pernah melihatnya sekali, dia terkenal sangat garang dan tidak akan segan untuk membunuh mushnya. Tapi, apa-apaan ini?” ucap pemuda bertindik.

Pemuda bertindik pernah bertemu dengan bos dari geng Houndom tersebut. Saat itu, dia sedang berjalan di sore hari, kemudian dia mendengar suara teriakan dari sebuah gang, ketika dia mengintip ke dalam, dia menemukan bos geng Houndom sedang menyiksa seorang pemuda. Dia dengan ganas menghajarnya lalu membawa pergi pacar dari pemuda tersebut, dan semenjak itu, nasib dari pemuda dan gadis tersebut tidak diketahui.

Dia selalu takut dengan sosok tersebut. Tapi, setelah melihat orang tersebut dengan sopan melayani Alsiel dengan sopan, dunianya terasa berputar. Bahkan untuk sesaat dia mulai berpikir bahwa ini adalah mimpi. Namun, setelah dia mengucek matanya, pemandangan itu masih tepat di depan matanya.

Dia juga sempat berpikir bahwa Alsiel sebenarnya adalah bos sebenarnya dari geng Houndom. Namun, dia membuang pikiran tersebut setelah melihat tidak ada satupun wajah dari orang-orang di sana yang tampak baik-baik saja.

Mereka semua memiliki bekas lebam di wajahnya.

Entah itu pria atau wanita, semuanya babak belur.

Alsiel meminum air di gelas yang baru saja diberikan padanya dan merasa bahwa minuman itu terasa miserius, karena dia merasa bahwa ketika meminumnya, ada sensasi aneh di mulutnya. Dan itu terasa sangat menyenangkan bagi Alsiel.

“Tambah lagi.” Ucap Alsiel.

“Ba-baik.” Bos geng Houndom mengangguk lalu berlari untuk mengisi ulang gelas tersebut.

Bos geng Houndom merasa seperti ada cuka di mulutnya. Namun, dia hanya bisa menelannya dengan patuh. Karena dia merasa takut pada pemuda itu. 

Meskipun tampak biasa, tapi dia sangat ganas.

Ketika pemuda itu masuk, dia langsung meninju wajah setiap orang di sana. Kemudian setelah selesai memberikan kenangan pahit di wajah setiap orang, dia langsung mengambil kursi dan duduk di tengah ruang, setelah itu dia langsung berkata bahwa dia ingin uang.

Namun, tentu saja bos geng Houndom tidak akan sepatuh itu, meskipun dia baru saja dihajar, dia langsung berteriak pada anak buahnya untuk mengepung pemuda itu lagi, akan tetapi hasilnya mereka mendapat kenangan pahit di wajahnya lagi.

Setelah itu dia tidak berani lagi, dan dengan enggan menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang.

Kemudian, pemuda itu berkata bahwa ia haus, jadi dengan pahit dia mengambilkan pemuda itu salah satu minuman paling mahal di bar tersebut. Dia takut pemuda itu akan marah jika dia memberikan minuman biasa.

Akan tetapi setelah gelas pertama, pemuda itu langsung meminta gelas kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan seterusnya tanpa tanda akan mabuk.

Dalam hatinya, dia mengutuk dengan keras pada anak buahnya yang terlalu lama mengumpulkan uang untuk pemuda tersebut.

‘Sialan! Aku bangkrut, aku bangkrut, aku bangkrut!’