Episode 241 - Saksi



Sebuah bentang alam yang menyerupai lembah, dengan dua sisi tebing batu granit yang hampir tegak lurus dari permukaan tanah. Pepohonan dan semak belukar tumbuh subur hanya di beberapa tempat. Kedua tebing yang megah bertengger, terpisah jarak beberapa kilometer dan sangatlah curam. Keadaan seperti ini disebabkan lembah yang terus menerus terkikis air. Pada subuh sampai pagi hari, biasanya kabut memenuhi wilayah seperti ini. Untunglah telah lewat tengah hari, sehingga kabut sudah menguap dan dibawa angin. 

Di tepian tebing ngarai tersebut, seorang anak remaja melenting-lenting memanfaatkan Segel Penempatan yang tersusun rapi dan terpisah jarak sekira sepuluh meter. Bintang Tenggara, yang terpaksa mengambil jalur memutar sedikit menyesali keputusannya. Siapa menyangka lembah yang ia masuki akan berujung kepada wilayah ngarai ini. 

Anak remaja tersebut mulai melenting ke arah atas dimana Segel Penempatan tersusun seperti anak tangga. Ia berencana menyusuri tebing tinggi, kemudian melompat ke sisi atas ngarai. Nantinya, setelah berada di sisi atas, barulah dirinya dapat melanjutkan perjalanan menuju Pelataran, sebuah wilayah terbuka di antara kedua puncak Gunung Pagar Alam. 

“Swush!” 

Bintang Tenggara sekonyong-konyong melompat mendekat ke sisi tebing. Tindakan ini ia ambil demi menghindar dari sepasang cakar besar dan tajam yang mengincar tubuhnya. Andai saja cakar-cakar beringas itu mendarat tepat pada sasaran, maka pastilah tubuh si anak remaja sudah tercabik-cabik semudah mencincang tahu mentah menggunakan belati tajam. 

Sedari tiba di wilayah ngarai ini, seekor binatang siluman Elang Laut Dada Merah terbang melayang, sembari berputar-putar tinggi di angkasa. Hal ini merupakan petanda bahwasanya binatang siluman tersebut bersikap layaknya menemukan buruan yang patut diincar. Pandangan mata sang elang tak pernah lepas dari sasaran, dan setiap kali menukik ia mengincar cepat dan tepat. Untunglah Bintang Tenggara cukup waspada. 

Keberadaan binatang siluman setara Kasta Perak ini yang menjadi alasan utama mengapa anak remaja tersebut tak dapat bergerak leluasa di dalam ngarai. Bilamana semakin tinggi ia melompat menyisir sisi tebing, maka semakin sering pula si elang terbang menukik, yang diikuti dengan menghunuskan cakar-cakar nan tajam. Hanya bermodalkan Segel Penempatan, Bintang Tenggara kesulitan menjangkau sisi atas tebing.

“Elang ini terlalu lincah...,” gumam Bintang Tenggara sebal. 

Sudah beberapa kali anak remaja tersebut hendak melepaskan serangan terhadap sang elang, akan tetapi tak memperoleh kesempatan. Setelah menukik dan gagal mencengkeram sasaran, sang elang segera melesat pergi. Empat sampai lima kali proses yang sedemikian berlangsung sudah. Bilaman terus berlanjut, maka Bintang Tenggara menunggu waktu sebelum menjadi sasaran empuk. 

“Kau yang tak berpengalaman dalam pertarungan di udara!” Entah mengapa suasana hati Komodo Nagaradja hari ini buruk sekali. 

“Wajarlah bilamana ahli Kasta Perunggu tiada memiliki pengalaman bertarung di udara. Memang belum waktunya...,” sela Ginseng Perkasa menengahi. 

“Kau tabib cabul jangan ikut campur!”

“Lagipula, secara alami Elang Laut Dada Merah merupakan binatang siluman yang paling piawai dalam pertarungan di udara.” Ginseng Perkasa mengabaikan Komodo Nagaradja. “Akan tetapi, bukan berarti tak ada pilihan dalam membungkam elang yang satu ini.”

“Kakek Gin, apakah dikau mengetahui cara melepaskan diri dari binatang siluman itu...?” 

“Waktunya meramu!” tanggap Ginseng Perkasa cepat. 

“Cih! Buang-buang waktu! Aku tiada merestui!” 

Kali ini Bintang Tenggara mau tak mau bersepakat dengan Komodo Nagararadja. Adalah waktu yang menjadi lawan nan berat dalam perlombaan kali ini. Bilamana meramu penangkal, atau mungkin racun, untuk membungkam sang elang, maka terlebih dahulu diharuskan mengumpulkan bahan dasar. Barulah kemudian, kegiatan meramu dapat dilaksanakan. Ketika kedua hal tersebut berlangsung, entah berapa banyak waktu terbuang dan entah berapa peserta yang tiba di tempat tujuan perlombaan... 

“Ia dapat merasakan hawa membunuh dengan sangat baik...” Tetiba Komodo Nagaradja berujar datar. 

Dengan waktu sebagai tantangan, Bintang Tenggara kemudian melenting tinggi. Baru setengah menyusuri sisi tebing batu ke arah atas, sang elang kembali menukik tajam!

Sigap, Bintang Tenggara menebar Segel Petir. Meski segel ini sifatnya lemah, namun sangat bermanfaat untuk menghentikan gerakan lawan selama beberapa detik. Beberapa detik sudah lebih dari cukup bagi anak remaja tersebut nantinya menghantamkan Tinju Super Sakti! Setidaknya, demikian adalah pemikiran nan polos... 

Menyadari keberadaan sejumlah titik-titik ancaman dalam lintasan terbangnya, naluri sang elang membuat tubuhnya berkelit-kelit lincah ibarat menari-nari di udara. Sayapnya terlipat dan paruhnya mengincar tajam. Tak satu pun Segel Petir yang ditebar bersentuhan dengan tubuh besar sang elang. Sebaliknya, ia kini berada tepat di atas tubuh Bintang Tenggara dan telah siap menghunuskan cakar-cakar nan tajam dan besar!

“DUAR!” 

Suara ledakan nan membahana bergema di seantero wilayah ngarai! Burung-burung serempak beterbangan dari pepohonan dan segenap binatang-binatang lain terkejut gelisah. Lebih dari itu, sisi tebing batu granit nan tinggi dan kokoh bergetar deras, disusul dengan bongkahan-bongkahan kerikil yang melesat ke semerata penjuru! 

Setelah menempatkan posisi sang elang dengan memanfaatkan sejumlah Segel Petir, dalam waktu yang sangat cepat Bintang Tenggara menghantamkan Gerakan Pertama Tinju Super Sakti ke sisi tebing. Langkah ini ia lakukan karena menyadari bahwa naluri sang elang akan dengan mudah menghindari serangan yang diarahkan langsung kepadanya. Sebaliknya, sang elang akan kesulitan bilamana menghadapi serangan yang datang dari benda mati seperti bebatuan, yang tiada memiliki hawa membunuh. 

Petunjuk singkat sang Super Guru perihal sang elang yang dapat merasakan hawa membunuh dengan sangat baik, segera dapat dipahami oleh si Super Murid. Hawa membunuh tiada dapat dihilangkan. Setiap kali melancarkan serangan, seorang ahli akan secara alami memancarkan hawa membunuh, kadarnya saja yang berbeda-beda. Hawa membunuh tiada dapat dihilangkan, apalagi di hadapan binatang siluman yang jauh lebih peka daripada manusia. 

Terkejut bukan kepalang akan hentakan gelombang suara yang membahana, sang elang terlambat menghindar. Bongkahan dan serpihan bebatuan yang melesat dari sisi tebing karena menerima hantaman keras, mengarah ke tubuh sang elang. Di saat hal tersebut berlangsung, konsentrasi sang elang buyar dan naluri menyelamatkan diri mengambil alih. Sontak ia berupaya menghindar, sehingga berupaya terbang menjauh. Di kala merentangkan sayap lebar-lebar, sang elang pun bersentuhan dengan beberapa Segel Petir yang telah sebelumnya ditebar! 

“Zzzztttt...” 

Tubuh sang elang terdiam kaku di tempat. Ia pun terjatuh tiada berdaya. Di sisi lain, setelah menghantamkan jurus nan digdaya ke sisi tebing batu, Bintang Tenggara telah melenting-lenting tinggi ke arah atas. Tiada mengindahkan sang elang, anak remaja tersebut berupaya secepatnya menjangkau sisi atas tebing tinggi.

Bintang Tenggara menoleh ke bawah. Sebelum mencapai permukaan ngarai, dampak Segel Petir terhadap sang elang memudar sudah. Binatang siluman tersebut pun merentangkan dan mengepakkan sayap. Ia kembali mengudara, namun telah memutuskan untuk tak melanjutkan perburuan terhadap si anak remaja. 

“Tak terlalu buruk...,” gumam Komodo Nagaradja sedikit memuji.

...


Balaputera Naga tetiba menghentikan langkah nan meledak-ledak. Sebagai salah satu peserta di dalam Tantangan Kedua Hajatan Akbar Pewaris Takhta, ia berada pada posisi terdepan dalam mendaki. Memicingkan mata, ia menoleh ke arah belakang dan mendapati bahwa ketiga peserta dari Kadatuan Kesatu mengambil tindakan yang sama. Di belakang mereka lagi, Balaputera Saratungga yang sudah tak menggendong beban, pun ikut menghentikan langkah. 

Raut wajah kelima remaja ini sangat penasaran, karena baru saja mendengar suara menggelegar bak halilintar yang menyambar. Padahal, saat ini adalah tengah hari bolong dan matahari bersinar cerah. Entah dari mana suara tersebut berasal... 

Bukankah asal datangnya suara menggelegar tersebut merupakan arah kemana Balaputera Gara pergi menghilang...? Apakah gerangan yang terjadi...? Mungkin demikian benak mereka menerka-nerka.

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita masih melesat cepat. Di kejauhan mereka mendapati Balaputera Saratungga yang berhenti sejenak. Berada pada urutan enam dan tujuh, mereka tiada mengendorkan langkah berlari meski mendengar suara menggelegar. Benak keduanya terpusat pada satu tujuan utama. 

Balaputera Shinta dan Balaputera Dirgaha berada pada urutan kedelapan dan kesembilan. Bila terus berada pada posisi mereka saat ini, maka dipastikan keduanya akan lolos dari Tantangan Kedua. Kedunya hanya perlu mengekor tanpa disusul. 

Di belakang kedua remaja unggulan tersebut, adalah sebelas remaja yang terlihat berlari pontang-panting sekuat tenaga. Kecil sekali peluang mereka untuk memperoleh tempat, namun harga diri memaksa mereka mengais setiap kesempatan yang tersedia. Setidaknya, mereka mengejar Balaputera Shinta dan Balaputera Dirgaha yang terpauh jarak sekira seratus langkah di hadapan. 

Tanpa sepengetahuan kelompok remaja paling belakang ini, bahwasanya masih tersedia satu tempat bagi mereka. Hal ini dikarenakan Balaputera Gara yang mengambil jalur memutar, berada di urutan paling akhir. Secara jarak, ia bahkan tertinggal dari Balaputera Prameswara yang tadinya terlihat berduduk diam di atas batu!

Suara teriakan riuh rendah terdengar di seantero Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Puluhan ribu pandangan mata tak lepas dari layar yang mengudara tinggi. Sebagaimana urutan yang telah disebutkan di atas, seluruh khalayak juga menyadari urutan sementara dalam perlombaan yang kini sedang berlangsung di lereng Gunung Pagar Alam. 

Di Kadatuan Kesembilan, sang Datu Besar terlihat gelisah dan sang Datu Tengah memasang wajah resah. Secara urutan, maka kedua wakil dari Kadatuan Kesembilan berada pada urutan ke-19 dan 20. Apa mau dikata, Balaputera Prameswara menderita cedera dan Balaputera Gara menempuh jalur yang berbeda dari remaja-remaja peserta. 

“Adinda Samara... bagaimana pandanganmu...?”

“Kakanda Rudra... mohon maaf, pikiranku tiada terpusat pada perlombaan...”

“Apakah dikau masih memikirkan kata-kata kemenakan kita Gara kepada kakak Wrendaha tadi?” ujar Balaputera Rudra pelan. 

Ibunda Tengah Samara tiada dapat menyembunyikan keterkejutan. Awalnya ia tiada mempertimbangkan bahwa sang kakak juga menyadari pesan yang kemungkinan tersebunyi. 

“Ibunda Sukma masih hidup. Lintara pergi menyelamatkan beliau. Saat ini sedang ditahan oleh Balaputera Tarukma di dalam dimensi ruang di bawah sumur.” 

“Kakanda...” Balaputera Samara yang biasa tenang, kini terlihat semakin bimbang.  

“Demikian adalah penafsiranku,” sela Ayahanda Sulung Rudra, tak hendak menyimpulkan terlalu dini. Ia pun menoleh pelan ke arah Kadatuan Kedua. 

Di Kadatuan Kedua, sang Datu Besar masih berupaya menyembunyikan kegelisahan di hati. Dalam benak ia berpikir keras. Dengan memanfaatkan bantuan dari saudara-saudara Kekuatan Ketiga, rekan-rekan dari kerajaan-kerajaan lain, serta segenap sekutu di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bukan tak mungkin bagi dirinya mengumpulkan puluhan ahli Kasta Emas untuk memaksa membuka ruang dimensi di bawah batu. Akan tetapi, dirinya memerlukan alasan yang kuat untuk bertindak di dalam Perguruan Svarnadwipa.

Andai saja Balaputera Gara membawa kembali bukti, atau setidaknya saksi...

...


“Hei! Izinkan aku menonton Gelaran Akbar Pewaris Takhta!” gertak seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepala gundul. 

“Dikau diperkenankan memasuki Gelanggang Utama dari pintu lain. Silakan Tuan Ahli memanfaatkan pintu lain. Pintu ini hanya terkhusus bagi para bangsawan Wangsa Syailendra di tribun kehormatan,” jawab seorang prajurit dengan nada sopan. 

Suasana hati Saudagar Senjata Malin Kumbang sedang tak baik. Ia telah sadarkan diri tak berapa lama lalu, dan kini tiba di salah satu pintu masuk ke Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Terlepas dari itu, betapa ia semakin membenci Lintang Tenggara. Sebuah benjolan besar masih terasa perih di belakang kepala akibat hantaman Aksamala Ganesha. Ini adalah kali kedua tokoh laknat itu membuat dirinya pingsan tak sadarkan diri. Tak dapat diterima! Kurang ajar! 

“Aku hendak bersua Datu Besar Kadatuan Kedua!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang hendak segera mengadu akan perbuatan tercela Lintang Tenggara. Datu Besar Kadatuan Kedua harus segera memberikan ganjaran yang berat kepada anak didiknya itu!

“Tuan Ahli tiada diperkenankan memasuki wilayah tribun kehormatan Wangsa Syailendra!” 

“Ini urusan penting dan mendesak!” 

“Tuan Ahli tiada diperkenankan memasuki wilayah tribun kehormatan Wangsa Syailendra!” ulang prajurit penjaga pintu masuk. Sebentar lagi ia akan kehabisan kesabaran. 

“Hmph…” 

Tak kehabisan akal, Saudagar Senjata Malin Kumbang mengeluarkan sebuah buntelan kecil dari dalam sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi. Gemericik keping-keping perak terdengar di kala ia menyodorkan buntelan tersebut kepada si prajurit jaga. Sungguh ia bermurah hati dalam menawarkan keping-keping perak.

“Tuan Ahli!” hardik si penjaga pintu. “Apakah tuan ahli hendak menyogok diriku!?” 

“Sssttt… jumlahnya tiada seberapa, dan ini hanyalah di antara kita,” bisik Saudagar Senjata Malin Kumbang sambil mengedipkan sebelah mata. “Terimalah cepat, dan izinkan diriku melangkah masuk…” Ia menutup dengan senyuman nan menawan. 

Kedatangan Saudagar Senjata Malin Kumbang juga karena hendak segera melaporkan kepada Datu Besar Kadatuan Kedua tentang kegagalan rencana mereka membebaskan salah satu Raja Angkara. Dirinya dan Lintang Tenggara tertangkap basah oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Berkat campur tangan tak terduga dari sang penguasa itu pula, dirinya dan Lintang Tenggara dikirim ke sebuah dimensi ruang. Di dalam dimensi ruang tersebut, ia bersua dengan Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Gara, serta seorang perempuan setengah baya yang diketahui bernama… Balaputera Sukma. 

“Tidak!” bentak sang prajurit penjaga pintu karena merasa dilecehkan harga dirinya!