Episode 32 - Pendekar dari Lembah Akhirat (2)


Malam itu telah sampai pada peraduannya, suasana di keraton Mega Mendung sunyi senyap, tidak nampak seorang pun berada di keraton yang gelap gulita tersebut, entah kemana perginya semua penghuni keraton tersebut, bahkan tak nampak seorang penjaga pun yang hilir mudik berpatroli atau berjaga. Hujan rintik-rintik disertai ledakan petir yang aneh mewarnai malam itu, tanah disekitar keraton pun menjadi becek dan menebarkan bau busuk yang aneh menusuk hidung di tengah malam sepi tersebut, makin sunyi dan anehlah suasana di Keraton tersebut kalau tidak mau dikatakan seram dan mencekam! 

Mega Sari yang malam itu sendirian didalam kamarnya nampak sangat gelisah, ia hanya sendirian di keraton Mega Mendung yang sunyi senyap dan gelap gulita tersebut, hatinya diserang kesepian yang teramat sangat! Entah ke mana perginya Prabu Kertapati, Dewi Nawang Kasih, serta suaminya Pangeran Dharmadipa dan semua penghuni juga prajurit keraton Mega Mendung, mereka semua seolah meninggalkan Mega Sari sendiri di keraton Mega Mendung. Ia menangis sesegukan seorang diri disiksa oleh kesepian yang kian memendam hatinya.

Di saat gadis cantik berkulit putih, bermata bulat tajam itu semakin gelisah dan takut akan kesendiriannya, tiba-tiba mengalunlah suara gamelan istana dari arah Balai Keprabon keraton memainkan tembang dari pupuh “Dangdanggula”, tembang pupuh yang biasanya dipakai untuk menyambut raja baru yang naik tahta di Mega Mendung. Dengan penuh penasaran, ia melangkah keluar dari kamarnya sambil mengusap air matanya menuju ke Balairiung keraton. Alangkah terkejut hatinya ketika melihat keadan keraton Mega Mendung yang seharusnya megah tersebut, keraton tersebut telah rusak, banyak bagian bangunan yang runtuh, akar-akar pohon merambat menggerogoti tembok, bau anyir darah menusuk-nusuk hidung wanita jelita ini.

Mega Sari semakin terkejut ketika melihat apa yang ada dan sedang terjadi balai Keprabon keraton yag merupakan satu-satunya began keraton yang tidak rusak. Ia melihat para nayaga memainkan berbagai alat musik gamelan, dua orang sinden menyanyikan tembang pupuh Dangdanggula, beberapa orang wanita cantik nampak menaburkan bunga melati di Balai Keprabon itu. Tapi yang paling membuatnya terkejut ialah ketika ia melihat seorang pria yang sangat ia kenali duduk di kursi singgasana Mega Mendung! Pria itu adalah Jaka Lelana yang mengenakan pakaian kebesaran Prabu Mega Mendung! Saudara seperguruannya sewaktu di padepokan Sirna Raga, pria yang pernah mencuri hatinya sebelum ia melabuhkan hatinya pada Dharmadipa!

Rasa terkejutnya seketika berubah menjadi rasa kangen yang tiada tara setelah tiga tahun ini Mega Sari tidak pernah bertemu lagi dengan Jaka Lelana karena mengira pria itu sudah mati! Gadis ini langsung berlari hendak memeluk Jaka, tapi beberapa orang pengawal berperawakan tinggi kekar dengan wajah yang menyeramkan menahannya, ia pun berseru pada Jaka, “Kang Jaka! Ini Aku Mega Sari! Tolong lepaskan aku! Tolong biarkan aku memelukmu dengan seluruh rasa cinta dan rinduku! Aku kangen sekali padamu Kang Jaka!”

Jaka Lelana tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil penuh selaksa makna yang tidak dapat dipahami oleh Mega Sari, ketika itu Mega Sari seakan baru tersadar bahwa mengapa Jaka Lelana bisa duduk diatas Singgasana Mega Mendung dengan mengenakan pakaian kebesaran sang Prabu, bahkan Keris Pusaka “Segara Geni” yang merupakan senjata pusaka paling keramat dan menjadi lambang sahnya seseorang menjadi raja di Mega Mendung terselip di pinggang Jaka! 

“Kang Jaka, mengapa Kakang bisa berada di singgasana itu?!” Tanya Mega Sari, lagi-lagi Jaka tidak menjawabnya ia hanya tersenyum simpul, “Kang Jaka jawab aku! Kang Jaka!” jerit Mega Sari sambil meronta-ronta dari cengkraman para pengawal yang memeganginya.

“Istriku! Bangun! Istriku?!” panggil Dharmadipa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mega Sari. Mega Sari pun membuka matanya, ia lalu bangun dan duduk diatas tempat tidurnya, ia melihat orang yang membangunkannya, ternyata Dharmadipa suaminya sendiri yang telah ia nikahi tiga tahun yang lalu, ia celingukan melihat ke sekeliling kamarnya, ternyata suasananya normal seperti biasanya. Perempuan cantik ini pun menarik nafas lega sambil menyeka butir-butir keringat di keningnya.

“Mega Sari kamu bermimpi apa? Kenapa kamu mengigau memanggil-manggil nama Jaka Lelana?” Tanya Dharmadipa.

Mega Sari terdiam sejenak, ia merasa segan dan tidak enak kalau harus berterus terang menceritakan apa mimpinya tersebut, kemudian ia pun menjawab, “Saya bermimpi melihat Kang Jaka datang berkunjung ke keraton kita Kakang.”

Dharmadipa kaget dan heran mendengarnya, api cemburu juga mulai terbentik dari hatinya karena bagaimanapun ia tahu kalau dulu Jaka mempunyai perasaan pada Mega Sari, “Jaka? Dia datang berkunjung kemari? Lalu?” 

Mega Sari menggelengkan kepalanya, “Ia hanya datang berkunjung dan menyunggingkan senyumnya pada kita, setelah itu saya tidak ingat lagi sebab keburu terbangun…”

Dharmadipa jadi merasa tidak enak, kejadian tiga tahun yang lalu ketika mereka berdua adu kesaktian di Lembah Tangkuban Perahu atau yang dikenal dengan Lembah Akhirat tergambar lagi di matanya, bagaimana ia mencelakai Jaka dengan pukulan Sirna Raga sehingga Jaka jatuh ke jurang karenanya.

“Kakang!” sebut Mega Sari yang membuat Dharmadipa terbangun dari lamunannya, “Apa yang Kakang pikirkan?” Tanya Mega Sari.

“Eeehhh... Aku hanya berpikir bahwa selama tiga tahun ini kita tidak pernah menyekar pada Jaka, tapi kita bisa apa? Kita bahkan tidak tahu dimana jasadnya berada, jurang Lembah Akhirat sangat luas lagi dalam Nyai…” jawab Dharmadipa. (Menyekar = mengunjungi makam atau tempat irang meninggal).

“Kakang benar... Tapi saya merasa sangat tidak enak sebab selama tiga tahun ini kita tidak pernah berbuat apa-apa pada jenasah Kang Jaka.” sahut Mega Sari.

“Kamu betul Nyai, tapi kita harus bagaimana? Jaka adalah seorang muslim, berbeda kepercayaannya dengan kepercayaan kita hingga kita tidak bisa mendoakannya.” ujar Dharmadipa yang keluar dari Islam sejak ia menikah dengan Mega Sari, ia mengikuti kepercayaan Mega Sari yang menyembah mahluk ghaib dari alam lain yang menjadi sumber ilmu hitamnya.

Mega Sari hanya mengangguk pelan, dia lalu menatap kosong ke arah jendela kamarnya, “Kang Jaka aku sangat merindukanmu... Tapi apa sesungguhnya arti mimpi tadi? Menurut orang tua kalau melihat orang yang dinobakan menjadi Raja berdiri tegak di bawah bulan purnama itu pertanda baik, tapi tadi dalam mimpi itu Kang Jaka tiba-tiba dinobatkan menjadi seorang Prabu diwaktu tengah malam yang tak berbulan juga tak berbintang, suasana di keraton ini juga sangat sepi dan mecekam, yang ramai hanya di Balai Keprabon tempat penobatan Prabu saja... Apa artinya ini? Oh perasaanku sangat tidak enak, dan entah mengapa tiba-tiba aku merasa... Takut!”


***


Pada suatu pagi hari yang cerah, di sebuah hutan perbatasan antara Kademangan Citatah dengan Kademangan Saguling, nampak seorang pemuda yang sedang berjalan kaki dengan tergesa-gesa, di belakangnya mengikuti seorang gadis berkulit hitam manis dengan tahi lalat di bawah mata kanannya.

“Hoi Jaya! Penyakitmu kambuh lagi! Kenapa kau mendiamkan aku lagi?!” Tanya si gadis yang tak lain adalah Galuh Parwati alias Si Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul pada si Pemuda yang tak lain adalah Jaya Laksana yang dahulu pada masa kecilnya bernama Jaka Lelana.

Jaya tak mempedulikan ocehan si gadis, dia malah mempercepat langkahnya, si gadis pun mempercepat langkahnya, ia lalu mengeluarkan sebuah seruling dari balik pakaiannya dan mulai meniupnya membawakan lagu tidak menentu sambil bergoyang-goyang seenaknya mengikuti Jaya. 

Beberapa langkah kemudian ia pun membuka mulutnya. “Jaya aku dengar dari desa-desa yang kita lewati, banyak orang-orang yang memberimu gelar Pendekar Dari Lembah Akhirat karena menurut cerita kamu muncul dari lembah akhirat dan jadi pendekar sakti yang menumpas kejahatan, maka dari itulah mereka menyebutmu sebagai Pendekar dari Lembah Akhirat!”

Jaya menghentikan langkahnya, ia lalu menatap Galuh “Pendekar Dari Lembah Akhirat? Ah benar-benar suatu sebutan yang tak berguna”

Galuh menatap heran pada Jaya, “Tak berguna? Bagaimana bisa kau menyebut itu tak berguna?”

Jaya menyeringai sinis, “Julukan itu memang hebat terdengarnya, tapi di satu sisi kalau julukan itu membuatku menjadi jumawa dan takabur, aku tak menginginkannya!”

Galuh balas menyeringai sambil berjalan-jalan mengelilingi Jaya, “Apa yang salah dengan julukan itu? Kau kan memang hebat apalagi kalau cincin mustika di jarimu itu sudah membantumu mengalahkan musuh-musuhmu yang sakti!”

Jaya mendelik, kembali ia menuduh Galuh mengejar-ngejarnya karena menginginkan cincin mustika Kalimasada yang melingkar di jarinya, “Galuh kalau kau masih penasaran dengan cincinku ini silakan ambil dan berlalu dariku!”

Galuh terkejut mendengar pernyataan dari Jaya tersebut, hatinya jadi sedih, hampir saja ia tak kuasa untuk mengatakan tujuannya yang sebenarnya pada Jaya “Jaya... Tak bisa aku pungkiri kalau aku memang sempat tergoda untuk mengambil cincin itu darimu, aku juga memang menaruh dendam pada Prabu Kertapati! Tapi tolonglah jangan salah sangka terus padaku! Aku punya tujuan lain mengikutimu!”

Jaya terperangah mendengarnya, ia lalu teringat pada pertemuannya yang kedua dengan Kyai Supit Pramana saat ia ditolong oleh Kyai Supit, ia malah menuduh Kyai Supit hendak mencelakainya, maka pemuda ini pun beristighfar dalam hatinya, namun begitu ia masih belum mempercayai Galuh sepenuhnya sebab gadis itu masih belum jujur menceritakan tujuannya yang sebenarnya, “Jadi kamu tidak menginginkan cincin ini atau memperalatku untuk membalaskan dendammu pada Prabu Kertapati? Lalu apa tujuanmu mengikutiku? Kenapa kamu tidak pernah menjelaskan tujuanmu mengikutiku kepadaku?”

Galuh adalah seorang gadis yang keras hati, hidupnya semenjak kecil sudah ditempa dengan kekerasan hingga membuat hati serta perangainya menjadi sangat keras, kalau gadis lain yang mendapatkan tuduhan salah faham dari pria yang dicintainya niscaya ia sudah menangis, tapi bagi Galuh sebesar apapun rasa sedihnya ia masih dapat menahannya, namun tetap saja sebagai seorang perempuan ia masih punya rasa malu dan harga diri sehingga ia tidak mengatakan maksud yang sebenarnya pada Jaya, meskipun ia sendiri sudah sangat bingung bagaimana membuat Jaya mau menikahinya sesuai dengan perintah gurunya.

Dengan tatapan lesu Galuh pun menjawab, “Maaf Jaya, aku belum bisa mengatakan apa tujuanku yang sebenarnya, yang jelas aku hanya menjalankan perintah guruku! Tetapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak mempunyai maksud buruk padamu, aku tidak bermaksud merebut atau mencuri cincin mustikamu atau memperalatmu untuk membalaskan dendamku!”

Jaya menatap Galuh dengan seksama, dari ucapannya Galuh terdengar jujur dan sangat tulus, bahkan gadis itu berani menatap Jaya, selain itu ia pun merasa tidak tega kalau harus terus mengusir Galuh dari hadapannya. Apalagi kalau ia jujur, ada suatu perasaan aneh yang tidak mengizinkannya untuk mengusir Galuh ataupun kabur melarikan diri dari gadis berlesung pipit dan mempunyai tahi lalat di bawah matanya itu.

Jaya mengalihkan pandangan matanya dari gadis berkulit cokelat yang sangat manis itu, lalu menatap ke sungai yang mengalir tak jauh dari tempatnya berdiri, ia terdiam sejenak, lalu melangkahkan kakinya menuju ke sungai itu, “Hei kau benar-benar mau meninggalkan aku?!” Tanya Galuh dengan suara bergetar pertanda ia sedang menahan debaran persaannya.

Jaya berbalik lalu tersenyum jahil, “Tidak, tapi kalau kamu mau terus ikut denganku ke Mega Mendung, kau harus mandi dulu di sungai itu!”

Galuh menatap tak mengerti pada Jaya, “Mandi? Apa maksudmu?”

Jaya tertawa mengkehkeh “Karena aku belum pernah melihatmu mandi selama kita berjalan bersama, badanmu juga bau sekali Nona Galuh! Aroma tubuhmu membuat nafasku sesak!”

Marahlah Galuh mendengarnya, wajahnya memerah seperti udang rebus “Sialan kau! Jadi menurutmu aku ini bau?! Kau mau menghina dan menantangku hah?!” makinya sambil bersiap untuk memukuli Jaya.

“Sudahlah, kau mandi saja dulu! Lihat kesana, bagian itu cukup tertutup dan terlindungi! Mandilah di sana!” tukas Jaya sambil menunjuk ke arah hulu yang tertutupi oleh rumpunan pohon bamboo.

Galuh melihat tempat yang ditunjuk oleh Jaya, “Kau hanya beralasan saja bukan Jaya? Begitu aku mandi di sana kau akan kabur!” tuduh Galuh.

“Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, aku akan menunggumu disini!” jawab Jaya.

Galuh melihat lagi ke arah yang tadi ditunjuk Jaya, “Benar kau tidak akan kabur?!” jaya mengangguk, “Tapi awas kalau kau berani mengintipku, aku bunuh kamu nanti!” ancam Galuh.

“Aku tidak akan mengintipmu Galuh! Sudah cepat mandi sana!” Galuh pun menurut lalu mandi di tempat yang ditunjukan oleh Jaya, sementara Jaya berbaring diatas batu kali yang besar dan licin.

Galuh pun mandi dengan agak lama di sana, beberapa kali ia membilas seluruh bagian tubuhnya lalu meciuminya. “Apa benar aku ini sebau itu sampai Jaya menyuruhku mandi?” iI lalu mengambil pakaiannya dan membauinya juga “Huh betul juga sih bajuku ini sudah sangat bau seperti baju pengemisku yang dulu, padahal dulu sewaktu Sri memberikannya padaku baju ini sangat harum!” pikirnya.

Merasa masih kurang yakin Galuh kembali masuk kedalam sungai dan mandi lagi, beberapa kali ia terus membasuh tubuhnya terutama bagian ketiaknya. Gadis itu lalu bersenandung kecil, ia mandi sambil tersipu membayangkan Jaya, ia membayangkan kalau ia bersanding dengan Jaya, “Eh sepertinya julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat cocok buat Jaya... Sepasang penderkar, Pendekar Dari Lembah Akhirat dan Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul... Hihihi” ia tertawa sendiri mebayangkan lamunannya menjadi kenyataan.

Setelah selesai mandi Galuh meraih pakaiannya, ia menimbang-nimbang untuk mencucinya, tapi karena ia tidak mempunyai pakaian lain, maka terpaksa ia memakai pakaiannya yang aromanya “menyengat” itu. Galuh kemudian menghampiri Jaya yang sedang enak-enakan berbaring sambil bersiul-siul diatas sebuah batu kali besar yang licin, “Hmm... Rupanya ia menepati janjinya untuk tidak kabur dan mengintipku.” gumam gadis ini.

“Hoi Jaya aku sudah selesai mandi!” panggil Galuh.

“Sudah selesai? Lama sekali kau mandinya Nona Galuh!” sahut Jaya.

Jaya bagun dari pembaringannya, tapi tiba-tiba ia melotot tajam pada Galuh, Galuh terkejut melihat tatapan Jaya tersebut, gadis ini lalu melangkah mundur, “Hei Jaya apa yang kau lihat? Kau kenapa?” tanyanya.

Jaya tidak menjawab, dia turun dari atas batu lalu melangkah mendekati Galuh “Jaya kau kenapa?” Tanya Galuh lagi dengan suara bergetar, wajahnya memerah mendapati tatapan Jaya seperti itu “Jaya... Sabarlah... Pelan-pelan saja... Kita kan belum...” belum sempat Galuh menyelesaikan perkataannya, Jaya melangkah melewati tubuh Galuh, penuh penasaran, Gadis ini melihat kebelakangnya, ternyata di tengah sungai tersebut terjadilah suatu keanehan, di sungai yang tenang itu munculah satu pusaran air yang dahsyat yang makin lama makin besar, ternyata inilah yang menjadi pusat perhatian Jaya.

Pusaran air itu semakin hebat dan menimbulkan angin deras berseoran bertiup di sepanjang sungai itu, dan lebih aneh lagi, tiba-tiba air sungai di sekitar pusaran air itu mendidih mengepulkan asap! Tiba-tiba Prassshhh!!! Dari dalam pusaran air itu melompat ke atas udara sesosok tubuh, Jaya dan Galuh terkesima melihatnya sampai tubuh ganjil itu menjejakan kakinya diatas tanah. 

Lagi-lagi Jaya dan Galuh mendapati sesosok manusia aneh didepan matanya, dihadapan mereka berdiri seorang pria berambut gondrong awut-awutan, seluruh kulit tubuhnya bersisik dan berwarna biru, matanya merah seperti mata ikan yang sudah mati, dari tubuhnya menyengat bau anyir seperti bau ikan! Di tangan sebelah kanannya, ia memegang sebuah tombak bermata Keris pendek yang juga berwarna biru.

Si manusia ikan itu tertawa terbahak dihadapan mereka berdua, Jaya dan Galuh seolah kehabisan kata-kata melihat manusia aneh dihdapannya ini. “Hahaha... Atas perintah Eyang Topeng Setan, kalian harus mampus dan menjadi tumbal sungai Citarum ini!”

Jaya menarik nafas berat, setelah kemarin ia berhadapan dengan para manusia pohon dan manusia akar, sekarang ia berhadapan dengan manusia ikan yang tak kalah anehnya, “Haahhh... Lagi-lagi aku bertemu mahluk aneh!”

Jaya lalu menatap tajam pada si manusia ikan, “Sobat, meskipun langit runtuh dan bumi terbelah, aku Jaya Laksana tidak akan mau menjadi tumbal sungai ini atau mampus ditanganmu, kecuali atas kehendak Gusti Allah!” tegasnya.

“Hahaha... Tak usah menunggu takdir Tuhan sobat, sebab aku Juana Suta murid dari Eyang Topeng Setan akan membuat jenasah kalian berdua sebagai tumbal persembahan di sungai Citarum ini!”

Juana Suta lalu mengangkat tombak pendek bermata Kerisnya, dari dalam sungai keluarlah sinar biru jernih yang berwarna sama dengan airnya masuk kedalam tombak pendek Juana Suta seolah si Manusia ikan itu sedang menghisap kekuatan dari dalam sungai, “Mahluk apa lagi ini? Kekuatannya seolah bersumber dari air sungai yang mengalir ini!” Tanya Jaya dalam hatinya. Sekonyong-konyong si manusia ikan itu menerjang Jaya dengan kecepatan yang luar biasa, ujung tombak Kerisnya menderu memancarkan cahaya biru jernih ke arah jantung Jaya! 

Jaya segera melengoskan tubuhnya ke samping, balas mengirimkan satu tendangan, Juana Suta melompat keatas, balas menusukan tombaknya ke bawah ke arah perut Jaya, Jaya pun berjumpalitan melompat mundur. “Bersiaplah untuk minggat ke neraka!” teriak Juana Suta. 

Serentak dengan itu menyerbulah dia ke muka. Seluruh bagian tenaga dalamnya telah mengalir ke dalam tombak dan serangannya kini luar biasa ganasnya! Jaya begitu merasakan tekanan serangan yang hebat luar biasa segera percepat gerakannya. Namun ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat tinggi itu masih sangat terasa lamban ditindih oleh sinar pukulan Angin Biru yang ke luar dari tombak lawan.

“Breet”! Tersirap darah Pendekar Dari Lembah Akhirat. Nyawanya serasa lepas! Ujung tombak lawan telah merobek pakaiannya di bagian dada. Angin tombak membuat tulang-tulang dadanya seperti melesak dan menggores kulitnya hingga berdarah-darah! Pendekar ini berteriak nyaring dan jungkir balik ke belakang ke luar dari kalangan pertempuran! 

Ketika lawan menyerang kembali Pendekar Dari Lembah Akhirat sambut dengan jurus “Menjejak Bumi Menggapai Langit”. Untuk beberapa ketika lamanya serangan tombak Juana Suta terbendung oleh serangan beruntun Jaya yang mengincar bagian bawah serta bagian atas tubuh Juana Suta, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Jaya Laksana untuk melompat ke udara, menukik kembali dan lancarkan pukulan “Badai Mendorong Bukit”. Juana Suta segera mengibaskan tombak birunya disertai tenaga dalamnya, angin disertai sinar biru pun menderu memapasi badai prahara pukulan Jaya! Blaaarrr!!! Dentuman yang dahsyat terdengar menggetarkan tempat itu.  

Jaya terpaksa turun ke pelataran batu karang kembali karena pukulannya kena disapu aliran angin biru tombak lawan. “Ilmu manusia ikan ini lebih tinggi dari si manusia akar kemarin! Tenaga dalamnya juga hebat sekali!” Pemuda ini merutuk sendiri dalam hatinya. 

Dalam merutuk itu tongkat lawan menyapu di atas kepalanya. Jaya lompat ke samping. Tombak menghantam batu kali sampai hancur berantakan! Seketika itu kaki si manusia ikan menderu, buk! Jaya mengeluh ketika perutnya kena tendangan si manusia ikan, belum sempat ia bernafas, satu pukulan lagi bersarang di rahangnya! Darah segar pun mengalir keluar dari mulutnya menyertai batuknya.

Dengan kepala pusing dan perut mual serta sakit, Jaya kerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melompati Juana Suta kebelakang si manusia ikan itu. Ketika Juana Suta balikkan tubuh siap untuk menyerang kembali, langkahnya tertahan. Kedua matanya yang merah memandang tak berkedip pada cincin yang melingkar di jari Jaya, batu di cincin tersebut mengeluarkan cahaya biru tua yang sangat terang! “Cincin mustika Kalimasada! Rupanya si tua Bangka Kyai Supit Pramana memberikannya pada pemuda ini?! Aku harus hati-hati!” desis Juana Suta dalam hatinya, bergidik juga ia melihat cahaya biru tua yang sangat terang dari cincin tersebut.

Juana Suta mengacungkan tombak birunya keatas tinggi-tinggi, mulutnya komat-kamit seperti sedang membaca mantera, lalu meledaklah teriakannya, “Wahai air di sungai Citarum, engkau adalah sumber kehidupan sekaligus sumber kematian bagi setiap mahluk yang berada di atas permukaanmu, aku Juana Suta memintamu untuk menghanyutkan pemuda di hadapanku ini!” Juana Suta lalu memutar-mutarkan tombaknya mengeluarkan ajian pamungkasnya yakni ajian “Sungai Petaka Pembawa Kematian!”

Tiba-tiba aliran sungai Citarum di pinggir mereka yang asalnya tenang menjadi bergejolak dahsyat! Airnya meluap dan terjadilah suatu pemandangan yang sulit dipercaya, timbulah tsunami dari sungai Citarum yang menerjang Jaya! Pendekar muda yang kini diberi julukan Pendekar Dari Lembah Akhirat oleh orang-orang disekitar bagian tengah tanah Pasundan ini segera kerahkan ajian “Tujuh Langkah Malaikat” untuk menghindari gempuran-gempuran tsunami tersebut! 

Dengan langkah yang cepat yang membuat tubuh Jaya seolah diterbangkan angin pemuda ini melesat kian kemari menghindari serangan tsunami-tsunami yang ganas tersebut, tiba-tiba slearik sinar biru disertai angin berwarna biru menderu bersarang telak didadanya! Duasshhh!!! “Akhhhkkk!” Keluh Jaya sambil jatuh terguling-guling dan muntah darah, pukulan jarak jauh Juana Suta itu membuat nafasnya sesak dan membuat ia terluka dalam cukup parah!