Episode 31 - Pendekar dari Lembah Akhirat (1)


Jaya meraik nafas lega, ia juga melihat ke arah Galuh, gadis cantik berkulit hitam manis ini telah berhasil membekuk ketiga anak buah Surablabak, ia lalu menoleh pada Permani, gadis belia ini meloncat turun dari kudanya, ia lalu meumungut golok Surablabak yang tergeletak di tanah, dengan penuh dendam gadis ini langsung hendak menancapkan golok itu ke perut Surablabak! Untunglah Jaya segera menahannya. “Tahan nona! Jangan kau lakukan itu!”

Permani meronta sekuat tenaganya, “Diam! Jangan halangi aku! Dia telah membunuh ayahku!”

“Aku tahu nona! Tapi kalau kau membunuhnya kau akan sama saja dengan dirinya! Kau tidak ada bedanya dengan begal ini nona! Lagipula aku yakin, ayahmu tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh!” ucap Jaya, “Nona dengarlah! Akan jauh lebih baik kalau kita serahkan ia pada pihak yang berwenang daripada kamu mengotori tanganmu dengan darah kotor para begal ini! Nona kita serahkan ia pada hukum manusia bukan hukum binatang!” lanjut Jaya.

Jatuh lemaslah Permani mendengar ucapan Jaya tersebut, Galuh pun segera menghampiri mereka, “Nah Nona, ke manakah tujuanmu?” Tanya Jaya. 

“Kami hendak pulang ke Desa Citatah!” jawab Permani.

“Kebetulan kita searah, nah biar kami yang akan mengantar Nona sampai ke tujuan, kita juga harus mengantarkan jenasah ayah Nona dan membawa mereka yang terluka ke Citatah, para begal itu kita bawa sekalian untuk diserahkan pada prajurit kerajaan sesampainya di desa Citatah” ujar Jaya.

Jaya dan Galuh pun membantu mereka yang terluka untuk duduk diatas kereta kuda, Jaya menotok mereka di tempat-tempat pendarahan yang terluka parah dan membalutnya dengan kain seadanya, sedangkan para begal yang kaku tertotok itu dimasukan ke dalam kereta, Jaya pun yang mengemudikan kereta kuda itu sementara Galuh dan Permani menunggangi kuda yang masih ada di sana. Saat itu hari telah siang hampir dzuhur, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke desa Citatah. Galuh pun yang sesama wanita dan memiliki nasib yang hampir sama dengan Permani terus membesarkan hati gadis itu, Permani yang walau matanya masih terus sembab dapat sedikit terhibur juga dengan obrolan serta tingkah konyol Galuh yang agak-agak aneh itu.

Untuk menuju sampai ke desa Citatah, mereka harus melalui sebuah hutan, karena di daerah sana yang menjadi momok adalah kelompok Begal Jubah Hitam yang sudah diringkus oleh Jaya mereka pun jadi agak tenang melewati hutan ini, mereka berusaha bergerak secepatnya agar sudah keluar dari hutan itu sebelum senjahari agar bisa sampai di desa Citatah sebelum malam.

Hutan tersebut memang cukup lebat tapi bukan hutan belantara yang luas, luasnya hanya beberapa ratus meter saja dan terdapat jalan setapak yang akan membawa mereka sampai keluar hutan, tapi yang aneh mereka seolah hanya berputar-putar didalam hutan. Jaya merasa sangat yakin bahwa mereka sudah melewati pertengahan hutan itu berkali-kali, penasaran, ia pun menancapkan sebilah golok di sebuah pohon sebagai tanda, dan benar saja, setelah mereka berjalan beberapa tumbak mereka kembali lagi dimana Jaya mencapkan golok tersebut, padahal mereka hanya berjalan mengambil jalan lurus tidak berbelok-belok sekalipun!

Jaya pun memberi isyarat untuk berhenti, ia memandang kesekelilingnya, “Aneh... Ada apa ini?” tanyanya. 

Galuh dan Permani pun memandang berkeliling, “Heran, biasanya tidak ada apa-apa yang aneh di hutan ini, hutan ini tidak terlalu lebat dan punya jalan setapak untuk dilewati untuk keluar dari hutan ini, hutan ini juga sudah sering dilewati manusia sebab merupakan jalan utama penghubung Kademangan Padalarang dengan Citatah... Aku sendiri sudah sangat sering lewat kesini tapi tidak pernah terjadi apa-apa!” jelas Permani.

Jaya memusatkan pikirannya, ia lalu menggukanan Ajian “Membuka Mata Sukma” untuk melihat keanehan ini, ternyata benar saja ada keanehan yang meliputi mereka! Secara ajaib dan sukar dipercaya, pohon-pohon yang berada di tengah hutan itu seolah bergerak-gerak dan mengikuti ke manapun rombongan Jaya melangkah! Pohon-pohon itu seolah terus bergeser hingga membuat rombongan Jaya tidak bisa keluar dari hutan tersebut, “Aneh, tadinya aku kira ada yang mempermainkan atau membalikan mata kita yang membuat kita tersesat disini, tapi rupanya pohon-pohon ini terus bergerak mengikuti kita dan menggiring kita agar terus sampai ke pertengahan hutan ini! Ucap Jaya.

“Apa?! Kenapa pohon-pohon ini bisa bergerak mengikuti kita?” tanya Galuh keheranan.

Saat itulah terdengarlah gelak tawa yang menggema diseluruh hutan, satu lagi keanehan yang sukar dipercaya terjadi, pohon-pohon raksasa itu bergerak seperti manusia, mereka mempunyai mata dan tangan seperti manusia! “Ya Gusti Allah apa ini?!” pekik Permani.

Jaya dan Galuh pun tak kalah kagetnya, “Manusia-manusia pohon! Ini bukan mahluk aneh, tapi manusia-manusia sesat yang mempunyai ilmu hitam dan bersekutu dengan Jin yang sengaja mencegat kita!” ujar Jaya sambil bersiap-siap.

Pohon-pohon itu langsung menyergap Jaya, Galuh, dan Permani, Jaya segera melancarkan pukulan jarak jauhnya, sepuluh rangkum angin dahsyat menderu menyerang pohon-pohon aneh ini! Blarr! Blarr! Blarr! Angin pukulan Jaya telak mengenai semua pohon itu, tapi pukulan tenaga dalam Jaya yang dahsyat itu hanya sanggup mendorong mereka kebelakang beberapa langkah saja! Penuh penasaran Jaya langsung mengirimkan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan jarak dekatnya dalam jurus “Menjejak Bumi Menggapai Langit”, tapi pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan Jaya tersebut membal bagaikan menyentuh karet yang sangat kenyal! “Pohon-pohon karet!” seru Jaya.

Sepuluh pohon-pohon raksasa itu terus mengelilingi dan mengepung Jaya, Galuh, serta Permani, penuh penasaran, Jaya dan Galuh pun terus menghantam pohon-pohon itu dengan pukulan-pukulan dan Tendangan-tendangan bertenaga dalam tinggi, tapi serangan-serangan mereka sungguh percuma sebab tubuh kesepuluh pohon raksasa itu seperti terbuat dari karet yang membuat semua serangan Jaya dan Galuh membal seperti karet!

Permani ketakutan setengah mati melihat serangan-serangan Jaya dan Galuh pada pohon-pohon raksasa itu tak berhasil, gadis itu terus melangkah mundur dengan tubuh bermandikan keringat dingin. Tahu-tahu sebuah pohon raksasa sudah berada dibelakangnya, pohon itu merangkul dan mengikat Permani dengan dahan-dahan serta oyot-oyotnya! Gadis ini pun menjerit-jerit ketakutan memanggil Jaya dan Galuh “Jaya! Galuh! Tolongggg!!!”

Jaya dan Galuh terkejut melihat satu pohon raksasa itu telah menangkap Permani, “Permani!” seru Jaya, ia lalu teringat ada beberapa bilah golok di kereta Juragan Surya, “Galuh, ayo kita ambil golok di kereta Juragan Surya! Kita tebas mereka!”

Galuh mengangguk, mereka berdua langsung melompat ke kereta dan mengambil dua bilah golok, mereka langsung melompat lagi menerjang pohon raksasa yang melilit tubuh Permani, Jaya dan Galuh pun mengayunkan golok mereka! Crash! Crash! Crash! Dengan tenaga dalam penuh mereka berhasil memotong dahan-dahan dan oyot-oyot yang melilit tubuh Permani, tapi alangkah kagetnya mereka ketika melihat dahan-dahan serta oyot-oyot itu langsung tumbuh lagi seperti sedia kala!

Dengan penuh rasa penasaran, mereka pun terus menebas pohon-pohon raksasa itu dengan golok mereka berdua, tapi serangan itu sungguh percuma sebab dahan-dahan serta batang pohon yang mereka tebas dapat langsung tumbuh kembali dengan sangat cepat! “Celaka! Bagaimana ini Jaya?!” keluh Galuh.

Jaya tidak dapat menjawabnya, ia hanya menatap nanar pada kesepuluh pohon raksasa itu, “Bagaimana kalau kita coba bakar mereka?” Tanya Galuh.

“Ya sebaiknya kita coba saja!” sahut Jaya, Galuh langsung mengeluarkan pukulan “Telapak Kawah Tunggul” dan Jaya mengeluarkan pukulan “Sirna Raga”, kedua pukulan hawa panas berinti api itu menderu menerjang kesepuluh pohon raksasa tersebut, kesepuluh pohon raksasa itu langsung dilahap api hebat, tapi ajaibnya api yang membakar tubuh mereka langsung padam oleh air yang dihisap dari dalam tanah oleh akar-akar mereka!

“Celaka Jaya! Bagaimana ini?! Mereka tidak mempan dibakar oleh pukulan sakti kita yang terhebat!” keluh Galuh.

“Iya, kalau begini terus kita bisa kehabisan tenaga!” Jaya pun berpikir keras lalu terlintaslah satu ide “Galuh Ayo keluarkan Ajian Hitut Semarmu!”

Karuan saja wajah gadis hitam manis ini memerah, “Disaat seperti ini jangan mengolok-olokku Jaya! Jangan mengejekku!” semprotnya marah, ia merasa malu karena ajian ini harus keluar dari bagian “rahasia” perempuan.

“Siapa yang mengolok dan mengejekmu?! Galuh, kita coba serang mereka dengan pukulan beracun! Ayo cepat keluarkan Ajian Hitut Semarmu itu!” balas Jaya tak kalah sengitnya.

“Oh begitu! Bilang dari tadi kenapa?!” sahut Galu dengan wajah cemberut.

“Permani menjauhlah! Tutup hidung dan matamu rapat-rapat! Tahan nafasmu sekuatnya!” seru Galuh pada Permani.

Permani pun menjauh dan melakukan apa yang Galuh minta. Galuh langsung memusatkan pikiran dan tenaga dalamnya didorong keluar lewat bagian belakang tubuhnya, Pssstttt!!! Gas serta asap belerang berwarna putih yang sangat beracun menderu bertiup kearah pohon-pohon raksasa itu bagaikan badai yang dahsyat sebab dilakukan oleh Galuh dengan tenaga dalam penuh! Gas dan asap itu mengerubungi pohon-pohon raksasa itu, kemudian pohon-pohon raksasa itu pun bertumbangan dan berubah menjadi sepuluh tubuh manusia! Sepuluh manusia itu tewas seketika dengan wajah membiru sebab keracunan oleh belerang dari Ajian Hitut Semar Galuh warisan si Dewa Pengemis itu!

Jaya, Galuh, dan Permani terkejut bukan main melihat pohon-pohon raksasa itu berubah menjadi manusia, mereka juga menarik nafas lega melihat kesepuluh manusia yang mempunyai ilmu hitam itu tumbang semuanya! “Huff... Syukurlah kita bisa menumbangkan mereka semua!” ucap Galuh sambil menyeka keringat yang berucuran di keningnya.

“Iya, kini aku harus mengakui bahwa Ajian Hitut Semar si Dewi Pengemis yang keluar dari lobang anginnya itu sungguh dahsyat!” sahut Jaya.

Galuh langsung marah mendengar ucapan Jaya tersebut, gadis ini langsung mecakar dan mencubit tangan Jaya. “Kamu mau mengejekku lagi hah?! Kamu mau bilang kalau kentutku bau, saking baunya bisa merobohkan manusia-manusia berilmu ghaib ini?!” semprotnya dengan marah sekali bercampur malu.

“Hei! Aduh! Lepaskan! Aku berniat memujimu! Kalau tidak ada Ajian Hitut Semar itu kita mungkin sudah celaka Galuh!” jawab Jaya sambil meringis kesakitan. 

Permani terdiam melihat apa yang sedang dilakukan oleh Jaya dan Galuh, entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman dan panas melihat “keakraban” Jaya dengan Galuh tersebut, sejujurnya meskipun ia sedang dirundung duka, hatinya merasa terpikat oleh keelokan paras Jaya yang kulitnya lebih putih dari rata-rata pria di Pasundan ini, memang kulit Jaya yang langsat ini lebih mirip orang-orang dari negeri Tiongkok daripada orang-orang di tanah Pasundan.

Sekonyong-konyong angin ribut bertiup disekitar mereka, terdengarlah suara tawa membahana yang bergema ke seluruh pelosok hutan itu. “Hahaha... Sungguh luar biasa! Kalian bisa mengalahkan murid-muridku!”

Mereka bertiga pun langsung celingukan melihat kesekeliling mereka, nampaklah sesuatu yang sangat ganjil diatas sebuah pohon raksasa, seseorang berambut gondrong awut-awutan ditumbuhi dedaunan yang seluruh tubuhnya dililit oleh berbagai macam akar pohon, wajah dan bola matanya berwarna hijau seperti daun. Galuh dan Permani kaget setengah mati melihat manusia aneh ini, Permani menjerit ketakutan lalu bersembunyi di balik keretanya, “Mahluk apalagi ini? Astagfirullah! Kenapa banyak mahluk aneh di hutan ini?!” keluh Galuh.

“Manusia apapula ini? Ia pasti berilmu tinggi karena tidak terpengaruh oleh Ajian Hitut Semarnya Galuh! Siapakah dia?” pikir Jaya.

TIba-tiba manusia akar ini melompat turun kehadapan Jaya dan Galuh, kedua pendekar muda ini pun langsung bersiap-siap! Begitu menjejakan kakinya di tanah, manusia akar ini langsung tertawa menatap Jaya dan Galuh, “Hahaha... Hanya si Dewa Pengemis yang memiliki ajian Hitut Semar berupa gas belerang beracun itu!”

Galuh tertawa mendengarnya, “Hehehe... Pengetahuanmu cukup luas sobat! Aku memang murid si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul, aku Galuh Parwati si Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul!” ucap Galuh dengan jumawa, “Nah sekarang kau sudah mengetahui siapa aku, tolonglah menyingkir sobat, beri kami jalan!” lanjutnya.

Si Manusia akar menyeringai sinis, “Begitu? Hehehe... Tapi urusanku bukan denganmu gadis bau! Urusanku dengan pemuda berambut gondrong itu! Jadi maaf aku justru hendak menutup jalan dan mengakhiri hidup kalian!”

Galuh melotot mendengarnya, ternyata gertakannya tidak berhasil “Apa?! Ada urusan apa kau dengan sahabatku ini?! Dan Kenapa Aku dibawa-bawa segala kalau tidak ada urusannya?!” tanyanya.

Jaya pun yang sedari tadi diam, tertawa sambil bersidekap menatap manusia akar ini. “Hehehe... Kita belum saling mengenal Ki Dulur, dan juga tidak ada dendam diatara kita, tetapi mengapa kau inginkan nyawaku hah?”

“Guru sekaligus junjunganku, Eyang Topeng Setan memberi perintah untuk menumpas manusia-manusia kau!” tegas si Manusia Akar.

Jaya terkejut mendengarnya, “Topeng Setan? Menurut cerita guru dia adalah seorang pertapa sesat dari Gunung Patuha? Apa urusannya denganku?” Pikir Jaya dalam hatinya, “Topeng Setan? Siapa dia? Aku belum pernah berurusan dengannya” Tanya Jaya pada si manusia Akar.

“Kau tidak perlu tahu, yang pasti kalian harus mati ditanganku, Lana Belong si manusia akar!” tukas Manusia Akar yang mengaku bernama Lana Belong itu.

Jaya nyengir, “Eehhh... Aku belum ingin mati!” dia langsung memasang kuda-kudanya.

“Kalau begitu bersiaplah untuk mati!” pungkas Lana Belong yang langsung menyerang Jaya dengan pukulan beruntunnya, Jaya melengoskan tubuhnya ke samping, balas mengirmkan satu tendangan, si Manusia Akar menahannya dengan tangan kirinya lalu balas membabatkan kakinya ke arah kepala Jaya, Jaya melompat menjauh mundur ke belakang.

Saat itu mulut Lana Belong berkomat-kamit, dari akar-akar yang menempel di tubuhnya terbentuklah satu tongkat kayu berwarna hijau tanda tongkat itu mengandung racun yang sangat ganas! Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan selarik sinar hijau melanda Jaya Laksana. Pemuda ini legoskan diri ke samping dengan cepat. Tapi dari samping menderu tangan kanan Lana Belong! 

Jaya membentak keras, ia jatuhkan diri berjongkok pemuda ini hantamkan tangannya ke muka lancarkan pukulan “Wesi Waja”, satu angin deras bagaikan sebuah gundukan baja yang tebal dan berat menderu, tapi tongkat hijau Lana Belong sungguh hebat, pukulan Wesi Waja yang dilancarkan Jaya dengan sepertiga tenaga dalamnya yang juga merupakan salah satu pukulan andalan Padepokan Sirna Raga, dapat ditepis dari angin dari tongkat hijaunya, kedua angin pukulan itu mental menghantam sebuah pohon jati yang sudah tua, Blaarrr! Pohon itu langsung rubuh!

“Sekarang rasakan ini! Ajian Badai Sapu Jagat!” seru Lana Belong, dia memutar-mutarkan tongkatnya, tiba-tiba badai yang amat dahsyat bertiup seolah hendak menyapu hutan itu, Permani menjerit keras seraya memegang erat-erat kereta kudanya yang juga hampir terbang tertiiup badai, Galuh segera kerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan.

Jaya mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tangannya lalu berputar seolah menyibakan badai itu, “Manusia Akar, aku kembalikan angin badaimu hiyaaahhhh!” bentaknya. Jaya kerahkan seluruh tenaga dalamnya dalam Ajian Pukulan “Selaksa Badai”, seluruh angin badai yang ditimbulkan oleh tongkat Lana Belong seolah berkumpul di tangan Jaya lalu berbalik menyerang Lana Belong! Badai Topan Prahara menderu dahsyat menerjang Lana Belong! 

DUAAARRRR!!! Ledakan dahsyat pun terjadi, tapi sungguh sulit dipercaya dengan mata dan kepala, Lana belong si manusia akar itu masih berdiri di tempatnya tanpa cidera apa-apa! Dia malah tertawa-tawa, Jaya sangat terkejut melihatnya! “Celaka! Nampaknya tubuh manusia iblis ini sama dengan manusia-manusia pohon tadi yang kenyal bagaikan karet, pukulan-pukulan tenaga dalam biasa tidak akan mempan padanya!” gumam Jaya.

“Hahaha... Kenapa?! Terkejut karena seranganmu tak mempan padaku?! Baiklah sekarang rasakanlah ini!” tandas Lana Belong.

Satu lagi ilmu aneh dari Manusia Akar ini, tiba-tiba dahan-dahan serta oyot-oyot yang ada di pohon-pohon disekitar Jaya menyerang Jaya! Puluhan dahan-dahan serta oyot-oyot pohon itu terus menyerang Jaya secara beruntun hingga pemuda ini kelabakan menangkis dan menghindarinya, pada saat itulah Lana Belong menyerang Jaya dengan pukulan dan tendangan beruntun, Jaya pun semakin kelabakan hingga Lana Belong berhasil menyarangkan empat pukulan beruntun di dada Jaya!

Pemuda ini langsung jatuh tersungkur! Ketika bangun dirasanya ada cairan kental asin mengalir dari sela-sela bibirnya, dadanya yang terkena pukulan Lana Belong nampak membiru, nafasnya terasa sangat sesak! “Jahanam! Iblis keparat!” maki sang pendekar.

Lana Belong tertawa terbahak-bahak, “Hahaha! Jangan harap kau bisa tiba di Rajamandala! Hutan inilah tanah kuburan bagi kalian!”

Jaya balas tersenyum kecut “Hehehe... Jangan berbangga dulu! Aku bersedia mati kalau memang Allah yang menghendakinya, tapi kalau kau yang menghendaki, aku berpantang untuk mati ditanganmu!"

“Kalau begitu ayo keluarkan seluruh kemampuanmu!” tantang si Manusia Akar.

Jaya jadi benar-benar penasaran pada lawannya yang tangguh ini, saat itu teringatlah ia pada pesan Kyai Supit Pramana tentang cincin mustika Kalimasada yang melingkar di jari manisnya, cincin itu dapat membantunya untuk melawan musuh-musuhnya yang mempunyai ilmu hitam atau yang bersekutu dengan Jin, atau musuhnya yang berupa mahluk ghaib, saat itulah tiba-tiba cincin itu memancarkan cahaya biru tua yang sangat terang! “Mustika ini hanya alat bantu, diriku hanyalah lantaran, semuanya atas kehendak Gusti Allah!” ucap Jaya dalam hatinya.

Di lain pihak Lana Belong terkejut melihat cahaya yang dipancarkan cincin itu “Cincin apa itu?! Celaka! Aku harus merebut cincin itu!” pikir Lana Belong, ia pun langsung menerjang Jaya! 

Jaya pun langsung menyambutnya dengan jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk” yang ia dapatkan dari Kyai Supit Pramana, ia mengamuk dengan hebatnya! Dari setiap gerakannya menderu badai yang amat dahsyat hingga merobohkan beberapa pohon didekatnya, daun-daun berguguran, dahan-dahan pun berpelantingan! Satu tendangan telak membuat tubuh Lana Belong terpental melayang ke udara, Jaya segera melompat ke udara dan mengirimkan tujuh pukulan serta enam tendangan beruntun menggunakan seluruh tenaga dalamnya! Desh! Desh! Desh! Gedebruk! Tubuh si Manusia Akar pun roboh jatuh ke bumi! Ia sempat bangun dan muntah darah segar, setelah itu tubuhnya ambruk lagi, tak berkutik untuk selama-lamanya! Keanehan kembali terjadi, tubuh si manusia akar itu kembali menjadi tubuh manusia biasa, warna kulit wajah serta matanya kembali menjadi seperti manusia biasa!

Jaya menarik nafas lega sambil mengurut dan menyalurkan ke dadanya yang sesak akibat terkena pukulan Lana Belong tadi, Galuh dan Permani pun berlari menghampiri Jaya “Jaya kau tidak apa-apa?” Tanya Galuh.

Jaya menggeleng sambil tersenyum, “Aku tidak apa-apa, kau tenang saja ya hehehe” jawabnya, entah mengapa saat itu ia merasa sangat senang melihat Galuh khawatir padanya dan mendapatkan perhatian dari gadis “Mantan Musuhnya” ini.

“Mereka itu sebetulnya siapa? Mengapa mereka menganggu perjalanan kita?” Tanya Permani.

“Entahlah, dia mengatakan bahwa mereka semua adalah murid-muridnya si Topeng Setan, tapi aku tidak punya urusan dengan si Topeng Setan atau setidaknya belum berurusan dengannya!” jawab Jaya.

“Lalu mereka itu apa? Kenapa bisa berubah menjadi pohon dan manusia akar seperti itu?” Tanya Permani lagi.

“Mereka adalah orang-orang sesat yang menganut ilmu hitam serta bersekutu dengan Jin! Ah sudahlah sebaiknya kita lanjutkan perjalanan agar dapat sampai ke Citatah sebelum malam tiba!” pungkas Jaya.

Mereka pun melanjutkan perjalannya, meninggalkan hutan itu. Menjelang malam, mereka telah sampai di kediaman Juragan Surya, Jaya dan Galuh pun menyerahkan para perampok Jubah Hitam yang masih dalam keadaan tertotok itu pada Ki Demang Citatah untuk selanjutnya diserahkan pada pihak kerajaan. 

Esok harinya setelah menguburkan jenasah Juragan Surya dengan layak, Jaya dan Galuh pun langsung berpamitan pada Permani untuk melanjutkan perjalan mereka, dengan berat hati Permani pun melepaskan kepergian Jaya. Terasa sangat pedih bagi hatinya mendapati kepergian Jaya tersebut, air matanya terus mengalir seiring langkah demi langkah yang diambil Jaya. Ditatapnya terus kepergian Jaya dari batas Desa Citatah selangkah demi selangkah hingga menghilang di kejauhan.