Episode 16 - Enam Belas



Darra berbaring di karpet di ruangannya. Akhirnya ia bisa beristirahat setelah Aline membuatnya seharian bekerja. Perutnya melilit dan tubuhnya gemetar karena tidak makan sejak kemarin siang. Aline sedang marah dengannya karena meminta uang pada Papa dan menghukumnya dengan tidak mengijinkannya keluar ruangan. Aline baru akan membukakan pintu untuk Darra jika ia membutuhkan sesuatu. Dan karena ini hari Minggu, Aline membuat Darra membersihkan seluruh rumah tanpa memberinya makan. Bahkan saat Darra membuat sarapan dan makan siang, Aline mengawasinya untuk memastikan Darra tidak memakan makanannya walaupun sedikit. Karena lapar dan lelah, Darra jadi memperbanyak minum air putih. Untunglah pukul sembilan malam Aline pergi. Darra memutuskan untuk tidur dan tidak sempat belajar walaupun besok ia harus mengikuti ujian semester.

Namun ketika Darra terbangun keesokan paginya, ternyata pintu ruangannya masih terkunci. Darra mencoba mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil Aline, namun tidak ada jawaban. Darra mulai panik. Ia bahkan tidak tahu jam berapa sekarang karena ponselnya mati setelah Aline melemparnya dari balkon lantai dua. Darra tidak bisa keluar, ia tidak bisa menghubungi siapapun, dan tidak akan ada yang tahu kalau dia mati kelaparan di sini. Darra mulai terisak.

Kemudian Darra mendengar suara pintu terbuka, disusul suara batuk kakaknya. Darra langsung melompat bangun dan menggedor-gedor pintu ruangannya.

“Mas! Mas! Tolong bukain pintunya!” panggil Darra.

Sunyi. Darra merasa cemas. Apakah kakaknya juga akan mengabaikannya?

“Nggak ada kuncinya.” Akhirnya terdengar kakaknya menyahut dari luar.

“Sama Tante?”

“Mama belum pulang.”

Darra langsung berpikir cepat. “Oh, iya. Coba di kamar Tante, di atas meja rias,” kata Darra. Kemarin ia melihat Aline meletakkan kuncinya di situ saat Darra sedang membersihkan kamar mandi di kamarnya.

Terdengar suara langkah kaki menjauh. Darra berdoa dalam hati, semoga Aline tidak membawa kunci ruangannya. Ia kembali mendengarkan dengan seksama dan hampir menjerit karena mendengar suara shower dari sebelah kanannya. Kamar mandi persis di sebelah ruangannya, hanya terpisah oleh tangga. Jadi Darra bisa mendengar saat kakaknya mandi dan kembali ke kamarnya. Astaga, apakah kakaknya sengaja? Atau memang ia tidak bisa menemukan kuncinya?

Akhirnya Darra menyerah. Ia kembali berbaring di karpetnya sambil menekuk lututnya. Perutnya terasa perih dan ngilu hingga membuatnya mual. Padahal jika ia pergi sekolah, setidaknya ia bisa membeli makanan. Sekarang ia bahkan tidak bisa ikut ujian juga.

Darra merasa ia sudah hampir tertidur ketika kemudian mendengar suara kunci diputar dari luar, disusul suara langkah sepatu menuruni tangga. Jadi memang kakaknya menemukan kuncinya, tapi memilih untuk bersiap berangkat ke sekolah lebih dulu. Darra bangkit, lututnya gemetar ketika ia mencoba berdiri. Napasnya terasa sesak, dan ia bersandar ke tembok selama beberapa saat sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Darra harus bergegas agar tidak terlambat/

~***~

Agung memasuki ruangan kelasnya lalu melihat ke meja di belakangnya. Darra masih belum datang. Apa dia sedang bersama Rahmi di ruangan sebelah? Tadi Agung tidak melihatnya seperti biasa, dan ia menunggu cukup lama di terminal namun Darra tidak kunjung datang. Nomornya juga tidak bisa dihubungi. Karena tidak ingin terlambat ikut ujian, Agung terpaksa meninggalkannya dengan harapan gadis itu sudah berangkat lebih awal.

Namun hingga pengawas ujian masuk dan membagikan soal, Darra masih belum terlihat. Agung mulai cemas. Mungkinkah Darra sakit? Atau sesuatu terjadi padanya? Namun setelah ujian berlangsung selama sepuluh menit, Agung menghela napas lega begitu melihat Darra berlari memasuki ruangan. Gadis itu menyerahkan surat ijin masuk kepada pengawas dan mengambil soal dan lembar jawaban dan duduk di meja di belakang Agung. Ingin sekali Agung berbalik dan bertanya padanya, namun ia mengurungkan niatnya.

Darra duduk mengatur napasnya sebelum akhirnya mengeluarkan peralatan tulisnya. Tangannya yang gemetar menyulitkannya mengisi lembar jawaban. Ia juga tidak bisa berkonsentrasi pada ujian karena rasa sakit di perutnya. Ia baru mengerjakan sebagian dari soal-soal ujiannya ketika dadanya kembali terasa sesak. Jantungnya berdegup dengan keras. Darra melirik jam di dinding. Waktu tersisa dua puluh menit hingga ujian pertama berakhir, dan Darra belum menyelesaikan soalnya.

“Kakak nggak apa-apa?” bisik siswi kelas X yang duduk sebangku dengan Darra.

Darra hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak yakin. Keringat dingin mengalir, dan Darra sudah meletakkan pensilnya di atas meja. Ia menumpu kepalanya dengan kedua tangannya. Matanya berkunang-kunang dan telinganya berdengung. Ia tidak bisa mendengar sekelilingnya. Yang Darra tahu, beberapa saat kemudian adik kelasnya itu sudah meraih lengannya dan membantunya berdiri.

Darra tidak tahu ke mana ia akan dibawa pergi, namun ia mengikuti adik kelasnya itu. Darra hanya mendengar kata “istirahat”, dan ia merasa lega. Mereka berjalan menuju ruang kesehatan yang ada di seberang ruangan Darra, namun saat itu rasanya jauh sekali. Darra berjalan sambil berpegangan tembok sementara adik kelasnya itu memegangi lengan satunya.

Saat melewati salah satu ruang kelas, Darra melihat Abrar duduk di barisan paling depan di dekat pintu. Cowok itu menoleh ke arahnya lalu mengawasinya. Pasti ini ruang kelas XI Sos 5. Tiba-tiba pandangannya gelap dan Darra terjatuh tidak sadarkan diri.

~***~

“Kamu udah makan?” tanya Agung saat mengunjungi Darra di ruang kesehatan dengan semangkok bubur ayam di tangannya.

“Tadi aku udah makan roti,” jawab Darra yang masih terbaring lesu.

“Mukamu pucat banget,” sahut Rin. “Aku kaget pas tadi tahu-tahu Abrar lari dari mejanya. Ternyata kamu pingsan di luar.”

Darra mengerenyitkan dahi. “Jadi Abrar yang bawa aku ke sini?”

“Iya. Habis itu dia nggak balik lagi sampai jam istirahat,” jawab Rin.

Darra sama sekali tidak mengetahuinya. Saat ia bangun tadi, seorang petugas kesehatan memeriksanya dan memberitahunya bahwa ia terkena maag. Lalu petugas itu meminta siapapun yang mengantarnya tadi untuk membelikan roti untuk mengisi perutnya dan memberinya obat. Darra mengira itu adalah adik kelasnya yang mengantarnya tadi.

“Kamu kesiangan ya, sampai nggak sempat sarapan?” tanya Agung.

Darra hanya mengangguk. Tentu saja ia tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya yang membuatnya sampai digotong ke ruang kesehatan pada saat ujian seperti ini.

“Ya udah, dimakan dulu buburnya. Mumpung masih hangat,” kata Agung sambil menyodorkan bubur yang dibawanya.

Darra bangun dengan dibantu oleh Rin lalu duduk bersandar. “Makasih,” gumamnya. “Gimana ujian aku jadinya?”

“Nggak usah mikirin ujian dulu. Kan nanti bisa ujian susulan,” kata Agung.

Setelah itu Darra masih beristirahat di ruang kesehatan sampai jam pulang sekolah. Agung, Rin, dan Rahmi menjemputnya sambil membawakan tas sekolahnya. Rahmi mengajak mereka main ke rumahnya.

“Rumahnya nggak jauh, kok,” kata Rin saat Agung protes.

“Tapi kalo jalan kaki tetap jauh. Darra kan baru habis pingsan,” kata Agung.

“Gung,” sahut Darra akhirnya. “Aku nggak apa-apa, kok. Aku cuma sakit maag.”

Agung menghela napas. “Ya udah.”

Mereka keluar lewat gerbang samping. Seperti biasa, Darra melihat Dika sedang nongkrong di gerbang sekolah bersama teman-temannya. Mereka berhenti karena Rin ingin berpamitan sebentar dengan Emil. Darra berhenti di depan Dika, namun cowok itu asyik mengobrol dengan Fajri. Darra mengulurkan tangannya lalu mencolek bahu Abrar. Abrar yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya langsung mendongak.

“Makasih, ya,” kata Darra. Abrar hanya mengangguk lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

“Yuk, nanti keburu tambah panas,” ajak Maya tidak sabar.

“Hati-hati,” kata Agung sambil melambaikan tangan. “Kalo nggak kuat, jangan dipaksain, ya.”

Darra balas melambaikan tangan ke arah Agung lalu pergi bersama Rin, Rahmi, dan Maya. Setelah mereka pergi, Agung menyelinap di antara Dika dan Abrar.

“Gue suka sama Darra,” kata Agung pelan, sehingga hanya kedua sahabatnya itu yang bisa mendengarnya.

“Satu sekolah juga udah tahu,” sahut Abrar tanpa melepas pandangannya dari ponsel.

“Itu kan baru gosip. Gue juga sukanya belum selama itu kok,” balas Agung. “Awalnya gue senang nemenin dia karena anaknya diam, nggak rese. Tapi makin dekat, rasanya pengen ngejagain dia.”

Abrar terkikik.

“Mungkin dia kelihatannya jutek karena cemberut terus,” lanjut Agung, mengabaikan Abrar. “Tapi dia manis banget pas senyum. Elo udah pada pernah disenyumin belum?”

“Terus?” tanya Dika.

“Terus enaknya gimana, ya?” Agung balik tanya. “Kalo gue nembak dia, gimana? Gue sih nggak mikirin dia nerima gue atau nggak. Gue cuma takut kalo dia jadi nggak nyaman, terus gue malah dijauhin. Tapi kalo gue nggak nembak, dia nggak akan tahu kalo gue emang beneran suka. Gimana, dong?”

“Pacarin aja,” jawab Abrar. “Elo kan nggak punya teman cewek rese kayak Vina.”

~***~

“Maaf ya, kamarnya kecil,” kata Rahmi sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar lalu membuka jendela dan menyalakan kipas angin agar tidak pengap.

Bagi Darra, kamar Rahmi cukup nyaman. Walau hanya ada satu kasur yang digelar di lantai dan satu lemari pakaian, tapi masih lebih baik dibandingkan Darra yang selama ini terkurung di dalam gudang yang dingin. Darra duduk di lantai lalu meletakkan tasnya di sebelahnya.

“Jangan duduk di lantai! Dingin!” ujar Rahmi cepat. “Duduk di kasur aja, istirahat. Kamu kan lagi nggak enak badan.”

“Nggak apa-apa, kok,” balas Darra.

Setelah berganti pakaian, Rahmi membawakan jus dan camilan. Tak lama kemudian Maya yang rumahnya tidak jauh dari rumah Rahmi, datang setelah berganti pakaian. Ia membawakan rujak.

“Ngomong-ngomong, tadi kamu sakit apa?” tanya Maya pada Darra.

“Cuma sakit maag,” jawab Darra.

“Sakit maag kok sampai pingsan?” tanya Maya lagi.

“Iya. Kata Agung, tadi pagi kamu datang terlambat. Terus mukamu emang kelihatan pucat,” sahut Rahmi.

“Kayaknya kamu nggak pernah cerita apa-apa,” tambah Rin. “Sama Agung juga nggak pernah, kan? Dia malah sering nanya-nanya ke aku. Padahal kalo dipikir-pikir, kan dia yang lebih dekat. Tapi katanya kamu juga nggak mau ngasih tahu rumah kamu ke Agung.”

“Aku cuma nggak mau dia tahu-tahu main ke rumah aku,” kata Darra.

“Kenapa?” tanya Rin.

“Tanteku galak,” jawab Darra.

“Emang tante kamu tuh adiknya siapa? Dari papa kamu atau mama kamu?” tanya Rin lagi.

Darra memandang Rin sesaat, menimbang-nimbang untuk menceritakannya atau tidak. “Dia... istrinya papaku.”

Teman-temannya mengerenyitkan dahi.

“Ibu tiri?” tanya Maya bingung.

Darra mengangkat bahu. “Waktu papa sama mamaku nikah, papaku nikah sama perempuan lain juga.”

Rin, Rahmi, dan Maya terperangah. Mereka berpandangan, ragu untuk menanyakan lebih jauh. Namun Darra memutuskan untuk menceritakan semuanya pada mereka. Ia lega karena akhirnya memiliki teman untuk berbagi.

“Agung nggak tahu?” tanya Maya. Darra menggeleng. “Kenapa?”

“Agung terlalu protektif,” jawab Rin menggantikan Darra. “Nggak salah sih, kalo Agung tahu. Tapi kalo dilihat dari sifatnya, udah langsung ketahuan deh reaksinya.”

“Aku nggak mau dikasihani,” kata Darra. Ia teringat reaksi ibunya Agung saat mereka pertama kali bertemu. Namun Darra memutuskan untuk menyimpan cerita itu sendiri.

“Kalo kurasa, Agung bukannya kasihan sama kamu,” kata Rahmi. “Tapi dia peduli. Kamu tahu nggak, kalo Agung suka sama kamu?”

“Satu sekolah udah tahu, Mi,” sahut Rin sambil tertawa.

“Kalo Agung nembak kamu, gimana? Kamu mau pacaran sama dia?” tanya Maya. Darra hanya mengangkat bahunya. Ia masih menepati janjinya pada Dika untuk tidak menceritakan tentang hubungan mereka.

Mereka baru pulang dari rumah Rahmi pukul tiga sore. Sebelum pulang, Rahmi membungkus roti dengan bermacam-macam rasa untuk Darra. Keluarga Rahmi memang menjual roti hasil buatan sendiri. Darra senang mencium wangi roti yang baru dibuat saat turun dari kamar Rahmi.

“Ini, untuk persediaan kamu kalo kamu masih belum boleh makan sama tante kamu,” bisik Rahmi sambil menjejalkan bungkusan berisi roti pada Darra.

“Makasih,” balas Darra. Ia pulang bersama Rin dengan berjalan kaki. Jaraknya sama saja seperti dari sekolah.

“Kamu yakin nggak mau kuantar sampai rumah?” tanya Rin begitu mereka tiba di dekat area perumahan Rin.

“Nggak, lah. Aku bisa sendiri, kok,” jawab Darra.

“Ya udah. Sampai besok, ya!” kata Rin sambil melambaikan tangan. “Jangan pingsan di jalan!”

Darra balas melambaikan tangan lalu meneruskan perjalanannya. Ia memang sedikit lelah dan wajahnya terasa panas walaupun keringat dingin membanjirinya. Namun Darra merasa lebih baik daripada tadi pagi. Ia hanya perlu beristirahat sebentar sebelum melakukan pekerjaannya lagi di rumah.

“An!”

Langkah Darra terhenti. Ia berbalik dan terkejut melihat Dika berdiri di shelter di taman. Yang membuatnya lebih terkejut, Dika masih mengenakan seragamnya.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Darra saat Dika menghampirinya.

“Nunggu kamu,” jawab Dika.

“Umm... tapi kan kamu tahu kalo aku ke rumah Rahmi?”

“Iya, tapi aku nggak tahu kamu pulang jam berapa. Aku nggak bisa hubungin kamu dari hari Sabtu. Jadi aku tunggu di sini aja.”

“HP-ku rusak,” jawab Darra sambil menunduk.

“Kamu udah mendingan? Kayaknya kamu masih pucat.” Dika melepas jaket hitam yang selalu dipakainya lalu memakaikannya pada Darra. “Kamu mau aku antar sampai rumah?”

“Nggak. Nggak usah,” tolak Darra gugup.

“Kalo kamu masih ngerasa nggak enak badan, besok pagi aku jemput.”

“Nggak apa-apa. Aku udah mendingan, kok.”

“Ya udah. Kalau udah sampai rumah langsung istirahat, ya.”

Darra mengangguk. Kemudian ia mendongak ke arah Dika. “Jadi kamu nungguin aku mau ngapain?”

“Cuma nungguin aja,” jawab Dika. “Nggak apa-apa, kan? Kamu lagi sakit, tadi aku nggak sempat nemuin kamu.”

Darra kembali mengangguk. “Aku udah mendingan,” gumamnya. “Kalo nggak ada apa-apa, kamu pulang aja.”

Dika tersenyum. “Iya, gampang. Kamu duluan aja,” katanya sambil mengusap kepala Darra dengan lembut.

Wajah Darra memerah. Ia langsung berbalik tanpa mengucapkan apa-apa pada Dika. Ia bahkan meneruskan langkahnya tanpa menoleh kembali ke arah cowok itu.

Maaf, Rin, ucap Darra dalam hati. Aku nggak bisa ngelepasin Dika.