Episode 240 - Di atas sebongkah batu besar


Sesosok tubuh melesat cepat membelah langit. Seluruh kemampuan Kasta Bumi: Tamtama dikerahkan sampai batas maksimal. Terpaan angin membuat rambut dan jubah yang ia kenakan bergerak bergelombang ibarat kain bendera yang berkibar perkasa. 

Raut wajah lelaki setengah baya itu demikian kusut, mencerminkan kegundahan hati. Balaputera Gara kemungkinan besar telah kembali ke Ibukota Minangga Tamwan, sedangkan dirinya tertahan di tempat dimana dirinya mengurung Balaputera Sukma. Sungguh ironis. 

Tetiba, Balaputera Tarukma, alias sang Datu Tua Kadatuan Kesatu berhenti melesat dan mendarat di atas sebuah bukit. Ia menoleh lalu menebar mata hati ke arah belakang. Jauh di belakang, seorang perempuan setengah baya mengejar cepat. Jauh di belakangnya lagi, seorang lelaki dewasa muda berupaya menyusul dengan segenap kemampuan melayang seorang ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 9. 

Balaputera Tarukma menyadari bahwa ia berada dalam keadaan sangat terjepit. Akan tetapi, keadaan tersebut bukanlah dikarenakan pertarungan berhadapan dengan Balaputera Sukma, maupun Balaputera Lintara. Ia khawatir, karena bila Balaputera Gara kembali ke Ibukota Minangga Tamwan, maka kejahatannya selama ini akan terbongkar, ibarat kata pepatah sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.

Satu-satunya kenyataan yang dapat sedikit meredam kegelisahan di hatinya adalah kenyataan bahwa Balaputera Gara hanyalah seorang bocah tanggung. Bilamana bocah tersebut membeberkan ceritera tentang kejahatan dirinya, maka tentunya tiada akan mudah dipercaya oleh segenap pihak. Balaputera Tarukma merupakan sosok yang terkenal berwibawa. Ia adalah mantan Pimpinan Perguruan Svarnadwipa yang jujur dan adil, lagi berwawasan luas. Kata-katanya seringkali menjadi panutan bagi banyak pihak. 

Terlebih lagi, dan ini adalah yang paling utama, Balaputera Gara tiada memiliki bukti dalam bentuk apa pun! 

Akan tetapi, benak lelaki setengah baya itu pun menyadari akan kemungkinan dimana Kadatuan Kesembilan dan beberapa Kadatuan lain yang akan menaruh kepercayaaan atas pengakuan Balaputera Gara. Apalagi, pasti ada saja pihak-pihak yang tiada menyukai dirinya, atau pihak-pihak yang berupaya mencari celah untuk mengambil alih Perguruan Svarnadwipa dari pengawasan Kadatuan Kesatu. Bersama-sama, mungkin saja mereka akan mencari jalan atau bahkan memaksa untuk menyelidiki sumur di dalam Perguruan. 

Balaputera Tarukma segera merapal sebuah formasi segel pembuka untuk keluar dari ruang dimensi ini. Sebelumnya, untuk sampai ke tempat ini, ia memerlukan waktu selama dua pekan untuk merampungkan sebuah lorong dimensi. Akan tetapi, dalam keadaan mendesak seperti ini, ia perlu bergerak lebih cepat. 

Balaputra Sukma tiba! Ia menyaksikan kakak kandungnya tersebut merapal formasi segel untuk keluar. Sebagaimana diketahui, kedua ahli ini berada pada tahap awal Kasta Bumi, yaitu Tamtama. Perbedaannya, Balaputera Tarukma sudah terlebih dahulu berada pada Kasta Bumi, sedangkan Balaputera Sukma hanya belakangan ini. Oleh karena itu, walau berada pada kasta keahlian yang setara, dari sisi pemahaman Balaputera Sukma tertinggal jauh. 

Perbedaan pemahaman inilah yang membuat Balaputera Sukma, meski berada pada Kasta Bumi: Tamtama, belum dapat keluar dari ruang dimensi ini. Ia hanya mampu menyusun formasi segel demi membuka celah kecil. Terhadap celah kecil tersebut, ia lalu menghantam-hantamkan serangan demi serangan dengan harapan dapat memperbesar bukaan. Dari sisi sumur di halaman Perguruan Svarnadwipa, tindakan tersebut terlihat dan dinilai sebagai sesuatu yang mengerikan hendak memaksa keluar. 

Upaya terbaik Balaputera Sukma sejauh ini, adalah sebuah kebetulan dimana wujud dari jurus Segel Syailendra miliknya berhasil menembus formasi segel. Pada kesempatan tersebut, sekira satu purnama lalu, ia secara tak sengaja menyapu dan menyeret seorang anak remaja masuk ke dalam ruang dimensi ini. Kejadian ini berlangsung di malam Bintang Tenggara menjadi korban apa pun itu yang berada di dalam sumur. 

Formasi segel berpendar, dan mulai merangkai diri dengan sendirinya. Berkat kemampuan yang dimiliki, Balaputera Tarukma tentu dapat menyusun formasi segel dengan cara yang lebih baik dari segenap ahli. Akan tetapi, tetap diperlukan waktu yang cukup panjang bagi formasi segel tersebut untuk membuka sebuah lorong dimensi. Di samping itu, serangan terhadap formasi segel tersebut dapat merusak. Bilamana hal tersebut terjadi, maka dirinya terpaksa merapal formasi segel baru dan mengulangi proses yang memakan waktu. Kenyataan inilah yang membuat lelaki setengah baya tersebut sedikit gugup. 

Balaputera Tarukma mendongak pelan. Ia memandangi Balaputera Sukma yang hanya melayang di ketinggian. Tatapan mata dua kakak beradik bertemu. 

“Sukma, jangan halangi aku…” Lelaki setengah baya tersebut kini terdengar sedikit lebih ramah. “Aku berjanji… bahwa sekembalinya di Ibukota Minangga Tamwan nanti, aku tak akan mencelakai Balaputera Gara.” 

Balaputera Sukma hanya terdiam. Ingatannya berkelebat kepada seorang lelaki dewasa yang dipenuhi dengan ambisi. 

“Engkau dapat menetap dengan damai di tempat ini,” sambung Balaputera Tarukma. “Sedari dahulu, hiruk-pikuk di Kemaharajaan bukanlah sesuatu yang engkau senangi.” 

Balaputera Sukma mendarat pelan di atas bukit. Kedua ahli ini terpisah jarak sekira seratus langkah. Ia mencerna kata-kata lawan bicaranya itu. Adalah benar, bahwa dirinya tiada tertarik dengan tipu-muslihat yang menyelubungi Kemaharajaan. 

“Kala itu diriku memang dipenuhi dengan ambisi. Diriku masih muda.” Balaputera Tarukma terus berupaya mengulur-ulur waktu. “Akan tetapi, itu adalah dahulu. Saat ini diriku sangat menyesali tindakan yang tiada bertangggung jawab dan berupaya menebus dengan membimbing ahli-ahli muda di Perguruan Svarnadwipa.”

“Apakah benar bahwa dikau akan melepaskan Balaputera Gara…?”

“Benar!”  

“Dusta!” Lintang Tenggara menghardik. Akhirnya tiba juga ia. 

“Jikalau engkau tiada percaya, maka diriku akan membawa engkau keluar bersama-sama.” Raut wajah Balaputera Tarukma, meski hanya selintas, sempat terlihat bengis. 

“Agar engkau dapat dengan mudah menghabisi aku…!?” Lintang Tenggara tak mudah dikibuli. Ia sudah terlalu terbiasa menyusun muslihat terhadap pihak lain, sehingga kata-kata manis tiada mempan terhadap pengamatannya. 

“Cih! Bilamana terus memaksa, maka tempat ini akan menjadi kubur kalian.” Raut wajah Balaputera Tarukma kembali terlihat demikian bengis. 

“Hahaha…,” gelak Lintang Tenggara. “Engkau hendak bertarung dengan Nenek Sukma yang sama-sama berada pada Kasta Bumi…? Bagaimana dengan aku…? Di tengah pertarungan kalian, aku dapat dengan mudahnya merusak formasi segel itu.”

Reaksi tubuh Balaputera Tarukma di kala semakin gugup, adalah mundur setengah langkah. Perubahan ini tentu saja tertangkap oleh pengamatan Lintang Tenggara. Upaya yang ia kerahkan membuahkan hasil. Bilamana Balaputera Tarukma terlupa, maka Lintang Tenggara menyadari betul bahwa Nenek Sukma tiada berada di dalam kondisi terbaik. Perempuan setengah baya tersebut sudah kelelahan karena merapal Segel Darah Syailendra. Saat ini, Balaputera Tarukma dapat dengan mudah menumpas sepasang nenek dan cucu tersebut. 

Satu-satunya harapan bagi Lintang Tenggara dan Balaputera Sukma adalah pertolongan dari gurunya, sang Datu Besar Kadatuan Kedua. Bilamana puluhan ahli Kasta Emas dikumpulkan, kemudian bersama-sama mereka merapal formasi segel, maka bukan tak mungkin upaya yang sedemikian dapat menembus dimensi ruang ini. 

Satu catatan… bahwasanya kemungkinan datangnya pertolongan sangat bergantung kepada Bintang Tenggara sang adik. Seberapa cepat si bodoh dan ceroboh itu memberi tahu Datu Besar Kadatuan Kedua… atau bercerita kepada Datu Besar dan Datu Tengah Kadatuan Kesembilan? Walau raut wajahnya setenang aliran sungai di musim kemarau, Lintang Tenggara menanti was-was. 

“Engkau berharap akan datangnya pertolongan…” Sang Datu Tua berujar pelan. Sebagai seorang ahli yang telah banyak memakan asam dan garam kehidupan, tentu ia menaruh kecurigaan terhadap Lintang Tenggara. 

Balaputera Lintara siaga, demikian pula Balaputera Sukma yang sedari tadi hanya menyimak. 

“Dengan berat hati… hari ini berdua kalian kalian akan meregang nyawa!” 


===


Matahari baru saja melewati titik di atas kepala. Satu rombongan remaja lelaki dan perempuan melesat secepat hampir beriringan. Sebelas jumlah mereka. Koalisi yang telah para peserta ini bangun dimentahkan. Sementara itu, berdasarkan hitung-hitungan sederhana, maka kemungkinan besar hanya satu dari mereka yang akan lolos menuju tantangan berikutnya. Raut wajah berubah semakin gundah, segera mereka memacu langkah. 

Tantangan Kedua dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta, hanya akan menampung sepuluh remaja dari dua puluh yang ada. Mereka adalah yang terlebih dahulu mencapai Pelataran, sebuah wilayah di antara dua puncak Gunung Pagar alam. 

Balaputera Vikrama, Balaputera Indravarma dan Balaputera Vikatama kemungkinan besar, bahkan dapat dipastikan, akan mengisi tiga dari sepuluh tempat yang tersedia. Kemudian, Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara dari Kadatuan Kesembilan berpeluang mengambil dua tempat lagi. Begitu pula dengan Balaputera Naga dan Balaputera Saratungga dari Kadatuan Kedelapan, yang akan mengisi dua tempat pula. Kemudian Balaputera Citaseraya dari Kadatuan Keempat dan Balaputera Sevita dari Kadatuan Keenam akan berkesempatan meraih dua tempat lagi. 

Dengan demikian, sembilan dari sepuluh kesempatan sudah diperkirakan akan terisi. Sementara itu, rombongan terakhir masih bersebelas. Bagi mereka yang terlambat ini, hanya ada satu peluang yang tersisa. Di saat yang sama, mereka tiada dapat saling menjegal pula. Upaya tersebut tiada mungkin dapat dilakukan karena sama saja dengan memperlambat langkah sendiri, dimana membuka peluang bagi yang lain mendekati satu-satunya tempat yang tersedia.

Dalam berlari, kesebelas remaja lalu terpana. Mereka mendapati seorang remaja lelaki sedang duduk bersila di atas sebongkah batu besar. Pembawaannya tenang, dan ia terlihat demikian sabar. Mendapati rombongan remaja mendekat, ia menyibak senyum ramah, bahkan melambaikan tangan seolah memberi semangat. Padahal, seharusnya remaja lelaki ini berada pada posisi di depan! 

Kesebelas remaja hanya melintas di hadapan sosok sok bijak di atas bongkahan batu itu. Bagi mereka, bila Balaputera Prameswara hendak bersantai-santai, maka saat ini tiada yang akan mempedulikan. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa bilamana Balaputera Prameswara berada di tempat ini, maka hal tersebut berarti masih tersedia dua tempat lagi di Pelataran! 

Tak berapa lama sebelumnya… 

“Kita tentukan saat ini juga!” 

“Majulah!” 

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita berdiri hadap-hadapan. Usai menangkap tubuh Balaputera Prameswara yang terpental secara bersama-sama, perseteruan di antara kedua gadis sontak memuncak. Kini mereka siap bertarung!

“Apa yang kalian lakukan!?” seru Balaputera Prameswara. “Bukankah sepantasnya kalian meneruskan perlombaan dan mencapai peringkat terbaik…?”

Balaputera Citaseraya dan Balaputera Sevita, yang baru hendak memulai pertarungan, menoleh cepat. Di dalam benak mereka menangkap sebuah pesan… bahwasanya Balaputera Prameswara menghendaki gadis yang berada pada peringkat terbaik. Keinginan yang wajar dan masuk diakal!

Tanpa pikir panjang, kedua gadis belia melesat cepat. Keduanya melanjutkan pendakian. Tujuan mereka adalah mengungguli lawan dalam mencapai Pelataran!

Walhasil, Balaputera Prameswara yang sama sekali tiada menyadari makna dari kata-katanya sendiri, terbengong-bengong. Dalam keadaan pincang, ia lalu memanjat sebuah batu besar, kemudian duduk bersila. Sudah disadari bahwasanya ia tiada mungkin dapat melanjutkan perlombaan dengan kondisi kaki yang sedemikian. 

“Hrargh!” 

Lima ekor binatang siluman Babun Rambut Hutan nan bertubuh besar menghadang jalur pendakian. Lengan panjang dan besar menyapu deras! 

Di antara kesebelas remaja terakhir ini, sesungguhnya terdapat dua remaja yang merupakan peserta unggulan. Keduanya adalah Balaputera Shinta dari Kadatuan Keenam dan Balaputera Dirgaha dari Kadatuan Kedua. Tiada gentar, mereka segera mengerahkan kemampuan masing-masing yang sungguh berada di atas rata-rata. Bilamana ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu sebelumnya tiada bertarung sepenuh hati karena menghemat tenaga dalam, serta hanya bertujuan mengusir kawanan binatang siluman, maka kali ini sangat berbeda. Tanpa banyak basa-basi, dua buah formasi segel yang berwujud kerangkeng mengemuka. Dua ekor binatang siluman Babun Rambut Hutan pun segera terkurung di dalam kerangkeng masing-masing!

Tanpa menoleh Balaputera Shinta dan Balaputera Dirgaha segera meneruskan pendakian. Bila tak ada halang rintang nan berarti, maka mereka akan mencapai Pelataran di urutan kesembilan dan kesepuluh.

Sementara itu, sembilan remaja lain mengeroyok tiga binatang siluman Babun Rambut Hutan nan malang. Karena hendak bergerak cepat, para remaja ini menyarangkan serangan-serangan langsung ke titik-titik vital. Tak berapa lama, ketiga Babun Rambut hutan pun roboh.