Episode 39 - Perkumpulan Angin Utara



De Javu, itulah hal pertama yang terlintas dalam pikiranku ketika aku kembali tersadar. Aku berada dalam sebuah ruang remang-remang dengan penerangan empat buah obor di setiap sudut ruangan. Untuk sesaat, aku mengira kembali pada waktu dan ruang dimana Sadewo dulu membunuhku. Bahkan mataku langsung bergerak liar mencari-cari Sadewo meskipun tubuhku belum sempat kugerakkan sama sekali, namun bukan Sadewo yang kutemukan, tidak juga Maman, bang Genta, Arie, maupun Shinta, melainkan tiga orang lelaki muda berusia antara dua puluh hingga tiga puluh tahunan yang sedang bertarung dua orang mengeroyok satu orang. 

Meskipun otakku masih belum bisa mencerna benar apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku saat ini. Namun instingku berhasil membuatku tetap bertindak tenang, tanpa menggerakkan sedikitpun anggota tubuhku, dengan cepat aku menganalisa situasi yang kualami saat ini dan menyimpulkan ketiga orang itu kemungkinan besar mengira aku hanya seonggok bangkai. Mengingat kondisi tubuhku yang kotor penuh luka dan sedikit menyebarkan aroma tak sedap, wajar jika mereka mengira seperti itu. 

Aku mengamati ketiganya bertarung sengit dengan menggunakan jurus-jurus yang sebagian besar belum kekenali. Hanya saja aku pernah melihat jurus yang digunakan oleh salah satu lelaki pengeroyok, bukan hanya pernah melihat, tapi aku pernah bertarung juga dengan orang lain yang menggunakan jurus itu. 

Si pengeroyok itu menggunakan jari telunjuknya untuk menyerang. Ya, sama seperti salah satu anggota Perserikatan Tiga Racun yang mengeroyok diriku dan Shinta tempo hari, Racun Kalajengking Api, salah satu dari tiga jurus utama Perserikatan Tiga Racun selain Pedang Ular Api dan Jurus Kelabang Iblis. Belakangan aku diberi tahu oleh bang Genta kalau jari telunjuk pengguna Racun Kalajengking Api mengandung racun yang sangat ganas, pada tahapan tertinggi, racun jari itu mampu melelehkan besi. Maka aku menduga orang yang menggunakan Racun Kalajengking Api berasal dari Perserikatan Tiga Racun. 

Sedangkan pengeroyok yang satu lagi menggunakan jurus yang mengandalkan pukulan dan tapak yang saling berganti tergantung situasi. Gerakannya luwes sekaligus lincah seperti orang yang sedang menari meskipun jelas-jelas dia seorang lelaki. 

Lalu lawan yang mereka keroyok menggunakan kipas sebagai senjata, meskipun dia juga laki-laki. Serangannya selalu menimbulkan hembusan angin keras yang dapat membuat tubuh seseorang terhuyung jika kuda-kuda kurang kuat. 

Dari pertarungan dan fluktuasi tenaga dalam yang mereka keluarkan, aku tahu kalau kesaktian mereka semua berada pada tahap penyerapan energi tingkat keempat dan kelima. Masih dalam batas yang dapat kuhadapi. 

Pertarungan mereka berakhir lebih cepat dari dugaanku, awalnya kupikir si pengguna kipas akan mampu menahan serangan para pengeroyoknya lebih lama lagi. Hanya dalam waktu singkat saja, pertarungan mereka telah mencapai klimaks dengan bersarangnya sebuah pukulan ke dada lelaki pengguna kipas. Lelaki itu langsung terjengkang menghempas tembok, mulutnya tak lupa menyemburkan darah segar berbuku-buku dan mukanya mendadak seputih kafan. Tampaknya pukulan telak itu telah menyebabkan luka dalam yang tidak ringan pada dirinya. 

“Tunggu, kumohon jangan bunuh aku! Silahkan kalian ambil ‘Akar Alang-Alang Batu’, tapi ampuni selembar nyawaku,” ujar lelaki pengguna kipas sambil bergerak mundur dengan terengah-engah. 

Kedua orang pengeroyoknya saling pandang mendengar kata-kata lelaki pengguna kipas. 

“Apapun yang kami lakukan, membunuhmu atau tidak, Akar Alang-Alang Batu tetap akan jadi milik kami. Jadi, kupikir lebih baik kau mati sekarang, daripada jadi ganjalan di hari depan.” Anggota Perserikatan Tiga Racun menjawab sambil melangkah mendekati lelaki tersebut. 

“Jawaban yang tepat,” pikirku dalam hati. Seandainya aku juga berada di posisi pengeroyok itu, aku juga akan melakukan tindakan yang sama. Maksudku, buat apa memelihara anak macan yang akan mencelakakan kita di kemudian hari. Bukan tidak mungkin orang yang kita ampuni itu akan membalas dendam pada kita di masa depan. 

“Kau, bukankah kau berasal dari Perserikatan Tiga Racun. Dan kau berasal dari Perguruan Selaksa Kembang kan? Kelompok kita tidak ada silang sengketa apapun. Aku juga berjanji akan melupakan kejadian hari ini.” Melihat para pengeroyoknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengampuni dirinya, lelaki itu tampak semakin panik. 

“Humph... Dari jurus yang kau gunakan, kalau tidak salah kau berasal dari Perkumpulan Angin Utara. Kelompok kita memang tidak memiliki silang sengketa apapun, tapi... ” Anggota Perserikatan Tiga Racun tidak meneruskan kata-katanya, melainkan hanya menyeringai bengis sambil menggerakkan kepalanya sedikit ke arahku. Mungkin maksudnya menjadikanku yang dia kira seonggok mayat sebagai contoh. 

Tapi aku sama sekali tidak terlalu perduli dengan pembicaraan mereka, yang menarik perhatianku justru nama Perkumpulan Angin Utara, jadi orang yang tengah dikeroyok itu berasal dari Perkumpulan Angin Utara... Dimana aku pernah mendengarnya? 

Kinasih!

Tidak salah lagi, meskipun dikenal sebagai Putri Teratai Salju dari Istana Teratai Salju, namun Kinasih mengaku berasal dari Perkumpulan Angin Utara saat memperkenalkan dirinya padaku waktu itu. 

Tiba-tiba saja aku merasakan keinginan kuat untuk menyelamatkan anggota Perkumpulan Angin Utara itu. Mungkin melalui dia aku bisa mengetahui keberadaan Kinasih. 

Aku segera memutar otak menyusun rencana menyelamatkan anggota Perkumpulan Angin Utara. Mengingat kondisiku belum benar-benar pulih dari pertarungan terakhir melawan Lodan, aku tidak mungkin menghadapi mereka berdua hanya mengandalkan kekuatan saja. Aku kemudian menggerakkan tanganku menyusup ke balik pakaian dengan sangat perlahan. Dari balik pakaian, aku mengambil satu butir kelereng racun berwarna hitam yang kudapat dari mayat anggota Perserikatan Tiga Racun tempo hari. 

Lalu, dengan memanfaatkan kelengahan mereka yang sama sekali tidak memperdulikanku, aku segera melempar satu butir kelereng racun berwarna hitam ke arah dua orang pengeroyok. Bersamaan dengan itu, dengan gerakan secepat angin aku melesat menuju anggota Perkumpulan Angin Utara dan menariknya jauh-jauh dari kedua orang yang mengeroyoknya. 

“Tahan nafas!” bisikku pada anggota Perkumpulan Angin Utara begitu aku berhasil menarik dirinya. 

Asap hitam yang dikeluarkan oleh kelereng racun langsung menyebar ke seantero tempat itu. Namun aku berhasil kabur menjauhi lokasi sebaran asap itu sehingga tidak menjadi korban keganasan kelereng racun. 

“Kelereng Pengering Jasad! Awas!”

Aku masih sempat mendengar suara teriakan dari balik kepulan asap hitam. Namun sayangnya mereka tetap terlambat menghindari keganasan asap kelereng dan tenggelam di tengah kepulan asap. 

Tapi aku sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaanku, mengingat kelereng racun ini berasal dari Perserikatan Tiga Racun dan orang yang kuserang dengan kelereng ini juga berasal dari Perserikatan Tiga Racun, bukan tidak mungkin dia memiliki penawar racun di tubuhnya. 

Sedangkan mengenai keputusanku menunggu asap menghilang dan tidak langsung melarikan diri juga sama dengan anggota Perserikatan Tiga Racun, karena aku juga tidak ingin memelihara ancaman di kemudian hari. 

Dan benar saja, setelah asap hitam perlahan memudar, aku melihat keduanya masih bertahan hidup meskipun kondisinya sudah sangat kepayahan. Tubuh mereka tampak mengurus dan hanya bisa berlutut. Tampaknya mereka tidak memiliki obat penawar untuk kelereng racun ini. Meskipun mereka mampu bertahan hidup dengan menggunakan metode lain. 

“Uh... Apa kau juga anggota Perserikatan Tiga Racun? Kenapa kau menyerang kami dengan Kelereng Pengering Jasad?”

Anggota Perserikatan Tiga Racun tampak terengah-engah menatapku dengan mata terpicing. 

Namun aku sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaannya. Dengan cepat kukeluarkan pisau berbentuk pasak milik Sadewo dari balik pakaianku dan menghabisi keduanya tanpa banyak perlawanan. 

Setelah menghabisi keduanya, aku segera mengalihkan pandanganku pada anggota Perkumpulan Angin Utara. Kulihat dia hanya berdiri sambil tangan kirinya mengusap dada dan tangan kanannya menyandar pada tembok. 

“Kau... dari Sekte Pulau Arwah? Ternyata kau bukan mayat...”

Anggota Perkumpulan Angin Utara bertanya padaku dengan tatapan penuh waspada pada pisau berbentuk pasak yang ada dalam genggamanku. Tampaknya dia mengenali pisau yang kugunakan. 

Aku hanya menggelengkan kepala. 

“Tentu saja aku bukan mayat. Aku juga bukan dari Sekte Pulau Arwah.” Aku berjalan mendekatinya sambil kembali menyusupkan pisau ke balik pakaianku.

Demi melihatku berjalan santai dengan senyum tipis sambil menyusupkan pisau ke balik pakaian, ekspresi wajah anggota Perkumpulan Angin Utara sedikit lebih tenang. Sepertinya dia menangkap isyarat bahwa aku tidak berniat mencelakakan dirinya. 

“Terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawaku, aku tidak akan melupakan hutang budi ini seumur hidupku,” ujar anggota Perkumpulan Angin Utara kemudian. 

“Hutang budi itu tidak perlu kau ingat seumur hidup, kau bisa langsung membayarnya sekarang,” jawabku sambil tetap menyunggingkan senyum tipis.  

“Oh... Aku mengerti.” Anggota Perkumpulan Angin Utara itu seakan menyadari sesuatu, kemudian dia menyusupkan tangannya ke balik pakaian. 

Aku langsung mengerenyitkan kening dan menatap tajam-tajam ke arahnya, tanganku juga sedikit bergerak bersiap mengeluarkan Jurus Iblis Sesat demi melihat gerakan tangannya yang menyusup ke balik pakaian. 

“Tunggu... Aku, aku hanya ingin mengeluarkan Akar Alang-alang Batu.” Melihat sikapku tiba-tiba menjadi sangat waspada, anggota Perkumpulan Angin Utara segera menghentikan gerakannya dan memberikan penjelasan padaku. 

Aku tidak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepala perlahan, kemudian anggota Perkumpulan Angin Utara itu kembali meneruskan gerakannya mengeluarkan segenggam Akar Alang-Alang Batu yang terbungkus dalam sehelai kain putih. Setelah itu, dia menjulurkan tangannya dengan maksud menyerahkan akar alang-alang tersebut padaku. 

Meskipun dalam hati aku agak terkejut, namun aku tetap memasang wajah tenang dan menerima akar alang-alang itu. Tampaknya dia salah mengira ucapanku tentang membalas budi saat itu juga. Dipikirnya aku menginginkan akar alang-alang ini, padahal aku hanya ingin beberapa informasi saja dari dirinya. Tapi semenjak dia menyerahkan herbal berharga yang tadi jadi bahan rebutan ini padaku, tentu saja akan sangat mubazir jika aku menolaknya. Meskipun aku sendiri masih belum tahu apa fungsi akar alang-alang ini. 

“Siapa namamu?” tanyaku pada anggota Perkumpulan Angin Utara setelah memasukkan Akar Alang-alang Batu ke kantung pakaianku. 

“Reza,” jawabnya singkat.

“Aku Riki, dari Kelompok Daun Biru. Kau berasal dari Perkumpulan Angin Utara Za?” 

“Benar.” 

Reza tampak sedikit terkejut karena aku mengetahui dia berasal dari Perkumpulan Angin Utara, meski begitu dia segera menjawab pertanyaanku. 

“Bisa kau ceritakan apa yang terjadi disini?” 

Kembali Reza terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin dia merasa bingung, bukankah sejak awal aku berada di ruangan itu. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui apa yang terjadi? Meskipun pada saat itu aku pura-pura jadi mayat. 

“Aku pingsan saat masuk ke dalam markas rahasia ini, dan baru saja sadar saat kau bertarung dengan anggota Perserikatan Tiga Racun dan Perguruan Selaksa Kembang.”

Aku segera menjelaskan kondisi yang kualami padanya.

Baru setelah mendengar penjelasan singkatku, Reza menganggukkan kepalanya dan menjawab pertanyaanku. 

“Aku menemukan Akar Alang-Alang Batu di ruangan ini, tapi belum sempat aku pergi, kedua orang dari Perserikatan Tiga Racun dan Perguruan Selaksa Kembang datang kemari dan melihatku menggenggam Akar Alang-Alang Batu. Kemudian mereka menyerangku.”

“Lalu, sudah berapa lama kau berada di dalam markas rahasia ini?”

“Kurang lebih tiga hari,” jawab Reza sambil mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jam di pergelangan tangannya. Aku bisa melihat jam tangannya menunjukkan pukul 22.17 tanggal 24 Agustus. Padahal aku masuk ke dalam markas ini pada tanggal 21 Agustus, hari yang sama dengan saat Reza masuk kemari. Jika aku baru sadar sekarang, berarti sudah tiga hari aku pingsan. 

“Pantas aku merasa haus sekali,” gumamku dalam hati. Meskipun setelah mempelajari pengolahan tenaga dalam tahap penyerapan energi aku sanggup bertahan hidup tanpa makan dan minum selama kurang lebih satu minggu, tapi tetap saja tubuhku masih merasakan haus. 

“Za, apa kau sendirian saat masuk ke dalam markas ini?”

“Tidak, aku masuk bersama dengan rombongan dari Perkumpulan Angin Utara berjumlah enam orang. Tapi saat masuk melewati pelindung, aku terjebak dalam cahaya menyilaukan. Saat cahaya itu hilang, aku sudah sendirian di tengah lorong.”

Sama! Aku juga mengalami hal itu saat masuk melewati pelindung di pintu masuk markas rahasia. Bukannya langsung masuk ke dalam markas, aku justru terjebak dalam cahaya menyilaukan. Tepat pada saat itulah efek samping menggunakan Jurus Iblis Darah menyerang diriku dan membuat tubuhku terasa lemas, ditambah lagi dengan luka yang kuderita dari pertarungan melawan Lodan, akibatnya aku tidak bisa menahan kesadaranku dan pingsan di dalam cahaya tersebut. Lalu saat aku pingsan, tubuhku terlempar ke dalam ruangan tempat Reza dikeroyok tadi, berpisah dengan bang Genta, Arie, Maman, dan Shinta. 

Aku langsung teringat pada kondisi Arie yang sedang terluka sangat parah, jika dia juga mengalami nasib yang sama denganku dan terpisah dari yang lain, berarti tidak ada yang menjaga dan merawatnya. Apa dia sanggup bertahan dengan situasi seperti itu? 

“Sebaiknya kita segera pergi dari sini dan mencari tempat yang aman untuk memulihkan diri terlebih dahulu.” Tiba-tiba Reza membuyarkan lamunanku. 

Aku segera menyetujui usulnya dan kami berjalan meninggalkan ruangan tersebut.