Episode 33 - Alsiel (1)



Enam tahun yang lalu.

Di sebuah jalan yang sepi, di malam yang dingin karena baru saja hujan turun membasahi kota ini. Aroma rumput yang basah dan suara jangkrik membuat malam itu terasa damai dan tentram.

Seorang pemuda sedang mengendarai sepeda motornya dengan santai melewati jalanan sepi. jaketnya berkibar ke arah belakang meskipun dia tidak melaju dengan kencang. Di kaca helm-nya terdapat tiitik-titik air sisa hujan yang baru saja turun.

Tidak jauh di depan ada sebuah pertigaan, dia dengan santai menghidupkan lampu sen sebelah kirinya. Ketika dia hendak bebelok, tiba-tiba saja seekor kucing hitam melintas di depannya. Pemuda itu dengan cepat membelokkan arah motornya. 

Kucing itu bisa dia hindari.

Akan tetapi, ini belum berakhir.

Karena jalan yang basah, dan juga ban sepeda motornya yang sudah tidak sekasar pertama dibeli. Pemuda itu kehilangan kendali dan terus melaju keluar dari jalan menuju sebuah kebun hingga akhirnya berhenti karena menabrak sebuah pohon kelapa.

Pemuda itu terjatuh dari motornya dan mendapatkan cedera ringan di tubuhnya.

Namun, tenyata tragedi itu belum berakhir.

Karena tabrakan dari sepeda motor itu, buah kelapa yang tergantung di atas pohon kelapa terjatuh dan menimpa tepat ke helm pemuda itu. 

Bam.

Pemuda itu merasakan sakit yang amat sangat meskipun dia memakai helm berstandar nasional. Dia sedikit merasakan cairan kental mengalir dari kepalanya dan mengenai wajahnya.

Tapi, ternyata masih belum berakhir.

Bam.

Buah kelapa terjatuh lagi dan mengenai dada pemuda tersebut dan dia merasa seperti tulang rusuknya patah.

Bam.

Buah kelapa kembali terjatuh dan mengenai kaca helm-nya hingga pecah.

Bam.

Kali ini, buah kelapa itu terjatuh mengenai bahunya.

Pemuda itu meraung kesakitan, akan tetapi di tengah malam, apalagi di sebuah kebun yang sepi, membuat teriakan pemuda itu menjadi sia-sia belaka. Tidak akan ada orang yang mendengarnya. 

Meskipun tidak ada orang yang dapat mendengarnya, bukan berarti tidak ada yang mendengar. 

Sesosok mahluk tanpa tangan dan kaki menggeliat dengan lincah melewati rumput dan mendekati pemuda tersebut. Sisik hitamnya terlihat sangat anggun dan memancarkan aura yang agung. Sesekali, lidahnya terjulur ke depan dan menimbulkan suara kecil akan tetapi dapat membuat setiap orang yang mendengarnya langsung berlari menjauhinya. 

Dia adalah ular kobra.

Mata hitamnya memandang pemuda itu dengan dingin. Dia merasa terganggu dengan teriakan pemuda itu, jadi dia datang untuk memberikannya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan.

Ular itu terus mendekat, setelah beberapa saat, dia tepat berada di depan pemuda yang terus menjerit kesakitan tersebut. Tanpa ampun, ular kobra tersebut menancapkan taring tajamnya dan menyalurkan racun berbisanya pada pemuda itu.

Tubuh pemuda itu yang awalnya terus meronta kesakitan lama kelamaan menjadi mati rasa. Hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dan menutup matanya dengan penuh kesedihan. Dia tidak percaya, dia tidak mau percaya, dia harus meninggalkan dunia ini dengan cara seperti ini.

padahal, masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Meskipun saat ini ia adalah anak yatim-piatu dan tidak memiliki seorang saudara pun, tapi masih ada yang harus dia lakukan, seperti mendapatkan uang untuk membayar pengobatan orang tua pacarnya.

Akan tetapi, nasib berkata lain.

Namun, sejenak setelah mata pemuda itu tertutup, tiba-tiba saja mata itu kembali terbuka. Lalu mata itu berubah warna menjadi hitam untuk sesaat kemudian dengan ajaib semua luka yang di derita pemuda itu lenyap tanpa bekas.

Tubuh itu dengan santai berdiri lalu dengan sangat cepat kaki pemuda itu menginjak ular kobra yang masih berada di dekatnya itu, tubuh rapuh ular kobra itu langsung hancur dan darahnya menciprat ke segala arah.

Namun, tidak ada riak sedikit pun di mata pemuda tersebut, seperti dia sudah sangat terbiasa dengan adegan berdarah seperti barusan.

Dan, alasan kenapa semua itu terjadi adalah karena jiwa yang berada dalam tubuh itu bukanlah jiwa yang sebelumnya, tapi sebuah jiwa dari sosok yang terhormat di neraka, tangan kanan dari raja iblis, seorang iblis bernama Alsiel.

Alsiel dengan perlahan melihat tubuh yang baru saja dia masuki, tapi dengan sekejap dia merasakan sebuah ketidakpuasan. Karena, tubuh ini sangat biasa saja. Wajahnya biasa, bentuk tubuhnya biasa, pakaian yang dia kenakan biasa. Bahkan, meskipun dia adalah sosok terhormat di neraka yang membawa aura agung dan bermartabat, tetapi setelah dia memasuki tubuh ini auranya itu langsung meredup oleh kuatnya aura biasa dari pria ini.

Tapi Alsiel tidak peduli. Yang terpenting baginya saat ini adalah untuk menemukan tuannya. Akan tetapi, ada satu hal yang harus dia lakukan terlebih dahulu, yaitu mengabulkan harapan terakhir dari pemuda ini, setidaknya sebagai harga dari tubuh yang dia rebut.

Pemuda itu memiliki seorang pacar, dan ayah dari pacarnya itu sedang sakit keras dan harus di operasi secepatnya, atau jika tidak maka kemungkinan besar hidupnya tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Jadi, malam ini pemuda itu pergi untuk meminjam uang dari temannya, akan tetapi ternyata sebuah tragedi datang menghampirinya, yang mengakibatkan dia kehilangan nyawanya.

Alsiel melirik sepeda motor yang terbaring di bawah pohon kelapa. Dia mengangkatnya kemudian menggunakan ingatan dari pemuda itu, dia menghidupkan sepeda motor itu dan bergegas pergi untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.

Angin malam menerpa tubuhnya dan membuat Alsiel menggigil kedinginan.

‘Sial! Tubuh manusia sangat lemah, benar-benar rapuh, jika aku menggunakan tubuh asliku, aku tidak akan merasakan kedinginan bahkan jika aku telanjang bulat dan berlari di tengah hujan salju.’

Meskipun dia tahu dia tahu bahwa yang harus dia lakukan hanyalah mencari uang, tapi Alsiel tidak tahu caranya. Dari ingatan pemuda tersebut Alsiel tahu bahwa dia hanyalah seorang tukang ojek, dan pendapatannya sangat kecil.

Akan memakan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang yang cukup untuk biaya operasi ayah dari pacar pemuda itu. Lagipula dia tidak mau menghabiskan waktu yang lama untuk masalah tidak penting seperti ini. Karena Alsiel ingin segera menemukan tuannya secepat mungkin.

Ketika Alsiel sedang berpikir, tiba-tiba saja motor yang sedang dia kendarai berhenti. 

‘Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba berhenti?’

Alsiel memarkirkan motornya dan melihatnya dengan seksama. Namun, dia tidak tahu apapun soal mesin, bahkan setelah dia melihat ke dalam ingatan dari pemuda itu, dia masih tidak tahu apa penyebab motor itu berhenti bergerak.

Ketika Alsiel masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, tiba-tiba muncull segerombolan pemuda menghampirinya. Mereka semua berpenampilan mencolok. Ada yang mewarnai rambunya dengan warna pelangi, ada yang menindik lidah, telinga, bahkan hidungnya. 

Ada juga seorang pria yang memakai topi, jaket, dan sebuah celana jeans. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak mencolok, tapi sebuah radio besar yang di bawanya.

Pria yang membawa radio itu juga menyanyikan lagu dengan tidak jelas. Apalagi, suaranya juga fals.

“Yo Brother ada apa yo?”

Pria yang membawa radio itu bertanya pada Alsiel sambil memaju-mundurkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih dia guanakan untuk membopong radio besar di pundaknya.

Sepertinya dia tidak punya niatan untuk melepaskan radio tersebut.

“Haha, dari penampilannya dia pasti anak kampung, norak banget.” Pemuda dengan rambut pelangi itu berkata dengan jijik.

“Hei, jangan mengejeknya,” pemuda dengan banyak tindik itu maju menghampiri Alsiel, “Oh, iya, kami saat ini sedang butuh uang, jadi, kau tahu maksudku, kan?”

Alsiel mengerutkan kening setelah mendengar apa yang pemuda bertindik itu katakan.

‘Hei, bukan hanya kau, aku juga sedang butuh banyak uang.’

“Haha, yo, itu benar sekali yo, ayo pinjamkan kami uang yo, kami pasti akan kembalikan yo.” Pemuda dengan radio itu berkata dengan semangat sambil memaju-mundurkan tangan kanannya, sedangankan radio itu dia bawa dengan tangan kirinya.

Sepertinya tangan kanannya lelah.

“Tapi, kalau kami ingat yo, haha!” Pemuda dengan radio itu tetawa terbahak-bahak.

“Tidak ada gunanya berbicara omong kosong dengan bocah kampung itu, lebih baik kita hajar dan ambil semua barang berharganya.” Pemuda dengan rambut pelangi maju dan memandang Alsiel dengan jijik. 

Seolah Alsiel adalah serangga paling menjijikan di seluruh dunia.

Melihat tatapan pemuda itu, api amarah di dalam diri Alsiel meledak dengan hebat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa mahluk lemah seperti dia akan memandangnya dengan tatapan seperti itu. Di neraka, tidak ada yang pernah melakukan hal tersebut, jadi dia tidak mungkin bisa menerima penghinaan dari mahluk lemah ini.

Alsiel maju dan menuju pemuda dengan rambut pelangi itu dengan tatapan buas di matanya.

“Kenapa kau melotot seperti itu anak kampung?” Pemuda dengan rambut pelangi itu berteriak dengan angkuh.

Sesaat setelah dia selesei mengatakan hinaan itu, sebuah kepalan tangan mendarat tepat di depan wajahnya. Dia terlempar ke belakang sejauh lima meter kemudia tidak sadarkan diri.

“Sialan! Jadi ini ini yang kau pilih!” pemuda bertindik itu berkata dengan marah.

“Hentikan semua omong kosong ini yo, ayo kita hajar dia saja yo!” pemuda dengan radio itu juga marah dengan apa yang Alsiel lakukan pada temannya.

Mereka semua maju dan mencoba untuk memberikan sebuah ‘pelajaran’ berharga untuk pemuda itu, bahwa kau tidak boleh bertingkah angkuh dan sombong di depan mereka.

Meskipun mereka bukanlah geng terkenal, tapi mereka semua memiliki sedikit popularitas di daerah sekitar sini. Jadi, jangan main-main dengan mereka.

Mereka pasti akan membuat pemuda itu babak belur dan membuatnya memohon ampun sambil berlutut di tanah.

Namun, ternyata apa yang terjadi selanjutnya jauh berbeda dari apa yang mereka bayangkan. Mereka semua kalah dan terkapar dengan menyedihkan di tanah, sedangkan pemuda itu masih berdiri dengan anggun sembari menatap mereka dengan penuh penghianaan.

“Ampun ... tolong ampuni kami.” Pemuda dengan tindik itu memohon dengan menyedihkan.

“Benar, tolong ampuni kami.”

“Kami tidak akan pernah berani untuk melakukan ini lagi.”

Satu-persatu mereka mulai melemparkan permohonan mereka.

“Uang.” Alsiel berkata dengan suara yang berat.

“Baiklah, tunggu sebentar, aku akan memberikannya.” Pemuda dengan tindik itu berkata dengan terburu-buru lalu mengumpulkan semua uang yang dia miliki dan jugaa milik teman-temannya lalu menyerahkannya pada Alsiel.

“Hanya ini yang kami miiliki.” Pemuda bertindik itu berkata sambil terus memperhatikan wajah Alsiel dengan cemas.

Alsiel mengambil uang itu sambil mengerutkan kening. Jumlanhnya masih kurang, akan tetapi kemudian ekspresi itu langsung berubah menjadi senyuman.

‘Sepertinya aku tahu bagaimana cara mendapatkan banyak uang dengan cepat.’ Pikir Alsiel dalam hati.