Episode 238 - Pengunduran Diri



“Krak!” 

Formasi segel berwujud tembok tebal dan kokoh di hadapan Bintang Tenggara meretak dan merekah, lalu runtuh bak dihantam keras gada raksasa. Akan tetapi, anak remaja tersebut menyadari bahwa kerja keras yang ia upayakan bersama sang ayam adalah sia-sia belaka. Hanya selisih sepersekian detik, seorang peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta lain sudah terlebih dahulu mengisi urutan ke-20. Terlambat.

Tak ada gunanya menyesali kekurangan. Dibandingkan dengan para peserta lain, dirinya memanglah terlambat memulai. Setiap satu dari mereka lebih mahir dan terampil dalam urusan formasi segel. Sejak kecil mereka dijejali pengetahuan akan formasi segel di dalam kadatuan masing-masing, lalu secara formal melanjutkan pendidikan ke Perguruan Svarnadwipa. Bahkan Balaputera Prameswara sudah mempelajari formasi segel jauh lebih lama, meski hanya baru-baru ini mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa. 

Andai saja…, batin Bintang Tenggara. Oh… percuma mengandai-andai. Perkara formasi segel bukanlah perihal bakat semata. Bakat tanpa pemahaman yang benar dan kerja keras adalah ibarat senjata pusaka yang tiada diasah, menjadi tumpul dan berkarat. Lagipula, sejak awal para peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta merupakan remaja-remaja yang berbakat dan terpilih dari kadatuan masing-masing. 

Teriakan riuh-rendah terdengar membahana. Seluruh peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta kembali berada di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Akan tetapi, kini para remaja terbagi ke dalam dua kelompok di atas panggung berbeda yang berukuran lebih besar. Kelompok pertama terdiri dari 20 peserta yang telah berhasil melewati tantangan pertama di dalam dimensi ruang Tugu Ampera Utara, sedangkan kelompok kedua berisikan 15 remaja yang gagal. Bintang Tenggara tentunya berada di dalam kelompok kedua, para pecundang yang tak berhasil melewati tantangan pertama. 

“Tantangan Pertama di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta rampung sudah,” teriak sang pembawa acara. “Kini waktunya kita melanjutkan ke Tantangan Kedua!” 

Sambutan khalayak di tribun luar bergelora. Perhatian terpusat pada panggung dimana kelompok pertama berada. Dukungan kepada mereka semakin dinanti-nanti. Bagaimana tidak, seluruh peserta unggulan sebagaimana perkiraan dapat melenggang dengan mudahnya dalam menyelesaikan tantangan pertama. 

Akan tetapi, tetiba gemuruh penonton terhenti. Seorang remaja lelaki di panggung kelompok pertama melangkah maju ke depan. Pembawaannya tenang, dimana tak seberkas keraguan pun muncul dari raut wajah nan terbilang tampan. 

“Wahai Yang Terhormat Ketua Panitia Hajatan Akbar Pewaris Takhta,” remaja tersebut berujar santun kepada sang pembawa acara. “Diriku, Balaputera Ugraha, mengajukan pengunduran diri…” 

Suara penonton kembali terdengar ramai. Akan tetapi, kali ini bukan dalam rangka memberikan dukungan, melainkan mereka mempertanyakan mengapa seorang remaja dari Wangsa Syailendra mengundurkan diri dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Apa yang ia pikirkan…? Bukankah gelaran ini sudah sangat dinantikan sejak lama…?

Di samping itu, keterkejutan yang lebih besar di dalam benak khalayak bukan semata perihal keputusan pengunduran diri, melainkan kenyataan bahwa Balaputera Ugraha berasal dari Kadatuan Kedua. Tiada yang tak mengetahui bahwa Kadatuan Kedua merupakan keluarga bangsawan yang getol mempersiapkan diri dalam menangani urusan politik di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Mereka adalah yang merasa paling berhak meneruskan kepemimpinan di Kemaharajaan. Bagaimana mungkin seorang anggotanya justru mengundurkan diri dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta!? Tak masuk di akal. 

Hampir seluruh tetua dan anggota keluarga Kadatuan Kedua sontak bangkit berdiri. Mereka adalah yang paling terkejut saat mendengar kata-kata Balaputera Ugraha. Raut wajah mereka mencerminkan ketidakpuasan, bahkan amarah! Balaputera Ugraha telah menyelesaikan tantangan pertama dalam urutan lima besar! Bagaimana mungkin ia mengundurkan diri begitu saja!? Semakin banyak perwakilan yang lolos, maka semakin besar pula kesempatan dari Kadatuan Kedua akan menggapai tujuan mereka!

Di dalam Kadatuan Kedua yang terkenal taat asas sehingga mencerminkan kekakuan dan kedisiplinan setiap anggotanya, Balaputera Ugraha memanglah pribadi yang paling berbeda. Ia lebih santai, tiada berambisi, serta sering berbuat semaunya. Akan tetapi, Hajatan Akbar Pewaris Takhta bukanlah perkara kepentingan pribadi! Kepentingan Kadatuan Kedua dalam mewarisi puncak pimpinan kemaharajaan adalah lebih utama! Suka atau tidak suka, Balaputera Ugraha wajib menunaikan tugasnya sebagai seorang anak yang terlahir di Kadatuan Kedua! 

Di kala para anggota keluarga Kadatuan Kedua sibuk menghardik, sang Datu Besar adalah satu-satunya yang masih duduk dengan menyilangkan lengan di depan dada. Tiada perubahan pada raut wajahnya yang keras. Seluruh anggota keluarga kemudian melontar pandang ke arah dirinya. Sangat mereka berharap agar sang Datu Besar mengungkapkan ketidaksetujuan atas keputusan Balaputera Ugraha dan dengan paksa menghentikan tindakan tak bertanggung jawab itu. 

Akan tetapi, sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua hanya memandangi dalam diam. Sungguh perilakunya hari ini sangat berbeda dari biasa. 

“Balaputera Ugraha dari Kadatuan Kedua…” Sang pembawa acara merangkap Ketua Panitia dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta menanggapi. “Atas alasan apakah dikau mengundurkan diri…?”

“Diriku merasa jauh dari pantas untuk ikut serta di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta.” 

“Oh…? Mengapakah demikian? Bukankah tujuan dari Hajatan Akbar Pewaris Takhta ini memang hendak menentukan kepantasan atau tidaknya seorang keturunan menjadi Yuvaraja, Pratiyuvaraja, Rajakumara…? Yang akan menentukan kepantasan adalah tantangan-tantangan itu sendiri…”

“Demikian adalah alasan dari diriku,” tanggap Balaputera Ugraha tak bergeming. Tak tebersit seberkas keraguan 

Mendapati tindak-tanduk Balaputera Ugraha yang sangat tak lazim bagi seorang bangsawan Wangsa Syailendra, sang Ketua Panitia tercekat. Ia melirik ke arah sang Datu Besar Kadatuan Kedua di tribun kehormatan, kemudian ke arah Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa yang masih duduk bersandar di atas singasana megah. Keduanya terlihat biasa-biasa saja, seolah tak ada kejadian berarti yang layak ditanggapi. Semakin si Ketua Panitia itu kebingunan. 

“Baiklah…,” akhirnya si Ketua Panitia melanjutkan. “Bilamana telah mantap keputusan dikau, maka pengunduran diri diterima.” 

Si Ketua Panitia lalu mengibaskan jemarinya. Nama ‘Balaputera Ugraha’ yang awalnya bercokol di peringkat kelima pada permukaan formasi segel nan melayang tinggi, pun menghilang. Nama pada posisi keenam naik satu peringkat, begitu pula nama-nama berikutnya sampai kepada nama ‘Balaputera Citaseraya’ di urutan ke-20. Sebagai gantinya, pada urutan ke-20 tersebut, nama baru mengemuka…

‘Balaputera Gara’

Bintang Tenggara masih terpana. Balaputera Ugraha merupakan salah satu sosok yang cukup ia kenal. Mereka sempat menuntaskan tugas bersama-sama dalam satu regu. Akan tetapi, keputusan dan tindakan Balaputera Ugraha ini memanglah sangat sulit dicerna. Sampai ke tahap itukah remaja yang diketahui cerdas karena memiliki penilaian dan pengamatan yang demikian tinggi dapat bertindak? Atas alasan apa? Ada yang tak kena.

“Balaputera Ugraha, segeralah kembali ke tribun kehormatan Kadatuan Kedua,” ujar si pembawa acara. “Balaputera Gara, bergabunglah segera ke panggung yang satunya.” 

Demikian, kejadian aneh bin ajaib rampung. Bintang Tenggara mengikuti saja jalan ceritera kali ini. Apakah Balaputera Ugraha sedang menyusun sebuah siasat? Tak sedikit yang memiliki pemikiran senada, banyak pula yang masih mempertanyakan. Akan tetapi ,perhatian mereka segera teralihkan karena Tantangan Kedua akan segera bergulir. 

“Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Tantangan Kedua, Gunung Pagar Alam!” 

Gunung Pagar alam, merupakan bagian dari gugusan Pegunungan Barisan Barat yang membujur di sepanjang salah satu Pulau Utama, dan menjadi dasar dari penamaan Pulau Barisan Barat. Gunung tersebut letaknya berada wilayah selatan Pulau Barisan Barat sehingga berada di luar dunia paralel Minangga Tamwan. Dengan kata lain, ke-20 remaja yang berhak mengikuti Tantangan Kedua akan menuju Negeri Dua Samudera. 

Sebuah formasi segel nan besar membuka sebuah lorong dimensi nan besar pula. Tanpa ragu, satu per satu remaja calon pewaris takhta segera melompat ke dalam.  

“Wara, mengapakah dikau melangkah pincang…?” aju Bintang Tenggara sambil menunggu giliran masuk. 

“Di saat mendarat di dalam dimensi ruang Tugu Ampera Utara… diriku terpeleset jatuh…” Balaputera Prameswara menggaruk-garuk kepala. Kebetulan layar yang mempertontonkan setiap peserta saat itu belum mengemuka, sehingga tak ada yang menyaksikan kejadian memalukan tersebut. 

“Bagian mana yang cedera…?” 

“Pergelangan kaki kiri…” 

Usai menjawab, dengan tertatih Balaputera Prameswara melangkah masuk ke dalam lorong dimensi. Bintang Tenggara menyusul tepat di belakangnya. 

Ke-20 peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta tiba di lereng Gunung Pagar Alam. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Sesuai namanya, gunung tersebut dikelilingi oleh perbukitan, ibarat dipagari oleh keajaiban alam. Suasana demikian sejuk dan tenteram. 

“Wahai para peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” Pembawa acara berkumandang dalam memberikan pemaparan. “Gunung Pagar Alam memiliki dua puncak. Kedua puncak tersebut dipisahkan oleh sebuah bentangan terbuka yang dikenal dengan nama Pelataran.” 

Di saat penjelasan ini disampaikan, lagi-lagi sebuah layar nan besar mengemuka di tengah Gelangang Utama. Akan tetapi, kini susunan layar terlihat berbeda, karena dikelompokkan sesuai dengan urutan kadatuan. 

Tiga layar mewakili Kadatuan Kesatu. Dengan kata lain, menampilkan ketiga remaja lelaki dari Kadatuan Kesatu yang memang berhasil lolos dari Tantangan Pertama. Di sebelahnya, tiga layar lagi mewakili Kadatuan Kedua. Seharusnya terdapat empat layar, namun sebagaimana diketahui, Balaputera Ugraha telah mengundurkan diri. 

Selanjutnya, dari Kadatuan Ketiga sampai dengan Kadatuan Kesembilan, hanya diwakili oleh dua layar. Dengan kata lain, tujuh kadatuan tersebut hanya meloloskan dua remaja untuk menjalani tantangan kali ini. 

“Pada Tantangan Kedua, Gunung Pagar Alam, kalian memiliki satu tujuan, dimana tujuan tersebut adalah mendaki sampai Pelataran.”

Bintang Tenggara menganga. Dibandingkan dengan Tantangan Pertama yaitu mengurai formasi segel, bukankah bagi dirinya Tantangan Kedua ini terdengar demikian sepele…? Jikalau tak salah dengar, sehingga adalah perlombaan lari mendaki yang dimaksud, maka Bintang Tenggara sebagai pelari tangguh memiliki peluang paling besar! 

“Di sepanjang perjalanan mendaki, kalian akan menemukan berbagai macam halang rintang, termasuk formasi segel serta binatang siluman nan buas. Kalian diperbolehkan bekerja sama dan membentuk kelompok, serta kalian diperkenankan menjegal para peserta lain. Aturan yang paling utama adalah dilarang membunuh!” 

Mendengar kalimat terakhir, ke-20 peserta spontan memantau sekeliling. Mereka tentu telah menyadari yang mana kawan, dan yang mana lawan.  

“Hanya 10 peserta pertama yang paling cepat menjangkau Pelataran, yang nantinya berhak melanjutkan ke Tantangan Ketiga!” 

Si pembawa acara terdengar mulai meninggikan nada suara. Di saat yang sama, sorak-sorai riuh-rendah membahana di seantero Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Setiap tatapan mata mereka kembali terpaku pada layar yang mempertontonkan peserta unggulan mereka. 

“Muridku, engkau gagal pada Tantangan Pertama,” gerutu Komodo Nagaradja. “Jikalau pada Tantangan Kedua ini engkau tiada menduduki peringkat pertama, maka lupakanlah upaya menyembuhkan tubuhku. Hendak diletakkan dimana muka ini bilamana memiliki murid yang tiada dapat dibanggakan.”  

Bintang Tenggara menghela napas panjang, dan bersiap melompat maju. Tak perlulah sang Super Guru memicu semangat menggunakan ancaman segala, karena tak akan ada yang bisa menghalangi langkah kaki si Super Murid kali ini. Akan tetapi, tetiba persiapan anak remaja itu tertahan. Ia menoleh ke samping, dan mendapati si saudara sepupu, Balaputera Prameswara yang biasa disapa Wara, tersenyum kecut. 

Beban… batin Bintang Tenggara. Mengapa musibah justru datang di kala dirinya berpeluang berada di atas angin? Dalam keadaan normal saja, kecepatan melangkah Wara adalah biasa-biasa saja. Akan tetapi, kini pergelangan kakinya terkilir. Takdir seperti apakah ini? keluh Bintang Tenggara di dalam hati. Tiada mungkin ia meninggalkan sang saudara sepupu seorang diri... Tiada mungkin pula ia meminjam keterampilan khusus si Maha Maha Tabib Surgawi untuk menyembuhkan pergelangan kaki Wara. Tak terbayangkan… 

“Dengan ini, Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang… Tantangan Kedua, Gunung Pagar Alam… resmi dimulai!” 

“Srek!” 

Sebagian besar peserta dari beberapa kadatuan bergerak serempak. Akan tetapi, pergerakan mereka bukanlah mendaki maju. Mereka berkumpul menjadi dua kubu… 

Kubu pertama merupakan perwakilan dari Kadatuan Ketiga, Kadatuan Kelima serta Kadatuan Keenam, yang segera mengepung peserta dari Kadatuan Kedelapan. Enam mengepung dua!

Di saat yang sama, kubu kedua yang terdiri dari para peserta Kadatuan Kedua, Kadatuan Keempat serta Kadatuan Ketujuh mengepung Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara! Tujuh lawan dua! 

Satu-satunya kelompok peserta yang tiada terlibat perseteruan, adalah ketiga remaja dari Kadatuan Kesatu. Mereka segera melesat tanpa rintangan dalam upaya mendaki lereng gunung. 

“Apa yang kalian lakukan…!?” hardik Balaputera Prameswara. “Ketiga pesaing dari Kadatuan Kesatu sudah memulai pendakian!”

“Tentu saja mereka akan menempati tiga tempat teratas,” terdengar jawaban mengejek. “Akan tetapi, bukankah masih tersisa tujuh tempat lagi…?” 

Bintang Tenggara, dalam kepungan, mulai memahami rencana remaja-remaja ini. Mereka akan terlebih dahulu menyingkirkan pesaing dari Kadatuan Kedelapan dan Kadatuan Kesembilan. Setelah itu, baru mereka memperebutkan sisa tujuh tempat yang tersisa. Pada tantangan berikutnya nanti, mereka akan memiliki tujuh perwakilan untuk menyingkirkan tiga wakil dari Kadatuan Kesatu!

Sungguh rencana yang telah tersusun rapi, dan tiada mungkin dirumuskan baru-baru ini. Sudah sangat jelas, bahwasanya mereka telah menyusun muslihat dan menjalin kesepakatan sejak jauh-jauh hari! 

“Hahaha….” Tetiba terdengar gelak tawa membahana dari sisi samping. Balaputera Naga terlihat tertawa terpingkal-pingkal. 

“Duar!” 

Balaputera Saratungga menghantamkan tubuh ke arah lawan. Sungguh formasi segel yang berwujud layaknya baju zirah terlihat demikian digdaya. Usai membuka celah kepungan, kedua remaja dari Kadatuan Kedelapan segera melompat ke sisi Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara. Balaputera Naga masih belum dapat meredam tawa.

Bintang Tenggara terpana. Si Balaputera Naga ini, walau terkesan barbar, sungguhlah cerdik. Ia memahami betul pola hubungan di antara setiap kadatuan… 

Kubu pertama (Kadatuan Ketiga, Kadatuan Kelima, Kadatuan Keenam) yang tadinya mengepung Kadatuan Kedelapan, secara umum memiliki hubungan baik dengan Kadatuan Kesembilan. Di saat yang sama, hubungan kubu pertama dengan kubu kedua (Kadatuan Kedua, Kadatuan Keempat, Kadatuan Ketujuh) yang memusuhi Kadatuan Kesembilan, tidaklah baik pula. Jadi, di antara kedua kubu pun telah tertanam ketidakakuran. 

Walhasil, hanya dengan gelak tawa dan berpindah tempat, Balaputera Naga menggoyahkan rencana kubu pertama, maupun kubu kedua! 

“Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara,” seru Balaputera Saratungga. “Untuk sementara waktu, Kadatuan Kedelapan dan Kadatuan Kesembilan akan bekerja sama.”

“Sepakat!” jawab Bintang Tenggara tanpa pikir panjang. Di saat yang bersamaan, kilat berderak di kedua kakinya, dan ia pun melesat cepat mendaki lereng gunung. 

“Hoi… Apa yang…!? Hei!” Balaputera Naga sedikit terlambat dalam menyadari gelagat Bintang Tenggara. 

“Mengejar para peserta dari Kadatuan Kesatu,” seru Bintang Tenggara dari kejauhan, bahkan tanpa menoleh. “Kutitipkan… Tolong jaga Balaputera Prameswara!”