Episode 30 - Cincin Mustika Kalimasada


Di sebuah lembah cadas berbatu, Jaya Laksana terus berjalan melangkahkan kakinya melewati lembah itu, sekitar 12 langkah dibelakangnya seorang gadis berkulit hitam manis berambut panjang sepunggung diikat kebelakang terus mengikutinya. Jaya terus melangkah seolah-olah si gadis yang mengikutinya itu tidak ada, si gadis pun mengikuti langkah Jaya dengan cemberut.

Beberapa puluh meter kemudian Jaya melihat ada sebuah sumur tua tak bertuan yang berada di lembah tandus itu, dia menghentikan kakinya dan meneguk air dari dalam sumur tersebut. Kemudian dia menoleh kebelakangnya, Jaya menatap gadis yang sedari tadi mengikutinya, mendapati tatapan Jaya dengan wajah dingin itu si Gadis malah nyengir, dia lalu mengeluarkan seruling bambu dari balik bajunya, dan memainkan serulingnya sambil bergoyang-goyang tak karuan mengelilingi Jaya. “Ih Sableng!” gerutu Jaya sambil meneruskan langkahnya.

Mendapati ejekan “Sableng” dari Jaya, si Gadis wajah si gadis menjadi merah bagaikan udang rebus, dia memelototi Jaya sambil mendengus kesal, tapi kemudian dia melanjutkan permainan serulingnya sambil bergoyang-goyang tak karuan, Jaya pun menghentikan langkahnya, dia menatap kelakuan si Gadis dengan wajah dingin tanpa ekspresi, mendapati tatapan Jaya yang dingin itu si Gadis menghentikan permainan dan goyangannya, “Kau pikir aku bodoh kan?”

Jaya diam tak menjawab, sebenarnya hatinya sangat geli melihat goyangan si Gadis yang konyol disertai lagu tak menentu dari serulingnya itu, tapi ia juga merasa kehabisan ide untuk dapat melarikan diri dari si gadis, sudah tiga hari ini si Gadis mengikutinya terus dan selalu berhasil mengejarnya ketika Jaya mencoba untuk kabur darinya.

Jaya menghela nafas berat, kembali ia melanjutkan langkah kakinya, “Hoi Jaya! Apa masalahmu?! Kenapa kau mendiamkan aku terus selama tiga hari ini?!” Tanya si Gadis dengan nada tinggi.

Jaya tidak menjawab, ia terus berjalan. “Cih benar-benar laki-laki tak ramah, beda jauh dengan Kang Lesmana yang perhatian!” cibir si Gadis yang mulai membanding-bandingkan Jaya dengan almarhum Lesmana putra Ki Demang Sukma dari Desa Cisoka, mendengar itu Jaya menghentikan langkahnya.

Jaya menatap tajam pada wajah si gadis, “Galuh dengar baik-baik! Pertama, Jadi kau membandingkan aku dengan almarhum Lesmana? Untuk apa kau membandingkannya? Kedua, selama tujuanmu berjalan bersamaku untuk memanfaatkan aku membalaskan dendanmu pada Prabu Kertapati dan pihak kerajaan Mega Mendung, aku keberatan untuk jalan bersamamu! Sebaiknya kita pergi ke Rajamandala sendiri-sendiri saja!”

Galuh nyengir karena merasa Jaya mulai termakan umpannya agar membuka mulut untuk berbicara dengannya, namun ia masih belum bisa mengatakan tujuan ia yang sebenarnya mengikuti Jaya. Memang harus ia akui bahwa ada niat untuk memanfaatkan Jaya membalaskan dendamnya pada Prabu Kertapati, tapi tujuannya yang sebenarnya bukan hanya itu, maka ia pun berkata lagi didepan wajah Jaya, “Hei setidaknya beritahu ini, ketika kau bertarung melawan mayat-mayat hidup di Kademangan Cisoka, cincinmu itu memancarkan cahaya biru yang sangat menyilaukan, kekuatanmu seolah bertambah besar dan kekuatan mayat-mayat hidup itu berkurang! Kau juga menggunakan cincin itu untuk mengobatiku sehabis pertarungan kita di Bukit Tunggul bukan?”

Tatapan Jaya semakin tajam dengan penuh kecurigaan, “Jadi apa tujuanmu sebenarnya mengikuti Galuh? Apakah kau mengikutiku karena cincin mustika ini?”

Karuan Galuh menjadi salah tingkah ia merasa telah salah bicara membuat Jaya jadi menaruh curiga terhadap dirinya, tapi ia tak sanggup mengatakan bahwa tujuannya mengikutinya adalah perintah dari gurunya agar Jaya Laksana menikahi dirinya, menjawab untuk bersama mengalahkan Prabu Kertapati pun tak mungkin sebab Jaya pasti akan marah dan akan mencegahnya untuk membalas dendam, Galuh hanya bisa mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya. 

“Galuh kalau kau ingin cincin ini ambilah! Cincin ini akan terlepas dari jariku kalau kau memang berjodoh memilikinya!” Jaya menyodorkan tangannya, batu mulia di cincin itu tiba-tiba menyala memacarkan cahaya biru tua yang sangat terang, entah mengapa seolah terhipnotis sekonyong-konyong Galuh jadi merasa sangat penasaran pada cincin itu begitu melihat cincin itu memancarkan cahayanya, dengan seluruh tenaga luar-dalamnya, ia pun menarik cincin tersebut berusaha melepaskannya dari jari Jaya, tapi cincin itu tak bergerak sedikitpun, sampai gadis ini kehabisan nafasnya dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat, hingga akhirnya Galuh jatuh kelelahan bermandikan peluh.

Betapa kecewanya hati Jaya mendapati Galuh mencoba merebut cincin pusaka pemberian Kyai Supit Pramana, ia jadi semakin salah sangka pada Galuh, “Galuh sebaiknya jangan ikuti aku lagi! Kita berpisah disini saja!” pungkas Jaya yang langsung melangkah meninggalkan Galuh.

Mendengar ucapan Jaya tersebut, Galuh seolah baru tersadar lagi, kini ia marah terhadap dirinya sendiri, mengutuk dirinya sendiri, merutuk dalam hantinya pada diri sendiri, betapa bodohnya ia bisa tergoda oleh cincin mustka Jaya, ia sangat menyesal! Tapi ia tak menyerah begitu saja, “Aku si Dewi Pengemis Bukit Tunggul tidak akan menyerah begitu saja! Aku sudah terbiasa diusir dan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan!” tegasnya pada Jaya, kembali ia mengikuti langkah pemuda itu. Jaya hanya menggelengkan kepalanya sedikit sambil terus berjalan.

“Hoi Jaya, kekuatan adalah segalanya! Kesaktian dan kekuasaan melambangkan kekuatan yang sejati! Jika cincin mustika itu bisa memberikan kesakitian yang lebih dan mengusir kekuatan ghaib ilmu hitam, barangkali kamu bisa menjadi raja Mega Mendung!” seloroh Galuh.

Untuk kesekian kalinya Jaya menghentikan langkahnya, kali ini ia menatap Galuh dengan tatapan sendu, “Apakah itu semua yang ada dalam pikiranmu Galuh? Tadinya aku pikir kamu sudah insyaf sejak kusantroni engkau di Bukit Tunggul dan sejak kejadian di Kademangan Cisoka itu! Aku kecewa padamu Galuh!” ucap Jaya.

Kembali Galuh menyadari bahwa ia salah bicara “Oh tidak, lagi-lagi aku salah bicara! Bodohnya aku!” tapi kemudian ia jadi mendengus kesal pada Jaya, “Sebenarnya apa sih yang ada di dalam benak pria itu? Kenapa ia tidak bisa menangkap isyarat-isyarat yang aku berikan? Kenapa ia tidak bisa seperti Kang Lesmana sih?” makinya dalam hati. Ia juga merutuki dirinya sendiri, ia sendiri sudah berusia 20 tahun, usia yang sudah cukup matang bagi seorang gadis untuk menikah pada masa itu, tapi ia masih tidak dapat memahami apa yang ia rasakan pada Jaya sehingga ia tidak tahu harus mengatakan dan berbuat apa pada Jaya, ia juga tidak mengerti bagaimana caranya untuk menarik perhatian Jaya.

Tapi dasar gadis yang keras hati, Galuh malah melangkah menyusul Jaya dan berseloroh, “Aku ini seorang pengemis! Aku sudah terbiasa diusir-usir! Aku tidak akan berhenti hanya karena disuruh olehmu! Aku tidak akan pergi selama aku tidak ingin untuk pergi!”

Galuh mulai lagi meniup serulingnya lalu berjoged dengan gerakan tak menentu mengikuti langkah kaki Jaya, Jaya hanya bisa menghela nafas sambil terus melangkah mendapati sikap Galuh yang menurutnya aneh tidak seperti gadis-gadis lainnya itu, ia sendiri harus mengakui bahwa walaupun hatinya kecewa karena Galuh mengikutinya untuk cincin mustikanya (ia salah mengira niat Galuh yang sebenarnya), ada suatu perasaan suka kalau Galuh masih mengikutinya, ia tidak mengerti mengapa ada perasaan itu meskipun di pikirannya Mega Sari masih kerap menghampirinya.

Tidak terlalu terlalu jauh dari tempat Jaya dan Galuh berada, sebuah kereta kuda berukuran besar yang ditarik dua ekor kuda berwarna cokelat melaju cukup kencang. Enam pengawal terpercaya mengawal kereta ini, dua didepan, dua disamping masing-masing satu di kiri-kanan, dua dibelakang, dilihat dari bentuk serta jenis kereta kuda tersebut, nampaklah mereka adalah seorang pedagang bersama keluarganya yang dikawal oleh para jawara bayaran.

Debu menggebubu sepanjang jalan yang mereka lalui. Setelah sekitar dua jam perjalanan meninggalkan Kademangan Padalarang jalan yang ditempuh mulai banyak lobang-lobang dan batu-batunya. Kusir memperlambat jalan kereta terutama ketika melewati satu pengkolan tajam. Selewatnya sebuah penurunan jalan yang mereka lalui baik kembali dan menyusuri tepi sebuah kali kecil berair jernih. Pengawal di depan sebelah kanan melambaikan tangan memberi tanda berhenti. Ketika kereta itu berhenti maka tersibaklah tirai jendela dan sebuah kepala berparas jelita remaja yang berkulit putih mulus munculkan diri ke luar.

“Ada apa berhenti?” Suara gadis ini bertanya begitu merdu. 

Kepala pengawal menjura sedikit dan menjawab, “Kuda-kuda kita perlu diberi minum, Tuan Puteri…”

Si gadis belia berkata pada seseorang didalam kereta “Katanya kita beristirahat sebentar untuk memberi minum kuda-kuda kita Abah.” 

Dari dalam kereta terdengarlah suara seorang pria yang dari suaranya dapat ditaksir bahwa ia adalah seorang pria paruh baya yang berbadan cukup tambun. “Baiklah Permani, kita memang sudah berjalan cukup jauh dari Padalarang.” Gadis yang bernama Permani itu menutupkan tirai jendela kembali. Kusir turun dari kereta dan membawa kedua ekor kuda coklat ke tepi kali. Delapan ekor binatang itu kemudian seperti berebutan memasukkan mulutnya ke datam air kali yang bening sejuk. 

Beberapa waktu berlalu maka rombongan bersiap-siap untuk melanjutkan kembati. Namun belum lagi kusir naik ke atas kereta empat orang penunggang kuda muncul di tempat itu. Badan tegap-tegap dan muka mereka tak dapat dikenali karena kepala masing-masing tertutup dengan kerudung kain hitam yang dilubangi di bagian matanya. “Perjalanan kalian hanya sampai di sini!” kata penunggang kuda paling depan. Suaranya berat dan parau, disertai dengan tenaga dalam sehingga tak mungkin untuk mengenali suaranya yang asli. 

Enam pengawal kereta yang tahu bahwa manusia-manusia berkerudung kain hitam itu datang bukan dengan membawa maksud baik segera cabut pedang! Melihat ini orang yang tadi bicara tertawa mengekeh. “Kalian kunyuk-kunyuk Juragan Surya kalau masih ingin selamatkan batang leher segeralah tinggalkan tempat ini! Cukup tinggalkan kereta itu beserta isinya buat kami!”

“Bangsat rendah! Berani merampok Juragan Surya! Terima pedangku!” bentak kepala pengawal. Dia melompat ke muka dan pedangnya berkelebat, berkilauan ditimpa sinar matahari! Manusia berkerudung sentakkan tali kekang kuda dan miringkan badan. Berbarengan dengan itu kaki kanannya meluncur dengan sangat cepat. Kepala pengawal kereta terpekik. Pedangnya lepas dan mental sedang sambungan sikunya yang dimakan tendangan tanggal dari persendian! Dia mengeluh kesakitan, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi sambungan sikunya yang copot! 

Lima pengawal yang lain tanpa banyak bicara segera menyerbu dan disambuti oleh tiga laki-laki lainnya yang memakai kerudung. Setelah terlibat dalam dua jurus pertempuran maka terdesaklah kelima pengawal kereta meskipun mereka unggul dalam jumlah. Sementara itu di dalam kereta, mendengar suara ribut-ribut dan disusul dengan suara beradunya senjata dengan hati cemas Permani dan Juragan Surya singkapkan tirai jendela. Dia terkejut sekali melihat ada sesosok tubuh berkerudung melangkah mendekati kereta. dan mengulurkan tangan untuk membuka pintu kereta!

“Permani Widuri dan ayahnya Juragan Surya… kalian tak usah cemas! Apa yang terjadi di,sini hanya pertunjukan biasa saja. Silahkan turun…!” ucapnya dengan suara serak dan parau. 

“Kalian siapa…?!” bentak Juragan Surya.

“Siapa kami itu tidak penting. Turunlah!” sentak si kerudung hitam. 

“Rampok-rampok biadab! Kalau kalian tahu siapa aku segeralah tinggalkan tempat ini sebelum pasukan kerajaan datang menumpas kalian!” ancam Juragan Surya.

Laki-laki berkerudung tertawa bergelak “Hahaha siapa yang tidak kenal Juragan Surya, tuan tanah penjilat pemerintah Mega Mendung, pedagang curang yang melakukan segala cara demi keuntungannya sendiri!”

Dibukanya pintu kereta dan diulurkannya tangan kanan untuk menarik Permani keluar dari kereta. Kusir kereta yang sejak tadi seperti terpukau melihat pertempuran yang berkecamuk di depan matanya, ketika mengetahui bahwa Juragan Surya dan Permani hendak diperlakukan secara kasar segera mengambil cambuk kereta dan mendera punggung laki-laki berkerudung.

“Rampok laknat! Berani mengganggu Juraganku!” Dan cambuk itu mendera lagi beberapa kali. Laki-laki berkerudung memutar tubuh. Sekali dia gerakkan tangan maka berhasillah dia merampas cambuk itu. Dan kini cambuk itu dipakainya untuk melecuti muka kusir kereta. Kusir ini menjerit-jerit. Kemudian dengan kalap mencabut golok pendeknya dan menyerang si muka berkerudung. Namun hanya dengan mengelak dan sekali tendang saja maka kusir kereta itu terpelanting ke tebing kali, masuk ke dalam kali. Tubuhnya segera hanyut terbawa air, tenggelam timbul karena sebelum jatuh ke dalam kali tendangan laki-laki berkerudung telah membuatnya pingsan terlebih dulu!

Pertempuran antara lima pengawal dan tiga laki-laki berkerudung lainnya tak berjalan lama. Ketiga pengawal itu menggeletak di tanah bermandikan darah, sementara yang dua lagi terluka parah. Sementara itu di atas kereta Permani berusaha melawan dan meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun secara paksa, Juragan Surya pun berontak berusaha mencabut Keris pusakanya yang terselip di pinggangnya, tapi tangan si kerudung hitam bergerak lebih cepat mencabut goloknya yang terselip di pinggangnya, golok itu berkelebat dan Crasshhh! Juragan Surya tewas seketika itu juga dengan leher hampir putus dengan tubuhnya! “Abahhh!!!” jerit Permani, dengan sekuat tenaga gadis belia ini berusaha melawan si kerudung hitam. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya. Permani dinaikkan ke atas kuda.

“Cepat bereskan mereka semua! Lemparkan semua mayatnya ke dalam kali! Ambil semua yang berharga dari dalam kereta!” perintah laki-laki berkerudung yang sudah naik ke atas punggung kudanya. Tapi sebelum ia memacu kudanya dan ketiga anak buahnya menghabisi dua sisa pengawal Juragan Surya, tiba-tiba munculah seorang pemuda berbadan tegap berambut gondrong, berkulit putih, berpakaian serba biru dengan ikat kepala cokelat bermotif batik melingkar di kepalanya, bersama dengan seorang gadis berkulit hitam manis, berambut lurus panjang, yang juga berpakaian serba biru.

“Lagi-lagi aku melihat kebiadaban yang tak berprikemanusiaan di bumi Mega Mendung ini!” rutuk si pemuda yang tak lain adalah Jaya Laksana, keempat perampok itu terkejut bukan main melihat kedatangan mereka berdua yang nyaris tak menimbulkan suara itu.

“Siapa kalian?! Apa kalian berdua juga hendak mampus?!” bentak si kepala begal yang masih membopong Permani diatas kudanya.

“Kami adalah elmaut yang sengaja datang kemari untuk mengirim kalian ke akherat!” bentak Galuh.

“Kurang Ajar! Ringkus mereka!” ketiga orang itu langsung mengerubungi Jaya dan Galuh, Galuh langsung menyerang ketiga pengeroyoknya itu, sementara Jaya melompat langsung menerjang pemimpinnya. “Lepaskan gadis itu!” bentak Jaya.

“Enak saja kau memerintahku pemuda kunyuk! Kau tahu siapa aku?!” sahut si cadar hitam marah sekali, Jaya lalu teringat pada cerita-cerita yang ia dengar dari berbagai desa yang telah ia lalui tentang kabar komplotan perampok yang disebut Jubah Hitam karena mereka semua memang mengenakan jubah hitam, dengan pemimpinnya yang bernama Surablabak.

“Siapa yang tidak kenal dengan kelompok perampok Jubah Hitam yang dipimpin oleh Surablabak, yang suka merampok dan memperkosa gadis-gadis yang tidak bersalah di kaki gunung Masigit ini?!” jawab Jaya.

“Kalau kau sudah tahu namaku kenapa tidak segera melarikan diri dari sini hah?!” Tanya Surablabak dengan jumawa.

Jaya tertawa mengkehkeh “Hehehe... Tapi aku juga tahu kau baru berani muncul setelah gerombolan perampok Macan Seta ditumpas tiga tahun yang lalu oleh dua orang murid Kyai Pamenang dari Padepokan Sirna Raga, itu artinya kemungkinan kau adalah bekas anak buah Macan Seta yang tewas itu!”

Surablabak kaget bukan main mendengar ucapan Jaya tersebut, ia memang adalah bekas anak buah Macan Seta yang berhasil menyelamatkan diri, setelah Macan Seta tewas, ia bersama ketiga kawannya kembali melakukan perampokan di sekitar gunung Masigit, namun bedanya mereka tidak menyatroni desa-desa, mereka hanya mencegat para pedagang yang lewat di wilayah sekitar Kademangan Padalarang dan Citatah. Ia kemudian seperti pernah melihat Jaya, ia memperhatikan wajah Jaya dengan seksama, kini ingatlah ia siapa Jaya, ia adalah salah seorang pemuda murid Padepokan Sirna Raga yang menumpas gerombolan Macan Seta tiga tahun yang lalu!

“Kau! Ya aku ingat kau! Kau salah satu yang menumpas gerombolan Macan Seta!” tunjuknya.

Jaya menyeringai “Kalau sudah ingat segeralah tinggalkan gadis itu dan enyahlah dari sini!”

Surablabak sebenarnya jerih juga pada Jaya, tapi merasa kemampuannya sudah meningkat dari tiga tahun yang lalu, ia pun menjadi berani pada Jaya. “Kurang Ajar! Berani menghina Surablabak berarti maut!” Surablabak mendengus ia lalu melompat dari atas kudanya, menerjang Jaya!

Tendangan kaki kanan dan tinju kiri kanan menyerang susul menyusul ke tempat-tempat terlemah dari Jaya Laksana! Namun dengan membentak keras dan berkelebat cepat ketiga serangan lawan dapat dikelit oleh Jaya. Penasaran sekali Surablabak memburu lagi dengan satu serangan berantai. Kali ini, pada saat tangan kanan Surablabak memukul ke muka, Jaya sengaja menyongsong datangnya lengan lawan. Maka beradulah lengan dengan lengan! Surablabak terpekik. Tubuhnya terpelanting ke belakang sampai punggungnya menghantam  sebuah pohon! Lengan kanannya yang beradu dengan lengan lawan kelihatan biru dan bengkak besar. Sakitnya bukan alang kepalang! 

Karena tadi Jaya Laksana melayaninya seperti acuh tak acuh, Surablabak tidak menduga kalau kehebatan lawan demikian lihainya. Sesudah mengurut lengannya yang bengkak biru serta mengalirkan tenaga dalam ke bagian yang terpukul itu maka kemudian Surablabak dengan tangan kirinya menghunus sebilah golok Cibatu dari balik pinggang. Tanpa banyak bicara kepala perampok Jubah Hitam itu segera lancarkan serangan dahsyat. Surablabak memang seorang kidal dan permainan goloknya juga sudah mencapai tingkat yang matang. Apalagi dengan mempergunakan tangan kiri itu maka serangan-serangannya sukar diduga.

Namun Jaya sudah punya rencana sendiri terhadap manusia jahat ini! Dibiarkan dan dielakkannya saja untuk beberapa lamanya serangan-serangan golok Surablabak. Kepala perampok ini semakin gemas dan geram, ia tidak menyadari bahwa ilmu silat lawannya ini jauh berada diatasnya. Dipercepatnya gerakannya namun tetap saja tiada mencapai hasil yang dikehendakinya. 

“Pegang senjatamu erat-erat, Surablabak,” kata Jaya memberi ingat. Surablabak masih belum mengerti apa maksud ucapan lawannya itu. Bahkan dia sama sekali tidak dapat melihat dengan jelas gerakan kedua tangan Jaya. Tahu-tahu saja dirasakannya golok cibatunya terlepas dari tangan. Laki-laki ini mengeluarkan seruan tertahan. 

Memandang dengan tak percaya pada tangan kirinya yang kosong! Jaya tertawa mengekeh dan melompat ke muka. Tangan kanannya terkembang seperti hendak mencengkeram muka Surablabak. Yang diserang cepat merunduk dan berusaha menyodokkan lipatan sikunya ke perut lawan. Tapi kali ini Surablabak tertipu. Tangan yang menyerang dan hendak mencengkeram itu hanya gerakan palsu belaka. 

Tanpa dapat dikelit lagi oleh Surablabak maka dua ujung jari tangan kanan Jaya yang meluncur ke rusuk kirinya. Mendadak sontak detik itu juga tubuh Surablabak menjadi kaku tegang. Tangan dan kakinya tak bisa digerakkan lagi, tapi mulutnya masih sanggup bicara, telinganya masih bisa mendengar, demikian juga indera-inderanya yang lain masih tetap seperti biasa. Jaya Laksana sengaja menotok laki-laki itu demikian rupa, sesuai dengan rencananya.