Episode 65 - Guest from Marchestast


Malam hari di Seas of Destiny, Alzen duduk seorang diri, melihat cahaya bulan yang menerangi laut malam, di tambah deru angin laut yang menggoyang-goyangkan rambutnya. 

"Alzen, kau sudah menunggu lama?" tanya Leena yang baru sampai. Ia mengenakan baju casual kaos berwarna pink dengan celana jeans pendek.

"Ti-tidak kok. Baru juga sampai."

"Hoo..." Leena berjalan dan duduk di samping kanan Alzen. "Gimana dengan kumpul-kumpulnya kemarin? Kapan-kapan aku ikut ya."

"Bo-boleh... tapi kemarin aku terlambat, mereka sudah pulang duluan."

"Uhmm begitu ya. Sayang sekali ya." Leena duduk di kursi taman dekat situ. "Ohh iya Alzen... guru pengganti Volric hari ini, mengajarkan sihir yang berbahaya, rasanya dia orang yang mengerikan deh." kata Leena memulai pembicaraan.

"Mengerikan?" Alzen berbalik.

"Iya... masa dia mengajarkan cara meledakkan kepala orang dengan sihir hitam di kelas. Dia benar-benar keluar jalur rasanya. Sekalipun hanya menggunakan dummy dari sihirnya. Tapi tetap saja, apa sihir seperti itu harus diajarkan di kelas? Kita tidak sedang menghukum kriminal kan?" 

"Meledakkan kepala!? Sihir seperti itu diajarkan di kelas."

"Iya, kemudian Nicholas, dia terlihat agak kurang sehat atau apa? Di kelas ia hanya diam seperti ketakutan tapi juga terlihat kesal. Sikapnya, tidak seperti dia biasanya..."

"Sepertinya banyak hal selalu terjadi di kelasmu ya?" balas Alzen.

"Ya begitulah," kata Leena. "Sepertinya kelasmu dan kelas lainnya baik-baik saja ya?"

"Tidak juga sih... Di kelasku ada anak tengil bernama Fhonia. Dia tidur melulu kalau di kelas. Tapi ajaibnya, dia menyerap semua yang diajarkan pak guru Kazzel."

Leena mengangguk. "Ya, ya! Aku sedikit kenal dengan Fhonia, dia berisik, periang, energik, tidak pernah serius tapi sebenarnya ia jenius."

"Lalu ada anak kecil yang belajar di kelasku, Zio Mirtel namanya... Dia..."

"Mi-mirtel? Tunggu dulu, tunggu dulu..." Leena berpikir, kepalanya menunduk lengannya di lipat dan jari telunjuknya ditempelkan di bagian tengah dahi. 

"Huh? Kenapa?"

"Nama belakangnya mirip sekali dengan teman kakakku dulu, sewaktu kakak masih belajar di Vheins! Kalau gak salah namanya... Lexion Mirtel. Iya betul! Lexion Mirtel namanya."

"Lexion? Mirtel? Seperti apa orangnya?"  

"Orangnya mirip kayak kamu. Rambutnya sama-sama berwarna biru. Hanya saja dia panjang rambutnya, lebih seperti rambutku." Kata Leena sambil mengelus rambutnya. "Dan ia mengenakan kacamata. Dia teman akrab kakakku dulu."

"Si-siapa?" Alzen bertanya ulang.

"Lexion Mirtel. Kau tidak tahu dia? Bounty Hunter terkenal yang dijuluki sebagai Master of Ice." kata Leena.

"Maaf, aku memang kurang informasi terhadap dunia luar. Jadi aku tak pernah mendengar tentang dirinya." 

"Uhm begitu ya, kamu tinggal di tempat yang agak unik sih ya."

"Tapi tunggu dulu, aku baru pertama kali dengar. Kakakmu dulu sekolah di Vheins juga?" tanya Alzen. "Dia orang yang seperti apa?"

"Ya memang aku tak pernah cerita. Aku punya kakak laki-laki... umurnya beda 10 tahun denganku, jauh sekali ya. Karena ibuku menikah cukup muda, makanya ibu masih belum terlalu tua sekarang. Sekarang kakakku bekerja jauh dari benua Azuria. Entahlah itu dimana, dia jarang memberi kabar. Yang kami tahu dia hanya pergi jauh untuk bekerja."

"Hmm... kakakmu orang hebat ya?"

"Tentu saja! Waktu kecil, aku ingin sekali lebih kuat darinya, lebih pandai darinya atau paling tidak, bisa hampir mendekatinya saja sudah jadi impianku. Dia idolaku semasa kecil." kata Leena, mengingat masa lalunya. 

Alzen berjalan dan duduk duduk di samping Leena.

"Dibanding denganku, dia selalu unggul dalam segala hal. Dan tak pernah sekalipun aku menang darinya dalam hal apapun. Dia terlalu hebat untuk kulampaui." kata Leena. "Sampai akhirnya aku capek sendiri, dan menyerah untuk berusaha melampauinya. Tapi jika dipikir-pikir, cara bertarungku, semangat belajarku, motivasi bertumbuhku. Semua berasal dari meniru dirinya. Dia juga memiliki gaya yang bertarung yang sama denganku, elemen yang digunakan sama denganku. Atau mungkin terbalik, akulah yang sama dengannya. Hanya saja dia selalu jauh lebih kuat. Sekeras apapun aku mencoba melebihinya."

Sambung Leena. "Sewaktu melawan Sintra di turnamen, dia terlihat ingin sekali melampauiku, sama seperti halnya aku ingin sekali melampaui kakakku. Dan kita sama-sama tak pernah berhasil melampaui orang yang kita ingin lampaui."

"Tapi tak salah kan mengejar seseorang yang lebih baik dari kita untuk kita jadikan motivasi untuk menjadi lebih baik?" kata Alzen.

"Ya memang tak salah. Tapi bagaimana kalau orang yang kita kejar tidak akan pernah kita lewati. Sekeras apapun kita berusaha. Benar-benar sangat membuat frustasi."

"Memang... tapi yang jelas, kita juga sudah lebih baik dari diri kita sebelumnya kan?"

"A-Alzen..." Leena tersenyum. "Kau terlalu mensimplifikasi, tapi... kau benar."

"Coba pikir, yang jauh lebih penting dari sekadar melampaui adalah, kita sendiri. Kita jadi terus melangkah dan maju terus. Soal kita melampuinya atau tidak... itu urusan nanti. Intinya bukan untuk melampaui. Tapi terus melangkah maju dan menjadi lebih baik dari kita sebelumnya."

"Apa kau dulu juga pernah mengalaminya?"

"Ohh?! Sering..." kata Alzen dengan percaya diri.

***

Tiga hari berikutnya, kelas berlangsung seperti biasa. Mengajarkan aplikasi elemen yang mereka pelajari di kelas masing-masing. Teori berlangsung lebih sedikit dan setiap pelajar tidak dipaksakan untuk belajar semua peran. Melainkan bisa memilih dan fokus pada apa yang mereka butuhkan dan instruktur akan menyesuaikan kebutuhan mereka. 

Sekalipun ada kebebasan seperti itu. Mereka sudah memperingatkan dari awal, standar sekolah ini tinggi. Dan pertimbangan untuk memilih fokus bukan dari apa yang paling mudah, tapi dari apa yang paling diminati dan dibutuhkan setiap pelajar. 

Pada hari ini juga, kota Vheins menyambut dengan meriah, kedatangan tamu dari negara yang sangat jauh bernama Marchestast Empire. Mayoritas penduduk mengenali negara ini sebagai negara teknologi, meski hanya segelintir orang yang pernah mengunjungi tempat itu secara langsung.

Mereka yang pernah kembali dari Marchestast selalu bercerita pada teman-temannya dengan rasa kagum dan mata berbinar-binar. Seolah mereka baru saja kembali dari masa depan. Sebuah negara dengan banyak bangunan menjulang tinggi yang bahkan malam harinya pun tidak pernah gelap. Itu yang orang-orang sering katakan tentang negara ini.

Tamu dari Marchestast ini datang, hanya diwakili empat orang ilmuwan berjubah putih saja. Melewati kerumunan orang banyak yang menyambut mereka dari dalam mobil, yang saat ini masih begitu asing bagi orang-orang benua Azuria.

Orang banyak meneriaki mereka dengan penuh sukacita, disambut petasan-petasan sihir dan alat musik yang begitu meriah. Kedua ilmuwan muda yang duduk di belakang mobil, membalas sambutan mereka dengan melambaikan tangan. Mereka dibuat seperti orang yang sangat-sangat penting. Perlahan mereka melajukan mobilnya hingga ke gerbang universitas, sampai sorak-sorai penduduk non-penyihir Vheins tak bisa mengikuti mereka lagi.

***

Mereka tiba di lapangan luas universitas Vheins dan masing-masing keluar dari mobilnya.

"Wahhh... jadi begini ya... rasanya disambut orang-orang Vheins itu..." kata salah seorang ilmuwan muda yang senang sekali dengan sambutan itu. Ia berambut hitam belah tengah berkacamata. Anak itu begitu sukacita melambaikan tangan di luar tadi. Ia duduk di kursi belakang sebelah kiri mobil. "Kita dibuat seolah begitu penting disini."

"Aku sudah dua kali datang ke sini." kata rekannya yang lain. Seorang pria tinggi berambut pirang keputihan dengan rambut cukur samping yang duduk di samping ilmuwan sebelumnya. "Dan rasanya nagih sekali."

"Uhugg! Uhugg!" kata ilmuwan yang lain, yang duduk di bangku kemudi. ia berambut panjang hitam kebiruan dan di bawah matanya memiliki kantung hitam wajahnya terlihat seperti orang yang jarang keluar rumah. "Hei... kita kesini untuk misi penting, bukan untuk main-main."

"Tahun demi tahun, kota penyihir ini semakin maju." kata pemimpin kelompok ini. Ilmuwan tua berambut putih berkumis dan berjanggut. "Tapi tetap ada satu teknologi sihir yang paling menarik perhatian kita. Yang tahun demi tahun hak ciptanya tak pernah kita dapatkan."

"Ohh... benda itu ya?" kata si ilmuwan muda berkacamata. "Yang membuat kita dapat..."

"Selamat datang di Vheins. Professor Vogelweid." sambut Vladenxius diikuti dengan para instruktur Vheins di belakangnya, mengikutinya dengan barisan rapih dan gagah.

Dari kiri ke kanan, Ada Kazzel, Glaskov, Aeros, Lasius, Vlaudenxius, Alexia Andini, Eriya, dan Lunea.  

 "Senang bertemu denganmu." Vladenxius mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Senang bertemu denganmu kembali," kata Vogelweid si ilmuwan tua itu sambil berjabat tangan. "Pak Gubernur."

"Kawan-kawan," kata Vogelweid berbalik badan. "Perkenalkan, penyihir terhormat ini adalah Vladenxius Albertus. Dia Gubernur di provinsi Vheins dan sekaligus merangkap sebagai kepala sekolah kota ini."

Ketiga ilmuwan yang lain maju dan berjabat tangan dengan Vladenxius satu persatu sambil memperkenalkan diri.

"Sa-salam kenal." kata ilmuwan berkacamata itu. "A-aku Eric. A-aku baru pertama kali datang kesini. Ko-kota ini betul-betul luar biasa!" ucapnya dengan gugup.

Vlaudenxius hanya membalas dengan senyum.

"Aku Sonny," kata si pria tinggi berambut pirang keputihan itu. "Aku..."

"Ahh... aku ingat kamu. Dua tahun lalu kamu datang kesini." kata Vladenxius.

"I-Iya..." Sonny tak tahu harus membalas apa.

"Sayang, tahun lalu Azuria sedang terjadi perang besar. Kunjungan kalian jadi terhalang." kata Vlaundenxius.

"Tapi kalian sudah menikmati masa damai kan sekarang?" Sambung Vogelweid. "Negara tiran itu sudah jatuh. Dan..."

"Tidak juga, Dalemantia Empire memang sudah tidak ada, tapi sekarang muncul negara baru yang menduduki tanah mereka."

"Arcales Empire ya? Bahkan beritanya sampai ke North Azuria."

"Hah...ahh..." Si ilmuwan berambut panjang itu menghela nafas sambil mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala. "Perang, politik. Masalah itu memang tak pernah lepas dari peradaban manusia. Saat satu wilayah damai, wilayah lainnya malah memulai perang yang lain. Kapan dunia ini terbebas dari perang yang tak berarti..."

"Noire!" Vogelweid memperingatkan. "Jaga mulutmu!"

"Haa? Bukannya kita kesini untuk berunding soal penemuan-penemuan terbaru?" kata Noire, ilmuwan berambut panjang dengan kantung mata itu. "Mengapa kita membuang-buang waktu membahas masalah perang yang tak ada selesainya?" ucapnya dengan nada kesal.

"Noire!" bentak Vogelweid. "Tolong jaga sikapmu di depan pak guber-"

"Aku sependapat dengannya." sela Vladenxius sambil menepuk pundak Profesor Vogelweid. "Mari ikut denganku dan kita akan merundingkan soal hal yang jadi alasan kalian datang kemari."

***

Vlaudenxius mengajak mereka ke ruangnnya. Sebuah ruangan besar yang berisi deretan rak buku dan di belakang meja kerja Vlaudenxius, terdapat sebuah globe besar dengan dua cincin besar mengelilinginya.

"Wahh..." Eric terpukau. "Benar-benar tempat yang hebat."

"Oke anak-anak. Tamu kita sudah datang." kata Vlaudenxius di depan 13 pelajar yang dipilih untuk ikut berunding di tempat ini. Disana ada Alzen, Nicholas, Leena, Ranni dan Sever yang mewakili pelajar tingkat 1. Delapan orang sisanya adalah pelajar tingkat 2. "Tuan-tuan sekalian, silahkan duduk di bangku yang telah kami sediakan."

"Terima kasih pak gubernur." balas Vogelweid dan berjalan menghampiri kursi mereka.

Mereka duduk di sebuah meja kayu panjang bermuatan empat bangku seperti layaknya kursi hakim. Di depan mereka duduk 13 pelajar terpilih dengan meja berbentuk huruf U melengkung, seperti halnya sepatu kuda. 

Di tengah-tengahnya, tepat lurus di hadapan keempat tamu ini, Vlaudenixius dan Alexia yang mengenakan gaun merah, dengan topi penyihir besar dengan ujung atas yang lancip namun melengkung turun, duduk di sisi kiri Vlaudenxius, jadi total ada 15 kursi yang di duduki mereka.

Di belakang kursi pelajar terpilih juga di dampingi dengan para instruktur yang berdiri. Di sisi kanan dari sudut pandang keempat tamu terdapat kumpulan instruktur tingkat dua, dan di sisi satunya terdapat kumpulan instruktur tingkat dua. Yang sosoknya baru pertama kali dilihat Alzen, Leena dan Nicholas.

"Baik, Terima kasih sodara-sodara, telah menerima kami kembali di sini. Ehem... baik, kita kurangi basa-basinya dan langsung ke intinya." kata Vogelweid sambil mengeluarkan berkas-berkas di tasnya dan menepuk-nepuk setumpuk kertas itu di atas meja. "Kami dari ketahun-tahun ingin sekali mendapatkan izin untuk mengembangkan salah satu teknologi yang kalian punya, Kami akan mengembangkan alat itu, untuk bisa digunakan orang biasa yang tidak bisa sihir sama sekali. Penemuan ini akan sangat membantu sekali peradaban manusia dan mengurangi ketergantungan manusia terhadap kemampuan sihir. Dan alat yang kami maksud adalah..."

***