Episode 64 - Marchestast Empire


"Maaf ya teman-teman, aku pinjam Alzen sebentar." kata Leena dengan senyum tergesa-gesa menarik tangan Alzen.

"Dipinjam?" pikir Fhonia. "Jadi Alzen itu mainan?" tanya-nya ke Zio.

Zio menepuk wajah dan berkata, "Bukan..."

"Maaf ya Fhonia, Zio..." kata Alzen sambil menghadap ke belakang. "Kalau masih sempat aku nyusul deh. Bye!"

***

Leena membawa Alzen ke Seas of Destiny, saat matahari sudah hampir terbenam.

"Aku mau kasih tahu sesuatu. Banyak hal yang terjadi di kelasku Stellar. Dan aku rasa kamu perlu tahu juga." kata Leena sambil tergesa-gesa duduk di bangku besi tempat mereka berdua pernah duduk bersama dulu.

"Te-tentang apa?" tanya Alzen yang secara canggung duduk di samping Leena.

"Pertama, Volric dipecat."

"Haaahhh!!?" Alzen terperanjat kaget.

"Huh! Aku tak menyangka kamu akan sekaget itu." kata Leena sambil tersenyum menahan tawa. "Dan kedua, Hael menghilang."

"HAAAAHH!!?" Alzen lebih kaget lagi sekarang. Namun ia berpikir sejenak, ia juga punya andil dalam keputusan Hael kabur dari rumah.

"Kamu benar-benar sekaget itu ya?" kata Leena. "Dan ketiga..."

"Tu-tunggu dulu Leena. Tunggu sebentar." kata Alzen. "Volric dipecat kenapa? Dan Hael kabur kemana? Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Makanya dengarkan dulu. Ketiga hal Ini, semuanya berhubungan. Pertama, Volric dipecat karena memperlakukan Hael dengan tidak selayaknya. Lalu Kedua, Hael menghilang tiba-tiba dan tak seorangpun tahu ia pergi kemana. Gara-gara kedua hal itu, Sinus... dikeluarkan dari sekolah."

"Si, Sinus ya..." Alzen menunduk sebentar sambil mengingat perjumpamaan pertamanya dengan Sinus, di bawah kolong jembatan gelap. Sinus membully Hael. "Kalau dia sih..."

"Mereka bertiga sih memang bukan jadi masalahku selama 3 bulan terakhir. Tapi biar bagaimapun, kelas mereka ada di kelasku juga. Volric guru gak becus itu. Kini sudah dipecat dan jatuh miskin dalam sekejap.".

"Benarkah!?" Alzen tidak percaya.

"Benar, aku sudah cek sendiri. Sehari setelah ia dipecat, rumah mewahnya sudah ditempat orang lain sekarang. Lalu menurut tetangga disana. Ia dikabarkan cerai dengan istrinya dan anak-anaknya tak satupun ikut dengannya. Orang-orang bilang, ia melarat di jalan seketika. Sehari setelah dirinya di pecat."

"Sa-sampai separah itu kah!?"

"Iya... ia mengembara jauh dari Vheins karena malu dengan keadaannya sekarang. Orang-orang yang kenal dengannya bilang, mereka pernah melihat Volric mengemis di desa kecil. Kehidupannya benar-benar berubah drastis dalam sekejap."

"Lalu... siapa yang mengajar sekarang? Apa dia digantikan?"

"Ada! Guru baru kelas stellar umbra... namanya Glaskov, tapi karena baru dua hari, aku tak bisa menilai dia terlalu banyak."

"Ta-tapi... Hael..." Alzen menunduk dan memegang belakang kepalanya dengan lipatan tangan, ia merasa benar-benar menyesali ucapannya terdahulu. "Dia benar-benar pergi rupanya."

***

Tak lama kemudian, Alzen menceritakan semua yang ia alami dan sarankan pada Hael sewaktu di rumahnya dulu pada Leena yang mendengarkan Alzen secara penuh. Alzen bercerita hingga matahari terbenam dan tempat itu sudah menjadi gelap malam.

"Jadi begitu rupanya." kata Leena seusai mendengar tentang Hael dari Alzen. "Keluarganya broken home ya..."

"Aku jujur juga tak tahu apa solusi terbaik baginya. Kala itu aku ingin dia pergi dari rumahnya saja, supaya ia tidak menderita lagi. Meski lahir di keluarga kaya raya, orang tuanya tidak akur. Dan keduanya berharap terlalu tinggi pada Hael yang tidak pernah dikasihi orang tuanya. Dia tidak sanggup belajar disini, tapi ayahnya tetap memaksanya. Kalau kamu jadi aku waktu itu, apa solusi yang kamu berikan pada Hael?"

"Aku juga tidak tahu." Leena menunduk tak tahu harus jawab apa. "Keluargaku baik-baik saja. Malah aku kangen dengan ayah dan kakakku yang selalu jauh dari rumah. Aku tak pernah merasa di tekan seperti Hael. Dari luar ia tampak seperti anak lemah tidak berguna, yang bahkan tidak membalas ketika dibully orang seperti Sinus, tapi setelah tahu situasi di rumahnya..."

"Padahal dia anak orang penting, ibunya seorang menteri sihir dan ayahnya adalah ketua lembaga penegak hukum. Tapi... Keluarga mereka."

"Kalau tahu begini, aku jadi merasa menyesal telah membiarkannya dibully seperti itu. Dia sudah begitu menderita di rumahnya, ditambah lagi... Ada orang seperti Sinus."

"Bukan hanya Sinus saja, dia sudah tahun ketiga mengulang di sini. 2 tahun pertamanya juga sama buruknya. Teman-temannya mendekati dirinya untuk uangnya saja. Jika tidak diberi, Hael akan dibully mereka. Ia sudah dikhianati berkali-kali sampai susah terbuka dengan orang baru."

Leena berdiri dan mengucapkan pernyataan di hadapan laut malam yang membentang luas di depannya, "Aku berjanji! Kalau Hael kembali! Aku akan melindunginya di kelas Stellar. Dia tak boleh menderita lebih dari ini!" Leena-pun ikut berempati.

Alzen juga ikut berdiri. "Aku... juga akan melakukan hal yang sama!"

"Andai aku tahu lebih cepat." kata Leena yang merasa peduli.

Alzen duduk kembali dan bilang, "Semua sudah terjadi."

"Hari sudah mulai gelap nih, aku pulang ya, Alzen. Bye!"

"Leena! Tunggu!" Alzen mengenggam tangan Leena.

"Huh?" Wajah Leena memerah melihat tangannya bergenggaman langsung dengan Alzen.

"Ahh... ahh... Ma-maaf, maaf." Alzen langsung melepasnya dan wajahnya juga memerah.

"Ti-tidak apa-apa kok. Kenapa Alzen? Ada sesuatu yang mau kau katakan?"

"A...anu... aku mau tanya hal sepele," kata Alzen ragu-ragu. "Dari kata-katamu barusan. Kamu punya kakak ya?"

"Kamu ingin tahu tentang itu?" tanya Leena balik.

Alzen menjawabnya dengan mengangguk.

Leena langsung berbalik araha dengan menghempas rambut panjangnya. "Ra-ha-si-a..."

"Haa?" Alzen tak habis pikir.

"Aku ceritakan lain waktu saja ya. Bye-bye!" Leena berlari pergi, kembali ke rumahnya.

"Hahh, ahhh... dia selalu seperti itu."

***

Di restoran tempat teman-teman Alzen berkumpul. Sudah hampir satu jam lamanya mereka berkumpul disana. Dan makanan mereka sudah selesai, tapi mereka belum kunjung pergi dari mejanya.

"PUAHH! Kenyang!" seru Lio sambil memegangi perutnya.

"Yah... Alzen tidak datang ya?" tanya Ranni yang kini ikut makan.

"Dia diajak kakak cantik berambut pirang panjang tadi." kata Zio.

"Pirang panjang." celetuk Chandra. "Leena ya..."

"Gak ada yang bayarin deh..." Lio menyandarkan kepalanya di meja dengan lesu.

"Masa minta dibayarin Alzen mulu kamu," ledek Fia.

"Kumpul-kumpul begini seru tiap hari seru juga ya..." kata Fhonia sambil tersenyum.

"Yah... jangan setiap hari juga," kata Chandra. "Bosen nanti."

"Kak Lio mau aku bayarin?" Zio menawarkan.

"Hee? Memangnya kecil-kecil gini kamu ada duit?" Lio ragu.

"Nih!" Zio menunjukkan isi dompetnya yang berisi 20 lembar 10 ribu Rez.

"Buset!? Banyak duit kamu!" kata Lio yang seketika bersemangat, "Tapi tidak usahlah, malu dibayarin anak kecil."

"Yasudah kalau gak mau." Zio mengantungi dompetnya kembali.

Kemudian Lio kembali ke posisi sebelumnya.

"Ohh iya Ranni, kamu belajar di Ventus untuk apa?" tanya Chandra. "Kamu bisa sihir angin juga?"

"Tidak kok," kata Ranni. "Cuma ingin tahu saja."

"Ingin tahu apa? Kenapa? Kamu cari tahu apa?"

"Tidak... bukan apa-apa." Ranni enggan menceritakan yang ia pikirkan.

"...???" Chandra dan Lio memandangnya dengan rasa bertanya-tanya.

***

30 menit kemudian, Alzen baru sampai kemari. Ia telat sembilah puluh menit lamanya. Dan mendapati meja makan yang biasa di pesan, sudah ditempati orang lain..

"Hee? Sudah selesai ya?" kata Alzen. "Maaf teman-teman, aku terlambat." katanya dengan perasaan bersalah.

***

Di Dorm Alzen dan Chandra.

"Hee? Lagi belajar nih Chan!" sapa Alzen yang melihat Chandra fokus membaca buku di meja belajar. "Maaf ya aku terlambat tadi."

"Iya..." Chandra tetap fokus membaca buku. "Demi mereka yang menantikanku, aku tak boleh main-main." namun sejenak pandangannya mengarah ke Alzen. "Tapi jujur saja nih zen, aku agak gelisah dan takut kalau aku tidak bisa mengusai sihir penyembuhan ini hingga lulus nanti."

Alzen duduk di ranjangnya sambil melepas jubahnya dan bersiap tidur. "Aku percaya, kamu pasti bisa kok."

"Ngomong sih gampang ya..." Chandra menganggap Alzen hanya basa-basi.

"Kamu punya alasan yang kuat, kamu belajar demi seseorang, demi mereka yang menantikanmu kan? Aku yakin pada akhirnya kamu bisa kok."

"A-Alzen..." Chandra terhenti dan tersenyum sebentar. "Baiklah! Aku tidak akan mengecewakan mereka!"

"Baik, aku tak ingin mengganggumu, sehabis mandi, aku akan belajar di atap."

"Atap? Buat apa? Kan gelap."

"Tenang saja," Alzen menghempas api kecil dengan tangannya sambil melepas jubahnya. "Rumahku empat lantai. Aku terbiasa belajar di lantai paling atas."

"Empat lantai, rumahmu besar?"

"Tidak, sama sekali tidak. Rumahku bentuknya lebih seperti menara ketimbang rumah besar."

"Me-menara?" Chandra membayangkan.

***

Pagi berikutnya, di kelas Fragor.

"Sebelum belajar, aku mau umumkan sesuatu." kata Kazzel. "Akhir pekan ini, Vheins akan kedatangan tamu dari negeri bernama Marchestast Empire. Ada yang pernah dengar nama itu?"

"Marcess apa?" kata salah seorang anak Fragor.

"Namanya susah banget sih guru!"

"Haha... jangan salahkan aku kalau namanya susah." kata Kazzel. "Marchestast Empire, sekali lagi, Marchestast Empire."

"Mar-ches-tast, Em-pire." Murid-murid mengejanya pelan-pelan.

"Yap betul, Marchestast Empire. Mereka adalah salah satu negara besar dan salah satu yang paling berpengaruh di North Azuria, aku sendiri juga belum pernah kesana. Menurut cerita tamu-tamu yang datang, malam hari disana sangat terang benderang. Mereka tak lagi menggunakan api atau binatang bercahaya seperti kunang-kunang yang biasa kita gunakan."

Murid-murid diam mendengarkan. 

"Setiap tahun Mereka rutin datang kesini," kata Kazzel. "Paling tidak setahun atau dua tahun sekali. Negara itu tertarik dengan inovasi teknologi sihir yang kita miliki disini. Akhir pekan ini, aku minta perwakilan dari kalian untuk ikut berunding dengan mereka nanti. Jadi jika kalian bersedia, angkat tangan kalian."

Kazzel menunggu reaksi mereka, yang terlihat sangat menghindari untuk ditunjuk.

"Lohh tidak ada yang mau ya?"

Lalu Alzen mengangkat tangan. "Aku! Mau tanya dulu..."

"Oke..." Kazzel siap mendengarkan.

"Berapa orang yang ikut berunding disana?" tanya Alzen. "Apa cuma aku seorang?"

"Tentu saja tidak, cukup banyak kok. Bahkan senior kalian di tingkat dua nanti juga akan ikut berdiskusi."

"Aku juga mau guru!" Fhonia mengangkat tangan.

"Ahh..." Kazzel meragukannya. "Apa kau sungguh-sungguh Fhonia?"

"Hee? Kenapa memangnya."

"Tidak-tidak, kalau kamu ikut, nanti takut terjadi apa-apa."

"Kok gitu..." Fhonia menggembungkan mulutnya dan mengeluh.

"Pak Kazzel! Pak Kazzel!" sahut wanita berambut hitam dengan googles yang ia kenakan di atas dahinya yang duduk di samping kanan Fhonia.

"Iris, apa kau yakin?"

Iris mengangguk dengan antusias.

"Sudah-sudah, Alzen seorang saja sudah cukup. Lagipula, kebanyakan yang ikut serta juga anak-anak tingkat 2." kata Kazzel yang dengan gugup menjelaskan pada Iris dan Fhonia. 

"Yah tapi pak, aku mau..."

"Ahh oke, oke!" Kazzel berusaha mengganti topik. "Kita hari ini akan belajar menggunakan sihir petir dengan benar." katanya dengan canggung. Di tatap dua sekawan yang ingin ikut tapi diragukan kapabilitasnya disana nanti.

***

Di kelas Liquidum, Andini instruktur mereka berdiri di samping anak yang terluka untuk disembuhkan.

"Sekarang, aku minta kalian berdiri dan perhatikan aku baik-baik," kata Andini dengan nada lembut dan lambat, mencontohkan sihir penyembuhan menggunakan elemen air. Di depan murid-murid dengan ditemani satu orang staff sekolah yang sengaja terkena luka sayat. 

"Untuk dapat melakukan sihir penyembuhan, kalian perlu air bersih." kata Andini dengan lambat dan suara kecil. "Tidak seperti elemen cahaya atau angin yang tidak perlu medium apapun untuk menyembuhkan. Elemen air memerlukan medium air."

Chandra melihatnya dengan teliti.

"Kalian harus kontrol gerak airnya dengan sempurna, jika ada yang belum bisa, teruslah mencobanya. Kemudian gunakan air ini membalut luka orang yang akan kalian sembuhkan, seperti ini." Andini melakukan seperti apa yang ia katakan. "Dan dari sini, kalian cast sihir penyembuhan kalian...

"Heal !!" 

Seketika balutan air itu mengeluarkan cahaya putih terang untuk sesaat.

"Lihat! Perhatikan baik-baik, regenerasi di dalam balutan airnya, membuat lukanya perlahan-lahan hilang kan?"

Chandra menyaksikan, dari sisi transparan air itu, luka sayat anak yang jadi contoh itu perlahan kembali menjadi kulit dan lukanya hilang dalam beberapa detik saja. "Woah hebat!"

"Kalian paham cara kerjanya?" tanya Andini.

"Ya!" jawab anak Liquidum serentak.

Chandra hanya mengangguk-angguk saja. Dan mencatat apa yang ia lihat di sebuah buku kecil.

"Buat kalian yang sudah terbiasa, praktek ini pasti sangat mudah untuk kalian. Namun buat kalian yang belum mengusainya terutama anak-anak kelas pindahan, prakteknya tak semudah kelihatannya. Dan sekarang silahkan kalian coba."

Anak-anak Liquidum kembali ke mejanya dan mempraktekan sihir penyembuhan pada sebuah benda bulat tersayat yang di rancang khusus untuk menerima efek sihir penyembuhan meskipun adalah sebuah benda mati.

"Baiklah! Akan kucoba!" Chandra bertekad.

Cefhi di samping kanannya, sudah melakukan sihir itu dengan mudah, seperti sudah di luar kepala baginya. Meski pandangan matanya terus menatap Chandra yang terlihat begitu serius dan tak kunjung berhasil.

***

Di kelas Stellar bagian Umbra. Kini Nicholas sudah menghadiri kelas. Tapi tatapannya selalu terlihat kesal.

"Kemarin, sudah kuajarkan cara memperkuat Dark Force, dan kelihatannya kalian semua tipe yang cepat belajar ya." kata Glaskov dengan tersenyum. "Hari ini aku akan ajarkan teknik me-lock musuh. Perhatikan aku baik-baik."

Glaskov menghempaskan tangannya dari bawah ke atas dan memunculkan sesosok siluet manusia.

"Hiihhhh... makhluk apa itu!" anak-anak Umbra ketakutan.

"Tenang saja, sosok hitam ini akan kujadikan contoh lawan kalian. Ini sihir hitam yang sangat menyakitkan lawan. Pertama bungkus tangan kalian dengan aura hitam, seperti ini." tangan Glaskov seketika menjadi sebuah asap hitam pekat. "Lalu cekik lawan kalian seperti ini."

Sambung Glaskov. "Dan..."

CRASSSSSHHHTTT !!

Kepala bayangan hitam itu meledak.

"Hahahaha... luar biasa bukan?!" kata Glaskov dengan antusias.

"Si-sihir itu!!?" Nicholas seketika teringat kembali, saat kakaknya Nathan membunuh seorang klien dengan meledakkan kepalanya. Matanya melotot dan wajahnya berkeringat karena takut.

Seisi kelas Umbra dibuat ketakutan olehnya. Meski begitu, Velizar tetap menyaksikan dengan tatapan kosong dan tak bersemangat.

"Tak perlu ketakutan begitu, sihir ini tidak mudah untuk berhasil. Pertama jarak serangnya yang sangat pendek. Dan mencekik lawan yang jauh lebih kuat dari kita, sangatlah sulit bukan?" tanya Glaskov. "Maka dari itu, aku akan ajarkan versi jarak jauhnya. Tapi tetap tidak akan mudah jika lawan kalian jauh lebih kuat dari kalian. Yang penting dari sihir ini adalah efek menguncinya, kalian bisa membuat salah satu anggota tubuh lawan kalian seolah tertahan sesuatu dan membuatnya sulit bergerak."

"Nah sekarang..." kata Glaskov. "Ada yang mau coba?"

"Guru baru sialan ini..." kesal Nicholas hingga mengkertak giginya. "Ingin sekali rasanya kuhabisi."

***