Episode 61 - Six Class


Di kelas Fragor, hari belajar pertama setelah turnamen.

"Nah, adik kecil, sekarang kenalkan dirimu pada kakak-kakak ini ya." kata Kazzel dengan ramah.

"Baik! Haiiii kakak-kakak semua!" sapa anak berambut hitam itu. "Salam kenal! Namaku... Zio Mirtel. Umurku 10 tahun..."

"Zio Mirtel!?" Alzen teringat sesuatu. "Mirtel? Nama itu kan..."

"Nah Zio... silahkan kamu pilih tempat dudukmu." kata Kazzel mempersilahkan.

"Baik pak guru." Zio tersenyum riang.

Di saat separuh kelas merasa risih dengan anak kecil bernama Zio itu, Fhonia malah melambaikan tangan untuk menarik perhatiannya agar bisa duduk sebangku dengannya. Kebetulan di samping bangku Fhonia itu kosong, entah apa alasannya. Tanpa pikir panjang, Zio langsung berjalan dan duduk sebangku dengan Fhonia. Di saat itulah dirinya melakukan kesalahan.

Sementara itu Alzen di bangku belakang.

"Zio Mirtel? Rasanya pernah dengar," Alzen mememjamkan mata dan mengingatnya. Dan tak lama ia langsung teringat kata-kata ayahnya, 2 hari lalu. "Rynka... Rynka apa namanya. Rynka... Rynka. Kalau gak salah nama lengkapnya. Rynka Mirtel! Ahh itu dia!" diatas kepala Alzen seolah muncul lampu. "Seingatku sih ayah pernah bilang kalau dia anak dari keluarga kaya raya di Griffinia kemarin. Tapi apa mereka memang satu keluarga? Atau kebetulan saja? Jadi, Rynka itu siapanya dia? Aku tak pernah tahu orangnya seperti apa?" Alzen terus berpikir dalam kepalanya. "Kalau dipikir secara logis, Rynka bersama dengan Aldridge." pikirnya sambil menulis dengan jari di meja. "Aku asumsi dia seumuran denganku juga. Dan kalau mereka satu keluarga... berarti Zio itu..."

"Oke anak-anak! Kelas kita mulai!" sahut Kazzel sambil menggebrak meja dengan wajah antusias. "Mengingat kalian banyak berdatangan dari kelas yang berbeda-beda, dan aku yakin tak semuanya yang ada disini bisa menggukanan elemen petir,"

BZZZSSTT 

Ucap Kazzel sambil mendemonstrasikan sihir petir di tangan kirinya. "Lain halnya dengan suasana kelas sebelumnya. Buat kalian yang kesini untuk mempelajari ilmu teori elemen ini atau yang memang bisa melakukannya secara praktek, jelas akan diperlakukan berbeda. Sekolah ini tak pernah mengajarkan kalian untuk bisa semua. Tapi membuat anak muridnya tahu lebih banyak? Jelas semua sekolah akan melakukannya. Jadi... biar kujelaskan fokus belajar dari kelima elemen mainstream yang kita sudah ketahui."

Seluruh kelas diam mendengarkan. Meski begitu, masih ada yang ogah-ogahan merasa dirinya sudah mengerti hal dasar begini.

Kemudian Kazel menggambar bentuk poligon dengan api di posisi paling atas, air di samping kanannya, angin di bawahnya air dan tanah di samping kiri angin. Lalu terakhir petir yang berada di atas tanah dan di samping kiri api.

"Ya meskipun ini teori yang dasar sekali bagi setiap penyihir, tapi dengan mengtahui ini, kalian bisa lebih mengenal kemampuan kalian dan kemampuan musuh dengan lebih cermat. Dan sebenarnya di kelas lain juga akan belajar hal ini juga sih..."

kata Kazzel memulai pelajarannya. "Pertama Api! Fokus dari elemen ini adalah untuk menyerang." Dan Kazzel memggambar simbol pedang di samping simbol api. "Meski bisa juga untuk bertahan, misalnya dengan sihir Firewall seperti yang sering kalian lihat sewaktu turnamen. Yang fungsinya bisa mem-parry sihir musuh kalian, sekalipun memerlukan timing yang tepat."

Sambung Kazzel sambil menepuk-nepuk papan tulis. "Lalu... jika kalian tipe support dengan elemen ini, fokus kalian adalah memperkuat serangan tim kalian. Baik dengan Enchance menggunakan sihir api ke senjata mereka dan memperkuat serangannya, maupun memperkuat senjata tanpa membuatnya jadi berselimut api. Api juga bisa untuk menyembuhkan, ada hal yang disebut sebagai Healing Fire. Tapi itu jarang terjadi, hanya sebuah kasus langka. Sejatinya api adalah untuk menyerang."

"Healing Fire?" kata Alzen dalam hati. "Aku pernah baca itu di buku... kalau api itu menyentuh tubuh kita, efeknya malah menyembuhkan, meski bentuknya sama persis seperti api."

"Selanjutnya air," tangan dan kapurnya berpindah ke bawah kanan sedikit. "Fokus dari elemen ini adalah untuk menyembuhkan." Kazzel menggambar simbol plus di samping simbol elemen air. "Elemen penyembuh terbaik kedua, berdampingan dengan elemen angin dan hanya satu tingkat di bawah elemen cahaya yang merupakan elemen terkuat untuk sihir penyembuhan." kata Kazzel sambil mengacungkan tangan.

"Meski begitu, jika digunakan dalam jumlah besar, atau dengan strategi yang tepat. Elemen air juga bisa sangat mematikan." katanya dengan tatapan serius. "Kalian sudah lihat di turnamen kemarin kan? Elemen air bisa digunakan sebagai tentakel, pengunci musuh, menenggelamkannya ke dalam banjir, hingga musuh tidak bisa bernafas. Namun diperlukan air dalam jumlah besar di sekitar si pengguna, untuk bisa menggunakannya. Jadi tipe petarung elemen air memerlukan keuntungan dari lingkungan."

"Ya! Untung saja kolam di pinggir arena turnamen dipersiapkan untuk elemen air." kata Alzen.

"Kemudian angin, fokus dari elemen ini adalah tentang kecepatan." Kazzel menambahkan simbol sepatu bersayap di samping simbol angin. "Elemen ini bisa di gunakan secara sihir murni, alias tipe bertarung spellcaster maupun dipadu dengan ilmu bela diri seperti gaya bertarung battlemage. Meskipun semua elemen bisa dipadu juga dengan ilmu bela diri. Tapi dengan meningkatnya kecepatan kalian, Elemen angin menjadi sangat efektif. Sangat-sangat efekti, jika dipadu dengan ilmu beladiri. Baik untuk menghindar, maupun melakukan serangan mendadak. Selain itu, elemen angin juga sama baiknya untuk sihir penyembuhan. Meskipun elemen air sedikit lebih baik dibanding elemen ini. Tapi bayangkan, ada penyihir yang sangat cepat, tajam serangannya dan bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Bukankah itu hal yang luar biasa?"

"Tapi guru, para Healer yang ikut turnamen sudah tumbang duluan."

"Benar sekali. Ahhh tapi sayang sekali," kata Kazzel sambil garuk-garuk kepala. "Contoh penyihir seperti ini tak bisa di tampilkan di turnamen kemarin."

"Angin ya? Itu elemennya Aldridge, aku tak tahu dia sekuat apa sekarang? Dan bagaimana cara bertarungnya?" kata Alzen dalam hati. "Kalau disini dia berarti seorang Battlemage ya? Atau apa?"

"Lalu tanah, fokus dari elemen ini adalah bertahan dan menyerang balik." Kazzel menggambar simbol perisai di samping simbol tanah. "Jika kalian bertarung di daratan bebas. Tanah yang kalian pijak bisa diubah menjadi armor pelindung kalian. Diangkat untuk membentuk dinding dan bisa juga menjadikan bahan serangan dengan menghempaskannya ke musuh. Elemen ini memerlukan banyak strategi, tapi bisa juga langsung bertarung secara barbar dengan armor yang kalian miliki. Dan juga, sama seperti elemen air, elemen tanah juga memiliki ketergantungan dengan lingkungan sekitar. Tidak akan jadi masalah jika kalian bertarung di darat, tapi jika kalian bertarung di laut maupun udara, elemen ini sangat terbatas sekali."

"Aku baru tahu... ada yang begitu juga ya?" kata Alzen dalam hati.

"Terakhir petir, elemen yang akan kita pelajari di kelas Fragor. Fokus elemen ini adalah Critical," Kazzel menggambar simbol tanda seru di samping simbol petir. "Alias... menyerang bagian paling fatal musuh dan mengabaikan segala bentuk pertahanan yang musuh miliki atau sering disebut sebagai penetrasi. Sihir ini sangat ampuh untuk melawan elemen tanah yang padat namun bisa ditembus dan efektifitas elemen ini akan bertambah berkali-kali lipat, jika musuh dalam kondisi basah."

"HOOOOOO !!" kata seisi kelas bersamaan, dan seketika mereka langsung melirik Alzen bersamaan.

"Ehh!? Ke-kenapa?"

"Ya... kalian yang menonton turnamen kemarin pasti sudah mengerti kan? Kebetulan orangnya akan belajar di kelas kita. Kuambil contoh Alzen, dia memanfaatkan sihir petirnya dengan baik. Sewaktu melawan Joran dan dibatasi oleh aturan satu elemen, Alzen tetap bisa menang melawan Joran yang besar dan kuat itu. Kenapa? Itu karena Alzen memiliki keuntungan dalam berbagai hal." Kazzel menjelaskan secara logika.

"Pertama," kata Kazzel. "Petir menang melawan tanah, pilihan elemen Alzen sangatlah tepat. Terlepas dia sudah mengatahui teori ini atau belum. Kedua, sihir itu tentang kreatifitas dan imajinasi. Dan Alzen memiliki ketangkasan itu pada waktu turnamen."

Dan seisi kelas menoleh ke belakang, berpusat pada Alzen.

"Sekalipun begitu, perlu diingat. Keunggulan dan kelemahan masing-masing elemen tidak bersifat linear. Mari kita kembali ke awal lagi."

"Tapi pak!" tanya Zio dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Bagaimana caranya petir bisa menang melawan tanah?"

"Lewat sela-sela kecil di dalam tanah, petir bisa merambat lewat situ dan merusak pertahanannya dari dalam. Jika terkena manusia, maka petir bisa merambat melalui darah dan daging sehingga efek penetrasinya sangat-sangat tinggi." Kazzel menjelaskan sambil mengacungkan tangan. "Di tambah faktor lingkungan sekitar, yang adalah kolam air. Alzen bisa memanfaatkan itu dengan baik, tanpa harus menggunakan elemen air. Alzen memang seharusnya tidak menyambar ke Joran langsung, karena pertahanan Joran itu keras. Ditambah lagi, sebenarnya Joran bisa satu elemen lagi."

"Satu elemen lagi?" tanya Alzen.

"Sedikit yang tahu Joran melakukan kecurangan tersembunyi. Ia secara tak kasat mata menggunakan sihir elemen metal untuk memperkeras tubuhnya. Tapi ini betul-betul tidak terlihat di permukaan. Dapat dilihat dengan teliti bahwa tubuh Joran berubah mengkilap seperti layaknya logam pada saat itu."

"Haa? Masa?"

"Perasaan dia tetap sama-sama saja pak."

"Sial, kenapa aku baru mengetahuinya." Alzen menyesal karena ia terlambat menyadarinya.

"Kalau begitu... kenapa si golem itu tidak didiskualifikasi saja guru!" sahut salah seorang pelajar.

"Ohh... tidak bisa begitu, meskipun kami tahu. Keterampilan menyembunyikan kemampuan itu kami hargai. Salah satu strategi bertarung adalah tidak membiarkan musuh tahu apa kemampuan kita yang sebenarnya. Dan jika sebagian besar dari kalian tidak menyadarinya, Joran melakukan hal yang luar biasa."

"Aduhhh masa begitu." anak-anak Fragor tidak terima dengan alasan tersebut.

***

Pada saat yang sama di kelas lainnya. Eriya sedang menjelaskan teori yang Kazzel juga jelaskan..

"Minggir-minggir! Kalian bikin sempit." kata Joran sambil menggeser mereka yang dekat dengannya.

"Ihh... tak tahu diri, kamu yang bikin sempit, sudah badan gede begitu gak sadar lagi." kata salah seorang yang tidak suka Joran.

"Apa kamu bilang!!" geram Joran sambil menatap anak yang ngomong itu dengan mata merah menyala.

"Ti-tidak aku cuma..."

"Tidak usah Joran, biar aku saja!" tinju Bartell keras-keras. "Hidup Joran! Manusia terkuat di angkatan kita!"

"Haduhhh... Bartell." Eriya, instruktur mereka geleng-geleng kepala. "Kalian disini mau belajar apa berkelahi sih."

"Bartell, kau terlalu berlebihan. jangan buat aku malu." kata Joran pelan-pelan.

"Biar saja! Suatu hari kita akan balas si Alzen sialan itu!"

"Haduhh..." Eriya geleng-geleng kepala lagi. "Kamu terlalu membesar-besarkan masalah."

***

Di kelas Ignis,

"Hahaha... ngapain lah menjelaskan sesuatu yang kalian sudah ngerti." kata Lasius, satu-satunya instruktur yang tak menjelaskan teori elemen mainstream itu. "Sekarang bagaimana rasanya? Tiga dari empat orang yang ikut turnamen kemarin sudah pindah kelas semua? Lio kau jadi sendirian disini?"

"Tidak masalah, kami masih bisa bertemu setelah pulang sekolah." jawab Lio seolah ia baik-baik saja. Padahal dalam hatinya ia juga merasa kehilangan.

"Huh! Si Alzen itu... baru juara 2 saja sudah menjaga jarak dari kita." kata pelajar Ignis yang kecewa dengan kekalahannya.

"Dia malu kali, menampakkan wajahnya di kelas ini lagi."

"Padahal sudah bisa menang, tapi... malah kalah! Hah! Dasar lemah! Alzen bodoh!"

Lalu beberapa orang membelanya.

"Kalian ini kenapa sih! Juara 2 kan juga sudah hebat! Memangnya kalian bisa? Ikut turnamen saja tidak." kata Eris, seorang gadis yang kemarin ikut di perayaan kemenangan Nicholas.

"Apa kau bilang!" kesal orang itu, tidak terima. "Memangnya kau ikut?! Kalau tidak ya diam saja."

"Hahaha!" Lasius tertawa melihat tingkah mereka. "Kalian berantem saja terus, benci saja Alzen terus. Kecewa saja terus. Sementara mereka sudah melesat jauh, kalian masih di tempat yang sama, mencari pembenaran dengan merasa kecewa terhadap orang lain. Jika Alzen juara 1 sekalipun, kalian akan tetap membencinya dengan rasa iri hati. Semata untuk kalian bisa membenarkan kemalasan kalian kan? Ada yang salah dengan kata-kataku barusan?"

"..." seisi kelas terdiam dan menunduk.

Sementara Lio, bolak-balik halaman buku dan menyandarkan pipinya di kepalan tangannya. "Meski dia guru selengean, yang dia katakan, lebih sering benar. Dan lagi... aku bakal dapat masalah nih," wajah Lio mulai ketakutan dan berkeringat. "Berapa kalipun kubaca buku ini. Tak satupun yang aku ngerti!!?" Ia menutup buku itu dan segera terbaring lemas di atas meja. "Alzen... Ranni... tolong aku."

***

Di Ventus, dengan instruktur mereka, Aeros namanya. Ia adalah seorang pria dengan kemeja putih dan rompi hijau gelap bergaris motif emas hingga sepinggang, rambutnya jabrik dan panjangnya sampai melewati pundak berwarna hijau tua dengan sehelai rambut yang naik satu seperti daun layu dan ujung rambut bawahnya menukik ke atas.

Ia bicara sambil menyandarkan dirinya dengan topangan tangan kanan di atas meja, sedangn tangan yang satunya lagi terus ia gerakkan-gerakkan selagi bicara. Ia mengajarkan teori dasar yang sama. Tapi seisi kelas Ventus terlihat taat mendengarkan.

Ranni duduk di meja paling depan tapi paling ujung kiri, sedang di sampingnya ada Nirn yang kebetulan memang dari awal duduk dekat situ.

Meskipun Nirn mengenali Ranni lewat turnamen kemarin, Ranni sama sekali tak mengingat ataupun sekadar melihat Nirn sama sekali. Tatapannya terlalu fokus pada guru mereka yang good-looking dan juga pelajarannya. Yang membuat Nirn hanya duduk tertunduk minder, sambil mengadukan dua jari telunjuknya di meja.

Sedang Sever yang duduk di ujung kanan kelas bagian belakang, jika dilihat dari atas, maka akan jelas terlihat bahwa semua yang duduk di dekatnya adalah wanita. Tapi Sever terlihat baik-baik saja dengan hal itu. Ia malah cenderung menikmatinya.

Aeros disini juga masih mengajarkan materi yang seperti kelas-kelas lain. Dan Ventus bisa dibilang adalah kelas yang paling tenang. Kelas yang paling sedikit suara.

***

Di kelas Liquidum,

"Haduhh masih teori-teori dasar begini, kapan nih kita belajar sihir penyembuhan?" keluh Chandra dengan wajah lemas sembari mengetuk-ngetukan ujung bawah pensil ke meja.

"Ch-Chandra... k-kau...?" tanya Cefhi malu-malu.

"Huh?" Chandra menoleh ke Cefhi di samping kanannya.

"Ahhh...!? Ti-tidak, tidak... bukan apa-apa."

"Ohh yasudah..." Chandra kembali melihat depan.

"Huu, uhhh..." Cefhi tertunduk dengan wajah memerah. "Aduh... gimana ngomongnya ya?"

Sedang Fia yang duduk di samping kanan Cefhi, bilang. "Tenang saja Lio, teori ini paling cuma sehari, besok kita pasti sudah belajar sihir yang benarnya."

"Begitu ya..." Chandra malah bertambah lemas. "Untungnya cuma sehari."

"Huh? Kenapa Chandra buru-buru banget sih?" pikir Fia."Aku tahu dia bisa elemen air, tapi memangnya dia bisa sihir penyembuhan?"

***

Sementara itu di kelas Stellar. Kelas yang belajar hingga lebih dari tiga elemen sekaligus. Elemen kegelapan di kiri ruangan sekaligus paling depan dari pintu masuk, elemen cahaya di tengah ruangan dan elemen non-mainstream di pinggir kanan ruangan atau ujung kelas.

Lunea mengajar seperti biasa... Wanita berusia pertengahan 30-an yang belum menikah itu, dikenal sebagai ibu guru yang serius mengajar, agak galak namun sangat mudah dipahami. Saat mengajar ia selalu memakai pakaian kain putih, dengan gerai rambut panjang berwarna pirang pudar.

Glaskov, instruktur pengganti Volric yang baru saja dipecat adalah satu-satunya instruktur yang tidak mengajarkan teori dasar sihir. Atau mungkin kedua, setelah Lasius yang sembarangan itu.

"Hari ini kita akan belajar kelebihan dan kelemahan kelima elemen mainstream?" kata Glaskov sambil melihat catatannya. "Aku rasa kita tak perlu belajar ini ya. Terlalu mudah, dan pasti membosankan buat kalian, aku akan langsung ajarkan kalian sesuatu yang menarik."

"Sesuatu yang menarik?!" tanya seisi kelas Stellar yang belajar Darkness, atau lebih singkat dikatakan anak Umbra, dengan penasaran.

"Ya! Ini tentang bagaimana cara menggunakan sihir Dark Force, sihir paling dasar elemen kita, namun aku akan ajarkan cara memperkuat daya serangnya, daya tekannya, dan juga menambah efek rasa sakitnya Bagaimana? Ini tidak terlalu sulit, tapi akan tetap menarik."

"Ya Guru! Ajarkan kami!" Dan seisi kelas menyetujuinya.

"Baik, aku minta salah satu dari kalian maju kedepan." Glaskov tersenyum seperti merencanakan sesuatu. "Sebagai contoh."

***