Episode 38 - Chapter 38 : Tak lebih berharga dari kutu



Yanuar langsung melancarkan pukulan berkekuatan tinggi ke arah Lodan. Dengan sigap Lodan melentingkan badannya sehingga pukulan Yanuar hanya menyebabkan tanah di tempat Lodan tadi berdiri berhamburan. 

“Cih, kupikir sudah kabur seperti anjing pengecut Yanuar. Disini kau rupanya!” maki Lodan sambil mengambil kuda-kuda bertahan. 

Yanuar segera menjejak tanah dan kembali bersiap melakukan serangan susulan pada Lodan. Namun matanya melirik ke arah kami para anggota Kelompok Daun Biru yang baru saja lolos dari maut. 

“Kau sengaja mengincar nyawa anggota Kelompok Daun Biru. Berani sekali kau membunuh anggota Kelompok Daun Biru di depan mataku!” Suara Yanuar terdengar parau dan matanya terlihat merah. Tampaknya dia benar-benar marah dengan kematian anggotanya. 

Lodan menyeringai tipis mendengar perkataan Yanuar, kemudian dia bicara. “Kau sendiri telah membunuh dua orang anak buahku di depan mataku sendiri. Lagipula, jangan kau mencoba bersilat lidah Yanuar. Kami tahu kaulah yang telah menyebarkan berita tentang markas Sekte Pulau Arwah kepada kelompok-kelompok dunia persilatan di wilayah ini. Jadi... Wajar saja jika kami membunuhi anjing pengkhianat seperti kalian.” 

“Humph... Bangsat kau Lodan. Aku ingin tahu apa kau masih bisa mengoceh setelah ku robek mulutmu itu!” 

Yanuar kembali melesat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk kait, sasarannnya adalah mulut Lodan. Tampaknya dia benar-benar berniat merobek mulut Lodan. Dan tentu saja Lodan tak tinggal diam, dia segera mengepalkan tangannya dan menyambut serangan Yanuar dengan sebuah pukulan. 

Sepertinya kedua orang itu sama sekali tak ada yang mau mengalah, bukannya menghindari serangan lawannya, mereka malah saling adu kekuatan yang beresiko melukai diri mereka sendiri. Suara dentuman dahsyat langsung menggelegar di seantero tempat itu akibat benturan kekuatan keduanya. Selain itu, gelombang sampingan yang ditimbulkan dari serangan mereka berdua telah menyebabkan para pendekar tingkat penyerapan energi yang ada di tempat itu terhuyung, termasuk diriku. Ternyata perbedaan kekuatan antara tahap pembentukan dasar dan tahap penyerapan energi begitu jauhnya. 

Kulihat bang Genta memanfaatkan kesempatan bertarungnya Lodan dan ketua Yanuar untuk menyelamatkan Maman dan Arie menjauh dari lokasi pertarungan kedua orang itu. Sedangkan Yanti, meskipun matanya masih sembab namun masih bisa berfikir jernih. Dia juga menarik jasad kaku Yanti menjauh dari lokasi pertarungan Lodan dan Yanuar, menuju arah yang sama dengan bang Genta. 

Aku sendiri segera memanfaatkan kesempatan bertarungnya mereka berdua untuk memulihkan diri serta berjalan terhuyung mendekati bang Genta. Kelebihan lain saat menggunakan jurus iblis darah -nama yang kubuat sendiri saat menggunakan tenaga dalam Sadewo dalam darahku- adalah kemampuan penyembuhan diri yang jauh lebih cepat dibanding biasanya. Setidaknya selama aku mengaktifkan tenaga dalam Sadewo dalam aliran darahku, tapi setelah aku berhenti menggunakannya, maka kemampuan penyembuhan itu akan menghilang juga.

Sementara itu, pertarungan antara Lodan dan ketua Yanuar semakin sengit. Mereka berkali-kali menggunakan pukulan sakti yang menyebabkan lingkungan sekitar makin hancur lebur. Kulihat bekas pukulan Lodan di reruntuhan bangunan berwarna biru pekat dan menyebarkan hawa dingin menggigit. Sedangkan bekas pukulan Yanuar mengakibatkan tanah dan reruntuhan berasap kekuning-kuningan. Bulu kudukku tiba-tiba saja berdiri melihat pemandangan itu, dapat kubayangkan bagaimana nasibku seandainya aku terkena telak pukulan itu. Mungkin nasibku tidak akan jauh berbeda dengan Yanti. 

“Rik, kamu baik-baik saja?” 

“Nggak papa bang.”

Bang Genta membopong tubuh Arie yang masih terkulai lemas. Meskipun nyawanya tak sampai melayang, kulihat tangannya berwarna biru gelap dan berasap. Kondisinya benar-benar mengenaskan, aku sangsi Arie akan mampu bertahan melewati senja hari ini. Kalaupun dia mampu bertahan, aku tidak yakin dia akan masih memiliki tangan. 

“Kita tidak boleh berlama-lama ditempat ini,” sambung bang Genta lagi. 

“Apa kita juga akan meninggalkan ketua Yanuar bang?”

Bang Genta tampak ragu-ragu, namun pada saat itu situasi kembali berubah. Suara pertarungan antara ketua Yanuar dan Lodan tak terdengar lagi. Saat aku mengalihkan pandanganku ke arah mereka, kulihat keduanya tengah berdiri tegak dalam posisi berhadapan, namun pandangan mereka mengarah ke tempat lain. Disitu telah berdiri dua orang pendekar lagi tengah mengamati Lodan dan Yanuar. 

“Kenapa kalian berhenti bertarung? Ayo teruskan saja, kami tidak akan mengganggu kalian,” ujar salah satu dari mereka sambil menyunggingkan senyum. 

“Apa yang kalian berdua lakukan disini? Bukannya Perkumpulan Bendera Tujuh Warna sedang sibuk memperebutkan pintu masuk markas Sekte Pulau Arwah?” tanya Lodan pada kedua orang tersebut.

“Hmmm... Kenapa masih ada pendekar tahap penyerapan energi disini?” Bukannya menjawab pertanyaan Lodan, pendekar yang ternyata berasal dari Perkumpulan Bendera Tujuh Warna itu justru balik bertanya tentang keberadaan kami disini. 

“Apa maksudmu?” Kali ini ketua Yanuar yang bertanya. 

“Eh... Jadi kalian tidak tahu ya? Semua pendekar tahap penyerapan energi sudah masuk ke dalam markas rahasia Sekte Pulau Arwah.”

“Apa maksud kata-katamu barusan?” Ketua Yanuar mengerenyitkan keningnya, sementara matanya berkali-kali melirik ke arah Lodan. 

“Pintu masuk markas Sekte Pulau Arwah dihalangi oleh pelindung yang kuat, bahkan pendekar tahap pemusatan energi tidak dapat menembusnya. Anehnya, pendekar tahap penyerapan energi bisa memasukinya. Sepertinya orang yang membuat pelindung itu sengaja mengaturnya seperti itu,” jelas orang dari Perkumpulan Bendera Tujuh Warna. 

“Kelompok lain sudah berhenti bertarung sekarang, apa gunanya bertarung memperebutkan pintu masuk jika akhirnya tidak ada yang bisa memasukinya. Mereka sedang mengirimkan para anggota tahap penyerapan energi ke dalam markas rahasia sekarang,” lanjut kawannya. 

Kami sama-sama terdiam mendengar penjelasan tersebut, aku sendiri juga baru menyadari suara-suara dentuman akibat pertarungan antar kelompok dunia persilatan sudah tak terdengar lagi sekarang. Mungkin yang dikatakan kedua orang ini memang benar adanya. 

Wuzz!

Tiba-tiba saja sebuah angin dahsyat menerpa ke arah kami para pendekar tahap penyerapan energi Kelompok Daun Biru. Lodan sudah melesat dan melepaskan sebuah pukulan berwarna biru gelap! 

Kami para pendekar tahap penyerapan energi sama sekali tidak mengantisipasi serangan Lodan. Jika saja ketua Yanuar tidak segera bertindak dan menghalau pukulan maut Lodan, mungkin ceritaku hanya akan berakhir sampai disini. 

“Masuk ke dalam markas rahasia Pulau Arwah!” teriak Yanuar sambil membalas serangan Lodan. Mereka berdua kembali terlibat dalam pertarungan sengit. 

“Ayo Shin!” Aku berinisiatif menarik Shinta dan berlari menuju pintu masuk markas rahasia Sekte Pulau Arwah.

“Tapi Yanti...”

Aku tak menjawab Shinta, hanya tanganku semakin kuat menarik dirinya. Akhirnya dia hanya bisa memandang wajah Yanti sekali lagi sebelum pergi mengikuti tarikan tanganku. Sedangkan bang Genta kini menggendong Arie di punggungnya sementara Maman tergopoh-gopoh mengikuti bang Genta dari belakang. 

“Humph!” 

Lodan mendengus kesal melihat kepergian kami. Namun dia sudah tak punya kesempatan lagi membunuh kami, mengingat ketua Yanuar sudah menghadang di hadapannya.

“Kau tidak bisa kemana-mana Lodan. Hari ini kau atau aku yang mati disini! Kalian berdua jangan ikut campur,” geram ketua Yanuar 

Kedua anggota dari Perkumpulan Bendera Tujuh Warna tak berkata apa-apa, mereka hanya bersedekap dan memperhatikan pertarungan antara Lodan dan Yanuar dengan antusias. Entah apa yang terjadi selanjutnya hari itu, tapi yang pasti itu adalah terakhir kalinya aku melihat Lodan dan ketua Yanuar.

Ternyata benar apa yang dikatakan oleh dua anggota Perkumpulan Bendera Tujuh Warna itu. Pertarungan antar kelompok dunia persilatan demi memperebutkan hak masuk ke dalam markas Sekte Pulau Arwah telah berhenti. Namun mereka masih mengawasi satu sama lain dengan tatapan penuh curiga. Termasuk ketika kami, para pendekar tahap penyerapan energi dari Kelompok Daun Biru bergerak memasuki pintu masuk. 

Kendati demikian, tak satupun kelompok itu yang menghadang perjalanan kami. Mungkin mereka telah membuat perjanjian instant di tempat ini dan membiarkan seluruh pendekar tahap penyerapan energi masuk ke dalam markas Sekte Pulau Arwah. Aku sempat menduga kami akan sampai ke pintu gerbang markas dengan mulus, tapi dugaanku terbukti salah. 

Saat kami tiba beberapa puluh meter menjelang pintu masuk markas, tiba-tiba saja beberapa orang bergerak mendekati kami dan bersiap melakukan serangan pada kami. 

“Gawat! Perserikatan Tiga Racun,” gumam bang Genta disebelahku, suaranya terdengar pasrah. Wajar saja, mengingat para pendekar tahap penyerapan energi sudah masuk ke dalam markas Sekte Pulau Arwah, maka yang tersisa diluar adalah pendekar tahap pembentukan dasar ke atas. Jika mereka menghendaki kematian kami, maka hanya kematianlah yang akan kami dapatkan. 

“Apa yang mau kalian lakukan? Bukankah kita sudah sepakat. Apa kalian hendak melanggar kesepakatan?” 

Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa belas meter saja dari kami, tiba-tiba saja terdengar suara dari samping kami. Kulihat dua orang berpakaian taktis berjalan menghadang orang-orang Perserikatan Tiga Racun. 

“Mereka berasal dari Kelompok Daun Biru, mereka tidak terlibat dalam kesepakatan yang kita buat,” jawab anggota Perserikatan Tiga Racun

“Aku tahu mereka dari Kelompok Daun Biru, dan aku mengizinkan mereka masuk ke dalam markas Sekte Pulau Arwah. Apa yang mau kalian lakukan?” 

Salah satu anggota Perserikatan Tiga Racun kembali hendak mengatakan sesuatu, namun kawan disebelahnya segera mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar orang itu jangan bicara lagi. 

“Baiklah, mereka boleh masuk dalam markas Sekte Pulau Arwah... Toh mereka tidak akan bertahan lama di dalam sana...” ujar anggota Perserikatan Tiga Racun yang tadi mencegah kawannya bicara sambil memandangi kami satu persatu. Lalu mereka membalikkan badannya dan meninggalkan kami begitu saja. 

“Terima kasih,” ucap bang Genta pada orang-orang berpakaian taktis. 

Orang-orang itu hanya menganggukkan kepala mereka tanpa ekspresi.

“Kata-kata Perserikatan Tiga Racun tadi benar, dengan kondisi kalian seperti ini, sangat sulit bagi kalian dapat bertahan di dalam sana. Hati-hatilah,” ujar salah satu dari mereka, kemudian dia memandangi kami sekali lagi dan menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sebelum akhirnya dia juga pergi meninggalkan kami. 

“Siapa mereka, Bang?” tanyaku penasaran pada bang Genta mengenai orang-orang berpakaian taktis itu. 

“Pasukan Nagapasa,” jawab bang Genta singkat, kemudian kami kembali berjalan mendekati pintu masuk markas rahasia Sekte Pulau Arwah. 

“Dalam dunia persilatan, Kelompok Daun Biru adalah salah satu kelompok yang paling lemah. Kita hanya memiliki pendekar tingkat pembentukan dasar sebagai pucuk pimpinan. Sedangkan kelompok lain rata-rata memiliki pendekar tahap pemusatan energi dalam kubu mereka. Wajar jika tidak ada yang menganggap serius Kelompok Daun Biru...” Bang Genta tiba-tiba saja bergumam pada kami di tengah jalan, aku dapat melihat wajahnya tampak putus asa. 

Lemah... Aku benci mengakuinya, tapi memang kami begitu lemah. Kami tak lebih berharga dari kutu dalam pandangan orang-orang dunia persilatan. Hanya ada satu hal yang dihargai oleh orang-orang dunia persilatan, kekuatan. Mereka hanya akan mendengarmu jika kau lebih kuat, mereka hanya akan menghargaimu jika kau lebih kuat.

Hari ini aku menundukkan kepala pada orang-orang ini, tapi tidak akan seperti itu selamanya. Suatu hari nanti, ya, suatu hari nanti. Orang-orang ini yang akan menundukkan kepala mereka di hadapanku!

“Kita sudah sampai...” Suara bang Genta membuyarkan lamunanku. 

Kini kami telah sampai di depan pintu masuk markas rahasia Sekte Pulau Arwah, pintu itu berada di dasar lubang besar seperti kawah dengan begitu banyak reruntuhan beton di sekelilingnya. Kuduga pintu masuk ini awalnya tersembunyi di dalam basement gedung, dan gedung itu telah hancur lebur sehingga membuat pintu masuk markas terlihat jelas. Tepat di gerbang pintu masuk ada semacam membran bening seperti gelembung sabun. Kurasa membran itulah pelindung terakhir yang tidak dapat ditembus oleh pendekar tahap pemusatan energi. 

Setelah memperhatikan pintu masuk itu beberapa saat, akhirnya kami masuk satu persatu ke dalam markas.