Episode 236 - Wrendaha dan Samara


Wajah seorang perempuan dewasa di barisan depan tribun kehormatan Kadatuan Kesembilan terlihat kusut. Dadanya berdegup kencang. Berkali-kali sudah ia melontar pandang ke arah Kadatuan Kedua. Ia hendak membahas kecurigaan kepada kakak sulungnya, sang Datu Besar dari Kadatuan Kesembilan, akan tetapi menahan diri. Terlihat jelas ia masih sangat meragu. 

Kecemasan Ibunda Tengah Samara bukan disebabkan oleh Balaputera Gara dan Balaputera Prameswara yang telah masuk ke dalam Tugu Ampera Utara. Bukan persoalan itu. Kecemasan yang melanda perempuan dewasa itu justru dikarenakan ia mendengar jelas kata-kata Bintang Tenggara kepada Datu Besar Kadatuan Kedua. “Keterlambatan pada pagi hari ini dikarenakan ‘garis khayal’ berhasil menjangkau ‘jiwa’ namun dihadang ‘pukulan’.” 

Bintang Tenggara menekankan pada kata ‘garis khayal’, ‘jiwa’ serta ‘pukulan’. Jikalau firasatnya benar, maka Balaputera Samara mencurigai bahwa kemenankannya itu menyampaikan sebuah pesan penting kepada Datu Besar Kadatuan Kedua. Ditambah dengan tingkah polah Datu Besar Kadatuan Kedua yang berubah melunak setelah mendengar kata-kata tersebut, kecurigaan semakin menjadi-jadi. 

Pesan yang disampaikan Balaputera Gara sangat mengusik hati. Setelah mendalami, Balaputera Samara menyimpulkan bahwa kemungkinan besar pesan tersebut membahas Lintang, Sukma dan Tarukma! Dirinya mengetahui bahwa Lintang Tenggara adalah nama lain Balaputera Lintara, yang merupakan putra pertama Balaputera Ragrawira dan Mayang Tenggara. Beberapa waktu silam, anak itu pernah berguru di Perguruan Svarnadwipa. Kendatipun demikian, Balaputera Lintara tiada pernah sekalipun melangkahkan kaki ke dalam Kadatuan Kesembilan. Sebaliknya, Balaputera Lintara menetap di Kadatuan Kedua, sebuah kenyataan pahit bagi Balaputera Rudra si pemabuk dan Balaputera Samara yang tak memiliki kelebihan apa-apa. Kala itu, kedua kakak beradik merasa bahwa Balaputera Lintara malu mendatangi Kadatuan Kesembilan yang terpuruk. 

Apakah benar bahwa hal keterpurukan Kadatuan Kesembilan yang menjadi titik permasalahan…? Balaputera Lintara merupakan murid yang cemerlang, mengapa menetap di Kadatuan Kedua yang justru memusuhi Kadatuan Kesembilan…?

Balaputera Samara menghela napas panjang. Menenangkan hati, ia mengenyampingkan perihal Balaputera Lintara. Karena bilamana perkiraan selanjutnya benar, maka Bintang Tenggara menyinggung tentang Balaputera Sukma dan Balaputera Tarukma! Diketahui bahwa kedua tokoh tersebut adalah kakak beradik kandung. Dan yang terpenting Balaputera Sukma merupakan ibunda yang selama ini diketahui meninggal dunia bersama segenap kerabat Kadatuan Kesembilan. Kala itu, di Rimba Candi mereka melindungi rakyat dari sergapan gerombolan binatang siluman yang dipimpin oleh salah satu Raja Angkara. 

Balaputera Samara bangkit dari tempat duduknya. Tak lagi sanggup menahan kegundahan di hati, ia melangkah perlahan ke arah tribun kehormatan Kadatuan Kedua. Karena perhatian sedang terpusat pada layar-layar besar yang mengemuka tinggi di atas Gelanggang Utama, dimana para remaja peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta terlihat sedang bersiap, maka tak ada yang terlalu memantau pergerakan seorang perempuan dewasa. 

“Adinda Samara, kemanakah dikau hendak melangkah…?” tetiba pertanyaan datang di saat perempuan dewasa itu melintas di hadapan tribun kehormatan Kadatuan Keenam. 

Balaputera Samara menjawab dengan senyuman. Kadatuan Keenam adalah tempat dimana dirinya, Balaputera Rudra, dan Balaputera Ragrawira menumpang setelah tragedi Rimba Candi. Sang Datu Besar dari Kadatuan Keenam yang saat ini menyapa, adalah seorang teman bermain di masa kecil. Hubungan pertemanan mereka cukup baik. 

Balaputera Samara meneruskan langkah. Ia kini telah tiba di dekat tribun kehormatan Kadatuan Kedua. Sang Datu Besar menyilangkan lengan di depan dada, dan ia hanya melirik ke arah perempuan dewasa itu. Tak sedikit pun terdapat perubahan pada raut wajahnya. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua, ada yang hendak diriku pastikan…” Balaputera Samara berujar cepat. Tiada hendak ia berbasa-basi. 

“Enyah dari hadapanku…,” guman Sang Datu Besar. 

“Kakak Balaputera Wrendaha…” 

Di saat menyebutkan nama sosok di hadapannya, ingatan Balaputera Samara berkelebat ke masa lalu. Suasana di halaman dalam Kadatuan Kesembilan begitu apik dan tenteram. Bagunan tertata rapi dan bersih serta para pelayan dan prajurit menjalankan tugas penuh dedikasi. Sunggung mencerminkan keadaan sebuah istana bangsawan yang makmur. 

Ingatan Balaputera Samara kembali ke masa dimana ia merupakan seorang gadis cilik berusia sekira sepuluh tahun. Di sampingnya, seorang remaja lelaki yang tampan dan ramah mendampingi. 

“Adinda Samara… bukanlah demikian cara yang tepat dalam merapal formasi segel,” ujar remaja lelaki tersebut sambil menyibak senyum riang, serta mengarahkan lengan si gadis cilik. 

“Kakak Wrendaha, tidakkah nanti akan ada banyak gadis-gadis yang cemburu bilamana menyaksikan dikau bersama diriku…?” 

“Hahaha… Adinda Samara…,” gelak Balaputera Wrendaha yang masih remaja. “Dari manakah dikau memperoleh pemikiran sedemikian? Anak kecil tiada boleh berujar yang bukan-bukan.” 

“Diriku bukan lagi anak kecil. Diriku adalah seorang gadis belia!” Balaputera Samara cilik terlihat sebal. 

“Hahaha… Baiklah, baiklah… Gadis Belia Samara, mengapakah masih sulit bagimu merapal formasi segel pertahanan nan sederhana…? Kemanakah gerangan kemampuan merapal segel pertahanan tak tergoyahkan milik Kadatuan Kesembilan…?” ejek remaja lelaki tersebut. Raut wajahnya dibuat-buat seolah sangat penasaran. 

“Sengaja…” 

“Sengaja…?” Balaputera Wrendaha muda terlihat kebingungan. 

“Sengaja diriku berpura-pura agar Kakak Wrendaha datang membantu latihanku….” Balaputera Samara cilik tersenyum lebar. 

“Hahaha… Tidakkah dikau khawatir kepada banyak gadis-gadis yang akan cemburu?” 

“Diriku tiada takut. Selama Kakak Wrendaha berada di sisiku, tak akan ada yang berani mengganggu!” 

“Hahaha…” 

“Apakah Kakak Wrendaha bersedia mengikat janji…?”

“Mengikat janji…?”

“Iya. Berjanjilah bahwa Kakak Wrendaha akan selalu berada di sisiku…” Gadis cilik itu kini tersipu. 

“Hahaha… Ada-ada saja.”

“Berjanjilah!” rengek Balaputera Samara cilik, sambil mengulurkan jari kelingking. 

“Apakah sampai perlu mengikat janji segala…? Hampir saban hari diriku mengunjungi Kadatuan Kesembilan.”

“Berjanjilah!” Balaputera Samara cilik menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Ia sudah tak sabar. 

“Baiklah, baiklah…,” Balaputera Wrendaha remaja mengaitkan jari kelingkingnya kepada jari kelingking Balaputera Samara cilik. 

“Diriku, Balaputera Wrendaha dari Kadatuan Kedua, berjanji untuk selalu melindungi Balaputera Samara dari Kadatuan Kesembilan,” ucap remaja lelaki itu riang. “Puas?”

Balaputera Samara cilik mengangguk cepat. Senyumannya terlihat demikian teduh.

“Segera enyah dari hadapanku!” hardik Balaputera Wrendaha dewasa. Kata-kata kasarnya ini menarik Balaputera Samara kembali dari lamunan masa kecil.

Mengapakah Kakak Wrendaha berubah sampai sedemikian rupa? Kemana perginya Kakak Wrendaha yang dulu diriku kenal sebagai seseorang yang riang dan ramah? Bagaimana dengan janji yang dulu Kakak Wrendaha utarakan? Ingin rasanya Balaputera Samara melontar pertanyaan-pertanyaan tersebut. Akan tetapi, tak sepatah kata pun terucap di kala kepedihan mendera dan terpaksa memutar langkah karena tak mendapat tanggapan yang pantas. 

Detak jantung Balaputera Wrendaha, sang Datu Besar Kadatuan Kedua, yang dikenal keras dan tegas berdegup deras. Apa yang selama ini ia lakukan, sangat diyakini sebagai langkah terbaik. Kepergian Balaputera Samara sungguh membuat hatinya pilu. Kendatipun demikian, tak ada perubahan pada raut wajah dan gerak-geriknya. Sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua pun membuang muka. 


Di dalam dimensi ruang Tugu Ampera Utara, 35 remaja berdiri berbanjar dan terpaut jarak sekira sepuluh langkah. Di hadapan setiap satu dari mereka, sebuah tembok tebal dan tinggi, kokoh menghadang. Sekali pandang, maka tembok tersebut terlihat seperti sebuah hambatan yang tak mudah dirobohkan. Bila dicermati dengan lebih seksama, tembok tersebut merupakan jalinan formasi segel yang merangkai teramat rumit.  

“Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Tantangan Pertama, Tugu Ampera Utara… dimulai!” Suara pembawa acara berkumandang di dalam ruang dimensi, sekaligus di seluruh penjuru Gelanggang Utama Kemahajaaan Cahaya gemilang.

Sambutan dari khalayak penonton bergelora. Sejumlah anggota keluarga dari kesembilan kadatuan pun bangkit dan berteriak memberi dukungan. Pandangan mata mereka terpaku pada layar-layar yang memuat para peserta. Kiprah mereka sungguh dinanti. 

Bintang Tenggara mengamati formasi segel di hadapan dengan seksama. ‘Rumit’ adalah kata yang terbilang ringan. Menyaksikan formasi segel yang berwujud tembok nan kokoh, ia menyaksikan berbagai jenis simbol, dengan pola berbeda-beda, bertumpang tindih. Ada simbol-simbol yang bergerak teratur, ada pula yang tak beraturan. 

Ke-35 remaja mulai melakukan apa pun yang mereka patut lakukan. Ada yang mengutak-atik formasi segel ada pula yang merapal formasi segel baru sebagai kunci pembuka. Bintang Tenggara belum melakukan apa-apa, ia bahkan tak tahu harus memulai dari mana. Pendidikan formal yang ia peroleh tentang formasi segel hanya berlangsung singkat, sekira satu purnama di Perguruan Swarnadwipa. Bandingkan dengan remaja-remaja bangsawan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera yang lain, yang mana sedari kecil mereka telah dibekali dengan pengetahuan yang benar terkait formasi segel. 

“Segel Syailendra: Belida…” 

Tetiba Bintang Tenggara mendengar seorang remaja yang berada samping merapal jurus. Jarak mereka terpisah sekira sepuluh langkah. 

“Wara…?”gumam Bintang Tenggara kala mendapati saudara sepupunya sedang duduk bersila. Santai sekali sepertinya ia. 

Akan tetapi, Bintang Tenggara tak sempat untuk bertanya mengapa Balaputera Prameswara terlihat bermalas-malasan. Apa yang ia saksikan kemudian sungguhlah aneh bin ajaib. Formasi Segel Syailendra berwujud ikan belida dengan moncong kecilnya, mulai menggerogoti dan mengurai formasi segel berwujud tembok. Setelah diingat-ingat, wujud ikan belida tersebut memanglah pernah mengurai formasi segel berwujud burung murai.

“Segel Syailendra: Komodo…,” gumam Bintang Tenggara. 

Di saat itu pula, formasi Segel Syailendra merangkai wujud. Simbol-simbol berbagai bentuk dan ukuran menyusun perlahan. Ukurannya setara betis orang dewasa, memanjang, lalu membentuk kepala, leher, tubuh beserta empat kaki tebal, dan terakhir ekor.

Wujud Komodo yang telah terbentuk memakan sepertiga tenaga dalam. Merapal formasi Segel Syailendra memang bukan perkara ringan. Meskipun demikian, si komodo itu hanya berdiam diri. Bintang Tenggara menebar mata hati, berupaya memberi perintah, namun tiada membuahkan hasil. 

“Apakah yang engkau lakukan…?” gumam Super Guru Komodo Nagaradja. 

“Tidak tahu,” balas Bintang Tenggara cepat. 

Betapa anak remaja tersebut merasa menyesal. Selama satu purnama berada di dalam ruang dimensi bersama Nenek Sukma, ia malah sibuk mempelajari lembar-lembar kertas lusuh yang merupakan catatan Lintang Tenggara. Padahal, seharusnya ia memanfaatkan waktu untuk berlatih dalam memanfaatkan formasi Segel Syailendra. 

Tetiba formasi segel berwujud komodo tersebut membuka mulut. Lembar sekali. Bintang Tenggara menanti penuh harap. Seperti wujud belida milik Balaputera Prameswara, mungkinkah komodo ini akan mengoyak formasi segel di hadapannya!? 

“Hahaha…” Tetiba Ginseng Perkasa tergelak. 

“Bah!” Komodo Nagaradja terpana. 

“Huh!” Bintang Tenggara kecewa. Komodo tersebut membuka mulut lebar-lebar hanya untuk… menguap. 

“Tring!” 

Formasi segel yang melayang di angkasa berpendar. Di saat yang hampir bersamaan, muncul nama-nama yang menempati urutan satu sampai lima. Mereka adalah Balaputera Vikrama, Balaputera Dirgaha, Balputera Naga, Balaputera Shinta, serta Balaputera Ugraha. Hal ini berarti bahwa mereka telah berhasil mengurai formasi segel masing-masing! 

Kelima remaja tersebut lalu menghilang di balik lorong dimensi ruang untuk kembali ke Gelanggang Utama. Sebagai para unggulan di dalam Hajatan Akbar, kembalinya mereka disambut sorak-sorai dari segenap khalayak. 

Dari 20 tempat yang tersedia, lima remaja telah berhasil mengisi urutan teratas dan melewati tantangan pertama. Masih tersisa 30 remaja yang memperebutkan 15 tempat lagi. Dengan kata lain, setengah dari remaja yang tersisa akan tersingkir dari tantangan pertama ini. 

“Bruk!” 

Suara akan kejatuhan sesuatu yang besar tetiba mengganggu konsentrasi para peserta. Ukurannya sekira seekor kambing, namun tiada memiliki leher maupun kaki. Mulutnya lebar, tubuhnya gempal, bersirip, berekor… 

Bintang Tenggara tak hendak membuang waktu. Ia segera menarik formasi segel komodo dan merapal Segel Syailendra yang berwujud paus. Sesungguhnya kurang tepat bila disebut sebagai paus, karena lebih mirip dengan seekor berudu yang terlampau besar, dari pada seekor paus nan kerdil. 

Akan tetapi, si paus itu hanya tergeletak tiada berdaya di antara Bintang Tenggara dan tembok kokoh. Beringsut pun ia tiada kuasa. 

“Tring!” 

Formasi segel yang melayang di angkasa kembali berpendar. Lima nama secara berturut-turut kembali mengemuka. 

Bintang Tenggara mengutuk diri sendiri. Kesempatan yang tersedia semakin pendek, dan ia telah membuang-buang tenaga dalam untuk merapal wujud dari Segel Syailendra yang tiada diketahui kegunaannya. Anak remaja itu mulai menimbang-nimbang… apakah sebaiknya ia mulai mengurai tembok dengan cara biasa saja. Dengan keterbatasan pemahaman, pastinya akan memakan waktu yang sangat panjang.

Ketika Bintang Tenggara sibuk merenung, tetiba Balaputera Prameswara bangkit berdiri. Formasi segel berwujud tembok di hadapannya telah terurai. Segel Syailendra: Belida miliknya sungguh sangkul lagi mangkus dalam bekerja. Ia menoleh ke arah Bintang Tenggara, lalu mengangguk dua kali. Entah apa artinya dari anggukan tersebut, dua kali pula.

Sebuah lorong dimensi berpendar di hadapan Balaputera Prameswara. Di saat yang sama, namanya berada pada urutan ke-14. Meskipun demikian, di saat melangkah ke arah lorong dimensi, remaja tersebut terlihat sedikit pincang. Ia menahan perih di kala melompat kembali ke Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Tempat yang tersedia semakin terbatas, dan upaya Bintang Tenggara sama sekali belum membuahkan hasil. Segel Syailendra berwujud komodo tak melakukan apa-apa selain menguap, sementara yang berwujud paus pun hanya tergolek, sirip dan ekornya mengibas-ngibas pelan. 

Apakah gerangan yang patut dilakukan selanjutnya…?

“Jangan mempermalukan diriku!” sergah Super Guru Komodo Nagaradja. 

“Nak Bintang, jangan menyerah kalah. Ingatlah, banyak ketiak di luar sana yang menantikan dikau!” Ginseng Perkasa menyemangati.

Bintang Tenggara terpana.

“Aku suka berjudi…,” ujar Super Guru Komodo Nagaradja. 

“Dan dikau sering kali kalah dalam perjudian,” sela Ginseng Perkasa. “Masih ingatkah dikau memasang taruhan keping-keping emas bahwa Hang Jebat tiada akan berkhianat? Dikau kalah besar karena Hang Jebat memutar haluan…”

“Bukan perjudian seperti itu yang aku maksud!” 

“Sama saja.” 

Bintang Tenggara mendongak, dan mendapati bahwa sampai dengan urutan ke-18 pada permukaan formasi yang mengangkasa, telah terisi nama-nama para peserta. Hanya dua tempat yang tersisa. Betapa cepat para bangsawan-bangsawan muda Wangsa Syalendra dari trah Balaputera ini bekerja dalam mengurai formasi segel nan luar biasa rumitnya.

“Segel Syailendra…” Bintang Tenggara bergumam pelan…  “Ayam!”

Seekor binatang siluman Ayam Jengger Merah berukuran mini mengemuka. Ayam yang satu ini memanglah meninggalkan kesan mendalam di hati sanubari Bintang Tenggara. Ia adalah sahabat yang menemani selama terkurung di dalam dimensi ruang dan waktu milik Dewi Anjani. Si ayam meregang nyawa karena anak remaja tersebut tiada mampu melindungi.