Episode 32 - Selamat tinggal... Dan


Kemanapun aku mengarahkan pandangan, semua yang aku lihat adalah putih bersih, tanpa ada noda sedikit pun.

Ini adalah kekosongan mutlak.

Tidak ada apapun selain aku, seperti aku adalah noda kotor di ruang yang suci ini.

Sama seperti saat pertama kali aku menginjakan kaki di tempat ini. Untuk beberapa alasan, ketika aku mengingat saat itu, aku merasakan perasaan aneh yang melonjak dari dalam hatiku.

Ketakutan.

Saat itu, ketika aku bertemu untuk pertama kalinya dengan Dan.

Roh? Jiwa? Hantu? Malaikat? Kutukan? 

Aku tidak tahu apa sebenarnya Dan itu. Jadi, untuk menyembunyikan kegelisahanku, aku menamainya dengan sesuatu yang tampak lucu, yaitu Goh.

Tapi, setelah beberapa kali aku pikirkan, itu tidak tampak lucu, malah terdengar aneh.

Dalam beberapa tahun awal aku bersama Dan menjalani hidup, aku selalu merasakan sebuah perasaan takut di dalam lubuk hatiku. Bayangkan saja, jika terdapat sebuah entitas yang tidak kau ketahui di dalam tubuhmu yang bisa kapan saja mengambil alih tubuh, itu sangat menakutkan.

Tapi, beberapa tahun terakhir ini, akhirnya aku bisa merasakan perasaan nyaman ketika bersama Dan. Karena dia tidak pernah melakukan hal-hal buruk yang awalnya aku pikirkan.

Tapi, dia melakukan hal buruk yang tidak pernah aku pikirkan.

Dia sering mengambil alih tubuh secara paksa ketika ada seorang gadis dengan pantat seksi lewat di depanku, kemudian dia akan memelototinya hingga gadis itu hilang dari pandangan.

Setelah kejadian itu, aku merasakan pandangan jijik dari orang-orang sekitarku.

Dia juga sering menceramahiku tentang agungnya pantat seorang gadis di dalam pikiranku ketika pelajaran yang membuat aku merasa gila dan muak dalam waktu yang bersamaan.

Mendengarkan omong kosongnya benar-benar melelahkan pikiranku, dia tidak akan berhenti jika aku tidak memintanya untuk berhenti, tapi ketika aku berkata berhenti dan menjelaskan kepada Dan alasannya, tanpa aku sadari orang-orang di sekitarku sudah menatapku dengan pandangan aneh.

Pandangan mereka seperti mengatakan, ‘Berbicara sendiri? Dasar aneh’ atau ‘Dia gila, lebih baik jangan dekat-dekat dengannya’.

Ketika guru yang sedang mengjar bertanya padaku tengan apa yang aku lakukan, aku menjawab dengan jujur bahwa aku sedang berbicara dengan jiwa lain di tubuhku, dan semenjak itu, guru tesebut sering memandangku dengan tatapan penuh prihatin.

Jadi, di saat kejadian itu terjadi lagi dan ada guru lainnya yang bertanya, aku menjawab bahwa aku sedang menghafalkan dialog drama. Tapi, guru tersebut kembali memandangku dengan tatapan prihatin dan menepuk pundakku sembari berkata, “Kamu harus jadi lebih dewasa.”

Sepertinya dia sudah mendengar jawabanku dari guru pertama tadi.

Dan begitulah, kehidupan masa sekolahku yang kubayangakan akan menjadi menyenangkan dan penuh dengan memori bahagia, hancur seketika. Sedangkan aku sebagai korbannya, tidak tahu harus berbuat apa.

Aku kembali melihat ke sekeliling dunia ini, tapi itu masih bersih seperti sebelumnya. Namun, aku tidak mau menyerah, aku berlari dan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku berlari, berlari, dan terus berlari.

Di dunia ini aku tidak merasakan lelah sejauh apapun aku berlari, tapi aku merasa cukup frustasi karena sejauh ini tidak bisa mendapatkan jawaban yang aku inginkan.

Aku berhenti dan mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu, aku menutup mata dan mulai memikirkan semuanya.

Kenapa semuanya menjadi seperti ini?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Tapi aku tidak bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku. 

Benar, kenapa tidak terpikirkan dari tadi, jika aku tidak tahu jawabannya, tinggal bertanya kepada Dan saja.

Hmm... tapi, aneh, aku tidak bisa melakukannya, seperti ada sesuatu yang menghalangi. Kemudian aku berusaha lebih keras lagi untuk mengambil alihnya, lagipula Dan hanya berhasil mengambil alih separuh tubuhku, dan separuh lainnya masih dalam kendaliku.

Tapi, sial, berkali-kali aku mencoba tetap tidak bisa.

Kenapa?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku membuka mataku dan tidak bisa tidak membelakan mataku, ternyata Dan berdiri tepat di hadapanku.

Tiba-tiba saja aku merasa semua rasa khawatirku menghilang tanpa bekas.

“Dan, apa yang sebenarnya terjadi?”

Tapi Dan tidak menjawab, dia hanya berdiri di sana dalam keheningan total.

Aku merasakan sesuatu yang aneh? Ada apa dengan Dan hari ini?

Aku berjalan mendekat, dan setelah beberapa langkah aku langsung menghentikan langkahku. Karena apa yang aku lihat benar-benar mengejutkanku.

Tubuh bagian kanan Dan yang sebelumnya hanya bayangan hitam kini sedikit demi sedikit berubah, dan menjadi seperti api?

Setelah bayangan hitam itu berubah menjadi api hitam, Dan tidak lagi mempertahankan sikap diamnya, tapi malah menjerit dengan keras.

Dari jeritannya aku bisa membayangkan rasa sakit yang dia rasakan. Dia terus menjerit tanpa ada tanda berhenti. Saat itu pula dunia putih ini tiba-tiba berubah. Semuanya berubah menjadi api hitam, kemana pun aku mengalihkan mataku, semuanya hanya api hitam.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa tiba-tiba semua berubah seperti ini?

Aku kembali memandang ke arah Dan, tapi apa yang aku lihat membuat aku lebih terkejut. Api hitam yang berada di tubuh bagian kanannya mulai membakar tubuh bagian kirinya yang dulu adalah tubuhku.

Kemudian ketika aku melihat ke tubuhku sendiri, ternyata bagian yang terbakar itu kembali ke tubuhku.

Aku tiba-tiba merasa sedikit senang, akan tetapi itu hanya bertahan sesaat dan semuanya hancur ketika aku mendengar jeritan Dan menjadi lebih keras dibanding sebelumnya.

Suara jeritannya sangat memilukan bahkan untuk didengar. Aku tidak bisa membaayangkan rasa sakit yang kini sedang dia rasakan.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sementara tubuh bagian kiri Dan mulai terkikis oleh api hitam dari tubuh bagian kanannya, tubuh bagian kiriku mulai tumbuh. Meski begitu, aku tidak bisa terus membiarkan Dan terus menerima rasa sakit itu, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa.

Di saat aku berada dalam posisi seperti ini Dan adalah tempat aku bertanya, tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu. 

Dan, apa yang harus aku lakukan?

Jeritan Dan terus terdengar semakin memilukan. Ini membuat hatiku terasa seperti tertusuk ribuan duri.

Sangat menyakitkan.

Meskipun kesan awalku pada Dan sangat buruk, karena aku takut dia akan meebut tubuhku. Akan tertapi, saat ini, bagiku Dan adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki.

Meskipun dia sering mengganggu keseharianku.

Meskipun dia telah membuat masa sekolahku menjadi berantakan.

Meskipun dia adalah maniak pantat garis keras.

Tapi, dia tetap sahabatku.

Aku tidak bisa membiarkan dia terus begini, ayolah Danny, jika kau tidak bisa menyelamatkan seorang sahabatmu, jangan pernah berharap kau bisa menjadi tentara yang bisa melindungi hidup orang banyak.

Aku menggertakan gigi dan perlahan mendekati Dan yang masih menjerit kesakitan. Akan tetapi entah kenapa setiap langkah yang aku ambil terasa sangat berat, dan semakin dekat aku dengannya, berat yang aku rasakan semakin bertambah.

Di tengah dunia yang terbakar oleh api hitam ini, aku mengambil langkah demi langkah untuk bisa mendekati Dan. Meskipun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika aku sudah bisa mendekatinya, yang terpenting saat ini adalah aku harus bisa berada di dekatnya.

Tubuh bagian kiriku sedikit demi sedikit mulai pulih, sedangkan itu, di sisi lain, tubuh bagian kiri Dan terus terbakar oleh api hitam.

Saat ini, tinggal bebarapa langkah lagi aku bisa mencapainya, akan tetapi terasa sangat berat, hingga aku merasa tidak mampu lagi.

“Dan, apakah kau bisa mendengarku?”

Aku berharap teriakanku bisa tedengar oleh Dan.

“Dan, tenang saja, aku pasti akan menyelamatkanmu!”

Aku tidak akan membiarkan temanku mati begitu saja di depan mataku.

“Dan, kau harus bertahan, setelah ini selesai, kita akan pergi membeli majalah dengan banyak gadis seksi di dalamnya!”

Aku kini hanya berjarak tiga langkah dari Dan, dari posisiku saat ini aku bisa dengan jelas ekspresi sakit yang dia rasakan.

Aku mengangkat kakiku dan mendekatinya lagi. 

Baiklah, hanya tersisa dua langkah lagi, ayolah Danny, sedikit lagi.

Dengan paksa, aku mengangkat kakiku lagi dan mendekatinya. 

Berhasil, saai ini aku hanya berjarak satu langkah dari Dan.

“jangan mendekat.”

Tiba-tiba aku mendengar suara serak Dan. Aku terdiam sejenak lalu melangkahkan kakiku lagi, dan akhirnya kini aku berada tepat di depannya. Dengan perlahan, aku mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya.

“Jangan mendekat, pergi dari sini.”

Suara serak Dan terdengar lagi, tapi aku abaikan dan terus mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Ketika aku berhasil menyentuh tubuh Dan, aku tiba-tiba merasakan rasa sebuah perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Ini terasa sakit, melelahkan, sekaligus membuaatku takut.

Akan tetapi, aku bisa melihatnya dengan jelas, setelah aku berhasil menyentuh Dan, ekspresi sakit yang dia rasakan menjadi sedikit berkurang.

Aku merasa senang, ternyata ini sangat mudah, aku hanya harus menyentuhnya. Tapi tiba-tiba aku merasa terguncang karena apa yang aku lihat, tubuh bagian kiri Dan yang sebelumnya hilang karena karena terbakar oleh api hitam tadi tiba-tiba tumbuh kembali, dan setelah aku melihat ke tubuhku sendiri, ternyata bagian yang sebelumnya datang, hilang lagi.

“Tidak, lepaskan aku.”

Aku bisa merasakan rasa putus asa di suara itu, tapi sayangnya aku sudah membulatkaan tekadku, jika apa yang sedang aku lakukan ini bisa menyelamatkan Dan, aku akan melakukannya.

Perasaan misterius saat aku menyentuhnya terus aku rasakan seiring dengan menghilangnya bagian tubuhku dan berubah menjadi sebuah bayangan hitam. Aku terus menahannya, hingga aku tidak tahu berapa lama, kini semua bagian tubuhku berada tepat di depanku, sedangkan aku hanyalah sebuah sosok bayangan hitam.

Aku sangat kelelahan, dan merasa bisa menghilang kapan saja. Ini perasaan yang sulit dijelaskan, akan tetapi aku senang, karena kini Dan sudah tidak menjerit kesakitan seperti sebelumnya. Aku berhasil menyelamatkannya.

“Sialan! Apa yang kau lakukan, kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu?” Dan berteriak. Meskipun dia sudah mendapatkan semua bagian tubuhku, akan tetapi dia masih terbaring lemah di depanku.

“Tidak apa-apa.” Jawabku lemah.

“Apanya yang tidak apa-apa? Dasar bodoh.” Teriak Dan lagi.

Aku merasakan tubuhku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, jadi aku tidak memperdulikan omelan Dan.

“Tolong wujudkan mimpiku, dan rawat ibuku, selamat tinggal ... Dan.”

Semua yang aku lihat berubah menjadi hitam, dan aku tidak bisa merasakan apapun lagi.