Episode 235 - Tugu Ampera Utara



Walau sempat terpana, Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari bahwa undangan Embun Kahyangan tiada dapat dipenuhi. Bagaimana mungkin mereka melakukan hubungan intim di hadapan Komodo Nagaradja!? Sang Super Guru dipastikan akan mengemuka di hadapan Embun Kahyangan sambil mengacungkan tinju penuh amarah. Jangan sampai ini terjadi!

Terlebih lagi, tak terbayangkan apa yang akan Ginseng Perkasa lakukan... Siapa tahu ia memiliki semacam sarana untuk merekam sesuatu kejadian. Kewaspadaan Bintang Tenggara sangatlah masuk akal, karena bisa saja Ginseng Perkasa membawa-bawa mineral langka seperti Permata Pringgondani untuk mengabadikan sebuah peristiwa. 

Bila saja saat ini sepasang sejoli tersebut berada di dalam Alas Roban atau dimensi ruang di mana Nenek Sukma terkurung, mungkin saja Bintang Tenggara akan menimbang-nimbang... 

“Akan tetapi...,” Bintang Tenggara berujar, “kita bukanlah suami dan istri.”

Embun Kahyangan tersentak. Ia pun terlihat kebingungan, selayaknya baru saja menyadari akan satu hal penting. Sebagai tanggapan, ia menatap Bintang Tenggara. “Menikah setidaknya memerlukan wali dan saksi...” 

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Setidaknya remaja seperti mereka mengetahui tata cara yang benar sebelum melakukan sesuatu perbuatan tertentu.

“Mari kita keluar dari dimensi waktu ini.” Embun Kahyangan segera merapal jurus. “Diriku akan mencari wali dan saksi, sementara dikau ikut serta di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta.

...


Suasana di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang penuh suara hiruk-pikuk. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa telah tiba di atas panggung utama sejak beberapa waktu lalu. Ia duduk perkasa di atas singasana nan terbuat dari jalinan formasi segel. Cahaya mentari menerpa gemilang, menambah kesan keagungan sang penguasa.

Para peserta, mereka yang berada pada usia di bawah 20 tahun dan memiliki kemampuan tempur setara Kasta Perak telah menanti di sembilan panggung kecil-kecil. Atraksi mereka saat menuju ke panggung tersebut baru saja diulang, dan sungguh sebuah pemandangan yang sekali lagi membuat khalayak penonton tergila-gila. 

“Dengan ini…,” pembawa acara berkumandang lantang, “Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang di…” 

Seorang anak remaja melesat masuk ke dalam Gelanggang Utama. Kilatan unsur kesaktian petir berderak dan menari-nari tak beraturan. Ketibaannya membuat segenap khalayak terpana dan sang pembawa acara terkejut, hingga terhenti sejenak. 

Bintang Tenggara melompat naik ke atas panggung kesembilan yang terletak di posisi paling ujung. Ia sangat menyadari bahwa telah terlambat, walau tak terlalu lama. Oleh karena itu, tiada ia dapat berhenti sejenak di tribun kehormatan Kadatuan Kesembilan. Padahal, sungguh ia hendak menyampaikan berita besar tentang Nenek Sukma kepala beberapa pihak.

Sang Datu Besar dan Datu Tengah dari Kadatuan Kesembilan sontak bangkit berdiri. Ayahanda Sulung Rudra menarik napas lega, dan Ibunda Tengah Samara menggengam kedua kepalan tangan sebagai ungkapan suka cita. Di atas panggung kecil kesembilan, Balaputera Prameswara berlinang air mata sambil melompat-lompat riang gembira. 

Sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua, Balaputera Wrendaha, terlihat bangkit dari tempat duduknya. Kedua matanya menyipit ketika memandangi ke arah Bintang Tenggara. Anak remaja itu adalah sebuah faktor tak terduga yang terseret ke dalam rencana yang telah tersusun demikian lama. Sedari awal, ketibaan Balaputera Gara di Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan sebuah tanda tanya besar bagi sang Datu Besar. Kepulangan Balaputera Lintara kemudian membawa sedikit pencerahan terkait Balaputera Khandra yang mengirim Balaputera Gara. Baru pula diketahui, bahwa Balaputera Khandra sendiri merupakan anak didik dari Balaputera Ragrawira. 

Sampai sejauh itukah Balaputera Ragrawira yang tiada diketahui dimana rimbanya dapat menyusun rencana? Mungkinkah sosok tersebut telah mengetahui tentang Balaputera Sukma yang selama ini terpenjara? Jawaban atas satu pertanyaan, menjurus kepada rentetan pertanyaan-pertanyaan lain… 

Akan tetapi, perihal Balaputera Ragrawira bukanlah sesuatu yang mencemaskan sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua saat ini. Bagaimana Balaputera Gara dapat keluar? Apa yang terjadi kepada Balaputera Sukma? Apakah Balaputera Lintara berhasil menuntaskan tugas? Dimanakah Balaputera Tarukma?

“Kau terlambat dan tiada diperkenankan mengikuti Hajatan Akbar Pewaris Takhta!” hardik Datu Besar dari Kadatuan Kedua sambil mengacungkan jemari telunjuk. 

Bintang Tenggara menatap balik ke arah sang Datu Besar dari Kadatuan Kedua. Sejak pertama kali berhadapan dengan sosok tersebut, dirinya tiada pernah merasakan sebuah ancaman. Bahkan di kala sang Datu Besar itu berang dan menampar Balaputera Ugraha, tiada tebersit sedikit pun kesan akan bahaya yang mengincar. Dari pertukaran kata-kata Nenek Sukma dan Lintang Tenggara, telah diketahui bahwa sosok tersebut bernama Balaputera Wrendaha. Balaputera Wrendaha ini merupakan anak didik dari Balaputera Dharanindra. Ia jugalah yang mengirim Lintang Tenggara untuk mengeluarkan Nenek Sukma dari dalam dimensi ruang dimana beliau terpenjara. 

Mengapa masih saja ia bersandiwara? batin Bintang Tenggara. 

“Omong kosong!” terdengar jawaban dari tribun kehormatan Kadatuan Kedelapan. 

“Kita adalah para punggawa dari negeri yang beradab. Aku tak akan mengizinkan seorang anak remaja menginjak-injak aturan sesuka hatinya!” Lagi-lagi Balaputera Wrendaha berang. Meski, alasan yang ia kemukakan sangat berdasar. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua,” Ayahanda Sulung Rudra angkat bicara. “Hajatan Akbar Pewaris Takhta belumlah dimulai….” 

“Cih!”

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Kedua…” Kali ini suara datang dari panggung kecil paling ujung. “Sungguh diriku tiada berani bertindak lancang. Keterlambatan pada pagi hari ini dikarenakan ‘garis khayal’ berhasil menjangkau ‘jiwa’ namun dihadang ‘pukulan’. 

Balaputera Wrendaha tersontak di kala mendengar kata-kata Bintang Tenggara. Wajahnya berubah serius. Ia menatap tajam!

Sebagian Datu Besar lain menggeleng-gelengkan kepala. Sudahlah kurang jelas apa yang disampaikan si Balaputera Gara itu, ia pun berhasil dengan gemilang memancing amarah lawan bicaranya. Persoalan ketidaksetujuan Datu Besar Kadatuan Kedua dapat ditangani oleh Datu Besar Kadatuan Kesembilan, sedangkan anak remaja tersebut tiada pantas untuk menjawab seorang Datu Besar. Keadaan akan semakin memanas! 

Sebaliknya, Balaputera Wrendaha bernapas lega. Tentu ia menangkap makna di balik kata-kata Bintang Tenggara. Menurut ilmu alam, terdapat garis khayal yang digunakan untuk menentukan lokasi di bumi terhadap garis khatulistiwa. ‘Garis khayal’ tersebut dikenal sebagai ‘garis lintang’. Kemudian, ‘jiwa’ memiliki padanan kata yaitu ‘sukma’ dan ‘pukulan’ sama dengan ‘taruk’. Dengan kata lain, pesan yang tersembunyi di balik kata-kata Bintang Tenggara adalah: Lintang berhasil menjangkau Sukma, namun dihadang Tarukma.

“Balaputera Gara, apakah dikau mengetahui dimana keberadaan Datu Tua dari Kadatuan Kesatu…?” sela seorang lelaki dewasa dari arah yang berlawanan. Sedari tadi sang Datu Besar Kadatuan Kesatu hendak mengajukan pertanyaan, namun baru kini memperoleh kesempatan untuk angkat suara. Dan lagi, tindakannya ini disadari oleh Datu Besar lain sebagai sebuah langkah mengalihkan perhatian Balaputera Wrendaha yang sebentar lagi kemungkinan besar akan mengamuk! 

Untuk satu pertanyaan ini, Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan keraguan. Ia mengetahui bahwa sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu merupakan musuh utama, namun masih meragu apakah sang Datu Besar juga terlibat di dalam muslihat busuk… Apakah Balaputera Tarukma bersiasat seorang diri? Ataukah seluruh kerabat Kadatuan Kesatu berada di balik tindakannya? 

Mendapati keraguan-raguan Bintang Tenggara, Balaputera Wrendaha segera menimpali. “Jikalau bocah itu dapat keluar dalam keadaan baik-baik saja, maka kuyakin bahwa Yang Terhormat Datu Tua dari Kadatuan Kesatu pun akan segera menyusul. Kemungkinan besar saat ini ia sedang menutup lorong dimensi ruang yang telah dibuka paksa.” 

Mudah sekali perhatian Datu Besar dari Kadatuan Kedua teralihkan. Biasanya, diketahui ramai bahwa tokoh tersebut sangat taat asas dan tak mudah menyerah. Beruntung sekali anak remaja itu… pikir sejumlah Datu Besar dan anggota dari kadatuan yang tak terlibat di dalam sengketa keikutsertaan. Belum mereka sadari bahwa sebuah sandiwara spontan sedang dimainkan oleh Balaputera Wrendaha bersama Balaputera Gara. 

“Sudahlah!” hardik Datu Besar Kadatuan Kedua. “Pembawa acara, segera mulai Hajatan Akbar!” 

Sang pembawa acara tergagap. Sungguh ia tak kuasa menghentikan pertikaian yang berlangsung. Sepintas ia melirik ke arah singasana di tengah gelanggang. Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa hanya mengamati dengan santai sahaja. 

“Dengan ini…,” pembawa acara kembali berkumandang lantang, “Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang dibuka!” 

Sambutan riuh rendah datang dari segenap khalayak. Puluhan ribu jumlah mereka, berteriak memberikan dukungan penuh semangat. Seantero Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang bergegar ibarat sedang berlangsung pertarungan di antara ahli Kasta Emas nan digdaya. 

Di saat yang sama, rangkaian formasi segel berpendar dan sebuah lorong dimensi ruang membuka diri tepat di hadapan kesembilan panggung kecil. 

“Hajatan Akbar Pewaris Takhta Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Tantangan pertama, Tugu Ampera Utara!” 

Bintang Tenggara segera memahami tantangan yang akan bergulir. Di dalam rentang satu purnama dirinya mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa, ia telah mengetahui perihal rintangan-rintangan Tugu Ampera. Tugu Ampera Barat merupakan rintangan tirai formasi segel yang hanya dapat ditembus dengan mengandalkan kemampuan raga dan jurus persilatan. Tugu Ampera Timur berisi halang rintang terhadap jurus dan unsur kesaktian, dan Tugu Ampera Selatan memuat rintangan terhadap kemampuan indera keenam atau mata hati. Tugu Ampera Utara, dalam hal ini, merupakan rintangan terhadap formasi segel. Dengan kata lain, untuk menembus Tugu Ampera Utara, maka seorang ahli harus merapal formasi segel demi menembus formasi segel yang menjadi rintangan. 

Para remaja yang berhak ikut serta di dalam Hajatan Akbar Pewaris Takhta melompat masuk. 35 jumlah mereka secara keseluruhan. Bintang Tenggara melompat bersamaan dengan Balaputera Prameswara dan segera tiba di sebuah lapangan luas. Ke-35 remaja berdiri berbanjar dan terpisah jarak sekira sepuluh langkah. 

Di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang yang baru saja ditinggal pergi oleh para peserta, sebuah formasi segel berpendar dan membentang besar. Formasi segel itu kemudian terpecah menjadi kotak-kotak berukuran lebih kecil, sekira satu lembar layar perahu. Tujuh kotak mendatar serta lima kotak menurun. Secara keseluruhan, jumlah kotak adalah 35 dan pada setiap permukaannya terlihat setiap satu peserta Hajatan Akbar. 

Sambutan riuh-rendah kembali bergema ketika pada hadirin menyaksikan sosok dukungan mereka pada layar. Melalui cara ini, para penonton tetap dapat memantau kejadian yang berlangsung di dalam ruang dimensi Tugu Ampera Utara. 

“Kepada para peserta Hajatan Akbar Pewaris Takhta,” sang pembawa acara berujar lantang. Di saat yang sama, sebuah tirai formasi segel berpendar di hadapan setiap satu remaja. Susunannya rumit dan tebal, serta bergerak secara beraturan ibarat tembok kokoh yang terbuat dari gumpalan-gumpalan kecil logam yang melayang. 

Bintang Tenggara mengamati dengan seksama. Sebagaimana dirinya, seluruh peserta pastinya telah mengetahui akan apa yang perlu mereka lakukan terhadap formasi segel tersebut. Tembok tersebut perlu diurai! 

Melayang tinggi di atas tembok, sebuah formasi segel lain mengemuka. Pada permukaannya, tertulis angka dimulai dari 1 hingga 20, yang berurutan dari atas sampai ke bawah. Formasi segel yang sama juga mengemuka di atas layar lebar di Gelanggang Utama. 

“Barang siapa yang mencapai peringkat 20 besar, maka ia layak mengikuti tantangan berikutnya!” 

Tantangan yang akan segera bergulir bukan hanya terhadap kemampuan mengurai formasi segel, melainkan juga tantangan atas kecepatan dalam mengurai! Sejumlah remaja mulai terlihat khawatir, sebagian besar lagi membusungkan dada dan mengangkat dagu.