Episode 27 - Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul (1)


Malam itu, Jaya beristirahat di sebuah tepi sungai sambil menyalakan api unggun, telinganya yang tajam dapat mendengar suara gerakan-gerakan halus di antara suara pembakaran api unggun dihadapannya. Menurut firasatnya sejak tadi siang ia sudah tahu kalau ia dibuntuti oleh seseorang, apalagi ketika hidungnya mencium bau asam, apek, dan belerang terus mengikutinya. Kini bau itu tercium tidak jauh dari dirinya berada, ia tersenyum jahil, ia membuka mulutnya, dengan tenaga dalamnya ia menirukan suara harimau mengaum yang sangat keras sampai daerah disekitar sana seolah bergetar oleh suara Jaya yang menirukan auman harimau tersebut!

Gadis yang mengikuti Jaya secara diam-diam itu tak lain adalah Galuh Parwati, tiba-tiba ia mendengar suara auman harimau yan sangat menyeramkan! Tanah yang ia pijak pun serasa bergetar oleh auman itu! Gadis ini langsung panik dan celingukan melihat kesana kemari, hingga tiba-tiba sesosok tubuh melesat dari atas kepalanya, “Baaaaa!!!!” kejut orang yang tiba-tiba berada dihadapannya itu. “AAAAAAA!!!!” jerit Galuh Parwati sambil lari kearah api unggun, Jaya pun tertawa terbahak-bahak dibuatnya.

“Hahahaha... Lucu sekali! Kiranya kau Nona Galuh yang mengikutiku dari bukit tunggul!” sela Jaya diantara tawanya yang terbahak-bahak setelah berhasil mengejutkan Galuh.

“Sialan kau!” maki Galuh dengan wajah memerah menahan malu.

“Galuh, ada apakah kau mengikuti sejak siang tadi dari Bukit Tunggul?” Tanya Jaya.

“A... Akk... Aku...” Galuh gugup sekali, apa yang harus ia katakan pada pemuda di hadapannya ini, mana mungkin ia langsung bilang kalau ia disuruh menikahinya.

Jaya nyengir melihat kegugupan Galuh, gadis yang biasanya galak ini kini terlihat sangat kikuk dihdapannya “Ada apa? Katakanlah saja Galuh!” ucap Jaya sambil nyengir menggoda Galuh.

Galuh menggigit bibirnya, ia tidak sanggup mengatakan apa maksud hatinya yang sebenarnya, maka menjawablah ia “Jaya... Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini” ucapnya dengan grogi.

“Melakukan ini apa?” potong Jaya Laksana.

“Guruku menyuruhku untuk... Untuk...”

“Untuk apa?” potong Jaya.

“Untuk mengikutimu! Guru menyuhku untuk ikut denganmu, menurutnya kita harus bekerjasama untuk menghentikan kezaliman Prabu Kertapati!” jawab galuh pada akhirnya, ya gadis ini berbohong karena tak kuasa mengatakan maksud hatinya yang sebenarnya. Tentu saja ia merasa malu dan gengsi kalau harus jujur mengutarakan maksudnya, meskipun ia seorang wanita keras hati yang ditempa oleh kejamnya dan kerasnya dunia, ia masih mempunyai rasa malu untuk mengakui mengatakan maksud hatinya pada seorang pria.

Jaya berpikir sejenak, ia menganggap kalau Galuh mengatakan yang sebenarnya (padahal ia berbohong), Jaya pun beranggapan kalau Galuh hendak memanfaatkan dirinya untuk membalas dendam pada Prabu Kertapati, Galuh memang menaruh dendam pada Prabu Kertapati sebab keluarganya dibantai dengan kejam oleh Raja Mega Mendung tersebut, namun maksud ia yang sebenarnya bukan itu. 

Andaikan Jaya lebih berpengalaman dan dapat melihat merahnya wajah Galuh yang bagaikan udang rebus itu, ia akan tahu kalau Galuh tidak bermasud demikin, ia akan tahu kalau Galuh telah menaruh hati padanya.

Karena menyangka Galuh akan menjadikannya alat untuk membalas dendam, Jaya pun memutuskan untuk tidak meladeni Galuh, wajahnya berubah menjadi dingin. “Galuh sebaiknya kita makan dulu, ikannya sudah matang!” ucap Jaya yang tadi membakar ikan gurame yang ia tangkap dari sungai. 

Mereka berduapun lalu menyantap gurame bakar tersebut dengan saling diam, tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka, setelah itu mereka pun langsung tidur. Jaya merasa kecewa sebab ia menyangka Galuh akan menjadikannya alat untuk membalas dendam, sedangkan Galuh merasa gelisah, ia kebingungan untuk mengutarakan maksudnya yang sebenarnya.

Galuh merasa tidak suka dengan kesunyian di antara mereka berdua, maka ia pun memutuskan untuk membuka obrolan terlebih dahulu. “Jaya, kalau boleh tahu darimanakah asalmu?”

Jaya mendesah, wajahnya berubah murung, “Aku sendiri tidak tahu asalku dari mana, yang aku tahu aku dibesarkan di Padepokan Sirna Raga oleh guruku Kyai Pamenang dan Nyai Mantili sejak aku bayi…,” jawabnya.

“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?”

Jaya menatap kosong kea pi unggun dihadapannya “Aku tidak pernah bertemu dengan orang tuaku, menurut cerita guru, ayahku bernama Jayadi, ia terbunuh sewaktu menitipkan aku yang masih bayi pada Kyai Pamenang, aku juga tidak pernah tahu tentang ibuku.” 

Galuh mengangguk-ngangguk “Oh begitu” ucapnya “Sial aku salah membuat topic pembicaraan!” makinya pada diri sendiri

“Kalau kau sendiri bagaimana Galuh? Dari Logat bicaramu kamu seperti dari Jawa pesisir utara,” tanya Jaya. 

“Aku anak pedagang dari Tegal yang kebetulan sedang berdagang ke tanah Pasundan ini, namun naasnya saat itu sedang terjadi perang antara Mega Mendung dan Cadas Ngampar, ayah dan ibuku meninggal dalam peperangan itu.” Jawab Galuh yang masih tidak berterus terang aka nasal-usulnya. 

“Begitu... Ya sudah, hari sudah larut, kita tidur saja Galuh.” ucap Jaya sambil memejamkan matanya, Galuh pun ikut menyusul memejamkan matanya.

Sinar matahari yang menyapu mukanya membuat gadis ini terbangun dari kenyenyakan tidurnya. Dibukanya kedua matanya dengan pelahan, digosoknya beberapa kali kemudian dipalingkannya kepalanya ke samping. Dia terkejut mendapatkan pemuda itu tak ada di sampingnya, la segera bangun duduk, lalu berdiri dan memandang ke belakang. Tapi pemuda itu tidak kelihatan. “Jaya!” panggilnya. Tak ada yang menyahut. 

“Jaya…!” panggilnya sekali lagi lebih keras. Hanya gaung suaranya yang menjawab. 

Ia terus mengedarkan pandangannya sampai matanya memandang ke batu besar di samping pembaringan di mana Jaya tidur semalam, dilihatnya ada sehelai lontar menancap di batu itu, lontar itu bertulis :

“Maafkan kalau aku pergi tanpa pamit. Aku terpaksa meninggalkan kau. Kalau ada umur kita pasti bertemu lagi. Kembalilah ke tempat gurumu. Ketahuilah aku meninggalkanmu karena terpaksa, aku meninggalkanmu bukan karena aku tidak suka padamu, aku meninggalkanmu sebab aku tidak ingin kau terus terlarut dalam lautan dendammu pada Prabu Kertapati yang seolah tak bertepi itu. Galuh, aku memang mendapatkan tugas dari guruku untuk menghentikan sepak terjang Prabu Kertapati, tapi bukan dengan cara pertumpahan darah... Galuh pulanglah ke Bukit Tunggul, aku yakin kau adalah gadis yang baik. –Jaya Laksana-“.

Galuh merasakan dadanya menyesak. Digigit-gigitnya bibirnya. Nyatanya pemuda itu sudah pergi. Hatinyanya masih terasa hangat oleh tatapan dan obrolan pemuda itu ketika makan malam tadi, matanya terasa panas, tak terasa dua butir air mata menetes keluar dari kedua bola matanya. “Seandainya aku berani mengatakan maksud hatiku yang sebenarnya... Oh guru apa yang harus aku lakukan, kini hatiku benar-benar telah tertpatri oleh Jaya Laksana... Bagaimana ini?” desahnya dalam hati, dengan langkah gontai ia pun melangkahkan kakinya mengikuti aliran sungai dihadapannya ke arah hilir.


***


Di puncak gunung Patuha, didalam goa yang remang yang hanya mendapat cahaya dari sebuah obor, duduklah sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam, kuku ditangannya panjang-panjang dan berwarna hitam, rambutnya gondrong acak-acakan sebahu, kemudian baru nampaklah wajahnya dari balik kegelapan, ternyata wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng yang sangat mengerikan!

Topeng itu berwarna hitam kecuali dibagian matanya yang bolong berwarna merah darah, dibagian atas alis kiri-kanan ada tanduk yang mencuat keluar, tepat dibagian bibirnya terdapat dua buah taring yang sejajar dengan masing-masing tanduk diatasnya, dibagian keningnya mengkerut tiga buah garis bagaikan orang yang sedang mengernyitkan keningnya, topeng itu tampak menyeringai, sementara dibagian matanya yang bolong, nampak dua buah bola mata yang melotot merah dari dalam wajah si pemiliknya, dialah si pertapa sesat dari golongan hitam yang berjuluk si Topeng Setan.

Saat itu datanglah seorang nenek bungkuk bertubuh tinggi, wajahnya sangat menyeramkan, mulutnya merah karena mengunyah sirih, dan matanya sangat merah. “Kakang memanggilku?” Tanya si Nenek.

“Benar Adikku, aku memanggilmu sebab sesuatu yang gawat untuk kita akan terjadi, bahaya besar akan mengancam kedua murid kita Prabu Kertapati dan Mega Sari!”

“Apakah bahaya itu adalah malapetaka yang Kakang katakan 20 tahun yang lalu?” Tanya Nyai Lakbok.

“Benar adikku, malapetaka ini timbul karena Prabu Kertapati telah melanggar perjanjiannya dengan kita, kini bayi yang seharusnya menjadi korban persembahan pada Eyang di Alam Ghaib sana telah dewasa dan akan menjadi malapetaka bagi keluarga Prabu Kertapati!” jelas Topeng Setan.

“Sekarang kita terpaksa harus bertindak langsung mengenyahkan pemuda yang akan menjadi biang malapetaka ini, kita perintahkan semua murid-murid kita untuk bertindak membunuh pemuda bernama Jaya Laksana yang merupakan anak sulung Prabu Kertapati itu!” tegas si Topeng Setan.

Nyai Lakbok pun mengangguk “Baik Kakang, aku akan memanggil semua murid-murid kita sekarang juga!”.


***


Pagi itu Galuh Parwati terus melangkah dengan kaki gontai dan perasaan mengambang, ia terus teringat pada sosok Jaya Laksana, mulai dari pertemuannya yang pertama kali di rumah Juragan Karta sampai malam tadi ketika mereka berkemah bersama, di hatinya terus terngiang nama dan sosok Jaya Laksana “Oh Guru, perasaan aneh apakah ini? Rasanya begitu sakit menusuk-nusuk, tapi juga terasa hangat... Perasaan ini seolah semakin besar ketika a meninggalkan aku begitu saja?” rintihnya dalam hati.

Ia terus melangkah hingga tak terasa ia memasuki sebuah desa, saat itu didengarnya suara kentungan tanda bahaya dipukul bertalu-talu, orang-orang seisi desa nampak panik berlarian kesana-kemari. “Eh ada apakah ini? Nampaknya desa ini sedang dilanda bahaya besar?” tanyanya pada diri sendiri.

Dia lalu mencegat seorang perempuan yang berlari ke arahnya “Nyi dulur, apakah yang sedang terjadi?” tanyanya.

“Ada empat mayat hidup yang menyerang rumah Ki Demang!” jawabnya dengan panik sambil melepaskan diri dari pegangan Galuh dan langsung berlari meninggalkan desa. 

“Mayat hidup? Kenapa ada mayat hidup siang-siang begini?” tanyanya pada diri sendiri penasaran, dia pun langsung berlari ke arah alun-alun desa dimana kademangan berada.

Ketika sampai di Kademangan, terkejutlah Galuh melihat apa yang sedang terjadi di sana, ternyata memang benar ada empat mayat hidup yang tubuhnya sudah rusak menjadi setengah tengkorak tengah dikepung oleh para pengawal Kademangan yang dipimpin oleh Ki Demang langsung, tapi rupanya empat mayat hidup itu hebat sekali, para pengawal kademangan itu bertumbangan kena hajar para mayat hidup itu.

“Sungguh aneh! Biasanya ilmu hitam semacam itu hanya bisa bekerja pada malam hari, tapi mayat-mayat itu dapat hidup di pagi hari begini! Pasti ini ulah dukun teluh yang sangat sakti!” duga Galuh, gadis berkulit hitam manis ini pun segera melompat ke tengah gelanggang arena pertempuran.

Galuh segera menendang keempat mayat hidup itu hingga mereka terjajar mundur, “Ki Demang mundurlah! Rawat yang terluka, biar saya yang menghadapi mayat-mayat hidup itu!” perintahnya pada Ki Demang.

“Baiklah! Hati-hati Nyi Dulur!” jawab Ki Demang sambil memberi isyarat pada para pengawalnya untuk munndur dan membawa mereka yang terluka maupun yang mati.

Galuh bergidik ngeri juga melihat wajah mayat hidup itu dari dekat, kulit dan dagingnya sudah rusak menebar bau busuk dan di beberapa bagian tulang tengkoraknya sudah terlihat, buru-buru dia mengenyahkan rasa ngeri itu, diperhatikan gerakan-gerakan mayat hidup itu, gerakan-gerakan mereka bukan seperti orang yang sedang bersilat, gerakan mereka lebih mirip boneka-boneka yang dikendalikan oleh benang dari jauh! 

Saat itu tiba-tiba terdengar suara menggema di Kademangan itu, suara tanpa wujud itu berkata “Bagus! Bagus! Seorang Gadis yang masih suci hendak ikut campur urusanku! Katakanlah siapa namamu!”

Galuh menatap ke atas langit kademangan itu yang merupakan sumber suara ghaib itu. “Kalian Tidak Perlu Tahu siapa Aku! Yang pasti aku sudah terlalu muak melihat tindakan yang semena-mena terhadap kaum lemah di Bumi Mega Mendung ini!” jawab Galuh dengan lantang.

“Hahaha... Kau percaya diri sekali Nona Manis! Daripada kau membela Demang tua Bangka itu sebaiknya kau ikut denganku saja! Kau cocok menjadi korban persembahanku kepada Eyang di alam sana!”

Galuh tertawa lebar mendengarnya “Mana sudi aku dijadikan korban oleh orang pengecut macam kau yang berlindung di balik ilmu hitam murahan begini!”

Marahlah suara ghaib itu. “Sombong sekali kau gadis ingusan! Bunuh dia!”

Empat mayat hidup itu segera menerjang Galuh dari segala arah, Galuh pun meladeninya dengan ilmu silat yang ia dapatkan dari si Dewa Pengemis, terjadilah pertarungan seru di halaman Kademangan itu antara Galuh dengan empat mayat hidup itu!

Ki Demang bersama istrinya, anak laki-laki sulung dan anak gadis bungsunya serta seluruh pengawal Kademangan yang tersisa menatap pertarungan itu dengan rasa waswas dan ngeri, kalau sampai gadis pendekar tak dikenal yang menolong mereka kalah, maka celakalah ia dan keluarganya.

Ternyata mayat-mayat hidup yang gerakannya mirip boneka yang dikendalikan oleh benang itu sungguh hebat karena tak bisa diduga oleh Galuh, maka ia pun membuka jurus “Garuda Mengepakan Sayap”, setelah Galuh mengeluarkan jurus tersebut, pertempuran pun mulai berbalik arah, Galuh nampak unggul dapat menyarangkan pukulan dan tendangannya ke keempat mayat hidup itu, hanya saja mayat hidup seperti tidak merasakan efek apa-apa dari pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan Galuh yang diisi oleh tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat tinggi itu.

Galuh terus bertahan menghajar keempat mayat hidup itu, tapi mayat hidup selalu bangkit lagi seolah pukulan-pukulan Galuh tidak ada artinya bagi mereka, tubuh Galuh pun mulai bermandikan keringat, dia mulai mengeluh dalam hati, “Celaka! Tak peduli sekeras apapun aku memukul atau menendang mereka, mereka seperti tidak merasakan apa-apa! Apa yang harus aku lakukan untuk mengalahkan mereka?” keluhnya dalam hati.

Tiba-tiba ia mendapatkan suatu ide. “Ya kalau mayat hidup-hidup itu tidak bisa dilumpuhkan, mengapa tidak aku bakar saja mereka semua sekalian?” pikirnya.

Gadis ini melompat agak jauh kebelakang, ia mengangkat tinggi-tinggi telapak tangan kanannya ke atas, mengumpulkan seluruh tenaga dalam serta panas tubuhnya ke telapak tangan kanannya, bau belerang yang menusuk langsung tercium santar di seluruh area Kademangan, ia bersiap melepaskan pukulan “Telapak Kawah Tunggul”! Dengan teriakan menggeledek ia pun menembakan pukulan sakti dari tangan kanannya, sinar putih yang amat panas disertai pusaran angin puting beliung panas menderu! 

Blaarrr! Satu mayat hidup itu terkena telak pukulan Galuh, mayat hidup itu jatuh berguling-guling dengan tubuh terbakar hebat! Galuh pun terus menembakan pukulan saktinya kepada tiga mayat hidup lainnya, ketiga mayat hidup itu pun roboh dengan seluruh tubuh mereka terbakar tanpa bisa berkutik lagi.

Galuh Parwati menarik nafas lega dan mengusap keringat di keningnya dengan lengan bajunya. “Alhamdulillah…” ucapnya syukur dalam hati.