Episode 37 - Konflik Besar


Pagi yang awalnya seperti pagi-pagi biasanya, dimana toko di ruko-ruko mulai buka dan jalan raya dipenuhi kemacetan oleh kendaraan yang berduyun-duyun menuju kantor, kini menjadi salah satu hari terkelam dalam hidupku. Arie tertelungkup tak bergerak di depanku, entah pingsan entah mati. 

Cakarku telah berlumuran darah dan masih belum berhenti gemetar. Sementara tubuhku terasa sangat berat dan pandangan mataku tak lagi jelas. Mungkin hanya soal waktu sebelum nyawa tak berhargaku melayang pergi meninggalkan dunia ini. Agak jauh disamping kiriku, Shinta tengah menangis tersedu-sedu sambil menahan tubuh lemas Yanti.  

Semua ini bermula setelah kami berhadapan dengan Perkumpulan Bendera Tujuh Warna, saat itu kami berlari menuju lokasi berkumpulnya anggota Kelompok Daun Biru yang lain. Namun belum sampai dua ratus meter kami melaju, tiba-tiba saja langit berubah menjadi redup.

“Pusaka pemisah alam!” Kami sama-sama terpekik, bertepatan dengan itu, terdengar suara dentuman dahsyat berkali-kali dari arah kejauhan. 

Aku dan yang lain saling pandang dengan wajah tegang. 

“Tingkatkan kewaspadaan!” seru bang Genta di depan kami. Kemudian dia kembali berlari menuju tempat berkumpulnya Kelompok Daun Biru. 

Shinta sempat melihatku sekali lagi sebelum melanjutkan perjalanan, karena arah yang dituju oleh bang Genta adalah lokasi dimana kami bertarung dengan anggota Perserikatan Tiga Racun pada waktu itu. Aku hanya bisa menarik nafas panjang sebelum ikut berjalan bersama yang lainnya. Sementara itu, suara dentuman-dentuman dan teriakan terdengar semakin dekat seiring dengan semakin mendekatnya kami ke lokasi pertarungan dengan anggota Perserikatan Tiga Racun dulu. 

Tepat pada saat itu, sebuah cahaya menyilaukan tiba-tiba saja menyemburat menembus langit dan meninggalkan sebuah tirai cahaya seperti aurora di kutub utara. 

“I...itu...” Suara bang Genta bergetar sambil menunjuk cahaya tersebut. 

“Itu apa bang?” tanyaku segera. Baru pertama kali kulihat fenomena seperti ini, dan perasaanku sudah sangat tidak enak sejak pertama kali pusaka pemisah alam diaktifkan entah oleh siapa. 

“Itu tirai pelindung! Aku pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Sewaktu dalam misi menyelidiki tempat persembunyian pendekar masa lampau. Jangan-jangan...” 

“Awas!”

Ucapan bang Genta berhenti di tengah jalan, karena pada saat itu bongkahan bangunan yang hancur menghambur deras ke arah kami. Bang Genta, Arie, dan Shinta langsung berjumpalitan ke sebelah kiri dan kanan, sedangkan aku dan Yanti melompat mundur. 

“Siapa kalian?!” 

“Maman?!”

“Awas!”

Tiba-tiba saja didepanku sudah terjadi pertarungan sengit. Bang Genta dan Arie membantu salah satu anggota Kelompok Daun Biru beradu jurus dengan tiga orang berpakaian serba putih. Tanpa komando, aku, Shinta, dan Yanti ikut menerjang kedua orang tersebut, persetan dengan pertarungan adil!

Ketiga orang itu tampaknya langsung menyadari kondisi sudah sangat tidak menguntungkan bagi mereka. Ketiganya segera berusaha melepaskan diri dari kepungan kami dan melarikan diri. 

“Jangan biarkan mereka lari! Habisi mereka!” jerit Maman ketika melihat gelagat keduanya berusaha kabur. 

Tanpa menanyakan alasan Maman menginginkan kematian mereka, kami segera merapatkan kepungan kami dan memperderas serangan. Bang Genta menyerang mereka dengan tendangan yang berkelebat sangat cepat. Arie menggunakan pukulan ganas yang menimbulkan hembusan angin deras. Sedangkan Yanti menyerang dengan tapak yang ditebaskan seperti golok, kulihat beberapa balok kayu dan tembok bangunan yang terkena tebasan tangannya langsung terbelah seperti ditebas golok super tajam. Ini pertama kalinya aku melihat kawan-kawan satu kelompok selain Shinta bertarung dengan jurus mereka masing-masing. 

Memang Kelompok Daun Biru berbeda dengan perguruan silat biasa, karena para anggotanya tidak berlatih satu jurus yang sama. Mereka semua adalah rekrutan dengan latar belakang berbeda-beda, sama sepertiku. Karena itu mereka memiliki jurus masing-masing yang didapatkan dari luar Kelompok Daun Biru. 

Hanya sekejap saja, ketiga orang berpakaian putih-putih telah meregang nyawa dikerubuti kami berlima. 

“Ada apa Man? Apa yang terjadi? Siapa mereka?” bang Genta segera bertanya pada anggota Kelompok Daun Biru yang baru kami selamatkan. 

“Mereka dari Perserikatan Tiga Racun. Markas rahasia... Markas rahasia Sekte Pulau Arwah telah ditemukan. Saat ini kelompok-kelompok dunia persilatan tengah saling bertarung memperebutkan pintu masuk markas rahasia.”

“Lalu bagaimana dengan Kelompok Daun Biru? Dimana ketua Yanuar dan yang lain? Apa mereka masih ada di lokasi berkumpul?”

Maman hanya menggelengkan kepalanya perlahan. “Kondisinya sangat kacau, semua saling serang tanpa pandang bulu. Aku terpisah dari anggota kelompok yang lain saat melarikan diri.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan bang?” tanya Arie pada bang Genta 

Bang Genta tampak merenung selama beberapa saat.

“Kita lakukan seperti rencana semula, sekarang kita menuju tempat berkumpul Kelompok Daun Biru terlebih dahulu.”

Meskipun tampak agak enggan, tapi kami semua akhirnya menyetujui usul bang Genta dan melanjutkan perjalanan menuju tempat berkumpulnya Kelompok Daun Biru, sedangkan Maman hanya bisa mendesah pelan dan mengikuti kami. 


***


“Sialan, aku tak menyangka tempat persembunyian akan ditemukan secepat ini!” Ketua Yanuar mengeluh kesal sambil melemparkan sesosok tubuh yang sudah kaku. 

“Semua sudah tak terkendali lagi, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan rencana kita lagi Yanuar. Apalagi pendekar tahap pemusatan energi juga ikut turun tangan.” balas tetua Seto di samping Yanuar. 

Ketua Yanuar hanya mendengus pelan, namun tak mengucapkan apa-apa. Benar apa yang dikatakan oleh Seto barusan, kondisi ini sudah diluar kendali. Mereka sudah tidak bisa lagi lagi menjalankan rencana yang sudah mereka siapkan. 

Setelah Perserikatan Tiga Racun mengajukan persyaratan mereka saat negosiasi, ketua Yanuar langsung mengontak Pasukan Nagapasa untuk bekerja sama. Siapa sangka Pasukan Nagapasa menolak mentah-mentah tawaran kerjasama mereka karena menganggap Kelompok Daun Biru hanya kelompok kecil yang tidak memiliki pengaruh besar. 

Dengan kondisi seperti itu, Yanuar tidak memiliki pilihan lain. Daripada dia melihat tempat persembunyian yang diamanahkan Kinasih dibongkar oleh Perserikatan Tiga Racun didepan matanya, lebih baik dia menyebarkan berita kalau memang ada lokasi persembunyian rahasia disana dan memancing kelompok lain berkompetisi dengan Perserikatan Tiga Racun. Melemahkan mereka dan menghabisi saat mereka sudah tak berdaya. 

Tapi dia tak menyangka isu yang disebarkannya menjadi semakin liar, tempat persembunyian itu tersebar di kalangan dunia persilatan sebagai markas rahasia Sekte Pulau Arwah, akibatnya, tak hanya kelompok dunia persilatan yang berdatangan ke tempat itu semakin banyak, para pendekar tingkat Pemusatan energi juga ikut serta dalam kompetisi mencari markas rahasia tersebut. 

“Sebaiknya sekarang kita mencari Arman dan Yosep, kita tidak bisa tinggal disini terlalu lama.” ujar tetua Seto lagi. 

“Baiklah, kita juga harus mengumpulkan anggota kelompok yang lain dan membawa mereka pergi dari area pertempuran,” jawab Yanuar. 

“Hmmm... Bukankah itu kelompok Genta? Sialan! Kenapa mereka malah mendekat ke arah tirai pelindung? Ada yang mengejar mereka... Pendekar tahap pembentukan dasar!” 

Ketua Yanuar langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk tetua Seto. Benar saja, di kejauhan dia melihat Genta dan kelompoknya sedang melesat menuju tirai pelindung. Sedangkan dibelakang mereka terdapat tiga orang entah dari kelompok mana tengah memburu mereka.  

“Sialan! Lokasi di dekat tirai sangat berbahaya saat ini, kenapa mereka malah lari kesana! Seto, kau pergi dari sini dan temukan anggota Kelompok Daun Biru yang lain. Bawa mereka semua pergi dari sini, aku akan menolong kelompok Genta.” 

Sosok ketua Yanuar sudah menghilang dari hadapan tetua Seto bahkan sebelum dia selesai bicara. Tetua Seto segera ikut melesat, namun dia mengambil arah yang berbeda dengan ketua Yanuar.


***


“Tampaknya yang lain juga sudah pergi dari sini.” 

Bang Genta menghela nafas setelah dua kali memandangi sekeliling tempat itu. Tempat berkumpulnya Kelompok Daun Biru adalah sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai. Sekarang tempat itu sudah hampir hancur lebur, bercak darah yang masih belum mengering terlihat di beberapa tempat. Namun kami tak menemukan satupun anggota Kelompok Daun Biru di tempat itu, setidaknya yang masih hidup. Karena saat ini aku, Arie, dan Maman tengah membaringkan dua jasad anggota Kelompok Daun Biru secara sejajar. 

“Sebaiknya kita segera pergi saja dari sini, situasinya sudah sangat berbahaya,” ujar Yanti pelan. 

“Tapi bagaimana dengan yang lain? Apa kita akan meninggalkan mereka begitu saja?” jawab Arie dengan nada sedikit kecewa. 

“Man, sebelum kau terpisah dengan yang lain, apakah ada perintah spesifik dari ketua Yanuar atau para tetua?” Alih-alih ikut serta dalam diskusi Yanti dan Arie, bang Genta justru bertanya pada Maman. 

“Tidak ada,” jawab Maman singkat. 

“Kalau begitu...” bang Genta memandangi kami satu persatu sebelum kembali berkata. “Kita mundur dulu dari sini. Daripada berkeliaran tak jelas di tempat berbahaya seperti ini, keamanan kalian jauh lebih penting.”

“Bagaimana dengan dua kawan kita ini bang?” tanya Arie memandangi dua sosok tubuh tak bernyawa anggota Kelompok Daun Biru yang tadi kami tidurkan sejajar.

Bang Genta menggeleng pelan, “Tubuh mereka berdua hanya akan membebani gerakan kita...”

Arie tak lagi mengatakan apapun, meskipun diwajahnya tergurat jelas ekspresi kecewa. Akupun kecewa dengan keputusan bang Genta yang meninggalkan begitu saja kesempatan memasuki markas rahasia Sekte Pulau Arwah, tapi aku juga tidak menyuarakan keberatanku sama sekali. Lagipula, jika dipikirkan dengan kepala dingin, aku juga akan mengambil keputusan yang sama dengan bang Genta. Lebih penting nyawa daripada pusaka dan benda berharga lain yang bisa didapatkan dari dalam markas rahasia. Toh, semua pusaka dan benda berharga itu sama sekali tidak akan berguna jika kami mati. 

“Eh... Masih ada orang rupanya di tempat ini?”

Belum sempat kami beranjak pergi dari tempat itu, sebuah suara datang dari kejauhan dan mengagetkan kami semua. Tapi kami kaget bukan karena suaranya, namun karena diantara kami berlima, tak ada satupun yang menyadari datangnya orang yang bersuara tersebut. Hanya ada dua kemungkinan jika sampai kami tidak menyadari sama sekali keberadaan orang tersebut, yang pertama adalah orang itu memiliki spesialisasi ilmu meringankan tubuh, yang kedua adalah kesaktian orang itu jauh diatas kami. 

Jika kemungkinan pertama yang benar, maka kami masih bisa menghadapinya dengan mudah dengan mengandalkan jumlah kami yang cukup banyak. Tapi pada kenyataannya, yang terjadi adalah kemungkinan kedua, aku dapat merasakan tekanan dahsyat dari sirkulasi tenaga dalam orang itu, jelas dia adalah seorang pendekar tahap pembentukan dasar! Aku juga langsung mengenali orang tersebut begitu wajahnya terlihat, dia adalah Lodan dari Perserikatan Tiga Racun, yang waktu itu bernegosiasi langsung dengan ketua Yanuar!

“Lari!” 

Bang Genta langsung berteriak kencang sambil melancarkan sebuah tendangan ke arah bongkahan beton di dekat kami. Bongkahan beton itu meluncur deras ke Lodan. Meskipun Lodan dengan mudah menghancurkan beton dengan tepisan tangannya, tapi serangan tersebut telah memberikan kami waktu untuk melarikan diri. Kami segera melesat kabur meninggalkan bangunan tempat berkumpulnya para anggota Kelompok Daun Biru.

Namun belum jauh kami berlari, muncul empat orang lagi menghalangi kami melarikan diri. Untungnya keempat orang itu juga masih berada di tahap penyerapan energi, sehingga kami bisa menembus kepungan mereka. 

Karena kecepatanku paling tinggi diantara yang lain, tiba-tiba saja aku sudah berada diposisi kedua setelah bang Genta. Bang Genta kembali menggunakan tendangan untuk menembus kepungan, tubuhnya merendah hingga setengah tinggi tubuhnya lalu dia melakukan tendangan berputar dengan sasaran betis lawannya. Begitu lawannya terjatuh, bang Genta justru melompat tinggi dan mengeluarkan sebilah belati panjang dari balik pakaiannya, lalu dia meluncur deras kebawah dan menusukkan belati ke jantung musuhnya yang sudah terjatuh. Cepat, tepat, dan mematikan!

Sedangkan aku menggunakan cakarku untuk menangkap salah satu pengepung kami, kemudian secepat kilat mencabik-cabik tubuhnya hingga luka menganga di sekujur tubuhnya. Sebenarnya dia dapat menangkis beberapa cabikan pertamaku menggunakan tangan. Tapi darah yang keluar dari luka ditangannya langsung berubah menjadi kabut merah dan kuserap kedalam tubuhku. Hal itu membuat dia tertegun dan menjadi lengah, aku segera menggunakan kesempatan itu dan mencabik-cabik bagian tubuhnya yang lain. Lalu dengan cepat darah yang keluar dari tubuhnya berubah menjadi kabut merah dan kuserap melalu hidung dan mulut. Tapi karena kurang puas dengan kecepatan penyerapan darah dari luka-luka tersebut, aku segera menangkap kepala orang itu dan memutarnya kuat-kuat. Dengan mudah kepala itu tanggal dari tubuhnya, darah yang menyembur deras dari potongan leher langsung kuserap sampai habis. 

“Bangsat! Jurus apa yang kau gunakan?!” 

Suara Lodan terdengar bergetar demi melihat keganasan jurusku, namun aku tak menggubrisnya dan terus melarikan diri. Sedangkan sisa dua orang yang mengepung kami sama-sama melompat mundur. Bukan hanya mereka, bang Genta, Arie, Shinta, Yanti, dan Maman juga melongo melihat perbuatanku. Untungnya mereka tak menghentikan larinya, bahkan memanfaatkan kesempatan terbukanya kepungan untuk menambah kecepatan lari mereka.

Tapi peluang itu tak berlangsung lama, Lodan yang kembali mengejar kami berhasil menyusul sekitar sepuluh meter dibelakang kami dan melancarkan pukulan tangan kosong ke arah kami. Pukulan itu memancarkan cahaya redup kebiruan dan menyebabkan terpaan udara dingin menusuk hingga ke tulang. Kontan saja kami berjumpalitan ke segala arah menghindari serangan tersebut. Shinta bahkan mencoba membalas serangan orang itu, namun gerakannya segera ditahan oleh bang Genta. 

“Shin, jangan berlaku tolol!” teriak bang Genta sambil membetot tengkuk Shinta dari belakang. “Lari ke sana!” 

Aku melihat arah yang ditunjuk bang Genta, saat itu juga jantungku langsung mencelos. Karena arah yang ditunjuk bang Genta adalah pintu masuk markas rahasia Sekte Pulau Arwah, dan disana sedang terjadi pertempuran besar-besaran antar berbagai kelompok dunia persilatan. Aku bahkan beberapa kali melihat kilatan cahaya menyilaukan yang menandakan pendekar tahap pembentukan dasar dan tahap pemusatan energi yang melepaskan pukulan sakti mereka. Tapi toh kami tetap menuruti perintah bang Genta dan lari juga kesana. Bukankah ada ujaran, tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. 

Melihat kami lari ke arah pintu masuk, Lodan tampak ragu-ragu mengejar kami. Tapi tak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan kembali mengejar kami.

“Sialan, ada dendam apa orang ini terus mengejar kita?” gerutuku sambil melompati pagar beton setinggi dua meter. 

“Kau baru saja memenggal kepala anggota kelompoknya dan menghisap darahnya sampai habis,” balas Yanti tersenyum kecut. Tidak bisa kupercaya, perempuan ini masih bisa bercanda disaat genting seperti ini. 

Tiba-tiba saja dari depan kami meluncur deras belasan bola api sebesar bola basket. Tampaknya salah seorang pendekar tingkat pemusatan energi melepaskan pukulan sakti tapi tidak mengenai lawannya dan akhirnya pukulan tersebut meluncur terus sampai ke arah kami. Atau bisa juga lawannya terkena pukulan tersebut, tapi karena jumlah bola apinya begitu banyak sehingga sisanya meluncur ke arah kami. Apapun alasannya, bola-bola api itu telah menyebabkan petaka besar bagi kami. Karena dengan menggunakan kesempatan yang cuma sekejap itu, Lodan berhasil mengejar kami langsung menghadang di depan. 

Kami tak punya pilihan lain, selain melawan Lodan dan kedua anak buahnya. Tanpa aba-aba, bang Genta, aku dan Arie segera melawan Lodan. Sedangkan Yanti, Shinta, dan Maman menghadapi dua orang kawannya yang masih berada di tahap penyerapan energi. 

Bang Genta menghadapi Lodan dari depan, sedangkan aku dan Arie menyerang dari sisi kiri dan kanan. 

Bang Genta kembali memperlihatkan kelihaiannya dalam menggunakan tendangan. Kali ini dia melakukan tendangan berputar hingga berkali-kali, menyebabkan debu-debu dibawah kakinya berterbangan kemana-mana dan menimbulkan pusaran angin kecil disekitar tubuhnya. Jurus yang digunakan bang Genta sendiri bernama jurus Angin Dewa. Konon jika jurus itu mencapai tingkatan tinggi, angin serangannya akan sama tajamnya dengan ribuan silet yang mengiris-ngiris tubuh korbannya. 

Arie mencoba menyusup ke samping kiri Lodan dan menyerang rusuknya dengan sebuah pukulan. Aku sendiri sudah mensirkulasikan darah dan tenaga dalam ke seluruh tubuh, dan melancarkan cabikan yang mengincar pinggang. 

“Hah! Cecunguk seperti kalian mau melawanku?” Lodan menyeringai lebar menyaksikan serangan kami menderu ke arahnya. 

Lalu dia menyambut tendangan beruntun bang Genta dengan pukulan ganda mengandung hawa dingin menggigit. Serta merta bang Genta menarik kembali tendangannya demi menghindari bentrok dengan pukulan berhawa dingin. Kemudian arah pukulan Lodan berubah ke kiri dan kanan, menyambut seranganku dan Arie. Karena serangan orang itu lebih cepat dari gerakan menghindar kami berdua, pukulan itu berhasil mengenai kami berdua. 

Arie langsung terpelanting sambil menyemburkan darah, tubuhnya tertelungkup tak bergerak setelah sebelumnya sempat menggeliat sebentar, dan asap putih mengepul pelan dari seluruh tubuhnya. Sedangkan aku sendiri, meskipun kekuatanku meningkat tajam setelah menghisap darah salah satu pengepung kami, tapi tetap saja aku bukan tandingan pendekar tahap pembentukan dasar. Aku juga terpelanting dan menyemburkan darah dari mulutku, namun aku masih tetap sadar dan mampu bangkit kembali meskipun seluruh tubuhku seperti direndam dalam air es dan pandanganku berkunang-kunang. 

Melihat diriku dan Arie tak lagi berdaya, Lodan langsung mengalihkan perhatiannya pada empat orang lainnya. Tanpa peringatan, dia langsung melancarkan pukulan yang menyebabkan tangannya berwarna biru redup ke arah bang Genta. Bang Genta sendiri sebenarnya sudah bersiap-siap menghadapi serangan tersebut, tapi sebuah kejadian tak terduga membuat tangis pilu menggema di tempat itu. Yanti tiba-tiba saja muncul seperti seekor burung walet di belakang Lodan dengan kedua tangannya telah disilangkan bersiap memenggal kepalanya dari belakang. Sesaat kami semua mengira serangan Yanti akan berhasil menemui sasaran, tapi Lodan seolah punya mata dibelakang kepalanya, dia segera menjatuhkan badannya kedepan kemudian berbalik dan melepaskan pukulan ke arah Yanti. 

Sepertinya Yanti sendiri tak menduga lawannya akan menyadari serangan mendadak yang dia lancarkan. Sehingga dia tak sempat menghindari pukulan balasan yang dilepaskan Lodan. Tubuh Yanti langsung terpental tinggi, kemudian jatuh bergedebukan ditanah tak bergerak lagi. Sekujur tubuhnya berwarna biru dan mengeluarkan asap putih pekat. 

“Yanti!!” 

Shinta menjerit keras melihat kondisi Yanti yang begitu mengenaskan, dia langsung melompat ke arah Yanti, meninggalkan Maman bertarung sendirian melawan dua orang anak buah Lodan. Akibatnya, hanya dalam lima jurus saja mereka berdua berhasil melumpuhkan Maman. Aku sendiri hanya bisa melotot dan tak mampu mengeluarkan kata-kata apapun, pikiranku langsung blank seolah tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. 

“Humph, mencoba membokongku dengan serangan mendadak? Mimpi!” ujar Lodan sambil menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya seperti orang yang tengah membersihkan debu di telapak tangannya. 

Dia kemudian membalikkan badannya ke arah Genta dan menyeringai lebar sambil menggerakkan tangannya membentuk pukulan. 

“Bangsat kau Lodan!” Sebuah teriakan dahsyat menggelegar disertai datangnya sebuah pukulan dahsyat yang menyebabkan dada dua anak buah Lodan bolong. Tubuh keduanya langsung berjatuhan ke tanah dengan ekspresi muka tak percaya. 


“Yanuar?!”