Episode 18 - Delapan Belas


Terbatasnya penglihatan karena terhalang pagar berduri yang menjadi dinding api dan asap yang menyebar digunakan Ken Banawa untuk memerintahkan Gumilang mempersiapkan pasukan berkuda. Pasukan Gumilang akan menjadi belalai gajah dalam susunan Dirada Meta.

Dalam barisan Gumilang terlihat seseorang berusia setengah baya dan tidak mengenakan pakaian prajurit. 

“Kahyangan setra gandamayit,” desah perlahan keluar dari bibir orang tua yang berwajah tenang dan sorot mata yang menyejukkan.

“Apa artinya, paman Mpu Drana?’ tanya Gumilang kepada orang tua yang mengenakan pakaian yang dilibat selendang putih.

“Tempat ini akan menjadi sangat menyeramkan. Tujuan suci dan perbuatan mulia akan segera terbungkus dalam kebengisan dan kekejaman,” kata Mpu Drana. 

“Gumilang, siapkan pasukanmu. Tuntunlah kuda dan bergeraklah memasuki barisan mereka ketika nyala api tidak terlalu besar seperti sekarang ini,” kata Ken Banawa.

“Baik, paman,” Gumilang bergegas memutar kudanya diikuti oleh Mpu Drana dan mengatakan pesan kepada beberapa pemimpin yang tergabung dalam kelompoknya. 

Ki Sentot yang menyaksikan dinding api telah menghalangi pandangan mata bergegas memacu kudanya mendekati Ki Gede Pulasari.

“Ki Gede Pulasari, lepaskan gajah. Perintahkan mereka menerobos kepungan api,” kata Ki Sentot.

“Betul kiai, aku pun berpikir seperti itu,” ucap Ki Gede Pulasari, kemudian dia melanjutkan,” bawa gajah-gajah ke depan. Siapkan diri kalian, kita terobos dinding api itu!” Dan ketika Ki Gede Pulasari menengok ke belakang maka terlihatlah delapan ekor gajah berjalan menyibak barisan prajuritnya. Pada belalai gajah-gajah itu telah terpasang rantai kecil yang mempunyai bandul duri tajam pada setiap ujungnya. Tiga atau empat orang berada di setiap punggung gajah sambil mempersiapkan anak panah.

Pada saat yang hampir bersamaan, ratusan anak panah kembali menerjang barisan Ki Sentot. Seperti angin yang menyusup pada lubang-lubang di dinding, ratusan anak panah melesat rendah menerobos dinding api.

Terdengar jerit kesakitan dan orang-orang mengumpat karena serangan panah yang tidak disangka-sangka. Sebagian orang terluka karena anak panah yang menancap pada kaki,lengan bahkan perut mereka. Sebagian prajurit Ki Sentot juga menemui kematian karena anak panah yang menembus dada mereka.

“Ken Banawa benar-benar gila,” desis Ki Sentot ketika menyaksikan sejumlah prajuritnya roboh. Mereka yang terluka segera digeser ke belakang dan kemudian digantikan barisan yang berada di belakang mereka.

“Angkat perisai kalian. Merapatlah dan maju!” perintah Ki Gede Pulasari. Para prajurit segera membentuk garis yang setengah lingkaran dalam kelompok kecil. Sekejap kemudian terbentuklah dinding perisai yang tak mudah ditembus. Lalu kelompok kecil mengendap semakin dekat. Agaknya justru asaplah yang menjadi musuh berat bagi kedua pasukan ini.

Nafas menjadi sesak dan mata pedih karena asap yang menyebar telah menjadi satu persoalan tersendiri yang harus dihadapi oleh kedua pasukan yang berseberangan. Meskipun begitu, tekad membaja yang terhunjam dalam setiap dada prajurit mampu mengabaikan kehadiran asap yang sebenar-nya cukup mengganggu pergerakan mereka. 

Perlahan namun pasti pasukan gajah kian dekat dengan dinding api. Pawang gajah berusaha menenangkan gajah-gajah yang terlihat gelisah melihat deret api yang tampak di mata mereka.

“Kiai, jika kita terlalu lama menunggu api sedikit reda maka boleh jadi gajah-gajah itu justru akan menghantam balik ke barisan kita,” seru Ki Sentot.

“Tidak, Ki Sentot. Aku butuh sedikit waktu untuk menenangkan gajah-gajah itu,” jawab Ki Gede Pulasari. 

Ketika kebingungan melanda para prajurit Ki Sentot, tiba-tiba mereka dikejutkan sorak sorai dan tepuk tangan dari sayap utara. Seseorang berbadan besar dan terlihat otot pada lengannya itu meluncur cepat diatas bahu para prajurit. Orang ini terlihat menjinjing kapak bertangkai panjang dengan rambut terurai sebahu berlari lebih cepat dari kijang di hutan dengan menggunakan bahu para prajurit yang berada di depannya sebagai pijakan.

“Ki Cendhala Geni,” desis Ki Jayanti yang berada tak jauh dari tempat Ki Cendhala Geni berada.

“Iblis bunting! Apa yang akan dilakukan orang tua itu?” gumam Ki Gede Pulasari. 

Seolah tahu isi pikiran Ki Gede Pulasari, maka Ki Sentot pun menoleh kepadanya sambil berkata,” biarkan dia meluapkan kegelisahannya, kiai. Mungkin itu akan beguna bagi kita. Lihatlah, kapaknya telah membuka celah bagi kita untuk menyerang Sumur Welut.”

Dalam sekejap Ki Cendhala Geni kemudian melenting dan jungkir balik di udara mendekati dinding api dan sebelum kakinya menginjak tanah, kapaknya berputar-putar cepat seperti baling-baling mengibaskan api yang menjadi penghalangnya. Bara api pun berhamburan menerjang barisan dan menimbulkan kekacauan pada bagian depan. Jerit kesakitan dan kepanikan segera menerpa barisan depan pasukan Sumur Welut. Dinding api tampak seperti berlubang dan menjadi celah sebagai jalan masuk pasukan Ki Sentot untuk menerobos barisan Sumur Welut. Namun mereka masih menunggu perintah dari Ki Gede Pulasari maka untuk itulah mereka masih terdiam dan menyaksikan Ki Cendhala Geni membuka celah menjadi lebih lebar.

Sebelum mata berkedip untuk kedua kali, Ki Cendhala Geni telah menerjang barisan depan pasukan Sumur Welut. Kapaknya yang berputar-putar sangat cepat telah melemparkan beberapa orang untuk menemui dewa kematian. Tidak sedikit yang mengalami luka-luka ketika mencoba untuk menghalangi gerak Ki Cendhala Geni. Barisan yang mulanya rapat dalam susunan perang kini menjadi kocar kacir akibat terjangan badai yang dilakukan oleh Ki Cendhala Geni.

Ketika Ken Banawa mendengar sorak sorai dan tepuk tangan dari pihak lawan, maka berbagai dugaan muncul dalam benaknya. Tak lama kemudian dia melihat bara api menerjang barisan pasukannya. Kepanikan yang melanda para prajuritnya semakin menjadi-jadi ketika satu bayangan meluncur cepat menerjang pasukannya dan membawa prahara kematian bagi prajuritnya.

“Panggil Bondan kemari!” teriak Ken Banawa kepada seorang penghubung yang berada di dekatnya seraya menoleh sayap selatan tempat Bondan berada. 

“Baik senapati,” sekejap kemudian petugas penghubung itu menghentak lambung kuda dan berderap cepat melintas garis depan barisan Sumur Welut.

Sebelum Ken Banawa mengatupkan bibirnya, satu bayangan meluncur deras melintas diatasnya. Bayangan ini melesat cepat menghampiri Ki Cendhala Geni. Sekilas kemudian terdengar dentang senjata yang bertumbuk sangat keras.

Selagi Bondan melihat bara api berhamburan, dia sudah memperkirakan akan ada seseorang atau beberapa orang akan menerjang masuk melalui celah yang terbuka itu. Namun dirinya tidak menyangka bahwa ternyata hanya satu orang yang melewati celah itu namun menimbulkan keonaran yang berbuah kematian bagi banyak prajurit. Tak mau menunggu perintah Ken Banawa selaku panglima, Bondan memutuskan untuk menghadapi orang yang sedang menebar kematian itu.

Saat tubuhnya masih melayang deras di udara, Bondan telah mencabut kerisnya dan melabrak sepenuh tenaga. Pendengaran tajam Ki Cendhala Geni menangkap serangan yang berujung maut pada dirinya. Tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya, kapaknya segera menggeser sepenuh daya menyambut serangan Bondan. Kedua senjata berbenturan sangat dahsyat. Tubuh keduanya pun surut ke belakang beberapa langkah. Tanpa diperintah, barisan pasukan telah memberi tempat bertarung bagi kedua orang berilmu tinggi ini. Seketika kaki Bondan menginjak tanah, tubuhnya kembali meluncur deras menerjang Ki Cendhala Geni. Keris Bondan meliuk-liuk menyengat, sesekali mematuk dan melakukan rangkaian tebasan yang berbahaya. Ki Cendhala Geni tidak menyangka bahwa Bondan akan segera melakukan serangan yang sangat cepat. Keris Bondan seolah menjadi ratusan jumlahnya, untuk kemudian Ki Cendhala Geni susut ke belakang beberapa langkah.

“Kadal kurap! Engkau sungguh gila,” kata Ki Cendhala Geni ketika jarak serangan Bondan telah terbatasi.

“Pengecut buduk! Kehebatan ilmumu hanya untuk membunuh prajurit yang bukan lawanmu,” desis Bondan penuh amarah.

“Aku akan membunuh pasukanmu yang sehamparan tebasan parang dengan kapakku,” kata Ki Cendhala Geni seraya mengusap kedua sisi tajam mata kapaknya.

 “Seluruh orang?“

“Ya. Semua orang termasuk anak dan perempuannya.”

 “Kegilaan macam apa yang menjadikanmu sangat yakin mampu melakukannnya?”

Tidak ada jawaban dari Ki Cendhala Geni karena dirinya sudah dilingkupi kemarahan api dendam pada orang-orang Majapahit. Bondan adalah orang pertama yang harus dituntaskan terlebih dahulu olehnya. Dia berlekas menyerang Bondan dengan dahsyat dengan kapak yang melanda dari segala arah bagaikan prahara topan saat musim hujan. Bondan segera merasakan tekanan hebat dari serangan Ki Cendhala Geni. Menurut penilaian Bondan maka sesungguhnya Ki Cendhala Geni telah mengalami peningkatan sejak pertempuran mereka yang terakhir kali. 

Kemampuan Bondan pun juga mengejutkan Ki Cendhala Geni. Betapa dalam waktu yang cukup singkat, tataran ilmu Bondan telah meningkat berlipat. Keris dalam genggaman Bondan menjadi lebih berbahaya. Keris itu berputar-putar seperti perisai yang menangkal setiap serangan kapak. Dan dalam sekejap telah berubah menjadi ujung yang dapat menyengat dalam hentakan yang tiba-tiba.

Terjangan Ki Cendhala Geni memaksa Ki Sentot untuk memberikan aba-aba bila pertempuran harus segera dimulai. Tak berapa lama setelah Ki Cendhala Geni melintasi dinding api, pasukan Ki Sentor bergerak seperti gelombang lautan. Pada ujung-ujung sayap, setiap kelompok telah mulai menyebar menyusun gelar sesuai yang diperintahkan oleh Ki Sentot. Pasukan induk Ki Sentot pun semakin tergelar panjang dan dan mulai mendesak barisan depan pasukan induk Sumur Welut.

Ki Gede Pulasari menggeser kedudukan pasukan gajah. Para serati telah berhasil menenangkan binatang besar yang pada kepalanya telah terpasang benda seperti mahkota, sedangkan sebentang kain warna merah bersulam benang emas menutup bagian punggung dan sebagian perutnya.

Gajah-gajah ini bergerak maju seraya mengibaskan belalai yang pada ujungnya telah dipasang rantai yang berujung bandul besi bergerigi. Pasukan gajah semakin mendekati barisan api yang mulai mengecil dan dibelakang mereka terdapat pasukan Ki Sentot yang sudah bergerak maju menerjang pasukan Sumur Welut. Sejenak kemudian pasukan gajah ini telah melintasi aral lintang yang nyala apinya sudah tak begitu besar. Pasukan Sumur Welut yang masih berusaha untuk menyusun gelar Dirada Meta mulai mendapat gangguan besar. Susunan Dirada Meta yang belum sempurna bentuknya 

Para prajurit yang berada diatas punggung gajah melontarkan anak panah dan menebar kengerian tersendiri bagi pasukan Sumur Welut.

Melihat semangat orang-orang Sumur Welut yang mulai menipis, Mpu Drana segera meminta ijin Gumilang untuk memisahkan diri. Dia berencana menyerang orang-orang yang berada diatas punggung gajah.

 “Gumilang,” kata Mpu Drana,” aku akan mengajak beberapa prajuritmu untuk menyerang merka secara khusus. Setelah itu aku akan berputar ke setiap kelompok.”

“Baiklah, paman. Aku akan mencoba menghalangi prajurit Ki Sentot yang bertumpu pada gajah.”

Mpu Drana segera memisahkan diri dan mengajak beberapa prajurit berkuda untuk menyertainya mengacaukan gerak gajah dengan melontarkan lembing serta senjata apa saja yang dapat mereka peroleh dari medan perang. 

Kuda-kuda pasukan Gumilang terus menerjang maju dan tak lama kemudian kuda-kuda berputar balik dan dengan garang membentuk lingkaran. Pasukan berkuda menyebar dalam kelompok kecil mengepung pasukan gajah. Sementara kelompok lainnya berupaya memecah pasukan penunjang yang menjadi leher dalam susunan gelar Garuda Nglayang. Namun upaya mereka mendapat hambatan yang luar biasa kuatnya. Barisan penunjang yang menjadi leher Garuda Nglayang cukup tangguh merapatkan barisan dan tak mudah dibelah.   

Sedangkan pada sayap kiri yang dipimpin olehWarastika nampaknya belum menemui hambatan berarti. Pasukannya sedikit mendesak mundur dan sempat terjadi ketidakseimbangan dalam susunan Garuda Nglayang. Menyadari pasukannya mulai terdesak, Ubandhana yang memimpin sayap kanan lekas meneriakkan perintah kemudian terjadilah beberapa pergerakan prajuritnya dan sebentar kemudian kembali terjadi keseimbangan. Perubahan itu akhirnya menyebabkan sayap Ubandhana dapat mendesak prajurit Warastika. 

Kehadiran Ubandhana yang membawa senjata tombak pendek benar-benar merepotkan sayap kiri Dirada Meta pasukan Sumur Welut. Kekuatan yang tersalur melalui senjatanya ditambah kelincahan geraknya berkali-kali mengacaukan barisan lawan. Warastika sendiri belum dapat melepaskan diri dari tekanan beberapa prajurit yang mengepungnya. 

Beberapa prajurit Sumur Welut nampaknya mengetahui keadaan yang terjadi pada pemimpin kelompoknya, lalu mereka mulai mencoba melepaskan diri dari lawannya. 

Beberapa saat kemudian Warastika mendapatkan kelonggaran dan setelah itu dia menghampiri Ubandhana yang telah membuat pihaknya keteteran.

“Marilah bermain-main denganku. Tak elok jika prajurit itu berhadapan dengan seorang senapati perkasa seperti dirimu,” kata Warastika.

“Katakan itu jika sedang duduk di kedai, ki sanak. Di medan perang yang ada hanya membunuh dan terbunuh. Kemarilah dan siapakah dirimu?” tanya Ubandhana seraya mengelak tusukan tombak. 

“Aku Warastika. Mari kita hentikan omong kosong ini,” seru Warastika seraya menubruk Ubandhana.

Tetapi Ubandhana bukanlah orang yang tidak mampu bertempur. Tombak pendek itu memapas serangan Waraskita. Beberapa jurus telah mereka lewati dengan cepat, maka terasalah bagi Warastika bahwa Ubandhana adalah lawan yang tangguh. Dia mulai mengalami kesulitan melawan Ubandhana yang kuat dan keras ini. Golok besar yang digenggamnya seperti tidak berdaya menggempur pertahanan Ubandhana. Berkat pengalaman dan ketenangannya yang sudah melewati puluhan pertempuran maka Warastika dapat memperlambat gerak laju sayap Ubandhana.

Pada bagian lambung di belakang pasukan Warastika, terlihat pasukan yang dipimpin Ra Caksana yang berwajah sedikit bundar mulai dapat memecah kerumunan barisan pasukan Ki Sentot yang berhasil menyusup ketika Warastika terdesak. Dan dengan mantap pasukan ini merangsek maju mendekati bagian dalam yang menopang kekuatan Ubandhana. Melihat pasukannya bergeser mundur, Ubandhana mencoba melepas tekanan lawannya namun usahanya menemui jalan buntu. Beberapa prajurit dari Ra Caksana dapat menghambat alur bantuan yang datang mengarah ke Ubandhana. Ubandhana yang kini mulai terkepung pun bertempur semakin ganas dan liar.

Pragola membawa pasukannya bergerak maju menuju dinding yang merupakan barisan kelompok yang dipimpin Ra Caksana. Untuk kemudian dua kekuatan besar ini saling bertumbuk. Pada medan yang tak seberapa luas karena terhimpit gerak pasukan induk, maka arena itu menjadi semakin gempita. Dentang suara senjata beradu, pedang yang saling berbenturan, perisai yang saling bertumbukan, tombak yang terpukul patah ditambah dengan jerit kesakitan dan teriakan kematian semakin menggoncang suasana.

Korban mulai jatuh satu per satu dari kedua pihak. Darah meleleh membasahi baju, kulit dan tanah. 

Matahari sedikit bergeser ke barat. Asap mulai terhempas oleh angin yang bertiup menyapu dataran perbukitan.