Episode 31 - Danny mati?


Meskipun bukan aku yang sedang mengendalikan tubuh itu, tapi aku bisa melihat apa yang dia lihat juga. 

Dari awal hingga akhir, itu sangat menakjubkan. Dengan tubuh yang tidak terlalu kuat itu, dia mampu mengalahkan banyak musuh di sekelilingnya.

Padahal itu tubuh yang sama, tapi kenapa hasilnya bisa sangat berbeda ketika aku yang melakukannya.

Untuk beberapa alasan, aku merasa depresi.

Dia mampu menilai situasi, kapan harus menyerang, dan kapan harus bertahan. Dia juga tidak melakukan banyak gerakan tidak perlu, dan hanya melakukan serangan ke titik lemah dari musuh, seperti serangan pada bagian vital orang bertubuh besar itu.

Entah dalam pengambilan keputusan atau menilai situasi, dia sangat menakjubkan.

Untuk beberapa alasan, aku curiga, mungkin dia adalah roh dari seorang ahli bela diri.

Aku juga yakin, dibandingkan dengan Rito, dia jauh lebih hebat. 

Meskipun Rito sangat kuat, tapi dibandingkan dengan Dan, dia seperti seorang amatir.

Dan, itulah kenapa Rito berada dalam situasi saat ini, terbaring tak sadarkan diri di tanah, dan seorang pria berjas duduk di atas kepalanya.

Kekuatan bukan satu-satunya cara untuk menjadi pemenang, banyak aspek lain yang bisa memperngaruhi hasil akhir dari sebuah pertarungan. 

 “Angkat pantat baumu dan lawan aku!” Dan meraung keras, akan tetapi hanya di balas dengan seringai kecil dari pria berjas itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, aku tidak pernah melihat Dan seperti ini.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Dan marah.

Kemudian, tiba-tiba saja, dunia tempat aku berada sekarang terdistorsi, dan berubah menjadi kekosongan, seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya.

......

Nino menyeringai kecil ketika mendengar teriakan penuh amarah dari Rito. Dia menyipitkan matanya dan melihat Dan dengan hati-hati, kemudian dia berdiri dan membersihkan debu dari jas hitam yang sedang dia kenakan.

“Mari buat kesepakatan.” Ucap Nino tiba-tiba.

“Apa maksudmu?”

“Sederhana, kau hanya harus menjadi anak buahku, dan aku jamin, tidak akan ada hal buruk yang terjadi dengan dia.” Jawab Nino dengan senyum licik.

“Dalam mimpimu!” balas Dan dengan cepat.

“Jadi begitu...” Nino bergumam kecil lalu dengan cepat menghantamkan ujung sepatunya ke Rito yang sedang tidak sadarkan diri, tapi tidak hanya itu, dia kembali menghantamkan ujung sepatu lainnya ke Rito.

Seperti sebuah irama, suara daging yang di hantam oleh sepatu membuat Nino menaikan ujung bibirnya. 

“Hentikan!” teriak Dan dengan terburu-buru.

Nino mendengar teriakan itu dan kemudian menghentikan serangannya, “Oh ... jadi kau berubah pikiran.”

“Tidak...”

“Hmm...” mendengar jawaban dari Dan membuat wajah Nino menjadi sangat muram.

“Aku tidak mau menjadi bawahan dari orang lemah,” Dan mengambil posisi bertarung, “kau paham maksudku bukan?”

Tentu saja Nino paham dengan apa yang Dan katakan. Senyum di wajahnya semakin lebar, dan dengan segera dia masuk ke mode bertarung.

“Ingat, seorang pria sejati tidak akan menarik kembali ucapannya.” Ucap Nino dengan serius.

“Tentu saja, jika kau kalah, anggap aku dan teman-temanku tidak pernah bertemu denganmu.”

“Oke.” Jawab Nino dengan percaya diri.

Dia tidak percaya bahwa anak sekolahan seperti Dan mampu mengalahkan dia yang sudah sangat akrab dengan pertarungan sejak lama. Karena dia percaya, salah satu faktor yang membuat seorang menjadi petarung yang hebat bukan hanya dari kekuatan, tapi pengalaman bertarung.

Dengan pengalaman bertarung yang banyak dan kekuatan yang lebih besar, sudah pasti Nino merasa sangat percaya diri.

Nino dan Dan menendang tanah dan melesat cepat dan dalam detik berikutnya kedua tinju mereka saling beadu.

Suara renyah dari kedua tinju yang saling berbenturan terdengar dan mereka berdua mundur beberapa langkah ke belakang.

Tapi, dari ekspresi wajah keduanya sudah jelas menunjukan bahwa Nino lebih unggul dalam kekuatan.

Dan mengerutkan dahinya dan kembali maju untuk menyerang Nino. Tinjunya secepat elang yang ingin menerkam mangsanya menuju wajah Nino. Tapi, Nino dengan gesit mampu menghindarinya lalu dengan cepat menghantamkan lututnya ke perut Dan.

Dan terhempas ke belakang dan merasakan cairan kental mengalir dari ujung bibirnya. Dia dengan cepat menyekanya lalu berdiri dan mencoba untuk menyerang Nino lagi. 

Lengan kanan Dan berguncang dan semua kekuatan di tubuhnya seolah menalir ke lengan itu, dia melemparkan pukulan menuju dada Nino.

Nino berada dalam posisi bertahan, tangan kirinya mencoba untuk menghalangi lalu membelokan serangan itu.

Bam!

Terdengar suara benturan dari kontak tubuh mereka.

Nino dengan cepat membalas serangan itu dengan sebuah tinju yang mengarah pada dada Dan. Tepat sebelum pukulan mendarat, matanya membeku ketika melihat Dan tiiba-tiba melangkah ke samping untuk menghindar lalu mengepalkan kepalan tangannya seperti sebongkah batu kemudian melemparkannya ke leher Nino.

Begitu serangan Nino meleset dari tergetnya, tinju Dan yang seperti sebuah bongkahan batu menuju leher Nino.

Merasakan krisis dari serangan itu, Nino memiringkan tubuhnya untuk menyelamatkan lehernya.

Bam!

Pukulan dari Dan mendarat di bahu kiri Nino dan mendorong mundur Nino.

Rasa sakit yang tajam membuat Nino menggertakan giginya. Karena serangan barusan, lengan kirinya menjadi mati rasa, jadi, dia hanya bisa mengandalkan tangan kanannya.

Nino menendang tanah dan melesat menuju Dan, kemudian seolah sebuah meteor, kepalan tangannya dengan ganas menuju dada Dan.

Tidak sempat menghindar, Dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, mencoba untuk menghalangi serangan itu.

Bam!

Lagi, terdengar suara dari bentrokan antara mereka berdua.

Rasa sakit menyebar di lengan Dan, meskipun dia berhasil memblokir serangan itu, akan tetapi menerima serangan dengan kedua lengannya juga membuat Dan meringis kesakitan.

Perbedaan kekuatan yang sangat besar.

Dan merasa seperti sebuah palu datang menghantamnya.

Keseimbangannya mulai goyah, Dan hanya bisa berdiri dengan terhuyung-huyung, sambil melakukan yang terbaik untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Setelah beberapa saat, Dan menerjang Nino dan mereka berdua jatuh dengan posisi Dan berada di atas Nino.

Tidak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan, Dan dengan cepat menghantamkan kepalan tangannya pada wajah Nino, akan tetapi mampu Nino tangkis dengan tangan kanannya.

Nino dengan sekuat tenaga memutar tubuhnya dan sesaat kemudian posisi mereka berdua menjadi terbalik.

Nino menggunakan tangan kanannya untuk meraih leher Dan, lalu mencekiknya dengan keras.

“Hahaha ... menyerahlah atau kau akan mati hari ini!” Nino tertawa keras sembari menyaksikan wajah Dan yang tampak tersiksa.

......

Alice berlari teburu-buru untuk mencari bantuan. Detak jantungnya sangat tidak beraturan dan banyak butiran keringat yang mengucur di wajah putihnya. Rambut panjangnya yang telah dia kuncir bergoyang naik turun seirama dengan langkah kakinya.

Namun, setelah beberapa menit dia masih belum menemui seorang pun. Tempat di mana Danny dan Rito memang agak terpencil, hingga sangat jarang bisa menemukan orang berada di sekitar sana.

Akan tetapi Alice tidak berhenti dan terus berlari, sambil di dalam hatinya terus berdoa untuk keselamatan Danny.

Setelah berlari sedikit lebih jauh lagi, akhirnya dia menemukan sebuah mobil polisi terparkir di tepi jalan dengan dua petugas polisi sedang bersandar di samping mobil sambil merokok.

Ketika melihat bahwa ada seorang gadis yang sedang berlari menghampirinya, dengan sangat cepat mereka membuang rokok yang masih tersisa dan kembali memasang wajah serius.

Alice berdiri di depan kedua petugas polisi tersebut dan mengaatur nafasnya yang masih tidak karuan.

“Nona, ada apa?” tanya salah seorang petugas polisi.

“Tolong...”

Dengan wajah yang tampak lelah dan suram, Alice berkata dengan suara yang bergetar.

......

Dari balik pohon tidak jauh dari tempat pertarungan, Raku berdiri sambil mengawasi pertarungan antara Danny melawan Nino.

Meskipun ingin, dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Danny, tubuhnya terasa lemas dan mentalnya benar-benar hancur.

Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan temannya.

‘Tidak! Aku tidak bisa seperti ini terus!’

Raku mengepalkan tinjunya.

‘Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu Danny.’

......

Setelah menerima serangan telak dari Nino, Sony tergeletak lemah di tanah. Meskipun begitu, dia masih sadarkan diri.

Setelah melihat pertarungan antara Danny dan Nino, Sony sadar bahwa kemampuan bertarung Danny lebih hebat dari yang dia bayangkan. Pada pertarungan sebelumnya, Sony berpikir bahwa Danny hanya menahan diri.

Tapi, untuk pertarungan ini, Danny terlihat seperti seorang monster yang kapan saja bisa membunuh seseorang.

Untuk Nino, Sony merasa bahwa ternyata rumor mengenai kemampuan bertarung sang pemimpin dari salah satu dari tiga geng terkuat benar-benar melebihi ekspetasinya, wajar saja dia bisa dikalahkan dengan satu serangan.

‘Aku akan menjadi lebih kuat lagi.’ Dalam hatinya, Sony meneriakan kalimat itu.

......

Dan dengan ganas mencoba melepaskan tangan kanan Nino dari lehernya. Dia menggunakan segenap kekutan dari kedua tangannya dan akhirnya setelah beberapa saat cekikan itu terlepas.

Kemudian dia dengan keras mencoba untuk berguling untuk mendapatkan posisi yang lebih menungtungkan, akan tetapi Nino tidak tinggal diam, setelah Dan berada di atas tubuhnya, dia dengan cepat mencoba berguling juga. 

Dan akhirnya ... pemandangan aneh dari dua pria yang berguling-guling di tepi sungai tercipta.

Setelah berguling beberapa kali, akhirnya mereka sampai di tepi sungai dan beberapa detik kemudian kedua tubuh mereka jatuh ke sungai.

Setelah masuk ke dalam air, kedua tubuh mereka saling terpisah dan mereka dengan cepat mencoba untuk naik kembali ke darat.

Kedua tubuh yang basah karena air berdiri dengan goyah saling berhadapan. Meskikpun tubuh mereka terlihat dapat roboh kapan saja, tapi pandangan mata mereka masih setajam biasanya.

Setelah mengatur nafasnya, Nino dengan ganas menghampiri Dan dengan tangan kanannya yang sudah mengepal keras.

Tiba-tiba saja sebuah sepatu melayang menghantam wajah Nino, dan membuat momentum serangannya terhenti.

Dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia dengan cepat melemparkan tinjunya menuju wajah Nino dan membuat dia jatuh tersungkur ke tanah.

Dan berjalan maju lalu melanjutkan serangannya, tinju dari tangan kanan dan kirinya secara bergantian menghampiri wajah Nino hingga membuatnya babak belur.

Setelah puas, Dan bangkit dan berdiri dengan goyah.

“Aku ... menang.” Ucap Dan dengan tenang.

Namun, setelah Dan selesai mengatakn itu, Nino dengan menggunakan sedikit kekuatan yang tersisa di tubuhnya menggerakan tangan kanannya untuk mengambil sesuatu dari dalam jasnya.

Bang!

Sebuah peluru menembus jantung Dan.

“Yang menang adalah ... aku,” guman Nino dengan pelan.