Episode 233 - Serahkan nyawamu!


Hari ini lain dari pada yang lain. Biasanya, para peserta menaati aturan yang telah ditetapkan. Mereka mendaftarkan diri, dimana setiap satu dari mereka memperoleh nomor urut. Setelah itu, nomor urut pun diundi. Berdasarkan hasil undian tersebut, maka pertarungan di atas panggung segera dilangsungkan. Pertarungan menggunakan sistem gugur. Dimulai dengan para ahli yang masih berada pada Kasta Perunggu, lalu Kasta Perak. Biasanya pula, pertarungan di atas penggung dapat berlangsung lebih dari satu pekan, karena banyaknya jumlah peserta. 

Sekali lagi, hari ini lain dari pada yang lain. Siapa yang akan menyangka bahwa seorang remaja misterius melompat ke atas panggung. Siapa yang dapat menebak bahwa demi memangkas waktu tunggu, Kum Kecho melempar tantangan kepada para peserta yang berada pada Kasta Perak, dengan iming-iming satu kantong keping-keping emas pula. 

Dari balik jendela rumah tongkonan, seorang lelaki tua memantau keadaan di atas panggung. Ketika sejumlah petugas jaga hendak menghentikan kejadian yang sedang bergulir di atas panggung, lelaki tua itu menebar mata hati, dan memerintahkan agar petugas jaga tiada ikut campur. Sebuah perintah yang mutlak harus ditaati. 

Kerumunan nyamuk telah membelah diri menjadi tiga gumpalan. Salah satu sasaran membuka telapak tangan dan mengarahkan lengan ke kerumunan nyamuk. Sekali pandang, ia langsung dapat memperkirakan bahwa nyamuk-nyamuk lemah terhadap api dan kebetulan pula ia memiliki kesaktian dimaksud. Kobaran api pun menyebar ibarat seekor naga yang sedang murka. 

Akan tetapi, yang tiada ia ketahui, adalah tiga ekor kutu seukuran buah kelapa yang bersembunyi di balik tabir kerumunan nyamuk. Ketika secara naluriah nyamuk-nyamuk menyebar menghindari api, para kutu malah melompat maju. Mereka tiada terlihat takut akan api, bahkan semakin bersemangat kelihatannya.

“Duar!” Kutu-kutu meledakkan diri dengan bangga. 

Di arah lain, lawan kedua hanya diam tiada bergeming. Ia membiarkan nyamuk mengerumuni tubuhnya. Sepertinya lawan kedua ini menguasai semacam jurus persilatan yang memungkin tubuhnya berubah sekeras besi. Kebal. Walhasil, kawanan nyamuk tiada dapat menancapkan lidah-lidah demi menghisap darah dari tubuh ahli tersebut. 

Di kala pandangan matanya tertutup kawanan nyamuk, sesuatu yang lengket dan basah tetiba menempel di tubuh. Benar. Menyadari lawan mengandalkan kekebalan tubuh, Kum Kecho melemparkan seekor lintah. Walhasil, sasaran kedua ini tak berdaya ketika lintah mengunci tubuh dan perlahan menyerap tenaga dalam. Bilamana mengendorkan jurus kebal, maka ia akan dihujani ratusan nyamuk. Sedangkan kini tenaga dalamnya terkuras perlahan. Rendahnya pengalaman membuat ahli tersebut panik dan berupaya melompat turun dari atas panggung. Sungguh upaya yang sia-sia belaka, karena nyamuk menggiring tubuhnya agar tak bergerak terlalu jauh!

Ahli Kasta Perak ketiga merupakan seorang perempuan dewasa muda. Ia mengibaskan lengan, yang mana menyebabkan kawanan nyamuk beterbangan tiada terkendali. Seorang ahli dengan unsur kesaktian angin!

“Srek!” 

Perhatian dialihkan oleh kawanan nyamuk, perempuan dewasa muda tersebut terlambat menyadari bahwa sesosok bayangan hitam telah tiba tepat di hadapannya. Sontak ia memasang kedua lengan di depan dada. 

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!

Terlambat, hantaman telapak tangan pun mendarat telak. Memuntahkan darah, perempuan dewasa muda itu pun jatuh terjungkal dari atas panggung. 

Para penonton di seputar panggung tercekat. Ringkas, tanpa setitik pun keraguan, membungkam lawan tanpa belas kasih. Demikian adalah gaya bertarung Kum Kecho kali ini. Tiga lawan Kasta Perak dibuat tak berkutik, bahkan menjadi demikian menyedihkan. 

“Apa yang kalian tunggu...?” cibir Kum Kecho terhadap empat ahli Kasta Perak lain yang masih berada di bawah panggung. 

Keempat ahli tersebut terlihat waspada. Mereka menyadari bahwa remaja berjubah hitam itu adalah pawang binatang siluman yang tak lazim. Pada umumnya, seorang ahli dengan keterampilan khusus sebagai pawang, bertarung dengan hanya memanfaatkan binatang siluman. Hal tersebut dikarenakan pawang tiada dapat banyak bergerak karena memusatkan konsentrasi mata hati mereka demi mengendalikan binatang siluman. 

Kendatipun demikian, sungguh remaja itu berbeda. Bagaimana mungkin ia mengendalikan binatang siluman sambil mengerahkan jurus persilatan!? Kemampuan mata hati seperti apa yang ia peragakan!?

Walhasil, keempat ahli Kasta Perak di bawah panggung hanya diam. Kedatangan mereka adalah dengan harapan dibuatkan senjata pusaka. Selama ini pertarungan di atas panggung tiada menyebabkan cedera terlalu parah. Hari ini seorang ahli dengan unsur kesaktian api tergolek setelah diledakkan oleh tiga ekor kutu, seorang ahli dengan jurus kebal sedang menunggu waktu sebelum dimangsa nyamuk, dan seorang ahli dengan kesaktian unsur angin, menderita luka dalam. 

Pada akhirnya, antara memperoleh senjata pusaka dengan kemungkinan menderita cedera berat, keempatnya memutuskan untuk diam saja.

Sebilah belati tetiba melesat cepat ke arah panggung. Suara berdengung mengikuti laju belati. Di saat yang sama, kerumunan nyamuk seperti kehilangan kendali, dan Kum Kecho terpaksa menyimpan nyamuk-nyamuk tersebut kembali ke dalam Kartu Satwa.

“Masuklah...” Tetiba terdengar suara dari dalam rumah tongkonan. Dari nada suaranya, terdengar datang dari seorang tua yang kelelahan. 

Kum Kecho pun melangkah setelah memanggil lintah kembali, yang tadinya menyerap tenaga dalam dari seorang remaja lelaki. Tanpa menoleh, ia menuju arah pintu rumah.

Melati Dara melompat ke atas panggung, memungut emas dan memasukkan ke dalam kantong. Ia lalu menyusul sang tuan. Tiga gadis serempak mengikuti.

Seorang lelaki tua duduk di atas dipan. Tubuhnya bongkok dan terlihat renta sekali. Ia melipat satu kaki, dan membiarkan satu kaki lain menjuntai ke bawah dipan. 

“Rahampu’u... diriku memerlukan bantuan.” Kum Kecho tiada hendak berbasa-basi.

Lelaki tua itu menghela napas dalam. “Yang Mulia Putra Mahkota Elang Wuruk, penampilan dikau tiada banyak berubah... namun sungguh pembawaan dikau bertolak belakang dari tokoh yang dahulu diriku kenal.” 

Kum Kecho hanya diam. 

“Kehidupan berisi pilihan-pilihan yang perlu diambil. Benar atau salah dalam mengambil pilihan tidaklah mengapa. Yang paling penting adalah terus melangkah maju. Meski, ketika satu pilihan diambil, maka pilihan lain harus terabaikan,” lelaki tua renta itu berujar. “Apakah jalan dendam merupakan pilihanmu…?” 

“Sungguh diriku tiada memilih,” sahut Kum Kecho. “Kejadian yang menimpa diriku bukanlah pilihan, melainkan langkah itu sendiri. Dan bila diriku hendak terus melangkah, maka menuntut dendam merupakan sebuah persinggahan yang harus disambangi.” 

“Betapa diriku tiada hendak berlaku lancang. Akan tetapi, bilamana dendam merupakan sebuah persinggahan, maka apakah tujuan akhir dalam perjalanan tersebut...?”

“Pilihan dapat diambil di awal maupun di tengah perjalanan. Saat ini, menuju persinggahan adalah sebuah tujuan. Usai persinggahan nanti, maka akan ditemukan titik terang dalam mengarungi perjalanan yang belum tuntas.” 

Sang kakek tua renta sontak bangkit berdiri dari atas dipan. Wajah keriput berubah kusut. Kekhawatiran jelas terpancar dari sorot kedua mata. 

Keempat gadis belia, sebagaimana segenap ahli baca, tiada memahami makna dari pertukaran kata-kata antara Kum Kecho dan Rahampu’u. Mereka berupaya menyimak, namun tetap tiada mengerti.  

“Perjalanan yang belum tuntas... adalah penyebab Perang Jagat berkecamuk di antara Sang Maha Patih dan Kaisar Iblis Darah. Kusarankan, betapa pun dikau membenci ayahanda sendiri, adalah bijak untuk tak menuntaskan pandangan dan tindakan Kaisar Iblis Darah.” 

“Rahampu’u, dikau adalah siluman sempurna. Bagaimana mungkin dikau mengabaikan seruan Kaisar Iblis Darah...?”

“Apakah darah silumanmu yang kini berbicara...?” tanggap lelaki tua renta itu.

“Dengan atau tanpa darah siluman mengalir di dalam nadi, diriku berpandangan senada dengan sang Kaisar.” 

Rahampu’u kembali menghela napas panjang. Perlahan, ia kembali duduk ke atas dipan. 

“Kala itu adalah sebuah pilihan bagi diriku untuk menentang pandangan Kaisar Iblis Darah. Diriku tiada menyesali, tiada pula berbangga hati.” 

“Kehidupan berisi pilihan-pilihan yang perlu diambil. Benar atau salah dalam mengambil pilihan, tidaklah mengapa.” Kum Kecho mengulang kata-kata Rahampu’u di awal tadi. Akan tetapi, ia mengubah kelanjutannya. “Yang terpenting adalah memiliki tujuan dalam melangkah.” 

“Bilamana demikian, bila dikau telah memantapkan hati, diriku tiada hendak berlarut-larut. Bantuan seperti apakah yang dikau kehendaki dari orang tua ini?” 

Kum Kecho mengangkat lengan dan menggerakkan jemari sebagai petanda memanggil ke arah Seruni Bahadur. 

“Hm... Peranakan siluman...,” gumam lelaki tua dan renta itu. 

“Karuniai ia senjata yang layak,” pinta Kum Kecho.


===


Sebuah lorong dimensi membuka. Sebagaimana layaknya lorong dimensi kebanyakan, warnanya hitam dengan gemeretak listrik di beberapa bagian. Seorang anak remaja menyeret tubuh lelaki dewasa yang tak sadarkan diri, terlihat melompat keluar. 

Bintang Tenggara mengamati sekeliling. Ia mengenali tempat ini sebagai halaman dalam di Perguruan Svarnadwipa. Sebuah sumur dengan batu nan melayang, berada di tempatnya. Suasana begitu sepi. Mentari baru saja terbit di ufuk timur. 

“Balaputera Gara!” pekik seorang Maha Guru yang bersiaga di dalam salah satu candi kecil.

“Yang Terhormat Datu Tua sungguh perkasa! Beliau berhasil mengeluarkan dikau dari dalam sumur angker!” sahut seorang Maha Guru lain. 

“Akan tetapi di manakah Yang Terhormat Datu Tua...? Mengapa tidak turut keluar...? Apakah beliau baik-baik saja!?”

Bintang Tenggara hanya diam. Ia sedang mencerna. Dari pertanyaan-pertanyaan yang keluar, sepertinya para Maha Guru ini tiada mengetahui apa sesungguhnya niatan sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu mendatangi ruang dimensi dimana Nenek Sukma terpenjara. 

 “Yang Terhormat Datu Tua masih ada urusan,” jawab Bintang Tenggara cepat. 

“Siapakah itu yang tubuhnya tersegel!?”

“Tunggu! Pagi ini adalah Hajatan Akbar Pewaris Takhta. Jika dikau bergegas, maka kemungkinan masih ada waktu untuk ikut serta!” 

Bintang Tenggara telah mengetahui perihal Hajatan Akbar Pewaris Takhta dari pembicaraan antara Lintang Tenggara dengan Nenek Sukma. Rupanya benar. Waktu yang dihabiskan di dalam ruang dimensi yang baru saja ia tinggalkan, adalah sejalan dengan waktu normal. Segera anak remaja tersebut meraih, lalu menyentak sebongkah Intan Abadi dari tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang. Formasi segel yang menyelimuti tubuh lelaki gundul dan tambun itu pun terurai dengan sendirinya. 

“Yang terhormat Maha Guru sekalian, bila demikian diriku hendak segera menuju Gelanggang Utama.” 

“Ya. Bergegaslah!”

Bintang Tenggara melesat cepat. Jalanan Ibukota Minangga Tamwan demikian lengang. Hampir tak ada seorang ahli pun yang berlalu-lalang. Beberapa ahli yang mendapati keberadaannya terlihat kaget. Tiada diragukan lagi, perhatian segenap khalayak sedang tersita di Gelanggang Utama. 

Nenek Sukma meminta agar dirinya ambil bagian di dalam Hajatan Akbar. Ia hendak memenuhi permintaan tersebut dan sangat berharap agar si nenek baik-baik saja. Sangat berat untuk diakui, akan tetapi jauh di dalam lubuk hati, ia menyadari bahwa si Lintang Tenggara pasti memiliki cara untuk menyelamatkan diri bersama dengan Nenek Sukma. Tokoh itu tak akan kehabisan persediaan tipu muslihat!

“Itu adalah Yang Dipertuan Muda Balaputera Gara!” pekik seorang rakyat yang kebetulan menyaksikan anak remaja tersebut berlari melintas. 

Bintang Tenggara hanya melirik. Tiada menanggapi, ia pun meneruskan langkah, kemudian berbelok di persimpangan. Akan tetapi, teriakan kencang tadi malah menarik perhatian sosok yang sedang melangkah gontai. Ia telah tiba di Ibukota Minangga Tamwan sejak beberapa pekan lalu, namun belum kunjung menemukan sasaran yang dicari. Seolah mendapat perintah darurat, sosok berjubah ungu melompat cepat!

“Panca Kabut Mahameru, Bentuk Pertama: Kabut Ranu Kumbolo…”

Sayup, Bintang Tenggara mendengar suara seorang gadis merapal jurus. Suara yang tak asing. Kemudian, suasana sekitar serta-merta berubah menjadi serba ungu. Di saat yang bersamaan, pandangan mata dan pantauan mata hati menjadi tiada berfungsi! 

“Merunduk! Selangkah ke kiri! Selangkah ke belakang. Lompat ke kanan!” Komodo Nagaradja memberi perintah. 

Bintang Tenggara cukup mengenal jurus unsur kesaktian kabut yang menyibak. Terlepas dari itu, ia pun menyadari bahaya nyata yang datang mengancam. Tanpa pikir panjang, naluri anak remaja itu menuruti perintah sang Super Guru. Dengan kata lain, mata bilah tajam kerambit di tangan kiri tiada berhasil memutus urat leher! 

Segera Bintang Tenggara melompat keluar dari dalam kurungan kabut. Ia mendarat di kejauhan, lalu jatuh terjerembab ke tanah. Hampir saja. “Terima kasih, Super Guru…,” gumamnya. 

“Mengapa tumpul sekali kemampuanmu!? Kau kelelahan! Apa yang terjadi di dalam ruang dimensi itu!?” hardik Komodo Nagaradja berang. 

Baru kini ia sadari bahwa dirinya memang kelelahan secara mental, sehingga tiada menyadari keberadaan seorang ahli yang mengincar dari arah belakang. Selama kurang lebih sepekan, ia tiada dapat melelapkan mata karena terus menerus disasar oleh Balaputera Tarukma! 

Akan tetapi, terlepas dari persoalan lelah atau tidak, mengapakah dirinya diincar? Oleh tokoh pembunuh bayangan yang satu itu pula! 

“Kakak Embun!” seru Bintang Tenggara sambil bangkit berdiri. 

Dari balik kabut, sesosok tubuh yang mengenakan jubah bernuansa ungu melenggok keluar. Ia keheranan… “Jadi dikau adalah Balaputera Gara…?”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. 

“Serahkan nyawamu!” 

“Apa!?”

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Ketiga: Kabut Kalimati. 

Kabut tipis menyibak, dan tubuh Bintang Tenggara tiada dapat bergerak. Di saat itu pula, Embun Kahyangan merangsek deras. Kerambit di dalam genggaman, siap mengayau sasaran di hadapan! 

“Hyah!” 

Bintang Tenggara menghentakkan tenaga dalam. Tentu ia mengetahui cara melepaskan diri dari jurus ini. Di kala pertama mereka bertemu, Lintang Tenggara memberi perintah kepada Kum Kecho dan Guru Muda Anjana akan cara melepaskan diri dari jurus pengunci gerak. 

“Tunggu!” seru Bintang Tenggara sambil melompat ke belakang. “Mengapakah dikau mengincar diriku!?” 

Embun Kahyangan menghentikan langkah. Ia terlihat seperti baru mengingat akan suatu hal yang teramat penting. Hal tersebut merupakan sebuah prasyarat yang diminta oleh seorang perempuan dewasa nan digdaya. Yang mana mengantarkan dirinya ke Perguruan Gunung Agung, sebelum kembali ke Padepokan Kabut dan berkunjung di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Serahkan Lencana Kujang!” pinta Embun Kahyangan. 

“Lencana Kujang…?” Bintang Tenggara terlihat kebingungan. Adalah benar bahwa dirinya pernah mengambil beberapa benda yang bukan miliknya. Akan tetapi, ia tiada pernah merasa mengetahui sesuatu yang bernama Lencana Kujang.

“Itu… lencana dengan ukiran senjata tajam…” gerutu Komodo Nagaradja. 

Kini, Bintang Tenggara yang berupaya mengingat-ingat. Adalah benar, bahwa pernah ada seorang pendekar dewasa yang memberikan sebuah lencana sebagai ungkapan terima kasih. Pada permukaan lencana tersebut, terukir bentuk senjata tajam yang unik. Sudah lama sekali rasanya kejadian tersebut. 

“Apakah lencana ini…?” ujar Bintang Tenggara usai merogoh ke dalam dimensi ruang penyimpanan milik Komodo Nagaradja. 

“Benar.”

Secepatnya anak remaja tersebut melemparkan lencana dimaksud ke arah Embun Kahyangan. Entah lencana apa sampai membuat Embun Kahyangan menjadi demikian beringas…

“Sekarang… serahkan nyawamu!” seru Embun Kahyangan kembali pada tugas yang sedang diemban.

Bintang Tenggara terpana. Dalam keadaan mental yang demikian lelah, ia tak berada dalam kondisi terbaik untuk bertarung menghadapi Embun Kahyangan. Dalam keadaan normal saja, sungguh sulit menghadapi tokoh tersebut. Terlebih lagi, Bintang Tenggara juga menyadari bahwa saat ini Embun Kahyangan kemungkinan besar sudah berada pada… Kasta Perak! 

Terdesak. Hanya tersedia satu pilihan yang dapat ditempuh. Bintang Tenggara bersiap mengerahkan segenap kemampuan andalan. Kilatan petir membungkus kedua kaki, dan ia pun… melarikan diri! 

Panca Kabut Mahameru, Bentuk Keempat: Kabut Archapada 

Akan tetapi, Embun Kahyangan dengan jitu dapat menebak arah lintasan unsur kesaktian petir dari sasarannya. Sebaliknya, Bintang Tenggara yang kelelahan, tiada menyadari akan sebuah lorong dimensi yang membuka dan menanti di hadapan. 

“Awas!” 

Peringatan Komodo Nagaradja kali ini pun datang terlambat. Bintang Tenggara serta-merta melesat masuk ke dalam lorong dimensi yang dirapal oleh Embun Kahyangan. 




Cuap-cuap:

Mohon maaf, akan tetapi, dikarenakan penugasan mendadak ke Pulau Dewa, ahli karang nan budiman tiada akan sempat merampungkan episode untuk hari jumat. 

Tabik.