Episode 232 - Bisa...


“Duak!” 

Sebuah tiang patung kayu dengan ukiran yang disusun bertingkat tetiba menancap di permukaan tanah. Ukurannya ramping, dengan tinggi lebih dari dua meter. Tiada diketahui dari mana dan bagaimana ia muncul. Bila diperhatikan, sisi atas patung merupakan bagian akar dari sebatang pohon bakau. Dengan kata lain, pohon yang menjadi bahan ukiran patung diposisikan secara terbalik. 

Pada posisi atas, atau akar, adalah ukiran patung leluhur nenek moyang. Bagian tengah sampai ke bawah merupakan ukiran patung keturunan sampai ke yang paling muda atau baru meninggal. Sebagai tambahan, pada bagian teratas dimana terdapat patung tertua, dibuat pula ukiran berbentuk penis. Hal ini berkenaan dengan kepercayaan bahwa akar keturunan berasal dari nenek moyang tersebut. Tiga sosok pada susunan patung ini, berada dalam posisi setengah berjongkok. 

Tiang patung kayu ini bukanlah sembarang tiang. Proses pembuatannya merupakan hasil kerja keras para Wow Ipits melalui upacara adat nan sakral. Upacara tersebut berlangsung untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh. Untuk membuat patung leluhur atau saudara yang telah meninggal, diperlukan waktu cukup panjang. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang yang disebut yentpokmbu, dimana selama pembuatan patung berlangsung, kaum perempuan tiada diperbolehkan memasuki rumah tersebut.

Dalam masa-masa pembuatan ukiran patung ini, biasanya berlangsung pula adat tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, semisal peperangan. 

Di Pulau Mutiara Timur, tiang patung kayu ini dapat terdiri dari tiga sampai lima tingkat. Ia dikenal luas dengan sebutan bis, mbis, atau bispokombi, yang berarti patung orang yang telah meninggal dunia atau patung roh orang mati. Tiang patung bertingkat memuat rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal, merupakan buatan khas dari suku besar yang dikenal sebagai Asmat.

Di kala uraian tentang bis disampaikan, kedua lengan patung pada bagian tengah terlihat bergerak. Ia seolah sedang merapal dan kemudian membuka sebuah lorong dimensi ruang. Hitam warnanya, dengan gemeretak listrik. Membesar sampai mirip sebuah daun pintu. 

Seorang remaja lelaki melompat cepat keluar. Ia mengenakan jubah berwarna hitam. 

Tiga lagi gadis melompat keluar. Gadis pertama mengenakan pakaian kulit mengkilap serba ketat, gadis kedua memakai jubah dan tudung kepala yang menutup setengah wajah sisi atas, sementara gadis ketiga adalah bertubuh bongsor yang mengenakan rok pendek. 

Terakhir, seorang gadis lagi melompat keluar. Penampilannya sungguhlah unik. Ia berambut kribo dan menjunjung, sehingga sepintas terlihat mirip dengan jamur merang. Kulitnya gelap dengan wajah imut. Pakaian yang ia kenakan adalah atasan tanpa lengan dan rok rumbai-rumbai terbuat dari daun sagu kering yang disusun sedemikian rupa. Sebagai aksesoris, menggantung di leher ia kenakan kulit kerang yang dirangkai menjadi kalung.  

“Hongke Riro… di manakah tempat ini…?” Dahlia Tembang berujar sambil mengamati situasi sekeliling. (1)

“Sa tra tau…” balas gadis belia berambut kribo, yang kini diketahui bernama Hongke Riro. 

“Bagaimana dikau tiada mengetahui…? Kita memanfaatkan lorong dimensi ruang yang dikau rapal…” Melati Dara menyela. 

“Tanya sa pu tete eehhh… “ Honke Riro menjawab ringan. Ia menyentuh tiang bis, lalu menyimpan ke dalam sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi. 

“Ha!? Bagaimana mungkin diriku bertanya kepada kakekmu yang sudah mati?” 

Kum Kecho, seperti biasa, tiada terlalu mengindahkan pembicaraan para pengikutnya. Ia melangkah cepat, diikuti Seruni Bahadur yang senantiasa bersiaga. 

Setelah ditinggal pergi begitu saja oleh si gadis cilik nan mungil pemanggul permadani terbang, Kum Kecho dan rombongannya bertolak ke Pulau Logam Utara. Di pulau tersebut, ia hendak bertemu dengan seorang ahli yang diketahui dapat membantu meningkatkan kekuatan tempur sebelum nanti kembali ke Persaudaraan Batara Wijaya di Pulau Jumawa Selatan. 

Sebagai catatan, Kum Kecho telah memutuskan untuk tak berkunjung ke Pulau Mutiara Timur. Perjalanan ke pulau tersebut terlalu berat, dan dengan kekuatan dirinya beserta para budak saat ini, dipastikan bahwa tujuan mencari Senjata Pusaka Baginda milik Guru Pangkalima Rajawali kemungkinan akan kandas di tengah jalan. Hal ini tentu dikarenakan tidak diketahuinya lokasi persis Kampak Kasuari berada, serta bila pun ditemukan, belun tentu pula dapat diambil begitu saja. 

Saat tiba di Pulau Logam Utara, nasib malah mempertemukan mereka dengan seorang gadis belia dari Pulau Mutiara Timur. Singkat kata singkat ceritera, kini Hongke Riro bergabung ke dalam kelompok Kum Kecho. 

Setelah melewati wilayah perbukitan, sebuah tembok benteng berdiri megah dan membentang di kejauhan. Ukurannya setara dengan sebuah kota. Kepulan-kepulan asap hitam terlihat membumbung tinggi ke langit tinggi. Kum Kecho segera mengetahui bahwa mereka telah tiba di tempat tujuan, yaitu sebuah kota tambang. Sebagaimana diketahui, kota-kota tambang di Pulau Logam Utara tumbuh berserakan ibarat cendawan di musim penghujan. Untuk melindungi hasil tambang dari jarahan perampok, maka kota-kota tambang berdiri megah layaknya benteng-benteng pertahanan.  

“Diriku hendak bersua seorang pandai besi,” ujar Kum Kecho kepada prajurit penjaga gerbang benteng. 

“Pandai besi yang mana?” sahut seorang prajurit. “Terdapat 99 pandai besi terkemuka di kota ini…”

“Rahampu’u.” Kum Kecho menjawab singkat. (2)

“Hehe…” Si prajurit penjaga gerbang terkekeh. Ia tentu mengenal nama besar Rahampu’u sebagai pandai besi terbaik di antara ke-99 pandai besi di dalam kota tersebut. 

Para pandai besi adalah mereka yang memiliki keterampilan khusus sebagai penempa, dan biasa didatangi ahli-ahli dari seantero Negeri Dua Samudera. Mereka tak hanya handal dalam menghasilkan senjata logam, namun piawai dalam mengimbuhkan unsur kesaktian ke dalam senjata-senjata yang dihasilkan. Dengan kata lain, seorang ahli dapat mengerahkan unsur kesaktian yang bukan berasal dari dalam dirinya di dalam pertempuran. 

“Semoga kalian beruntung...,” lanjut prajurit jaga sambil membukakan pintu gerbang. 

Kum Kecho bersama rombonganya memasuki kota yang dipenuhi dengan kesibukan. Kegiatan perdagangan berlangsung ramai. Tidak hanya bijih logam yang diperjualbelikan, karena berbagai rupa rempah-rempah turut diperdagangkan. Belakangan, harga rempah-rempah melonjak tinggi karena banyak peramu yang membutuhkan sebagai bahan dasar pembuatan ramuan. 

Langkah kaki membawa kelompok remaja lelaki bersama empat gadis belia itu ke sebuah rumah kayu nan megah, sehingga layak disebut sebagai istana. Bentuk rumah persegi panjang dan merupakan rumah panggung. Tiang-tiang penyangga berbentuk bulat berjajar tidak ditanam ke tanah, melainkan ditumpangkan pada batu penyangga berukuran besar yang dipahat berbentuk persegi.

Yang menarik dari rumah tersebut, adalah cara pemasangan struktur balok kayu. perpotongan kayu yang saling mengait, disebut silongko. Adapula pemasangan kayu di dan ke dalam kayu di bawahnya, dengan cara tidak boleh menggunakan pasak dan paku, yang disebut siamma'

Bagian atap rumah berbentuk seperti perahu terbalik lengkap dengan buritannya. Ada pula yang mengatakan bentuk atap rumah mirip dengan tanduk kerbau. Atap rumah dibuat menggunakan bahan ijuk atau daun rumbia. Rumah seperti ini lazin ditemukan di wilayah selatan Pulau Logam Utara, dan dikenal dengan nama Tongkonan.  

Di hadapan rumah tersebut, terdapat pula sebuah panggung tanah nan luas, dimana kerumunan khalayak tua dan muda mengelilingi. Mereka menanti sabar layaknya hendak menyaksikan sebuah pertunjukan besar.

“Aku hendak bertemu dengan Rahampu’u,” ujar Kum Kecho datar kepada seorang petugas jaga. 

“Silakan tuan mengisi senarai keikutsertaan,” jawabnya santun.

“Keikutsertaan…?”

“Setiap satu purnama, Tuanku Rahampu’u akan menempa satu senjata bagi ahli yang ia anggap paling pantas…” 

“Melalui pertarungan di atas panggung!?” sambung Kum Kecho menebak dengan jitu. 

“Betul.” 

“Omong kosong!” 

“Demikian adalah aturan yang ditetapkan dan berlaku bagi semua.” Petugas keamanan itu menunjuk ke arah sebuah meja, yang mana antrian di depannya mengular panjang.

“Kalian tunggu di sini…,” dengus Kum Kecho kepada keempat gadis belia. 

Hari itu cuaca teduh. Kemungkinan karena gumpalan-gumpalan asap tebal yang berasal dari cerobong peleburan bijih logam yang tertancap megah di sejumlah tempat. Beberapa gumpal terlihat berwarna lebih gelap, lalu membaur dengan awan-awan putih yang bergerak lambat di atas langit sana. 

Kum Kecho menjatangi meja dan menerima selembar kertas dengan angka ‘4’ yang tertera dipermukaannya. 

Kebanyakan peserta berada pada Kasta Perunggu. Mereka baru memulai jalan keahlian, sehingga merasa membutuhkan senjata pusaka. Tak banyak memang ahli yang memiliki senjata pusaka. Bagi yang memiliki pun, biasanya merupakan warisan keluarga, pinjaman perguruan dimana mereka bernaung, atau hasil membeli setelah mengeluarkan banyak keping-keping emas. 

“Aku akan memenangkan pertarungan dan meminta dibuatkan senjata pusaka dengan unsur api,” seorang calon peserta pada Kasta Perunggu berujar penuh percaya diri. 

“Aku hendak mengasah kemampuan,” sambung ahli lain. “Bila jerih-payah berlatih selama ini membuahkan hasil, maka aku akan dengan sendirinya memperoleh senjata pusaka nan layak.” 

“Aaahh… Kalian hanya ahli miskin, yang tiada memiliki keping-keping emas untuk menempa senjata pusaka kepada para pandai besi lain.”

“Heh! Jika demikian, apa alasanmu ikut serta di dalam pertarungan di atas panggung!?” 

“Oh…? Aku tiada berniat ikut serta. Aku datang hendak menonton…”

“Cih!” 

Ada ratusan ahli Kasta Perunggu. Sebaliknya, hanya terdapat delapan ahli yang berada pada Kasta Perak, termasuk Kum Kecho. Antrian pun terbagi dua. Dari sisi jumlah, bila dimulai dari mereka yang berada pada Kasta Perunggu, maka pertarungan antara ahli Kasta Perak haruslah menunggu sangat lama. Lagipula, jika benar bahwa dalam satu purnama Rahampu’u hanya akan menempa satu senjata pusaka, maka bagaimana menentukan siapa yang berhak memperoleh kemurahan hati tersebut? Apakah pemenang dari Kasta Perunggu, ataukah dari Kasta Perak? Karena hampir mustahil mempertemukan ahli Kasta Perunggu dengan Kasta Perak di dalam pertarungan. 

Sesungguhnya Kum Kecho mengenal Rahampu’u, sang pandai besi nan termasyhur, secara pribadi. Akan tetapi, ia tak mungkin memaksa masuk atau mengungkap jati diri sebagai Elang Wuruk, putra Sang Maha Patih, kepada petugas jaga. Di saat yang sama, bilamana harus bertarung di atas panggung, maka akan memakan waktu pula. Ia tak memiliki banyak waktu untuk bermain-main karena masih ada banyak tempat lain yang hendak dikunjungi sebelum kembali ke Persaudaraan Batara Wijaya. Sudah terlalu banyak waktu terbuang tak tentu arah. 

Kum Kecho meremas, lalu membuang nomor urut di tangan. Ia pun melompat ke atas panggung. Segenap khalayak yang berkerumun dikejutkan dengan kehadiran sosok remaja yang mengenakan jubah serba hitam. Entah apa yang hendak ia lakukan...? Pertarungan ditentukan oleh nomor undian yang sebelumnya diberikan. Pengocokan nomor undian saja belum dimulai. Oleh karena itu, atas dasar apa ia melompat naik seorang diri!? 

“Bruk!” 

Kum Kecho melempar sebuah buntelan kain yang padat membulat ke tengah panggung. Keping-keping emas lalu berserakan di sekitar lokasi dimana buntelan tersebut mendarat. 

“Barang siapa yang dapat mengalahkan aku, maka berhak ia mengambil keping-keping emas itu!” Teriak Kum Kecho memecah keheranan seluruh ahli yang berada di sekitar situ. 

“Wow!” 

“Banyak sekali!”

“Dengan jumlah itu, aku bisa menempa dua… bahkan tiga senjata pusaka dari penempa-penempa lain!” 

“Tapi ia berada pada Kasta Perak!” 

Di saat yang bersamaan, tujuh ahli Kasta Perak lain yang telah mengisi senarai keikutsertaan dan memperoleh nomor, menatap ke arah panggung. Mereka sedang menimbang-nimbang. Sungguh keping-keping emas itu menyita segenap perhatian. 

“Jangankan satu-persatu, kalian bertujuh pun dapat bekerja sama mengalahkan aku!” pancing remaja berjubah serba hitam kepada ketujuh ahli Kasta Perak.

“Srek!” 

Dua ahli Kasta Perak melompat hampir bersamaan ke atas panggung. 

“Hanya kalian berdua yang bernyali!?” cibir Kum Kecho.

Seorang lagí ahli Kasta Perak melompat naik ke atas panggung. Dengan demikian, kini Kum Kecho dikelilingi oleh tiga ahli! 

“Ngguuunnnggg...”

Denging nyamuk-nyamuk seukuran sekepal tangan membuat bulu kuduk berdiri seketika. Kehadiran mereka bak malam yang datang membawa kelam. Kum Kecho tak hendak menunggu dan membuang waktu. Kerumunan nyamuk membelah diri menjadi tiga bagian, ibarat asap-asap yang menggumpal keluar dari cerobong-cerobong peleburan bijih logam. 

Ketiga lawan siaga. Mereka segera mengetahui bahwa lawan merupakan seorang pawang binatang siluman. Sontak mereka melompat mundur, mengamati situasi sebelum bertindak lebih lanjut. 


==


Mendapati Bintang Tenggara, yang ia anggap terlampau hina karena mencuri buku catatannya, telah menghilang ke dalam lorong dimensi ruang, Lintang Tenggara hanya berdiam. Ia kemudian menoleh ke arah Nenek Sukma. Raut wajahnya terlihat aneh, antara menyesal dan... senang. 

“Lintara cucuku, apakah yang dikau pikirkan? Mengapa dikau tiada kembali bersama Gara?”

Lintang Tenggara hanya diam. Di saat itu pula, lorong dimensi ruang di atas altar menutup perlahan dengan sendirinya.

“Katakan padaku, apakah benar bila altar itu hanya dapat digunakan untuk membuka lorong dimensi ruang sekali sahaja…?” lanjut Balaputera Sukma. Dari formasi segel yang tadi berpendar, tak sulit bagi perempuan setengah baya itu dalam menarik kesimpulan. 

“Benar,” tanggap Lintang Tenggara ringan. 

Dengan kata lain, kini nenek dan cucu tersebut tiada memiliki cara untuk keluar dari ruang dimensi ini. Altar tersebut dipersiapkan khusus oleh Datu Besar Kadatuan Kedua. Pembuatannya memakan waktu sangat lama dan membutuhkan sumber daya yang teramat besar. Kelemahannya, lorong dimensi ruang yang tercipta hanya untuk sekali pakai dan hanya membuka sejenak. Kini altar tersebut tiada akan berfungsi lagi!

Meski menyadari bahwa dirinya ikut terkurung di dalam ruang dimensi tersebut, Lintang Tenggara tiada khawatir. Ia malah tersenyum lepas. Wajahnya menyibak raut suka cita selayaknya seseorang yang telah mendapatkan sesuatu yang telah dinanti-nanti sejak lama. Perlahan ia membuka kancing baju, demi menunjukkan ulu hatinya kepada perempuan setengah baya di hadapan... 

“Apakah Nenek Sukma bisa mengurai Segel Mustika ini…?”

Nenek Sukma mengamati penuh perhatian. “Bisa…”




Catatan:

(1) ‘Hongke Riro’ secara umum berarti: bunga bangsa bunga bertaburan. Diambil dari lirik lagu ‘Yamko Rambe Yamko’.

(2) Rahampu’u atau ‘tanah untuk orang pertama yang mendiami negeri’ pada abad ke-14 terkenal sebagai desa pandai besi. Tanahnya merah mengandung bijih besi, dengan gunung dan bukit yang mengelilingi. Desa ini pula yang diperkirakan menjadi cikal-bakal Kerajaan Luwu, yang dulu dikenal sebagai penghasil besi terbaik di nusantara.