Episode 26 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)



Sebenarnya Jaya merasa enggan untuk melanjutkan pertarungan ini, tapi apa yang dikatakan si Dewa Pengemis adalah benar, mana mungkin dirinya akan mundur melarikan diri dari pertarungan itu, maka dengan terpaksa ia pun bersiap kembali. Di lain pihak, Galuh sudah dapat memperkirakan kehebatan lawannya ini, maka tak ayal lagi ia segera menyiapkan pukulan saktinya yakni “Pukulan Badai Laut Kidul” untuk mengalahkan Jaya!

Galuh berteriak nyaring, ia mendorongkan tangan kanannya kearah Jaya, menderulah angin putting beliung bergulung-gulung yang teramat dahsyat menerjang Jaya! Jaya yang sudah tahu tingkat tenaga dalam Galuh enggan untuk meladeni pukulan sakti tersebut, sebab ia tahu kalau ia meladeni adu tenaga dalam lagi, ia bisa mencederai Galuh, ia tidak tega untuk mencelakai Galuh lebh jauh.

Entah mengapa ada perasaan aneh di hati Jaya pada Galuh, apalagi ketika setiap kali ia melihat tahi lalat di bawah mata kanannya, maka ia memutuskan untuk menghindar saja, akan tetapi karena angin pukulan sakti dari Galuh itu sangat cepat dan berbahaya, maka ia terpaksa mengeluarkan “Ajian Tujuh Langkah Malaikat” yang ia dapat dari Kyai Supit Pramana untuk menghindari pukulan sakti itu, tubuhnya bergerak sangat cepat laksana angin, tapi meninggalkan bayangan di tempatnya semula, sehingga gerakannya seolah hanya baying-bayang saja!

Blarrr!!! Batu karang besar yang berada dibelakang Jaya hancur berkeping-keping diterjang Pukulan Badai Laut Kidulnya Galuh, penuh penasaran, gadis ini terus menembakan pukulan-pukulan saktinya tersebut, tapi tidak ada yang berhasil mengenai tubuh Jaya sedikitpun! Semua pengemis yang ada di sana terkesima oleh kehebatan Jaya menghindari semua tembakan pukulan sakti Galuh tersebut, si Dewa Pengemis tak terkecuali, meskipun matanya buta tapi ia dapat mengetahui kalau Jaya bisa terus menghindari pukulan sakti dari muridnya tersebut “Hmm... Ajian Tujuh Langkah Malaikat?” gumamnya.

Bukan main marahnya Galuh melihat Jaya hanya menghindari seluruh pukulan saktinya tersebut, “Hei laki-laki pengecut! Rupanya kau hanya becus lari saja! Ayo ladeni pukulanku!” makinya.

“Nona Galuh, aku bermaksud untuk menghabiskan tenaga dalammu agar kita bisa menghentikan pertarungan ini!” jawab Jaya.

“Kurang ajar!” geram Galuh. Galuh mengeluarkan ajian andalannya yang lagi “Ajian Hitut Semar”, ia membuang gas dari bagian belakang tubuhnya, Pssstttt! Sekonyong-konyong gas dan asap belerang beracun menyelimuti tubuh Jaya, semua pengemis yang ada di sana pun buru-buru menutup jalan pernafasan mereka, Galuh menyeringai senang karena tembakan gasnya telak mengenai Jaya, tapi alangkah terkejutnya gadis ini melihat Jaya masih segar bugar tidak kurang suatu apa!

“Ajian Hitut Semar... Nona Galuh, aku lumayan lama berdiam di kawah Ratu Tangkuban Perahu sehingga tubuhku sudah terbiasa dengan asap gas belerang beracun!” ucap Jaya.

Si Dewa pengemis tersenyum mendengar ucapan Jaya itu, “Anak muda, kau kelewat menghina Galuh dan aku sebagai gurunya karena tidak mau meladeni Galuh! bagaimana kalau begini saja, kalian berdua berduelah lewat satu saja pukulan sakti kalian, yang menang akan dianggap sebagai pemenangnya, bagaimana?”

Jaya terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Dewa Pengemis memang benar, maka untuk menghentikan pertikaian ini maka ia pun menyanggupinya. “Baiklah, aku setuju!”

Galuh tersenyum sinis mendapat jawaban dari Jaya tersebut “Bagus! Kuharap kau segera bersiap-siap untuk bertemu malaikat pencabut nyawa!” dia langsung mengangkat tangan kanannya bersiap untuk melepaskan pukulan “Telapak Kawah Tunggul” yang merupakan ilmu pukulan yang paling diandalkannya, sudah banyak jago-jago di tanah Pasundan ini yang menjadi korban dari keganasan pukulan ini!

Jaya pun bersiap, merapatkan kedua kakinya dan merentangkan kedua tangannya, menarik nafas dalam-dalam, dia mengumpulkan panas dari perutnya, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanannya, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas sambil mengepal, tulang-tulangnya berteroktokan berbunyi dan giginya bergemelutuk, tangan kanannya mengeluarkan cahaya merah bagaikan bara api membara, hawa disekitarnya menjadi panas, tanda ia akan segera melepaskan pukulan pamungkasnya yang juga merupakan pukulan pamungkas padepokan Sirna Raga, yang tak lain adalah pukulan “Sirna Raga”!

Galuh Parwati atau si Dewi Pengemis mendorongkan tangan kanannya sambil berteriak menggeledek, selarik sinar putih yang disertai angin puting beliung yang sangat panas bergulung-gulung menyambar ke arah Jaya! Jaya Laksana pun mendorongkan tangan kanannya kemuka, satu lidah api besar disertai gelombang pusaran angin panas yang dahsyat melaju memapasi angin panas pukulan Galuh!

Blaarrrr!!!! Satu dentuman dahsyat terdengar dan menggetarkan bumi di Bukit Tunggul tersebut ketika dua pukulan sakti yang teramat dahsyat itu beradu! Jaya masih berdiri di tempatnya semula, ia tidak terluka hanya jantungnya saja yang berdegup kencang dan nafasnya agak sesak akibat bentrokan tenaga dalam pukulan sakti tadi, sementara Galuh jatuh terjengkang berguling-guling, ia lalu muntah darah, rupanya gadis ini mengalami luka dalam yang amat parah akibat bentrokan kedua pukulan tersebut! Beberapa pengemis segera menghampiri Galuh dan memberikan pertolongan pertama.

“Nona Galuh!” seru Jaya yang hendak berlari menghampiri Galuh, tapi si Dewa pengemis segera menahannya, “Berhenti!” Jaya pun berhenti lalu menoleh pada si Dewa Pengemis 

“Anak Muda kau memang telah menang, akan tetapi aku tidak dapat menbiarkanmu begitu saja!”

Jaya menaikan alisnya “Maksudmu? Apakah kau akan mengingkari janji?”

Si Dewa Pengemis tersenyum kecut. “Anak Muda, kau memang telah menang tapi kau juga telah hampir membunuh muridku, maka aku tidak akan tinggal diam begitu saja!”

Baru saja Jaya hendak menjawab, si Dewa Pengemis sudah memainkan kecapinya lagi, ia memainkan lagu yang mengharu biru tapi terasa menyakitkan bagi telinga Jaya, saat itu juga angin ribut berseoran menerpa Jaya, suara kecapi itu semakin meninggi memekakan telinga Jaya, pemuda ini segera melipat gandakan tenaga dalamnya untuk bertahan, mengetahui lawannya melipat gandakan tenaga dalamnya, si Dewa Pengemis pun melipat gandakan tenaga dalamnya, kini selain angin ribut serta suara kecapi yang memekakan telinga, bumi yang dipijak oleh Jaya juga terasa bergetar hebat! Gempa Bumi yang dahsyat pun segera menggetarkan puncak Gunung Bukit Tunggul tersebut, itulah kehebatan dari ajian “Kecapi Sukma” yang hanya dimiliki oleh si Dewa Pengemis!

Jaya terus melipat gandakan tenaga dalamnya untuk bertahan, hingga kakinya amblas sebatas mata kaki ke bumi yang ia pijak! Merasa serangannya berhasil dibendung dengan baik oleh lawannya, si Dewa Pengemis menyentringkan kecapinya, keluarlah satu larik petir menyambar Jaya dari centringkan kecapi itu, Jaya kaget bukan kepalang! Kembali ia menggunakan “Ajian Tujuh Langkah Malaikat” untuk menghindari petir tersebut, si Dewa Pengemis terus mencentringkan kecapinya, belasan petir menyambar-nyambar Jaya, tapi pemuda ini berhasil menghindari semuanya!

Jaya keluarkan keringat dingin setelah berhasil menghindari semua sambaran petir yang keluar dari kecapi si Dewa Pengemis tadi, berdirilah bulu romanya ketika melihat semua batu karang yang hancur dan hangus terbakar oleh sambaran petir si Dewa Pengemis tadi, kalau Jaya kena sedikit saja, mungkin ia sudah tidak akan berada di alam ini lagi!

Mendapati semua serangannya dapat dihindari lawannya, Si Dewa Pengemis menghentikan serangannya. “Anak Muda, meskipun aku buta tapi aku dapat mengetahui bahwa tadi kau menggunakan jurus milik Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana, apakah kau murid mereka berdua?”

Jaya kaget mendapati si Dewa Pengemis mengetahui jurus-jurusnya berasal dari kedua gurunya tersebut “Bagaimana anda bisa tahu kalau jurus itu berasal dari Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana?”

Si Dewa Pengemis tertawa mengkehkeh, “Jangankan jurus-jurusmu, desahan nafasmu maupun butiran keringat di keningmu yang terluka di sebelah kanan yang kau tutupi dengan ikat kepala itu dapat aku rasakan dengan jelas!”

Jaya terkejut mendengar jawaban dari si Dewa Pengemis, bahkan ia dapat mengetahui kalau Jaya mempunyai luka di kening diatas mata sebelah kanannya. “Kau tidak usah terkejut anak muda, mata hati jauh lebih tajam daripada mata biasa! Sekarang katakan siapa dirimu dan apa hubungamu dengan Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana!”

Jaya pun akhirnya memutuskan untuk menjawab apa adanya “Nama saya Jaya Laksana, saya adalah murid Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana!”

“Begitu? Bagus! Setelah tadi aku menyaksikan pukulan pamungkas Kyai Pamenang yaitu Pukulan Sirna Raga, aku juga tahu kalau Kyai Supit Pramana memiliki pukulan pamungkas bernama Pukulan Gerhana Matahari! Nah aku ingin menjajal Pukulan Gerhana Matahari itu!” tantang si Dewa Pengemis. 

“Maaf orang tua, aku tidak mau mengumbar pukulan itu sembarangan sesuai dengan amanat guruku!” tolak Jaya

“Kalau begitu mari kita adakan perjanjian, kalau kau bersedia mengeluarkan pukulan itu, apapun hasilnya aku berjanji akan melupakan kejadian hari ini!” tawar si Dewa Pengemis.

“Baiklah kalau begitu, kuharap tidak ada lagi ganjalan atau penyesalan di antara kita orang tua!” terima Jaya.

Jaya pun mengangkat tangan kanannya, tangan kanannya memancarkan cahaya emas kemerahan yang redup, hawa disekitar pemuda itu langsung berubah menjadi amat panas!

Si Dewa Pengemis juga bersiap-siap, ia memetik dawai-dawai di kecapinya, ia bersiap meladeni Pukulan Gerhana Matahari dengan Ajian “Pelangi Kematian” yang menjadi ajian pamungkasnya tersebut. Jaya Pun menembakan pukulan saktinya, udara disekitar sana sontak menjadi redup, sinar besar berwarna emas kemerahan mengeluarkan cahaya redup yang teramat sangat panas menggubu menerjang si Dewa Pengemis!

Si Dewa Pengemis pun menyentringkan kecapinya dengan segenap tenaga dalamnya, Sinar Pelangi yang teramat sangat panas menerjang memapasi sinar emas kemerahan pukulan Jaya... Blarrrr!!! Ledakan yang sangat dahsyat terjadi! Seluruh Gunung Bukit Tunggul seolah dilanda gempa dahsyat! Tanah mencelat sampai tujuh meter, batu-batu karang yang berada disekitar tempat kedua pukulan sakti itu beradu hancur berantakan!

Jaya jatuh tersungkur lalu terbatuk-batuk mengeluarkan darah! Sementara si Dewa Pengemis pun jatuh dari tempat duduknya, ia pun terbatuk-batuk mengeluarkan darah! Mereka mengalami luka dalam yang sama akibat tingkat tenaga dalam mereka berdua berada di tingkatan yang sama! Mereka berdua pun langsung mengatur nafas dan mengalirkan tenaga dalam mereka ke jantung masing-masing agar jantung mereka tidak meledak! 

“Guru!” seru para pengemis di sana, mereka langsung berlari menghampiri si Dewa Pengemis, tapi si Dewa pengemis segera bangun lagi, Jaya pun bangun, mereka berdua sama-sama memegangi dadanya yang berdenyut sakit! “Hebat luar biasa! Jaya Laksana, kau memang murid Kyai Supit Prama yang ia kasihi sehingga ia mewariskan ajian pukulan Gerhana Matahari yang menggegerkan dunia persilatan itu!” ucap si Dewa Pengemis.

“Pukulan anda pun sangat hebat Dewa Pengemis, dengan ini urusan kita selesai bukan?” Tanya jaya.

“Ya, janji adalah janji!” jawab si Dewa Pengemis.

“Tapi satu pertanyaanku Dewa Pengemis, bagaimana kau bisa tahu kalau semua jurus-jurusku berasal dari Kyai Pamenang dan Kyai Supit Pramana?” Tanya Jaya yang masih penasaran.

“Karena aku adalah sahabat lama mereka berdua, kebetulan kami berasal dari golongan putih meskipun aku bukan berasal dari golongan santri hehehe... Tapi namaku memang tercoreng oleh kelakuan Galuh serta murid-muridku yang lain selama aku tinggal pergi 3 purnama terakhir ini…” jawab Dewa Pengemis.

Jaya terdiam dia tidak langsung menyahuti, merasa tidak enak si Dewa Pengemis pun membuka suaranya lagi, “Anak muda, aku memang salah sebab tidak becus mengawasi mereka semuanya, tapi ketahuilah, kami semua tidak bermaksud jahat... Anak muda ketahuilah bahwa mereka semua adalah anak-anak korban perang yang berkepanjangan di tanah Pasundan ini, selain itu ada juga yang menjadi korban pemerintahan Prabu Kertapati yang mencekik rakyatnya dengan pajak yang sangat tinggi, beberapa dari mereka ada yang orang tuanya dibunuh oleh prajurit kerajaan Mega Mendung sebab tidak mampu membayar pajak, ada anak pandai besi yang harus kerja paksa membuat peralatan senjata prajurit Mega Mendung... Aku pun memungut mereka dan menyatukan mereka semua dalam ikatan keluarga agar mereka dapat menjutkan hidupnya tanpa merasa sebatang kara di dunia ini…”

Jaya mengangguk “Maafkan aku Dewa Pengemis kalau aku berburuk sangka padamu dan pada kalian semua…”

Jaya pun seolah baru terasadar kalau Galuh Parwati sedang terluka parah akibat bentrokannya tadi, maka ia pun berlari menghampiri Galuh, “Nona Galuh aku sendiri pun pernah terluka cukup parah akibat pukulan Sirna Raga dari saudara seperguruanku sendiri, sayang sekali aku belum sempat mempelajari cara mengobatinya dari guruku, tapi Insyaallah aku akan menolongmu, semoga Gusti Allah berkehendak menolongmu!”

Jaya lalu meminta segayung batok air putih, ia lalu mencabut cincin pusaka Kalimasada yang tiba-tiba memancarkan cahaya biru sangat terang dari jari manis kirinya, sambil membaca dzikir ia mencelupkan cincin batu yang memancarkan cahaya biru itu dan memutarkannya di dalam air, setelah itu air tersebut diminumkan pada Galuh, ajaib! Sekonyong-konyong luka dalam Galuh langsung sembuh, bahkan ia merasa seluruh tubuhnya menjadi baik seperti sediakala, tenaganya yang terkuras kembali meluap-luap!

Setelah mengobati Galuh Parwati, Jaya Laksana pun berpamitan pada si Dewa Pengemis setelah sebelumnya meminta maaf karena telah membuat keributan besar di Bukit Tunggul. Setelah Jaya berlalu Dewa Pengemis memanggil Galuh Parwati kehadapannya “Galuh kau tahu bukan kalau berbuat kesalahan kau harus dihukum?”

Galuh menundukan kepalanya, “Ampun guru, saya mengerti”.

Dewa Pengemis menoleh kearah Jaya berlalu. “Aku memerintahkanmu untuk meninggalkan Bukit Tunggul ini!”

Galuh terkejut mendengarnya, “Guru mengusir saya? Ampuni saya guru, tolong jangan usir saya!” pintanya sambil mulai menangis.

“Kau boleh kembali ke Bukit Tunggul ini dengan satu syarat!” sahut Dewa Pengemis.

“Apa itu guru?” Tanya Galuh sambil menangis dengan penuh harap.

“Kau boleh kembali kemari jika sudah menikah dengan pemuda yang bernama Jaya Laksana itu!” tegas Dewa Pengemis. 

Galuh makin terkejut mendengar perintah dari gurunya tersebut. “Apa maksud Guru? Mengapa saya baru boleh kembali jika telah menikah dengan Jaya Laksana?” tanyanya keheranan. 

“Karena bukankah kau menyukai pemuda itu? Jangan berbohong padaku Galuh, aku dapat mengetahui kalau kau tertarik dan sangat menyukai pemuda itu, dan sekarang kau mulai penasaran setelah ia menolongmu bukan?” jawab Gurunya.

“Tapi... Tapi bagaimanapun ini terlalu tiba-tiba guru! Saya belum siap untuk menikah, bahkan mengenali pemuda itu saja belum!” tolak Galuh. 

“Maka dari itu kenalilah pria itu Galuh! Naluri dan perasaan seorang wanita jauh lebih peka dari seorang pria, maka kau akan lebih untuk mengenalinya!” keukeuh gurunya.

“Tapi Guru...” sela Galuh dengan lemas.

“Galuh bukankah kau membenci pemerintahan Prabu Kertapati? Pemuda yang bernama Jaya Laksana itulah yang akan mengakhiri kezaliman Prabu Kertapati!” jelas Gurunya, 

“Maksud Guru?” Tanya Galuh penasarasan.

“Galuh, mata bathinku melihat bahwa pemuda itulah yang dipilih serta yang sanggup mengalahkan Prabu Kertapati, bukan itu saja, banyak tetua di tanah Pasundan ini yang melihatnya termasuk sahabatku Kyai Supit Pramana, Jaya Laksana lah yang akan mengembalikan kedamaian di bumi Pasundan ini Galuh!”

Galuh terdiam mendengar ucapan gurunya, diingatnya lagi kejadian beberapa belas tahun yang lalu saat ia masih kecil, ayahnya Adipati Tegal dari wilayah Demak tewas secara mengenaskan di tangan Prabu Kertapati, Dendam itu tidak pernah padam dan seolah semakin membara setelah banyak dari saudara-saudara seperguruannya yang menderita akibat pemerintahan Prabu Kertapati yang lalim dan amat menyengsarakan rakyat kecil tersebut. Sekarang menurut gurunya, pemuda yang sangat ia benci sekaligus sangat ia sukai ternyata adalah kunci untuk mengakhiri kelaliman Prabu Kertapati, dan gurunya menyuruhnya untuk mengejar si pemuda tersebut.

Dewa Pengemis tersenyum melihat ekspresi wajah Galuh, kemudian ia menepuk-nepuk kepala muridnya yang paling ia kasihi tersebut. “Namun bukan itu saja Galuh, aku bukan menyuruhmu berjodoh dengannya agar kau dapat membalaskan dendammu... Bukan itu! Tapi semata demi kebahagianmu, Jaya Laksana adalah jodoh yang baik untukmu muridku, aku menyuruhmu untuk menikah dengan Jaya demi kebahagianmu, kalian akan saling berbahagia satu sama lain dalam biduk pernikahan kalian, kalian berjodoh bagaikan pohon dengan bumi, kalian saling mengisi dan melengkapi, saling mebahagiakan satu sama lain!”

Galuh pun menatap kearah berlalunya Jaya, wajahnya memerah, didadanya kembali berdesir suatu perasaan aneh yang terasa sangat hangat. “Galuh Parwati muridku, pergilah sekarang juga, kejar pemuda itu sebelum ia menjauh!”

Galuh pun akhirnya pamit pada gurunya, dengan langkah yang diiringi perasaan aneh tak menentu dan berurai air mata, ia pun langsung melesat ke arah menghilangnya Jaya Laksana!