Episode 25 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)



Sang surya sudah lama mulai bergeser ke ufuk barat, hingga kini berada di tengah-tengah tepat diatas ubun-ubun kepala manusia. Warnanya yang tadi berwarna pagi berwarna perak kini demikian terik menyilaukan berwarna kuning keemasan. Jalan yang ditempuh pemuda berpakaian serba biru dengan kemeja lengan panjang tak berkancing itu semakin sukar. Berliku dan menanjak. Di kiri-kanan senantiasa mengapit batu karang putih yang tiada berubah dari zaman ke zaman atas kerasnya, aroma belerang yang pekat dari puncak Gunung Bukit Tunggul kian santar tercium, semakin pemuda ini melangkah ke puncak, aroma belerang itu semakin tajam tercium, angin pun semakin bertiup kencang mengibar-ngibarkan rambutnya yang gondrong.

Mendadak dari puncak batu karang di sebelah barat melengking suara suitan-suitan aneh yang menusuk sepasang gendang-gendang telinga si pemuda ini berbunyi berulang-ulang seperti sebuah kode rahasia. Dengan waspada pemuda ini putar kepala dan mendongak ke atas. Puncak karang itu tingginya sekira tiga puluh tombak. Curam dan terjal sukar didaki. Tapi mata si pemuda yang tajam dapat melihat bekas cungkilan-cungkilan pada sepanjang lereng karang mulai dari bawah sampai ke atas. Cungkilan-cungkilan itu merupakan tangga penolong. Meski demikian, jangan harap manusia biasa bisa mempergunakannya. Sekali tergelincir tubuh akan amblas ke bawah, ditunggu oleh unggukan batu karang runcing!

Suara suitan-suitan aneh itu terdengar lagi lebih keras dan nyaring dari yang pertama. Dan sesaat mata si pemuda berputar kembali ke puncak batu karang itu dia melihat beberapa sosok tubuh berkelabatan kesana kemari dengan kecepatan tinggi! Pemuda itu tak lain adalah Jaya Laksana yang sengaja datang ke puncak Bukit Tunggul ini untuk memenuhi tantangan si Dewi Pengemis Bukit Tunggul, dia menerima tantangan itu agar Si Dewi Pengemis beserta gerombolan pengemis lainnya tidak lagi berbuat onar pada keluarga Juragan Karta maupun orang-orang berada lainnya dengan tujuan yang menurut Jaya adalah tindakan yang sangat bodoh!

Jaya memusatkan fikirannya,  segera dia lompatkan diri ke atas puncak karang yang tingginya tiga puluhan tombak itu. Puncak karang itu ternyata licin sekali. Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya dari kelas rendahan pastilah kakinya akan tergelincir! Jaya memandang berkeliling mencari jejak ke mana larinya kedua orang tadi. Matanya yang tajam segera menangkap bayangan Si Dewi Pengemis dan beberapa saudara pengemisnya di balik karang sebelah utara. 

Tanpa buang waktu Jaya Laksana segera lompat ke karang yang terdekat. Laksana seekor rajawali demikianlah dia melompat kian kemari sampai akhirnya orang yang dikejamya itu telah tegak berdiri dihadapannya, dia juga menyadari bahwa sekarang dirinya sedang dikepung oleh puluhan pengemis yang rata-rata berilmu tinggi! Kini selain aroma belerang yang Jaya cium, aroma asam dan apek pun memenuhi tempat itu.

Gadis berambut panjang berkulit hitam manis itu bersidekap sambil menyeringai dan menatap tajam pada Jaya, gadis itu tak lain adalah yang menamakan dirinya Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul yang kini tidak menutupi wajahnya dengan cadar lagi setelah dua malam yang lalu cadarnya dirobek Jaya dalam pertarungan mereka di rumah Juragan Karta. 

Jaya cukup terpana dengan paras gadis tersebut, meskipun kulitnya lebih gelap daripada gadis-gadis di Pasundan kebanyakan, namun itu tidak menutupi kecantikan gadis ini, tahi lalat di bawah mata sebelah kanannya menambah kecantikan gadis ini, tapi sayang menurut Jaya gadis ini sedang tersesat, tenggelam dalam lautan dendam tak bertepi. Selain itu tubuh gadis ini juga menghembuskan bau tak sedap, antara bau asam dari tubuhnya, bau apek dari pakaiannya, dan entah darimana bau belerang keluar dari tubuhnya.

“Selamat datang di Gunung Bukit Tunggul Jaya Laksana! Disinilah kita akan menyelesaikan urusan utang-piutang kita!” buka suara si Dewi Pengemis.

Jaya tidak langsung menjawab, dia malah sengaja menatap si Dewi Pengemis dari atas kebawah lalu keatas lagi, pemuda ini menatap wajah si dewi pengemis dengan jantung berdebar, apalagi ketika ia menatap tahi lalat di bawah mata gadis hitam manis ini. Si Dewi Pengemis jadi tersinggung ketika dilihatnya pemuda dihadapannya itu tidak menjawabnya ,malah melongo menatapnya. “Hei apa yang kau lihat?!” bentaknya.

“Nona Dewi Pengemis kau cantik sekali! Kenapa selama ini kau menutup wajahmu dengan cadar?” jawab Jaya jujur.

Karuan saja wajah si Dewi Pengemis memerah, wajahnya terasa panas, ada perasaan aneh ketika ia mendengar pujian dari pemuda dihadapannya, tapi berbarengan itu amarahnya meledak juga! “Kurang Ajar! Dasar laki-laki hidung belang!” maki Si Dewi Pengemis.

“Laki-laki hidung belang? Aku jujur mengatakan apa yang ada di benakku Nona!” jawab Jaya.

“Persetan! Dasar Gombal! Saudara-saudaraku, mari kita buat dia mempertanggung jawabkan perbuatannya pada saudara-suadara kita!” perintah Dewi Pengemis kepada saudara-saudaranya dengan marah sekali, 

“Tunggu! Sudah kukatakan berulang kali bahwa kita tidak memiliki utang-piutang Nona Dewi Pengemis! Aku memang datang atas undanganmu tapi bukan untuk menerima tantanganmu!” seru Jaya.

“Tahan!” perintah Dewi Pengemis, para pengemis itu pun menahan serangan mereka. “Lalu apa tujuanmu datang kemari kalau bukan untuk menerima tantanganku?” Tanya Dewi Pengemis sambil mendelikan matanya.

“Aku hanya ingin bicara pada kalian agar kalian semua insyaf dan berhenti melakukan perbuatan-perbuatan semau sendiri kalian yang picik dengan damai!” jelas Jaya.

“Keparat! Kau menghina kami! Saudara-saudaraku mari kita cincang dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya pada saudara-saudara kita!” sergah Dewi Pengemis dengan marah sekali!

Seketika itu juga puluhan pengemis yang tadi mengepung Jaya langsung menyerbu mengeroyok Jaya dengan tongkat-tongkat kayu mereka yang terbuat dari dahan-dahan pohon! Tongkat-tongkat itu memang hanya tongkat kayu biasa, tapi karena diisi oleh tenaga dalam dari para pengemis ini yang rata-rata memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi serta kemampuan silat yang hebat maka terdesak hebatlah Jaya! Tadinya Jaya tidak ingin menurunkan tangan jahat pada para pengemis ini sebab ia kasihan pada hidup mereka yang pahit, tapi karena ia didesak hebat maka terpaksalah ia melawan mereka.

Jaya tak sungkan-sungkan lagi melawan para pengemis ini dengan jurus-jurus andalannya, suara gedebag-gedebug pun terdengar di puncak Gunung Bukit Tunggul dengan cukup meriah, tubuh-tubuh para pengemis itu yang terkena sepakan tangan maupun kaki Jaya berterbangan mencelat kesana-kemari, rata-rata mereka pun langsung muntah darah, terluka dalam yang cukup hebat akibat pukulan maupun tendangan Jaya yang mengadung tenaga dalam yang hebat ini!

Melihat dalam waktu singkat Jaya berhasil merubuhkan belasan tubuh saudara-saudaranya, Dewi Pengemis menjadi khawatir juga pada nasib saudara-saudaranya, ia pun memutuskan untuk duel melawan Jaya seorang diri, satu lawan satu! Maka ia pun segera memberi perintah “Mundur semuanya!” Para pengemis itu pun mundur, Dewi Pengemis dengan langkah mantap menghampiri Jaya, “Kini hutangmu pada kami semakin banyak saja Jaya Laksana! Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu pada kami!” bentaknya.

Jaya menyeringai sambil bersidekap, “Nona Dewi Pengemis, sama seperti kemarin lusa, aku hanya mempertahankan diri dari serangan saudara-saudaramu! Mana mungkin aku akan membiarkan diriku celaka secara konyol dengan tidak membela diriku sendiri dari serangan saudara-saudaramu yang brutal itu?”

Dewi Pengemis mendengus marah sekali “Diam! Orang seperti kau memang tidak akan pernah tahu penderitaan yang kami alami! Kami hanya menuntut keadilan dari orang-orang macam kau dan Juragan Karta!”

Jaya tertawa mengkehkeh mendengar pembenaran sepihak si Dewi Pengemis ”Dewi Pengemis, pembenaran kalian sungguh konyol! Kelakuan kalian seperti anak kecil yang menangis diganggu oleh anak nakal lalu balas mengganggu anak kecil lainnya! Kalian dendam terhadap pihak kerajaan Mega Mendung tapi melampiaskannya pada orang-orang yang berpendapat berbeda dengan kalian! Konyol!”

“Sudah diam! Mampuslah kau!” maki Dewi Pengemis, dia langsung menyerang Jaya dengan gencar, kesepuluh jari-jari di tangannya mencengkram membentuk cakar burung yang kokoh, inilah jurus “Cakar Elang Emas” yang ia lancarkan pada Jaya, kena sedikit saja pastilah kulit dan daging Jaya akan sobek dan terluka cukup dalam akibat cakaran maut ini! 

Jaya meladeninya dengan jurus “Ekor Naga Membelah Gunung”, gerakan-gerakan si Dewi Pengemis sungguh sebat dan berbahaya, sebaliknya gerakan-gerakan Jaya nampak sangat enteng bagaikan semilir angin namun mengandung tenaga dalam yang luar biasa sehingga membuat si Dewi Pengemis sangat berhati-hati karena gerakan lawannya ini sungguh tidak dapat diduga.

Pertarungan mereka pun terjadi dengan seru sekali hingga pada suatu waktu kedua tangan mereka beradu, terjadilah bentrokan tenaga dalam, Jaya tetap berada di tempatnya tanpa kurang suatu apapun, sementara si Dewi Pengemis melompat mundur dengan keluarkan seruan tertahan ketika diarasanya tangannya ngilu akibat benturan dengan tangan Jaya, jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu! “Sial! Tenaga dalam laki-laki sinting ini hebat sekali!” rutuk si Dewi Pengemis.

“Nona cantik sebaiknya kita hentikan saja, mari kita bicara baik-baik!” ajak Jaya.

Tetapi si Dewi Pengemis nampaknya tersinggung benar dengan sebutan Nona Cantik itu, “Diam! Berhenti mengolok-olokku dengan sebutan Nona cantikmu itu! Sekarang rasakanlah jurus Ular Kobra Mematuk Mangsa Menyembur Bisa ini!” si Dewi Pengemis menyerang Jaya dengan gerakan-gerakan aneh yang mirip dengan gerakan seekor ular ketika memangsa buruannya, serta terkadang Dewi Pengemis menembakan pukulan-pukulan jarak jauh berupa angin dahsyat yang mirip dengan ular menyemburkan bisanya, saking hebatnya jurus ini sehingga membuat Jaya terdesak hebat. 

Andaikata keadaan serta ilmu Jaya masih seperti tiga tahun yang lalu, pastilah ia sudah celaka atau bahkan mungkin roboh oleh kehebatan ilmu silat si Dewi Pengemis ini! Tetapi Jaya yang sekarang bukan Jaya yang dulu lagi, selain ilmunya sudah sangat tinggi dan tenaga dalamnya sudah sedemikian hebatnya, ia juga sudah jauh lebih matang dalam memperhitungkan seluruh gerakannya, sehingga tidak ada satu gerakannya pun yang sia-sia ataupun yang merugikan dirinya, akibatnya si Dewi Pengemis semakin geram karena lawannya yang sangat tangguh ini seolah bisa mendikte setiap gerakan dirinya!

Jaya dengan terpaksa ia pun mengeluarkan jurus andalannya yakni “Menggoncang Langit Menjungkir Awan”! Kini berbalik si Dewi Pengemis yang kewalahan meladeni permainan silat Jaya, dari setiap gerakan Jaya angin dahsyat berseoran keluar dari setiap gerakannya, dalam hatinya gadis cantik hitam manis ini mengeluh mendapati kehebatan jurus lawannya hingga pada satu kesempatan tendangan Jaya berasarang telak di perut gadis ini! Gadis ini jatuh terjungkir beberapa langkah kebelakangnya! Saat bagun ia merasakan perutnya sangat mual, ia juga merasakan cairan asin keluar dari dalam mulutnya!

Saat itu tiba-tiba terdengar suara petikan kecapi yang membawakan lagu yang sangat merdu tapi terdengar sangat memekakan telinga Jaya! Semua pengemis dan Dewi Pengemis pun terkejut mendengar suara kecapi itu. Ternyata seorang pria tua bermata buta yang seluruh rambutnya telah memutih sekonyong-konyong telah berada disitu sedang duduk diatas batu karang yang rata dan licin sambil memainkan kecapinya! Jaya pun memperhatikan si orang tua tersebut dengan pandangan mata tak berkesip.

“Guru!” seru si Dewi Pengemis beserta seluruh pengemis yang ada di sana.

“Galuh, apa lagi yang telah kau perbuat hingga mengundang pemuda ini kemari?” Tanya si orang tua buta itu.

“Maafkan saya guru, saya menantang pemuda ini karena tangan jahatnya telah banyak melukai bahkan membunuh saudara-saudara saya!” jawab Dewi Pengemis.

“Oh jadi dia mencelakai saudara-saudaramu?” si orang tua buta itu lalu menoleh pada Jaya seolah matanya tidak buta, ia bisa tahu dimana Jaya berdiri “Anak muda, benarkah apa yang diceritakan muridku ini?”

“Sebelumnya saya memberi salam hormat terlebih dahulu padamu orang tua, apa yang diceritakan oleh Nona Dewi Pengemis tidak salah sebab saya hanya mempertahankan diri saja dari penyerangan murid-murid anda di gedung Juragan Karta... Maksud saya hendak melerai pertumpahan darah tyang sia-sia antara murid-murid anda dengan para pengawal Juragan Karta, tapi mereka malah marah dan menyerang saya, maka terpaksalah saya mencelakai mereka sebelum diri saya sendiri yang celaka... Harap kau maklum orang tua!” jelas Jaya.

Si orang tua yang dipanggil guru itu lalu menoleh pada Dewi Pengemis yang tadi dipanggilnya dengan nama Galuh tersebut. “Galuh, apa yang telah kau lakukan? Bukankah aku menitipkan perguruan kita ini padamu selama aku pergi? Apa yang telah kau lakukan pada Juragan Karta hingga telah banyak jatuh korban terutama di pihak kita?!”

Galuh atau Dewi Pengemis tampak ketakutan oleh teguran gurunya, sejatinya gurunya yang bergelar si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul adalah seorang tokoh silat golongan lurus yang harum namanya dan disegani di dunia persilatan tanah Pasundan serta tanah Jawa, tentu saja gurunya merasa marah atas kelakuan dirinya yang membuat malu nama gurunya dengan tindakan gegabahnya.

“Maafkan saya guru, saya sudah tidak tahan lagi dengan sepak terjang Prabu Kertapati yang semakin menyengsarakan rakyatnya sendiri, maka saya dan sadulur-dulur memutuskan untuk merampas harta para tuan tanah termasuk Juragan Karta sebagai modal awal untuk kita melakukan pemberontakan terhadap Prabu Kertapati!” jawab Galuh dengan sungkan.

Si Dewa Pengemis tersenyum kecut mendengar penjelasan dari muridnya yang paling ia sayangi tersebut “Bodoh! Merampas harta dari orang lain adalah perbuatan salah! Aku tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi perampok! Apalagi Juragan Karta adalah seorang tuan tanah yang dermawan serta asih kepada rakyat kecil, berlipatlah dosa kalian pada Juragan Karta karena telah mengganggu hidupnya! Lagipula kalaupun kalian berhasil merampas semua harta para tuan tanah yang kalian incar itu sebagai modal untuk melakukan pemberontakan, apakah kalian pikir kalian bisa berhasil? Ckckck... Kalian hanya akan membuat bumi Mega Mendung ini semakin merah oleh pertumpahan darah yang sia-sia!”

“Tapi guru apakah kita hanya akan berdiam diri menyaksikan dan mendapati kezaliman Prabu Kertapati?” sela Galuh.

“Tentu saja tidak, kita boleh bertindak tapi tidak dengan melakukan pemberontakan dan perampasan harta para tuan tanah seperti idemu yang konyol itu!” jawab Dewa Pengemis. ia lalu menoleh pada Jaya “Saudara pendekar, saya memohon maaf atas segala kesalahan murid saya, akan tetapi karena sudara pendekar sudah terlanjur datang kemari, sebagai adab orang dunia persilatan, saya harap anda melanjutkan pertarungan dengan murid saya Galuh Parwati atau yang anda kenal dengan sebutan Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul ini! Aku si Dewa Pengemis dari Bukit Tunggul selaku tuan rumah mempersilahkan!”