Episode 231 - Jelang Hajatan Akbar (3)



Suasana di Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang lengang. Hanya bisik-bisik yang terdengar dari tribun kehormatan dan tribun luar. Pembawa acara pada Hajatan Akbar Pewaris Takhta telah mengumandangkan kedatangan Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa. Akan tetapi, setengah jam waktu berlalu, sang penguasa tiada kunjung tiba. 

Apakah terjadi sesuatu? Sang penguasa tiada pernah terlambat! 

Di tribun kehormatan Kadatuan Kedua, seorang lelaki dewasa duduk diam di bangku barisan terdepan. Ia menyilangkan lengan di depan dada sembari berupaya tampil tenang. Meskipun demikian, degup jantungnya berdebar sampai seolah menggetarkan sekujur tubuh. Datu Besar Kadatuan Kedua tak dapat mengetahui pasti apakah yang sesungguhnya sedang berlangsung di lapisan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan. Yang jelas, sang penguasa kemungkinan besar berada di atas sana! 

Apakah sang murid Balaputera Lintara berhasil? Ataukah ia menemui kebuntuan? Apakah seharusnya dirinya sendiri yang menangani persoalan ini? Tidak, Balaputera Lintara adalah sosok yang sempurna dalam mengemban tugas tersebut! 

Lelaki dewasa itu melontar pandang ke arah Kadatuan Kesatu. Raut wajahnya berubah pilu. Ingatan di dalam benak Datu Besar Kadatuan Kedua kemudian mundur ke masa lalu. Sekira lima ratus tahun silam…

Seorang remaja lelaki terlihat berlari tergopoh. Ia berupaya mengejar. Usianya diperkirakan sekitar tujuh belas tahun, sehingga sudah cukup layak untuk ikut bertempur. Kegundahan menghias raut wajahnya yang tampan. Setengah memohon, ia berujar, “Guru, izinkanlah diriku tinggal bersama Kadatuan Kesembilan dan turut bertarung menghadang kaum siluman…” 

Sang guru, seorang lelaki dewasa bertubuh kekar dan tegap, menghentikan langkah. Ia menoleh pelan. Wajahnya keras, namun di saat yang bersamaan mencerminkan keramahan hati. 

“Balaputera Wrendaha, muridku, masuklah bersama dengan anggota keluarga Kadatuan Kedua. Peran yang dikau emban sangat berbeda dengan tugas Kadatuan Kesembilan.” 

“Guru, Yang Terhormat Datu Besar Balaputera Dharanindra, diriku berfirasat buruk!” Wajah remaja lelaki tersebut terlihat sangat serius. 

“Firasat buruk…? Hahaha…” Balaputera Dharanindra tergelak. “Bagaimana mungkin kaum siluman dapat menembus pertahanan Kadatuan Kesembilan? Jangankan satu Raja Angkara, dua sekaligus akan kami tahan langkah mereka! Sebagai satu-satunya muridku, dikau tahu betul betapa kekuatan bertahan kami tiada banding di seantero Negeri Dua Samudera!” 

“Bukan… kekhawatiran diriku bukan berasal dari kaum siluman atau Raja Angkara sekalipun. Akan tetapi, kebimbangan datang dari dalam…” Remaja lelaki tersebut menahan diri dari menyelesaikan kata-katanya. 

Memahami muridnya, Balaputera Dharanindra meletakkan tangannya di pundak Balaputera Wrendaha. Wajahnya pun berubah serius. Ia menatap dalam. “Bilamana firasatmu terbukti benar, maka semakin besar alasan mengapa dikau harus masuk terlebih dahulu. Kutitipkan Rudra, Samara dan Ragrawira. Mereka masih terlalu belia.” 

Di saat yang sama, Balaputera Dharandindra melirik ke arah belakang muridnya. Balaputera Rudra masih berusia sekira dua belas tahun, Balaputera Samara sepuluh tahun, dan Balaputera Ragrawira delapan tahun. Mereka ditemani masuk ke dalam Rimba Candi oleh ahli-ahli dari Kadatuan Keenam.

“Guru…” 

“Pergilah masuk terlebih dahulu,” Balaputera Dharanindra berbisik. “Diriku akan menyusul segera setelah seluruh rakyat Kemaharajaan Cahaya Gemilang mencapai ibukota baru dalam keadaan selamat.” 

Balaputera Wrendaha yang berusia belia memiliki kemampuan pengamatan yang sangat baik. Sedari lama ia telah menaruh curiga terhadap gelagat Balaputera Tarukma dari Kadatuan Kesatu. Persaingan tingkat kekuatan antara kedua Datu Besar, Balaputera Tarukma dan Balaputera Dharanindra, sudah mencapai ambang batas yang tak wajar. Balaputera Tarukma terlampau obsesif dengan gelar sebagai yang terkuat di antara para ahli di kesembilan Kadatuan. Bahkan, sampai ke tingkat dimana ia rela berbuat curang dan kotor!

Remaja tersebut terisak. Air mata mengalir tiada tertahan ketika ia terpaksa memutar tubuh dan melangkah masuk ke dalam Rimba Candi. Cuaca hari tersebut cerah, namun adalah hari terakhir dimana remaja yang nantinya tumbuh sebagai Datu Besar Kadatuan Kedua, Balaputera Wrendaha, bertegur sapa dengan gurunya, Balaputera Dharanindra. 

Usai malapetaka menimpa Kadatuan Kesembilan di Rimba Candi, Datu Besar Kadatuan Kedua masih tiada memiliki bukti yang cukup kuat untuk mendakwa Balaputera Tarukma sebagai dalang penyebab kematian gurunya. Di saat yang sama, ia juga tiada dapat terang-terangan menunjukkan sikap kecurigaan terhadap tokoh tersebut. Salah langkah sedikit saja, maka dirinya bisa menjadi sasaran Balaputera Tarukma. Atas dasar itu pula, ia menyelidiki dalam diam, dan selama ratusan tahun bersandiwara memusuhi Kadatuan Kesembilan. Banyak ahli yang memperkirakan bahwa sikap permusuhan tersebut didasari kekecewaan mendalam seorang murid terhadap sang guru. Sebuah kesimpulan yang sengaja diarahkan. 

Di lain sisi, ada sebuah misteri yang melingkupi sebuah sumur ‘angker’ di halaman Perguruan Svarnadwipa. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan yang besar sumur tersebut merupakan lorong dimensi ruang. Di dalam suatu dimensi ruang, Balaputera Tarukma memenjarakan adik kandungnya, Balaputera Sukma yang bertarung berdampingan dengan sang suami. Bilamana benar, maka Balaputera Sukma merupakan saksi kunci kejahatan masa lalu Balaputera Tarukma. 

Kendatipun demikian, Datu Besar Kadatuan Kedua menyadari sebuah kenyataan pahit. Formasi segel untuk membuka ruang dimensi pada sumur, hanya dapat diurai oleh ahli sekelas Kasta Bumi. Dalam hal keahlian, betapa pun kerasnya ia berlatih, bakat kesaktian dan persilatan hanya sedikit berada di atas rata-rata. Sampai sejauh ini ,Kasta Emas Tingkat 8 merupakan ambang batas tertinggi yang dapat dicapai. 

Secercah harapan sempat muncul di kala mendengar kabar angin bahwasanya Balaputera Ragrawira menerobos Kasta Bumi beberapa ratus tahun silam. Akan tetapi, permasalahan lain ikut muncul pula. Jejak langkah Balaputera Ragrawira tiada dapat ditelusuri. Mencari sosok tersebut, bila diperkenankan meminjam kata-kata Saudagar Senjata Malin Kumbang, adalah ibarat mengejar hantu!

Satu-satunya harapan, kemudian beralih kepada sosok perkasa yang saat ini kehadirannya sedang dinanti oleh khalayak ramai… 


===


“Di manakah ini!? Apakah beliau Datu Tua Kadatuan Kesatu? Siapa perempuan tua itu? Hei, bukankah itu Balaputera Gara, mitra usahaku nan murah hati...?"

“Buk! Buk! Buk!” 

Rentetan manik-manik keemasan dari senjata pusaka setara Kasta Emas, Aksamala Ganesha milik Lintang Tenggara, menghujam keras di tengkuk Saudagar Senjata Malin Kumbang. Mentari pagi baru saja menebar sinar, sementara sosok yang lengah jatuh kehilangan kesadaran. 

“Jangan banyak tanya. Sebaiknya kau tidur saja….,” dengus Lintang Tenggara dingin terhadap seonggok tubuh yang tergeletak di tanah. 

Di dalam hati ia membatin… sungguh kefanatikan dapat dimanfaatkan dengan mudahnya. Saudagar Senjata Malin Kumbang sangat yakin pada tujuan mulia mengubah Negeri Dua Samudera dengan meluluhlantakkan aturan dan tatanan yang sudah terbangun. Salah satu jalan mencapai tujuan tersebut, adalah melalui kebangkitan para Raja Angkara. 

Di lain sisi, menyadari akan hal ini, Datu Besar Kadatuan Kedua memberikan dorongan semangat dan menyajikan bantuan, bahkan bergabung dengan kelompok Kekuatan Ketiga. 

Terhadap orang-orang yang penuh keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan kebenaran hakiki, maka upaya menyetir menjadi lebih gampang. Tiada perlu bersusah-payah mencuci otak, karena mereka hanya memerlukan sedikit arahan melalui iming-iming tujuan besar yang akan dicapai. Fanatisme telah tertanam, maka tinggal mengarahkan sesuai kebutuhan saja. Demikian pendekatan Datu Besar Kadatuan Kedua dalam memanfaatkan bidak catur. Beliau memang tak terlalu unggul dalam persilatan dan kesaktian, namun sebagai seorang politisi handal, lagu yang didendangkan adalah berbeda dengan segenap ahli. 

Kemampuan berpolitik, atau upaya nyata yang ditempuh demi mencapai tujuan, merupakan pelajaran berharga yang Lintang Tenggara peroleh dari gurunya. Menyusun tipu daya atau muslihat, pun merupakan ‘upaya nyata yang ditempuh demi mencapai tujuan’. Bahkan, mengarahkan Sri Paduka Maharaja agar mengirim Lintang Tenggara ke tempat dimana Balaputera Sukma berada, merupakan sebuah upaya nyata. 

“Dikau adalah…?” Balaputera Sukma menyela lamunan Lintang Tenggara, karena ia hendak benar-benar memastikan. 

“Putra pertama dari Balaputera Ragrawira…”

“Oh…?” Balaputera Sukma menoleh ke arah Bintang Tenggara. Ia telah mengenal anak remaja tersebut bernama Balaputera Gara. Akan tetapi, karena kejadian genting yang berlangsung, tak sempat menanyakan putra siapakah gerangan. Walau, bilamana rambut bergelombang dan acak-acakan Balaputera Gara dirapihkan, maka wajahnya akan mirip sekali dengan Balaputera Lintara itu. 

Akan tetapi, mengapakah kulit tubuh mereka cokelat muda... berbeda sangat dengan kebanyakan keturunan Wangsa Syailendra dari trah Balaputera? Apakah ibunda mereka berasal dari wilayah timur Negeri Dua Samudera…?

“Dia adalah adik kandungku. Anak kecil. Tak terlalu bermanfaat keberadaannya…” Lintang Tenggara mencibir ke arah Bintang Tenggara. 

“Aku tak butuh kau datang menyelamatkan…” Bintang Tenggara akhirnya bersuara. 

“Lah!? Siapa yang datang hendak menyelamatkanmu!? Kau kira aku sudah tak waras!?” hardik Lintang Tenggara. 

Nenek Sukma segera menyadari bahwa hubungan kakak dan adik ini sangatlah unik. Tetiba ia merasakan kehangatan di pelupuk mata, dimana sebentar lagi air mata kebahagiaan akan mengalir tiada terbendung. Tak pernah terbayangkan bahwa dirinya akan bersua dengan darah dagingnya sendiri. Dua putra dari Balaputera Ragrawira pula. 

“Sudah puaskah kalian menjalin tali kasih…?” cibir Balaputera Tarukma tinggi di udara. “Balaputera Lintara, aku tiada mengetahui bagaimana kau dapat tiba di tempat ini. Kemungkinan ada sangkut-pautnya dengan Balaputera Wrendaha… Akan tetapi, kedatanganmu adalah sia-sia belaka.” 

“Wrendaha…?” Nenek Sukma mendengar nama yang sangat tak asing. “Apakah anak itu baik-baik saja?” 

“Balaputera Wrendaha adalah guruku. Ia kini menjabat sebagai sang Datu Besar di Kadatuan Kedua,” tanggap Lintang Tenggara cepat. 

“Oh?” Lagi-lagi Nenek Sukma terkaget. “Sungguh penilaian suamiku dalam mengangkat anak didik sangatlah tepat.” 

Di saat yang sama, Balaputera Tarukma melesat turun. Sasarannya bertambah menjadi seorang, namun hal tersebut bukanlah hambatan berarti. 

“Segel Darah Syailendra…” gumam Nenek Sukma pelan. Sebuah jalinan formasi segel berwarna semerah darah berpendar!

Balaputera Tarukma lengah! Ia tadinya sangat cemas akan kehadiran Balaputera Ragrawira atau Balaputera Dewa, kemudian berubah lega karena yang keluar dari dalam lorong dimensi ruang hanyalah Balaputera Lintara. Oleh karena itu, tiada ia menyadari bahwa Balaputera Sukma masih terus merapal formasi segel! 

“Sangkar Api Svarnadwipa!” 

Rangkaian formasi segel yang susunan simbol-simbolnya sangat rumit mengemuka. Wujudnya ibarat sebuah sangkar burung raksasa. Tidak hanya sampai di situ, karena di saat yang sama kobaran api bernuansa biru nan jernih turut menyala membara dan ikut mengambil wujud ibarat sangkar burung. Jurus kombinasi keterampilan khusus sebagai perapal segel, yang digabungkan dengan unsur kesaktian api. Keduanya membangun wujud ibarat satu kesatuan!

Sangkar gabungan formasi segel dan kesaktian unsur api tersebut berpendar di sekeliling tubuh Balaputera Tarukma!

“Keparat!” 

Balaputera Tarukma terlihat semakin bengis. Ia terlambat menyadari, sehingga terlambat pula dalam menghindar. Dirinya telah terkurung di dalam sangkar. Langkah yang ia tempuh kini adalah merapal formasi segel untuk melindungi diri dari api biru yang panasnya membara dan menyibak ke semerata penjuru. Bagi yang terkurung di dalam sangkar, panasnya berkali-kali lipat lebih membakar! 

“Uhuk!” Balaputera Sukma terbatuk. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. 

“Kau tak akan dapat bertahan lama merapal jurus ini!” hardik Balaputera Tarukma dari dalam sangkar. Lelaki setengah baya itu pun menenangkan diri, sambil menanti. 

Lintang Tenggara melangkah cepat, mendatangi Nenek Sukma. Di saat yang sama, dari dalam sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi, ia mengeluarkan tidak satu… tidak pula dua… melainkan tiga lempengan batu yang mirip dengan prasasti! 

Perlahan, Lintang Tenggara mendirikan dua prasasti batu pada posisi sejajar. Kemudian, ia menimpa keduanya dengan lempengan terakhir. Struktur ketiga prasasti tersebut kini terlihat mirip sebuah altar yang terbuat dari batu! 

“Nenek Sukma, kita akan keluar dari dalam ruang dimensi ini bersama-sama,” ujar Lintang Tenggara cepat. Sungguh persiapan matang telah ia susun. 

“Kalian pergilah terlebih dahulu… Diriku akan menahan ia di sini,” tanggap Nenek Sukma. Akibat merapal jurus nan digdaya, kini wajahnya terlihat memucat putih. 

Lintang Tenggara tercekat. Tugas yang ia emban adalah membawa kembali Nenek Sukma, sebagai satu-satunya saksi kunci atas kebiadaban Balaputera Tarukma. 

“Nenek Sukma, Hajatan Akbar Pewaris Takhta sebentar lagi bergulir. Alangkah baiknya bilamana Nenek Sukma kembali ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang di kala seluruh perhatian khalayak terpaku pada satu titik.”

“Hajatan Akbar Pewaris Takhta…!? Hari ini!?” 

Lintang Tenggara mengangguk cepat. “Benar. Hajatan Akbar Pewaris Takhta sedang bergulir.”

Sontak Nenek Sukma menatap ke arah Bintang Tenggara. Tentu ia menyadari bahwa dari segi usia dan kemampuan, Balaputera Gara kemungkinan besar berhak ikut serta di dalam gelaran tersebut. “Kalian harus segera kembali. Jangan khawatirkan diriku. Tinggalkan kami!”

Nenek Sukma sepertinya telah memantapkan keputusan di hati. Ia harus menahan kakak kandungnya sendiri agar tak mencelakai anggota keluarga lain. Menyimak raut wajah Nenek Sukma, Lintang Tenggara menyadari bahwa tiada apa yang ia sampaikan akan mengubah pendirian perempuan setengah baya tersebut. 

“Binturong! Cepat bawa Saudagar Senjata Malin Kumbang!” perintah Lintang Tenggara. Di saat yang sama, lelaki dewasa muda itu membuka lorong dimensi ruang di atas altar yang tadi ia bangun. 

“Kepada siapa kau berujar!?” hardik Bintang Tenggara sebal. 

“Pergilah cucuku. Ukir prestasi. Taklukkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang!”

“Plak!” 

Lintang Tenggara tetiba menepis tangan Bintang Tenggara yang baru hendak menggapai Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Mengapa kau bodoh dan ceroboh!? Tidak tahukah kau apa unsur kesaktian saudagar ini!? Kau hendak cepat menua!?”

Lintang Tenggara mengeluarkan sebongkah Intan Abadi. Ia letakkan di atas tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang yang masih tak sadarkan diri. Kemudian, ia merapal formasi segel. Intan Abadi berperan sebagai perantara bagi formasi segel untuk membungkus tubuh ahli yang diketahui memiliki kesaktian langka unsur usia. Belum lama Lintang Tenggara menciptakan formasi Segel Intan Abadi, yang ia peruntukkan khusus bagi lelaki dewasa itu. 

“Mengapa harus aku yang membawa tubuhnya…?” Bintang Tenggara tetiba terlihat curiga. 

“Jangan banyak tanya! Balaputera Tarukma bisa saja keluar sebentar lagi dan kita akan kehilangan kesempatan emas! Apakah kau hendak menyia-nyiakan upaya Nenek Sukma!?” 

Dengan berat hati, Bintang Tenggara menuruti. Ia pun menyeret tubuh si gundul tambun yang kini terbungkus formasi segel. Pada akhirnya, adalah Lintang Tenggara yang berjasa membawa mereka keluar dari dimensi ruang ini. Tokoh itu pun membawa-bawa nama Nenek Sukma. Kali ini saja dirinya akan mematuhi kehendak penculik itu. 

Baru Bintang Tenggara hendak memutar tubuh, Lintang Tenggara terlihat menjulurkan telapak tangannya. 

Bintang Tenggara kebingungan. Apakah Lintang Tenggara hendak bersalaman? Mengapa? Apakah ada jebakan yang tersebunyi di sela jemarinya? Anak remaja tersebut spontan ikut menjulurkan tangan.  

“Plak!” 

Lagi-lagi Lintang Tenggara menepis tangan Bintang Tenggara. “Kau pikir aku mengajak bersalaman!? Gila! Segera kembalikan buku catatanku!” 

“Buku catatan…?” Bintang Tenggara kebingungan. 

Lintang Tenggara lalu mengeluarkan sebuah sampul buku nan lusuh. Dari dekat, dapat dibaca bahwa pada permukaan sampul tersebut tertulis buram nama: ‘Balaputera Lintara’. 

Bintang Tenggara segera mengenali sampul buku tersebut karena pernah digunakan oleh Datu Besar Kadatuan kedua untuk menampar Balaputera Ugraha sampai isinya berserakan. Dengan kata lain, lembaran-lembaran kertas lusuh yang selama ini ia pelajari, tak lain merupakan isi dari buku catatan milik Lintang Tenggara!

Anak remaja itu memutar cepat. Enak saja meminta, pikirnya singkat. Bersama dengan tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang, Bintang Tenggara pun segera melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang!

“Hei!” Sang Titisan Ganesha sontak berteriak kepada Sang Pemburu Ilmu. “Kembalikan sekarang! Pencuri buku!”