Episode 30 - Angkat pantat baumu dan lawan aku



Rito menelan ludah, dia sudah mengambil keputusan. Meskipun hal ini bisa membuat dia mendapatkan masalah besar, tapi dia tidak bisa membiarkan orang lain memikul tannggung jawab yang harusnnya dia bawa. 

Membiarkan orang lain mengambil tanggung jawab dari masalah yang telah diri sendiri perbuat adalah sesuatu yang dilakukan seorang pecundang.

“Sepertinya ada kesalahan di sini, yang mencampakan adikmu bukanlah temanku yang tadi, tapi aku.” Rito berkata dengan tegas.

Benar, inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria.

Mengakui kesalahan adalah salah satu ciri kau adalah seorang pria sejati.

“Heh ... jadi, kau orangnya.” Ucap Nino penuh kebencian sambil menyipitkan matanya pada Rito.

Ekspresi penuh permusuhan terlihat jelas di wajah Nino. Baginya, Nina adalah adik kesayangannya, dan dia tidak akan mentolerir siapapun yang membuat adiknya menangis. Tapi, dia juga sedikit terkesan dengan apa yang telah Rito lakukan.

Berani mengambil tanggung jawab atas kesalahannya sendiri, berarti dia bukan seorang pengecut.

Tapi, Nino tidak akan memaafkan Rito hanya karena dia telah mengaku. 

“Benar, aku adalah mantan pacar adikmu, Nina!” Rito berkata dengan tegas.

“Jangan sebut nama adikku dengan mulut busukmu itu!” Nino meraung dengan keras.

Aura dingin keluar dari Nino, membuat semua orang di sekitar merasakan perasaan gelisah dalam diri mereka. Rito, Sony, Roy, dan yang lainnya. Tapi, tidak untuk Dan, dia masih dengan tenang menganalisa situasi.

“Kau benar-benar kakak yang baik, ya.” Ucap Rito sambil tersenyum mengejek.

“Diam kau brengsek!” Nino berteriak marah. 

“Dan, pergilah, ini adalah masalah yang aku buat, jadi biar aku selesaikan sendiri.” Ucap Rito sambil melihat Dan dengan senyum mengembang pada wajahnya, yang seolah mengatakan, ‘Aku tidak apa-apa.’ 

“Dan, biarkan aku ambil alih sebentar.” Danny berkata di dalam pikirannya dan segera mengambil alih tubuhnya lagi.

“Bodoh, aku tidak akan meninggalkanmu.” Ucap Danny sambil melangkah menuju sisi Rito.

“Pergi, ini adalah masalahku, tanggung jawabku, kau tidak ada hubungannya dengan semua ini.” Ucap Rito.

 “Kalau tidak salah beberapa saat yang lalu kau berkata seperti ini ‘Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan padanya, dan aku tidak peduli tentang itu, tapi aku tidak suka dengan sikap kalian, jadi aku akan ikut campur’ kan?,” Danny menatap mata Rito, “Aku juga tidak suka dengan sikap mereka, jadi aku akan ikut campur.”

Danny memicingkan matanya pada Nino, “Lagipula, aku tidak mengambil tanggung jawabmu, aku hanya membantumu membawanya, jadi, ayo cepat kita selesaikan ini semua.” 

Danny yang paling tahu tentang semua ini, karena selama beberapa tahun ini, dia bersama Dan selalu melakukan semuanya bersama, saat ada yang tidak bisa dia lakukan, Dan akan menggantikannya dan membantunya.  

Sedangkan Rito, dia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang sudah tua, jadi dia harus menanggung semua beban sendiri, tidak ada tempat untuk bersandar, tidak ada tempat untuk berkeluh kesah, karena dia tidak mau membuat neneknya khawatir.

Jadi, sampai saat ini, dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

“Sial! Jangan bersikap sok keren, kalau kau terluka, aku tidak akan menggendongmu pulang.” Rito berkata dengans senyum di wajahnya.

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu.” Ucap Danny dengan senyum di wajahnya, kemudian dia kembali menyerahkan tubuhnya untuk Dan.

“Aku memujimu karena tidak kabur, tapi sebentar lagi kau akan menyesalinya.” Ucap Nino dengan senyum kecil di wajahnya. Dia bersama Roy dan anak buahnya berjalan perlahan menuju Danny dan Rito.

Di sisi lain, Rudi dan teman-temannya yang saat ini berada di belakang Sony segera berkata dengan cemas, “Ayo kita kabur, kita tidak ada hubungannya dengan semua ini.”

“Kalian duluan saja, aku akan segera menyusul.” Balas Sony tanpa menoleh ke belakang.

“Kenapa?” tanya Rudi lagi.

“Bukan apa-apa, pergi saja, jangan khawatirkan aku.” Sony berkata dengan tegas.

“Baiklah, kau harus kembali dengan selamat, ya.”

“Benar, kami akan menunggumu di markas.”

Ucap teman-teman Sony sambil berjalan pergi. Sony tetap berada di sana, memandang Danny dan Rito yang sedang berhadapan dengan belasan anak buah Nino. Untuk alasan yang tidak jelas, dia ingin tetap berada di sini.

Nino, Roy, dan anggota geng serigala hitam semakin dekat dengan Danny dan Rito. Setelah berjarak tiga langkah, dengan perintah dari Nino, semuanya, kecuali Roy yang tidak bisa bertarung, maju ke depan untuk menyerang.

Dan bersama Rito bahu membahu menyerang dan menahan serangan dari belasan orang itu, meskipun kemampuan bertarung mereka tidak jauh berbeda dari dua orang sebelumnya, karena Nino memang hanya membawa anggota baru untuk melaksanan penyerangan ini, tapi dengan belasan orang, itu masih sulit untuk bertahan tanpa menerima serangan.

Pertarungan itu begitu kacau, Dan mampu untuk menghindari banyak serangan yang menuju ke titik vitalnya dan berhasil menumbangkan beberapa anggota geng serigala hitam. Meskipun dengan tubuh yang sama, naluri bertarung antara Dan berbeda jauh dengan Danny.

Sedangkan itu, di sisi lain, meskipun Rito berhasil menumbangkan beberapa anggota geng serigala hitam, dia juga menerima serangan yang cukup fatal di tubuhnya. Memar-memar bisa di lihat dengan jelas di beberapa titik, dan yang paling jelas adalah mata kirinya yang di sekelilingnya ada luka lebam berwarna biru.

Di pertarungan kacau itu, tiba-tiba saja Nino masuk dan menyerang bagian belakang kepala Rito, dan membuatnya jatuh ke tanah hinggga merasakan pusing yang amat sangat. Ketika Nino hendak melanjutkan serangan lanjutan pada Rito, tiba-tiba saja ada sosok yang menghalangi Nino.

Dia adalah Sony.

Rito yang terjatuh berbalik dan melihat musuhnya beberapa saat yang lalu itu berdiri untuknya dengan tampilan bingung, “Kau ... kenapa?”

“Diam! Pertarungan kita masih belum selesai, kau harus tetap bertahan sampai kita melanjutkannya nanti!” Rito meraung dengan keras dan segera maju menuju Nino.

Tapi, Nino menjadi pemimpin dari geng serigala hitam bukan tanpa alasan, dia dengan mudah menghindari serangan dari Sony lalu beberapa detik kemudian membuat Sony terjatuh ke tanah dan mengerang kesakitan.

Nino kembali berjalan menuju Rito yang masih duduk di tanah, setelah cukup dekat, Nino mencambukkan kakinya ke arah dada Rito dan membuat dia kembali terlempar ke samping. Rasa sakit menyerang tubuhnya dan membuat dia mengerang kasakitan, cairan kental berwarna merah keluar dari salah satu ujung bibirnya.

Rito menyeka darah yang keluar dari bibirnya dan memandang ke tempat lain, dimana Danny sedang menghadapi lima orang anggota serigala hitam yang masih bertahan. Dia tersenyum kecil setelah melihat bahwa Danny masih baik-baik saja dan tiba-tiba sebuah kaki mendarat di kepalanya dan membuat dia kembali terlempar.

Pandangan mata Rito menjadi gelap, dia merasa tubuhnya tidak memiliki sedikitpun tenaga tersisa, sesaat sebelum dia kehilangan kesadaran, dia bergumam kecil, “Pergilah...”

Di balik pohon, Raku menggengam keras tinjunya hingga kukunya menembus daging dan mengeluarkan darah. Dia merasakan sakit di dadanya saat melihat Raku dihajar habis-habisan oleh Nino, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia tidak bisa menyelamatkannya, karena dia terlalu lemah.

Hatinya terus berteriak untuk berlari dan membantu, tapi tubuhnya menolak dengan keras pikiran itu, dan tanpa dia sadari, air mata keluar dari ujung matanya.

Di sisi lain, Dan dengan mudah bisa menghindar dan mengalahkan anggota serigala hitam, akan tetapi jumlah mereka terlalu banyak, hingga membuat dia sedikit kelawahan.

Saat ini, hanya tersisa lima orang yang masih bertahan, mereka mengelilingi Dan sambil siap menyerang kapan saja. Dan mengatur nafasnya dan melihat mereka mereka dengan tajam. Sesaat kemudian dia mulai bergerak dan menembakan tinjunya pada orang di samping.

Namun, orang itu dengan sigap menghalau serangan Dan, kemudian dengan cepat membalas dengan sebuah tinju pula.

Dan dengan mudah menghindarinya, sesaat kemudian datang sapuan kaki dari arah samping. Dan melirik dari ujung matanya lalu melompat untuk menghindar dan langsung membalas dengan tendangan pula.

Orang itu terhempas dan jatuh ke tanah dengan keras. Sesaat setelah Dan mendarat, datang sebuah tinju dari arah depan, tapi Dan dengan cepat merendahkan tubuhnya lalu sesaat kemudian dia melompat dan menghantamkan lututnya pada wajah orang itu.

Lalu, dari dua arah yang berlawanan datang dua sapuan tendangan, tapi Dan dengan cerdik berguling untuk menghindarinya dan akhirnya dua kaki itu saling bersilangan dan mereka jatuh kesakitan sambil akibat benturan keras tersebut.

Hanya tersisa satu orang lagi, pria ini memiliki tubuh paling besar dan gempal dari semua anggota kelompok geng serigala hitam. Dan berlari menuju pria tersebut lalu melemparkan tinjunya ke arah dada orang itu, akan tetapi dia tetap bergeming tanpa tanda kesakitan, seperti serangan dari Dan tidak berefek sama sekali padanya.

Dan sekali lagi melemparkan tinju pada pria gempal tersebut, tapi seperti serangan pertama, dia tetap bergeming, seperti sebuah gunung yang tidak bisa di geser.

Dan terus mencoba meluncurkan tinjunya pada pria gempal itu, di tengah serangan beruntun tersebut, pria gempal itu mengketatkan tinjunya lalu menghantamkannya pada wajah Dan hingga dia terlempar jatuh ke belakang.

Dan memegang tempat dimana tinju itu mendarat dan merasakan sakit di daerah tersebut. Dia juga merasakan darah di mulutnya, sepertinya terdapat luka di dalam mulutnya. Dalam hatinya di bergumam, ‘Sepertinya aku mendapat sariawan yang cukup parah kali ini,’

Dia dengan cepat bangkit dan berlari menuju pria gempal tersebut, pria gempal itu tidak tinggal diam, dia kembali menembakan tinjunya, tapi karena kecepatannya sangat lamban, Dan dengan mudah bisa menghindarinya dengan merendahkan tubuhnya lalu menghantamkan tinjunya menuju area paling lemah seorang pria, yaitu selangkangannya.

Pria gempal itu langsung jatuh sambil memegang tempat di mana tinju itu mendarat sambil mengerang kesakitan.

Semuanya sudah tumbang, kemudian Dan mengalihkan pandangannya menuju area tidak jauh dari sana, karena dia fokus bertarung di sini, dia tidak terlalu memperhatikan area lain.

Saat Dan melihat Nino yang sedang duduk di kepala Rito yang sudah tidak sadarkan diri, matanya langsung berubah penuh kemarahan.

“Angkat pantat baumu dan lawan aku!” Dan meraung keras, akan tetapi hanya di balas Nino dengan seringai kecil.